Forum Arkeologi
Not a member yet
534 research outputs found
Sort by
JEJAK PERADABAN ISLAM DI SITUS DOROBATA, KABUPATEN DOMPU, NUSA TENGGARA BARAT
The process of Islamisation in Dompu was started since the collapse of Majapahit Kingdom. Archaeological data showed that traders coming from the Kingdom of Gowa, Makassar had spread Islam through trade channels. Evidences of the spread of Islam in Dompu can be seen from the ancient tombs, scattered in the region of West Nusa Tenggara. Those tombs are very important artefacts in order to know the process and the influence of Islam in the early spread. Some of the artifacts refering to the influence of Islam are found in Dorobata Site. The data were collected through excavation method, survey, and interviews with descriptive-qualitative analysis, supported by morphological and comparative analysis. The finds of this research are gravestones and sepulcher which is the evidence of burial in Dorobata. The decoration of the gravestone influenced by Bugis-Makassar culture, combined with the previous culture. Proses Islamisasi di Dompu dimulai sejak keruntuhan Kerajaan Majapahit. Data arkeologi menunjukan para pedagang yang berasal dari Kerajaan Gowa, Makassar telah menyebarkan Islam melalui jalur perdagangan. Bukti-bukti penyebaran Islam di Dompu dapat dilihat dari makam-makam kuno yang tersebar di wilayah Nusa Tenggara Barat. Makam ini menjadi artefak yang sangat penting untuk mengetahui proses dan pengaruh Islam pada masa awal penyebarannya. Beberapa artefak yang merujuk ke arah itu ditemukan di Situs Dorobata. Pengumpulan data menggunakan metode ekskavasi, survei, dan wawancara dengan analisis deskriptif-kualitatif, serta ditunjang dengan analisis morfologi dan komparatif. Artefak yang ditemukan adalah nisan dan jirat kubur yang merupakan bukti adanya penguburan di Dorobata. Ragam hias nisan ini dipengaruhi budaya Bugis Makassar yang dipadukan dengan budaya sebelumnya
LINGGA BERHIAS PADMA ASTADALA
Worship of Lord Siwa with medium lingga is very popular in Bali, evidenced by the large number of lingga on holy places in Bali, with various forms. The purpose of this study was to determine the form, function, and meaning of the lingga in the region. Results of this study are different forms of the lingga, which is spread over the area in Penebel District. However, as object of research is decorated with padma aadala lingga at Jambe Langu and Puseh Sunantaya Temple. The lingga is the lingga pseudo lingga consisting of Siwabhaga, rectangular pedestal decorated with padma aadala. Lingga is used as a medium of worship of Lord Siwa to invoke safety. Lingga is meaningful as a symbol of inner purity, creation and freedom.Pemujaan Dewa Siwa dengan media lingga sangat populer di Bali, dibuktikan dengan bayaknya jumlah lingga pada tempat-tempat suci di Bali, dengan berbagai bentuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk, fungsi, dan makna lingga di kawasan tersebut. Hasil penelitian ini berupa berbagai bentuk lingga, yang tersebar di kawasan Kecamatan Penebel. Namun, yang dijadikan objek penelitian adalah lingga yang berhiaskan padma aadala di Pura Jambe Langudan Pura Puseh Sunantaya. Lingga tersebut adalah lingga semu yang terdiri atas Siwabhaga, lapik segi empat yang berhiaskan padma aadala. Lingga ini digunakan sebagai media pemujaan kepada Dewa Siwa untuk memohon keselamatan. Lingga ini bermakna sebagai simbol kesucian batin, penciptaan dan kebebasan
CERAMICS ALONG THE SPICE TRADE ROUTE IN THE INDONESIAN ARCHIPELAGO IN THE 16th-19th CENTURY*
Perdagangan rempah-rempah, merupakan aktivitas komersial yang telah berlangsung sejak masa lampau. Wilayah Nusantara sebagai salah satu penghasil rempah-rempah telah terkait dengan jaringan perdagangan ini khususnya pada abad ke 17 - 18. Munculnya bandar-bandar besar sebagai pelabuhan utama niaga, yang saling terkoneksi satu dengan yang lain, menandai puncak lancarnya perdagangan rempah-rempah jarak jauh, baik antara India, Timur Tengah, Cina, maupun Eropa. Aktivitas ini juga ditandai dengan keberadaan komunitas asing di Nusantara, untuk mencari komoditi itu. Keberadaan komunitas tersebut, berdampak pada variabilitas komoditas yang mereka bawa dari tempat asalnya, salah satunya adalah keramik. Keramik menjadi kunci penting sejarah pelayaran dan perdagangan, karena kita tidak hanya mengenal perdagangan rempah-rempah hanya dari berbagai sumber tertulis, tetapi bersamaan dengan keberadaan keramik, kita menemukan bukti-bukti yang meyakinkan untuk lebih memperjelas gambaran tentang proses perdagangan itu. Dalam konteks kapal karam, keramik dan hasil alam, merupakan bagian dari muatannya. Melalui bukti-bukti komoditi itu kita dapat mengetahui darimana dan bagaimana jaringan antarkomoditas itu terjadi. Tulisan ini, secara khusus akan mengamati jejak aktivitas perdagangan rempah-rempah yang berdampak pada keberadaan barang komoditi lain, yaitu keramik. Keberadaan keramik dan sumber rempah-rempah di Nusantara, dapat dikaitkan sebagai bukti adanya jaringan perdagangan antara negara produsen dan konsumen. Paling tidak pembuktian ini dapat ditelusuri melalui penelitian arkeologi.The spice trade was one of the worlds ancient commercial activities. The Indonesian Archipelago (Nusantara), as spice producer, was crucial in this trade network, particularly in the 17th 18th century. The emergence of big ports as the main trade harbours marks the peak of the thriving long distance spice trade connecting India, the Middle East, China, and Europe. The trade was also marked by the existence of foreign communities in the archipelago in their search for spice. The presence of foreigners influenced the types of commodities that they brought from their homelands, among which is ceramics. Ceramics were key to the history of sea navigation and trade. The presence of ceramics offered additional detail of the spice trade and evidence of reciprocal relations between spice producers and their consumers. For example, in shipwrecks, we find ceramics and natural product in their cargo and these commodities prove the reciprocal trade relations that took place. This article will particularly discuss the spice trade, which had an impact on the existence of other types of commodities, including ceramics. This can be carried out by means of archaeological investigations.This mode of research can be viewed as one of the regionalinterregional studies to be used as a foundation to reconstruct the ancient trade network
PRASASTI RAJA SRI MAHARAJA SRI BHATARA MAHAGURU DHARMMOTUNGGA WARMMADEWA DI DESA TUMBU, KECAMATAN KARANGASEM, KABUPATEN KARANGASEM, BALI
Tumbu Inscription was made of copper, written in Old Javanese letter and language. This inscription has not been published yet completely. The aims of this study are to know the time when the inscription was issued, the official who issued it, and its content. The data were collected by library research, observation, and interview. It was analyzed qualitatively. Tumbu Inscription consists of five plates of copper which was issued in 14th century by the government leader to solve the problem that happened at that time.Prasasti Tumbu terbuat dari tembaga ditulis menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno. Prasasti ini belum pernah dipublikasikan secara lengkap. Tujuannya untuk mengetahui waktu penetapan prasasti, pejabat yang menetapkan dan isi prasasti. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, observasi, dan wawancara serta dianalisis secara kualitatif. Prasasti Tumbu terdiri atas lima lempeng tembaga yang dikeluarkan pada abad ke-14 oleh pucuk pemerintahan untuk menyelesaikan permasalahan sosial yang terjadi pada saat itu
APLIKASI ADI PARWA DALAM RELIEF SITUS CANDI KIDAL
Old Javanese literatures which are visualized into relief are in limited number few of them are the story of Partayadnya, Kunjarakarna, Arjuna Wiwaha, Adi Parwa and so on. This study aims to describe completely the structure and social phenomenon of Adi Parwa literature with wall relief at Kidal Temple Site. The analysis of this research describes descriptively with media changing approach, Adi Parwa literature into relief at Kidal temple. On the wall of Kidal Temple. There are three Garuda relief with different characteristic. All of those Garuda relief have close relation with parts of Adi Parwa.Karya sastra Jawa Kuno yang divisualisasikan ke dalam bentuk relief cerita jumlahnya sangat terbatas seperti Partayadnya, Kunjarakarna, Arjuna Wiwaha, Adi Parwa, dan lainya. Tujuannya adalah untuk mendeskripsikan secara lengkap fenomena struktural dan sosial dalam cerita Adi Parwa dengan relief Situs Candi Kidal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif analisis dengan pendekatan alih wahana, cerita Adi Parwa ke dalam relief Candi Kidal. Pada dinding Candi Kidal ditemukan tiga relief Garuda dengan laksana yang berbeda. Semua relief Garuda tersebut memiliki hubungan yang sangat erat dengan penggalan-penggalan cerita Adi Parwa
ARCA DAN RELIEF DHYANI BUDHA DI KABUPATEN GIANYAR
The influence of Budha in Bali could be traced from archaeological remains in some temples in Gianyar Regency, to know the relation between Dhyani Budha statuette and relief in Gianyar with the concept of Tathagata worshiping. The data were collected by using library research and observation method. It was analyzed with iconographic and comparative study. It was found that Dhyani Budha statuette and relief located in Pegulingan, Goa Gajah and Mas Ketel Temple. The placement of the statuette and relief follows the concept of Tathagata worshiping which gives Bhattara Budha the highest place, as a mean of focusing the mind to attain enlightenment.Pengaruh Agama Budha di Bali dapat ditelusuri dari tinggalan-tinggalan arkeologi di beberapa pura di Kabupaten Gianyar, untuk mengetahui hubungan arca dan relief Dhyani Budha di Gianyar dengan konsep pemujaan Thatagata. Data penelitian dikumpulkan dengan metode studi pustaka, observasi dan dianalisis dengan metode ikonografis serta komparatif. Hasil penelitian berupa arca dan relief Dhyani Budha di Pura Pegulingan, Pura Goa Gajah, dan Pura Mas Ketel. Penempatan arca dan relief Dhyani Budha mengikuti konsep pemujaan Tathagata yang memposisikan Bhattara Budha sebagai dewa tertinggi, sebagai sarana pemusatan pikiran untuk mencapai pencerahan
WILAYAH KERAJAAN AMARASI, NUSA TENGGARA TIMUR: ANALISIS KEWILAYAHAN DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI
Amarasi is one of the kingdoms on the island of Timor which has a history, tradition, and system of governance which is still preserved nowadays. This research aims to determine the orientation of Amarasi settlements. Literature study, survey, and interview were applied in this research supported by Geographical Information System (GIS). The orientation of Amarasi settlement has dynamic pattern which has been developed according to its topographic and natural morphologic characteristics. The development of Amarasi settlement indicates the change of Amarasi peoples life pattern from the past until now.Amarasi merupakan salah satu kerajaan di Pulau Timor yang memiliki sejarah, tradisi, dan sistem pemerintahan yang masih lestari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui orientasi permukiman wilayah Kerajaan Amarasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka, survei, dan wawancara dengan ditunjang oleh SIG. Orientasi permukiman masyarakat Amarasi mempunyai pola dinamis yang mengalami perkembangan sesuai dengan topografi dan morfologi alamnya. Perkembangan permukiman mengindikasikan perubahan pola kehidupan masyarakat Amarasi dari masa lampau sampai sekarang
TRADISI PEMUJAAN LELUHUR PADA MASYARAKAT HINDU DI BALI
Ancestor worshiping had been known since prehistoric era and continued until today by using various worshiping media. It continued when Bali got Hindu-Budha influence to widen its culture. This study aims to know the development of ancestor worshiping in Bali. Library research method was applied. The research result is various ancestor worshiping media which developed from prehistoric until Hindu era in Bali nowadays. Ancestor worshiping continued until this modern era although it has transformed along with the development of its worshipers culture which strengthen by written media in the form of babad.Pemujaan leluhur telah dikenal pada jaman prasejarah dan berlanjut hingga kini, dengan menggunakan berbagai media pemujaan. Pemujaan ini berlanjut ketika Bali mendapatkan pengaruh ajaran Hindu-Buddha, yang dikritisi untuk memperkaya kebudayaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan pemujaan leluhur di Bali, menggunakan metode studi pustaka. Hasil penelitian yang dibahas berupa media pemujaan leluhur dari jaman prasejarah hingga perkembangan Hindu di Bali dewasa ini. Setelah dilakukan kajian, ternyata pemujaan leluhur berlanjut hingga jaman modern dewasa ini, meskipun telah mengalami transformasi media pemujaan sesuai dengan perkembangan kebudayaan pemujanya, yang diperkuat dengan media tertulis berupa babad
ARCA BERWAHANA NANDI DI PURA PUSEH BATUBULAN, KECAMATAN SUKAWATI, GIANYAR
Statue (arca) is an object created by human to fulfill their spiritual needs. Archaeological remains in the form of statue in Bali are often still being used and considered to be sacred among its society, e.g. a Nandi-riding statue found at Pura Puseh Batubulan. This research aims to understand its form, conception behind its creation, its function, and also to reconstruct human behavior in the past, regarding to the Nandi-riding statue. Data were collected through observation, interview, and literature study. Analysis was done using descriptive-explanative approach, iconography analysis, and iconometry analysis. The results of this research are as follows. The form of Nandi-riding statue shows the characteristics of Bali Madya period from 13th-14th Century. The conception behind its creation is religious emotion, causing people to create statue. The statue is an embodiment of honoured figure, deified by the society, has the characters of Siwaism religion, and serves as a medium of worship. Arca merupakan benda yang dibuat manusia untuk memenuhi kebutuhan rohaninya. Tinggalan arkeologi berupa arca di Bali banyak yang masih dimanfaatkan dan disakralkan oleh masyarakat sekitarnya, salah satunya arca berwahana Nandi di Pura Puseh Batubulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk, konsepsi yang melatarbelakangi pembuatannya, dan fungsi tinggalan arkeologi tersebut, serta untuk merekontruksi cara hidup manusia masa lalu yang terkait dengannya. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka. Tahap analisis menggunakan metode deskriptif-eksplanatif, analisis ikonografi, dan analisis ikonometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk arca berwahana Nandi di Pura Puseh Batubulan berciri masa Bali Madya abad XIII-XIV Masehi. Konsepsi yang melatarbelakangi pembuatannya adalah emosi keagamaan yang menyebabkan manusia menghasilkan seni arca. Arca tersebut merupakan perwujudan tokoh yang telah didewakan, beraliran Siwaisme, dan berfungsi sebagai media pemujaan
EKSPLORASI POTENSI GEOARKEOLOGI MATA AIR PANAS MANGESTA, KECAMATAN PENEBEL, KABUPATEN TABANAN, PROVINSI BALI
With the enactment of Jatiluwih region as a World Cultural Heritage, is expected to increase public awareness to preserve the environment. This research aims to determine the distribution of archaeological remains around the hot springs, knowing the process and the impact of emerging and its effect on the local community. Observation, open interviews and literature study methods are conducted in this research. Data analysis was performed with qualitative analysis, contextual and comparative. The result of this research has found a variety of archaeological remains around the hot springs at five Pura locations. The archaeological remains are from the classical period (Hindu-Buddhist) and most of the raw material are andesite. Mangesta hot springs exist because the presence of active volcanic pipe underneath Mount Batukaru which have been dormant.Dengan ditetapkannya kawasan Jatiluwih sebagai warisan budaya dunia, diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persebaran tinggalan arkeologi di sekitar sumber air panas, mengetahui proses terjadinya dan dampak yang muncul dan pengaruhnya terhadap masyarakat setempat. Metode penelitian dilakukan dengan metode observasi, wawancara terbuka dan studi kepustakaan. Analisis data dilakukan dengan analisis kualitatif, kontekstual dan komparatif. Dari hasil penelitian ditemukan beragam tinggalan arkeologi di sekitar mata air panas pada lima lokasi pura. Tinggalan arkeologi tersebut berasal dari masa klasik (Hindu-Budha) dan sebagian besar berbahan baku batuan andesit. Sumber mata air panas Mangesta muncul karena masih terdapatnya pipa vulkanik aktif di bawah Gunung Batukaru yang telah tidak aktif