Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal
Not a member yet
275 research outputs found
Sort by
Efek NAA dan BAP terhadap Pembentukan Tunas, Daun, dan Tinggi Tunas Stek Mikro Nepenthes ampullaria Jack.
This study aimed to know the interaction between NAA and BAP as well as to obtain the best combination of both treatments in promoting the growth of Nepenthes ampullariamicrocutting.An experiment arranged in a factorial Randomized Complete Block Design (RCBD) wasapplied. Stem segments were used as blocks, where block I was the first segment followed by the next two segments as block II and III respectively. Two factors, i.e. NAA concentrations (0, 5, 10, 15 µM) and BAP concentrations (0, 9, 18, 27 µM) were employed giving rise to 16 combination of treatments. Each treatment combination was replicated threetimes resulting in 48 experimental units. The parametersmeasured were date of shoot initiation, date of root initiation, shoot number, leaf number, root number, length of longest leafand shoot height. The results showed that interactionbetween NAA and BAP in promoting N. ampullariamicrocutting growth was observed. Combination between NAA of 0 µM and BAP of 18 µMwas found to be the best in promoting N. ampullariamicrocutting growth.Meanwhile, combination between NAA 0 µM and BAP 27 µM was recommended to promote shoot number of N. ampullaria
Stok Rumput Laut Alami di Perairan Teluk Prigi Trenggalek Jawa-Timur
Wild seaweed is natural source in term of seed supply on aquaculture activity. In recent years, seaweed is the important aquaculture comodity from Indonesian provinces. Observation on wild seaweed in Prigi Bay, conducted in may 2011. The aim of the observation was to find out the condition and to measure the density of seaweed in Prigi Bay-Trenggalek East Java waters. Observation was carried out through survey method. Five observation stations were made the distance within the station was 1000 m parallel with the beach line, then divided in 100 m to become 10 applying points on each stations. Quadrat transect in located perpendicular from the beach line to slope area, 1x1m² frame placed on each 10 meter by Saito and Watanabe. Species biodiversity, density and dominancy were measure from raw data obtained and using the computing formula according Michael, Kusmana, Soerianegara and Indrawan. Three species were found: Chlorophytaceae and Phaeophytaceae. The total of wild seaweeds in density of observation site was 239,53 g/m² and Padina australis has the highest density among other ie 82,01 g/m² and dominant value of the species was 30,23 g/m². Seaweed which have economic value in observation site was Caulerpa, Halimeda, Padina and Sargassum
Karakteristik Morfologi Mycobacterium tuberculosis yang Terpapar Obat Anti TB Isoniazid (INH) secara Morfologi
INH mempunyai peranan dalam menghambat sintesis asam mikolat yang merupakan komponen pembentuk dinding sel M. tuberculosis. Mengetahui pengaruh pemaparan obat INH terhadap karakteristik M. tuberculosis secara morfologi sel. Metode penelitian eksperimen dengan menggunakan Rancangan percobaan acak Lengkap dengan variasi waktu pemaparan 24 jam, 48 jam, 72 jam dan 96 jam pada konsentrasi INH 0,5 μg/ml dengan jumlah ulangan 6. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh pada masing-masing perlakuan INH 0,5 μg/ml terhadap karakteristik M. tuberculosis, pada pemaparan 24 jam diperoleh persentase pertumbuhan 18,25%, ukuran rerata sel 1,64 x 0,35 µm, persentase kerusakan sel 28,1%. Pada pemaparan 48 jam diperoleh persentase pertumbuhan sel 7,9%, ukuran rerata sel 1,64 x 0,36 µm, persentase kerusakan sel 41%, pada pemaparan 72 jam diperoleh persentase pertumbuhan sel 7,0%, ukuran rerata sel 1,64 x 0,32 µm, persentase kerusakan sel 53,4%, pada pemaparan 96 jam diperoleh persentase pertumbuhan sel 1,6%, ukuran rerata sel 1,61 x 0,29 µm, persentase kerusakan sel 57%. Perubahan morfologi sel yang terpapar INH 0,5 μg/ml pada permukaan sel terjadi kerutan dan penyusutan panjang sel setelah regenerasi, permukaan sel mulai kasar dan sedikit ada kerusakan, sel mengalami lisis dan sebagian sel berbentuk oval , sel mengalami perubahan bentuk menjadi kokus. karakteristik M. tuberculosis yang terpapar INH 0,5 µg/ml mengalami perubahan morfologi sel, menjadi lebih pendek dan perubahan bentuk dari batang menjadi kokus, namun perubahan morfologi ini tidak terjadi secara permanen pada generasi berikutnya.Kata kunci : M. tuberculosis, INH, Morfologi,
Serapan Fosfor dan Pertumbuhan Kedelai(Glycine max) pada Tanah Ultisol dengan Pemberian Asam Humat
Ultisol merupakan salah satu jenis tanah asam yang memiliki kelarutan Al, Fe, dan Mn tinggi, serta kandungan P dan Moyang rendah. KelarutanAl dan Fe yangtinggiakan menjerap fosfat, sehingga ketersediaan dan serapan P bagi tanaman menjadi rendah. Salah satu upaya untuk mengatasi ketidaktersediaan P pada tanah Ultisol yaitu dengan penambahan asam humat. Asam humat merupakan makromolekul polielektrolit yang memiliki gugus fungsional seperti -COOH, -OH fenolat, maupun -OH alkoholat,sehingga asam humat memiliki kemampuan untuk membentuk kompleks dengan ion logam. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh asam humat terhadap serapan P dan pertumbuhan tanaman kedelai (2) menentukan konsentrasi asam humat yang paling baikdalam meningkatkan serapan P dan pertumbuhan tanaman kedelai. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Pengelompokan didasarkan atas perbedaan intensitas cahaya yang ada di rumah kaca. Perlakuan berupa konsentrasi asam humat, dengan 5 konsentrasi yang berbeda yaitu 0 ppm, 400 ppm, 800 ppm, 1200 ppm dan 1600 ppm. Parameter yang diukur meliputi tinggi tanaman, luas daun, bobot basah, dan bobot kering, P tersedia serta P tanaman. Data yang diperoleh dianalisis menggunakananalisis ragam pada tingkat kepercayaan 95% dan 99%. Apabila hasil perlakuan berpengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa asam humat berpengaruh terhadap serapan P dan pertumbuhan kedelai pada tanah Ultisol. Asam humat 1200 ppm merupakan perlakuan paling baik dalam meningkatkan ketersediaan P, sehingga mampu meningkatkanpertumbuhan kedelai pada tanah Ultisol
Survei Nyamuk Culex spp. sebagai Vektor Filariasis di Desa Cisayong, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya
Filariasis limfatik merupakan penyakit disebabkan oleh cacing filaria Wuchereria brancofti, Brugia malayi, dan Brugia timori yang menyerang saluran dan kelenjar getah bening. Cx. quinquefasciatus merupakan vektor filariasis bancrofti di daerah urban. Kecamatan Cisayong endemis filariasis dengan Microfilaria rate >1%. Eliminasi filariasis di Indonesia ditetapkan dua pilar kegiatan yaitu pemberian obat massal pencegahan filariasis (POMP filariasis) di daerah endemis dan pengendalian vektor. Pengendalian vektor dan potensi vektor dalam penularan filariasis dapat diketahui melalui berbagai hal diantaranya dengan mengetahui spesies Culex, infection rate, parity rate dan kepadatan larva Culex.Tujuan penelitian yaitu mengetahui spesies nyamuk Culex, infection rate, parity rate, dan kepadatan larva nyamuk Culex. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei dengan teknik cluster sampling. Kelompok (Cluster) dalam penelitian ini yaitu RT berjumlah 39 RT yang ada di Desa Cisayong. Penangkapan sampel nyamuk dilakukan di 9 kelompok (RT) yang terpilih. Pengambilan sampel dilakukan pada malam hari pukul 18.00-00.00 WIB. Hasil penelitan menujukkan bahwa spesies Culex yang ditangkap di Desa Cisayog diantaranya Cx. quinquefasciatus, Cx. hutchinsoni , Cx. sitien , Cx. vishnui , Cx. pseudovishnui , Cx. tritaeniorhynchus dan Cx. gelidus, infection rate 0%, sementara itu, parity rate Cx. quinquefasciatus 66%, Cx. hutchinsoni 17%, Cx. sitien 68%, Cx. vishnui 55%, Cx. pseudovishnui 21%, Cx. tritaeniorhynchus 53%, dan Cx. gelidus 54%. Kepadatan larva Culex sp. yaitu 3,38/cidukan
Ekspresi mRNA BRLF1 Virus Epstein-Barr dari Biopsi Jaringan Tumor Formalin-Fixed Paraffin Embedeed sebagai Petanda Biologi Molekul Diagnosis Karsinoma Nasofaring
Nasopharyngeal carcinoma (NPC) is a malignant tumor that grows in the nasopharynx with a predilection in the fossa Rosenmuller. Epithelial malignancies are often found in populations of China and Southeast Asia, including Indonesia. The NPC incidence in year 2008 as many as 84,400 cases and 51,600 of these cases resulted in death. A total of 120 new cases per year NPC found in hospitals Prof. dr. Margono Soekarjo (RSMS), Purwokerto. The NPC is difficult to be diagnose caused its primary tumor lies closed to the skull base as well as various structures of vital organs. Therefore, methods that can detect early NPC required for inspection.The etiology of NPC is multifactorial consisting of genetic factors, factors of infection Epstein-Barr Virus (EBV) and environmental factors.EBV has two phases in the cycle of infection that is the phase of lytic and latent phase. BRLF1 has an important function as mediator transition from latent e NPC. The research aimed to analysis mRNA BRLF1 expression as a biomarker of NPC diagnosis by RT-PCR and to determine the positivity of RT-PCR method to detect the expression of mRNA BRLF1. The research design was cross sectional study. Samples were FFPE tumor biopsy of NPC WHO III and the total samples were 22 individu from Department of Pathology Anatomy, Prof. Dr. Margono SoekarjoHospital, Purwokerto with informed consent. The positivity of mRNA BRLF1 from FFPE tumor biopsy of NPC WHO III was in 63.6%indicating a high expression
Efek Ekstrak Daun Kembang Bulan (Tithonia diversifolia) terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus Wistar (Rattus norvegicus) yang Diinduksi Alloxan
Diabetes Mellitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai kenaikan kadar gula darah atau hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin atau kerja insulin. Alloxan menginduksi diabetes dengan merusak sel pankreas dan mengawali terjadinya hiperglikemia. Salah satu tumbuhan yang memiliki potensi obat dalam penurunan glukosa darah adalah daun Tithonia diversifolia yang mengandung senyawa flavonoid dan seskuiterpen. Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis efek ekstrak daun kembang bulan terhadap kadar glukosa darah tikus wistar; dan (2) menentukan pemberian ekstrak daun kembang bulan yang memiliki pengaruh efektif dalam penurunan kadar glukosa darah tikus wistar. Jenis penelitian ini adalah eksperimental yang sesungguhnya secara in vivo yang dilakukan di laboratorium. Rancangan yang digunakan adalah True Experimental-Post Test Only Control Group Design mengacu pada Sambrook & Russel. Sampel yang digunakan adalah tikus wistar sebanyak 25 ekor yang terbagi dalam 5 kelompok perlakuan dan 5 kali pengulangan yaitu P1 (kontrol negatif), P2 (kontrol positif), P3 (dosis 1,28 ml/200g BB), P4 (dosis2,57 ml/200g BB), dan P5 (dosis 5,14 ml/200g BB). Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah One-way ANOVA dilanjutkan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada efek ekstrak daun kembang bulan terhadap kadar glukosa darah tikus wistar. Hal ini menunjukkan bahwa daun kembang bulan memiliki efek antidiabetes atau berperan sebagai antihiperglikemik pada pemberian dosis sebesar 5,14 ml/200g BB dengan rata-rata 136,8 mg/dl.
Pengaruh Lama Inkubasi Soyghurt Menggunakan Inokulan dengan Penambahan Bifidobacterium sp. terhadap Daya Hambat Bacillus cereus
Bakteri asam laktat (BAL) yang digunakan dalam pembuatan soyghurt di antaranya Lactobacillus bulgaricus, Streptococcus thermophillus, dan Bifidobacterium sp. dengan suhu optimal pertumbuhan 36°-37°C dan lama inkubasi berkisar 1-2 hari. BAL diketahui mampu menghasilkan bakteriosin yang dapat menghambat bakteri patogen dalam saluran pencernaan salah satunya ialah Bacillus cereus. Tujuan penelitian ini ialah mengetahui perbandingan BAL pada soyghurt terhadap daya hambat B. cereus, mengetahui lama inkubasi soyghurt dengan penambahan Bifidobacterium sp terhadap pertumbuhan B. cereus, dan mengetahui pengaruh konsentrasi BAL dan lama inkubasi pada soyghurt terhadap pertumbuhan B. cereus. Hasil penelitian menunjukkan perbandingan BAL (L. bulgaricus : S. thermophillus : Bifidobacterium sp.) 1:1:1 (K1) pada soyghurt mampu menghambat B. cereus. Lama inkubasi soyghurt dengan penambahan Bifidobacterium sp. optimal pada 24 jam terhadap pertumbuhan B. cereus. Konsentrasi BAL dengan lama inkubasi pada soyghurt tidak mampu meningkatkan daya hambat pertumbuhan B.cereus
Perubahan Kadar Estradiol dan Histologi Uterus Mencit (Mus musculus) Betina dengan Induksi Progesteron Sintetik
The purpose of this research was to determine the effect of progesterone to estradiol levels and histology of uterus, to test the effect of estrous cycle to uterus histology of females’ mice after treated by progesterone in birth control pills. This research used Completely Randomized Design (CRD). Females Mus musculus Balb-C and synthetic progesterone (cyproterone acetate) contained in ‘Diane-35’ birth control pills were used in this study. The research consisted of two treatment groups, i.e. group K had no treatment and group P treated by a solution of Diane-35 at a dose of 2.6 mg per 5 mL distilled water. Results on the effects of progesterone on endometrial thickness suggested that there were significant differences between treatment groups. Meanwhile, the effect of progesterone on estradiol levels indicated that there were no significant differences among treatment groups. This means that the thickness of the endometrium was strongly influenced by the presence of a synthetic progesterone hormone and induced endometrium growth thicker. The levels of estradiol are not significantly different due to a negative feedback mechanism of Follicle Stimulating Hormone (estrogen effect) and Luteinizing Hormone (progesterone effect). The greatest thickness of endometrium of estrous cycle was treated by progesterone, which was 0.2500 mm2
Distribusi Phyllanthus emblica L. di Sumatera Utara Bagian Selatan
The Indian gooseberry (Phyllanthus emblica L.) distribution has been studied in the southern part of North Sumatera, which is in the South Labuhanbatu district, North Padanglawas, Padanglawas, SouthTapanuli, Padangsidempuan city and Mandailing Natal district. The aims ofthis study was to determine the distribution area of balakka based on rainfall, lands cover and soil type. The data were collectedby observation. Distribution data are presented in the form of map using ArcView 3.3 Software. The results of the analysis showed that the common balakka was distributed in the rainfall region of 2000 – 2500 mm/year in dryland farming and the humic acrisols soil