Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal
Not a member yet
275 research outputs found
Sort by
Uji Antagonisme Lentinus cladopus LC4 terhadap Ganoderma boninense Penyebab Penyakit Busuk Pangkal Batang Kelapa Sawit
The growth of oil palm can not be separated from disease attack. One of the diseases that attack is the Base Stem Rot disease caused by Ganoderma boninense. Efforts to control the pest and disease one of them by using Lentinus Cladopus LC4 biological controller so that the purpose of this study is to determine the potential of L.cladopus LC4 as biological controlling agent G. boninense. The method used is L. cladopus LC4 antagonism test against G. boninense. The results showed that L. cladopus LC4 had antagonistic potency against G. boninense pathogen, although the mechanism did not show any inhibition zone. Therefore, L.cladopus LC4 may be considered for the prevention and control of plant diseases in the field
Karakterisasi Molekuler Ikan Gurami Soang (Osphronemus gouramy Lac.) yang Mati pada Rentang Waktu Berbeda Menggunakan PCR-RFLP Gen Major Histocompatibility Complex Kelas II B
Gurami (Osphronemus gouramy Lac.) is a popular fish species among Indonesian people. Several Gurami strains have been cultivated by fish farmer, one of which is Gurami Soang. This strain is belived to have a faster growth rate compared to other strains. However, like other strains, the fingerling of Soang strain have also a low survival and suceptible to disease, especially that caused by Aeromonas hydrophila infection. It has been proved that seeds from a single spawning event show varibale disease resistance. The difference in resistance among individuals is suggested related to the difference in their genetic component. One of the genes responsible for resistance is Major Histocompatibility Complex (MHC) class II B gene. Variability in resistance can be analyzed by using PCR - RFLP technique. PCR-RFLP is a technique that can produce a specific DNA fragments by PCR, followed by cutting the PCR product using restriction enzymes to describe the presence or absence of restriction sites in DNA fragments. This research aims to determine genetic marker to differiantiate between resitant and irresistant individual of Gurami Soang infected by A. hydrophila which die at a different time priod based on PCR-RFLP MHC class IIB gene. The study used survey method with purposive random sampling. The Data of PCR-RFLP band patterns were analyzed descriptively. The result indicated that cutting of the MHC class II B gene using HinfI produce two RFLP bands with 300 bp and 100 bp length in all samples. Meanwhile, the MHC IIB gene was not cuted by PstI, HindIII, BamHI and EcoRI enzymes forall samples. These mean that MHC II gene in all individuals were monomorphic. Therefore,it can be concluded that there is no specific genetic marker to differentiate gurami soang individulas which was dying in different time periods
Ekspresi mRNA LMP2A Epstein-Barr Virus dari Biopsi Jaringan dalam Blok Parafin Berpotensi sebagai Biomarka dalam Diagnosis Karsinoma Nasofaring
Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor epitel yang terletak di nasofaring dan merupakan penyakit genetik multifaktor yang endemik. Penyebab utama KNF adalah infeksi oleh Virus Epstein-Barr (EBV). Keberadaan EBV pada penderita KNF dapat diketahui dengan ditemukannya DNA EBV dalam spesimen biopsi jaringan penderita KNF. Genom EBV dan ekspresi sebagian dari produk gen laten virus secara konsisten terdeteksi hampir di setiap sel dalam kanker ini, salah satunya adalah gen Latent Membrant Protein (LMP). Aktivitas mRNA EBV lebih mencerminkan patogenesis KNF yang sesungguhnya dari pada diagnosis serologi dan pengukuran DNA EBV di sirkulasi. Penelitian dilakukan di Laboratorium PA RSUD Margono Seokarjo, Purwokerto/Lab PA Fakultas Kedokteran dan laboratorium genetika/molekuler Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Analisis Ekspresi mRNA LMP2A EBV dengan teknik one step RT-PCR dan produk RT-PCR (amplikon cDNA) divisualisasi dengan elektroforesis gel agarosa 1%. Hasil ekspresi mRNA LMP2A EBV adalah 27,3% (6 dari 22 sampel). Kesimpulan, metode one step RT-PCR dapat digunakan untuk menganalisis ekspresi mRNA LMP2A EBV dari sampel biopsi jaringan KNF dalam blok paraffin dan hasil positivitas ekspresi mRNA LMP2A EBV sedang, sehingga berpotensi digunakan sebagai petanda biologi molekul diagnosis KNF
Pengaruh Antikoagulan dan Waktu Penyimpanan Terhadap Profil Hematologis Tikus (Rattus norvegicus Berkenhout, 1769) Galur Wistar
Darah merupakan komponen penting karena menunjukkan kondisi fisiologis individu. Oleh karena itu darah menjadi salah satu parameter pokok dalam penelitian praklinik/ biomedik. Hematologi merupakan ilmu yang mempelajari kondisi sel-sel darah perifer dalam kondisi normal maupun patologis. Parameter pemeriksaan hematologis yang rutin dilakukan antara lain profil eritrosit dan leukosit. Sampel darah yang diterima kadangkala tidak langsung diperiksa karena berbagai alasan. Untuk menjaga supaya kondisinya tidak rusak, maka sampel darah ditambah antikoagulan dan disimpan di dalam lemari pendingin selama beberapa jam hingga beberapa hari. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari profil eritrosit dan leukosit pada sampel darah tikus (Rattus norvegicus Berkenhout, 1769) Galur Wistar yang sehat/normal dengan antikoagulan EDTA atau Heparin dan variasi waktu penyimpanan (0, 6, 18, 24, dan 48 jam). Untuk pembahasan lebih lanjut, data dianalisis secara statistik berdasarkan ANOVA two-factor (P0,05). Disimpulkan bahwa pemeriksaan profil hematologis yang terbaik adalah menggunakan darah tanpa antikoagulan namun harus langsung dilakukan segera setelah sampel diperoleh (sebelum darah mengalami koagulasi). Apabila tidak memungkinkan, maka dapat digunakan EDTA atau Heparin, dan jenis antikoagulan harus dijelaskan dalam pelaporannya. Pemeriksaan darah dengan antikoagulan hendaknya juga tetap dilakukan segera setelah sampel diterima (tidak ditunda)
Deteksi Gen Laten Membrane Protein-1 Epstein-Barr Virus Pada Karsinoma Nasofaring
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gen LMP-1 EBV sebagai biomarka diagnosis KNF. Desain penelitian ini adalah studi cross-sectional dengan teknik consecutive sampling. Sampel adalah darah total pasien KNF WHO-3 yang dikumpulkan dari pasien yang belum menjalani terapi dari tahun 2014 pada Departemen Telinga Hidung Tenggorok - Kepala Leher, Rumah Sakit Prof. dr. Margono Soekarjo, Purwokerto. Total subyek penelitian adalah 22 orang untuk NPC WHO-3 pasien dengan informed consent. Sampel diisolasi dengan protokol kit Purelink® DNA / RNA (Invitrogen) untuk mendapatkan larutan DNA 100μL dan disimpan dalam waktu lama pada suhu -80 ° C. Teknik PCR konvensional dilakukan untuk mendeteksi gen LMP1 dengan mengamplifikaasi DNA gen EBV LMP1 yang menghasilkan amplikon DNA berukuran 142 bp. Analisis sensitivitas metode PCR dan hasil identifikasi gen LMP-1 menggunakan metode deskriptif dengan membandingkan hasil pendeteksian yang diperoleh pada penelitian dengan hasil penelitian terdahulu yang terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen LMP-1 EBV sebagai biomarka pada diagnosis KNF dapat dideteksi dengan menggunakan teknik PCR konvensional yang menghasilkan amplikon DNA berukuran 142 bp. Sensitivitas gen LMP1 adalah 77,27%, menunjukkan sensitivitas tinggi. Sensitivitas PCR konvensional dalam mendeteksi gen EBMP LMP-1 menunjukkan sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan penghapusan gen EBMP LMP-1 sebesar 30 bp dan LMP-2A EB
Distribusi Syzygium cumini (L) Skeels di Aceh Besar
The jamblang distribution has been studied in the southern part of Aceh Besara, which is in the South of Jhanto district, Northern Krueng Raya, Southern Masjid Raya and Ujung Pancu district. The aims ofthis study was to determine the distribution area of jamblang based on rainfall, soil type, and lands cover . The data were collectedby observation. Distribution data are presented in the form of map using ArcView 3.3 Software. The results of the analysis showed that the common jamblang was distributedin the rainfall region of 1500-2500 mm/year in dryland farming and the chromic luvisols, humic acricols, dystric fluvisols, dan rendzinas
Efektivitas Bacillus thuringiensis dalam Pengendalian Larva Nyamuk Anopheles sp.
Nyamuk Anopheles sp adalah vektor penyakit malaria. Pengendalian vektor penyakit malaria dapat dilakukan secara biologis yaitu dengan menggunakan Bacillus thuringiensis. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas konsentrasi Bacillus thuringiensis dalam pengendalian larva nyamuk Anopheles sp.Penelitian ini dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RAL Faktorial) yang terdiri atas dua faktor yaitu konsentrasi Bacillus thuringiensis dan stadia larva Anopheles dengan pengulangan tiga kali.Perlakuan yang dicobakan adalahkonsentrasi Bacillus thuringiensis (A) yang terdiri atas 5 taraf:A0: konsentrasi B.thuringiensis 0 CFU.mL-1, A1: konsentrasi B.thuringiensis 102 CFU.mL-1, A2: konsentrasi B.thuringiensis 104 CFU.mL-1, A3: konsentrasi B.thuringiensis 106CFU.mL-1, A4: konsentrasi B.thuringiensis 108CFU.mL-1. Perlakuan tahapan instar larva Anopheles sp. (B) adalah sebagai berikut:B1: stadia larva instar I, B2: stadia larva instar II, B3: stadia larva instar III, B4: stadia larva instar IVsehingga terdapat 60 satuan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi B. thuringiensis isolat CK dan IPB CC yang paling berpengaruh dalam pengendalian larva Anopheles sp adalah 108 CFU.mL-1 . Instar larva yang paling peka terhadap B. thuringiensis isolat IPB CC adalah instar I dan II sedangkan instar yang peka terhadap isolat CK adalah instar II, Perlakuan konsentrasi isolat B. thuringiensis dan tingkat instar larva yang paling baik dalam pengendalian larva Anopheles sp. adalah 108 CFU.mL-1, dan instar I dan II
Interaksi Makroalgae dan Lingkungan Perairan Teluk Carita Pandeglang
Makroalgae liar adalah flora perairan laut, tumbuh berada di paparan terumbu karang. termasuk dalam Chlorophyceae. Phaeophyceae dan Rhodophyceae, tumbuh Penelitian menggunakan metode transek quadrat pada October Tahun 20016. Setiap stasiun transek ditarik garis tegak lurus pantai. Hasil penelitian makroalgae di determinasi; kekayaan jenis, densitas dan interaksi makroalgae dengan temperatur, turbiditas, pH, salinitas serta oksigen terlarut. Makroalgae yang peroleh ada 18 jenis dengan nilai indeks keanekaragaman berada di Pantai Matahari Utara 0,219, Matahari Tengah 0,24 dan Matahari Selatan 0,213. Nilai indeks kemerataan tertinggi 0,240 berada di Matahari Tengah.Interaksi kekayaan dan kepadatan jenis berpengaruh dengan stasiun (Spearman rank rs = 0,521*; rs = 0,552* ) berada Matahari Tengah dan Matahari Utara. Intaraksi tertinggi makroalagae dengan faktor suhu (spearman rank rs = 0,687** ) sangat berpengaruh terhadap jenis Eucheuma spinosum
Biosorpsi Krom Total dalam Limbah Cair Batik dengan Biosorben yang Dikemas dalam Kantung Teh Celup
Krom dalam limbah cair batik dapat dikurangi dengan metode biosorpsi menggunakan biosorben yang murah, melimpah dan mudah didapat yaitu S. cinereum dan limbah baglog P. ostreotus. Kelemahan ukuran partikel yang kecil adalah sulit dipisahkan dari limbah ketika diaplikasikan, sehingga diperlukan sebuah bentuk atau kemasan biosorben yang memudahkan proses aplikasinya yaitu mengemas dalam kantung teh celup. Tujuan penelitian adalah mendapatkan perbandingan komposisi dan ukuran partikel yang optimum menyerap krom total pada limbah cair batik. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan rancangan petak terpisah. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis varian dengan tingkat kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan persentase adsorpsi tertinggi terdapat pada perbandingan 3:1 μm sebesar 62.69%. Biosorben yang dikemas dalam kantung teh celup efektif menurunkan krom pada limbah cair batik
Kandungan Senyawa Penangkal Sinar Ultra Violet dari Ekstrak Rumput Laut Eucheuma cottonii dan Turbinaria conoides
Rumput laut memiliki beberapa aplikasi ekonomi dalam berbagai jenis industri, salah satunya untuk industri kosmetik. Salah satu kosmetik yang banyak digunakan yaitu krim tabir surya. Efektivitas dari krim tabir surya biasanya dinyatakan dengan nilai SPF (sun protection factor). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan senyawa aktif dan nilai SPF pada ekstrak rumput laut Turbinaria conoides dan Eucheuma cottonii yang dapat digunakan sebagai bahan aktif pada sediaan krim tabir surya. Hasil pengujian menunjukkan rumput laut Turbinaria conoides mengandung golongan senyawa fenol hidrokuinon, flavonoid, triterpenoid, steroid, dan saponin. Rumput laut Eucheuma cottonii hanya ditemukan senyawa alkaloid. Nilai SPF tertinggi pada rumput laut Turbinaria conoides terdapat pada ekstrak metanol (SPF 16.7), sedangkan untuk rumput laut Eucheuma cottonii terdapat pada ekstrak etil asetat (SPF 8.8). Hasil tersebut memperlihatkan bahwa ekstrak dari rumput laut Turbinaria conoides dan Eucheuma cottonii memiliki potensi yang baik jika digunakan sebagai bahan aktif pada sediaan krim tabir surya.