Jurnal Perikanan Kelautan
Not a member yet
244 research outputs found
Sort by
PEMBERIAN PROBIOTIK DENGAN CARRIER ZEOLIT PADA PEMBESARAN IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus)
Penelitian tentang pemberian probiotik dengan carrier zeolit pada pembesaran ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) telah dilaksanakan pada bulan Juli-September 2012 di Laboratorium Pembenihan Ikan dan Kolam Percobaan Ciparanje Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari penambah probiotik dengan carrier zeolit terhadap kodisi kualitas air dan tingkat kelangsungan hidup benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus). Benih yang digunakan adalah benih ikan lele dumbo dengan ukuran 7-9 cm dan berat 8,13 gram/ekor. Benih ikan lele dumbo berasal dari kolam percobaan Ciparanje, Jatinangor-Sumedang. Wadah pembesaran berupa kolam beton ukuran 2x1x0,5 meter, dan setiap kolam diisi dengan 600 L air tawar. Perlakuan yang dilakukan adalah pemberian probiotik dengan carrier zeolit dengan jumlah yang berbeda yaitu dosis 2,5 mg/L; 5 mg/L; 7,5 mg/L; serta ditambah dengan satu perlakuan kontrol. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masing perlakuan di ulang sebanyak 4 kali ulangan. Pemberian probiotik dengan carrier zeolit sebanyak 5mg/L dapat menekan konsentarsi amonia (0,17-0,22 ppm) dan dapat meningkatkan laju pertumbuhan serta kelangsungan hidup ikan lele yang tinggi yaitu 82% dan 85%
KAJIAN TINGKAT KERENTANAN LINGKUNGAN FISIK PESISIR MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALITICAL HIRARCHY PROCESS) DI KABUPATEN BANTUL, YOGYAKARTA
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kepentingan faktor lingkungan fisik di pesisir Kabupaten Bantul, dan untuk memperoleh informasi tentang bahaya, dan resiko kerentanan di pesisir Kabupaten Bantul. Data yang digunakan adalah citra Landsat TM, data pasang surut, tinggi gelombang, kemiringan pantai, dan morfologi pantai, dan wawancara dengan pakar ahli. Metode yang digunakan adalah metode pembobotan untuk menentukan tingkat kepentingan faktor fisik dengan menggunakan Analitical Hirarchy Process (AHP) dan metode observasi langsung ke lapangan (ground check) selanjutnya data diolah dengan analisis spatial menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kerentanan Kabupaten Bantul Yogyakarta adalah rendah dengan presentase 57% dan tinggi dengan presentase 26% dari keseluruhan wilayah pesisir Kabupaten Bantul. Kata kunci : bantul, kerentanan, pesisi
BIOAKUMULASI LOGAM BERAT Pb (TIMBAL) DAN Cd (KADMIUM) PADA DAGING IKAN YANG TERTANGKAP DI SUNGAI CITARUM HULU
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam Pb dan Cd yang terakumulasi dalam daging ikan yang tertangkap di Sungai Citarum bagian hulu, dengan membandingkan hasil analisis dengan baku mutu Dirjen POM No. 03725/B/SK/VII/89 dan SNI 7387:2009. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2012. Penentuan stasiun pengambilan sampel berdasarkan aspek-aspek lingkungan di sekitar Sungai Citarum bagian hulu meliputi daerah alami, pertanian, pemukiman, dan industri. Jumlah titik stasiun pengambilan sampel berjumlah 6 stasiun dengan masing-masing tiap stasiun diambil 3 ekor ikan. Kandungan logam berat kemudian dianalisis menggunakan Atomic Absorption Spectrofotometer (AAS). Hasil penelitian pada daging ikan menunjukkan konsentrasi logam berat timbal tertinggi sudah melebihi baku mutu yaitu 20.000ppb. Konsentrasi kadmium paling tinggi pada daging ikan juga menunjukkan nilai sudah melebihi baku mutu yaitu 215 ppb. Hasil ini menunjukkan bahwa telah terjadi akumulasi konsentrasi logam berat pada daging ikan
PENGARUH KEPADATAN TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN BENIH KERAPU BEBEK (Cromileptes altivelis) PADA PENDEDERAN KEDUA
Penelitian ini telah dilaksanakan di Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo, dari tanggal 7 Mei sampai 22 Juni 2012. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kepadatan benih kerapu bebek (Cromileptes altivelis) yang menghasilkan tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan tertinggi pada pendederan kedua. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, masing-masing perlakuan tiga ulangan. Kepadatan benih yang di uji adalah 1 ekor L-1, 3 ekor L-1, 5 ekor L-1 dan 7 ekor L-1 . Parameter yang diamati adalah kelangsungan hidup, panjang mutlak, bobot mutlak dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan benih 1 ekor L-1 adalah kepadatan terbaik karena menghasilkan kelangsungan hidup 95,55 ± 0,90 %, pertumbuhan panjang mutlak 3,88 ± 0,35 cm dan bobot mutlak 4,89 ± 0,56 g yang tertinggi. Kepadatan benih 3 ekor L-1 masih dalam daya dukung dari wadah dan media pemeliharaan
IDENTIFIKASI BAKTERI INDIGENOUS PEREDUKSI LOGAM BERAT Cr (VI) DENGAN METODE MOLEKULER DI SUNGAI CIKIJING RANCAEKEK, JAWA BARAT
Penelitian ini dilakukan untuk mencari bakteri indegenous dari sungai yang berpotensi mereduksi logam berat Cr (VI) dengan metode molekuler . Sampel berasal dari air dan sedimen Sungai Cikijing, Rancaekek Kabupaten Bandung Jawa Barat. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif, identifikasi molekuler dengan primer 16S rRNA, dan uji reduksi bakteri terhadap Cr (VI) dengan indikator DiphenylCarbazide (DPC). Tahapan penelitian meliputi kultivasi bakteri, uji tantang dengan konsentrasi yang digunakan yaitu 50, 150, 500, 1000, uji reduksi dengan konsentrasi 300, 700, dan 1000 ppm, dan identifikasi molekuler gen 16S rRNA. Hasil penelitian didapat 10 Isolat murni bakteri, dan semua bakteri mempunyai resistensi terhadap konsentrasi Cr (VI). Dua bakteri yang mempunyai tingkat resistensi, tingkat reduksi tertinggi dengan melihat OD (optical density), yaitu A.3.3. yang dapat menurunkan 1083,25 ppm menjadi 468,30 ppm dan S.3.14dapat menurunkan 1083,25 ppm menjadi 856,20 ppm dalam waktu ±24 jam. Hasil identifikasi molekuler menunjukkan spesies bakteri A.3.3 adalah Bacillus thuringiensis dan isolat S.3.14 adalah Staphylococcus arlettae
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG Spirulina platensis PADA PAKAN TERHADAP PENINGKATAN WARNA LOBSTER AIR TAWAR HUNA MERAH (Cherax quadricarinatus)
Huna Merah merupakan salah satu jenis lobster air tawar yang dapat dibudidayakan untuk konsumsi dan ikan hias. Sebagai ikan hias, Huna Merah dengan warna biru memiliki nilai jual yang tinggi. Tujuan penilitan ini adalah untuk mencari dosis tepung Spirulina platensis yang tepat yang ditambahkan pada pakan terhadap peningkatan warna biru tubuh Huna Merah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan : 4, 6, 8 dan 10% tepung Spirulina platensis dan 4 ulangan. Data berupa kode warna dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitan menunjukkan bahwa penambahan tepung Spirulina platensis sebanyak 8% memberikan peningkatan warna biru terbaik pada tubuh Red Claw, yaitu warna biru laut dan distribusi warna merata pada se;uruh tubuh. Kata kunci : peningkatan warna, red claw, spirulina platensi
EFEKTIVITAS TEPUNG HIPOTALAMUS SAPI DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH IKAN TAMBAKAN (Helostoma temminckii)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas tepung hipotalamus sapi terhadap laju pertumbuhan benih ikan tambakan. Metoda penelitian adalah eksperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Kelima perlakuan tersebut adalah penggunaan tepung hipotalamus sapi 0% atau tanpa penambahan tepung hipotalamus sapi sebagai kontrol, penggunaan tepung hipotalamus sapi dengan dosis 0,05%, 0,10%, 0,15% dan 0,20% dari total pakan yang diberikan. Parameter yang diamati adalah laju pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung hipotalamus sapi dengan dosis yang berbeda meningkatkan laju pertumbuhan ikan tambakan. Pemberian tepung hipotalamus sebesar 0,10% memberikan laju pertumbuhan lebih tinggi dibanding perlakuan lainnya dengan rata-rata 2,32% perhari
PENGKAYAAN PAKAN YANG MENGANDUNG MAGGOT DENGAN TEPUNG KEPALA UDANG SEBAGAI SUMBER KAROTENOID TERHADAP PENAMPILAN WARNA DAN PERTUMBUHAN BENIH RAINBOW KURUMOI (Melanotaenia parva)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis tepung kepala udang sebagai sumber karotenoid dalam pakan yang mengandung maggot yang dapat menghasilkan peningkatan warna terbaik pada benih rainbow kurumoi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan tersebut adalah penambahan tepung kepala udang dengan dosis 0 % (tanpa penambahan), 2,5 %, 5 %, 7,5 %, dan 10 % per kilogram pakan. Benih rainbow kurumoi dengan bobot rata-rata 0,19 g dan panjang rata-rata 2,5 cm. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan 0 %, 2,5 %, 5 %, 7,5 %, dan 10 % tidak menghasilkan perubahan warna oranye kehijauan pada badan atas (ventral), warna oranye pada perut, dan ekor benih rainbow kurumoi serta tidak menghasilkan pertumbuhan panjang dan bobot yang signifikan. Kata kunci : maggot, pertumbuhan, rainbow kurumoi, tepung kepala udang, warn
Distribusi Spasial Komunitas Plankton sebagai Bioindikator Kualitas Perairan di Situ Bagendit Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat
Penelitian ini dilakukan di Situ Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat telah dilaksanakan pada bulan 27 Mei – 17 Juni 2012. Penelitian ini dilakukan di Situ Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui distribusi spasial komunitas plankton sebagai bioindikator kualitas air Situ Bagendit untuk pengelolaan lebih lanjut dalam bidang kegiatan budidaya ikan hias. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan penetapan 11 stasiun, dan empat kali waktu sampling dengan periode penelitian setiap 7 hari sekali. Komunitas plankton yang ditemukan terdiri dari 44 spesies fitoplankton dan 23 spesies zooplankton. Nilai kelimpahan fitoplankton tertinggi adalah kelas Desmidiaceae dengan nilai kelimpahan rata-rata 34 ind/L, sedangkan nilai kelimpahan tertinggi zooplankton adalah kelas Rotatoria dengan kelimpahan rata-rata 3 individu/L. Secara spasial plankton berdasarkan kelimpahan dapat dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok pertama (stasiun 1 dan 4) dengan kisaran kelimpahan plankton 100-240 ind/L, kelompok kedua (2, 3, 5, 8 dan 9) dengan nilai 66-85 ind/L, sedangkan kelompok ketiga (stasiun 6, 7, 10 dan 11) dengan nilai 35-65 ind/L. Berdasarkan beberapa parameter fisik, kimiawi dan komunitas plankton di perairan Situ Bagendit sesuai sebagai areal budidaya ikan hias
INTENSITAS DAN PREVALENSI EKTOPARASIT PADA IKAN DI HULU SUNGAI CIMANUK KABUPATEN GARUT, JAWA BARAT
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis ektoparasit, nilai intensitas dan prevalensi ikan hasil tangkapan di Sungai Cimanuk Hulu Kabupaten Garut yang telah dilaksanakan dari bulan Juni 2012 sampai dengan Juli 2012. Penelitian ini menggunakan metode survey di empat stasiun pengamatan. Sampel ikan diperoleh menggunakan alat tangkap jaring lempar, bubu dan pancingan dengan pengambilan sampel diulang setiap minggu selama empat minggu. Jumlah ikan yang tertangkap di hulu sungai Cimanuk sebanyak 133 ekor yang terdiri dari 9 spesies termasuk kedalam 6 yaitu famili Cichlidae, Cyprinidae, Poeciliidae, Anabantidae, Bagridae dan Gobiidae. Hasil penelitian didapat 7 genus ektoparasit yaitu Trichodina, Trichodinella, Ichthyophthirius, Chilodonella, Dactylogyrus, Gyrodactylus dan Transversotrema. Ektoparasit yang memiliki intensitas tertinggi adalah Chilodonella sebesar 2,75 dan ektoparasit dengan nilai intensitas terendah adalah Transversotrema sebesar 0,4. Intensitas tertinggi pada ikan adalah Nila sebesar 24,79 dan intensitas terendah adalah Cingir Puteri dengan sebesar 7,5. Prevalensi ektoparasit tertinggi adalah Dactylogyrus sebesar 44,36% dan prevalensi terendah adalah Transversotrema sebesar 8,27%. Ikan dengan prevalensi tertinggi adalah Mujair dengan nilai 85,7% dan ikan dengan nilai prevalensi terendah adalah Cingir Puteri dengan nilai 35,7%