Jurnal Curvanomic
Not a member yet
    715 research outputs found

    PENGARUH KREATIVITAS DAN MOTIVASI TERHADAP MINAT MAHASISWA DALAM BERWIRAUSAHA (Studi pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Tanjungpura, Pontianak)

    No full text
    ABSTRAK             Skripsi ini berjudul “Pengaruh Kreativitas dan Motivasi Terhadap Minat Mahasiswa Dalam Berwirausaha (Studi Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Tanjungpura, Pontianak). Tujuan penelitian ini untuk menganalisis besarnya pengaruh kreativitas dan motivasi terhadap minat mahasiswa dalam berwirausaha. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Alat uji yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling. Berdasarkan rumus slovin jumlah sampel yang diperoleh adalah 56 dari populasi yang ada sebanyak 125 siswa Program Studi Ekonomi Pembangunan angkatan 2015. Kemudian dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas terhadap data yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkun bahwa, pertama kreativitas berpengaruh positif dan tetapi tidak signifikan terhadap minat mahasiswa dalam berwirausaha. Hal ini dibuktikan bahwa variable kreativitas dengan thitung sebesar 0,207 dengan tingkat signifikansi 0,837. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan Ha ditolak karena nilai thitung lebih kecil dari ttabel (0,207 ≤ 1,674) dan nilai signifikannya 0,837 ≥ 0,05. Kedua, tingkat motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat mahasiswa dalam berwirausaha. Hal ini dibuktikan dengan thitung pada variable motivasi adalah sebesar 4,974 dengan tingkat signifikansi 0,000. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa HO ditolak dan Ha diterima karena nilai thitung lebih besar dari ttabel yaitu (4,974 ≥ 1,674) dan nilai signifikansinya 0,000 ≤ 0,05.Kata Kunci : Kreativitas, Motivasi, Minat Berwirausaha.RINGKASAN SKRIPSI PENGARUH KREATIVITAS DAN MOTIVASI TERHADAP MINAT MAHASISWA DALAM BERWIRAUSAHA (Studi pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Tanjungpura, Pontianak) 1. Latar Belakang Kewirausahaan merupakan salah satu kunci untuk meningkatkan daya saing bangsa, baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Meningkatnya jumlah wirausahawan yang unggul dalam kualitas membuat perekonomian suatu bangsa semakin sejahtera dan kuat. Persoalan perekonomian yang dihadapi bangsa ini setiap tahunnya adalah meningkatnya jumlah kebutuhan akan pekerjaan, untuk dapat menyesuaikan diri terhadap adanya perubahan perekonomian yang drastis tersebut, pemerintah membentuk sebuah usaha yang kemudian kita kenal dengan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). (Astarani & Yosica, 2015). 2. Rumusan Masalah a. Apakah kreativitas berpengaruh signifikan terhadap minat berwirausaha mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prodi Ekonomi Pembangunan? b. Apakah motivasi berpengaruh signifikan terhadap minat berwirausaha mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prodi Ekonomi Pembangunan ? 3. Tujuan Penelitian a. Untuk menganasilis pengaruh kreativitas terhadap minat mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prodi Ekonomi Pembangunan dalam berwirausaha. b. Untuk menganalisis pengaruh motivasi terhadap minat mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prodi Ekonomi Pembangunan dalam berwirausaha. 4. Metode Penelitian a. Lokasi penelitian ini di Universitas Tanjungpura, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, khususnya pada jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan. b. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer merupakan data yang diperoleh dan didapatkan oleh peneliti secara langsung dari sumber datanya. c. Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah pendekatan ilmiah terhadap pengambilan keputusan ekonomi. Pendekatan ini berangkat dari data. 5. Hasil dan Pembahasan a. Hipotesis pertama yang diajukan menyatakan bahwa “Kreativitas” (X1) berwirausaha berpengaruh tidak signifikan terhadap “Minat” (Y) mahasiswa dalam berwirausaha. Dari hasil penelitian ini, berarti ada fenomena yang terjadi di kalangan mahasiswa yang menyebabkan kreativitas tidak berpengaruh signifikan terhadap minat berwirausaha mahasiswa b. Hipotesis kedua yang diajukan menyatakan bahwa “Motivasi” (X2) berpengaruh signifikan terhadap “Minat” (Y) dalam berwirausaha. Dengan ditemukannya hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi dan minat berwirausaha serta hasil kecenderungan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa semakin tinggi motivasi maka semakin tinggi pula minat mahasiswa dalam berwirausaha. Hal ini sesuai dengan kajian teori dan kerangka berpikir yang menyatakan bahwa motivasi mempunyai hungan dengan minat berwirausaha. 6. Kesimpulan dan Saran 1. Kesimpulan a. Kreativitas berpengaruh positive dan tidak signifikan terhadap minat mahasiswa dalam berwirausaha. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ada fenomena yang terjadi di kalangan mahasiswa yang menyebabkan kreativitas berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap minat berwirausaha mahasiswa. Mahasiswa memililiki pemikiran yang kreatif, tetapi kreativitas yang dimiliki mahasiswa tidak sesuai dengan permintaan pasar yang ada di FEB UNTAN. Hal ini dikarenakan tidak sesuainya penawaran terhadap permintaan. b. Motivasi berpengaruh signifikan dan positif terhadap minat mahasiswa dalam berwirausaha. Dengan ditemukannya hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi dan minat berwirausaha mahasiswa, maka dapat dikatakan bahwa semakin tinggi motivasi maka semakin tinggi pula minat mahasiswa dalam berwirausaha. Hal ini sesuai dengan kajian teori dan kerangka berpikir yang menyatakan bahwa motivasi mempunyai hungan dengan minat berwirausaha. 2. Saran a. Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa pengalaman berbisnis mahasiswa/responden masih cukup minim. Mahasiswa/responden membutuhkan sebuah program nyata tentang wirausaha untuk memacu motivasi dan kreativitas berwirausaha lebih lagi serta memiliki gambaran secara nyata tentang dunia bisnis yang sebenarnya. b. Perlunya diadakan sebuah event tahunan tentang wirausaha yang melibatkan para pelaku usaha, dimana didalamnya mahasiswa diberi kebebasan dalam berkreasi dan menuangkan ide mereka kedalam sebuah bisnis kecil agar mahasiswa memiliki gambaran yang lebih mendalam tentang dunia bisnis/wirausaha apabila kelak ingin menjadi seorang entrepreneur.DAFTAR PUSTAKA Deliarnov. (2005). Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Jakarta: PT – Raja Grafindo Persada.Ghozali, I. (2006). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbeit Universitas Diponegoro.………….. (2011). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 19. Semarang: Penerbit Universitas Diponegoro. ………….. (2013). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 23. Semarang: Penerbit Universitas Diponegoro.………….. (2013). Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program IBM SPSS 21 Update PLS Regresi. Semarang: Penerbit Universitas Diponegoro.………….. (2012). Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program IBM SPSS 20. Semarang: Penerbit Universitas Diponegoro.Gujarati & Damodar. (2007). Dasar Ekonometrika. Jakarta: Penerbit Erlangga.Kuncoro, M. (2011). Metode Kuantitatif. Yogyakarta: YKPN.Masrukhin. (2004). Statistik Inferensial Aplikasi Program SPSS. Kudus: Media Ilmu Press.Munandar, Utami. (2014). Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rhineka Cipta.Munandar, M. (2001). Budgeting.Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.Priyatno, D. (2010). Teknik Mudah dan Cepat Melakukan Analisis Data Penelitian dengan SPSS dan Tanya Jawab Ujian Pendadaran. Yogyakarta: Gaya Media.Priyatno, D. (2008). Teknik Mudah dan Cepat Melakukan Analisis Data Penelitian dengan SPSS dan Tanya Jawab Ujian Pendadaran. Yogyakarta: Gaya Media.Rivai. (2007). Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.Siregar, S. (2010). Statistika Deskiptif untuk Penelitian. Jakarta: Rajawali Pers.Sugiyono. (2014). Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.Sugiyono. (2008). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.Suryana (2006). Kewirausahaan, Jakarta: Salemba Empat.Sudjana. (2002). Metode Statistik. Bandung: Tarsito.Sarjono, H & Julianita, H. (2011). SPSS vs LISREL Sebuah Pengantar Aplikasi Untuk Riset. Jakarta: Salemba Empat.Slamet, S. (2002). Kumpulan Bahan Kuliah Mata Kuliah Organisasi dan Kepemimpinan. Bogor: Instutute Pertanian Bogor.Aidha Zuhrina. (2016). Pengaruh Motivasi Terhadap Minat Berwirausaha Mahasiswa Fakultas Kesehata Masyarakat Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Jurnal JUMANTIK, Vol.1, No.1, Nopember 2016.Astarani, J. Yosica. (2015). Persepsi Pemberi Modal Terhadap Kualitas Laporan Keuangan UMKM (Kota Pontianak). JAAKFE, Desember 2015, Hal 99-133.Budiati, Y. Yani, T. E., & Universari, N. (2012), Minat mahasiswa menjadi wirausaha (studi  mahasiswa fakultas ekonomi universitas semarang). J. Dinamika SOSBUD, Volume 14, No. 1, Juni 2012: 89-101. ISSN 1410-9859.Hapsah, R. & Savira, S. I. (2013). Hubungan Antara Self Efficacy Dan Kreativitas Dengan Minat  Berwirausaha. Jurnal Psikologi Teori & Terapan. 2015, Vol. 5, N0. 2, 81-90, ISSN : 2087-1708.Hastarini Dwi Atmanti. (2017). Kajian Teori Pemikiran Ekonomi Mazhab Klasik dan Relevansinya pada Perekonomian Indonesia. JEB 17, Jurnal Ekonomi  & Bisnis, Hal 511 – 524 Volume 2, Nomor 2, September 2017.Kadarsih, R. Susulaningsih. Sumaryati, S. (2013). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Berwirausaha Pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP UNS. Jupe UNS, Vol. 2, No. 1, Agustus 2013, Hal 95-106.Kusuma, A. I Gde, K, W. (2016). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Intensi Berwirausaha pada Mahasiswa S1 FEB UNUD. E-Jurnal Manajemen Unud, Vol. 5, No. 1, 2016 : 678-705. ISSN : 2302-8912.Mawarni, A. (2013). Faktor Penentu Minat Berwirausaha di Kalangan Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri: Studi Perbandingan Mahasiswa USU, UNIMED, dan IAIN. Jurnal Keuangan dan Bisnis, Volume 5, No. 1, halaman 15-29.Mopangga, H. (2014). Faktor Determinan Minat Wirausaha Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Gorontalo. Trikonomika, Volume 13, No. 1, Hal. 78-90. ISSN 1411-514X.Prasetro, P, E. (2008). Peran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Dalam Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan dan Pengangguran. Akmenika UPY, Volume 2.Rosmiati. Junias, D. & Munawar. (2015). Sikap, Motivasi, Dan Minat Berwirausaha Mahasiswa. JMK, Vol.17, No. 1, Maret 2015, 21-30. ISSN 1411-1438 print/ISSN 2338-8234 online.Respatiningsih, H. (2011). Manajemen Kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Jurnal Manajemen dan Bisnis, No. 1, Januari 2011 – SEGMEN.Sugiarto, M. Kusuma, H, I. Permana, T. (2015). Hubungan Antara Kreativitas Berwirausaha Dengan Minat Berwirausaha Perbengkelan Otomotof Siswa SMK. Jurnal of Mechanical Engineering Edication, Vol. 2, No. 2, Desember 2015, 226.Setiawan, D. (2016). Pengaruh Ekspektasi Pendapatan, Lingkungan, Keluarga, dan Pendidikan Kewirausahaan Terhadap Minat Berwirausaha. 2 Jurnal Profita Edisi 7 Tahun 2016.Sukidjo. (2005). Peran Kewirausahaan Dalam Mengatasi Pengangguran di Indonesia. Jurnal Economi, Volume 1, No. 1, Agustus. Slamet, F. Tanjungsari, K, H. Mei, L. (2014). Dasar-Dasar Kewirausahaan: Teori dan Praktik. Jakarta: PT. Indeks.Setyorini, D. (2018). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Intensi Berwirausaha Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta. Jurnal Pendidikan dan Ekonomi, Volume 7. No. 6.Utari, T. Dewi, M, P. (2014). Pengaruh Modal, Tingkat Pendidikan dan Teknologi Terhadap Pendapatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kawasan Imam Bonjol Denpasar Barat. E-Jurnal UNDIP, Volume 3, No. 12Badan Pusat Statistik. (2017). Kalimantan Barat dalam Angka 2017. Pontianak: BPS.Maskartini. (2017). Ada 108 Ribu UMKM di KalBar, Namun Masih Banyak yang tak Percaya Diri. http://pontianak.tribunnews.com/2017/02/26/ada-108-ribu-umkm-di-kalbar-namun-masih-banyak-yang-tak-percaya-diri

    PENGARUH PENDAPATAN, SUKU BUNGA DAN INFLASI TERHADAP TABUNGAN MASYARAKAT DI INDONESIA TAHUN 2013-2017

    No full text
    ABSTRACTHousehold saving is the amount that individual sets aside from their income to saved or according to economic theory saving is income that not consumed. Usually as higher as economic growth and more welfare a country were, it will affecting a higher level of household saving. Saving will affect the economic growth because the development of economic. Analysis Method that used in this research is multiple regression. The result of this research showing that household income or GDRP Per Capita have positive and significant effect on household saving in Indonesia, Interest Rate have negative and significant effect on household saving in Indonesia, and inflation have negative and significant effect on household saving in Indonesia.  Keywords    : Saving, GDRP per capita, Interest Rate and Inflation     ABSTRAKTabungan masyarakat merupakan jumlah yang disisihkan seorang individu dari pendapatannya untuk disimpan atau menurut teori ekonomi pendapatan yang tidak dikonsumsikan. Biasanya semakin tinggi pertumbuhan ekonomi dan semakin makmur suatu negara semakin tinggi pula tingkat tabungan masyarakat. tingkat tabungan menyebabkan pertumbuhan bertambah karena dapat memicu terjadinya pembangunan ekonomi. Variabel yang digunakan adalah pendapatan yang diukur melalui PDRB per kapita, suku bunga dan inflasi terhadap tabungan masyrakat. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa PDRB per kapita berpengaruh positif dan signifikan terhadap tabungan masyarakat di Indoneisa, tingkat suku bunga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tabungan masyarakat di Indonesia, sedangkan tingkat inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tabungan masyarakat di Indonesia.  Kata kunci    : Tabungan, PDRB per kapita, Suku Bunga dan Tingkat Inflasi   RINGKASAN SKRIPSIPENDAHULUAN Pembangunan ekonomi di Indonesia dilakukan dengan pesat dan membutuhkan dana yang besar. Pembiayaan pembangunan tersebut berasal dari berbagai sumber baik dari dalam negeri, maupun luar negeri. Dilihat dari konteks pertumbuhan ekonomi jangka panjang, suatu negara seharusnya mengoptimalkan pembiayaan pembangunan berasal dari dalam negeri. Dari berbagai sumber pembiayaan dalam negeri, tabungan domestik merupakan salah satu sumber penting bagi pembiayaan tersebut (Dragon, 2007).     Salah satu tantangan utama dalam pembangunan di Indonesia dewasa ini adalah menemukan sumber pembiayaan pembangunan yang efisien dan berkelanjutan (sustainable). Kebutuhan pendanaan untuk pembangunan infrastruktur selama 2015-2019 mencapai Rp5.519,4 Triliun, atau Rp1.103,9 Triliun per tahun. Pada tahun 2017, APBN hanya mampu mengalokasikan dana sebesar Rp194,3 Triliun. Jumlah yang mampu dialokasikan negara jauh lebih rendah dibandingkan kebutuhan infrastruktur. Pemerintah hanya mampu menyediakan 17,6 persen dari kebutuhan (Modjo, 2017).Bank Indonesia melaporkan adanya akselerasi pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pada Juli 2018 khususnya pada instrumen tabungan dan simpanan berjangka. DPK tercatat sebesar Rp5,209 Triliun dengan angka pertumbuhan mencapai 6,4 persen secara tahunan. Peningkatan pertumbuhan DPK ini terjadi karena adanya peningkatan suku bunga untuk jenis simpanan dan tenor tertentu. Selain itu, bank sentral juga melaporkan bahwa peningkatan pertumbuhan DPK karena adanya peningkatan proporsi pendapatan konsumen yang digunakan sebagai simpanan. Pertumbuhan tabungan tercatat sebesar 11,3 persen pada Juli 2018 yang mencapai Rp1,611 Triliun, lebih tinggi dibandingkan pada bulan Juni 2018 yang mencapai Rp1,609 Triliun. Adapun peningkatan jumlah tabungan perorangan tertinggi terjadi di DKI Jakarta dan Jawa Barat (Setiawan, 2018).     Meskipun pertumbuhan jumlah DPK meningkat per tahun, pemerintah berharap menerima sumbangan pembiayaan dari jumlah tabungan domestik sebesar 20 persen. Karena, pertumbuhan DPK yang hanya berkisar 5-6 persen masih jauh lebih rendah dari harapan, maka jumlah tabungan domestik belum cukup untuk mendanai kegiatan pembangunan. Otomatis pembangunan ekonomi tidak hanya bertumpu pada tabungan domestik dalam negeri saja. Indonesia masih memerlukan investor asing untuk memberikan dana demi kelancaran pembangunan ekonomi (Modjo, 2017).     Total tabungan dalam negeri adalah penjumlahan tabungan pemerintah dan tabungan masyarakat. Pemerintah memiliki tabungan pada saat adanya kelebihan realisasi pendapatan negara yang telah dikurangi berbagai macam bentuk pengeluaran rutin. Sedangkan tabungan masyarakat berupa kelebihan pendapatan seseorang individu atau swasta yang telah dikurangi pendapatan yang telah dikonsumsi (Darmawan, 2014). Budaya konsumsif akan berpengaruh terhadap tabungan masyarakat, karena tabungan merupakan pendapatan bersih setelah dikurangi konsumsi (Klasjok, Rotinsulu & Maramis, 2018). RUMUSAN MASALAH Bagaimana pengaruh pendapatan terhadap tabungan di Indonesia pada tahun 2013-2017?Bagaimana pengaruh suku bunga terhadap tabungan di Indonesia pada tahun 2013-2017?Bagaimana pengaruh inflasi terhadap tabungan di Indonesia pada tahun 2013-2017?TUJUAN PENELITIAN Untuk menguji dan menganalisis pengaruh pendapatan terhadap tabungan nasional pada tahun 2013-2017.Untuk menguji dan menganalisis pengaruh suku bunga terhadap tabungan nasional pada tahun 2013-2017.Untuk menguji dan menganalisis pengaruh inflasi terhadap tabungan nasional pada tahun 2013-2017.METODE PENELITIAN     Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yaitu penelitian yang menggunakan data-data numerikal (angka) yang diolah dengan metode statistika. Penelitian ini menggunakan data sekunder pada periode 2013-2017. Data yang digunakan bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) setiap provinsi di Indonesia dan Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia (SEKI) dari publikasi data bank sentral. Analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda data panel dengan model regresi random effect. Data diolah dengan menggunakan Eviews 9.5. Hasil dan PembahasanPendapatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap tabungan masyrakat. Ini diartikan bahwa pendapatan naik, maka tabungan asyarakat akan naik, begitupun sebaliknya, ceteris paribus.Variabel suku bunga yang merupakan salah satu faktor penentu tabungan masyarakat secara signifikan dan memiliki arah negatif mempengaruhi jumlah tabungan masyarakat. Pengaruh negatif ini berarti setiap penurunan suku bunga akan meningkatkan jumlah tabungan masyrakat. Dengan kata lain, suku bunga bukan lagi acuan atau alasan utama masyarakat untuk menabung, ceteris paribus.Variabel inflasi menunjukan pengaruh yang signifikan terhadap tabungan masyarakat dan memiliki arah hubungan yang negatif. Hal ini berarti jika adanya kenaikan inflasi akan mengurangi jumlah tabungan masyarakat, dan sebaliknya, penurunan inflasi akan meningkatkan tabungan masyarakat, ceteris paribus.  4.1  Analisis Regresi Berganda    Pengelolaan data regresi berganda dengan menggunakan model random effect dengan teknik cross section random effect dari tahun 2013-2017.Tabel 4.1Analisis Regresi BergandaVariableKoefisienProb.Konstanta (β0)5,9801510,0000Inc (PDRB Per Kapita)0,0727280,0012IR (Suku Bunga)-1,0143600,0000Inf (Inflasi)-0,8065870,0103Sumber : Hasil olahan E-views 9        Tabel 4.1 menunjukan dimana besarnya nilai konstanta persamaan regresi berganda dengan model random effect (cross section random effects) adalah sebesar 5,980151, kemudian nilai koefisien PDRB per kapita sebesar 0,072728 dan nilai koefisien pada suku bunga sebesar -1,014360 sedangkan nilai koefisien inflasi sebesar -0,806587. Dapat disimpulkan persamaan regresi sebagai berikut: Dari persamaan diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :Konstaanta (β0)Berdasarkan hasil regresi diperoleh nilai konstanta (β0)sebesar 5,980151. Nilai tersebut memiliki arti apabila PDRB per kapita, suku bunga dan inflasi tetap maka jumlah tabungan masyarakat di Indonesia akan meningkat dari tahun ke tahun sebesar 5,980151 persen.PDRB per Kapita (Incit)Berdasarkan hasil regresi diperoleh koefisien PDRB per kapita diperoleh nilai sebesar 0,072728. Nilai tersebut berarti apabila PDRB per kapita bertambah sebesar 1 persen maka jumlah tabungan masyrakat akan meningkat 0,072728 persen, ceteris paribus.Suku Bunga (IRit)Berdasarkan hasil regresi diperoleh nilai koefisien suku bunga sebesar -1,014360, dapat diartikan variabel suku bunga berpengaruh negatif terhadap tabungan masyarakat. Nilai koefisien menunjukkan bahwa apabila suku bunga mengalami kenaikan 1 persen, maka tabungan masyarakat akaberkurang/turun sebesar 1,014360 persen, ceteris paribus.Inflasi (Infit)Berdasarkan hasil regresi diperoleh nilai koefisien inflasi sebesar -0,806587, dapat diartikan variabel inflasi berpengaruh negatif terhadap tabungan masyarakat. Nilai koefisien menunjukkan bahwa apabila inflasi mengalami kenaikan 1 persen maka tabungan masyarakat akan berkurang/turun sebesar 0,806587 persen, ceteris paribus. PENUTUP Kesimpulan     Kesimpulan dari penelitian ini adalah PDRB berpengaruh positif dan signifikan terhadap tabungan masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan nilai koefisien sebesar 0,072728dan nilai probabilitas sebesar 0,0012 atau lebih kecil dari taraf signifikan 0,05. Suku bunga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tabungan masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan nilai koefisien sebesar -1,014360 dan nilai probabilitas sebesar 0,0000 atau lebih kecil dari taraf signifikan 0,05. Inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tabungan masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan nilai koefisien sebesar -0,806587 dan nilai probabilitas sebesar 0,0103 atau lebih kecil dari taraf signifikan 0,05. Rekomendasi dari penelitian ini adalah dalam peningkatan tabungan, pemerintah harus mengupayakan pendapatan tetap meningkat, dan inflasi tetap rendah serta menjalankan program unggulan untuk menekan jumlah penduduk Saran     Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, penulis memberikan saran kepada pihak pihak bersangkutan untung menjadi bahan pertimbangan serta masukan antara lain sebagai berikut.Bagi pihak perbankan, khususnya Bank Umum dan Bank BPR agar dapat lebih merencanakan kebijakan untuk meningkatkan jumlah tabungan masyarakat. salah satu faktor yang harus diperhatikan ialah bank harus lebih aktif dalam memperbanyak variasi produk baik fasilitas ataupun jasa yang ditawarkan untuk menarik nasabah yang diberikan dana untuk ditabung.Bagi pemerintah, agar terus berusaha membuat kebijakan yang dapat meningkatkan pendapatan yang dapat memberikan pengaruh terhadap kemampuan masyarakat menabung jika diikuti dengan upaya pemerintah dalam menekan jumlah penduduk, dan mengontrol inflasi agar selalu rendah, karena saat ini suku bunga bukan lagi menjadi motivasi masyarakat untuk menabung. DAFTAR PUSTAKAAfrizal. (2010) “Analisis Investasi Di Indonesia: Suatu Pendekatan Model Dinamik. Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Kewirausahaan”. Vol. 1 No 1. Universitas Tanjungpura.Badan Pusat Statistik (2008). Laju Pertumbuhan PDB/PDRB. Jakarta : Badan Pusat StatistikBank Indonesia. Direktori Perbankan Indonesia, Bank Pembangunan Daerah. Diakses dari https://www.bi.go.id/id/publikasi/dpi/bpd/Default.aspxBoediono (1985). Ekonomi Makro. Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No. 2 Edisi 4. Yogyakarta : BPFE YOGYAKARTA.Databoks Katadata.(2018). Data PDRB per kapita Indonesia. Diakses melalui https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/07/25/berapa-pdb-perkapita-indonesiaDragon, (2007) . Pembiayaan Pembangunan Ekonomi dari Investasi dan Tabungan. Diakses melalui Http://nasional.kompas.com/read/2017/05/27/15570021/tantangan.pembiayaan.pembangunan?pagelHidayat, A. (2012). Pengertian dan Penjelasan Penelitian Kuantitatif – Lengkap. Diakses dari https://www.statistikian.com/2012/10/penelitian-kuantitatif.html/ampGhozali , I.  (2013)  . Analisis Multivariat dan Ekonometrika : Teori, Konsep, dan Aplikasi dengan EVIEWS 8 . Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.Kasiang, Pricilia I. Dkk. (2018). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tabungan Masyarakat di Kecamatan Tahuna Barat Kabupaten Kepulauan Sangehe. Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Kasiang Pricilia I., dkk. (2018). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tabungan Masyarakat Di Kecamatan Tahuna Barat Kabupaten Kepulauan Sangihe. Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi, 114-123.Kasmir. (2008) . Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. PT Raja Grafindo Persada.Kasmir. (2014). Dasar Dasar Perbankan, Edisi Revisi. Jakarta : PT. Raja Grafindo Pesada.Kasmir. (2008). Manajemen Perbankan edisi revisi 2008. Jakarta : Rajawali PersKlasjok, K. (2018). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tabungan Masyarakat Pada Bank Umum di Papua Barat. Jurnal Berkala Ilmiah efisiensi, 58-67.Kuncoro, M. dan Suhardjono (2003). Manajemen perbankan : teori dan aplikasi. BPFE, yogyakarta.Kuncoro, M. (2011). Metode Kuantitatif: Teori dan Aplikasi Untuk Bisnis dan Ekonomi Edisi Keempat. Yogyakarta : UPP STIM YKPN.Lumempo, R. dkk. (2017). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tabungan Masyarakat Pada PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Tatelu. Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi, 36-43.Muchtolifah. (2007). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Jumlah Tabungan Masyarakat Pada Bank Umum Tahun 1991-2005.Rahmawati, N. (2013). Pengaruh Pendapatan Terhadap Tabungan Pada Masyarakat Nelayan Di Desa Kuala Secapah Kecamatan Mempawah Hilir.Rochmad, A. (2008). Teori Tabungan. Diakses melalui https://www.academia.edu/10367428/Teori_TabunganSimorangkir, O. P. (2000) Pengantar Lembaga Keuangan Bank dan Non Bank. Bogor : Ghalia IndonesiaSugiyono  (2001), Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Penerbit Alfabeta.Sukirno, S. (2004). Teori Pengantar Makro Ekonomi. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.Supranto,  J . (1983). Ekonometrika Buku Satu. Jakarta : Penerbit Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPFE-UI).Subagyo. (1999). Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Yogyakarta : Penerbit STIE-YKPN.Wibisono, Y. (2005). Metode Statistika , Yogyakarta : BPFE. UGM.Widarjono, A. (2006). Ekonometrika Untuk Analisis Ekonomi & Keuangan. Jakarta : UIWidodo. (2018). Metodologi Penelitian : Populer & Praktis. Depok : PT Raja Grafindo Persada.Waringin, (2017). Keadaan Pembangunan Ekonomi. Diakses melalui http://www.radarplanologi.com/2015/10/cara-menganalisis-kondisi-ekonomi wilayah.html

    PENGARUH DESENTRALISASI FISKAL TERHADAP TINGKAT KESEJAHTERAAN MASYARAKAT KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT TAHUN 2011 – 2017

    No full text
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak pelaksanaan desentralisasi fiskal terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat pada 14 kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat selama tujuh tahun periode pelaksanaan, yaitu dari tahun 2011 – 2017. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dengan periode observasi 2011 – 2017 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS). Variabel yang diteliti pengaruhnya terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat adalah desentralisasi fiskal yang diproksi kedalam desentralisasi pengeluaran dan desentralisasi pendapatan, serta indeks pembangunan manusia. Teknik metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda data panel dengan model regresi Fixed Effect. Data diolah menggunakan Eviews 8 dan SPSS 24. Hasil Analisis menyimpulkan bahwa desentralisasi pengeluaran berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat, desentralisasi pendapatan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat, serta indeks pembangunan manusia berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat di 14 kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat. Kata Kunci: Desentralisasi Fiskal, Desentralisasi Pendapatan, Desentralisasi Pengeluaran, Indeks Pembangunan Manusia, dan Kesejahteraan Masyarakat        RINGKASANPENGARUH DESENTRALISASI FISKAL TERHADAP TINGKAT KESEJAHTERAAN MASYARAKAT KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT TAHUN 2011 – 2017 Latar BelakangPelakasanaan desentralisasi fiskal bertujuan untuk meningkatkan kemandirian pemerintah daerah dalam mengelola daerahnya, baik itu kemandirian di bidang pengeluaran maupun di bidang pendapatan. Pada bidang pengeluaran, pemerintah daerah berupaya untuk menyediakan fasilitas dan pelayanan publik yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sedangkan di bidang pendapatan pemerintah daerah dituntut untuk bisa menggali sumber – sumber pendapatan yang ada di daerahnya sehingga akan mengurangi pendapatan masyarakat. Pada akhirnya kedua – duanya akan memiliki pengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. PermasalahanAdapun permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:Bagaimana hubungan antara desentralisasi pengeluaran terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat?Bagaimana hubungan antara desentralisasi pendapatan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat?Bagaimana hubungan antara indeks pembangunan manusia terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat? Tujuan PenelitianUntuk mengetahui hubungan desentralisasi pengeluaran terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat.Untuk mengetahui hubungan desentralisasi pendapatan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat.Untuk mengetahui hubungan indeks pembangunan manusia terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat. Metode PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menguji hubungan sebab akibat dalam bentuk analisis regresi berganda. Penelitian ini mengunakan data sekunder dengan jangka waktu observasi tujuh tahun (2011 – 2017). Sumber data yang digunakan diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat ataupun hasil publikasi dari instansi terkait. Analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda data panel dengan model regresi Fixed Effect. Pengolahan data menggunakan Eviews 8 dan SPSS 24. Hasil dan PembahasanDesentralisasi fiskal yang di proksi ke dalam desentralisasi pengeluaran dan desentralisasi pendapatan menunjukkan hasil bahwa desentralisasi pengeluaran berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat dengan koefisien 0,128069 dan nilai probabilitasnya sebesar 0,8722. Desentralisasi pendapatan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat dengan koefisien sebesar -0,000958 dan nilai probabilitasnya sebesar 0,0426 atau kurang dari taraf signifiknasi α = 5% (0,05). Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat dengan koefisien 0,130169 dan nilai probabilitasnya sebesar 0,0000. Desentralisasi pengeluaran, desentralisasi pendapatan, dan IPM secara bersama – sama berpengaruh signifikan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat dengan nilai F statistik 224,4021 dan Prob (F-statistic) 0,000000. Kesimpulan dan RekomendasiKesimpulanDesentralisasi pengeluaran yang diukur melalui rasio pengeluaran pemerintah daerah terhadap pengeluaran pemerintah pusat berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat.Desentralisasi pendapatan yang diukur dengan rasio pajak daerah terhadap pendapatan asli daerah berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat.Indeks pembangunan manusia berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat.Model Fixed Effect merupakan model yang tepat dalam mengestimasi pengaruh desentralisasi fiskal terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat.RekomendasiSkenario 1 ada kenaikan pengeluaran pemerintah daerah sebesar 10%, dibiayai 5% dari kenaikan transfer pemerintah pusat dan 5% dari kenaikan penerimaan pajak daerah, ceteris paribus. Jika skenario ini dilaksanakan maka tingkat kesejahteraan masyarakat kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat dapat ditingkatkan  sebesar 0,0135%.Skenario 2 ada kenaikan pengeluaran pemerintah daerah sebesar 10% dan dibiayai sepenuhnya oleh kenaikan pajak daerah, ceteris paribus. Jika skenario ini diterapkan maka tingkat kesejahteraan masyarakat kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat dapat ditingkatkan sebesar 0,0129%.Berdasarkan hasil dari kedua skenario tersebut, maka hal yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat adalah dengan berupaya meningkatkan pengeluaran yang sifatnya pada penyediaan fasilitas publik. Sedangkan untuk kebijakan desentralisasi pendapatan yaitu dengan meningkatkan besaran pungutan pajak, akan tetapi untuk mengetahui berapa persen peningkatan besaran pungutan pajak yang harus diambil oleh pemerintah daerah perlu dilakukan kajian lebih lanjut. DAFTAR PUSTAKA Arham, M. A. (2014). Kebijakan Desentralisasi Fiskal, Pergeseran Sektoral, dan Ketimpangan Antar kabupaten/Kota di Sulawesi Tengah. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia, 14(2), 1–22.Arsyad, L. (1987). EKONOMI MIKRO: Ikhtisar Teori & Soal Jawab (Kedua). Yogyakarta:BPFE.Basri, I. A. (2005). Islam dan Pembangunan ekonomi. Jakarta: Gema Insani Press.Badan Pusat Statistik Jakarta Pusat. (2012). Statistik Indonesia 2012. Jakarta Pusat: Badan Pusat StatistikBadan Pusat Statistik Jakarta Pusat. (2013). Statistik Indonesia 2013. Jakarta Pusat: Badan Pusat StatistikBadan Pusat Statistik Jakarta Pusat. (2014). Statistik Indonesia 2014. Jakarta Pusat: Badan Pusat StatistikBadan Pusat Statistik Jakarta Pusat. (2015). Statistik Indonesia 2015. Jakarta Pusat: Badan Pusat StatistikBadan Pusat Statistik Jakarta Pusat. (2016). Statistik Indonesia 2016. Jakarta Pusat: Badan Pusat StatistikBadan Pusat Statistik Jakarta Pusat. (2017). Statistik Indonesia 2017. Jakarta Pusat: Badan Pusat StatistikBadan Pusat Statistik Jakarta Pusat. (2018). Statistik Indonesia 2018. Jakarta Pusat: Badan Pusat StatistikBadan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat. (2012). Provinsi Kalimantan Barat dalam Angka Tahun 2012. Pontianak: BPS Provinsi Kalimantan BaratBadan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat. (2013). Provinsi Kalimantan Barat dalam Angka Tahun 2013. Pontianak: BPS Provinsi Kalimantan BaratBadan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat. (2014). Provinsi Kalimantan Barat dalam Angka Tahun 2014. Pontianak: BPS Provinsi Kalimantan BaratBadan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat. (2015). Provinsi Kalimantan Barat dalam Angka Tahun 2015. Pontianak: BPS Provinsi Kalimantan BaratBadan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat. (2016). Provinsi Kalimantan Barat dalam Angka Tahun 2016. Pontianak: BPS Provinsi Kalimantan BaratBadan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat. (2018). Provinsi Kalimantan Barat dalam Angka Tahun 2018. Pontianak: BPS Provinsi Kalimantan BaratBadan Pusat Statistik Kabupaten Sambas. (2017). Kabupaten Sambas Dalam Angka 2017. Sambas: BPS Kabupaten SambasBadan Pusat Statistik Kabupaten Bengkayang. (2017). Kabupaten Bengkayang Dalam Angka 2017. Bengkayang: BPS Kabupaten BengkayangBadan Pusat Statistik Kabupaten Landak. (2017). Kabupaten Landak Dalam Angka 2017. Landak: BPS Kabupaten LandakBadan Pusat Statistik Kabupaten Mempawah. (2017). Kabupaten Mempawah Dalam Angka 2017. Mempawah: BPS Kabupaten MempawahBadan Pusat Statistik Kabupaten Sanggau. (2017). Kabupaten Sanggau Dalam Angka 2017. Sanggau: BPS Kabupaten SanggauBadan Pusat Statistik Kabupaten Ketapang. (2017). Kabupaten Ketapang Dalam Angka 2017. Ketapang: BPS Kabupaten KetapangBadan Pusat Statistik Kabupaten Sintang. (2017). Kabupaten Sintang Dalam Angka 2017. Sintang: BPS Kabupaten SintangBadan Pusat Statistik Kabupaten Kapuas Hulu. (2017). Kabupaten Kapuas Hulu Dalam Angka 2017. Kapuas Hulu: BPS Kabupaten Kapuas HuluBadan Pusat Statistik Kabupaten Sekadau. (2017). Kabupaten Sekadau Dalam Angka 2017. Sekadau: BPS Kabupaten SekadauBadan Pusat Statistik Kabupaten Melawi. (2017). Kabupaten Melawi Dalam Angka 2017. Melawi: BPS Kabupaten MelawiBadan Pusat Statistik Kabupaten Kayong Utara. (2017). Kabupaten Kayong Utara Dalam Angka 2017. Kayong Utara: BPS Kabupaten Kayong UtaraBadan Pusat Statistik Kabupaten Kubu Raya. (2017). Kabupaten Kubu Raya Dalam Angka 2017. Kubu Raya: BPS Kabupaten Kubu RayaBadan Pusat Statistik Kota Pontianak. (2017). Kota Pontianak Dalam Angka 2017. Pontianak: BPS Kota PontianakBadan Pusat Statistik Kota Singkawang (2017). Kota Singkawang Dalam Angka 2017. Singkawang: BPS Kota SingkawangDavoodi, & Zao, H. (1998). Fiscal decentralization and economic growth: a cross-country study. Journal of Urban Economics, 43, 244–257.Dewi, P. A. K., & Sutrisna, I. K. (2014). Pengaruh Kemandirian Keuangan Daerah dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Bali. E-Jurnal Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana, 4(1), 32–40.Due, J. M., Adelman, I., & Morris, C. T. (1975). Economic Growth and Social Equity in Developing Economies. ASA Review of Books, 1, 115. https://doi.org/10.2307/532535Dumairy. (1996). PEREKONOMIAN INDONESIA. Jakarta: Erlangga.Ebel, R. D., & Yilmaz, S. (2002). Concept of Fiscal Decentralization and World Wide Overview. World Bank Institute. Diambil dari http://www.worldbank.orgFerdinand, A. (2006). Metode Penelitian Manajemen. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.Firdaus, M. (2011). Ekonometrika Suatu Pendekatan Aplikatif (Kedua). Jakarta: PT Bumi Aksara.Gujarati, D. N. (2006). Dasar-Dasar Ekonometrika (Ketiga). Jakarta: Erlangga.Kusuma, H. (2016). Desentralisasi Fiskal dan Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia. Jurnal Ekonomi Kuantitatif Terapan, 9(1), 1–11.Mangkoesoebroto, G. (2013). Ekonomi Publik (Ketiga). Yogyakarta: BPFE.Martinez-Vazquez, J., & McNab, R. M. (2001). Fiscal Decentralization and Economic Growth. SSRN Electronic Journal. https://doi.org/10.2139/ssrn.259281Nachrowi, N. D., & Usman, H. (2008). Penggunaan teknik Ekonometrika. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.Nguyen, L. P., & Anwar, S. (2011). Fiscal decentralisation and economic growth in Vietnam. Journal of the Asia Pacific Economy, 16(1), 3–14. https://doi.org/10.1080/13547860.2011.539397Nurman, M. A. (2013). Pengaruh Desentralisasi Fiskal terhadap Disparitas Pendapatan Regional di Indonesia Tahun 2001-2008. Jurnal Organisasi Dan Manajemen, 9(1), 1–20.Oates, W. E. (1999). An Essay on Fiscal Federalism. Journal of Economic Literature, 37(3), 1120–1149. https://doi.org/10.1257/jel.37.3.1120Prawirosetoto, F. X. Y. (2002). Desentralisasi Fiskal di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 2(2), 132–143.Prud’homme, R. (1995). THE DANGERS OF DECENTRALIZATION. The World Bank Research Observer, 10(2), 201–220. https://doi.org/10.1093/wbro/10.2.201Pujiati, A. (2008). Analisis Pertumbuhan Ekonomi di Karesidenan Semarang Era Desentralisasi Fiskal. Economic Journal of Emerging Markets, 13(2), 61–70.Putri,T.(2018). Fasilitas Sudah Lengkap, 2 Puskesmas di Kabupaten Kapuas Hulu Masih Belum dialiri Listrik. Diambil dari http://www.google.com/amp/s/lifestyle.okezone.com/amp/2018/11/30/481/1984923/fasilitas-sudah-lengkap-2-puskesmas-di-kabupaten-kapuas-hulu-masih-belum-dialiri-listrik. Pada 14 Mei 2019Sabilla, K., & Jaya, W. K. (2014). Pengaruh Desentralisasi Fiskal terhadap Pertumbuhan Ekonomi Per Kapita Regional di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan, 15(1), 12–22.Salvatore, D. (2008). MIKROEKONOMI (Keempat). Jakarta: Erlangga.Saputra, B., & Mahmudi, M. (2012). Pengaruh Desentralisasi Fiskal terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan  Masyarakat. Jurnal Akuntansi & Auditing Indonesia, 16(2), 185–199.Sasana, H. (2009). Peran Desentralisasi Fiskal terhadap Kinerja Ekonomi di Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 10(1), 103–124.Setiawan, M. B., & Hakim, A. (2013). Indeks Pembangunan Manusia Indonesia. Jurnal Economia, 9(1), 18–26.Simanjuntak, R. A. (2010). Desentralisasi Fiskal dan Manajemen Makroekonomi: Urgensi Suatu Grand Design di Indonesia. Prisma, 29(3), 35–57.Sitaniapessy, H. A. P. (2013). Pengaruh Pengeluaran Pemerintah terhadap PDRB dan PAD. Jurnal Economia, 9(1), 38–51.Soeratno, & Arsyad, L. (2003). Metodelogi Penelitian untuk Ekonomi dan Bisnis. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.Sukirno, S. (2014). MIKROEKONOMI: Teori Pengantar (Ketiga). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.Sulistiawati, R. (2012). Pengaruh Upah Minimum terhadap Penyerapan Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Masyarakat di Provinsi di Indonesia. Jurnal EKSOS, 8(3), 195–211.Suliswanto, M. S. W. (2010). Pengaruh Produk Domestik Bruto (PDB) dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terhadap angka kemiskinan di Indonesia. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 8(2), 357–366.Supriyadi, S., Delis, A., & Rahmadi, S. (2013). Analisis Desentralisasi Fiskal di Kabupaten Bungo. Jurnal Perspektif Pembiayaan dan Pembangunan Daerah, 1(1), 1–10.Susanto, A. A., & Halim, A. (2017). Efek Ratchet pada Anggaran Pemerintah Daerah: Studi pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yoyakarta. Jurnal Akuntansi & Akuntabilitas Publik, 1(1), 88–96.Todaro, M. P., & Smith, S. C. (2013). Pembangunan Ekonomi (Kesebelas). Jakarta: Erlangga.UNDP. (1994). Human Development Report. New York: Oxford University Press.UNDP. (2005). Fiscal Decentralisation and Poverty Reduction. UNDP Primer. Diambil dari: http://www.undpaciac.org/publications/other/undp/decentralization/fisc-decent-pov-reduc-05e.pdfWibowo, P. (2008). Mencermati Dampak Desentralisasi Fiskal terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah. Jurnal Keuangan Publik, 5(1), 55–83.Zhang, T., & Zou, H. (1998). Fiscal decentralization, public spending, and economic growth in China. Journal of Public Economics, 67, 221–240.

    jurnal new

    No full text
    Pengaruh Non Performing Financing (NPF) dan Financing to Deposit Ratio (FDR) Terhadap Pembiayaan Mudharabah Pada Bank Umum Syariah di Indonesi

    LOCATION QUONTIENT DAN SHIFT SHARE SEKTOR PERTANIAN REGIONAL KABUPATEN BENGKAYANG

    No full text
    ABSTRAKLOCATION QUONTIENT DAN SHIFT SHARE SEKTOR PERTANIAN REGIONAL KABUPATEN BENGKAYANG Lauriansu Noli Simpe (B01111104)Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi PembangunanUniversitas TanjungpuraEmail: [email protected] ini dilatar belakangi rendahnya tingkat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bengkayang ditengah kekayaan sumber daya alam yang cukup melimpah. Penelitian ini adalah betujuan untuk menentukan dan menganalisis sub sektor unggulan atau sub sektor basis yang ada di Kabupaten Bengkayang. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian, kehutanan dan perikanan Kabupaten Bengkayang dan Provinsi Kalimantan Barat tahun 2011-2015. Untuk melihat sub sektor yang kompetitif digunakan data tahun 2011-2015 dengan model analisis Location Quontient (LQ) dan Shift Share.Hasil analisis Shift Share menunjukkan sub sektor tanaman perkebunan adalah sub sektor yang kompetitif. Sedangkan sub sektor tanaman pangan, sub sektor tanaman perkebunan, sub sektor jasa pertanian dan pemburuan, dan sub sektor perikanan adalah sub sektor basis Kabupaten Bengkayang.Jadi berdasarkan hasil analisis LQ dan Shift Share yang di gunakan dalam penelitian ini, maka kesimpulannya adalah sub sektor yang menjadi sub sektor unggulan atau sub sektor basis adalah sub sektor basis yang kompetititf atau memiliki daya saing yang tinggi yaitu sub sektor tanaman perkebunan.Kata kunci: Sub Sektor Unggulan, Sub sektor Basis, Location Quontient dan Shift ShareDAFTAR PUSTAKAAkrom. 2010. Analisis Sruktur Perekonomian Berdasarkan Pendekatan Shift-Share di Provinsi Jawa Tengah Periode Tahun 2003-2008. Universitas Diponegoro, Semarang.Arifin, B. 2001. Spektrum Kebijakan Pertanian Indonesia, Telaah, Struktur, Kasus, dan  Alternatif Strategi. Jakarta: Erlangga.Arsyad, L. 1999. Pengantar Perencanaandan Pembangunan Ekonomi Daerah. Yogyakarta: BPEE..Badan Pusat Statistik. 2015. Kalimatan Barat Dalam Angka Tahun 2011-2014. Pontianak: BPS.Badan Pusat Statistik. 2017. Kalimatan Barat Dalam Angka Tahun 2012-2016. Pontianak: BPS.Badan Pusat Statistik. 2015. Kabupaten Bengkayang Dalam Angka Tahun 2011-2014. Pontianak: BPS.Badan Pusat Statistik. 2017. Kabupaten Bengkayang Dalam Angka Tahun 2012-2016. Pontianak: BPS.Daniel, M. 2004. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: Bumi Aksara.Djojodipuro, M. 1992. Teori Lokasi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas IndonesiaDumary. 2005. Perekonomian Indonesia. Jakarta: Erlangga.Fafurida. 2009. PenelitianTerdahulu. Perencanaan Pengembangan Sektor Pertanian Sub Sektor Tanaman Pangan di Kabupaten Kulonprogo. Hadipermana, O. 2000. PembaharuanKebijakan Pelatihan Perkoperasian Menyonsong Era Otonomi Daerah, dalam Jurnal Koperasi Indonesia. Bandung: IMKI.Kuncoro, M. 2011. Metode Kuantitatif: Teori dan Aplikasi Untuk Basis dan Ekonomi. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.Mubyarto. 2000. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta:LP3ES.Setiawan, P,I. 2012. PenelitianTerdahulu. Analisis Kontribusi Sektor Pertanian di Kabupaten Sanggau.Sukirno, S. 2006. Mikro Ekonomi Teori Pengantar. Edisi Ketiga. Jakarta: Rajagrafindo.Sukirno, S. 2006. Ekonomi Pembangunan (Proses, Masalah, danDasarKebijaksanaan). Jakarta: Fakultas Ekonomi UI.Suratman, E dan Wahyudi. 2009. Teknik Analisis Perencanaan Pembangunan, Cetakan 1. Pontianak: Untan Press.Tarigan, R. 2005. Perencanaan Pembangunan Wilayah. Jakarta: Bumi Aksara.Tarigan, R. 2006. Ekonomi Regional. Jakarta. Bumi AksaraTodaro, M, P. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga . Jakarta: Erlangga.Wali I. M. 2009. Penelitian Terdahulu. An Anlysis of The Industrial Development of Malaysia.Widodo, T. 2006. Perencanaan Pembangunan: Aplikasi Komputer. Yogyakarta: UPP STIM YKP

    PENGARUH INVESTASI DAN TENAGA KERJA SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI KALIMANTAN BARAT

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pengaruh investasi dan tenaga kerja sektor pertanian terhadap Pertumbuhan Ekonomi pada tahun 2000 – 2015. Penelitian ini menggunakan data time series  tahun 2000 -2015  yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Satu Pintu (BPMPTSP) menggunakan analisis segresi “Ordinary Least Square” (OLS) , penulis menggunakan regresi berganda dengan menggunakan Eviews 8.            Hasil dari penelitian ini adalah investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pertumbuan ekonomi menunjukan hasil koefisien sebesar 0,548950, nilai t statistic sebesar 3,900597 dengan nilai probabilitas sebesar 0,0002, sedangkan tenaga kerja sektor pertanian berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Pertumbuan Ekonomi menunjukan hasil koefisien sebesar -1,178877, nilai t statistik sebesar -0,965303 dengan nilai probabilitas sebesar 0,3382 yang mana lebih besar dari taraf signifikan yang digunakan (α=0,05).Kata Kunci : Investasi, Tenaga Kerja Sektor Pertanian, Pertumbuhan Ekonom

    ANALISIS BIAYA PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN PENDAPATAN PETANI JAGUNG DI KECAMATAN RASAU JAYA KABUPATEN KUBU RAYA

    No full text
    ABSTRAKKecamatan Rasau Jaya adalah salah satu daerah yang memiliki produktivitas yang cukup tinggi dalam produksi jagung di Kabupaten Kubu Raya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar biaya produksi rata-rata, besarnya produktivitas rata-rata, serta pendapatan petani komoditi jagung di Kecamatan Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Sumber data yang diperoleh dari hasil pembagian kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukkan keuntungan yang didapat petani tergantung kepada jumlah produksi yang dihasilkan. Masih banyak petani yang pendapatannya masih rendah bahkan ada yang merugi dikarenakan biaya produksi lebih besar dari hasil yang diperoleh, hal itu disebabkan dari keterbatasan lahan, kurangnya perhatian terhadap usahatani jagung, serta mahalnya biaya untuk perawatan tanaman jagung tersebut.Kata Kunci : Usahatani Jagung, biaya produksi, produktivitas, pendapata

    EVALUASI DANA DESA DAN DAMPAKNYA TERHADAP PEMBANGUNAN DI DESA TELUK PAKEDAI SATU KECAMATAN TELUK PAKEDAI KABUPATEN KUBU RAYA

    No full text
    ABSTRAKIndri ParsalihinPenyaluran anggaran dana yang begitu besar diterima tetapi tidak didukung oleh SDM yang kurang berkompeten. Tujuan penelitian ini untuk (1) Membahas penggunaan Dana Desa, (2) Menginvestigasi pembangunan yang bersumber dari Dana Desa dibidang pertanian, (3) Membahas pengetahuan dan partisipasi, serta tata kelola dan dampak dari kebijakan Dana Desa.Penelitian ini adalah untuk mengevaluasi anggaran Dana Desa yang berlokasi di Desa Teluk Pakedai Satu Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya, yang dimulai dari sudut pandang aparat desa, tokoh masyarakat dan masyarakat, juga disertakan dilihat dari aspek penggunaan,tata kelola, dampak dan secara khusus membahas dalam bidang pertanian. Penelitian ini menggunakan jenis data primer yang terdiri dari wawancara, observasi dan kuesioner dan data skunder yakni melalui dokumen. Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis persentase dan disajikan dalam bentuk tabel dengan menggunakan skala likert.Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa anggaran Dana Desa pada tahun 2016-2017 yang diterima oleh pemerintah desa Teluk Pakedai Satu, telah mampu diserap dengan mendistribusikan beberapa sektor yang ada termasuk dalam sektor pertanian. Kemudian dalam pengetahuan dan partisipasi, tata kelola kebijakan serta dampak dari adanya anggaran Dana Desa, telah memberikan pengaruh dan perubahan yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat Desa Teluk Pakedai Satu.Kata Kunci: Pengetahuan dan Partisipasi Masyarakat, Tata Kelola, Dampak Pembangunan

    ANALISIS POTENSI SUB SEKTOR PADA SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN KETAPANG TAHUN 2012 – 2016

    No full text
    ABSTRAK Untuk mencapai hasil yang baik dalam pembangunan ekonomi yang diharapkan, perlu diangkat sektor-sektor yang menjadi andalan suatu daerah. Sektor yang dimaksud selain mampu untuk dikembangkan juga harus dapat memberikan dampak terhadap perkembangan sektor lainnya secara bersamaan dengan meningkatkan pendapatan masyarakat serta dapat menjadi penyalur pendapatan daerah melalui kegiatan-kegiatan ekspor. Tujuan daripada penelitian ini adalah untuk menganalisis sub sektor pertanian manakah yang berpotensi atau unggul untuk dikembangkan sebagai penunjang perekonomian di Kabupaten Ketapang. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa data Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan, Kontribusi dan Laju Pertumbuhan sub sektor Pertanian. Metodelogi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis LQ, MRP (Modal Ratio Pertumbuhan), Overlay dan Tipologi Klassen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan sub sektor Pertanian, peternakan, perburuan dan jasa pertanian, sub sektor Kehutanan dan penebangan kayu dan sub sektor Perikanan di Kabupaten Ketapang tahun 2012-2016 merupakan sub sektor yang masuk ke dalam klasifikasi sub sektor maju namun tertekan dan memiliki nilai LQ diatas satu yang artinya ketiga sub sektor tersebut adalah sub sektor basis. Jika dilihat dari analisis model ratio pertumbuhan (MRP) sub sektor Pertanian, peternakan, perburuan dan jasa pertanian, sub sektor Kehutanan dan penebangan kayu, sub sektor Perikanan bernotasi negatif, artinya kriteria pertumbuhan perekonomian pada Sektor pertanian Kabupaten Ketapang relatif rendah.Kata Kunci: PDRB, Sektor Potensial, dan Pembangunan ekonomi daeraDAFTAR PUSTAKAAdisasmita, Rahardjo. 2013. Teori-teori Pembangunan Ekonomi. Yogyakarta: Graha Ilmu.Adisasmita H R. 2005. Dasar-Dasar Ekonomi Wilayah. Yogyakarta: Graha Ilmu.Afrizal F. 2013. Analisis Pengaruh Tingkat Investasi, Belanja Pemerintah dan Tenaga Kerja terhadap PDRB di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2001-2011. Universitas Hasanuddin, Indonesia.Arsyad, Lincolin. 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah. Yogyakarta: BPFE.Arifin, Bustanul, Rachbini D J. 2001. Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik. Jakarta: PT Grasindo.Ayubi A.A. 2014. Analisis Potensi Ekonomi Kabupaten Banyuwangi. Jurnal Ekonom Pembangunan, 12(1), 2-15.Badan Pusat Statistik. 2017. Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Kabupaten Ketapang 2012 – 2016. Ketapang: Badan Pusat Statistik.Bukhori, M. 2014. Sektor Pertanian Terhadap Pembangunan di Indonesia. Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Indonesia.Dede M, Sewu R.S.B, Yutika M, Ramdhan F. 2016. Analisis Potensi Perekonomian Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Serta Pertambangan dan Penggalian di Pantura Jawa Barat. Prosiding Seminar Nasional (hlm.100-108). Bandung, Indonesia. Universitas Pendidikan Indonesia.Djojohadikusumo, Sumitro. 1994. Perkembangan Pemikiran Ekonomi: Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. PT. Pustaka LP3ES Indonesia. Jakarta.Domanski, Boleslaw, Gwosdz K. 2010. Multiplier Effect In Local And Regional Development. Poznan: University Press.Glasson J. 1990. Pengantar Perencanaan Regional. Terjemahan Paul Sitohang. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI.Hastuti P. 2017. Analisis Sektor Unggulan di Wilayah Kabupaten Madiun Tahun 2011-2015. Universitas Muhammadiyah Surakarta, Indonesia.Irawan, Y.K. (2018). Bareskrim Polri Bekuk Bos “Illegal Loggin” di Kalimantan Barat. Website: https://regional.kompas.com/read/2018/01/19/23490111/bareskrim-polri-bekuk-bos-illegal-logging-di-kalimantan-barat.Jayapos. (2012). Sindikat Pengebom Ikan di Perairan Ketapang dan KKU Kembali Marak. Website: http://harianjayapos.com/detail-1332-sindikat-pengebom-ikan-di-perairan-ketapang-dan-kku-kembali-marak.htmlJhingan M.L. 2010. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Jakarta: PT Raja Grafindo PersadaKamarudin. 2010. Analisis Potensi Sektor Ekonomi Kabupaten Jember. Situbundo: Universitas Abdurahman Saleh. Hal 16-32.Maharani E. 2012. Analisis Potensi Sektor Pertanian di Kabupaten Landak 2005-2009. Universitas Tanjungpura, Indonesia.Mawardi, I. 1997. Daya Saing Indonesia Timur Indonesia dan Pengembangan Ekonomi Terpadu. Jakarta: Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi & Sosial.Mardikanto, Totok. 2007. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan. Jakarta: Pusat Penyuluhan Kehutunan Republik Indonesia.McMillan, J.H. and Schumacher, S. 2001. Research in Education. New York: Longman, Inc.Prasetyo P. E. 2009. Fundamental Makro Ekonomi. Yogyakarta: Beta Offset.Rasyid A. 2016. Analisis Potensi Sektor Potensi Pertanian di Kabupaten Kediri Tahun 2010-2014. Jurnal Ekonom Pembangunan, 14(2), 100-111. Rachbini, Didik. 2001. Pembangunan Ekonomi dan SDM. Jakarta: PT. Grasindo.Retna, Z. N. 2017. Strategi Pengembangan Subsektor Unggulan di Kabupaten Banjarnegara Tahun 2011-2015. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Indonesia.Sanusi B. 1987. Pembangunan Daerah dilihat dari Potensi Energi. Jakarta: LPFE UI.Saptana dan Ashari. 2007. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan melalui Kemitraan Usaha. Jurnal Litbang Pertanian, 26 (4), 123-130.Setyabudi, Heru. 2005. Pengaruh Pertumbuhan PDRB Terhadap Elastisitas Kesempatan Kerja di Sumatera Selatan. Tesis. Program Pascasarjana. UNSRI. Palembang.Simamora A.P, Sirojuzilam, Supriadi. 2013. Analisis Potensi Sektor Pertanian Terhadap Pengembangan Wilayah di Kabupaten Humbang Hasundutan. Jurnal Ekonom, 16(2), 54-66.Sjafrizal. 2008. Ekonomi Regional, Teori dan Aplikasi. Padang: Baduose Media, Cetakan Pertama.Sukirno, Sadono. 2006. Ekonomi Pembangunan: Proses Masalah, Dasar Kebijakan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.Sukirno, Sadono. 2005. Mikro Ekonomi Teori Pengantar. Edisi ketiga. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.Sumitro Djojohadikusumo, 1994. Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. Jakarta: LP3S. Hal 2.Suryana. 2000. Ekonomi Pembangunan (Problematika dan Pendekatan). Bandung: Salemba Empat.Suyatno. 2000. Analisa Economic Base terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah Tingkat II Wonogiri. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 1(2), 144-159.Syahroni. 2016. Analisis Peranan Sektor Pertanian Dalam Perekonomian Kabupaten Sarolangun. E-Jurnal Perspektif Ekonomi dan Pembangunan Daerah, 5(1), 1-9. Tarigan, Robinson. 2005. Ekonomi Regional (Teori dan Aplikasi). Jakarta: PT. Bumi Aksara.Tamyawan S. 2012. Analisis Potensi Sektor Pertanian Kabupaten dan Kota di Provinsi Jawa Tengah (Analisis Data PDRB Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008). Universitas Sebelas Maret Surakarta, Indonesia.Tjokroamidjojo. 1993. Perencanaan Pembangunan. Jakarta: Masagung. Todaro, Michael, P, Smith C. 2011. Pembangunan Ekonomi. Jakarta: Erlangga.Tumenggung, S. 1996. Gagasan dan Kebijaksanaan Pembangunan Ekonomi Terpadu (Kawasan Timur Indonesia). Jakarta: Direktorat Bina Tata Perkotaan dan Pedesaan Dirjen Cipta Karya Departemen PU.Widodo, Tri. 2006. Perencanaan Pembangunan: Aplikasi Komputer. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.Zaris R. 1987. Prespektif Daerah dalam Pembangunan Nasional. Jakarta: LPFE UI

    PENGARUH ALOKASI BELANJA MODAL DAN INVESTASI TERHADAP PENDAPATAN PER KAPITA DAN KEMISKINAN DI KALIMANTAN BARAT

    No full text
     ABSTRAKPedapatan per kapita yang rendah dan kemiskinan yang tinggi merupakan persoalan yang sering terjadi pada negara berkembang termasuk di Indonesia sendiri. Penyebab rendahnya pendapatan per kapita dan kemiskinan yang tinggi ini dikarenakan kurangnya investasi yang tersedia demi penyerapan tenaga kerja yang optimal dan masih kurang efektifnya pengalokasian belanja modal yang dilakukan oleh pemerintah di masing-masing daerah.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh variabel Belanja Modal, Tingkat Investasi terhadap Pendapatan per Kapita. Kemudian Belanja Modal, Investasi terhadap Tingkat Kemiskinan. Serta Pendapatan per Kapita terhadap Tingkat Kemiskinan Kabupaten Kota di Provinsi Kalimantan Barat periode 2011-2015. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis regresi linear berganda dengan menggunakan data panel yang menggabungkan data time series dan cross section dari tahun 2011-2015 dengan 12 Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat sebagai data yang diolah dalam model multiple regresi dengan 60 observasi.Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa variabel Belanja Modal berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap Pendapatan per Kapita, Tingkat Investasi berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Pendapatan per Kapita, Belanja Modal berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Tingkat Kemiskinan, Tingkat Investasi berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap tingkat Kemiskinan, dan Pendapatan per Kapita berpengauh negatif dan tidak signifikan terhadap Tingkat Kemiskinan.Kata Kunci : Belanja Modal, Tingkat Investasi, Pendapatan per Kapita, Tingkat Kemiskinan.Adi,  Priyo  Hari.  2005.  Dampak  Desentralisasi  Fiskal  terhadap  Pertumbuhan Ekonomi (Studi pada Kabupaten dan Kota Se Jawa Bali). Jurnal Studi Pembangunan KRITIS. Universitas Kristen Satya Wacana : Salatiga.Badan Pusat Statistik. 2009. Kalimantan Barat Dalam Angka 2009.__________________,  2010. Kalimantan Barat Dalam Angka 2010.__________________,  2011. Kalimantan Barat Dalam Angka 2011.__________________,  2012. Kalimantan Barat Dalam Angka 2012.__________________,  2013. Kalimantan Barat Dalam Angka 2013.__________________,  2014. Kalimantan Barat Dalam Angka 2014.__________________,  2015. Kalimantan Barat Dalam Angka 2015Criswardani Suryawati, 2005. Memahami Kemiskinan SecaraMultidimensional.http://www.jmpk-online.net/Volume_8/Vol_08_No_03_2005.pdf. Febrianti, Heny 2012. “Hubungan Antara Dana Alokasi Umum, Belanja Modal, Pendapatan Asli Daerah Dan Pendapatan Per Kapita (Studi Pada Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi Jawa Tengah Tahun Anggaran 2007-2009)” Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta. Hajiji, A. 2010.  Keterkatikan Antara Pertumbuhan, Ketimpangan Pendapatan dan Pengentassan Kemiskinan di Provinsi Riau. Tesis Pasca Sarjana-IPB : Bogor. Halim, Abdul. (2004). Akuntansi Keuangan Daerah, Edisi Revisi, Jakarta : Salemba Empat.IIyas Yusrizal, (2013). “Laporan evaluasi Belanja Modal Daerah”. Direktorat Jendral Perimbangan Keuangan Kementerian keunagan Republik Indonesia. Jakarata. www.djpk.depkeu.go.id. Jayanti Widya. 2013. “Pengaruh Belanja Modal dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Terhadap Pendapatan per Kapita”. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jhingan, (2000). Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Jakarta : Rajawali Press. Kuncoro, Mudrajat. Ph.D, 2004. Otonomi dan Pembangunan Daerah : Reformasi, Perekonomian, Strategi dan Peluang. Penerbit Erlangga.______________________ 2006. Otonomi dan Pembangunan Daerah, Reformasi,          Perencanaan, Strategis, dan Peluang. Jakarta: Erlangga. Latifah, Rosyida 2010 “Hubungan Antara Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Belanja Modal, Pendapatan Asli Daerah Dan Pendapatan Per Kapita” (Studi Pada Kabupaten dan Kota se Pulau Kalimantan)” Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Lin, Justin Yifu dan Zhiqiang Liu. 2000. Fiscal Decentralization and Economic Growth   in   China,   Economic   Development   and   Cultural   Change Chicago. Vol 49. Hal : 1-21. Mauna, Nanga, (2001). Makro Ekonomi, Masalah dan Kebijakan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Nizar Chairul, dkk. 2013. “Pengaruh Investasi dan Tenaga Kerja Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Serta Hubungannya Tergadap Tingkat Kemiskinan di Indonesia” Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Saragih, Juli Panglima. 2003. Desentralisasi Fiskal dan Keuangan Daerah dalam Otonomi. Penerbit Ghalia Indonesia. Setyopurwanto. Didi 2013. “Pengaruh Investasi Sumber Daya Manusia Dan Investasi Modal Terhadap Pendapatan Perkapita Masyarakat Indonesia” Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang. Sirait, Maya Afrida 2009 “Pengaruh Belanja Modal Dan Pendapatan Asli Daerah (Pad) Terhadap Peningkatan Pendapatan Per Kapita Pada Pemerintahan Daerah Di Provinsi Sumatera Utara” Fakultas Ekonomi. Universitas Sumatera Utara.Sitompul, Novita Linda. 2007. Analisis Pengaruh Investasi dan Tenaga Kerja Terhadap PDRB Sumatera Utara. Medan: Sumatera UtaraSuharto, Edy. 2009. Kemiskinan dan Perlindungan Sosial di Indonesia Menggegas Model Jamainan Sosial Universal Bidang Kesehatan. Bandung: CV.ALFABETA.Sukirno, Sadono. (1994). Pengantar Teori Mikro Ekonomi, Jakarta: Raja Grafindo Persada .……………….... (2000). Pengantar Teori Mikro Ekonomi, Jakarta: Raja Grafindo Persada.……………….... (2004). Pengantar Teori Mikro Ekonomi, Jakarta: Raja Grafindo Persada .Suparmoko, dan Maria R. Suparmoko, 2000. Pokok-Pokok Ekonomika, Yogyakarta: Penerbit BPFE. Sutedi Adrian, (2010). “Hukum Keuangan negara”. Jakarta: Penerbit Sinar Grafika. Todaro, Michael P dan Smith, Stephen C. 2006. “Pembangunan Ekonomi”. Jakarta: Erlangga. Widarjono, Agus, (2009). “Ekonometrika Pengantar dan Aplikasinya, Edisi Ketiga”. Yogyakarta : Ekonesi

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Curvanomic
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇