PRISMA FISIKA
Not a member yet
253 research outputs found
Sort by
RESPONS CURAH HUJAN TERHADAP FENOMENA EL NIÑO SOUTHERN OSCILLATION (ENSO) DI BONTANG
El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena yang mempengaruhi kondisi laut di ekuatorial Samudra Pasifik. Fenomena ini berpengaruh terhadap respon curah hujan di beberapa wilayah, terutama wilayah Bontang. Bontang merupakan wilayah yang berbatasan dengan selat Makassar dan merupakan wilayah yang berdekatan dengan Samudra Pasifik diantara kota-kota lain yang berada di Pulau Kalimantan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons curah hujan terhadap fenomena ENSO di Bontang. Metode yang digunakan adalah transformasi wavelet untuk melihat kekuatan curah hujan dan cross wavelet untuk melihat korelasi ENSO terhadap curah hujan . Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah indeks nino 3.4 dan curah hujan bulanan tahun 1985-2017. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa curah hujan ekstrim di wilayah Bontang merespon terjadinya fenomena ENSO selama delapan tahun kejadian. Sinyal dari ENSO umumnya terjadi lebih dahulu dibandingkan sinyal dari curah hujan
Studi Teoritik Respon Optik Two-Level System Semiconductor Quantum Dots
Telah dilakukan penelitian teoritik untuk mempelajari respon optik Semiconductor Quantum Dots (SQD) ketika dieksitasi dengan cahaya monokromatik. SQD yang ditinjau dimodelkan sebagai two-level system yang terdiri dari keadaan dasar dan satu keadaan tereksitasi. Formalisme matematis yang digunakan pada penelitian ini adalah metode density matrix yang solusinya diselesaikan secara analitik maupun numerik untuk mendapatkan osilasi Rabi dan spektrum SQD. Dari hasil yang diperoleh tampak bahwa karakteristik osilasi Rabi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: selisih energi cahaya datang dengan energi resonance, intensitas cahaya datang, dan konstanta damping SQD. Sementara, hasil perhitungan spektrum menunjukkan bahwa lebar garis spektrum energi serapan SQD dipengaruhi oleh intensitas cahaya datang. Hal ini mengkonfirmasi gejala power-broadening.Kata kunci : SQD, Density matrix, Two Level syste
Aplikasi Metode Fraktal untuk Karakterisasi Struktur Mikroskopik Karbon Aktif Limbah Tandan Sawit Teraktivasi NaOH
Telah dilakukan karakterisasi karbon aktif dari limbah tandan sawit teraktivasi larutan NaOH. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa struktur mikroskopik khususnya pola distribusi pori pada karbon aktif dengan menggunakan metode fraktal. Karbon aktif disintesis melalui tahapan karbonisasi pada suhu 400°C selama 1 jam, kemudian diaktivasi secara kimia dengan perendaman arang dalam variasi larutan NaOH sebesar 0,125 M, 0,25 M, 0,5 M, 1 M dan 2 M selama 24 jam. Proses selanjutnya karbon diaktivasi secara fisika dengan pemanasan pada suhu 600°C. Karbon aktif selanjutnya dikarakterisasi dengan menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM). Citra SEM karbon aktif limbah tandan sawit kemudian dianalisis dengan menggunakan metode analisis fraktal berdasarkan metode box-counting. Hasil pengolahan citra menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi aktivator NaOH menyebabkan pola distribusi pori menjadi tidak teratur. Hal ini diperlihatkan oleh peningkatan nilai dimensi fraktal seiring meningkatnya nilai konsentrasi aktivator. Kedua parameter ini berkorelasi positif dengan tingkat korelasi kuat hingga sangat kuat (62,56% hingga 96,23%). Kata Kunci : fraktal, metode box-counting, karbon aktif, tandan kelapa sawi
Aplikasi Metode Geometri Fraktal Pada Identifikasi Pola Kain Tenun Corak Insang Pontianak dan Modifikasinya
Penelitian ini mengkaji identifikasi pola kain tenun corak insang pontianak menggunakan metode geometri fraktal serta replikasi dan modifikasi pola tersebut dengan penjumlahan fungsi periodik. Tahap pertama proses identifikasi dilakukan dengan menyimpan pola kain tenun pada citra digital. Citra tersebut kemudian dikonversi dalam represantasi grayscale dan disegmentasi dengan proses thresholding untuk menghasilkan citra biner. Karakterisasi pola dilakukan dengan menghitung dimensi fraktal dan lakunaritas citra biner. Sedangkan, replikasi pola dilakukan dengan menggambar dan merotasi fungsi gergaji (sawtooth wave). Modifikasi pola dilakukan melalui penjumlahan beberapa fungsi periodik. Pola yang dihasilkan dari proses replikasi dan modifikasi diidentifikasi kembali dengan metode fraktal untuk menentukan karakteristiknya. Dari kajian yang dilakukan, diketahui bahwa metode yang telah diterapkan dapat menghasilkan motif pola kain tenun corak insang pontianak yang lebih beragam namun tetap mempertahankan karakteristik pola aslinya
Hubungan ENSO dan El Niño Modoki terhadap Suhu Permukaan Laut di Laut Arafuru
El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena interaksi antar laut atmosfer di Samudera Pasifik. Sementara, El Niño Modoki merupakan fenomena alam yang mirip dengan El Niño Konvesional namun berbeda di wilayah titik hangatnya yang tidak mencapai wilayah NINO3.4. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan ENSO dan El Niño Modoki terhadap suhu permukaan laut. Analisis dilakukan berdasarkan 4 musim yaitu musim Barat, musim peralihan I, musim Timur dan musim peralihan II dengan menggunakan metode korelasi silang. Data yang digunakan adalah data suhu permukaan laut, El Niño Modoki Indeks (EMI), dan anomali NINO3.4 periode 1987-2016. Pengaruh El Niño Modoki ditinjau dengan melihat tahun kejadian El Niño Modoki yang diperoleh dari pemilihan nilai EMI positif selama 30 tahun. Korelasi musiman El Niño Modoki dan NINO3.4 terhadap suhu permukaan laut menunjukkan bahwa hubungan paling kuat terjadi pada musim Timur dengan nilai korelasi 0,9. Hubungan pengaruh El Niño Modoki terhadap suhu permukaan laut diperoleh hubungan sangat kuat dengan nilai korelasi tertinggi yaitu 0,8 setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa suhu permukaan laut di Laut Arafuru pada musim Timur dipengaruhi oleh El Niño Modoki
Distribusi Salinitas di Estuari Kapuas Kecil
Sirkulasi masuknya air asin kedalam sistem sungai sangat dipengaruhi oleh pasang surut dan parameter fisik sungai. Penelitian ini bertujuan memodelkan distribusi salinitas akibat pengaruh pasang surut serta parameter fisik sungai terhadap jangkauan salinitas di EstuariKapuas Kecil Kalimantan Barat. Pengambilan data dilaksanakan pada tanggal 2 s.d 4 Oktober 2016pada kondisi pasang menuju surut dan surut menuju pasang.Metode yang digunakan dalam analisis data yaitu model statistik regresi linier berganda dengan melihat ukuran kekuatan variabel bebas pasang surut serta parmeter fisik sungai terhadap variabel terikat salinitas. Hasil pengamatan menunjukan bahwa nilai salinitas yang diperoleh berkisar dari 0‰ – 11‰,dimana nilai salinitas yang terukur pada lapisan permukaan berkisar antara 0 ‰ – 2 ‰, pada lapisan tengah antara 1 ‰ - 4 ‰ sedangkan pada lapisan dasar antara 3‰ – 11 ‰. Hasil analisis model regresi linier berganda diperolehnilai koefisien determinasi (R square )sebesar51,7%. Nilai tersebut menunjukanbesarnya pengaruh pasang surut, kecepatan arus, kedalaman serta jarak jangkauan terhadap salinitas pada berbagai lapisan, sisanya sebesar (48,3% )dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak ada didalam modelKata Kunci :DistribusiSalinitas, Estuari Kapuas, Regresi Linier Bergand
Pemodelan Lintasan Komet pada Tata Surya dengan Variasi Massa dan Posisi
Telah dilakukan penelitian untuk mensimulasi lintasan komet menggunakan Metode Leapfrog. Penelitian ini menggunakan data massa, posisi dan kecepatan delapan planet serta komet. Data massa dan posisi awal komet divariasikan untuk melihat variasi lintasan komet yang dihasilkan. Adapun variasi massa komet yaitu 1x109 kg, 1x1015 kg dan 2,2x1014 kg, dan variasi posisi awal komet pada sumbu x, yaitu 2,25 AU dan 10,5 AU serta pada sumbu y, yaitu -8 AU dan -20 AU. Hasil simulasi menunjukkan bahwa lintasan komet bervariasi bergantung dengan massa dan posisi awalnya dan tidak mengganggu keteraturan lintasan planet. Lintasan planet tidak stabil dan mengalami pergeseran ketika massa komet diperbesar hingga 500 kali massa bumi. Arah lintasan komet dapat diverifikasi dengan potensial gravitasi. Gerak komet cenderung terbelokkan ketika memasuki potensial gravitasi yang lebih tinggi. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa Metode Leapfrog dapat digunakan untuk menentukan persamaan gerak komet. Kata Kunci : Metode Leapfrog, Pemodelan Lintasan Komet, Potensial Gravitas
Estimasi Curah Hujan Di Kota Pontianak Berdasarkan Suhu, Ketebalan dan Tekanan Puncak Awan
Telah dilakukan penelitian mengenai estimasi curah hujan berdasarkan tekanan, suhu dan ketebalan puncak awan untuk studi kasus Kota Pontianak. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik jenis awan di Kota Pontianak dan pengaruhnya terhadap curah hujan. Penelitian ini menggunakan data curah hujan yang dikorelasikan terhadap tiga variabel yaitu suhu, ketebalan dan tekanan puncak awan. Hasil yang diperoleh yaitu jenis awan yang paling banyak di Kota Pontianak pada tahun 2015 dan 2016 adalah jenis awan tinggi yaitu jenis Cirrostratus. Persentase jenis awan Cirrostratus pada tahun 2015 sebesar 41% dan tahun 2016 sebesar 49%. Hasil korelasi antara suhu puncak awan, ketebalan puncak awan, dan tekanan puncak awan terhadap curah hujan secara berturut-turut sebesar -0,29, -0,35 dan 0,41 menunjukkan korelasi rendah. Dapat disimpulkan bahwa ketebalan puncak awan berpengaruh terhadap curah hujan karena semakin tebal awan yang terbentuk maka kemungkinan besar akan terjadi hujan dengan koefisien korelasi sebesar 0,41
Pengaruh Sebaran Uap Air terhadap Curah Hujan di Kalimantan Barat
Uap air merupakan salah satu komponen yang berada di atmosfer bumi. Kelebihan kandungan uap air akan menyebabkan curah hujan yang tinggi dan kurangnya kandungan uap air di atmosfer akan menyebabkan kekeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sebaran uap air terhadap curah hujan di Kalimantan Barat. Data uap air yang digunakan dengan wilayah kajian Indonesia bagian Barat dan curah hujan hanya di wilayah kajian Kalimantan Barat. Data uap air dikorelasi spasial terhadap curah hujan. Hasil dari analisis korelasi spasial antara uap air dan curah hujan dominan berkorelasi negatif. Hal tersebut berkaitan dengan curah hujan yang terjadi di Kalimantan Barat lebih disebabkan adanya proses konvektif dari efek termal radiasi matahari yang membentuk awan dan berkumpul menjadi hujan sehingga uap air atau transport massa uap air di Indonesia bagian barat kurang begitu berpengaruh terhadap curah hujan di Kalimantan Barat
Pemodelan Penyebaran Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Mempawah Menggunakan Metode Cellular Automata
Metode cellular automata telah digunakan untuk memodelkan penyebaran kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Mempawah. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data tutupan lahan Provinsi Kalimantan Barat dari citra satelit tahun 2012 dan peta yang memuat fire history tahun 2013 di Kabupaten Mempawah. Tahap pengolahan data dimulai dengan mengelompokkan data vegetasi ke dalam 2 kelompok vegetasi yaitu: vegetasi basah dan vegetasi kering. Peta yang telah disimpan sebelumnya dalam format “.jpg” dipotong ke dalam ukuran 250 x 250 piksel. Pemodelan kebakaran hutan dan lahan dengan metode cellular automata menggunakan geometri sel segi empat 2 dimensi. Jenis tetangga sel utama yang digunakan adalah jenis moore neighborhood (8 sel tetangga). Gambar hasil pemodelan dan data pembanding kemudian diolah melalui tahap grayscale dan thresholding, lalu kedua gambar diuji untuk diperoleh nilai koefisien korelasinya. Nilai koefisien korelasi tertinggi dari pengujian gambar hasil pemodelan terhadap 49 koordinat titik api yang berbeda sebesar 0,6850 (korelasi kuat) pada koordinat titik api (100,130). Hasil penelitian menunjukan bahwa metode cellular automata dapat digunakan untuk memodelkan penyebaran kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Mempawah dengan baik. Kata Kunci :Cellular Automata, Kebakaran Hutan, Grayscale, Thresholdin