Jurnal Curvanomic
Not a member yet
    715 research outputs found

    PENGARUH PENDAPATAN TERHADAP PENGELUARAN KONSUMSI RUMAH TANGGA PETANI KARET DI DESA TELUK BATANG UTARA KABUPATEN KAYONG UTARA

    No full text
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendapatan petani karet, pendapatan lain terhadap pengeluaran konsumsi rumah tangga petani karet di Desa Teluk Batang Utara Kabupaten Kayong Utara. Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linier berganda. Software yang digunakan pada penelitian ini dibantu dengan menggunakan program Microsoft Exel (Analysis Toolpak). Sebanyak 60 responden dipilih sebagai sampel penelitian yang ditentukan berdasarkan penilaian peneliti mengenai siapa saja yang pantas (memenuhi persyaratan) untuk dijadikan sampel di antara 115 petani karet di Desa Teluk Batang Utara.            Hasil penelitian ini menunjukan bahwa variabel pendapatan petani karet berpengaruh signifikan terhadap pengeluaran konsumsi rumah tangga petani karet  di Desa Teluk Batang Utara, sedangkan variabel pendapatan lain berpengaruh tidak signifikan terhadap pengeluaran konsumsi rumah tangga petani karet di Desa Teluk Batang Utara.Kata Kunci : Pendapatan Petani Karet, Pendapatan Lain, dan Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga RINGKASAN SKRIPSI1. Latar belakangTeluk Batang merupakan  kecamatan di Kabupaten Kayong Utara yang mempunyai potensi besar dalam sektor pertanian.Kecamatan ini terdiri dari beberapa desa. Salah satunya desa Teluk Batang Utara yang pekerjaan masyarakatnya turun temurun adalah sebagai petani.Sebagian besar masyarakat memanfaatkan lahan mereka sebagai sumber pendapatan.Harga karet sejak 2014 terus mengalami penurunan dari Rp. 10.000 – Rp. 18.000 per kilogram menjadi  Rp. 4.000 – Rp. 7000 per kilogram pada 2015 – 2018.  Rendahnya harga karet berdampak terhadap petani karet yang telah lama menggantungkan hidupnya pada karet.Pendapatan petani karet yang  rendah menyebabkan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup, sehingga mengharuskan anggota rumah tangga mencari pekerjaan sampingan.2.      Pertanyaan PenelitianBagaimana pengaruh pendapatan petani karet terhadap pengeluaran konsumsi rumah tangga petani karet?Bagaimana pengaruh pendapatan lain terhadap pengeluaran konsumsi rumah tangga petani karet ?3. Tujuan Penelitian1. Untuk menguji pengaruh pendapatan petani karet  terhadap pengeluaran konsumsi rumah tangga petani karet.2. Untuk menguji pengaruh pendapatan lain terhadap pengeluaran konsumsi rumah tangga petani karet.4.      Metode PenelitianSumber data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.Data primer yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dengan cara memberikan kuesioner kepada petani karet di Desa Teluk Batang Utara. Data sekunder dari penelitian ini yaitu monografi desa di peroleh dari Kantor Desa Teluk batang Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu regresi linier berganda.5.      Hasil dan PembahasanVariabel pendapatan petani karet berpengaruh signifikan terhadap pengeluaran konsumsi rumah tangga petani karet, sedangkan variabel pendapatan lain berpengaruh tidak signifikan terhadap pengeluaran konsumsi rumah tangga petani karet. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,38. Hal ini menunjukan bahwa persentase perubahan pengeluaran konsumsi rumah tangga oleh pendapatan petani karet dan pendapatan lain sebesar 38 persen sedangkan sisanya 62 persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain.6.      Kesimpulan dan RekomendasiKesimpulan Pendapatan Petani Karet Desa Teluk Batang Kabupaten Kayong Utara berpengaruh signifikan terhadap pengeluaran konsumsi rumah tangga, semakin tinggi pendapatan yang diperoleh maka semakin besar pula pengeluaranPendapatan lain tidak berpengaruh signifikan terhadap pengeluaran konsumsi. Pendapatan lain masyarakat dialokasikan untuk keperluan nonkonsumsi rumah tangga seperti, menabung, membeli emas dan mengirim biaya pendidikan untuk anak yang sedang berkuliah atau melanjutkan pendidikannya.Rekomendasi Sebaiknya pemerintah desa membentuk suatu lembaga ditingkat desa untuk mengkooardinir para petani karet dalam memasarkan karet mereka, agar para petani terlindungi dari permainan harga yang dilakukan oleh para tengkulak.Mengingat pendapatan petani karet sangat berperan penting dalam meningkatkan konsumsi rumah tangga diharapkan semua perangkat desa melakukan penyuluhan dan pelatihan mengenai tatacara menyadap pohon karet yang baik dan benar serta penyedian bibit karet unggul, sehingga petani mempunyai pengetahuan dan penguasaan yang baik lagi dalam meningkatkan produksinya yang tentunya akan berdampak positif terhadap perekonomian daerah, dan tingkat kesejahteraan petani.DAFTAR PUSTAKAAgustin, N.(2012). Analisis Konsumsi Rumah Tangga Petani Padi dan Palawija di Kabupaten Demak,Universitas Diponegoro Semarang.Algifari(2000).Analisis Regresi, Teori, Kasus, & Solusi.BPFE UGM, Yogyakarta.Andriani, N., Suandi., & Malik, A. (2014).    Analisis Pendapatan Usahatani Petani Karet dan Konsumsi Pangan Rumah Tangganya di Kecamatan Rimbo ten Tebo Sosio Ekonomika Bisnis  17. (1) 10-18Badan Pusat Statistik.(2015). Survei Pendapatan Rumahtangga Usaha Pertanian 2013. Badan Pusat Statistik Indonesia, Jakarta.Dumairy. (2006). Perekonomian Indonesia, Cetakan Kelima. Penerbit Erlangga.Esmawaty, F. (2005). Analisis Konsumsi Rumah Tangga di kabupaten brebes,Universitas Sebelas Maret Surakarta.Fauzi, M.E.(2017).Analisis Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Petani Rumput Laut di Kabupaten Jeneponto. Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Hassanuddin Makassar.Gilarso, T. (2007). Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Kanisius, YogyakartaKarolina, A., Bakce, D., & Yusri, J. (2016).   Analisis Pendapatan dan Pola Konsumsi Rumah Tangga Petani Kelapa di Kecamatan Mandah Kabupaten Indragiri Hilir JOM Faperta 3 (1).Mankiw,N.G. (2006). Teori Makro Ekonomi Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.Rinawati., Yantu, M.R., & Rustam A.R. (2014). Pengaruh Pendapatan Terhadap Konsumsi Masyarakat Tani padi sawah di Desa Karawana Kecamatan Dolo Kabupaten. Sigie-J. Agrotekbis 2 (6) : 652-659.Siregar, S. (2011).Statistik Deskriptif untuk Penelitian: Dilengkapi Perhitungan Manual dan Aplikasi SPSS Versi 17. Jakarta:Rajawali PersSugiyono. (2014). Metode Penelitian Bisnis, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: AlfabhetaSukirno, S (2007).Makro Ekonomi Modern. Jakarta: PT.Raja Grafindo  Suparmoko, dan Maria R.Widarjono, A. (2007). Ekonomrtrika Teori dan Aplikas untuk Ekonomi dan Bisnis. Ekonisia, Yogyakarta.Y Noviansyah,. & N Bariyah (2019). Analisis Usaha Tani Padi Teknologi Hazton Di Provinsi Kalimantan Barat (Studi khasus : Desa Peniraman, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah). JEBIK 7 (1), 1-19.

    Flypaper Effect Pada Dana Alokasi Umum dan Pendapatan Asli Daerah Terhadap Belanja Daerah Kabupaten/kota di Kalimantan

    No full text
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menemukan bukti empiris pada DAU dan PAD terhadap belanja daerah kabupaten/kota di Kalimantan yang terdiri dari 47 kabupaten dan 9 kota. Untuk membuktikan apakah terjadi fenomena Flypaper Effect pada tahun 2013 – 2016. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang sumber datanya diambil dari Direktorat Jendral Perimbangan Keuangan Republik Indonesia.Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan, dapat diketahui bahwa PAD dan DAU secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap belanja daerah. Hasil uji t-statistik PAD sebesar 8,484592 dan signifikan terhadap belanja daerah. Sedangkan hasil uji t-statistik DAU sebesar 7,884646 dan signifikan. Hasil pengujian ini membuktikan bahwa respon pemerintah daerah terhadap belanja daerah pada kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat menunjukkan terjadi Flypaper Effect.Kata Kunci : DAU, PAD, Belanja Daerah, dan Flypaper Effect. RINGKASANFLYPAPER EFFECT PADA DANA ALOKASI UMUM DAN PENDAPATAN ASLI DAERAH TERHADAP BELANJA DAERAH KABUPATEN/KOTA DI KALIMANTAN 1.             Latar BelakangPenerapan otonomi daerah di Indonesia saat ini merupakan wujud dari diberlakukannya desentralisasi.. Dalam penerapannya, pemerintah pusat tidak lepas tangan secara penuh dan masih memberikan bantuan kepada pemerintah daerah berupa dana perimbangan yang dapat digunakan oleh pemerintah daerah dalam pembangunan dan menjadi komponen pendapatan daerah dalam APBD, sehingga daerah bisa selalu berketergantungan terhadap pemerintah pusat. Pemerintah daerah harus dapat mengelola rumah tangganya secara mandiri, dalam upaya peningkatan kemandirian ini, pemerintaah daerah dituntut untuk meningkatkan pelayanan publiknya2.             Permasalahan1.      Apakah ada pengaruh antara DAU terhadap belanja daerah pada kabupaten/kota di Kalimantan?2.      Apakah ada pengaruh antara PAD terhadap belanja daerah pada kabupaten/kota di Kalimantan?3.      Apakah terjadi fenomena Flypaper Effect  pada belanja daerah pada kabupaten/kota di Kalimanta?3.             Tujuan Penelitian1.      Untuk menganalisis pengaruh antara DAU terhadap belanja daerah pada kabupaten/kota di Kalimantan.2.      Untuk menganalisis pengaruh antara DAU terhadap belanja daerah pada kabupaten/kota di Kalimantan.3.      Untuk menganalisis fenomena Flypaper Effect terhadap belanja daerah pada kabupaten/kota di Kalimantan.4.             Metode Penelitian Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian assosiatif yaitu penelitian yang mencari hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain.  Penelitian ini  menggunakan  data  sekunder  dengan  periode  observasi 2013-2016. Data yang digunakan bersumber dari Direktorat Jendral Perimbangan Keuangan Republik Indonesia. Analisis  yang  digunakan  adalah analisis  regresi linier berganda data  panel  dengan  model  regresi  Fixed Effect.  Data  diolah dengan menggunakan Eviews 9.5.             Hasil dan pembahasanHasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  Dana Alokasi Umum dan Pendapatan Asli Daerah memiliki hubungan  positif  dan  signifikan  terhadap  Belanja, hal ini dilihat dari hasil uji t-statistik. Sementara itu hasil dari pengolahan data menunjukkan nilai koefisien Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar 0,842631, sedangkan nilai koefisien Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar 0,281328, yang berarti terjadi Flypaper Effect pada belanja daerah kabupaten/kota di  Kalimantan.6.             Kesimpulan dan saran 1.      KesimpulanPengaruh dana alokasi umum menunjukkan pengaruh yang signifikan dan berhubungan positif. Pengaruh pendapatan asli daerah menunjukkan pengaruh yang signifikan dan berhubungan positif terhadap belanja daerah kabupaten/kota di Kalimantan. Terjadi flypaper effect pada belanja daerah kabupaten/kota di Kalimantan.2.      SaranUntuk meningkatkan alokasi belanja daerah maka Pemerintah Daerah diharapkan bisa terus menggali sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah menjadi sumber dana utama untuk membiayai kebutuhan belanja daerah.                 DAFTAR PUSTAKA Adisasmita, R. (2011). Pengelolaan Pendapatan dan Anggaran Daerah. Edisi Pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu.Amalia, W. R., Nor, W., & Nordiansyah, M. (2015). Flypaper Effect pada Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU) Dan Dana Alokasi Khusus (DAK) Terhadap Belanja Daerah Pada Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi Kalimantan Selatan (2009-2013). Jurnal Akuntansi dan Bisnis vol. 15, No. 1, Februari 2015: 1-12.Aprilla, N & Saputra, R., A. (2013). Pengaruh Flypaper Effect, Dana Alokasi Umum, dan Pendapatan Asli Daerah Terhadap Belanja Daerah Kabupaten/Kota  di Indonesia. Jurnal Akuntansi Vol. 3 No. 2: 107-132.Badan Litbang Depdagri RI. Pengukuran Kemampuan Keuangan Daerah Tingkat II Dalam Rangka Otonomi Daerah Yang Nyata Dan Bertanggung Jawab. Jakarta.Darmayasa, I. N & Sedanayasa I. M. (2012). Flypaper Effect pada Dana Alokasi Umum dan Pendapatan Asli Daerah terhadap Belanja Modal (Studi Kasus pada Kabupaten dan Kota di Bali). Jurnal Bisnis dan Kewirausahaan, 8(3): 149-157.Deller, S., Maher, C., & Lledo V. (2007). Wisconsin Local Government, State Shared Revenues and The Illusive Flypaper Effect. J. Of Public Budgeting, Accounting & Financial Management, 19 (2), 200-220.Direktorat Jendral Perimbangan Keuangan Republik Indonesia. (2013). Realisasi APBD. Diakses dari http://www.djpk.kemenkeu.go.id/.Direktorat Jendral Perimbangan Keuangan Republik Indonesia. (2014). Realisasi APBD. Diakses dari http://www.djpk.kemenkeu.go.id/.Direktorat Jendral Perimbangan Keuangan Republik Indonesia. (2015). Realisasi APBD. Diakses dari http://www.djpk.kemenkeu.go.id/.Direktorat Jendral Perimbangan Keuangan Republik Indonesia. (2016). Realisasi APBD. Diakses dari http://www.djpk.kemenkeu.go.id/.Halim, A. (2007). Pengelolaan Keuangan Daerah, Seri Bunga Rampai Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.Idris, A. (2016). Ekonomi Publik. Yoyakarta: Penerbit Deepublish (Grup Penerbitan CV Budi Utama).James, H. & Thailer, R, H. (1995). Anomalies The Flypaper Effect. Journal of Economic Perspective s — Volume 9, Number 4 — Fall 1995 — Pages 217–226.Kartika, M. (2015). Transfer Pusat dan Upaya Pendapatan Asli Daerah (Studi Kasus Kabupaten/kota di Kalimantan Barat). Jurnal Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan Vol. 4 No.1, 45-71.Kuncoro, H. (2004). Pengaruh Transfer Antar Pemerintah Pada Kinerja Fiskal Pemerintah Daerah Kota dan Kabupaten di Indonesia. Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol.9.Kuncoro, M. (2001). Perencanaan Daerah. Jakarta: Salemba Empat.Kusumadewi, D. A & Rahman A. (2007). Flypaper Effect pada Dana Alokasi Umum dan Pendapatan Asli Daerah terhadap Belanja Daerah pada Kabupaten/Kota di Indonesia. Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia, 11(1): 67-80.Lee, L & Vuletin, G. (2012) The Flypaper and Teflon Effects: Evidence from China. Modern Economy, 2012, 3, 811-816.Listiorini. (2012). Fenomena Flypaper Effect pada Dana Perimbangan dan Pendapatan Asli Daerah terhadap Belanja Daerah pada Kabupaten / Kota di Sumatera Utara. Jurnal Keuangan dan Bisnis 4(2): 111-126.Maimunah, M. (2006). Flypaper Effect pada Dana Alokasi Umum (DAU) dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Belanja Daerah pada Kabupaten/Kota di Pulau Sumatera. Simposium Nasional Akuntansi XI, Padang, Indonesia.Maradel, R. (2016). Analisis Flypaper Effect Pada Pemerintah Daerah Di Provinsi Papua. Jurnal Kajian Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 3 Nomor 1 April 2016.Mardiasmo. (2002). Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta: Penerbit ANDI.Mawarni, Darwanis & Abdullah S. (2013). Pengaruh Pendapatan Asli Daerah Dan Dana Alokasi Umum Terhadap Belanja Modal Serta Dampaknya Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah (Studi Pada Kabupaten dan Kota Di Aceh). Jurnal Akuntansi Pascasarjana Universitas Syiah Kuala Volume 2, Nomor 2, Mei 2013: 80-90.Melo, L. (2002). The Flypaper Effect under Different Institutional Contexts: The Colombian Case. Public Choice 111, no. 3-4, (April 1): 317 345).Nurdiwaty, D & Zaman, B. (2016). Analisis Rasio Keuangan Daerah Untuk Menilai Kinerja Keuangan Daerah di Kota Kediri. Jurnal Ekonomika-Bisnis Vol. 7 No. 1 Bulan Januari Tahun 2016 Hal 31-40.Pramuka, B. A. (2010). Flypaper Effect Pada Pengeluaran Pemerintah Daerah di Jawa. Jurnal Ekonomi Pembangunan Volume 11, Nomor 1, Juni 2010, hlm. 1-12.Peck, R. (2005). Local Governance In Africa: The Challenges Of Democratic Decentralization. Review Of Africa Today 51, no. 3, (April 1): 138-140).Rokhaniyah, S & Nugroho, M. R. (2011). Analisis Flypaper Effect Pada Belanja Pemerintah Kota dan Kabupaten di Indonesia Tahun 2006-2008. Fokus Ekonomi, Agustus 2011, Hal. 100-113, ISSN: 1412-3851.Rusmita, S. (2016). Pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU) dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Terhadap Belanja Daerah di Provinsi Kalimantan Barat. Jurnal Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan, Vol. 5, No. 3, 237-257.Sagbas, I & Saruc, N. T. (2004). Intergovernmental Transfers And The Flypaper Effect In Turkey. JEL classification.Saputri, M. A., & Muid D. (2014). Flypaper Effect Pada Dana Alokasi Umum dan Pendapatan Asli Daerah Terhadap Belanja Daerah Pada Kabupaten/kota di Jawa Tengah Tahun 2011-2012. Diponegoro Journal Of Acounting, Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014, Halaman 1-11, ISSN (Online): 2337-3806.Shah, A. (2007). A Practitioner’s Guide to Intergovermental Fiscal Transfer. In R. Boadway and A. Shah (eds.), Intergovernmental Fiscal Transfers (pp.1-53). Washington, D.C : The World Bank.Sihombing, E. E., & Wijaya, A. H. C., (2016). Flypaper Effect pada Dana Alokasi Umum dan Pendapatan Asli Daerah Terhadap Belanja Daerah di Provinsi Papua. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Daerah Volume 11, Nomor 1, Mei 2016: 29-37.Sugiyono. (1999). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: PT.GramediaJakarta.Suparmoko. (2002). Ekonomi Publik Untuk Keuangan & Pembangunan Daerah. Yogyakarta: Penerbit ANDI.Undang-Undang Republik Indonesia. (2004). Nomor 32 Tentang Pemerintah Daerah.Undang-Undang Republik Indoensia. (2004). Nomor 33 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.Wahyuni, S.E. & Supheni I. (2017). Flypaper Effect Pada Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU) Terhadap Belanja Pemerintah Daerah Kabupaten Nganjuk Periode 2012-2016. Akuntansi Dewantara Vol. 1 No. 2 Oktober 2017.Warner, M., (2009). Civic Goverment of Market-Based Governance? The Limits of Privatization for Rural Local Governments. Agriculture and Human Values 26, no 1-2, (March 1): 133-143.Yani, A. (2002). Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah Di Indonesia. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

    Hubungan Faktor Sosial Ekonomi Pekerja Anak di Kabupaten Sintang

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara pendapatan keluarga, lama sekolah, dan jumlah anggota dalam rumah tangga terhadap jam kerja pekerja anak di Kabupaten Sintang. Data yang digunakan adalah data primer yang didapatkan melalui kuesioner pada tahun 2018 dan dianalisa dengan menggunakan model korelasi Spearman dengan program SPSS versi 21. Hasil estimasi di peroleh pada variabel pendapatan keluarga memiliki hubungan yang negatif yang kuat terhadap jam kerja pekerja anak, variabel lama sekolah memiliki hubungan negatif yang rendah terhadap jam kerja pekerja anak, dan variabel jumlah anggota dalam rumah tangga memiliki hubungan negatif yang sangat rendah terhadap jam kerja pekerja anak di Kabupaten Sintang. Kata kunci: Pekerja Anak, Pendapatan Keluarga, Lama Sekolah, dan Jumlah Anggota dalam Rumah Tangga.DAFTAR PUSTAKAAdiana, P. P. E., & Ni Luh Karmini. (2011). Pengaruh Pendapatan, Jumlah Anggota Keluarga, dan Pendidikan Terhadap Pola Konsumsi Rumah Tangga Miskin di Kecamatan Gianyar. Universitas Udayana.Adioetomo, S. M., dan Omas, B. S. (2010). Dasar – Dasar Demografi. Salemba Empat, Jakarta.Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta, Jakarta.Avianti, A., dan Martua, S. (2013). Peran Pekerja Anak Di Industri Kecil Sandal Terhadap Pendapatan Rumah Tangga dan Kesejahteraan Dirinya Di Desa Parakan, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Institut Pertanian Bogor.Badan Pusat Statistik (2015) Kalimantan Barat Dalam Angka 2015. Pontianak: BPS.Badan Pusat Statistik. (2017). Kabupaten Sintang Dalam Angka 2017. Sintang: BPS.Badan Pusat Statistik. (2009). Pekerja Anak Di Indonesia 2009.Basu, K., & Van, P. H. (1998). The Economic of Child Labor. The American Economic Review, vol.88, No.(3).Darusasi, R., dan Agus, J.P. (2013). Kondisi Demografi Dan Sosial Ekonomi Rumah Tangga Pekerja Anak DKI Jakarta (Analisis Data Susenas KOR 2010). Jurnal Bumi Indonesia.Usman, Hardianus, dan Nachrowi, D.N. (2004). Pekerja Anak Di Indonesia, Kondisi, Determinan, dan Eksploitasi. Grasindo, Jakarta.Febriana, R. (2010). Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Jam Kerja Pekerja Anak Di Kota Palembang. Jurnal Kajian Ekonomi Universitas Sriwijaya, vol.9, No.(2).Fitdiarini, N., dan Sugiharti, L. (2008). Karakteristik Dan Pola Hubungan Determinan Pekerja Anak Di Indonesia. Universitas Airlangga, Indonesia.Firdausi, Z. (2016). Hubungan Pekerja Anak Dengan Pencapaian Pendidikan dan Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga. Institut Pertanian Bogor, Indonesia.Ghozali, I. (2012). Aplikasi Analisis Multivariate dengan SPSS. Badan Penerbit Universitas Dipenogoro, Semarang.Gilarso. (2008). Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Kanisius, Yogyakarta.Grootaert, C., & Ravi, K. (1995). Child Labor: A Review. The World Bank.Guarcello, L., Lyon, S., Rosati, F., Valdivia, C. (2005). “Towards Statistical Standards for Children’s Non Economic Work: A Discussion based on Household Survey Data”. Working paper No. 16. “Understanding Children’s Work”, Roma, Italia.Gujarati, N. Damondar. (2004). Ekonomika Fourth Edition. Ebook.International Labour Organization. (9 Februari, 2010). ILO-BPS Keluarkan Data Nasional Mengenai Pekerja Anak Di Indonesia.http://www.ilo.org/jakarta/info/public/pr/WCMS_122351/lang--en/index.htmIrwan. (2015). Dinamika dan Perubahan Sosial Pada Komunitas Lokal. Deepublish, Yogyakarta.Khusna, I. (2015). Pengaruh Karakteristik Rumah Tangga Terhadap Keputusan Anak Untuk Memilih Sekolah Atau Bekerja Di Indonesia. Universitas Airlangga, Indonesia.Mantra., I. B. (2003). Demografi Umum. Pustaka Belajar, Yogyakarta.Mulyadi, S. (2003). Ekonomi Sumber Daya Dalam Perspektif Pembangunan. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.Oktama, R. Z. (2013). Pengaruh Kondisi Sosial Ekonomi Terhadap Tingkat Pendidikan Anak Keluarga Nelayan Di Kelurahan Sugihwaras Kecamatan Pemalang Kabupaten Pemalang. Universitas Negeri Semarang.Putri, A. A. (2015). Pengaruh Karakteristik Individu dan Rumah Tangga Terhadap Kecenderungan Anak Untuk Bersekolah Atau Bekerja (Studi Kasus Pekerja Anak Di Jawa Timur). Universitas Brawijaya Malang, Indonesia.Putri, A. G. C., Elly, M., dan Siti, N. K. (2014). Eksploitasi Pekerja Anak Dibawah Umur Sebagai Bentuk Penyimpangan Sosial. (Studi Etnografi Anak-anak Pengumpul Koin Dermaga Pelabuhan Merak Kota Cilegon). Jurnal Sosietas, vol.5, No.(1).Santoso, S., dan Fandy, T. (2004). Riset Pemasaran Konsep dan Aplikasi Dengan SPSS. PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.Sanusi, A. (2011). Metodelogi Penelitian Bisnis. Penerbit Salemba Empat, Jakarta.Saptari, R., dan B. Holzner. (1997). Perempuan Kerja dan Perubahan Sosial, Sebuah Pengantar Studi Perempuan. PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta.Satori, D., dan Aan, K. (2010). Metode Penelitian Kualitatif. Alfabeta, Bandung.Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta, Bandung.Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Bisnisnis. Alfabeta, Bandung.Sugiyono. (2011). Memahami Penelitian Kualitatif. Alfabeta, Bandung.Sunardi, M., dan H.D., Evers. (1985). Kemiskinan Dan Kebutuhan Pokok. CV. Rajawali, Jakrta.Suryati, D., dan Erma, S. (2015). Analisis Pengaruh Kondisi Sosial ekonomi Keluarga Terhadap Pekerja Aanak Di Kabupaten Lombok Barat. Jurnal Ganec Swara, vol.9, No.(1).Tang, C., Zhao, L., Zhao, Z. (2016). Child Labor in China. Discussion Papper IZA, No.(9976).Todaro, Michael P. (2011). Pembangunan Ekonomi. Erlangga, Jakarta.Uppun, P. (2016). Faktor Determinan Pekerja Anak Di Wilayah Perkotaan Sulawesi Selatan. Jurnal Universitas Hasanuddin, vol.5, No.(1).Usman, H., dan Nachrowi, J. N. (2004). Pekerja Anak Di Indonesia Kondisi, Determinan, dan Eksploitasi (Kajian Kuantitatif). PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.www.ilo.org (diakses tanggal 20 Desember 2017).Yuniarti, N. (2012). Eksploitasi Anak Jalanan Sebagai Pengamen dan Pengemis Di Terminal Tindar Oleh Keluarga. Jurnal Universitas Negeri Semarang

    VARIASI PENDAPATAN MASYARAKAT NELAYAN DI DESA SUNGAI KAKAP KECAMATAN SUNGAI KAKAP KABUPATEN KUBU RAYA

    No full text
    Variasi Pendapatan Masyarakat Nelayan Di Desa Sungai Kakap Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya  Alsaufi Sepiani AziziUniversitas Tanjungpura  ABSTRACTThe fishing community in Sungai Kakap Village is a community with varying income caused by several factors. These factors such as fishing fleets, fishing gear, machines used, and the time to go down to sea. In addition to these factors, there are obstacles that cause variations in income such as season, age of fishermen, length of work or experience, and education. Captured fleets are divided into 3 types, namely canoes, outboard motors, and motorboats. Motorboats are divided into 4 types, namely motor boats with a 0 - 5 GT power, 5 - 10 GT, 10-20 GT, and 20-30 GT. Fishermen who use a boat catching fleet and outboard motors use small trawlers because they are only able to accommodate small amounts of catch. Whereas fishing boats use motor gills that are capable of producing large numbers of catches. Fishermen with motorboat fleets have as many as 1 - 4 crew members for one fleet.Keywords: Revenues, Variations, Operating Costs, Constraints  1.      Latar Belakang       Nelayan adalah seseorang yang hidup dari mata pencaharian hasil laut. Di Indonesia para nelayan biasanya bermukim di daerah pinggir pantai atau pesisir laut. Komunitas nelayan adalah kelompok orang yang bermata pencaharian hasil laut dan tinggal di desa-desa pantai atau pesisir (Sastrawidjaya 2002). Dilihat dari teknologi peralatan tangkap yang digunakan dapat dibedakan dalam dua katagori, yaitu usaha nelayan modern dan usaha nelayan tradisional. Usaha nelayan modern mengunakan teknologi penangkapan yang lebih canggih dibandingkan  dengan  usaha  nelayan  tradisional. Ukuran modernitas  bukan semata-mata karena pengunaan motor untuk menggerakkan perahu, melainkan juga  besar  kecilnya  motor yang  digunakan  serta  tingkat  eksploitasi  dari  alat tangkap yang digunakan. Perbedaan modernitas teknologi alat tangkap juga akan berpengaruh pada kemampuan jelajah operasional mereka, (Imron, 2003).       Tujuan pembangunan perikanan di Indonesia ini pada prinsipnya memiliki dua sasaran pokok yaitu menaikkan produksi dan meningkatkan pendapatan pada sektor perikanan. Hal ini sejalan dengan upaya memperbaiki taraf hidup nelayan dan meningkatkan produksi perikanan nasional yang secara langsung ataupun tidak langsung dipengaruhi oleh faktor modal kerja, pengalaman kerja yang dimiliki dan sebagainya. Masyarakat yang mempunyai mata pencaharian dan berpenghasilan sebagai usaha nelayan merupakan salah satu dari kelompok masyarakat yang melakukan aktivitas usaha dengan mendapatkan penghasilan bersumber dari kegiatan usaha nelayan itu sendiri. Nelayan adalah orang yang secara aktifmelakukan pekerjaan dalam operasi penangkapan ikan dan binatang air lainnya. Para usaha nelayan melakukan pekerjaan dengan tujuan untuk memperoleh pendapatan demi kebutuhan hidup.       Untuk pelaksanaannya diperlukan beberapa perlengkapan dan dipengaruhi oleh banyak faktor guna mendukung keberhasilan kegiatan. Menurut Salim (1999) faktor yang mempengaruhi pendapatan usaha nelayan meliputi sektor sosial dan ekonomi yang terdiri dari besarnya modal, jumlah armada, jarak tempuh melaut, dan pengalaman. Dengan demikian pendapatan nelayan berdasarkan besar kecilnya jumlah tangkapan, masih terdapat beberapa faktor yang lain yang ikut menentukannya yaitu faktor sosial dan ekonomi selain diatas.      Taraf hidup nelayan sangat ditentukan oleh hasil tangkapannya atau yang biasa di sebut dengan produksi hasil tangkapan. Banyaknya tangkapan secara langsung juga berpengaruh terhadap besarnya pendapatan yang diterima hingga nelayan mampu memenuhi  kebutuhan sehari-hari mereka. Hal ini dapat diartikan bahwa kebutuhan-kebutuhan hidupnya tersedia dan mudah dijangkau setiap penduduk sehingga pada gilirannya penduduk yang miskin semakin sedikit jumlahnya.2.      Kajian Literatur       Sukirno (1985:13) mendefinisikan pembangunan ekonomi sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan per kapita penduduk suatu masyarakat meningkat dalam jangka panjang. Definisi tersebut mengandung pengertian bahwa pembangunan ekonomi merupakan suatu perubahan yang terjadi secara terus-menerus melalui serangkaian kombinasi proses demi mencapai sesuatu yang lebih baik yaitu adanya peningkatan pendapatan perkapita yang terus menerus berlangsung dalam jangka panjang.       Maltus menyatakan kenaikan jumlah penduduk yang terus-menerus merupakan unsur yang perlu untuk adanya tambahan permintaan. Tetapi kenaikan jumlah penduduk saja tanpa dibarengi dengan kemajuan faktor-faktor atau unsur-unsur perkembangan yang lain sudah tentu tidak akan menaikkan pendapatan dan tidak akan menaikkan permintaan. Dengan demikian tumbuhnya jumlah penduduk saja justru akan menurunkan tingkat upah dan berarti pula memperendah biaya produksi. Turunnya biaya produksi akan memperbesar keuntungan-keuntungan para kapitalis dan mendorong mereka untuk terus berproduksi. Tetapi keadaan ini hanya sementara saja sifatnya, sebab permintaan efektif (effective demand) akan semakin berkurang karena pendapatan buruh juga semakin berkurang.       Menurut Jhingan (2014) membutuhkan suatu proses perencanaan  yang teliti mengenai  penggunaan  sumberdaya  publik  dan  sektor swasta (misalnya petani, pengusaha kecil, koperasi, pengusaha besar, organisasi- organisasi sosial) harus mempunyai peran dalam proses pembangunan.Sosial ekonomi menurut Abdulsyani (1994) adalah kedudukan atau posisi seseorang dalam kelompok manusia yang ditentukan oleh jenis aktivitas ekonomi, pendapatan, tingkat pendidikan, usia, jenis rumah tinggal, dan kekayaan yang dimiliki.       Menurut Kaare (2009), mengungkapkan status sosial ekonomi merupakan posisi yang ditempati individu atau keluarga yang berkenaan dengan ukuran rata-rata yang umum berlaku tentang kepemilikan kultural, pendapatan efektif, pemilikan barang dan partisipasi dalam aktifitas kelompok dari komunitasnya.Sehingga dapat disimpulkan bahwa status sosial ekonomi adalah tinggi rendahnya prestise yang dimiliki seseorang berdasarkan kedudukan yang dipegangnya dalam suatu masyarakat berdasarkan pada pekerjaan untuk memenuhi kebutuhannya atau keadaan yang menggambarkan posisi atau kedudukan suatu keluarga dilingkungan masyarakat berdasarkan kepemilikan materi.       Selain ditentukan oleh kepemilikan materi, status sosial ekonomi seseorang dapat didasarkan pada beberapa unsur kepentingan manusia dalam kehidupannya, status dalam kehidupan masyarakat, yaitu status pekerjaan, status dalam sistem kekerabatan, status jabatan dan status agama yang dianut.       Dengan memiliki status, seseorang dapat berinteraksi dengan baik terhadap individu lain (baik status yang sama maupun status yang berbeda) bahkan banyak pergaulan sehari-hari seseorang tidak mengenal seseorang secara individu, namun hanya mengenal status individu tersebut. Status sosial ekonomi berkaitan dengan kedudukan dan prestise seseorang atau keluarga dalam masyarakat serta usaha untuk menciptakan barang dan jasa, demi terpenuhinya kebutuhan baik jasmani maupun rohani. Membahas faktor sosial ekonomi, selalu berkaitan dengan beberapa hal dan konsepsi dasamya adalah pendidikan, status sosial, pendapatan, alokasi pendapatan.       Santrock (2007:282), status sosial ekonomi sebagai pengelompokan orang-orang berdasarkan kesamaan karakteristik pekerjaan dan pendidikan ekonomi. Status sosial ekonomi menunjukan ketidaksetaraan tertentu. Secara umum anggota masyarakat memiliki: (1) pekerjaan yang bervariasi prestisenya, dan beberapa individu memiliki akses yang lebih besar terhadap pekerjaan berstatus lebih tinggi dibanding orang lain; (2) tingkat pendidikan yang berbeda, ada beberapa individu memiliki akses yang lebih besar terhadap pendidikan yang lebih baik dibanding orang lain; (3) sumber daya ekonomi yang berbeda; (4) tingkat kekuasaan untuk mempengaruhi institusi masyarakat. Perbedaan dalam kemampuan mengontrol sumber daya dan berpartisipasi dalam ganjaran masyarakat menghasilkan kesempatan yang tidak setara.3.      Metode Penelitian       Bentuk penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, menggambarkan keadaan keadaan/kondisi objektif yang terjadi di suatu daerah pada waktu tertentu. Metode deskriptif menurut Nawawi adalah prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subyek/obyek penelitian (orang perorangan, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat ini berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya (Nawawi 1998:63). Penelitian dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan untuk mengamati aspek-aspek yang mencakup di dalam ruang lingkup penelitian untuk menggambarkan secara tepat kondisi dan objek pada waktu sekarang. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan penentuan beberapa sampel dari populasi masyarakat nelayan.Lokasi penelitian bertempat di desa Sungai Kakap, kecamatan Sungai Kakap, kabupaten Kubu Raya. Penelitian dilakukan mulai dari bulan Desember 2018 sampai Mei 2019. Data merupakan data primer dimana diambil melalui wawarncara dan observasi di lapangan.Analisis deskriptif adalah pengolahan data yang dilakukan melalui pertimbangan-pertimbangan logika dengan menggunakan narasi dari penulis yang sistematis berdasarkan perilaku yang diamati, sedangkan analisis kuantitatif merupakan pengolahan data dengan menggunakan perhitungan matematis seperti penjumlahan, persentase dan angka rata-rata:π          =          TR - TCTR       =          Total Revenue/ PendapatanTC       =          Total Cost/BiayaHasil perhitungan kemudian dijelaskan dan dianalisis secara deskriptif, yaitu penjelasan secara naratif dan argumentatif disertai dengan penjelasan-penjelasan dengan menggunakan tabel.  4.      Hasil dan PembahasanPendapatan bersih adalah nilai total pendapatan setelah dikurangi seluruh biaya, baik biaya tetap (investasi dan penyusutan) maupun biaya variabel (operasional). Untuk menghitung pendapatan bersih dengan rumus menurut Soekartawi dalam Manggabarani (2016) sebagai berikut:π   =          TR – TCTR =         Total Revenue/ PendapatanTC =         Total Cost/BiayaBerdasarkan hasil perhitungan pendapatan kotor atau omzet, biaya biaya tetap dan biaya variabel per bulan maka dapat dihitung pendapatan bersih masing-masing nelayan sebagai berikut:Pendapatan Bersih Berdasarkan Jenis ArmadaNamaPendapatan Kotor (Rp.)Biaya Tetap/ Penyusutan (Rp.)/bulanBiaya Operasional (Rp.)Tenaga Kerja (Rp.)Pendapatan Bersih (Rp.)Sampan1.500.00027.00074.000-1.399.000Motor Tempel2.500.00052.00089.000-2.359.000Kapal  Motor ( GT)0 – 5 GT5.000.00062.500281.0002.000.0002.656.5005 – 10 GT8.000.000100.000381.0004.000.0003.519.00010 – 20 GT10.000.000150.0001.039.0006.000.0002.811.00020 – 30 GT12.000.000184.0001.326.0008.000.0002.490.000 Berdasarkan pada tabel, dapat diketahui besarnya pendapatan bersih nelayan berdasarkan jenis armada yang digunakan yaitu untuk armada sampan sebesar Rp. 1.399.000, motor tempel sebesar Rp. 2.359.000, kapal motor berkekuatan 0 – 5 GT sebesar Rp. 2.656.500, kapal motor berkekuatan 5 – 10 GT sebesar Rp. 3.519.000, kapal motor berkekuatan 10 – 20 GT sebesar Rp. 2.811.000, dan kapal motor berkekuatan 20 – 30 GT sebesar Rp. 2.490.000 per bulan. Setelah pendapatan kotor dikurangi dengan biaya-biaya, penyusutan dan upah buruh, variasi dari pendapatan nelayan dari jenis armada sampan sampai kapal motor berkekuatan 20 – 30 GT tidak terlalu besar. Selisih dari pendapatan yang diperoleh sebesar Rp. 500.000 – Rp. 1.000.000. sedangkan selisih dari pendapatan kotor sebelum dikurangi dengan biaya-biaya, penyusutan serta upah buruh sebesar Rp. 1.000.000 – Rp. 4.000.000. Akan tetapi terdapat perbedaan yang berbanding terbalik untuk armada kapal motor dengan kekuatan mesin 20 – 30 GT yang memiliki pendapatan sebesar Rp. 2.490.000, lebih kecil  dibandingkan dengan kapal motor dengan kekuatan mesin 5 – 10 GT dimana pendapatan bersihnya sebesar Rp. 3.519.000. Hal ini dikarenakan beberapa faktor yang menyebabkan variasi pendapatan serta hasil tangkap tidak sesuai.5.      Simpulan dan Rekomendasia)      Simpulan       Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap nelayan di Desa Sungai Kakap diketahui bahwa pendapatan nelayan tergolong ke dalam pendapatan yang berada di atas rata-rata. Hal ini dikarenakan dari hasil tangkap yang besar setiap kali melaut sehingga setiap hasil penjualan hasil tangkap selalu tinggi.Variasi pendapatan nelayan di Desa Sungai Kakap juga tidak memiliki perbedaan yang signifikan dan berbanding terbalik antara kapal motor, yaitu:Pendapatan nelayan berdasarkan jenis armada dan alat tangkap yang digunakan memiliki perbedaan sebesar Rp. 500.000 – Rp. 1.000.000 per bulan.Pendapatan kapal motor berkekuatan 5 – 10 GT dengan kapal motor 20 – 30 GT lebih besar kapal motor berkekuatan 5 – 10 GT dengan pendapatan sebesar Rp. 3.519.000.Pendapatan bersih yang diperoleh oleh nelayan adalah sebesar Rp. 1.399.000 per bulan untuk pendapatan terkecil. Pendapatan terbesar yang diperoleh adalah sebesar Rp.  3.519.000 per bulan. Hal ini dapat dihitung berdasarkan proporsi biaya operasional setiap kali melaut dihitung dalam satu bulan dan upah buruh yang dikeluarkan per bulannya.Jika dibandingkan dengan penelitian-penelitian terdahulu, masyarakat nelayan di desa Sungai Kakap Kecamatan Sungai Kakap Kabuapten Kubu Raya termasuk ke dalam pendapatan yang cukup tinggi dan berada di atas Upah Minimum Regional (UMR).Pendapatan nelayan di Desa Sungai Kakap yang bervariasi disebabkan oleh beberapa faktor yaitu mesin,armada dan alat tangkap, musim, usia nelayan, pengalaman bekerja sebagai nelayan, serta pendidikan nelayan.b)     SaranBerdasarkan hasil survei dan penelitian di desa Sungai Kakap maka hal yang perlu dilakukan pemerintah dalam meningkatkan produksi dan pendapatan masyarakat nelayan yaitu:Mengurangi variasi pendapatan masyarakat nelayan dengan cara mendistribusikan hasil tangkapan nelayan dengan nilai jual yang sesuai dengan hasil tangkapan dan kualitas ikan.Memberikan solusi dari faktor penyebab terjadi variasi pendapatan masyarakat nelayan dengan cara memberikan program pelatihan bagi masyarakat nelayan yang tergolong kurang mampu.DAFTAR PUSTAKAAbdul M. (2018). “Pengaruh Pendapatan Nelayan Terhadap Gaya Hidup Masyarakat di Desa Gambus Laut Kecamatan Lima Puluh Kabupaten Batubara”. Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sumatra Utara, Medan.Alfian, O (2013). Analisis Tingkat Pendapatan Utama Dan Sampingan Pada Rumah Tangga Perikanan (Rtp) Nelayan Gillnet Di Desa Asinan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. E-Journal UNDIP 2 (2), Tahun 2013, Hlm. 68-79.Asmita S. (2016). “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Nelayan Tangkap di Desa Galesong Kota Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar”. Skripsi. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Makassar.Dahuri, Rokhmin. 2012. Tiga Belas Pedoman Ekonomi Biru. Jakarta Post. 14 Agustus 2012 www.jakartapost.com (diakses pada tanggal 2 Januari 2019).Easterly, William. 2002. The Elusive Quest for Growth. Edisi Pertama. Cambridge, Massahussetts, London, England: MIT Press.Eko, S (2007). Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Nelayan Desa Benua Baru Ilir Berdasarkan Indikator Badan Pusat Statistik. EPP, Volume 2 (4), Tahun 2007, Hlm. 32-36.Febry, S , Ni, W.A , & Ratna, K.D (2013). Kontribusi Pendapatan Nelayan Ikan Hias Terhadap Pendapatan Total Rumah Tangga di Desa Serangan. E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata Volume 2 (4), Oktober 2013. ISSN: 2301-6523.Hendrik, (2011). “Analisis Pendapatan dan Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Nelayan Danau Pulau Besar dan Danau Bawah di Kecamatan Dayun Kabupaten Siak Provinsi Riau”. Jurnal Perikanan dan Kelautan, 16,1 : 21-32.Http://www.depsos.go.id/ (diakses pada tanggal 15 Maret 2019 pukul 21.15 WIB)Http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/29368/ChapterII.pdf;jsessionid=8FB539BD30B899B7E79D3CEFB96AE387?sequence=3 (diakses pada tgl 12 Maret 2019 pukul 23.21 WIB)Karof, A.L (2013). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pendapatan Nelayan Kecamatan Tumpaan, Kabupaten Minahasa Selatan. Jurnal EMBA Volume 1 (4), Desember 2013, Hal. 1748-1759. ISSN 2303-1174.Lovelly, D.D (2016). “Analisis Pendapatan Nelayan Pemilik Payang Di Kecamatan Koto Tangah Kota Padang”. Journal of Economic and Economic Education Volume 5 (47 - 57). ISSN : 2302 – 1590 E-ISSN: 2460 – 190X.Nawawi H. Hadari (1998), Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press.Nawawi H. Hadari (2011), “Metode Penelitian Bidang Sosial,” Yogyakarta, Gadjah Mada University Press.Nicholson, Walter. 2002. Mikroekonomi Intermediate dan Aplikasinya. Edisi Kedelapan. Jakarta : Penerbit Erlangga.Raditya, R (2019). Sistem Informasi Perikanan Tangkap Semarang. Diakses dari http://siptsemarang.blogspot.com/2013/10/armada-penangkapan-ikan-di semarang.htmlRiduwan (2010), Metode dan Teknik Menyusun Tesis, Penerbit Alfabeta Bandung.Runny, N.A (2017). Alat Tangkap Ikan. Diakses dari http://perikanan38.blogspot.com/2017/09/alat-tangkap-ikan.htmlSantrock, John. W, Chusairi Ahmad. 2002. Life-Span Development. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.Satria, Arif. 2002. Sosiologi Masyarakat Pesisir. Jakarta: Pustaka Cidesindo.Sipahelut, Michele, (2010). Analisis Pemberdayaan Masyarakat Nelayan di Kecamatan Tobelo Kabupaten Halmahera Utara. Tesis. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.Sugiyono (2006), Metode Penelitian Bisnis. Jakarta, PT. Elex Media KomputindoSukirno, Sadono (2004), Pengantar Teori Mikroekonomi, Raja Grafindo Persada, Jakarta.Suliyanto (2011), Ekonometrika Terapan: Teori dan Aplikasi dengan SPSS, Andi, Yogyakarta.Supianto, Urep, S.A & Putra, W (2017). “Pengembangan Sektor Ekonomi Daerah Tertinggal di Provinsi Kalimantan Barat”. Jurnal Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan, 6 (3).Widarjono Agus (2009), Ekonometrika, Pengantar dan Aplikasinya, Penerbit Ekonisia Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Yogtakarta

    Analisis Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor Roda Dua Di Kota Pontianak

    No full text
    Judul dari skripsi ini adalah “Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor  Roda Dua di Kota Pontianak . Berdasarkan judul tersebut maka tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui  factor apa saja yang menjadi penyebab tunggakan pajak kendaraan bermotor di Kota Pontianak . Perumusan masalah umum dalam penelitian ini factor-faktor apa saja yang menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi tunggakan pajak kendaraan bermotor.  Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif  . Adapun yang menjadi sasaran penelitian ini adalah pemilik kendaraan bermotor yang menunggak pajak kendaraan bermotor , sampel yang diambil sebanyak 100 orang responden. Sumber data dalam penelitian ini ada dua macam yaitu data sekunder dan data primer serta dari penelitian dan literatur-literatur yang ada . Adapun faktor yang menjadi penyebab penerimaan pajak kendaraan bermotor realisasi penerimaan nya tidak sesuai dengan target yang telah ditentukan , dikarenakan masih  banyak nya wajib pajak yeng menunggak. Faktor yang menjadi terjadinya tunggakan pajak  kendaraan bermotor diantaranya: mengenai pelayanan tempat pembayaran pajak, informasi tentang pajak , rendahnya tingkat kesadaran wajib pajak dan sanksi administrasi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan wajib pajak yang  melakukan tunggakan kendaraan bermotor mereka dengan alasan karena tingkat pendapatan dan pekerjaan wajib pajak serta pelayanan yang diberikan baik itu mengenai tempat pembayaran maupun informasi mengenai pajak. serta kurang tegasnya sanksi yang diberikan.Kata kunci:Pajak ,Penerimaan , Pendapatan,Pelayanan, Sanksi. DAFTAR PUSTAKAArsyad Lincolin 1999. Ekonomi pembangunan. Yogyakarta: STIE YKPN.Bohari, (2010 ) perpajakan edisi revisi 1. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset.Halim, Abdul, 2009, problem desentralisasi dan perimbangan pemerintahan pusat dan daerah.Yogyakarta: Sekolah pasca sarjana UGMHaula Rosdiana,2009. Menggagas Model Proyeksi Penerimaan PKB dan BBNKB, Jurnal ilmiah : FISIP Universitas Indonesia.Herliene Yudhah Altius, Erlina, dan H.B. Tarmizi,2013.  Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor Terhadap Pad Dan Dampaknya Bagi Pengembangan Wilayah  Provinsi Sumatera Utara. Jurnal ilmiah : Fakultas Ekonomi, PWD SPs US.Hoetomo, (2005 ) . perpajakan Edisi–III, BPFE, YogyakartaKalbar dalam Angka.2012. Pontianak: BPS Provinsi Kalimantan BaratKalbar dalam Angka.2013. Pontianak: BPS Provinsi Kalimantan BaratKalbar dalam Angka.2014. Pontianak: BPS Provinsi Kalimantan BaratKalbar dalam Angka.2015. Pontianak: BPS Provinsi Kalimantan BaratKalbar dalam Angka.2016. Pontianak: BPS Provinsi Kalimantan BaratMangkoesoebroto, Guritno, 1993, Ekonomi Publik, Edisi–III, BPFE, YogyakartaMardiasmo,2013. perpajakan edisi revisi . Yogyakarta: Penerbit Andi Offset.Marihot (2010) perpajakan edisi revisi Jakarta: Rajawali Pers.Munir Fuady(2011) Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penerimaan Pajak Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro.Natalia Ester Rompis, Ventje Ilat, Anneke Wangkar,2015. Analisis Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor Terhadap Pendapatan Asli Daerah Provinsi Sulawesi Utara (Studi Kasus Pada Samsat Airmadidi) .jurnal ilmiah : Berkala Ilmiah Efisiensi, Universitas Sam Ratulangi Manado.Nadya Fazriana Haniz, Hadi Sasana. 2013. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penerimaan Pajak Daerah Kota Tegal.Jurnal ilmiah: Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro.Ni Nyoman Pande Ariasih  ,I Made Suyana Utama , I G A P Wirathi.  Pengaruh Jumlah Penduduk Dan Pdrb Per Kapita Terhadap Penerimaan Pkb Dan Bbnkb Serta Kemandirian Keuangan Daerah Provinsi Bali Tahun 1991-2010.Jurnal ilmiah :   Fakultas Ekonomi Universitas Udayana (Unud), Bali,   Indonesia.Primandita dkk (2010) .  Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor Terhadap Penerimaan asli daerah  Provinsi Sulawesi . Jurnal ilmiah : Fakultas Ekonomi.Ratnasari,2016. Analisis Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor Di Provinsi Sulawesi Tenggara. jurnal ilmiah: Universitas Halu Oleo, Kendari.Randi Ilhamsyah  Maria G Wi Endang  Rizky Yudhi Dewantara.2016.   Pengaruh Pemahaman Dan Pengetahuan Wajib Pajak Tentang Peraturan Perpajakan, Kesadaran Wajib Pajak, Kualitas Pelayanan, Dan Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor (Studi Samsat Kota Malang).Jurnal ilmiah:   Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya.Siahaan Pahala Marihot,2010 edisi revisi. cetakan ke 2 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Jakarta: Rajawali Pers.Suhartono Rudy,  Ilyas B Wirawan,2010.Ketentuan Umum dan Tata cara Perpajakan.Jakarta : Salemba Empat.Sugiyono, 2011”Metode penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D”, penerbit Alfabeta, Bandung,.Suparmono, Damayanti Woro Theresia,2010 edisi revisi. Mekanisme dan Perhitungan.Yogyakarta : Andi Offset.Todaro, Michael.P. dan Stephen C Smith. 2006. Pembangunan Ekonomi edisi kesembilan. Jakarta: Erlangga.Vicky Lobrian, Anton Arisman, Icha Fajriana. Pengaruh Penduduk, Kendaraan Bermotor, Dan Pdrb Terhadap Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor Provinsi Sumsel.Jurnal ilmiah: STIE MDP,.Palembang.Yenni Del Rosa1, Ingra Sovita1, Idwar.2016. Analisis Dampak Sektor Pariwisata Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2000 – 2014. Jurnal ilmiah:  Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dharma Andalas.Yuskar Febri Yanti.2014. Analisis Efektivitas Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penerimaan Pajak Kendaraan BermotorDi Sumatera Barat. Jurnal ilmiah: Fakultas Ekonomi Universitas Andalas.   

    Pengaruh Tenaga Kerja, Inflasi , Kurs Dan Suku Bunga Terhadap Investasi Dalam Negeri

    No full text
    ABSTRAK       Penelitian ini bertujuan menguji seberapa besar kemampuan tenaga kerja, inflasi, kurs (nilai tukar) dan suku bunga dalam menjelaskan variasi investasi dalam negeri di Indonesia . Dalam penelitian ini menggunakan variabel bebas berupa tenaga kerja (X1), inflasi (X2), kurs  (X3) dan suku bunga (X4) . Dan untuk variabel terikatnya adalah invstasi dalam negeri (Y), sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari situs resmi Bank Indonesia , BPS, situs resmi BKPM dan Kementrian Perdagangan, yaitu 25 tahun dimulai dari tahun periode 1994 sampai 2018. Penelitian ini menggunkan metode deskriptif dan data analisis menggunkan model regresi linier berganda.Hasil yang diperoleh dalam penelitan ini menunjukan bahwa tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap investasi dalam negeri di Indonesia, Inflasi berpengaruh negatif dan tidak signifikam terhadap investasi dalam negeri di Indonesia, kurs berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap investasi dalam negeri di Indonesia, dan suku bunga berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap investasi dalam negeri di Indonesia. Dilhat dariseberapa besar kemampuan dari tenaaga kerja, inflasi, kurs dan suku bunga terhadap investasi dalam negeri di Indonesia menunjuakn variasi variabel investasi dalam negeri mampu di jelaskan oleh variabel tenaga kerja, inflasi, kurs, dan suku bunga sebesar 85,68 persen dan sisanya 14, 32 persen yang dijelaskan oleh variabel lain yang tidak digunakan dalam penelitian ini.Kata kunci       : Tenaga Kerja, Inlasi, Kurs, Suku Bunga, Investasi Dalam NegeriDaftar Pustaka Achfuda, Vio. (2010).  “Analisis {engaruh Suku Bunga Kredit, PDB, Inflasi dan Tingkat Teknologi Terhadap PMDN Di Indonesia Periode 1986-2008.Skripsi. Universitas Diponegoro , SemarangArsyad, Lincolin. (2010). Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta : UPP STIM YKPN.Badan Koordinasi Penanaman Modal. 1994-2018. Laporan Penanaman Modal Dalam Negeri. JakartaBadan Pusat Statistik. 1994-2018. Laporan Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Menurut Provinsi Dan Jenis Kegiatan.  Jakarta. BI.Badan Pusat Statitik. 1994-2018. Laporan Suku Bunga Kredit Rupiah Menurut Kelompok Bank. Jakarta.BIBank Indonesia. 1994-2018. Laporan Inflasi(indeks Harga Konsumen). Jakarta: BIFirmansyah, Dadang . (2008), Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Investasi Di Indonesia Tahun 1985-2004. Skripsi Ilmu Ekonomi. YogjakartaKementrian Perdagangan .1994-2018. Laporan Nilai Tukar Mata Uang Asing Terhadap Rupiah. JakartaKuncoro, M. (2000). Ekonomi Pembangunan : Teori Masalah dan Kebijakan. Yogyakarta: AMP YKPNKusumaningrum, Adhitya. (2007), Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Investasi Di Provinsi DKI Jakarta. Skripsi Ilmu Ekonomi: Institut Pertanian Bogor.Madura, J. (2000). International Financial Management. USA: South Whesthern, college publishing.Mankiw, N. G. (2000). Teori Makro Ekonomi. Jakarta: Erlangga.Mankiw, N. G. (2006). Makroekonomi. Jakarta: Erlangga.Manurung, Rikki. (2018). Analasis Pengaruh Ekpor, Investasi Asing Langsung, dan Investasi Portofolio terhadap Nilai Tukar Rupiah di Indonesia tahun 2006-2017. JOM FEB. Vol. 1 edisi 1. Universitas Riau Pekan baru.Marina & Amirrudin. Analisis Pengaruh Tingkat Inflasi dan Jumlah Uang Beredar terhadap Nilai Tukar Rupiah Indonesia. Jurnal Ekonomi Pembangunan. UIN Alaudin Makasar.Michael P. Todaro (2004). Pembanguan Ekonomi Dunia Ketiga. Jakarta: Salemba Empat.Mishkin, Frederic S. (2008). Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Keuangan Edisi 8. Jakarta :Salemba Empat.Ni, Made. K.M. (2014). “Pengaruh Tingkat Inflasi, PDRB, Suku Bunga Kredit, Serta Kurs Dollar Terhadap Investasi ”, E-Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol 3 no.3 : 77-87.Nopirin. (1997). Ekonomi Moneter. Buku I. Yogyakarta: BPFE UGMNopirin, Ph.D. (1999). Ekonomi Internasional, Yogyakarta: BPFE.Salvatore, D.(2014).Ekonomi Internasional (Edisi 9). Jakarta :Salemba Empat.Setyowati, Eni & Siti Fatimah. (2007). “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Investasi Dalam Negeri Di Jawa Tengah Tahun 1980-2002”, Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol 8 no.1 : 62-84.Simanjuntak, Payaman. j. (2001). Pengantar Ekonomi Sumberdaya Manusia. Jakarta: LP FE UI.Siregar, Enni. S. (2016). Pengarauh Tingkat Inflasi Terhadap Investasi Daerah Sumatra Utara. Jurnal  Education And Development. Vol. 1, No. 4Sugiono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & B. Bandung : AlfabetaSujarweni, V. Wiratna. (2014). Metode Penelitian: Lengkap, Praktis dan Mudah Dipahami. Yogyakarta : Pustaka Baru Press. Sukirno, Sadono.(2000). Makro Ekonomi Modern Perkembangan Pemikiran dari Klasik Hingga Keynesian Baru, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.Sukirno, Sadono . (2002). Pengantar Teori Mikroekonomi. Jakarta : PT Raja Grafindo PersadaSukirno, Sadono. (2008). Makro Ekonomi: Teori Pengantar. Jakarta : PT Raja Grafindo PersadaTodaro. (2000). Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga Trans Haris Munandar. Jakarta : Erlangga.Ulfa, Maria., Mohd, N.S., & Abubakar, H. (2014). “Penagaruh Nilai Tukar Dan Suku Bunga Terhadap Invesatsi Di Provinsi Aceh”. Volume 2, (No.1) hal: 1-8. Unversitas Syiah Kuala.Yani, Ahmad. (2011). “Pengaruh Investasi Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja di Provinsi Sulawesi Selatan Periode 2000-2009”. Elib.Unicom.ac.id.

    PERAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PENYERAPAN TENAGA KERJA DI KABUPATEN KUBU RAYA

    No full text
    ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran sektor pertanian dalam menyerap tenaga kerja dan menciptakan kesempatan kerja 10 tahun kedepan. Sumber data yang diperoleh dalam penelitian adalah berasal dari data-data yang diperoleh dari BPS Kabupaten Kubu Raya. Teknik analisis data menggunakan angka pengganda tenaga kerja yang ditampilkan dengan menggunakan tabel. Analisis shift share digunakan mengetahui pertumbuhan kesempatan kerja dilihat dari beberapa komponen, dan proyeksi pureforecast untuk memproyeksikan kesempatan kerja 10 tahun kedepan. Peranan sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Kubu Raya yang diamati dengan angka pengganda tenaga kerja menunjukkan selama tahun 2012-2016 mengalami naik turun. Pertumbuhan kesempatan kerja di sektor pertanian Kabupaten Kubu Raya selama tahun 2012-2016 memiliki pertumbuhan positif (tergolong maju). Berdasarkan hasil proyeksi pure forecast, diperoleh hasil proyeksi kesempatan kerja sektor pertanian yang akan meningkat di Kabupaten Kubu Raya pada 10 tahun kedepan. Kata Kunci: Penyerapan, Tenaga Kerja, Sektor Pertanian, Kubu Raya    RINGKASAN 1.      Latar Belakang            Jumlah tenaga kerja di sektor pertanian Kabupaten Kubu Raya yang besar menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang penting di Kabupaten Kubu Raya. Sektor pertanian sebagai pemegang peranan penting dalam perekonomian wilayah diharapkan menjadi sektor yang mampu menyerap tenaga kerja yang banyak. Oleh karena itu, informasi mengenai peranan sektor pertanian dalam menyerap tenaga kerja di Kabupaten Kubu Raya diperlukan dalam perencanaan perluasan kesempatan kerja.2.      Permasalahan     Permasalah dalam penyerapan tenaga kerja ini adalah seberapa besar peran sektor pertanian dalam menyerap tenaga kerja di Kabupaten Kubu Raya apakah mengalami peningkatan serta mampukah menciptakan kesempatan kerja dimasa mendatang dalam upaya meningkatkan perekonomian di Kabupaten Kubu Raya.Tujuan PenelitianMengetahui besarnya peranan sektor pertanian terhadap penyerapan tenaga Kerja wilayah di Kabupaten Kubu Raya.Mengetahui pertumbuhan kesempatan kerja di sektor pertanian di Kabupaten Kubu Raya dilihat dari komponen pertumbuhannya.Melakukan proyeksi jumlah kesempatan kerja di sektor pertanian pada tahun (2026) di Kabupaten Kubu Raya. 3.      Metode PenelitianLokasi PenelitianPenelitian ini dilakukan di Kabupaten Kubu Raya.Sumber DataData Sekunder :Jenis data yang digunakan dalam  penelitian ini adalah data sekunder dengan rentang waktu 5 tahun, yaitu tahun 2012 – 2016 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kubu Raya, Dinas Pertanian Kabupaten Kubu Raya dan Statistik Data Lahan. Data tersebut berupa data tenaga kerja Kabupaten Kubu Raya, data PDRB Kabupaten Kubu Raya, dan luas lahan Kabupaten Kubu Raya.Alat Analisis :Alat analisis yang digunakan adalah angka pengganda tenaga kerja, analisis shift share, dan proyeksi pureforecast yang ditampilkan dengan menggunakan tabel untuk mengetahui peran sektor pertanian dalam nyerap teanag kerja, tata pertumbuhan kesempatan kerja sektor pertanian dari beberapa komponen serta proyeksi kesempatan kerja sektor pertanian 10 tahun kedepan. 4.      Hasil dan pembahasan      Angka pengganda tenaga kerja yang dihasilkan untuk mengetahui seberapa besar peran sektor pertanian dalam meyerap tenaga kerja di Kabupaten Kubu Raya Berfluktuatif, sedangkan pertumbuhan kesempatan kerja sektor pertanian dari beberapa komponen termasuk cepat, dan proyeksi pureforecast menunjukan hasil proyeksi 10 tahun kedepan yang meningkat dalam menyerap tenaga kerja sektor pertanian. 5.      Kesimpulan dan SaranKesimpulanPeranan sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Kubu Raya yang diamati dengan angka pengganda tenaga kerja menunjukkan selama tahun 2012-2016 mengalami naik turun, dan pada tahun 2014 mengalami peningkatan yang paling tinggi dalam menyerap tenaga kerja. Rata-rata angka pengganda yang dihasilkan sebesar 1,9 yang artinya bila terjadi peningkatan kesempatan kerja di sektor pertanian sebesar 1 orang dapat meningkatkan kesempatan kerja keseluruhan sebanyak sebesar hampir 2 orang.Pertumbuhan kesempatan kerja di sektor pertanian Kabupaten Kubu Raya selama tahun 2012-2016 memiliki pertumbuhan positif dengan nilai sebesar 11.801,521 . Pertumbuhan yang positif ini menjadikan sektor ini termasuk kelompok maju. Berdasarkan hasil proyeksi pure forecast, diperoleh hasil proyeksi kesempatan kerja sektor pertanian di Kabupaten Kubu Raya pada tahun 2026 sebesar 828.162 orang atau diperkirakan selama tahun 2017-2026 terjadi peningkatan kesempatan kerja di sektor pertanian sejumlah 706.663 orang dengan rata-rata selama sepuluh tahun menunjukkan peningkatan kesempatan kerja yang terjadi adalah 70.666 orang tiap tahunnya. SaranPerlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang menyebabkan ketidakstabilan peranan sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Kubu Raya. Informasi dalam penelitian ini diharapkan dapat membantu pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan yang tepat dalam usaha memperluas kesempatan kerja. Hasil proyeksi pure forecast, selama tahun 2017-2026 sektor pertanian Kabupaten Kubu Raya diperkirakan mengalami peningkatan kesempatan kerja, sehingga diharapkan pemerintah daerah dapat mengambil suatu  kebijakan yang dapat merealisasikan hal ini agar benar-benar terwujud. Dengan demikian, dimasa yang akan datang sektor pertanian dapat tetap menjadi andalan dalam menyerap tenaga kerja. DAFTAR PUSTAKA Alexandi dan Marshafeni (2013). Penyerapan Tenaga Kerja pada Sektor Pertanian dan Sektor Jasa Pasca Kebijakan Upah Minimum di Provinsi Banten. Jurnal Manajemen & Agribisnis, Vol. 10 No. 2, Juli 2013. Badan Pusat Statistik. (2016). Kubu Raya Dalam Angka. 2013-2016. Kubu Raya. Badan Pusat Statistik. (2016). PDRB 2012-2016. Kubu Raya. Budiharsono, S. (2005). Teknik Analisis Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan.           Pradnya Paramita. Jakarta. Daniel, M. (2002). Pengantar Ekonomi Pertanian. Bumi Aksara. Jakarta Darwanto, H. (2006). Prinsip Dasar Pembangunan Ekonomi Daerah.        http://www.bappenas.go.id. Dewi, Prihanto dan Edy (2016). Analisis Penyerapan Tenaga Kerja pada Sektor     Pertanian di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Jurnal e-Jurnal Ekonomi         Sumberdaya dan Lingkungan Vol. 5. No.1,  Januari – April 2016. Kurniawan, A. (2008). Peranan Sektor Pertanian dalam Penyerapan Tenaga Kerja di          Kabupaten Temanggung. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas         Maret, Surakarta. Rompas, Engka dan Tolosang. (2015), Potensi Sektor Pertanian dan Pengaruhnya  Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja di Kabupaten Minahasa Selatan. Jurnal           Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 15  No. 04  Tahun 2015. Soekarni, M dan Mahmud T. (2000). Studi Kelayakan Ekonomi Pembentukan       Propinsi Baru : Kasus Banten. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan (JEP)     Volume VIII Tahun 2000. Sugihardjo dan Retno, S. (2005). Materi Penunjang Perkuliahan Kependudukan.   Jurusan Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian FP UNS. Surakarta. Suparmoko, M. (2002). Ekonomi Publik untuk Keuangan dan Pembangunan Daerah.        Andi Offset. Yogyakarta. Suwardi (2016). Analisis Kesempatan Kerja Sektor Pertanian di Provinsi Sulawesi Tengah. Jurnal e Jurnal Katalogis, Volume 4 Nomor 6, Juni 2016 hlm 22-32l. Todaro, M. P. (2000). Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Erlangga. Jakarta Wahyuningsih (2015). Sektor Pertanian dan Perannya dalam Penyerapan                Tenaga Kerja di Kabupaten Buru. Jurnal Media Trend Vol. 10 No.2 Oktober     2015, hal. 156-171

    Pengaruh Produk Domestik Bruto, BI Rate, Inflasi, Non Performing Finance, Financing to Deposit Ratio dan Return on Asset terhadap Pembiayaan Bank Umum Syariah di Indonesia

    No full text
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh PDB, BI Rate, Inflasi, NPF, FDR dan ROA terhadap Pembiayaan Bank Umum Syariah di Indonesia. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data Triwulan dari Januari 2008 sampai Desember 2017. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang sumber datanya didapat dari Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik. Penelitian ini menggunakan alat analisis regresi linier berganda dengan metode Uji Asumsi Klasik menggunakan Eviews9.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB), Non Performing Finance (NPF) dan Financing to Deposit Ratio (FDR) berpengaruh signifikan terhadap Pembiayaan. Sedangkan BI Rate, Inflasi dan Return on Asset (ROA) berpengaruh tidak signifikan terhadap Pembiayaan. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa dari 6 variabel tersebut,  variabel internal bank lebih dominan dalam memengaruhi Pembiayaan Bank Umum Syariah di Indonesia.Kata Kunci : PDB, BI Rate, Inflasi, NPF dan Pembiayaan DAFTAR PUSTAKAAbdul Karim, Z et al. (2011). Bank Lending Channel of Monetary Policy: Dynamic     Panel Data Study of Malaysia. Vol 12. No 3. Journal of Asia-Pasific Business, Malaysia. Adebola, Solarin Sakiru et al. (2011). The Impact of Macroeconomic Variables on Islamic Banks Financing in Malaysia. Vol 2. No 2. Research Journal of Finance Accounting, Malaysia. Aldalaien, Baeth Atallah. (2019). The Impact of Islamic Banks on the Gross Domestic Product (GDP): An Empirical Study in Dubai. Vol 14. No 4. International Journal of Business and Management Antonio, Muhammad Syafi’i. (2001). Bank Syariah Dari Teori ke Praktik. Gema Insani Press. Jakarta. Badan Pusat Statistik. (2008-2017). Produk Domestik Bruto. Bank Indonesia. (2008-2017). BI Rate. SEKI-BI. Bank Indonesia. (2008-2017). Inflasi. Moneter. Dwijaya, Putra Agung & Wahyudi, Sugeng. (2018). Analisis Pengaruh Variabel Makro Ekonomi, Dengan Demografi dan Efek Krisis Keuangan Global Sebagai Variabel Kontrol Terhadap Pembiayaan Bank Syariah Di Indonesia (Studi pada Bank Syariah Devisa di Indonesia Periode 2007-2016). Vol 7. No 4. Diponegoro Journal of Management, Semarang. Hulmansyah. Huda, Nurul & Zulihar. (2017). Pengaruh Faktor Ekonomi dan Moneter terhadap Bank Konvensional dan Syariah Tahun 2002-2016. Nahar, Shamsun & Sarker, Niluthpaul. (2016). Are Macroeconomic Factors Substantially Influential For Islamic Bank Financing? Cross-Country Evidence. Vol 18. No 1. IOSR Journal of Business and Management (IOSR-JBM) .Nurbaya, Ferial. (2013). Analisis Pengaruh CAR, ROA, FDR, dan Dana Pihak Ketiga (DPK) terhadap Pembiayaan Murabahah Periode Maret 2001-Desember 2009 (Studi Kasus pada PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk).  Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang.Otoritas Jasa Keuangan. (2008-2017). Statistik Perbankan Syariah. Rifai, Ahmad Syukuri. Susanti, Helmi & Setyaningrum, Aisyah. (2017). Analisis Pengaruh Kurs Rupiah, Laju Inflasi, Jumlah Uang Beredar dan Pertumbuhan Ekspor terhadap Total Pembiayaan Perbankan Syariah dengan Dana Pihak Ketiga sebagai Variabel Moderating. Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah IAIN Salatiga. Rodoni, Ahmad. (2009). Investasi Syariah, Jakarta: UIN Jakarta. Ramelda, Susi. (2017). Pengaruh Suku Bunga Kredit dan Produk Domestik Bruto Terhadap Penyaluran Kredit Perbankan Bank Umum Pemerintah di Indonesia. Vol 4. No 1. JOM Fekon Universitas Riau. Saputra, Kurniawan & Nugroho. (2014).  Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Inflasi di Indonesia Tahun 2007-2012. Vol 3. No 1. Diponegoro Journal of Economics. Shamsun Nahar, & Niluthpaul Sarker. (2016). Are Macroeconomic Factors Substantially Influential For Islamic Bank Financing? Cross-Country Evidence. Vol 18. Issue 6. IOSR Journal of Business and Management. Sodiq, Amirus. (2014). Analisis Pengaruh Inflasi, Produk Domestik Bruto, dan Jumlah Uang Beredar Terhadap Return on Asset Bank Syariah. Vol 2. No 2. Jurnal Ekonomi STAIN, Kudus. Syahbudi, Muhammad & Saragih, Ahmad Ripai. (2018). Pengaruh Variabel Makro Ekonomi Terhadap Pembiayaan Pada Perbankan Syariah Di Indonesia. UIS Sumatera Utara, Medan. Syatiri, Ahmad & Hamdaini, Yulia. (2017). Risiko Kredit, Stabilitas, dan Kebijakan Pembiayaan  Bank Syariah di Indonesia. Vol 15. No 3. Jurnal Manajemen dan Bisnis Sriwijaya Umiyati & Tantri Ana, Leni. (2017). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembiayaan Pada Bank Umum Syariah Devisa di Indonesia. Vol 5. No 1. Jurnal UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Wardiantika, Lifstin & Kusumaningtias, Rohmawati. (2014). Pengaruh DPK, CAR, NPF, Dan SWBI Terhadap Pembiayaan Murabahah Pada Bank Umum Syariah Tahun 2008-2012. Vol 2. No 4. Jurnal Ilmu Manajemen (JIM). Zaenuri, Wahab. (2014).Analisis Pengaruh FDR, NPF,  Tingkat Bagi Hasil, Kualitas Jasa Dan Atribut Produk Islam Terhadap Tingkat Pembiayaan Mudharabah Pada Bank Umum Syari’ah Di Semarang. Vol 5. Edisi 2. UIN Walisongo Journals.DAFTAR PUSTAKAAbdul Karim, Z et al. (2011). Bank Lending Channel of Monetary Policy: Dynamic     Panel Data Study of Malaysia. Vol 12. No 3. Journal of Asia-Pasific Business, Malaysia. Adebola, Solarin Sakiru et al. (2011). The Impact of Macroeconomic Variables on Islamic Banks Financing in Malaysia. Vol 2. No 2. Research Journal of Finance Accounting, Malaysia. Aldalaien, Baeth Atallah. (2019). The Impact of Islamic Banks on the Gross Domestic Product (GDP): An Empirical Study in Dubai. Vol 14. No 4. International Journal of Business and Management Antonio, Muhammad Syafi’i. (2001). Bank Syariah Dari Teori ke Praktik. Gema Insani Press. Jakarta. Badan Pusat Statistik. (2008-2017). Produk Domestik Bruto. Bank Indonesia. (2008-2017). BI Rate. SEKI-BI. Bank Indonesia. (2008-2017). Inflasi. Moneter. Dwijaya, Putra Agung & Wahyudi, Sugeng. (2018). Analisis Pengaruh Variabel Makro Ekonomi, Dengan Demografi dan Efek Krisis Keuangan Global Sebagai Variabel Kontrol Terhadap Pembiayaan Bank Syariah Di Indonesia (Studi pada Bank Syariah Devisa di Indonesia Periode 2007-2016). Vol 7. No 4. Diponegoro Journal of Management, Semarang. Hulmansyah. Huda, Nurul & Zulihar. (2017). Pengaruh Faktor Ekonomi dan Moneter terhadap Bank Konvensional dan Syariah Tahun 2002-2016. Nahar, Shamsun & Sarker, Niluthpaul. (2016). Are Macroeconomic Factors Substantially Influential For Islamic Bank Financing? Cross-Country Evidence. Vol 18. No 1. IOSR Journal of Business and Management (IOSR-JBM) .Nurbaya, Ferial. (2013). Analisis Pengaruh CAR, ROA, FDR, dan Dana Pihak Ketiga (DPK) terhadap Pembiayaan Murabahah Periode Maret 2001-Desember 2009 (Studi Kasus pada PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk).  Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang.Otoritas Jasa Keuangan. (2008-2017). Statistik Perbankan Syariah. Rifai, Ahmad Syukuri. Susanti, Helmi & Setyaningrum, Aisyah. (2017). Analisis Pengaruh Kurs Rupiah, Laju Inflasi, Jumlah Uang Beredar dan Pertumbuhan Ekspor terhadap Total Pembiayaan Perbankan Syariah dengan Dana Pihak Ketiga sebagai Variabel Moderating. Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah IAIN Salatiga. Rodoni, Ahmad. (2009). Investasi Syariah, Jakarta: UIN Jakarta. Ramelda, Susi. (2017). Pengaruh Suku Bunga Kredit dan Produk Domestik Bruto Terhadap Penyaluran Kredit Perbankan Bank Umum Pemerintah di Indonesia. Vol 4. No 1. JOM Fekon Universitas Riau. Saputra, Kurniawan & Nugroho. (2014).  Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Inflasi di Indonesia Tahun 2007-2012. Vol 3. No 1. Diponegoro Journal of Economics. Shamsun Nahar, & Niluthpaul Sarker. (2016). Are Macroeconomic Factors Substantially Influential For Islamic Bank Financing? Cross-Country Evidence. Vol 18. Issue 6. IOSR Journal of Business and Management. Sodiq, Amirus. (2014). Analisis Pengaruh Inflasi, Produk Domestik Bruto, dan Jumlah Uang Beredar Terhadap Return on Asset Bank Syariah. Vol 2. No 2. Jurnal Ekonomi S

    PENGARUH INFLASI SUKU BUNGA SERTIFIKAT BANK INDONESIA (SBI) DAN NILAI TUKAR TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM PROPERTI PADA BURSA EFEK INDONESIA

    No full text
    1. Abstract: This research aims to obtain empirical evidence The Influence of Inflation, Interest Rates on Bank Indonesia Certificates (SBI) and the Exchange Rate Towards the Property Sector's Share Price Index on the Indonesia stock exchange. This research is quantitative research. Data used for this research is secondary data that collected from Indonesia Stocks Exchange’s and Bank Indonesia’s publication that available in internet, reference books, magazines, articles from internet, and the other science literatures related to the research.  The method applied in this research is descriptive analysis and multiple regression analysis.  Hypothesis of this research is  tested by  simultaneous significance test. The result of F test indicates that inflation rates, interest rates, and exchange rates (rupiah to U.S. dollar) simultaneously effect on the stock prices of real estat dan property companies in the Indonesia Stock Exchange. The result of  t test, indicates that partially, inflation rates have positive and significant effect on the stock price, while interest rates have negative and significant effect on the stock price, and exchange rates have positive and significant effect on the stock price.2. Daftar pustakaDarmadji, T., & Fakhruddin, H.M. (2006). Pasar Modal di Indonesia: Pendekatan Tanya Jawab. Jakarta: Salemba Empat.Domar, H. (1957). Model Pertumbuhan Ekonomi. PT. Raja Grafindo  Pustaka, Jakarta. Enre, A. (2011). “Pengaruh Kurs Rupiah-USD, Tingkat Suku Bunga SBI dan        Inflasi Terhadap Indeks Harga Saham Sektoral di Bursa Efek Indonesia”.Tesis. Universitas Sumatera Utara.Ghozali, I. (2002). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, BP UndipHardiningsih, P., Suryanto., Chariri, A.,(2002). “Pengaruh Faktor Fudamental dan Resiko Ekonomi Terhadap Return Saham pada Perusahaan di Bursa            Efek Jakarta : Studi kasus Basic Industry & Chemical”. Jurnal Strategi    Bisnis, vol, 8 Des. Tahun VI.Haryanto, D., & Riyatno. (2007). “Pengaruh Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia dan Nilai Kurs Terhadap Risiko Sistematik Saham Perusahaan di BEI”. Jurnal Keuangan dan Bisnis Vol. 5, No 1. Hal. 14.Husnan, S. (1994). “Dasar-Dasar Teori Portofolio, Edisi kedua”. Unit Penerbitan dan Percetakan AMP YKPN, Jogyakarta.Indriantoro, N., & Supomo, B. (1999). Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi & Manajemen. Yogyakarta: Penerbit BPFE.Khalwaty, T. (2000). Inflasi dan Solusinya. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.Kuncoro, M. (2013). Metode Riset Untuk Bisnis & Ekonomi, Edisi Keempat, Jakarta: Erlangga.Lestari, S. (2010). “Pengaruh Nilai Tukar, Suku Bunga dan Inflasi Terhadap Harga Saham pada Indurtri Rokok di Bursa Efek Indonesia”. Tesis.             Medan: Universitas Sumatera Utara.Madura, J. (2006). Keuangan Perusahaan Internasional, Edisi Kedelapan.             Jakarta : Salemba Empat..Mankiw, G.N. (2003). Teori Makroekonomi. Jakarta: ErlanggaManurung, J.J., & Manurung, A.H. (2009). Ekonomi Keuangan dan Kebijakan Moneter. Cetakan Pertama. Salemba Empat: Jakarta.Manurung, R. (2016). “Pengaruh Inflasi, Suku Bunga dan Kurs Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan Pada Bursa Efek Indonesia”. Jurnal Ekonom, Vol 19, No 4, Oktober 2016Octafia, S.M.  (2013) “Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI, Nilai Tukar, dan Jumlah Uang Beredar terhadap Indeks Harga Saham Sektor Property dan          Real Estate dengan Pendekatan Eror Correction Model”. Jurnal      Manajemen, 2013Pratikno, D, (2009). “Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah, Inflasi, SBI dan Indeks Dow Jones Terhadap Pergerakan IHSG di BEI”. Jurnal Economic Universitas Sumatera Utara Medan.Priadana, M.S., & Saludin, M. (2009). Metodologi Penelitian Ekonomi dan Bisnis. Yogyakata: Graha Ilmu.Purwanto. (2007). Metodologi Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Riyatno. (2007). “Public Accounting Firm Size Effect on Earnings Response Coefficients”. Journal of Financial and Business. Vol. 5. No.2. Oktober.Samsul,  M. (2006).  Pasar Modal dan Manajemen Portofolio,  Edisi Revisi, Erlangga,  JakartaSianturi, G. (2012). “Analisis Pengaruh BI Rate dan Jumlah Uang Beredar (JUB) terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)”. Tesis. Medan:  Universitas Sumatera Utara.Suciwati, D.P & Machfoedz. (2002), “Pengaruh Risiko Nilai Tukar Rupiah terhadap Return Saham: Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di BEJ”, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 17, No. 4: 347-360Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.Sunariyah. (2006). Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Edisi Kelima, UPP        STIM   YKPN, Yogyakarta.Sunyoto, S. (2011). Analisis Regresi untuk Uji Hipotesis. Yogyakarta: Caps.Suyanto. (2007). “Analisis Pengaruh Nilai Tukar Uang, Suku Bunga, dan Inflasi Terhadap Return Saham Sektor Properti Yang Tercatat Di Bursa Efek Jakarta Tahun 2001-2005”. Tesis. Semarang: Universitas Diponegoro.Tandelilin, E. (2001). Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Edisi pertama. Yogyakarta: BPFE Yogyakart.Tandelilin, E. (2010). Portofolio dan Investasi Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Kanisius.Thobarry, A.A. (2009) “Analisis Pengaruh Nilai Tukar, Suku Bunga, Laju Inflasi dan Pertumbuhan GDP Terhadapp Indeks Harga Saham Sektor Properti (Kajian Empiris Pada Bursa Efek Indonesia Periode Pengamatan Tahun 2000-2008)”. Tesis. Semarang: Universitas DiponegoroTobing, R.L. (2009). “ Analisis Pengaruh Nilai Tukar, Inflasi dan Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia Terhadap Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia Periode 2004-2008”. Tesis. Medan: Universitas Sumatera Utara.Utami, M & Rahayu, M. (2003). “Peranan Profitabilitas, suku bunga, inflasi dan nilai tukar rupiah dalam mempengaruhi pasar modal Indonesia selama Krisis Ekonomi”. Jurnal Manajemen & Kewirausahaan Vol. 5 no. 2 September 2003: 123 – 131, Jakarta. Widarjono, A. (2007). Ekonometrika Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Ekonisia FE UII.Zubir, Z, (2011).  Manajemen Portofolio Penerapannya Dalam investasi Saham, Salemba Empat, Jakarta.www.bi.go.idwww.idx.go.i

    DAMPAK PENURUNAN HARGA KARET TERHADAP POLA KONSUMSI DAN POLA PRODUKSI PETANI KARET :DI DESA UNTANG KECAMATAN BANYUKE HULU KABUPATEN LANDAK

    No full text
    Karet merupakan mata pencaharian utama petani di Desa Untang. Dari 490 penduduk berdasarkan kepala keluarga hampir semuanya adalah petani karet yaitu sebanyak 416 petani karet berdasarkan kepala keluarga.  Saat ini harga karet di Desa Untang yaitu Rp.8000/Kg, rendahnya harga karet ini telah terjadi sejak tahun 2014. Penelitian dengan judul “ Dampak Penurunan Harga Karet Terhadap Pola Konsumsi dan Pola Produksi Petani Karet Di Desa Untang Kecamatan Banyuke Hulu Kabupaten Landak”, bertujuan untuk mengetahui dampak penurunan harga karet terhadap pola konsumsi dan pola produksi petani karet di Desa Untang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Adapun sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Landasan teori yang digunakan adalah teori konsumsi Keynes; “bahwa pengeluaran konsumsi masyarakat tergantung dengan tingkat pendapatannya,  dan teori produksi Soekartawi (1990) “ harga dan produktivitas merupakan sumber dari faktor ketidakpastian, sehingga bila harga dan produksi berubah maka pendapatan yang diterima petani juga berubah. Berdasarkan analisa data yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa pada saat harga karet tinggi, produksi karet petani tinggi dan pendapatan juga tinggi, sehingga konsumsi sehari-hari rumah tangga mudah dipenuhi. Kemudian pada saat harga karet rendah, produksi petani karet rendah, dan pendapatan juga sangat rendah, sehingga konsumsi sehari-hari rumah tangga sangat sulit dipenuhi. Dengan keadaan seperti itu, maka petani karet melakukan usahatani jagung. Pendapatan usahatani jagung setelah dikurangi konsumsi sehari-hari rumah tangga, masih memeiliki sisa. Karet merupakan mata pencaharian utama yang telah lama menjadi penopang hidup rumah tangga petani di Desa Untang, budidayanya mudah, dan memberikan pendapatan yang pasti setiap hari, maka petani karet berharap kepada pemerintah agar menaikan harga karet.Kata Kunci: Harga Karet, Pendapatan, Konsumsi, dan Produksi DAFTAR PUSTAKA Ali I. H. (2017). Ekonomi Makro. Depok:Kencana Andriani, N. (2015). Dampak Hasil Produksi Karet Terhadap Pola Konsumsi Petani di Desa Kelayu Kacamatan Suti Semarang Kabupaten Bengkayang.(Skripsi yang tidak dipublikasikan), Universitas Tanjungpura, Pontianak. Djohan, M., & Taufiq.,& Wiwin, P. (2017).  Pengantar Teori ekonomi.Jatirejo: Gosyen Publishing Eugene A. D. (1994). Teori Makro Ekonomi. Jakarta: Penerbit Erlangga Hernanto. (1994). Ilmu Usahatani. Jakarta: Penebar Swadaya Hayet. (2016). Analisis Pengaruh Pertumbuhan Pembiayaan Tenaga Kerja,Investasi Dan Konsumsi pada Perbankan Umum Syariah Terhadap Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalimantan Barat Periode 20199-2013. Jurnal Ekonomi, Bisnis Dan Kewirausahaan, Universitas Tanjungpura. Vol. 5 (1) Ichsan, M. (2018). Pengaruh Fluktuasi Harga Karet (Hevea Brasilliensis)             Terhadap Tingkat Konsumsi Keluarga Petani (Kasus: Desa Sumber           Harapan, Kecamatan Tinggi Raja, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara).   Jurnal Universitas Sumatera Utara. John, W.C. (2010). Pendekatan Kualitatif , Kuantitatif, Dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Kantor Desa Untang. (2018). Sensus Penduduk Juli 2018. Untang: SensusPenduduk Lina, F.S., Dwi, S.A., Cicilia, N.,&Muhammad, S. (2016). Dampak RendahnyaHarga Karet Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Petani Karet Di Sumatera Selatan. Jurnal Nasional yang dipublikasikan, 34 (1) : 119-126. Diakses  dari:http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/ipk/article/view/218/Syarifa%20119-126%2034%201%202016 Paul A. Samuelson & William D. Nordhaus. (1997). Ekonomi. Jakarta: Penerbit            Erlangga Sariyah (2017). Pengaruh Pendapatan Petani Karet Terhadap Biaya Pendidikan            Formal Di Desa Rantau Panjang Kabupaten Kayong Utara. Jurnal Universitas Tanjungpura. Sadono Sukirno (2007). Makro ekonomi modern. Jakarta: PT.Raja Grafindo            Persada  Soekartawi, &  Rusmadi, & Effi, D.  (1993). Risiko Dan Ketidakpastian Dalam Agribisnis (Teori dan Aplikasi). Indonesia: UI-Press. Soekartawi. (1995). Analisis Usahatani. Indonesia: UI-Press Sonny, L. (2013). Penelitian Kualitatif Ilmu Ekonomi. Jakarta:PT.Rajagrafindo Persada Tohir (1991). Manajemen resiko petani karet. Jakarta: PT.Pustaka BinamanPressindoWina, D. F. W. (2013). Penilaian Diri Dan Interaksi NegativeSebagai Faktor Penyebab Ketidakberdayaan Remaja Putus Sekolah. (skripsi), Universitas Pendidikan Indonesia Yulfita, A.,& Wirdatul, J. (2016). Pengaruh Penurunan Harga Karet MentahTerhadap Daya Beli Masyarakat Di Pasar Desa Pasir Jaya. Jurnal Universitas Pasir Pengaraian yang dipublikasikan, 5 (2). Diakses dari : http://e-journal.upp.ac.id/index.php/Cano/article/view/1233/pdf3

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Curvanomic
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇