Jurnal Perikanan Kelautan
Not a member yet
244 research outputs found
Sort by
Pengaruh Perbedaan Warna Cahaya Lampu Terhadap Hasil Tangkapan Cumi-Cumi (Loligo spp) Pada Bagan Apung Di Perairan Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi Jawa Barat
Penelitian ini dilakukan dari tanggal 10 Mei sampai 27 Mei 2015 di perairan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh perbedaan warna cahaya lampu terhadap hasil tangkapan cumi-cumi pada bagan apung di Perairan Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode Survei atau non eksperimental yaitu mengumpulkan data yang ada dilapangan.penelitian ini menggunakan 2 perlakuan dan 16 kali ulangan. Perlakuan yang digunakanadalah A (Perlakuan warna cahaya lampu putih malam pukul 20.00-05.00 WIB) B (Perlakuan warna cahaya lampu kuning malam pukul20.00-05.00 WIB). Data yang diamati dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dengan mengikuti trip nelayan bagan apung. Data yang diperoleh meliputi bobot total hasil tangkapan cumi-cumi, jumlah individu dan hasil tangkapan sampingan (bycatch).Data sekunder berupa studi pustaka dengan membandingkan literatur atau hasil-hasil laporan penelitian yang sesuai dengan tema. Hasil bobot dan jumlah individu cumi-cumi dianalisis menggunakan uji t- student, sedangkan oseanografi yang meliputi suhu,kecerahan, salinitas, dan kedalaman di analisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan, hasil tangkapan cumi-cumi lebih banyak menggunakan lampu warnaputih dibandingkan dengan lampu warna kuning jika ditinjau dari bobot dan jumlah individu cumi-cumi. Bobot totalcumi-cumi selama penelitian adalah 88,386Kg. Bobot total dengan menggunakan lampu warna putih adalah 56.418 Kg dan lampu warna kuning adalah 31.968 Kg. Jumlah total individu selama penelitian adalah 21,299 ekor. Jumlah total individu yang tertangkap dengan menggunakan lampu warna putih sebanyak 13,332 ekor dan jumlah individu hasil tangkapan dengan menggunakan lampu warna kuning sebanyak 7.967ekor. Jenis hasil tangkapan sampingan (Bycatch) meliputi ikan teri (Stolephorus sp) sebanyak 103,610 Kg, ikan layur (Trichiurussp) sebanyak 16,454 Kg dan ikan tembang (Sardinella sp) sebanyak 10,87 Kg. Kata Kunci :Cumi-cumi, Bagan Apung,warna lamp
Pengaruh Perbedaan Struktur Komunitas Mangrove Terhadap Konsentrasi N Dan P Di Perairan Hutan Sancang Garut
Penelitian ini dilakukan di Hutan Sancang, Garut. Pengujian konsentrasi N dan P dilakukan di Laboratorium Kesuburan Tanah dan Nutrisi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Pengujian butir sedimen dilakukan di Laboratorium Teknik Geologi Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran. Pelaksanaannya dimulai dari bulan Februari sampai dengan bulan April 2015. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui struktur komunitas mangrove di Hutan Sancang, serta menganalisis bagaimana pengaruh perbedaan struktur komunitas mangrove terhadap konsentrasi Nitrogen dan Fosfor di perairan Hutan Sancang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survey dan data yang diperoleh dianalisis dengan Anova dan Uji Duncan, kemudian dianalisis secara deskriptif. Pengambilan data vegetasi mangrove menggunakan metode transek kuadrat, kemudian sampling parameter perairan dan substrat. Penentuan stasiun penelitian berdasarkan jenis mangrove yang ada di tempat itu. Hasil penelitian ditemukan sebanyak 3 spesies mangrove pada 3 stasiun penelitian. Jenis mangrove yang ditemukan yaitu Sonneratia caseolaris, Rhizopora apiculata dan Bruguiera gymnorrhiza, dengan jenis yang mendominasi adalah Sonneratia caseolaris. Indeks keanekaragaman di lokasi penelitian berkisar antara 0 - 1, menunjukkan kestabilan ekosistem rendah. Tidak terdapat perbedaan signifikan untuk konsentrasi N-Total dan P-Total. Struktur komunitas mangrove tidak berpengaruh terhadap perbedaan konsentrasi nitrogen dan fosfor di perairn Hutan Sancang. Kata kunci: Struktur komunitas, Mangrove, Substrat, Konsentrasi N-Total dan P-Tota
Frekuensi Penambahan Probiotik Bacillus sp. Dan Staphylococcus sp. Pada Media Pemeliharaan Benih Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Untuk Ketahanan Terhadap Aeromonas hydrophila
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi pemberian probiotik multispecies Bacillus sp. dan Staphylococcus sp. yang tepat pada media pemeliharaan sehingga dapat meningkatkan kelangsungan hidup benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) yang terinfeksi Aeromonas hydrophila. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan tersebut adalah A (tanpa penambahan probiotik Bacillus sp. dan Staphylococcus sp. dan tanpa pemberian Aeromonas hydrophila (kontrol negatif)), B (tanpa penambahan probiotik Bacillus sp. dan Staphylococcus sp. dan pemberian Aeromonas hydrophila 103 CFU/ml (kontrol positif)), C (penambahan probiotik Bacillus sp. 103 CFU/ml dan Staphylococcus sp. 103 CFU/ml diberikan setiap hari serta penambahan Aeromonas hydrophila 103 CFU/ml) dan D (penambahan probiotik Bacillus sp. 103 CFU/ml dan Staphylococcus sp. 103 CFU/ml diberikan setiap dua hari sekali serta penambahan Aeromonas hydrophila 103 CFU/ml). Parameter yang diamati adalah tingkat kelangsungan hidup ikan uji selama masa pemeliharaan pertumbuhan biomassa, Feed Convertion Ratio (FCR), differensial leukosit, indeks fagositik dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa probiotik perlakuan D (Bacillus sp. 103 CFU/ml dan Staphylococcus sp. 103 CFU/ml) pada media pemeliharaan benih ikan lele dumbo yang diberikan setiap dua hari sekali menghasilkan kelangsungan hidup tertinggi 93,33%, proporsi monosit 30% dan aktivitas fagosit 77,5% dibandingkan dengan perlakuan A, B dan C. Kata kunci : Bacillus sp., Staphylococcus sp., Aeromonas hydrophila, lele dumbo, Clarias gariepinu
Studi Kandungan Formalin Dan Zat Pemutih Pada Ikan Asin Di Beberapa Pasar Kota Bandung
Formalin dan hidrogen peroksida adalah salah satu bahan tambah pangan yang dilarang secara resmi melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 033 tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan. Metode penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode survey. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui ada tidaknya kandungan formalin dan zat pemutih pada ikan asin yang dijual di beberapa pasar kota Bandung. Pemeriksaan kandungan formalin pada sampel ikan asin dilakukan di Laboratorium Pengolahan Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dan Pemeriksaan kandungan zat pemutih dilakukan di Laboratorium Uji Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan formalin ditemukan pada ikan kembung asin dari pasar Gedebage, ikan kembung asin dari pasar Caringin, ikan kembung asin dari pasar Ujung Berung, ikan kembung asin dari pasar Cicaheum, dan ikan kembung asin dari pasar Ciroyom, sedangkan kandungan zat pemutih ditemukan pada ikan pari asin dari pasar Gedebage, ikan pari asin dari pasar Caringin, ikan pari asin dari pasar Ujung Berung, dan ikan pari asin dari pasar Cicaheum. Kata Kunci : Ikan Asin, Formalin, Zat pemutih
Pengaruh Pemberian 17α Metiltestosteron Secara Oral Terhadap Maskulinisasi Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) Menggunakan Jantan Fungsional
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi optimum hormon 17α- Metiltestosteron (MT) secara oral terhadap maskulinisasi ikan nilem yang menghasilkan persentase jantan terbanyak. Induk ikan diperoleh dari hasil penelitian sebelumnya pada bulan Februari 2015. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) empat perlakuan dan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukan terdapat perbedaan persentase kelamin jantan yang dihasilkan. Pada konsentrasi MT 30 mg/kg pakan menghasilkan persentase kelamin jantan sebesar 73,33% lebih besar di bandingkan dengan kontrol 25,56%, 40 mg/kg pakan 63,33%, dan 50 mg/kg pakan sebesar 61,11%. Kata Kunci : Hormon 17α-Metiltestosteron, jantan fungsional, maskulinisasi, persentase jantan, Osteochilus hasselti
KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN IKAN RAINBOW MERAH (Glossolepis incisus Weber) DAN LOBSTER AIR TAWAR (Cherax quadricarinatus ) DENGAN PENEBARAN YANG BERBEDA PADA POLIKULTUR SISTEM RESIRKULASI
Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui penebaran polikultur tertinggi pada ikan rainbow merah dan lobster air tawar terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) lima perlakuan tiga ulangan yaitu perlakuan A (30 ekor lobster), B (15 ekor rainbow dan 15 ekor lobster), C (20 ekor rainbow dan 10 ekor lobster), D (10 ekor rainbow dan 20 ekor lobster) dan E (30 ekor rainbow). Parameter yang diamati adalah kelangsungan hidup, pertumbuhan, warna ikan rainbow merah, dan pergantian kulit (moulting) lobster air tawar. Penebaran ikan rainbow merah dan lobster air tawar 1 : 1, memperlihatkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan penebaran ikan rainbow merah dan lobster air tawar = 1 : 2, dan ikan rainbow merah dan lobster air tawar = 2 : 1, dengan tingkat kelangsungan hidup sebesar 95,56 %, serta laju pertumbuhan ikan rainbow merah sebesar 2,62 % dan lobster air tawar sebesar 2,46 %. Kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan rainbow merah dan lobster air tawar pada sistem polikultur lebih baik dibandingkan dengan sistem monokultu
IDENTIFIKASI KERUSAKAN DAN UPAYA REHABILITASI EKOSISTEM MANGROVE DI PANTAI UTARA KABUPATEN SUBANG
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerusakan mangrove, mengetahui faktor kerusakan mangrove dan membuat strategi upaya rehabilitasi ekosistem mangrove di Pantai Utara Kabupaten Subang dengan menggunakan analisis SWOT. Metode yang digunakan adalah metode garis berpetak (jalur berpetak) dengan satu buah jalur untuk tiap desa penelitian dengan ukuran 10 m x 60 m dengan arah tegak lurus tepi laut. Untuk mengetahui faktor penyebab kerusakan mangrove dilakukan dengan metode purposive sampling melalui wawancara. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan kriteria baku kerusakan mangrove Kepmen LH. No. 201 Tahun 2004, kondisi hutan mangrove di Pantai Utara Kabupaten Subang termasuk dalam kriteria rusak (sedang dan jarang). Faktor kerusakan disebabkan oleh alam dan manusia. Prioritas utama dalam memperbaiki kerusakan dan upaya rehabilitasi mangrove di Pantai Utara Kabupaten Subang adalah menjalin kerjasama yang sinergis antara pelaksanaan program pemerintah dengan keinginan masyarakat lokal melalui revitalisasi kawasan pesisir akibat abrasi dengan cara penanaman kembali pohon mangrove. Pola rehabilitasi yang digunakan untuk mangrove dalam kriteria rusak (sedang) menggunakan pola empang parit dan mangrove dalam kriteria rusak berat (jarang) menggunakan pola green belt
PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG DAUN TURI HASIL FERMENTASI DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH BAWAL AIR TAWAR (Colossomamacropomum Cuvier)
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Akuakultur Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Pelaksanaannya dimulai dari tanggal 4 Juni sampai 21 Juli 2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung daun turi hasil fermentasi terhadap pertumbuhan benih bawal air tawar (Colossoma macropomum Cuvier). Benih ikan yang digunakan adalah benih bawal air tawar dengan ukuran 4 – 5 cm, yang diperoleh dari salah satu kelompok pembudidaya bawal air tawar di Cianjur, Jawa Barat. Padat penebaran ikan pada penelitian ini adalah 1 ekor/2 L. Akuarium yang digunakan sebagai wadah pemeliharaan ikan berukuran 40x20x40 cm3 yang diiisi air sebanyak 20 L. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Pakan yang digunakan adalah pakan buatan yang ditambahkan tepung daun turi hasil fermentasi dengan persentase yang berbeda yaitu 0 %, 5 %, 10 %, 15 %, dan 20 %. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan tepung daun turi hasil fermentasi pada pakan buatan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan harian dan konversi pakan benih bawal air tawar. Nilai tertinggi diperoleh dari perlakuan penggunaan 10 % tepung daun turi hasil fermentasi dengan nilai masing-masing 3,18 % dan 1,18.
PENGARUH PADAT TEBAR TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP PERTUMBUHAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus Burch.) DI KOLAM KALI MENIR INDRAMAYU
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh padat tebar terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan lele dumbo (Clarias gariepinus Bur.) yang dipelihara di kolam Kali Menir Desa Kertawinangun, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu pada tanggal 23 Maret sampai 5 Mei 2012. Penelitian menggunakan Metode Eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan padat tebar dan tiga ulangan, yaitu padat tebar 50 ekor/m2, 75 ekor/m2, dan 100 ekor/m2. Benih ikan lele dumbo yang di gunakan dengan bobot awal 12-15 g, di budidayakan di kolam dengan ukuran 27m x 11m x 1,5m, selama 40 hari. Pakan yang diberikan berupa pelet dengan kadar protein 32 % dan frekuensi pemberian pakan sebanyak 2 kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padat tebar mempengaruhi kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan lele dumbo. Padat tebar 100 ekor/m2 memberikan kelangsungan hidup, pertumbuhan mutlak, dan laju pertumbuhan harian ikan lele dumbo yang tertinggi, masing-masing sebesar 94,73 %, 3,34 ton, dan 7,15 %. Kata Kunci : (Clarias gariepinus Bur.) ikan lele dumbo, kelangsungan hidup, Padat tebar , pertumbuha
ANALISIS BIOEKONOMI MODEL GORDON-SCHAEFER STUDI KASUS PEMANFAATAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DI PERAIRAN UMUM WADUK CIRATA KABUPATEN CIANJUR JAWA BARAT
Penelitian ini dilaksanakan di perairan umum Waduk Cirata Kabupaten Cianjur Jawa Barat pada bulan April 2012 sampai dengan Mei 2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat optimum pemanfaatan sumberdaya ikan nila di perairan umum Waduk Cirata menggunakan model bioekonomi Gordon-Schaefer melalui analisis perbandingan hasil produksi aktual dan optimal serta rente atau keuntungan sumberdaya perikanan ikan nila. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil tangkapan (haktual) ikan nila periode 2004-2011 sebesar 66.889,654 kg diperoleh dengan jumlah upaya (Eaktual) sebanyak 38.227,938 trip/tahun dan menghasilkan rente ekonomi (πaktual) Rp. 425.502.689. Jumlah tangkapan maksimum lestari (hMSY) sebesar 81.886,468 kg/tahun dengan upaya penangkapan maksimum (EMSY) sebesar 59.968 trip/tahun. Efisiensi terbesar diperoleh pada kondisi MEY, yaitu upaya (EMEY) sebanyak 42.440 trip/tahun dengan hMEY sebesar 74.890,4128 kg/tahun. Efisiensi terkecil diperoleh pada keseimbangan open access, yaitu dengan upaya sebesar 84.880 trip/tahun hanya menghasilkan hOA = 67.755,6152 kg. Keuntungan (π) optimum dari pemanfaatan sumber daya ikan nila di perairan Waduk Cirata diperoleh pada kondisi MEY yaitu sebesar Rp 479.765.455,94 sedangkan pada kondisi maksimum lestari (MSY) sebesar Rp 397.925.598,76. Kata kunci : Bioekonomi, Gordon-Schaefer, Maximum Economic Yield (MEY), Maximum Sustainable Yield (MSY), Nil