Forum Arkeologi
Not a member yet
534 research outputs found
Sort by
PENGELOLAAN WARISAN BUDAYA PURA TANAH LOT SEBAGAI DAYA TARIK WISATA DI DESA BERABAN, KECAMATAN KEDIRI, TABANAN
Threats to the existence of cultural heritage as a tourist attraction in Bali is an important global issue which gained public attention. One of the cultural heritage in Bali that attracts tourists is Pura Tanah Lot. This study aims to identify and understand the process and benefits of cultural heritage management of Pura Tanah Lot as a tourist attraction. Data were collected by observation, interview, and documentation. Data were analyzed through data reduction, data presentation, and conclusion. The results show, the process of cultural heritage management of Pura Tanah Lot as a tourist attraction performed by pangempon, includes planning, implementation, monitoring, and evaluation. The management of Pura Tanah Lot as a tourist attraction is able to bring economic benefits, preservation of cultural heritage, and development of tourism industry. Ancaman eksistensi warisan budaya sebagai daya tarik wisata di Bali merupakan isu global yang penting mendapat perhatian publik. Salah satu warisan budaya Bali yang menarik kunjungan wisatawan adalah Pura Tanah Lot. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan memahami proses dan manfaat pengelolaan warisan budaya Pura Tanah Lot sebagai daya tarik wisata. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan, proses pengelolaan Pura Tanah Lot sebagai daya tarik wisata dilakukan oleh pangempon, meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi. Pengelolaan Pura Tanah Lot sebagai daya tarik wisata bermanfaat ekonomi, pelestarian warisan budaya, dan pengembangan industri kepariwisataan
TRANSPORTASI AIR DALAM PERDAGANGAN PADA MASA JAWA KUNO DI JAWA TIMUR
Indication of water transportation usage in inscriptions has been available in the early of 10th Century in Central Java, but epigraphic data shows that the mentions of it are more frequent in inscriptions from East Java. Water transportation usage was connected with trade because various type of water transportations are commonly found in the list of traders. This study aims to understand the usage and roles of water transportation in trade to reconstruct the utilization of waterways during Ancient Java period in East Java. Data were collected from transcriptions of published inscription. Data analysis was done through language aspect analysis and the comparison with other languages, ancient manuscripts and foreign literatures. This study shows that during Ancient Java period, various types of water transportations used in river and sea had important roles in internal and external trade. Their roles were also supported by officer or operator and facilities related to them. Indikasi penggunaan transportasi air pada prasasti telah ada sejak awal abad X Masehi di Jawa Tengah, tetapi data epigrafi menunjukkan bahwa penyebutannya lebih banyak di Jawa Timur. Penggunaan transportasi air tersebut berkaitan dengan perdagangan karena kebanyakan disebutkan dalam kelompok pedagang. Kajian ini bertujuan mengetahui penggunaan dan peran transportasi air dalam perdagangan untuk merekonstruksi pemanfaatan jalur perhubungan air pada masa Jawa Kuno di Jawa Timur. Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran transkripsi prasasti yang diterbitkan. Analisis dilakukan berdasarkan aspek bahasa dan perbandingan dengan bahasa lain, naskah kuno, serta berita asing. Kajian ini menunjukkan bahwa pada masa Jawa Kuno, jenis-jenis transportasi air bagi wilayah sungai dan laut berperan penting dalam perdagangan internal dan eksternal yang ditunjang juga oleh petugas atau pengelola dan fasilitas pendukung yang berkaitan dengan sarana transportasi air.
MISBA DALAM MASYARAKAT ALOR: KAJIAN BENTUK DAN FUNGSI
Alor is an island in East Nusa Tenggara which has a very important cultural remain of the past. The cultural remain is in the form of preHindu tradition called megalithic tradition in which some of them still exist until today namely misba, traditional houses, moko, and other heritage. The aim of this study is to know the form and function of misba and traditional houses. The method of data collection are library research, observation and interview. The data was analysed qualitatively and comparatively. The result shows that misba, traditional houses and other heritage are considered to be sacred, functioned as ancestor worshipping media , social status and kinship.Alor adalah wilayah di Nusa Tenggara Timur yang memiliki budaya masa lampau yang sangat penting. Budaya tersebut berupa tradisi kehidupan masa praHindu yaitu tradisi megalitik. Salah satu tradisi megalitik yang masih berkembang secara terus menerus dalam kehidupan masyarakat Alor, berupa misba, rumah adat, moko, dan benda-benda pusaka lainnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk dan fungsi dari misba dan rumah adat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka, observasi, dan wawancara. Analisis dilakukan secara kualitatif dan komparatif. Hasil penelitian misba, rumah adat, dan benda-benda pusaka yang dianggap sakral, sebagai media pemujaan atau penghormatan kepada para leluhur, status sosial dan kekerabatan
PELABUHAN WINI NUSA TENGGARA TIMUR DARI MASA KE MASA: STUDI ETNOARKEOLOGI
Trading in Timor island was estimated to happened since 16th century. The foreign traders came to Timor island to seek sandalwood, honey, and beeswax to be traded again in their homeland. The purpose of this research is determining activities and role of trading, as well as the Kingdom of Bibokis role in Port Wini. This is a qualitative research. Data were collected through literature study, observation, and interview with ethnoarchaeological method. The data were analyzed by inductive approach and descriptively presented. Port Wini is located in a strategic position and became one of trading centre in the past and still developing until now. In the kingdom era, the king took the role as controler of the port and monopolized sandalwood trading with foreign traders.Perdagangan di Pulau Timor diperkirakan sudah berlangsung sejak abad ke-16 Masehi. Para pedagang asing datang ke Pulau Timor untuk mencari cendana, madu, dan lilin untuk diperdagangkan kembali di daerah asal mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan dan aktivitas perdagangan serta peran Kerajaan Biboki di Pelabuhan Wini. Penelitian ini bersifat kualitatif. Data didapat melalui studi pustaka, observasi, dan wawancara dengan pendekatan etnoarkeologi. Data dianalisis secara induktif dan disajikan secara deskriptif. Lokasi Pelabuhan Wini sangat strategis dan menjadi salah satu pusat perdagangan sejak dahulu dan terus dikembangkan hingga sekarang. Pada jaman kerajaan, raja sebagai pemegang kontrol atas pelabuhan ini memonopoli perdagangan cendana dengan asing
GUA KETUK DI KAWASAN KARST PASIR PAWON : KANDUNGAN BUDAYA DAN PERTANGGALAN C-14
Ketuk Cave complext as apart of Pawon karstic area. It located at the eastern side of Pawon Cave. The collecting data from Ketuk Cave complex had been down by survey and excavation. The conclusion based on the research is some of cave on Ketuk Cave complex had some indication about human activity in the past on it location. The artifactual remains had found such as in Ketuk Cave 3, 4, and Ketuk Cave Above. The carbon dating analysis C-14 from the sample sand and stalactite had been shown about it chronology, 1560 + 140 BP (sand) and 3260 + 120 BP (stalactite). That mean a while, the human activity there is not in the same era with in Pawon Cave. Pawon Cave had the carbon dating chronology during 5660 + 180 BP until 9525 + 200 BP.Gua Ketuk merupakan gugusan gua yang terdiri dari enam ruang gua. Terletak satu kawasan dengan Gua Pawon, termasuk dalam lingkungan karst Pasir Pawon. Pengumpulan data arkeologi di Gua Ketuk dilakukan dengan menerapkan metode survei dan ekskavasi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan tidak semua ruang gua memiliki indikasi pernah dimanfaatkan sebagai tempat beraktivitas oleh masyarakat masa lalu. Tinggalan artefaktual antara lain ditemukan di Gua Ketuk Ruang 3, 4, dan Gua Ketuk Atas. Analisis pertanggalan karbon (C-14) yang diambil dari sampel tanah dan stalaktit telah dilakukan pada Gua Ketuk Ruang 4 dengan hasil pertanggalan 1560 + 140 BP untuk sampel tanah, sementara itu dari stalaktit diperoleh pertanggalan sekitar 3260 + 120 BP. Dari pertanggalan tersebut dapat disimpulkan bahwa aktivitas manusia di gua tersebut jauh lebih kemudian dibanding yang berlangsung di Gua Pawon dengan rentang pertanggalan antara 5660 + 180 BP sampai 9525 + 200 BP
KONSEPSI OPOSISI BINER DALAM PENGARCAAN PASANGAN DWARAPALA PADA KORI AGUNG DI BALI
This article aims to review the conceptual background of dwarapala couple figure found in the doorway of kori agung temple complex of buildings in Bali. The method applied is the hermeneutic method by applying some kind of major approaches, including: (1) approach on the statue morphology, (2) pattern of placement, (3) mythology and cosmology of Hindu and Buddhist, (4) comparative studies of the dwarapala figure outside Indonesia, and (5) folklore based approach.The result shows that there are some kinds of dwarapala couples, among others, the giant king pair, pair of mans clown, couples of monkey king, husband and wife couples, and couples of rangda. The conclusions obtained show that there are some major concepts behind the existence of various pairs figure of kori dwarapala in building the great temple complex in Bali. Each pair of the dwarapala figure includes symbolic meanings associated with the concept of binary opposition.Abstrak Artikel ini bertujuan untuk mengulas tentang latar belakang konseptual pasangan sosok dwarapala yang terdapat di lubang pintu kori agung kompleks bangunan pura di Bali. Metode kajian yang diterapkan adalah metode hermeneutik dengan menerapkan beberapa macam pendekatan utama, di antaranya: (1) pendekatan morfologi arca, (2) pendekatan atas pola penempatannya, (3) pendekatan mitologi dan kosmologi Hindu dan Buddha, (4) pendekatan atas studi komparatif terhadap sosok dwarapala di luar Indonesia, dan (5) pendekatan berdasarkan cerita rakyat. Hasil observasi secara umum yang telah dijalankan menunjukkan bahwa ada beberapa macam pasangan dwarapala yang dapat dijumpai di lapangan, antara lain pasangan raja raksasa, pasangan punakawan, pasangan suami-istri, pasangan raja kera, pasangan bidadari, dan pasangan rangda. Kesiimpulan yang diperoleh menunjukkan bahwa ada beberapa konsepsi utama yang melatarbelakangi keberadaan berbagai pasangan sosok dwarapala di bangunan kori agung kompleks pura di Bali. Salah satu dari konsepsi temuan menunjukkan bahwa setiap pasangan sosok dwarapala tersebut memuat makna simbolis yang berkaitan dengan konsepsi oposisi biner
UANG KEPENG SEPANJANG MASA: PERSPEKTIF ARKEOLOGI DAN EKONOMI KREATIF DI PROVINSI BALI
Uang Kepeng is a material culture which has often been found in archaeological sites. The purpose of this study is to understand culture and social dynamics of Balinese people towards Uang Kepeng and peoples creativity in preserving and increasing economic value of Uang Kepeng. The data were collected through library research, observation, interview and analyzed qualitatively and descriptively. According to this research, it is known that Uang Kepeng in Bali has social and cultural meanings all the time. Peoples creativity in producing new Uang Kepeng and arranging them to be a creative product is one of the efforts in conserving the cultural heritage and increasing Balinese peoples economy.Uang kepeng merupakan salah satu kebudayaan materi yang banyak ditemukan di situs-situs arkeologi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dinamika sosial budaya masyarakat Bali terhadap uang kepeng dan kreativitas masyarakat dalam melestarikan serta meningkatkan nilai ekonomis uang kepeng. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dan dianalisis secara deskriptif-kualitatif. Dari kajian ini diketahui bahwa uang kepeng di Bali bermakna sosial budaya sepanjang masa, kreativitas masyarakat dalam mencetak uang kepeng baru, dan merangkainya menjadi produk kreatif merupakan salah satu usaha untuk melestarikan warisan budaya dan meningkatkan perekonomian masyarakat Bali
KEBERLANJUTAN BIROKRASI KEMASYARAKATAN DESA SUKAWANA PADA MASA BALI KUNO: KAJIAN BERDASARKAN PRASASTI SUKAWANA D
The Sukawana D incription is one of culture inheritance as the remain of archaeology in Sukawana Village, Kintamani Sub-district, Bangli Regency issued by rulling governor king at the Ancient Bali time named Raja Patih Kbo Parud on 1222 saka (1300 AD). This research has purpose to answer the main problems are about bureaucracy element, and the continuity of the bureaucracy element to Sukawana Village based on data of Sukawana D incription. Related to the bureaucracy element obtained from this research is as the following. The bureaucracy structure of the central level consists of the king, the senapatis, the samgats, and the clergymen of Siwa and Buddha, whereas the bureaucracy structure in area level are the kab?yans that consist of Kab?yan Arg?, Kab?yan Tuha, Kab?yan T?a?, and Kab?yan oman. There are known the existence of continuity of bureaucracy element in area level that is still going on in the present time in Sukawana Village is the kab?yan.Prasasti Sukawana D merupakan salah satu warisan budaya berupa tinggalan arkeologi yang terdapat di Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli yang dikeluarkan oleh Raja Patih yang berkuasa pada masa Bali Kuno yaitu Raja Patih Kbo Parud pada tahun 1222 Saka (1300 Masehi). Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan pokok, yaitu mengenai unsur birokrasi, dan keberlanjutan unsur birokrasi di Desa Sukawana berdasarkan data prasasti Sukawana D. Berkenaan dengan unsur-unsur birokrasi yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Struktur birokrasi tingkat pusat terdiri atas raja, para sen?pati, para samgat, dan para pemuka agama Siwa dan Buddha, sedangkan struktur birokrasi tingkat daerah, yaitu kab?yan yang terdiri atas kab?yan arg?, kab?yan tuha, kab?yan t?a?, dan kab?yan oman. Diketahui adanya beberapa keberlanjutan unsur birokrasi tingkat daerah yang masih berlangsung pada masa sekarang di Desa Sukawana, yaitu kab?yan
IDEOLOGI KEDOK MUKA KALA PADA BANGUNAN SUCI DI BALI TELAAH TENTANG IDEOLOGI-RELIGI
Religion is a part of the culture systems that can explain the things that humans do not understand, to find serenity in order to face things out of reach. So that, it is necessary to do research on the religious of the past and its continuation until now mainly on the kedok muka kala (face mask decoration) which probably a continued tradition from the creepy face mask decoration of sarcophagus ornaments. The problems to be discussed in this study is the ideology of kedok muka kala. There are two theories used in this study namely religious theory which relates to rites and ceremonial equipment and theory of symbol which elaborate that symbol is a media of communication and dialogue between man and beyond. Based on the analysis it can be seen that kala is energy of the universe, the laws of nature with regard to good and evil, space and time, as well as a means of solving problems with ruwatan tradition and balancing the universe so that natural well-being and everything in it can be created.Religi bagian dari sistem budaya yang dapat menerangkan hal-hal yang tidak dipahami manusia, sehingga mendapat ketenangan untuk menghadapi hal-hal di luar jangkauan. Untuk itu perlu diadakan penelitian mengenai religi masa lampau dan keberlanjutannya hingga kini, terutama mengenai hiasan kedok muka kala kiranya merupakan tradisi berlanjut dari hiasan kedok muka menyeramkan dari hiasan sarkofagus. Permasalahan yang ingin dibahas dalam penelitian ini mengenai ideologi kedok muka kala. Untuk membahas permasalahan ini digunakan dua teori yaitu ; teori religi yang berkaitan dengan peralatan ritus dan upacara, dan teori simbol yang menguraikan mengenai simbol, merupakan media komunikasi dan dialog manusia dengan yang di luar manusia. Berdasarkan analisis, dapat diketahui bahwa kala adalah energi alam semesta, hukum alam yang berkaitan dengan baik dan buruk, ruang dan waktu, serta cara penyelesaian permasalahan hukum alam dengan tradisi ruwatan dan penyeimbangan alam semesta, sehingga tercipta kesejahteraan alam dan segala isinya
AKTIVITAS KEAGAMAAN DI SITUS PURA PUSEH WASAN
The results of archaeological research at the site Puseh Wasan Temple, Sukawati, Gianyar were found the remains of a temple, ponds, statuettes, pottery and peripih box. This indicates that this site has done a religious activity. This research aims to determine the religious activities which have been done at the site of Puseh Wasan Temple. The method used in this study was library research especially on some inscriptions which mention Wasan as a territory. Excavation method was also used which has found in the forms of building structure on this site. The results of this study are Wasan which was an area bordered by Sakar (Sakah), Baturan (Batuan) and Sukhawati (Sukawati) was an area that was receiving considerable attention from the authorities at that time. On the site of Puseh Wasan Temple once had been done a religious activity based on the findings of statuettes, peripih stone, and religious pottery.Penelitian arkeologi di situs Pura Puseh Wasan, Sukawati, Gianyar berhasil menemukan tinggalan berupa candi, kolam, arca, kotak peripih dan gerabah. Hal ini menunjukkan bahwa di situs ini telah dilakukan aktivitas keagamaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas keagamaan yang pernah dilakukan di situs Pura Puseh Wasan. Metode yang digunakan adalah studi pustaka terhadap beberapa buah prasasti yang berhubungan dengan penyebutan Wasan sebagai sebuah wilayah dan metode ekskavasi yang telah berhasil menemukan temuan baru berupa struktur bangunan di situs ini. Hasil dari penelitian ini adalah di Wasan yang merupakan sebuah wilayah yang berbatasan dengan Sakar (Sakah), Baturan (Batuan) dan Sukhawati (Sukawati) merupakan wilayah yang mendapat perhatian cukup besar dari penguasa pada masa itu. Di situs Pura Puseh Wasan pernah dilakukan aktivitas keagamaan berdasarkan temuan arca, batu peripih, dan gerabah upacara