Forum Arkeologi
Not a member yet
534 research outputs found
Sort by
SIWA-BUDHA DI PURA PEGULINGAN
Since the ancient time Bali has witnessed the harmony of Siva-Buddha religion, as can be seen from numerous cultural artifacts, including the Pegulingan Buddha ?iwa di Pura Pagulingan. This research was aimed at finding the form of the Buddhism artefacts in Pegulingan Temple, the structure of Pegulingan Temple, and the perception of the villager of Desa Pakraman Basangambu upon the, Tampaksiring district, Gianyar regency upon the the harmony of Buddha ?iwa di Pura Pagulingan. The research data is compiled through observation, literature study, and interview; the analysis was done through data reduction and data display, followed by conclusion drawin. The findings of this research was the Siva_buddha artefacts in the temple in form of Buddhism Stupa, and several Siva shrines. These artefacts shows the harmony and similarities of goals, which must be preserved in celebrating the oneness of God.Kebersamaan Agama Siwa-Budha di Bali telah ada sejak jaman dahulu, dibuktikan dengan berbagai tinggalan budayanya, salah satunya di Pura Pegulingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui wujud tinggalan dari Agama Budha di Pura Pegulingan, struktur Pura Pagulingan dan persepsi masyarakat Desa Pakraman Basangambu, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar terhadap kebersamaan Buddha ?iwa di Pura Pagulingan. Data penelitian ini dikumpulkan melalui observasi, studi pustaka dan wawancara, kemudian dianalisis dengan langkah reduksi data, display data dan conclusion rawin/verification. Hasil penelitian ini berupa tinggalan yang bersifat Siwa-Budha di pura tersebut. Tinggalah tersebut berdasarkan penelitian berupa stupa Agama Budha, beberapa palinggih dari Agama Siwa, dan persepsi masyarakat berhubungan dengan kebersamaan Siwa-Budha di Pura tersebut. Keberadaan bangunan suci dari kedua agama tersebut menyiratkan adanya kerukunan dan kesamaan tujuan, yang perlu dijaga melalui kesucian lahir dan batin. Pura tersebut merupakan sarana pemersatu umat, dengan dasar keyakinan bahwa Tuhan itu satu
RETROSPEKSI PENELITIAN BUDAYA PALEOLITIK DI NUSA TENGGARA TIMUR DAN PROSPEKNYA DI MASA DEPAN
East Nusa Tenggara (NTT) region has a strategic role in the past, particularly as the human and fauna migration routes in East Indonesia. This research aims to recognize the potential of Palaeolithic culture in NTT which needs to be studied again, and its prospect regarding archaeological research. This research is a descriptive research using inductive approach in which the data were collected through literature study. The data were analyzed through descriptivequalitative approach. This research shows that NTT as an outmost area has Palaeolithic culture remains from Pleistocene period which has strategic roles and archaeological research prospect, particularly regarding to trace migration route of prehistoric people and their culture in the eastern Indonesia. Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) mempunyai peran strategis dalam kehidupan masa lampau, terutama sebagai jalur migrasi manusia maupun fauna di wilayah Indonesia Timur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi budaya Paleolitik di NTT yang perlu dikaji kembali dan prospeknya terhadap penelitian arkeologi di masa depan. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan penalaran induktif yang datanya dikumpulkan melalui studi pustaka. Data dianalisis melalui pendekatan deskriptif-kualitatif. Penelitian ini menunjukkan bahwa wilayah NTT sebagai wilayah terluar memiliki tinggalan budaya Paleolitik dari kala Pleistosen yang mempunyai peran strategis dan prospek penelitian arkeologi, terutama dalam kaitannya melacak jalur migrasi manusia purba dan budayanya di wilayah Indonesia Timur.
MAKNA AIR BAGI MASYARAKAT BALI
Water is a very important need which make all kinds of creatures can grow well. This research aims to know the meaning of water for Balinese people. The data was analysed and interpreted by using the theory of symbol. The data were collected through library research and observation method. The data was analized by comparing it with symbols which related to water. The result of this research are Visnu statuette and cupu Amerta which are compared with kala, makara and water molecule with exagonal shape. It could be concluded that water has the meaning of fertility, healing, holiness, immortality, cycle, prosperity, and conservation.Air merupakan kebutuhan yang sangat penting, menjadikan segala jenis mahluk dapat tumbuh dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna air bagi masyarakat Bali, yang akan dianalisis dan ditafsirkan menggunakan teori simbol. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka, observasi dan komparatif terhadap simbol-simbol yang berkaitan dengan air. Hasil dalam penelitian ini berupa, arca Dewa Wisnu, cupu amerta dikomparasi dengan kala, makara, eksagonal air. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa air bermakna kesuburan, penyembuhan, penyucian, keabadian, siklus, kesejahteraan dan pelestarian
POLA PERSEBARAN TINGGALAN BUDAYA MEGALITIK DI LEUWISARI, TASIKMALAYA
Ancient society determined the location for their settlement and activity according to particular zone and pattern. The existence of these sites is predicted to had been patterned. This study aims to reveal the distribution of megalithic sites in Leuwisari, as well other aspects related to adaptation strategy. The data were collected through survey and literature study. The data were analyzed through spatial archaeology and ecology approaches. The result of this study shows thatmegalithic culture had been developed in this area with settlement pattern following river flow. Ancient society used natural resources to support their daily life and religious aspect.Masyarakat masa lampau memilih lokasi beraktivitas dan bermukim dengan mengikuti pola dan zona tertentu. Keberadaan situs-situs ini diperkirakan telah terpolakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap persebaran situs-situs budaya megalitik di wilayah Leuwisari serta aspek lain yang berkaitan dengan strategi adaptasi. Data dikumpulkan melalui survei dan studi kepustakaan.Analisis data dilakukan dengan pendekatan arkeologi ruang dan ekologi. Hasil yang diperoleh memberikan gambaran bahwa di wilayah ini pernah berkembang budaya megalitik dengan pola penempatan situs yang mengikuti aliran sungai atau sumber daya air. Masyarakat masa lalu memanfaatkan sumber daya alam untuk mendukung kehidupan yang berkaitan dengan aspek religi dan permukiman