Jurnal Perikanan Kelautan
Not a member yet
244 research outputs found
Sort by
POTENSI SUMBERDAYA LAMUN SEBAGAI PENUNJANG EKOWISATA DI PULAU MENJANGAN BESAR, KEPULAUAN KARIMUN JAWA
Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui potensi biofisik ekosistem lamun sebagai penunjang kegiatan ekowisata di Pulau Menjangan Besar dengan menghasilkan nilai kesesuaian ekowisata sebagai lamun penunjangnya, menghasilkan nilai daya dukung kawasan ekowisata lamun, dan untuk mengetahui presepsi dan partisipasi masyarakat di Pulau Menjangan Besar Kepulauan Karimun Jawa terhadap peluang daya dukung ekosistem lamun sebagai penunjang ekowisata. Penelitian dilaksanakan pada bulan April – Mei 2017 di Pulau Menjangan Besar, Kepulauan Karimun Jawa. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode observasi, yaitu pengambilan data di lapangan dan studi literatur. Bobot penentuan kesesuaian ekowisata lamun yang digunakan adalah kesesuaian menurut Yulianda, 2007. Adapun beberapa parameter yang di amati adalah tutupan lamun, jenis lamun, jenis ikan, kecerahan, suhu, kedalaman, kecepatan arus, jenis substrat, salinitas, sarana dan prasarana, aksesibilitas, dan melihat respon dari masyarakat. Data hasil survey lapangan kemudian diolah menggunakan software microsoft excel 2010 dan ArcGis 10.1 yang hasilnya akan disandingkan dengan kriteria kesesuaian wilayah untuk kegiatan Ekowisata pada ekosistem lamun. Berdasarakan hasil pengamatan dan pengolahan data, secara keseluruhan Pulau Menjangan Besar termasuk kedalam kriteria “Sesuai” dengan perhitungan nilai dari stasiun 1 sampai dengan stasiun 4 yaitu: 64 %, 64 %, 66 %, 66 %. Untuk perhitungan daya dukung kawasan kegiatan ekowisata lamun di Pulau Menjangan besar untuk kegiatan snorkling mencapai 113 orang di setiap harinya. Hasil presepsi, sikap, dan partisipasi masyarakat terhadap kegiatan ekowisata sendiri adalah menyetujui dan akan berpartisipasi dalam kegiatan ekowisatan pada ekosistem lamun
Pengaruh Penggunaan Warna Lure Light Fishing Terhadap Hasil Tangkapan Ikan Layur (Trichiurus sp.) di Palabuhanratu
Penelitian bertujuan untuk menentukan warna cahaya sebagai umpan buatan (Lure Light Fishing) pada pancing layur yang menghasilkan tangkapan terbanyak di Perairan Teluk Palabuhanratu. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimental dengan rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri atas 3 perlakuan dan 14 kali ulangan (trip). Parameter yang diamati pada penelitian ini bobot ikan layur, panjang ikan layur, jumlah ikan layur dan parameter kualitas air. Data hasil di analisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dengan uji F, apabila terdapat perbedaan antara perlakuan maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan umpan buatan bercahaya (lure light fishing) berwarna biru menghasilkan tangkapan ikan layur terbanyak.
ANALISIS TINGKAT KESEJAHTERAAN NELAYAN BURUH ALAT TANGKAP GILL NET DI DESA SUNGAI BUNTU KECAMATAN PEDES KABUPATEN KARAWANG
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pendapatan dan tingkat kesejahteraan nelayan buruh gill net di Desa Sungai Buntu Kecamatan Pedes Kabupaten Karawang. Metode yang digunakan adalah studi kasus yang bersifat deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dilengkapi daftar kuisioner dan juga observasi langsung di lapangan dengan jumlah responden sebanyak 30 orang. Teknik analisis data menggunakan 10 indikator tingkat kesejahteraan menurut Badan Pusat Statistik (2015). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan indikator kesejahteraan menurut BPS 2015 maka diketahui pendapatan nelayan buruh berasal dari upah dengan sistem bagi hasil rata-rata sebesar Rp. 30.000 – Rp. 50.000 per hari dengan waktu penangkapan rata-rata selama 15 hari dalam satu bulan. Total pendapatan rata-rata keluarga per bulan yaitu sebesar Rp.2.648.033 sedangkan pendapatan per tahun nelayan buruh alat tangkap gill net sebesar Rp.31.776.400 dengan rata-rata pendapatan per kapita per bulan yaitu Rp.629.110. Nelayan buruh gill net Desa Sungai Buntu memiliki tingkat kesejahteraan sedang yaitu antara skor 1,81 – 2,60 dengan jumlah skor 2,46. Nelayan yang tergolong dalam tingkat kesejahteraan tinggi sebanyak 36,67% responden, nelayan yang tergolong dalam tingkat kesejahteraan sedang sebanyak 40,00% responden, dan nelayan yang tergolong dalam tingkat kesejahteraan rendah sebanyak 23,33% responden
Analisis Kesesuaian Lahan Untuk Pariwisata Selam di Perairan Batu Layar, Pangandaran
Penelitian ini dilakukan di Perairan Batu Layar, Pangandaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis kesesuaian lahan di kawasan ini. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode deskriptif dimana data diambil dari studi pustaka dan pengambilan data secara langsung ke lapangan dan ditampilkan dalam bentuk tabel, grafik maupun gambar. Data tersebut kemudian diolah dengan matriks kesesuaian wisata dan dijadikan peta dengan menggunakan software ArcGIS 10.2.2. Pengambilan data dilakukan di 7 stasiun di kawasan Perairan Batu Layar, Pangandaran. Hasil dari indeks kesesuaian wisata di perairan ini cukup beragam, dimana 2 stasiun mendapatkan hasil S2 atau Sesuai, 3 stasiun mendapatkan hasil S3 atau Sesuai Bersyarat dan 1 stasiun mendapatkan hasil TS atau Tidak Sesuai.
ANALISIS TINGKAT KESEJAHTERAAN NELAYAN BURUH ALAT TANGKAP GILL NET DI DESA SUNGAI BUNTU KECAMATAN PEDES KABUPATEN KARAWANG
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pendapatan dan tingkat kesejahteraan nelayan buruh gill net di Desa Sungai Buntu Kecamatan Pedes Kabupaten Karawang. Metode yang digunakan adalah studi kasus yang bersifat deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dilengkapi daftar kuisioner dan juga observasi langsung di lapangan dengan jumlah responden sebanyak 30 orang. Teknik analisis data menggunakan 10 indikator tingkat kesejahteraan menurut Badan Pusat Statistik (2015). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan indikator kesejahteraan menurut BPS 2015 maka diketahui pendapatan nelayan buruh berasal dari upah dengan sistem bagi hasil rata-rata sebesar Rp. 30.000 – Rp. 50.000 per hari dengan waktu penangkapan rata-rata selama 15 hari dalam satu bulan. Total pendapatan rata-rata keluarga per bulan yaitu sebesar Rp.2.648.033 sedangkan pendapatan per tahun nelayan buruh alat tangkap gill net sebesar Rp.31.776.400 dengan rata-rata pendapatan per kapita per bulan yaitu Rp.629.110. Nelayan buruh gill net Desa Sungai Buntu memiliki tingkat kesejahteraan sedang yaitu antara skor 1,81 – 2,60 dengan jumlah skor 2,46. Nelayan yang tergolong dalam tingkat kesejahteraan tinggi sebanyak 36,67% responden, nelayan yang tergolong dalam tingkat kesejahteraan sedang sebanyak 40,00% responden, dan nelayan yang tergolong dalam tingkat kesejahteraan rendah sebanyak 23,33% responden
Variabilitas Lapisan Termoklin Terhadap Kenaikan Mixed Layer Depth (MLD) di Selat Makassar
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi suhu, MLD, variabilitas ENSO, dan arus yang mempengaruhi lapisan termoklin di Selat Makassar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis temporal dan spasial serta deskriptif komparatif sehingga menghasilkan output berupa profil suhu vertikal. Suhu rata-rata pada kedalaman 0-500 m mencapai 25,8 dengan kisaran suhu 6,64-33,81. Pada tahun 2015 lapisan termoklin terbentuk pada kedalaman 50-400 m dengan kisaran suhu 9-28. Pada tahun 2016 lapisan termoklin mulai terbentuk pada kedalaman 50-300 m dengan kisaran suhu 9-27. Kedalaman MLD pada daerah tenggara Selat Makassar lebih tinggi. Kekuatan arus terkuat terjadi selama musim Barat dengan kecepatan rata-rata 0,06 m/s kearah selatan dan barat. El Nino terjadi pada November 2014 sampai Mei 2016 dengan El Nino terkuat pada 2015 menyebabkan nilai MLD kecil yaitu sebesar 50,30 m. Pada Agustus sampai Desember 2016 terjadi La Nina yang menyebabkan nilai MLD meningkat
KARAKTERISASI MUTU SURIMI SEGAR DAN KAMABOKO IKAN NILA BERDASARKAN PERBEDAAN PROSES PENCUCIAN MENGGUNAKAN NACL DAN NAHCO3
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi mutu surimi ikan nila dan aplikasinya terhadap pembuatan kamaboko berdasarkan perbedaan proses pencucian. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Industri Hasil Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, Laboratorium Uji Fakultas Teknik Industri Pangan Universitas Padjadjaran serta Laboratorium Hasil Perikanan Institut Pertanian Bogor pada bulan Maret 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental, dengan A (kontrol), B (NaCl 0,3%), C (NaHCO3 0,5%) dan D (NaCl 0,3% dan NaHCO3 0,5%). Aspek yang diuji pada penelitian ini adalah tingkat derajat putih, tingkat kekuatan gel dibahas secara deskriptif dan nilai uji gigit kamaboko dibahas secara statistik menggunakan uji Friedman sesuai dengan pengujian kamaboko oleh Surimi Workshop di Seattle, Jepang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan D (NaCl 0,3% dan NaHCO3 0,5%) merupakan perlakuan yang menghasilkan kamaboko ikan nila terbaik dengan nilai derajat putih sebesar 61,66% kekuatan gel sebesar 695,1 g.cm, nilai rata uji gigit sebesar 9,1 serta digolongkan ke dalam kelas satu pada sistem penilaian surimi berdasarkan penilaian kamaboko oleh Surimi Workshop di Seattle, Jepang
EMBRIOGENESIS DAN KARAKTERISTIK LARVA PERSILANGAN IKAN PATIN SIAM (Pangasius hypophthalmus) JANTAN DENGAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) BETINA
Penelitian dilaksanakan di kolam percobaan Ciparanje dan Laboratorium Akuakultur Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, mulai dari bulan Desember 2016 hingga Februari 2017. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perkembangan embriogenesis dan karakteristik perkembangan larva persilangan ikan patin siam jantan dengan ikan baung betina. Metode yang digunakan pada penelitian yaitu eksperimetal dengan analisis deskriptif kuantitatif yaitu dengan menganalisis tingkat keberhasilan hibridisasi. Derajat pembuahan pada ikan patin siam, ikan hibrid dan juga ikan baung masing-masing 92,57%, 91,47% dan 46,20%. Proses embriogenesis sampai dengan penetasan larva pada ikan patin siam lebih cepat dibandingkan dengan ikan hibrid dan juga ikan baung yaitu dengan waktu berturut turut yaitu 19 jam 40 menit, 21 jam 10 menit, dan 23 jam 30 menit. Derajat penetasan telur pada ikan patin, ikan hibrid dan juga ikan baung masing-masing 86,12%, 80,93% dan 56,16%. Derajat kelulushidupan ikan patin siam, ikan hibrid, dan juga ikan baung masing-masing 76,30%, 24,69% dan 51,61%. Karakteristik morfologi larva hibrid meliputi bentuk kepala, bentuk tubuh, bentuk sirip ekor dan sirip adipose cenderung intermediate yang merupakan perpaduan dari kedua indukan, sedangkan bentuk sirip anal, sirip dada, sirip punggung lebih mengarah kepada ikan baung. Abnormalitas pada larva ikan hibrid terjadi pada bagian tubuh dengan persentase larva yang abnormal sebesar 34,75%
Analisis Peran Sektor Perikanan Terhadap Pembangunan Wilayah Kabupaten Kuningan Jawa Barat
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis laju pertumbuhan sektor perikanan dalam perekonomian di wilayah Kabupaten Kuningan dan menentukan komoditas perikanan yang unggul di Kabupaten Kuningan. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Penelitian ini dimulai pada bulan Oktober 2016 hingga Mei 2017. Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode survei, dengan teknik pengambilan responden menggunakan teknik purposive sampling. Data penelitian ini terdiri dari dua jenis yaitu data primer dan data sekunder. Analisis data yang dilakukan meliputi Analisis Shift Share, Analisis Location Quotient (LQ), Analisis Locatization Index (LI), Analisis Specialization Index (SI). Hasil analisis komoditas unggulan dengan menggunakan analisis LQ, komoditas yang dapat dikembangkan menjadi unggulan yaitu Ikan Nila (rata-rata LQ 1,44) dan Ikan Mas (rata-rata LQ 1,42). Analisis laju pertumbuhan wilayah dengan menggunakan LQ, LI, dan SI (dengan angka rata-rata LQ 1,56, rata-rata LI 0,00 dan rata-rata SI 0,00) menunjukkan bahwa sektor perikaan merupakan sektor basis namun bukan menjadi fokus sektor perekonomian Kabupaten Kuningan. Hasil analisis shift share menunjukkan bahwa sektor perikanan merupakan sektor dengan pertumbuhan progresif.
FORTIFIKASI DAGING IKAN NILA TERHADAP KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK DAN KANDUNGAN GIZI KECIMPRING
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat fortifikasi daging ikan nila pada kecimpring yang paling disukai panelis berdasarkan karakteristik organoleptik dan menganalisis kandungan gizinya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan perlakuan penambahan daging ikan nila sebesar 0%, 5%, 10% dan 15%, berdasarkan berat parutan singkong. Pengamatan dilakukan terhadap karakteristik organoleptik meliputi warna, aroma, kerenyahan dan rasa serta menganalisis komposisi proksimat untuk perlakuan yang paling disukai meliputi kadar air, kadar protein, kadar lemak, kadar karbohidrat dan kadar asam amino. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan daging ikan nila sebesar 5% merupakan perlakuan yang paling disukai panelis karena memiliki nilai alternatif 6,88 dengan kadar air 9,75 %, kadar protein 44,4%, kadar lemak 35,59%, kadar karbohidrat 82,76 % dan kadar asam amino total 3,17 % w/w