PRISMA FISIKA
Not a member yet
253 research outputs found
Sort by
Estimasi Intensitas Radiasi Matahari di Wilayah Kota Makassar
Intensitas radiasi matahari sebagai salah satu parameter dari cuaca dan iklim dianalisis dengan menggunakan metode regresi non linier. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar potensi intensitas radiasi matahari sehingga bisa dimanfaatkan sebagai energi terbaharukan. Data yang digunakan yaitu data intensitas radiasi matahari dari Automatic Weather Station (AWS) dari Januari 2012 s.d Desember 2015. Data intensitas radiasi matahari dianalisis dengan 3 metode regresi non linier yaitu metode exponential, metode logarithmic, dan metode power. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa metode exponential memberikan nilai error yang lebih kecil dibandingkan dua metode lainnya. Nilai error yang diperoleh berkisar antara 0,06% s.d 100%
Aplikasi Metode Geolistrik untuk Identifikasi Sebaran Limbah Lada Putih di Kecamatan Galing Kabupaten Sambas
Metode geolistrik telah diaplikasikan untuk menginvestigasi sebaran limbah lada putih. Penelitian ini dilakukan di Dusun Kota Lama, Desa Ratu Sepudak, Kabupaten Sambas dengan menggunakan konfigurasi elektroda Wenner-Schlumberger. Nilai resistivitas limbah lada putih yang dijadikan acuan dalam penelitian ini didapatkan dengan menggunakan alat conductivity-meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah lada putih dominan berada pada lintasan 2 dengan rentang nilai resistivitas 6,35-17,5 Wm mencapai kedalaman 3,9 meter dari permukaan tanah. Kata Kunci : Geolistrik, Wenner – Schlumberger, limbah lada putih, Kecamatan Galing
Analisis Pengaruh Tutupan Awan Terhadap Radiasi Matahari di Kota Pontianak
Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh tutupan awan terhadap radiasi matahari di Kota Pontianak. Data yang digunakan adalah tutupan awan yang diperoleh dari satelite ECMWF (European Center for Medium-Range Weather Forecasts) dan radiasi matahari yang diperoleh dari satelite NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administrasion’s). Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh tutupan awan terhadap radiasi matahari dan mengetahui potensi energi matahari selama lima tahun (2012-2016). Penelitian ini menggunakan metode regresi linier sederhana yang menghasilkan nilai korelasi rata-rata bulanan sebesar -0,73 untuk tutupan awan rendah dan -0,22 untuk tutupan awan tinggi. Nilai korelasi -0,73 mempengaruhi radiasi matahari karena tutupan awan rendah lebih banyak memantulkan gelombang pendek dari matahari dan lebih banyak meneruskan gelombang panjang dari bumi, sedangkan nilai korelasi -0,22 sangat kecil mempengaruhi radiasi matahari karena tutupan awan tinggi lebih banyak meneruskan gelombang pendek dari matahari dan memantulkan gelombang panjang dari bumi. Dari penelitian ini diperoleh nilai rata-rata radiasi matahari bulanan di Kota Pontianak adalah sebesar 644,48 Watt/m2 sedangkan nilai rata-rata energi matahari bulanan sebesar 464,03 kWh/m2 per bulan
Potensi Energi Listrik Tenaga Angin Di Kota Pontianak
Telah dilakukan penelitian untuk menghitung potensi energi angin di Kota Pontianak. Pengukuran dilakukan di empat lokasi yakni Kecamatan Pontianak Selatan, Pontianak Tenggara, Pontianak Timur dan Pontianak Kota selama 24 jam. Kecepatan angin yang terukur digunakan untuk menghitung potensi energi listrik atau daya listrik. Hasilnya menunjukan daya listrik paling kecil 0,06 watt/hari di Pontianak Tenggara karena pengambilan data di pepohonan, sedangkan daya listrik paling besar 429,5 watt/hari di Pontianak Kota karena pengambilan data di perkebunan. Kata Kunci : daya listrik, kecepatan angin, potensi energi angin
Analisis Unsur Cuaca Pada Saat Kejadian Siklon Tropis Haiyan Menggunakan Model Wrf (Weather Research And Forecasting)
Haiyan merupakan siklon tropis yang terbentuk pada tanggal 3 hingga 11 November 2013 dan merupakan salah satu badai terkuat yang pernah terbentuk di Samudra Pasifik Barat. Bedasarkan data keluaran model Weather Research and Forecasting-Advance Research WRF (WRF-ARW), dilakukan analisis kondisi unsur cuaca di pusat siklon Haiyan selama perkembangan siklon tersebut. Unsur cuaca yang diamati meliputi kecepatan angin lapisan, kelembaban udara lapisan, suhu permukaan laut, tekanan permukaan dan curah hujan. Hasil keluaran model WRF menunjukkan bahwa kecepatan angin terus meningkat selama perkembangan Haiyan hingga mencapai 118 knot. Terdapat lapisan udara yang sangat lembab dengan persentase kelembaban relatif rata-rata selama perkembangan siklon Haiyan sekitar 95,87%. Suhu permukaan laut sekitar 29,9ᴼC di lokasi pembentukan dan terus mengalami penurunan sampai siklon Haiyan lenyap. Tekanan permukaan dibawah 1000 mb dan terus menurun hingga 952,37 mb seiring dengan meningkatnya status siklon Haiyan. Curah hujan di sekitar pusat badai sangat lebat dan menyebar cukup luas dari pusat badai. Hasil track siklon menunjukan bahwa Haiyan yang terbentuk di koordinat 6,4ᴼLU dan 155ᴼBT ini bergerak menuju lintang yang lebih tinggi menjauhi ekuator dan mulai lenyap di sekitar koordinat 22,87ᴼLU dan 106,9ᴼBT. Kata Kunci :Siklon tropis Haiyan, Unsur cuaca, WR
Karakterisasi Iklim Kalimantan Barat Menggunakan Metode Eksponen Hurst dan Indeks Prediktabilitas Iklim
Telah dilakukan penelitian dengan mengaplikasikan metode eksponen Hurst dan indeks prediktabilitas iklim untuk mengkarakterisasi iklim Kalimantan Barat. Karakterisasi ini diperlukan untuk mengetahui karakteristik iklim yang telah terjadi sebelumnya dan mengetahui besar potensi tiap unsur iklim untuk dapat diprediksi. Data penelitian yang digunakan adalah data runtun waktu dari unsur-unsur utama iklim, yaitu suhu udara, kecepatan angin, tekanan udara, kelembaban udara, dan curah hujan pada 5 wilayah Kabupaten di Kalimantan Barat. Metode eksponen Hurst dilakukan dengan analisis skala perbandingan nilai (R/S). Indeks prediktabilitas tiap unsur iklim diperoleh melalui hubungannya dengan dimensi fraktal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai eksponen Hurst seluruh unsur iklim berada pada rentang 0,590 ≤ H ≤ 0,884, sedangkan indeks prediktabilitas berada pada rentang 0,180 ≤ P ≤ 0,768. Nilai eksponen Hurst tersebut menunjukkan bahwa secara umum dinamika unsur iklim di lokasi yang dikaji berperilaku persistence. Berdasarkan indeks prediktabitas yang diperoleh dapat diketahui ada beberapa unsur iklim yang sulit untuk diprediksi. Beberapa unsur iklim tersebut adalah suhu udara di Kabupaten Sambas, kecepatan angin dan kelembaban udara di Kabupaten Ketapang, serta curah hujan di seluruh kabupaten yang dikaji.Kata Kunci : Iklim, Eksponen Hurst, Dimensi Fraktal, Indeks Prediktabilitas Ikli
Perbandingan Penggunaan Beberapa Metode Deteksi Tepi Pada Pengolahan Citra Radiologi Fraktur Tulang
Telah dilakukan penelitian pengolahan citra radiologi fraktur tulang menggunakan metode deteksi tepi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan antara beberapa metode deteksi tepi, sebelum dan setelah di-Global thresholding. Citra radiologi yang digunakan adalah tujuh citra fraktur tulang. Metode deteksi tepi yang digunakan meliputi metode Robert, Sobel, Prewitt, Laplace of Gauss (LoG) dan Canny, sedangkan metode segmentasi citra digunakan metode Global thresholding. Hasil perbandingan citra asli dengan citra yang sudah diolah menggunakan metode deteksi tepi menunjukkan nilai MSE (Mean Squared Error) terendah sebesar 32,12 dengan menggunakan metode Canny hingga tertinggi sebesar 131,03 menggunakan metode Robert. Nilai PSNR (Peak Signal to Noise Ratio) terendah sebesar 26,99 dB dengan menggunakan metode Robert hingga nilai PSNR tertinggi sebesar 33,1 dB dengan menggunakan metode Canny. Sedangkan perbandingan antara citra asli dengan citra yang sudah diolah menggunakan metode deteksi tepi dan disegmentasi dengan metode Global thresholding menunjukkan nilai MSE terendah 33,51 menggunakan metode Canny hingga tertinggi 130,94 menggunakan metode Robert. Nilai PSNR terendah sebesar 26,99 dB menggunakan metode Robert hingga tertinggi sebesar 32,91 dB dengan menggunakan metode Canny. Nilai PSNR tertinggi diperoleh dari penggunaan metode Canny yang disegmentasi dengan metode Global thresholding dan nilainya berada di bawah 40 dB. Hal tersebut mengindikasikan kualitas citra relatif rendah karena distorsi masih terlihat jelas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode yang memperlihatkan hasil yang maksimal adalah metode deteksi tepi Canny yang disegmentasi dengan metode Global thresholding. Kata Kunci: radiologi, fraktur, deteksi tepi, Global thresholdin
Analisis Konsentrasi dan Laju Angkutan Sedimen Melayang pada Sungai Sebalo di Kecamatan Bengkayang
Telah dilakukan penelitian tentang konsentrasi dan laju angkutan sedimen melayang di Sungai Sebalo Kecamatan Bengkayang Kabupaten Bengkayang. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap yaitu pengambilan data di lapangan dan uji laboratorium. Pengambilan data di lapangan berupa data debit sungai, dan sampel sedimen melayang yang dilaksanakan pada tanggal 9 Desember 2016 s.d 11 Desember 2016. Lokasi penelitian terdiri dari 5 stasiun pengamatan. Penentuan lokasi pengambilan sampel sedimen menggunakan metode purpose sampling. Debit sungai diperoleh dengan menggunakan metode interval tengah (mid section method). Pengujian di laboratorium untuk mendapatkan nilai konsentrasi sedimen melayang dengan menggunakan metode spektrofotometri. Nilai konsentrasi sedimen melayang digunakan untuk mendapatkan debit sedimen melayang sungai. Konsentrasi rata-rata sedimen melayang pada Stasiun 1 sebesar 133,1 mg/l, Stasiun 2 sebesar 137,2 mg/l, Stasiun 3 sebesar 116,9 mg/l, Stasiun 4 sebesar 83,5 mg/l dan Stasiun 5 sebesar 109,6 mg/l. Sedangkan konsentrasi rata-rata sedimen melayang di Sungai Sebalo yaitu sebesar 116,1 mg/l. Debit rata-rata sedimen melayang pada Stasiun 1 sebesar 22,872 ton/hari, Stasiun 2 sebesar 32,126 ton/hari, Stasiun 3 sebesar 71,787 ton/hari, Stasiun 4 sebesar 63,246 ton/hari dan Stasiun 5 sebesar 86,215 ton/hari. Sedangkan debit rata-rata sedimen melayang di Sungai Sebalo yaitu sebesar 55,249 ton/hari. Kata Kunci : Bengkayang, Sedimen Melayang, Spektrofotometri, Sungai Sebal
ANALISIS POROSITAS DAN SUSUT BAKAR KERAMIK BERPORI BERBASIS CLAY DAN SERAT TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT
Pada penelitian ini telah dilakukan pembuatan keramik berpori berbasis clay dan serat tandan kosong kelapa sawit (TKKS) untuk mengetahui pengaruh variasi TKKS terhadap porositas dan susut bakar dari keramik yang dihasilkan. Pembuatan keramik diawali dengan pencampuran clay dan TKKS yang telah lolos ayak 40 mesh serta dilakukan penambahan aditif berupa pasir silika sebesar 10% di dalam campuran bahan. Proses mixing dilakukan selama 15 menit dengan variasi komposisi TKKS 0%, 10%, 20%, dan 30% bobot. Pembentukan keramik dilakukan dengan cara cetak tangan dan dikeringkan pada suhu ruang selama 5 hari. Proses pembakaran menggunakan tanur hingga mencapai suhu 945oC dan ditahan selama 2 jam. Penentuan susut bakar diketahui dengan membandingkan massa dan volume keramik saat sebelum dan sesudah pembakaran. Sedangkan perbandingan antara massa kering dan massa basah sampel menunjukkan porositas keramik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel keramik dengan penambahan 30% TKKS memiliki nilai karakteristik tertinggi dengan porositas sebesar 78,37%, susut massa 25,52%, dan susut volume 1,44%. Material organik yaitu TKKS telah efektif digunakan sebagai pore-forming dengan penambahan hingga 30% bobot. Kata kunci:Keramik berpori, clay, tandan kosong kelapa sawit, filtrasi, F
Variabilitas Suhu dan Salinitas Perairan Selatan Jawa Timur
Telah dilakukan penelitian variabilitas suhu dan salinitas perairan Selatan Jawa Timur (8,5°LS s.d 15°LS dan 111°BT s.d 114,5°BT). Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh ENSO terhadap variabilitas suhu dan salinitas. Data SOI dan indeks SST Nino 3.4 diolah Ms. Excel sehingga menghasilkan grafik SOI dan indeks SST Nino 3.4. Penentuan tahun ENSO dilihat berdasarkan grafik SOI dan indeks SST Nino 3.4. Data suhu dan salinitas dari Argo Float diolah menggunakan Ocean Data View, kemudian setiap output dianalisis berdasarkan fenomena ENSO, selanjutnya dilakukan analisis korelasi SOI dan indeks SST Nino 3.4 terhadap suhu dan salinitas untuk melihat hubungan ENSO terhadap variabilitas suhu dan salinitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena ENSO berdasarkan SOI dan Indeks SST Nino 3.4 tidak mempengaruhi variabilitas suhu dan salinitas, sehingga variabilitas suhu dan salinitas pada kondisi El Niño lebih tinggi daripada kondisi La Niña. Tingkat kekuatan SOI terhadap suhu dan salinitas lebih lemah daripada indeks SST Nino 3.4. Tingkat kekuatan SOI terhadap suhu adalah 0,141 dan -0,05 terhadap salinitas. Tingkat kekuatan indeks SST Nino 3.4 terhadap suhu adalah 0,557 dan 0,711 terhadap salinitas.Kata kunci : ENSO, Indeks SST Nino 3.4, Salinitas, SOI, Suh