Riset Informasi Kesehatan
Not a member yet
105 research outputs found
Sort by
Pemanfaatan kitosan dari cangkang kerang bulu (Anadara antiquata) sebagai pengawet ikan pari (Dasyatis sp.) dan udang vaname (Litopenaeus vannamei)
Latar Belakang : Penggunaan senyawa anti mikroba yang tepat dapat memperpanjang umur simpan suatu produk serta menjamin keamanan produk. Untuk itu dibutuhkan bahan sebagai anti mikroba yang alami supaya tidak membahayakan bagi kesehatan. Penggunaan kitosan untuk menghambat aktivitas mikroba pada udang vaname (Litopenaeus vannamei) akan diuji efektivitasnya.
Metode : Pada penelitian ini kitosan yang digunakan sebagai anti mikroba diekstraksi dari cangkang kerang bulu (Anadara antiquata). Kitosan yang diperoleh kemudian digunakan sebagai anti mikroba ikan pari (Dasyatis sp.) dan udang vaname (Litopenaeus vannamei). Kitosan dilarutkan dalam asam asetat dengan variasi konsentrasi kitosan 1%; 1,5%, 2% dan 2,5%. Lama waktu penyimpanan udang: 0 jam, 5 jam, 10 jam, 15 jam dan 20 jam.
Hasil : Kitosan dari cangkang kerang bulu dapat digunakan sebagai pengawet alami ikan pari dan udang vaname. Konsentrasi optimal kitosan yang digunakan sebagai pengawet ikan pari adalah 2% dapat memperpanjang umur simpan ikan selama 15 jam. Sedangkan konsentrasi optimal kitosan yang digunakan sebagai pengawet udang vaname adalah 1,5% dapat memperpanjang umur simpan ikan selama 15 jam.
Kesimpulan : Konsentrasi kitosan cangkang kerang bulu yang paling optimal sebagai pengawet alami ikan pari adalah 2% dapat memperpanjang umur simpan ikan pari selama 15 jam.
 
Factors associated with patient safety implementation based on safety attitudes questionnaire in accredited hospital Jambi City Indonesia
Abstract
Background: The Nursing service are influenced by the behavior nurses in implementation of patient safety the Contributes to adverse event or incident patient safety in accredited public hospital. This study aims to analyses most dominant determinant factors associated with patient safety implementation based on safety attitudes questionnaire (SAQ) in accredited hospital.
Methods: This study is a cross sectional study with quantitative method conducted on nurses who work in accredited hospital. Samples of 190 nurses were included in this study by using proportional random sampling technique. The data were analyzed by using multiple logistic regression with backward LR method.
Results: Total 190 participant were (22.1%) males and 148 (77.9%) females. Most participant had completed Diploma of vocational education 157 (82.6%). The most dominan factors associated with implementation of patient safety base on Safety Attitude Questionnaire is the work environment factor (p 0.001; OR 3.187).
Conclusion: It is proven that a good work environment factor will improve the behavior of nurses in implementing patient safety. This research recommends to develop policy toward evaluation effort of implementation patient safety, as well as evaluation of all nursing procedures in terms of patient safety consideration to external or internal work environment.
Key Word: Accredited Hospital; Patient Safety; Safety Attitude Questionnaire (SAQ), Work Environmen
Pengaruh Intervensi Model Adaptasi Paska Stroke (IMAPS) terhadap efikasi diri pasien paska stroke
Latar Belakang: Perubahan fisik menyebabkan terjadinya gangguan psikologis sehingga dapat menimbulkan perubahan efikasi diri. Peningkatkan efikasi diri akan membangkitkan kepercayaan, harga diri dan semangat pasien untuk sembuh. Dengan begitu klien tidak akan merasa malu dengan keadaannya sekarang, menerima semua cobaan yang dihadapinya dengan ikhlas dan lapang dada. Intervensi Model Adaptasi Paska Stroke (IMAPS) ditujukan untuk mengurangi disabilitas dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Kualitas hidup yang optimal dapat dicapai ketika pasien mampu mempertahankan integritas dirinya dalam rentang normal. Integritas diri yang adekuat ditunjang oleh kemampuan pasien untuk beradaptasi terhadap berbagai stimulus yang dialaminya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh IMAPS terhadap efikasi diri pada pasien paska stroke.
Metode: Penelitian yang akan dilakukan merupakan penelitian kuantitatif dengan desain eksperimen semu (quasy experiment) pre-post test without control group. Instrumen penelitian menggunakan The stroke Self-Efficacy Questionnaire terdiri dari 13 item pertanyaan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi IMAPS efektif dilakukan untuk meningkatkan efikasi diri pasien paska stroke dengan nilai p-value 0,014. Karena nilai p<0,05, secara statistik terdapat perbedaan yang bermakna antara sebelum dengan sesudah pemberian intervensi IMAPS.
Kesimpulan: Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa IMAPS berpengaruh terhadap efikasi diri pasien paska stroke. Efikasi diri pasien paska stroke mengalami peningkatan yang bermakna antara sebelum dengan sesudah pemberian Intervensi Model Adaptasi Paska Stroke (IMAPS).
 
Efektivitas pencucian luka menggunakan daun jambu biji terhadap tingkat malodor klien luka kaki diabetik
Abstrak
Latar belakang: Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit kronik dan menjadi masalah global. Salah satu komplikasi yang ditimbulkan dari DM adalah luka kaki diabetic. Langkah awal dalam perawatan luka kaki diabetic adalah mencuci luka. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keefektifan dari rebusan daun jambu biji sebagai cairan pencuci luka terhadap tingkat malodor pada luka kaki diabetic.
Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah quasy experiment dengan rancangan one group pretests-posttest only. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling dengan jumlah sampel 16 orang. Kriteria sampel yang digunakan adalah klien luka kaki diabetic, tingkat malodor 1-10 dengan NRS. Alat ukur yang digunakan adalah Numeric Rating Scale (NRS). Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji paired t test.
Hasil: tingkat malodor sebelum intervensi pencucuan luka menggunakan rebusan daun jambu biji rata-rata sebesar 4.40 dan sesudah intervensi sebesart 2.44 dengan p value < 0.001. Selisih tingkat malodor antara sebelum dan sesudah intervensi sebesar 1.96. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa daun jambu dapat digunakan sebagai cairan pencuci luka dalam mengatasi tingkat malodor pada luka kaki diabetik.
Kesimpulan : daun jambu biji dapat digunakan sebagai cairan pencuci luka pada luka kaki diabetic. Perawat diharapkan dapat memanfaatkan daun jambu biji sebagai salah satu alternatif dalam pencucian luka kronik khususnya luka kaki diabetik.
Kata kunci: Daun Jambu Biji, Tingkat Malodor, Luka Kaki Diabetik
Abstract
Background: Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease and a global problem. One of the complications that arise from DM is diabetic foot ulcer. The first step in treating diabetic foot ulcer is washing the wound. The purpose of this study was to determine the effectiveness of guava leaf decoction as a washing fluid for malodor levels in diabetic foot ulcer.
Method: The research design used was quasy experiment with one group pretests-posttest only design. The sampling technique used was consecutive sampling with a sample of 16 people. Sample criteria used were diabetic foot ulcer clients, malodor level 1-10 with NRS. The measuring instrument used is the Numeric Rating Scale (NRS). Analysis of the data used in this study used paired t test.
Results: the level of malodor before intervening in wound washing using guava leaf decoctions on average was 4.40 and after the intervention was 2.44 with p value <0.001. The difference in the level of malodor between before and after the intervention was 1.96. The results of this study indicate that guava leaves can be used as a washing fluid in dealing with malodor levels in diabetic foot ulcer.
Conclusion: Guava leaves can be used as a washing fluid for diabetic foot wounds. Nurses are expected to be able to use guava leaves as an alternative in washing chronic wounds, especially diabetic foot injuries.
Key words: Guava Leaf, Malodor Level, Diabetic foot ulcer
Uji kelembapan krim kolagen cangkang kerang darah (Anadara granosa) dan kerang hijau (Mytilus viridis) pada kulit tikus putih (Rattus novergicus) jantan
Latar Belakang : Pemanfaatan hasil laut di Kendal sudah maksimal, tetapi pemanfaatan limbah belum maksimal untuk kebutuhan penghasilan sehari-hari. Masyarakat pesisir hanya mengkonsumsi daging kerangnya dan tidak memanfaatkan limbah dari cangkang kerang. Kandungan didalam cangkang kerang berupa Ca + C 98,7%, Mg 0,0476%, Na 0,9192%, P 0,0183%, K 0,0398% dan lebih dari 71% protein kulit adalah kolagen. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan cangkang kerang darah dan cangkang kerang hijau uji fisik krim kolagen cangkang kerang darah (Anadara granosa) dengan cangkang kerang hijau (Mytilus viridis) terhadap kulit tikus putih (Ratus novergicus) jantan.
Metode : Penelitian eksperimental laboratorik dengan menggunakan rancangan penelitian post test control design berupa post only design yang terbagi menjadi 5 kelompok perlakuan dengan masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor tikus putih (Rattus novergicus) jantan. Kelompok kontrol negatif dengan pemberian basis krim dan kelompok uji dengan pemberian krim kolagen cangkang kerang darah (Anadara granosa) dengan cangkang kerang hijau (Mytilus viridis) konsentrasi 1%, 5%, 10% dan 15%. Parameter yang diamati adalah tingkat kelembaban kulit. Hasil analisa statistik menggunakan uji ANOVA didapatkan hasil tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0,05) untuk kelompok uji konsentrasi 10% dan 15%.
Hasil : Krim kolagen cangkang kerang darah (Anadara granosa) dan cangkang kerang hijau (Mytilus viridis) dapat memberikan efek sebagai pelembab pada kulit tikus.
Kesimpulan : Konsentrasi yang paling optimal sebagai efek pelembab pada kulit tikus yaitu konsentrasi 15%
 
Perilaku pencarian dan pengobatan pasien tuberculosis di Kota Bengkulu
Latar Belakang: Penemuan kasus yang tidak efisien menjadikan batu sandungan dalam keberhasilan penemuan kasus TB khususnya dalam hal pola pencarian pengobatan dimana beberapa terjadi keterlambatan dalam pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pencarian pengobatan selama masa pre treatment, treatment, dan strategy coping yang dilakukan oleh pasien TB di kota Bengkulu.
Metode: Menggunakan studi dengan pendekatan cross sectional pada pasien TB Paru yang berobat di Puskesmas se-Kota Bengkulu. Teknik pengambilan sample menenggunakan metode Probability Proprotional to Size dan diperoleh sample sebanyak 71 orang.
Hasil: Karakteristik responden 53.5% berusia di atas 43 tahun, 53.5% berjenis kelamin laki-laki, 46.5% tingkat pendidikan SLTA dan lainnya, 87.3% bekerja pada sektor informal, 50.7% memiliki jaminan kesehatan, 59.1% memilki penghasian rendah. Perilaku pengobatan selama masa pre treatment 53.5% mengunjungi fasilitas kesehatan swasta,. Faktor jarak dan waktu tunggu yang lama menjadi alasan pasien tidak mengunjungi puskesmas/RS umum. Selama masa treatment pada fase intensif dan lanjutan frekuensi waktu kunjungan 53.5% setiap 2 minggu sekali, dengan total waktu kunjungan kurang dari 60 menit, menggunakan kendaraan pribadi, 50.8% izin /libur bekerja saat mengambil obat dengan ditemani anggota rumah tangga sebagai bentuk dukungan keluarga terhadap pasien. Pengeluaran kesehatan yang timbul akibat TB 60.6% bersumber dari pasien sendiri. 33.3% melakukan usaha coping dengan meminjam 30.4% dan menjual asset (13%). 47.6% pinjaman berasal dari keluarga dekat dengan nilai rata-rata pinjaman kurang dari satu juta rupiah.
Kesimpulan: Perilaku pencarian dan pengobatan pasien TB di Kota Bengkulu menunjukkan pasien tidak langusng mendatangi fasilitas kesehatan umum saat gejala TB dirasakan, sehingga terjadi keterlambatan dalam pencarian pengobatan selain itu keterbatasan sumber daya mengakibatkan rumah tangga melakukan coping strategy untuk membiayai TB melalui penjualan aset dan pinjaman.
Kata Kunci: Coping Strategy, Perilaku Pencarian Pengobatan, Pre Treatment, Treatmen
Toksisitas kombinasi ekstrak etanol 70% daun petai cina (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) dan kulit jengkol (Archidendron jiringa (Jack) I.C.Nielsen) dengan metode Brine Shrimp Lethality Test
Latar Belakang: Daun Petai cina dan kulit jengkol merupakan tumbuhan suku polong-polongan yang mengandung senyawa bahan alam seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan triterpenoid. Senyawa bahan alam tersebut diduga berpotensi sebagai antikanker.Uji toksisitas digunakan untuk mendeteksi potensi senyawa antikanker.Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan nilai toksisitas dari kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol.
Metode:Proses ekstraksi menggunakan daun petai cina dan kulit jengkol yang digunakan secara berturut-turut 1:1, 1:3, 1:5, 1:7, dan 1:9. Metode toksisitas yang digunakan adalah Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)dengan hewan uji Artemia salina L. Parameter yang diukur adalah nilai lethal concentration (LC50).
Hasil:Nilai LC50 yang diperoleh dari kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol 1:1, 1:3, 1:5, 1:7 dan 1:9 secara berturut-turut sebesar 85.27, 30.41, 21.76, 14.06 & 1.358 ppm. Hasil penelitian ini menunjukkan semua kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol termasuk dalam kategori sangat toksik.
Kesimpulan:Kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol memberikan efek sangat toksik yang diduga berpotensi sebagai antikanker
Potensi Lidah Mertua Dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Salmonella sp Dan Staphylococcus aureus
Abstrak
Latar Belakang : Lidah mertua (Sansevieria trifasciata Prain) sering dikenal dengan nama Snake plant (tanaman ular) merupakan kelompok tanaman yang dibudidayakan masyarakat sebagai tanaman hias. Telah banyak penelitian yang dilakukan terhadap daun dan rhizome Sansevieria trifasciata Prain ini menunjukkan adanya kandungan senyawa yang memiliki aktivitas farmakologi, yaitu saponin, tannin, flavonoid, dan glikosida. Ekstrak tanaman ini memberikan aktivitas antibakteri, antialergi, antianafilaksis. Dari studi literatur kebanyakan penelitian dari tanaman Sansevieria trifasciata Prain menggunakan ektraks daun maupun rhizome. Berdasarkan hal tersebut maka pada penelitian ini dilakukan pengujian fraksi non polar, semi polar dan polar daun Sansevieria trifasciata Prain untuk menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella sp dan Staphylococus aureus.
Metode : Proses penyarian tanaman Lidah mertua melalui proses maserasi selama 3 hari dengan 3 kali pengulangan dengan pelarut etanol. pengujian antibakteri menggunakan metode difusi cakram. Penelitian ini menggunakan konsentrasi 30%, 40%, 50%, 60% dan kontrol positif kloramfenikol.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi n-heksana dan fraksi n- butanol menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella sp dan Staphylococus aureus sementara fraksi etil asetat tidak memberikan aktivitas antibakteri. Fraksi n-butanol mampu menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella sp dan Staphylococcus aureus lebih besar dibandingkan fraksi lainnya. Fraksi n-butanol mampu menghambat pertumbuhan bakteri dimulai konsentrasi 30%. Hal ini dikarenakan fraksi n-butanol mengandung senyawa aktif antibakteri lebih banyak.
Kesimpulan : Fraksi n-butanol mampu menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella sp dan Staphylococcus aureus lebih besar dibandingkan fraksi lainnya. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak maka semakin besar zona bening yang terbentu
Dukungan keluarga dapat meningkatkan kemampuan activity of daily living pada pasien pasca stroke
Abstrak
Latar Belakang: Stroke merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu diperhatikan karena angka prevalensinya yang tinggi dan akibat jangka panjang yang ditimbulkan. Stroke menimbulkan beberapa dampak yaitu menimbulkan kecacatan yang dapat mempengaruhi atau mengganggu seseorang dalam melakukan activity of daily living (ADL) sehingga dibutuhkan dukungan keluarga agar pasien stroke dapat melakukan aktivitas sehari-harinya. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian tentang hubungan dukungan keluarga dengan kemandirian activity of daily living pada pasien pasca stroke.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita stroke yang berobat di ruang poli saraf, sampel yang diambil sebanyak 86 pasien pasca stroke. Penelitian ini dilakukan di ruang poli saraf RSUD H. Abdul Manap Jambi pada 03 – 22 Desember 2018 dengan menggunakan instrumen kuesioner. Analisis data yang digunakan Chi square.
Hasil: Berdasarkan analisis univariat dari 86 responden, didapatkan hasil dukungan keluarga baik sebanyak 48 responden (55,8%) dan kemandirian activity of daily living terbanyak yaitu tingkat ketergantungan sedang sebanyak 66 responden (76,7%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan kemandirian activity of daily living dengan nilai p-value = 0,026 (p<0,05).
Kesimpulan: Dalam penelitian ini yaitu terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan kemandirian activity of daily living.
Kata kunci : Stroke, Keluarga, Activity of Daily Living
 
Feeding practices in stunting children aged 24-59 months at Sukamukti Community Health Centre Garut Regency
Stunting is one of the nutritional problems which has become a global concern. Stunting can be caused by various factors, one of which is the inadequacy of feeding practices. This study aims to describe feeding practices in stunting children. This research used a retrospective method. The study was conducted on 50 respondents. The research was carried out in May 2019 with ethical licensing numbered 509/UN6.KEP/EC/ 2019. Data were analyzed using item analysis. The results showed that there was 32% did not get IMD or early initiation of breastfeeding, 84% did not get exclusive breastfeeding, 46% was not breastfeed until the age of two years, 6% was not been given MP-ASI or weaning food at the age of 6-8 months , 34% did not meet the minimum dietary diversity (MDD), 36% did not meet the minimum meal frequency (MMF), 56% did not meet the minimum acceptable diet (MAD), and 100% consumed iron-containing foods. The conclusion of this research is that feeding practices in children at the age of 0-23 months is still less than optimal.