Riset Informasi Kesehatan
Not a member yet
    105 research outputs found

    Faktor Obesitas dan Faktor Keturunan Dengan Kejadian Kasus Diabetes Mellitus

    Full text link
    Latar Belakang: Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan masalah yang substansi, mengingat pola kejadian sangat menentukan status kesehatan disuatu daerah dan juga keberhasilan peningkatan status kesehatan disuatu negara. Diabetes Mellitus adalah salah satu penyakit yang tidak menular.  DM merupakan penyakit yang erat kaitannya dengan kadar glukosa di dalam darah, dikarenakan tubuh tidak dapat melepaskan insulin secara adekuat. WHO memprediksi, Indonesia akan mengalami peningkatan kasus DM 8.4 juta pada tahun 2000 menjadi 21.3 juta pada tahun 2030. NTB merupakan salah satu Provinsi yang memiliki angka DM cukup tinggi yakni 53.139 penderita DM pada tahun 2018.Beberapa faktor yang mempengaruhi peningkatan kasus DM adalah faktor usia, genetik, obesitas, dan kebiasaan merokok. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa faktor usia lebih banyak berperan pada kasus DM. 90% orang dewasa memiliki potensi terpapar DM. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi beberapa faktor penyebab DM yang dalam hal ini menitik beratkan pada obesitas dan genetik atau keturunan terhadap peningkatan kasus DM di Puskesmas Banyumulek Kabupten Lombok Barat, NTB.   Metode: Rancang bangun penelitian yang digunakan adalah penelitian survey dengan melakukan observasi dan pengumpulan data dengan sistem wawancara dan kuesioner. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor obesitas lebih dominan sebagai penyebab peningkatan kasus DM dibandingkan dengan faktor genetik atau keturunan. Faktor obesitas memiliki odd ratio (OR) sebesar 92.5, yang berarti obesitas memiliki tingkat resiko 92 kali lebih besar daripada yang tidak menderita obesitas. Kesimpulan: Terlihat bahwa obesitas erat kaitannya dengan peningkatan risiko DM. Intervensi seperti menurunkan berat badan, mencapai aktivitas sedang, dan menjaga pola hidup penting untuk diterapkan

    Kesehatan mental masyarakat selama pandemi covid-19: Literatur review

    Full text link
    Latar Belakang: Pandemi Covid-19 berpengaruh terhadap perubahan rasa khawatir, takut, panik, tertekan, dan depresi pada kalangan masyarakat. Tujuan dari penulisan ini yaitu mengetahui tingkat kesehatan mental masyarakat akibat pandemi Covid-19. Metode: yang digunakan berupa pencarian database pada Science Direct, PubMed, dan Google Scholar dengan kata kunci Covid-19, kesehatan mental pada masyarakat dan pandemi. Systematic review ini menggunakan 16 artikel dengan kriteria yaitu terbit pada tahun 2020-2021 dengan naskah lengkap, berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris.  Hasil: penelitian menunjukan bahwa terdapat perubahan kesehatan mental masyarakat akibat pandemi Covid-19. Masyarakat berisiko tinggi terkena depresi akibat pemberlakuan pembatasan fisik, pembatasan sosial dan karantina. Kesimpulan: Penatalaksanaan pandemi covid-19 hendaknya memperhatikan aspek kesehatan mental, sehingga kebutuhan manusia secara holistik terpenuhi

    Faktor yang berhubungan dengan kecemasan terinfeksi covid-19 pada tenaga kesehatan di Puskesmas Kota Pontianak

    Full text link
    Abstract Background : Covid-19 is still a health problem in West Kalimantan. One of the cities with the highest contributor to Covid-19 cases is Pontianak City. Covid-19 sufferers in Pontianak City have spread to various groups including health workers who are at the forefront of handling Covid-19. Health workers, especially doctors and nurses, are the group most at risk of contracting Covid-19 during their activities in health care facilities (fasyankes). The increasing number of Covid-19 cases in the general public can trigger anxiety in health workers. This anxiety can have an impact on work productivity and decrease the immunity of health workers. This study aims to determine the factors associated with anxiety about Covid-19 infection among health workers at the Pontianak City Health Center.Method : This type of research is a quantitative (analytic observational) study with a cross sectional design. The number of samples was 87 health workers (doctors and nurses) in Pontianak City puskesmas who were taken through accidental sampling technique. Data collection is done by retrieving data online using google formular. Data were analyzed bivariately with the Ch-Square test.Results : The results showed that there was no relationship between the age of the respondent (p value = 0.183 and the gender of the respondent (p value = 0.197) and the anxiety of being infected with Covid-19 among health workers at health centers in Pontianak City. ), the application of 3M (p value = 0.006) and a history of illness (p value = 0.039) with anxiety about being infected with Covid-19 among health workers at the Pontianak City Health Center.Conclusion : Based on the results of research that has been done, it proves that the factors associated with anxiety about Covid-19 infection in health workers at Pontianak City puskesmas are completeness of PPE, application of 3M and history of disease. It is hoped that there will be an evaluation of PPE provided for health workers and there is a need for monitoring in the use of PPE and consistency in the application of 3M during working time.Key words: Covid-19, Anxiety, Health Workers, Puskesma

    Efektifitas Posisi Miring Kiri dan Setengah Duduk Terhadap Kemajuan Persalinan Kala Satu Fase Aktif Pada Ibu Primigravida di Ruang Bersalin RSUD Raden Mattaher

    Full text link
    Latar Belakang : Mortalitas janin salah satunya disebabkan oleh perpanjangan kala I, yaitu akibat panggul sempit dan bayi besar, akibatnya penurunan kepala lambat sehingga janin menjadi distress dan jika tidak segera ditangani maka bayi tersebut akan meninggal. Maka dari itu, upaya yang dilakukan agar proses persalinan kala I fase aktif lancar terutama pada ibu hamil primipara adalah peran bidan menganjurkan atau mengarahkan  posisi ibu ke posisi miring kiri dan posisi setengah duduk, sehingga terasa nyaman dan membantu mempercepat pembukaan serviks serta penurunan kepala. Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian analitik observasional dengan desain quasi eksperiment. Sampel penelitian adalah ibu bersalin primigravida di ruang bersalin RSUD Raden Mattaher dengan jumlah sampel sebanyak 40 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Sampel dibagi 2 kelompok yaitu 20 orang sebagai kelompok (kontrol) posisi setengah duduk dan 20 orang kelompok (eksperimen) posisi tidur miring kiri.Teknik pengumpulan data dengan menggunakan lembar partograf untuk mengobservasi lamanya kala I fase aktif. Analisis data penelitian ini dilakukan secara univariat dan bivariat dengan menggunakan t-test independent. Hasil : Sebesar 75,0% responden inpartu kala I posisi miring kiri dengan lama persalinan ≤ 6 jam yaitu 211,70 menit (3,52 jam) dan 50,0% responden inpartu kala I posisi setengah duduk dengan lama persalinan ≥ 6 jam yaitu 323,25 menit (5,38 jam). Hasil analisis bivariat diperoleh nilai p=0,023 sehingga menunjukkan ibu yang diberi posisi miring kiri lebih efektif dibandingkan dengan posisi setengah duduk terhadap percepatan kemajuan persalinan kala I fase aktif. Kesimpulan : Posisi miring kiri lebih efektif jika dibandingkan dengan posisi setengah duduk terhadap percepatan kemajuan persalinan kala I fase aktif. &nbsp

    Determinan tingginya unmet need Keluarga Berencana; Studi kasus di Kecamatan Kumun Debai Provinsi Jambi

    Full text link
    Abstrak   LatarBelakang:Angka Unmet need KB adalah persentase wanita menikah yang tidak menginginkan anak lagi atau ingin menjarangkan kelahirannya, namun tidak memakai alat kontrasepsi. Angka unmet need KB di kota Sungai Penuh Provinsi Jambi tahun 2019 masih tinggi sebesar 16,7%, dan salah satu kecamatan yang berkontribusi adalah kecamatan Kumun Debai sebesar 20,96%. Tujuan:Menganalisis faktor determinan tingginya angka unmet need di Kecamatan Kumun Debai. Metode:Penelitiankuantitatifdesaincross sectionaldilakukan terhadap 149 responden yaitu pasangan usia subur (PUS) yang terpilih secara proportional random sampling. Variabel terikat adalah kejadian unmet need, sedangkan variabel bebas adalah usia, pendidikan, paritas, pengetahuan dan dukungan suami. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji statistik chi square. Hasil:Proporsi kejadian unmet need KB sebesar 55% dan faktor yang berhubungan adalah usia (p= 0,010), pendidikan (p= 0,000), pengetahuan (p= 0,010), dan dukungan suami (p= 0,002), sedangkan paritas tidak berhubungan dengan kejadian unmet needKB. Kesimpulan:Puskesmas perlu meningkatkan upaya KIE KB terhadap PUS dan membentuk kader KB di setiap desa. bagi PUS disarankan untuk aktif mencariinformasi tentang KB dan kontrasepsi, serta meningkatkan peran suami dalam mendukung istri ber-KB

    Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan protokol kesehatan dan kesediaan mengikuti vaksinasi COVID-19 di Kota Medan

    Full text link
    Abstrak   Latar Belakang: Mengenali faktor apa saja yang berkembang dan mempengaruhi perilaku masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan dan pandangan masyarakat akan program vaksinasi pemerintah menjadi sangat penting di era pandemi ini. Informasi tersebut dapat dijadikan senjata utama untuk mengubah perilaku masyarakat dan mengendalikan pandemi dalam jangka waktu singkat maupun panjang. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan protokol kesehatan dan kesediaan mengikuti program vaksinasi COVID-19 di Kota Medan. Metode: Penelitian ini dilakukan pada April-Agustus 2021 menggunakan desain kuantitatif, menggunakan pendekatan Cross Sectional, dengan sampel sebanyak 385 responden. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor karakteristik responden yang mempengaruhi tingkat kepatuhan protokol kesehatan dan kesediaan mengikuti program vaksinasi. Hasil analisis multivariat untuk tingkat kepatuhan protokol kesehatan didapatkan nilai p-value, variabel jenis kelamin p-value = 0,199, variabel usia p-value = 0,877, variabel tingkat pendidikan p-value = 0,000, variabel status pekerjaan p-value = 0,133, variabel riwayat penyakit kronis p-value = 0,222, variabel konsumsi herbal p-value = 0,454, dan variabel memiliki kerabat dengan riwayat COVID-19 p-value = 0,804. Hasil analisis multivariat untuk tingkat kesediaan divaksinasi COVID-19 didapatkan nilai p-value, variabel jenis kelamin p-value = 0,036, variabel usia p-value = 0,030, variabel tingkat pendidikan p-value = 0,000, variabel status pekerjaan p-value = 0,001, variabel riwayat penyakit kronis p-value = 0,793, variabel konsumsi herbal p-value = 0,972, dan variabel memiliki kerabat dengan riwayat COVID-19 p-value = 0,013. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan secara antara tingkat pendidikan terhadap kepatuhan protokol kesehatan COVID-19, serta terdapat pula hubungan yang signifikan secara antara jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan memiliki kerabat dengan riwayat COVID-19 terhadap kesediaan mengikuti program vaksinasi COVID-19.   Kata kunci: Kepatuhan, Protokol Kesehatan, Vaksinasi, COVID-1

    Uji efek antipiretik infusa daun sungkai (Peronema canescens) pada mencit putih jantan (Mus musculus)

    Full text link
    Latar Belakang: Indonesia adalah Negara dengan iklim tropis yang mana memiliki kekayaan alam tumbuh-tumbuhan di Indonesia meliputi lebih kurang 30.000 jenis tumbuh-tumbuhan diantaranya adalah tumbuhan yang berkhasiat obat. Pada sekarang ini masih banyak terdapat tumbuhan yang berkhasiat obat tumbuh secara liar dan belum dimanfaatkan. Salah satu tumbuhan obat yang memiliki khasiat untuk menurunkan demam atau antipiretik adalah Sungkai (Peronema canescens). Rumusan masalah dari penelitian ini apakah infusa daun Sungkai (Peronema canescens) memiliki efektifitas sebagai antipiretik terhadap mencit putih jantan yang sudah diinduksi dengan menggunakan pepton. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh efek antipiretik infusa daun Sungkai (Peronema canescens) terhadap mencit putih jantan. Dari hasil penelitian sebelumnya, diketahui bahwa daun muda Peronema Canescens adalah bahan baku obat herbal yang dapat digunakan untuk menurunkan panas atau demam. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian Pra Eksperimen dengan menggunakan desain penelitian The Static-grup Comparison yakni jenis penelitian eksperimen yang membuat dua kelompok objek penelitian yaitu satu kelompok untuk kontrol dan satu kelompok lagi yang menerima intervensi atau perlakuan. Penelitian ini menggunakan sebanyak 25 ekor mencit putih jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok, 2 kelompok untuk kelompok kontrol positif paracetamol dan negatif Na-CMC 5%,  3 kelompok lagi untuk dilakukan perlakuan dengan dosis 10%, 20% dan 30%. Hasil: Terdapat ada pengaruh yang signifikan pada pemberian dosis infusa daun sungkai (Peronema canescens) terhadap suhu tubuh mencit (Mus musculus) pada saat 30, 60, 90 dan 120 menit setelah diberikan perlakuan. Kesimpulan: Pemberian infusa daun sungkai dengan dosis 10% dan 20% menurunkan suhu tubuh mencit lebih efektif

    Teknik pernapasan buteyko terhadap peningkatan nilai arus puncak ekspirasi penderita asma

    Full text link
    Asma merupakan penyakit jalan napas yang tak dapat pulih dengan episode berulang namun dapat dikendalikan  dengan terapi komplementer, salah satu terapi komplementer yang ada yaitu buteyko. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh teknik pernapasan buteyko terhadap nilai arus puncak ekspirasi (APE) pada penderita asma. Jenis penelitian yang digunakan pre experimental design dengan pendekatan One Group Pretest-Posttest. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 20 responden sesuai dengan kriteria penelitian. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara total sampling. Data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan Uji t-dependent. Hasil statistik diperoleh nilai p-value = 0,000 artinya, nilai APE mengalami peningkatan setelah melakukan teknik pernapasan buteyko. Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh teknik pernapasan buteyko terhadap peningkatan nilai arus puncak ekspirasi (APE) pada penderita asma di wilayah kerja Puskesmas Olak Kemang. Diharapkan bagi pihak Puskesmas Olak Kemang dapat menjadikan teknik pernapasan buteyko sebagai salah satu terapi komplementer dalam pengendalian asm

    Hubungan status gizi dengan gangguan siklus menstruasi Di SMPN 1 Sleman Yogyakarta

    Full text link
    Latar Belakang: Menstruasi merupakan pengeluaran darah, lendir, dan jaringan sel yang hancur dari uterus dengan siklus rata-rata 28 hari. Siklus menstruasi biasanya akan teratur setiap bulan dengan rentang waktu 21-35 hari. Keadaan ini menjelaskan bahwa organ reproduksi perempuan dalam keadaan baik dan tidak ada masalah. Seorang perempuan dengan siklus menstruasi yang teratur akan mudah mendapatkan kehamilan, menata aktivitas, dan menghitung masa subur. Gangguan siklus menstruasi merupakan gangguan dari pola perdarahan menstruasi seperti adanya amenorrhea (tidak adanya menstruasi selama 3 bulan), polimenorhea (siklus menstruasi dengan jangka pendek <21 hari), dan oligomenorhea (siklus menstruasi dengan jangka waktu lama >35 hari). Gangguan siklus menstruasi dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, anemia, dan sulit hamil yang disebabkan karena tidak terjadinya ovulasi.Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan status gizi dengan gangguan siklus menstruasi. Metode Penelitian: Desain penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan kohort prospektif. Sampel diambil dengan teknik quota sampling yaitu 62 siswi kelas VIII di SMPN 1 Sleman. Pengambilan data dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada bulan Mei dan Juli 2019. Instrumen penelitian adalah kuesioner. Hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan uji Kendall’s Tau. Hasil penelitian: Pada kararteristik responden sebagian besar siswi berada pada usia 14 tahun sejumlah 49 orang (79%) dengan aktifitas fisik sebagian besar pada kategori sedang sejumlah 48 orang (77,4%). Dilihat dari variabel status gizi, sebagian besar siswi berada pada kategori normal sebanyak 35 orang (56,5%). Sedangkan pada variabel gangguan siklus menstruasi sebagian besar siswi berada pada kategori ada gangguan sebanyak 32 orang (51,6%). Hasil uji Kendall’s Tau diperoleh nilai p=0,108 (>0,05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan gangguan siklus menstruasi

    The depression status in the elderly living with family

    Full text link
    Abstrak   Latar Belakang : Penuaan merupakan suatu proses alami yang akan terjadi pada setiap makhluk hidup yang terjadi secara alami, hal ini mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan. Penurunan kemampuan pada lansia menyebabkan gangguan psikososial pada lansia berupa depresi. Depresi merupakan terganggunya fungsi yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dengan gejala penyerta berupa perubahan pola tidur dan nafsu makan, konsentrasi, kelelahan, tidak berdaya dan lain-lainnya. Depresi merupakan salah satu gangguan mental yang angka kejadiannya masih tergolong cukup tinggi di Kota Jambi, khususnya di Puskesmas Simpang IV Sipin. Angka kejadian gangguan mental yang cukup tinggi tersebut dikhawatirkan akan mempengaruhi kualitas hidup pada lansia. Keluarga yang memiliki anggota lansia dirumah hendaknya dapat memenuhi kebutuhan kesehatan lansia. Peran keluarga sangat mempengaruhi keadaan kesehatan pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status depresi pada lansia yang tinggal bersama keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas Simpang IV Sipin Kota Jambi. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik yang dilakukan terhadap 138 responden yang diambil dengan menggunakan simple random sampling dan dilakukan pada bulan Desember 2019. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner BDI sebagai kuesioner penelitian dan dianalisis secara univariat. Kriteria inklusi penentuan sampel adalah lansia yang berusia 60 tahun keatas, terdiagnosis dengan gangguan mental dan tinggal bersama keluarga di rumah. Hasil : Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa karakteristik umur reponden paling banyak rentang 60-64 tahun sebanyak 92 responden (66,7%). Jenis kelamin responden yang paling banyak yaitu perempuan sebanyak 85 responden (61,6%). Pendidikan responden yang paling banyak yaitu SMP sebanyak 56 responden (40,6%). Status perkawinan responden yang paling banyak yaitu janda dan duda sebanyak 99 responden (71,7%). Hasil analisis menunjukkan bahwa status depresi pada lansia yang tinggal di rumah bersama keluarga yang terbanyak yaitu depresi ringan sebanyak 97 responden (70,3%). Kesimpulan : Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa lansia memiliki resiko terkena depresi, sehingga diharapkan kepada keluarga maupun petugas kesehatan untuk senantiasa memantau status kesehatan psikologis pada anggota keluarga dengan lansia. &nbsp

    95

    full texts

    105

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Riset Informasi Kesehatan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇