PRISMA FISIKA
Not a member yet
253 research outputs found
Sort by
Pengaruh pH dalam Produksi Biogas dari Limbah Kecambah Kacang Hijau
Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh pH terhadap produksi biogas dari limbah kecambah kacang hijau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pH optimum produksi biogas dari limbah kecambah kacang hijau dan mengetahui keberadaan gas metana melalui uji nyala serta mengetahui sifat fisik yang berpengaruh pada proses fermentasi anaerob. Bahan baku menggunakan limbah kecambah kacang hijau yang telah dihaluskan dan ditambahkan kotoran sapi serta bioaktivator Effective Mikroorganism 4 (EM4). Biogas dihasilkan setelah melalui fermentasi anaerob selama 10 hari. Suhu bahan baku mengalami kenaikan dari 28°C menjadi 40°C sedangkan pH bahan baku meningkat dari 5,6 menjadi 6,8. Variabel objek penelitian ini adalah variasi pH saat produksi biogas yang dikondisikan menggunakan larutan buffer fosfat. Produksi biogas dengan menggunakan variasi pH 6,8; 7,0; 7,2; dan 7,4 memberikan hasil yang berbeda-beda. Variasi biogas pH 6,8 menghasilkan volume biogas sebanyak 341,05 cm3 dengan jumlah residu kering 95,81 gram. Produksi biogas pada pH 7,0 menghasilkan biogas sebanyak 579,88 cm3 dengan jumlah residu kering sejumlah 93,17 gram. Pada pH 7,2 menghasilkan volume biogas sebanyak 579,47 cm3 dengan jumlah residu kering 98,43 gram. Untuk nilai pH 7,4 menghasilkan volume biogas sebanyak 458,75 cm3 dengan jumlah residu kering 96,56 gram. Variasi pH 7,0 merupakan pH optimal untuk produksi biogas dari limbah kecambah kacang hijau yang menghasilkan warna nyala biru kemerahan. Kata Kunci : Biogas, Fermentasi, pH, Limbah Kecamba
Uji Perbandingan Kualitas Air Sumur Tanah Gambut dan Air Sumur Tanah Berpasir di Kecamatan Tekarang Kabupaten Sambas Berdasarkan Parameter Fisik
Telah dilakukan penelitian tentang uji kualitas air sumur tanah gambut dan air sumur tanah berpasir di kecamatan Tekarang Kabupaten Sambas berdasarkan parameter fisik. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas air sumur tanah gambut dan air sumur tanah berpasir berdasarkan parameter bau, rasa, warna, kekeruhan, suhu, TDS, dan konduktivitas air. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode random sampling, dengan mengambil sampel di lapangan untuk diuji di laboratorium dan setiap data yang ada diplot dalam grafik. Hasil pengujian pada tanah gambut menunjukkan rentang nilai warna 38 Pt.Co – 270 Pt.Co, kekeruhan 4,62 NTU- 41,7NTU, suhu 28,7 °C - 29,8 °C, TDS 42 mg/L - 1280 mg/L, konduktivitas 28 µs/cm - 1390 µS/cm, sedangkan pada air sumur tanah berpasir dengan rentang nilai 5 Pt.Co - 701 Pt.Co, kekeruhan 1,47 NTU - 91,4 NTU, suhu 28,9 °C - 29,8 °C, TDS 20,7 mg/L - 682 mg/L, konduktivitas 43 µs/cm-648 µS/cm. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kualitas air yang memenuhi syarat fisika hanya terdapat di daerah tanah berpasir yaitu di titik 16, 19 dan 22
IDENTIFIKASI JENIS GAMBUT BERDASARKAN STRUKTUR PORINYA DENGAN MENGGUNAKAN GEOMETRI FRAKTAL
Telah dilakukan analisis terhadap tingkat kompleksitas struktur mikroskopik dari berbagai jenis gambut untuk mengetahui pola keteraturan struktur porinya. Data yang digunakan berjumlah 9 buah sampel gambut yang terdiri dari 3 buah saprik, 3 buah hemik, dan 3 buah fibrik. Analisis sampeldilakukan dengan cara makroskopik dan mikroskopik. Secara makroskopik, sifat fisik tanah yang dianalisis adalah porositas. Sedangkan secara mikroskopik, sifat fisik tanah gambut dianalisis dengan cara sampel dipindai dengan Micro-CT Scanner untuk menghasilkan citra 3D. Hasil dari pemindaian tersebut diolah dan dianalisis dengan metode fraktal. Hasil perhitungan dimensi fraktal yang dilakukan dengan metode box-counting menunjukkan bahwa dimensi fraktal saprik 1,7196 sampai dengan 1,7989, hemik 1,6149 sampai dengan 1,7322, dan fibrik 1,5271 sampai dengan 1,6817. Rentang nilai dimensi tersebut menunjukkan tingkat keteraturan struktur pori pada tiap jenis gambut yang bervariasi. Tingkat keteraturan struktur pori pada tiap jenis gambut dari yang paling teratur hingga tak teratur secara berturut-turut adalah gambut saprik, hemik, dan fibrik. Kata Kunci :Gambut, Dimensi Fraktal, Box-Counting, Struktur Mikroskopi
Peningkatan Kualitas Air Tanah Gambut dengan Menggunakan Metode Elektrokoagulasi
Telah dilakukan penelitian tentang peningkatan kualitas air tanah gambut dengan menggunakan metode elektrokoagulasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air tanah gambut setelah melewati proses penjernihan dengan metode elektrokoagulasi. Pengambilan sampel dilakukan di Desa Bintang Mas II Rasau Jaya. Sampel yang diperoleh kemudian diproses dengan menggunakan metode elektrokoagulasi. Dalam penelitian ini digunakan variasi jumlah plat, waktu kontak, dan tegangan yang diberikan oleh power supply pada saat melakukan metode elektrokoagulasi. Parameter yang diuji meliputi pH, TDS (Total Dissolve Solid), suhu dan warna. Kondisi awal air tanah gambut sebelum menggunakan metode elektrokoagulasi yaitu nilai pH sebesar 4,53, nilai suhu sebesar 30,3 0C, warna berskala 107 Pt.Co dan nilai TDS sebesar 989 mg/L. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh nilai yang telah memenuhi standar kualitas air bersih yaitu pada penggunaan 6 buah plat dan tegangan sebesar 30 Volt setelah waktu kontak selama 120 menit. Pada variasi ini diperoleh nilai optimum setelah waktu kontak selama 420 menit, dengan nilai pH sebesar 9, warna pada skala 13 Pt.Co dan nilai TDS sebesar 108 mg/L.Kata Kunci : Metode Elektrokoagulasi, pH, TD
Studi Faktor Penentu Akresi dan Abrasi Pantai Akibat Gelombang Laut di Perairan Pesisir Sungai Duri
Telah dilakukan penelitian untuk mengkaji perubahan garis pantai akibat gelombang laut di perairan pesisir Sungai Duri. Parameter yang dihitung adalah tinggi gelombang signifikan, arah datang gelombang dan faktor penentu perubahan garis pantai. Perhitungan yang digunakan adalah metode Wilson untuk menghasilkan tinggi dan periode gelombang sedangkan perhitungan faktor akresi dan abrasi menggunakan perhitungan yang dikemukakan oleh Horikawa . Tinggi gelombang, arah datang gelombang dan nilai faktor akresi dan abrasi tersebut dianalisis rata-rata tahunan setiap musim dari tahun 2003 s.d tahun 2016. Hasil penelitian menunjukan bahwa tinggi gelombang signifikan berkisar antara 0,04 m s.d 0,5 m, tinggi gelombang terendah berada pada tahun 2012 pada musim peraihan II dan tinggi gelombang tertinggi berada pada tahun 2004 pada musim timur. Pada musim barat gelombang dominan datang dari arah timur, pada musim peralihan I gelombang dominan datang dari arah timur laut, pada musim timur gelombang dominan datang dari arah barat daya dan pada musim peralihan II gelombang dominan datang dari arah barat daya. Hasil perhitungan di lokasi yang sama menunjukan bahwa pada tahun 2003 mengalami akresi dan pada tahun 2004 hingga 2016 pantai mengalami keseimbangan perubahan garis pantai karena diakibatkan oleh gelombang laut. Kata Kunci : Tinggi Gelombang, Arah Datang Gelombang, Akresi, Abras
Prototipe Sistem Pemadam Kebakaran Otomatis Berbasis Mikrokontroler Atmega328p
Telah dibuat prototipe sistem pemadam kebakaran otomatis berbasis mikrokontroler ATmega328P yang dapat memberikan peringatan dini berupa SMS (Short Message Service) melalui jaringan telepon seluler.Sistem inimenggunakan sebuah mikrokontroler ATMega328P,sensor suhu, sensor asap, dan modul GSM SIM900. Tampilan data suhu ditampilkan pada LCD (Liquid Crystal Display). Indikator terjadinya kebakaran adalah terdeteksinya asap atau suhu lebih dari 40oC. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem dapat mengirim informasi ke nomor telepon yang dituju dan dalam waktu bersamaan sistem dapat menghidupkan pompa air untuk memadamkan api. Kata Kunci :Mikrokontroler, Pemadam kebakaran, Prototipe, Sensor
Prototipe Sistem Telemetri Tinggi Muka Air dan Kontrol Pintu Air Otomatis Berbasis Mikrokontroler ATMega328P dan ESP8266
Telah dibuat sebuah prototipe instrumen untuk mengukur tinggi permukaan air sungai dan kontrol pintu air berdasarkan prinsip kerja dari gelombang ultrasonik. Sistem terdiri dari mikrokontroler ATMega328P, sensor Ultrasonik HC-SR04, modul ESP8266, dan Motor Servo. Gelombang ultrasonik yang dipancarkan oleh sensor akan memantul kemudian dikonversi menjadi jarak dan diterima oleh rangkaian penerima ultrasonik. Dari hasil pengujian, alat memiliki nilai rata-rata akurasi sebesar 95,47% dalam pengukuran ketinggian air. Nilai yang terbaca oleh sensor Ultrasonik dapat ditampilkan melalui LCD maupun secara online pada tampilan Web Server. Tinggi maksimum yang dapat terbaca oleh sistem sebesar 0,34 m untuk wadah dengan tinggi 0,4 m. Alat ini dapat digunakan untuk mengukur ketinggian permukaan air dan kontrol pintu air secara otomatis pada prototipe pintu air sungai yang telah dibuat
Pengaruh Variasi Konsentrasi Asam Terhadap Modulus Elastisitas dan Penyerapan Air pada Selulosa Kristalin dari Batang Kelapa Sawit
Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh variasi konsentrasi asam terhadap modulus elastisita
Identifikasi Sesar di Perairan Misool, Papua Barat dengan Menggunakan Metode Magnetik
Penelitian mengenai identifikasi sesar di Perairan Misool dengan menggunakan metode magnetik telah dilakukan. Data yang digunakan berupa data distribusi medan magnet total. Proses penelitian ini dimulai dengan mengkoreksi data menggunakan koreksi IGRF (International Geomagnetic Reference Field) dan koreksi Tie-line Levelling untuk mendapatkan distribusi medan magnet lokal. Dari distribusi medan magnet lokal dipilih tiga buah zona anomali. Pada ketiga zona ini, dibuat sebuah sayatan 1D untuk mengidentifikasi kemungkinan keberadaan sesar dibawah permukaannya (lintasan A-A’, B-B’ dan C-C’). Berdasarkan hasil pemodelan inversi pada ketiga lintasan, diketahui bahwa di bawah lintasan A-A’ ditemukan keberadaan sesar dengan posisi yang membentang dari Barat Laut ke arah Tenggara dan berada pada kedalaman 25 hingga 75 meter dari dasar permukaan laut
Analisis Efisiensi Boiler Menggunakan Metode Langsung
Telah dilakukan penelitian untuk menganalisis efisiensi boiler menggunakan metode langsung. Data tekanan, temperatur dan uap per jam dari boiler diolah melalui proses interpolasi data untuk memperoleh nilai entalpi panas lanjut dan entalpi air umpan sehingga diperoleh kalor keluaran dari boiler. Nilai GCV rerata bahan bakar sebesar 12865,14 kJ/kg, berdasarkan hasil analisis uji ultimat diperoleh nilai efisiensi boiler sebesar 46%. Penurunan nilai efisiensi boiler dikarenakan kandungan karbon, hidrogen, belerang dalam bahan bakar yang tidak terbakar sempurna. Kata Kunci :Boiler, Efisiensi, GCV, Entalpi, Batubar