Forum Arkeologi
Not a member yet
534 research outputs found
Sort by
FUNGSI UPACARA SABA MALUMIN PADA MASYARAKAT PEDAWA, KECAMATAN BANJAR, KABUPATEN BULELENG
MEMBANGUN HIPOTESIS DARI PUNCAK KEBUDAYAAN AWAL HOLOSEN DAN NEOLITIK DI SUMATRA BAGIAN UTARA
Reconstruction of early Holocene and Neolithic culture which covers technology, social, and religious aspect is often done partially, considering that the researches and the results obtained are very limited. This study aims to find out a specific description of technology, social, and religious aspects from early Holocene until Neolithic period which became the pinnacle of culture of the period mentioned in order to construct a hypothesis regarding to human adaptation. Those aspects can be identified through archaeological remains obtained from excavation. The analysis of artefact, ecofact, and feature was done through morphology and technology analysis. Interpretation of data was done based on analogy with other similar finds which has the same period. Those approaches will show information regarding to the pinnacle of culture from each period in order to generate a synthesis and renew the old concept. The result of this study is a hypothesis regarding to human adaptation toward their environment in order to fulfil their needs of food and religion. Rekonstruksi budaya masa awal Holosen dan Neolitik yang meliputi aspek teknologi, sosial dan aspek religi kerap tidak lengkap, mengingat penelitian dan hasil yang didapatkan masih sangat terbatas. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui gambaran spesifik unsur teknologi, sosial, dan religi dari masa awal Holosen hingga Neolitik yang merupakan keunggulan budaya masa lalu untuk membangun hipotesis mengenai adaptasi antarmanusia dan lingkungan. Aspek tersebut dihasilkan dari serangkaian ekskavasi, dengan mengidentifikasi aspek morfologi dan teknologi artefak, ekofak, dan fitur, untuk selanjutnya dilakukan analisa. Interpretasi atas data awal tersebut didasarkan juga atas analogi dengan temuan sejenis pada periode sezaman. Metode tersebut menghasilkan berbagai informasi puncak kebudayaan pada setiap periode yang akhirnya menghasilkan sintesa untuk memperbarui konsep lama. Kajian ini menghasilkan hipotesis yang berkaitan dengan adaptasi manusia terhadap lingkungan dalam memenuhi kebutuhan pangan dan religinya
ANALISIS KANDUNGAN FLUORINE (F) DI DALAM FOSIL TULANG DAN GIGI: KASUS DARI GUA PAWON, SANGIRAN, DAN KALITIDU
Bones will undergo diagenesis process when buried in soil which will decrease organic content and increase inorganic content coming from outside, such as F (fluorine). This research discusses about F (fluorine) content in fossilized bones and teeth coming from Pawon Cave in West Java, Sangiran in Central Java, and Kalitidu in East Java, which are in situ and not in situ. The content of F (fluorine) in fossilized bones and teeth can be used to determine their origin which are not in situ and lacking of stratigraphy information. The result of this research can be described as follows. F (fluorine) content in materials coming from Pawon Cave are varied. Materials coming from Kalitidu which are in situ have relatively the same F (fluorine) content, while material which is not in situ has the highest F (fluorine) content. Materials coming from Sangiran have different relation between F (fluorine) content and formation age, compared to materials coming from Pawon Cave and Kalitidu, that is the lesser the content of F (fluorine), the older the age of material. One of the fossilized materials, namely the molar of Homo erectus (JA-41), is the youngest tooth fossil of Homo erectus ever found in Sangiran. Tulang akan mengalami proses diagenesa ketika terkubur dalam tanah yang menyebabkan unsur organik makin berkurang dan unsur anorganik makin bertambah kadarnya karena masuknya unsur kimia anorganik dari luar, salah satunya adalah unsur F (fluorine). Penelitian ini membahas tentang kandungan F (fluorine) pada fosil-fosil tulang dan gigi yang bersifat insitu dan tidak insitu yang berasal dari Gua Pawon di Jawa Barat, Sangiran di Jawa Tengah, dan Kalitidu di Jawa Timur. Kandungan F (fluorine) pada fosil tulang dan gigi dapat digunakan untuk menentukan sumber asal fosil yang berstatus tidak insitu dan tidak diketahui kedudukan stratigrafinya. Hasil yang diperoleh adalah material yang berasal dari Gua Pawon mempunyai kadar F (fluorine) yang bervariasi. Material fosil dari Kalitidu yang berstatus insitu mempunyai kadar F (fluorine) yang relatif sama, sedangkan material fosil yang berstatus tidak insitu mempunyai kadar F (fluorine) paling tinggi. Material fosil dari Sangiran memiliki hubungan kandungan F (fluorine) dengan usia formasi yang berbeda dengan Gua Pawon dan Kalitidu, yaitu semakin kecil kadar F (fluorine) pada fosil tulang dan gigi, maka semakin tua umur fosil. Salah satu material fosil, yaitu gigi geraham Homo erectus (JA-41), merupakan fosil gigi Homo erectus termuda yang pernah ditemukan di Sangiran.
GEREJA KATHOLIK HATI KUDUS YESUS PALASARI KABUPATEN JEMBRANA: SEBUAH AKULTURASI BUDAYA
Gothic architecture style flourished in Europe around the XII - XVI century. Catholic Church of Hati Kudus Yesus is an example of the development form of Catholicism and Gothic architecture in Indonesia, and Bali in particular. Local Genius at Catholic Church of Hati Kudus Yesus blends European and local concept of Hinduism in Bali. This study tries to reveal how the acculturation of European Gothic architecture with traditional Balinese architecture and the meaning of acculturation itself for Catholics in Bali in the modern era. The methods of data collections are observation, interviews, and library research. The data was analyzed qualitatively in order to obtain descriptive explanatory data. Based on the observations, it showed that pointed shape, looming, the dominance of arch form and other Gothic ornaments are aligned with the concept of Tri Hita Karana which produce a work of art building with unique flavor.Abstrak Manusia tidak bisa dipisahkan dengan kebudayaannya. Salah satu hasil kebudayaan manusia adalah berupa seni bangun atau disebut arsitektur. Seni gaya arsitektur yang berkembang luas di Eropa adalah gaya Gothic yang berkembang sekitar abad XII-XVI. Gereja Katholik Hati Kudus Yesus merupakan salah satu contoh bentuk perkembangan agama Katholik dan arsitektur Gothic di Indonesia, dan di Bali khususnya. Lokal Genius yang tampak pada bangunan gereja Katholik Hati Kudus Yesus yang memadukan kebudayaan Eropa dan konsep lokal agama Hindu di Bali. Penelitian ini mencoba untuk mengungkapkan bagaimana akulturasi arsitektur Gothic dari Eropa dengan arsitektur tradisional Bali dan makna akulturasi itu sendiri bagi umat Katholik di Bali di era modern. Dengan menggunakan metode pengumpulan data antara lain, observasi, wawancara, dan studi kepustakaan, serta melakukan analisis kualitiatif guna memperoleh data yang bersifat deskriptif eksplanatif. Dari hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bentuk runcing, menjulang, dominasi bentuk lengkung serta ornamen khas Gothic lainnya diselaraskan dengan konsep Tri Hita Karana menghasilkan suatu karya seni bangunan yang bercita rasa unik
ARCA GARUDA WISNU DI PURA GELANG AGUNG, BUANGGA, GETASAN, PETANG, BADUNG
The background of this research is the finding of the Garuda Wisnu statue, with very unique and maybe just only one in Bali until presentday, and also other several archaeological remains at Gelang Agung Temple, Buangga Villages, District of Petang, Badung regency. The aim is to do accurate analisys about presented of the statue and others archaeological remains, to know the role and function in the ancient time.Iconografic method was carried out in this research including form;style;materials and other. The result of analysis is that the Garuda Wisnu is the image statue from the King Dharmaudayana Warmadewa, a King of Bali Kuna Kingdom, from the 10 AD. Bassically from the other archaeological remains, it was assumed that sorounding the Temple of Gelang Agung,was erected a bulding of candi in the past.Penelitian ini dilatar belakangi adanya temuan sebuah arca Garuda Wisnu yang sangat unik dan mungkin hanya satusatunya di Bali hingga saat ini, serta adanya beberapa tinggalan arkeologis lainnya di Pura Gelang Agung Desa Buangga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung.Tujuannya adalah mengkaji dengan cermat tentang keberadaan arca dan tinggalan arkeologi lainnya, dengan harapan dapat diketahui peran dan fungsinya pada masa lampau.Metode penelitian yang diterapkan adalah metode analisis ikonografis,yang meliputi bentuk,gaya, bahan dan lainnya. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa Arca Garuda Wisnu tersebut diduga sebagai Arca Perwujudan Raja Dharmaudayana Warmadewa, seorang raja dari kerajaan Bali Kuna yang berkuasa pada abad ke 10 masehi. Berdasarkan tinggalan arkeologi lainnya, diduga di sekitar lokasi Pura Gelang Agung, dahulunya pernah berdiri sebuah bangunan candi
PRASASTI MAYUNGAN, BATURITI, TABANAN
Mayungan Inscription was found accidentally by people of Mayungan. Based on research this inscription was issued by The King of Jayapangus and His two queens. It could be said that this inscription is almost complete because it mentions the name of Mayungan as the village that received the inscription. The aims of this study are to know the content of the inscription and Mayungan peoples perception on it. Observation, interview, and literature study on the five plates of the inscription were applied to get the data. The inscription mentions about tax dispute happened in Mayungan. The discovery of the inscription brings positive effect to the peoples behaviour on cultural heritage preservation.Prasasti Mayungan ditemukan secara tidak sengaja oleh masyarakat Mayungan. Prasasti ini dikeluarkan oleh Raja Jayapangus beserta kedua permaisuri beliau, merupakan prasasti lengkap, menyebut nama Desa Mayungan sebagai desa penerima prasasti. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui isi prasasti dan persepsi masyarakat Mayungan atas prasastinya. Metode yang digunakan adalah metode observasi, wawancara, dan studi pustaka, terhadap lima lempeng Prasasti Mayungan. Prasasti ini memuat tentang kasus perpajakan yang terjadi di Desa Mayungan. Temuan Prasasti berdampak positif terhadap perilaku masyarakat dalam penanganan warisan budaya
LINGKUNGAN VEGETASI DULU DAN KINI DI SITUS KOBATUWA II, NUSA TENGGARA TIMUR
Kobatuwa II site is located in the Soa Basin, at an altitude of 345 metres above sea level, surrounded by hills and volcanoes, i.e. to the North is Mount Weawavo, Mount Hill Rega, Nuke, and Mangu, South of there is the mountain Inerie and the mountain Logobada, on the West by Mount Meze (Wolo Meze), on the East by Mount Matataka, in the Southeast by Mount Abulobo astronomically, it lay in the 08 position 41 & 23.5 South latitude and longitude 121 05' & amp; 09,3 " East longitude. The purpose of this research is to know the state of vegetation environment that supports human life and the environment of prehistoric vegetation is now associated with the utilization of the natural resources that exist in the vicinity of the site. The method used is the method the vegetation survey and analysis of sediment pollen (Palinology). The survey results indicate that the site Kobatuwa II this included into the savanna vegetation blend, this is because the savanna in this region is dominated by an open forest canopies are composed by plants in the form of trees and shrubs and layers below it overgrown by a mixture of grasses and shrubs are tolerant of drought. The open Savanna Woodland pastures in this region is the dominant terrestrial type. Tree kesambi (Schleichera oleosa) which is one of the dominant species of tree savanna. From the results of the analysis of pollen while it can be noted that there has been a change in the vegetation which has been proven by the discovery of fossils of the Fagaceae only pollen found in wet forests. There has been also a changes in the vegetation of wet forest to savanna vegetation that is currently dominated by the expanse of grassland.Situs Kobatuwa II terletak di daerah cekungan Soa, pada ketinggian 345 meter dari permukaan laut yang dikelilingi oleh perbukitan dan gunung api, yaitu disebelah Utara Bukit Weawavo, Bukit Rega, Bukit Nuke, dan Bukit Mangu, di Selatan Gunung Inerie dan Gunung Logobada, di Barat Gunung Meze (Wolo Meze), di Timur Gunung Matataka, di sebelah tenggara Gunung Abulobo, secara astronomis terletak pada posisi 0841 23,5 LS dan 12105 09,3 BT. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keadaan lingkungan vegetasi yang mendukung kehidupan manusia prasejarah dan lingkungan vegetasi sekarang yang berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya alam di sekitar situs. Metode yang digunakan adalah metode survei dan analisa polen sedimen (Palinology). Hasil survei menunjukkan bahwa situs Kobatuwa II termasuk ke dalam vegetasi savana campuran, hal ini disebabkan karena savana di wilayah ini didominasi tajuk hutan terbuka yang disusun dari jenis tumbuhan berupa pohon maupun semak belukar dan lapisan bawahnya ditumbuhi campuran rumput dan perdu yang toleran terhadap kekeringan. Savana di daerah ini merupakan jenis terestrial yang dominan. Pohon Kesambi (Schleichera oleosa) merupakan salah satu jenis pohon yang dominan. Dari hasil analisis polen diketahui bahwa telah terjadi perubahan vegetasi sejak dulu, terbukti dengan ditemukannya fosil polen jenis Fagaceae yang hanya terdapat pada hutan-hutan basah. Telah terjadi pula perubahan vegetasi dari hutan basah ke vegetasi savana yang saat ini didominasi oleh hamparan padang rumput
REVITALISASI IDENTITAS MASYARAKAT DI KECAMATAN SANGGAR MELALUI DUNIA PENDIDIKAN
Sanggar in the past was a kingdom on the Island of Sumbawa. Currently, Sanggar is a district in Bima Regency, West Nusa Tenggara Province. Sanggar has cultural remains, either tangible or intangible who had almost forgotten. In recent years, Sanggar people began to realize the importance of identity. Sanggar started to revitalize their cultural elements, one of them through formal education. This study raised the questions: What cultural elements are revitalized and what are the strategies undertaken in an effort to revitalize the Sanggar identity. The study was conducted in the District of Sanggar. Data were collected by the method of observation, library research and interviews. This research is a qualitative research. Data were analyzed with depth descriptive analysis and subsequently accommodated in the form of narrative. Sanggar cultural elements which are revitalized can be classified into tangible cultural elements which include a mosque, mausoleum, fort ruins and other artifacts and intangible cultural elements which include language and dances. The strategies carried out in an attempt to revitalize Sanggar cultures are by putting Sanggar local culture learning into the curriculum and conducting outside activities, namely nature tracking and visiting historical sites in Sanggar and performing arts activities.Sanggar di masa lalu adalah sebuah kerajaan di Pulau Sumbawa. Saat ini Sanggar merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Sanggar memiliki tinggalan budaya baik benda maupun tak benda, yang sempat hampir terlupakan. Belakangan ini, masyarakat Sanggar mulai menyadari tentang pentingnya arti identitas. Unsur-unsur budaya Sanggar mulai direvitalisasi, salah satunya melalui dunia pendidikan formal. Rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah unsur-unsur budaya apa sajakah yang dibangkitkan kembali serta strategi apa sajakah yang dilakukan dalam upaya merevitalisasi identitas Sanggar. Penelitian dilakukan di wilayah Kecamatan Sanggar. Data dikumpulkan dengan metode observasi, studi pustaka dan wawancara. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data dianalisis dengan metode deskriptif analitik mendalam dan selanjutnya diakomodasikan dalam bentuk naratif. Adapun unsur budaya Sanggar yang dibangkitkan kembali bisa diklasifikasikan ke dalam unsur budaya benda yang meliputi masjid, makam, sisa benteng dan artefak-artefak lainnya serta unsur budaya tak benda yang meliputi bahasa dan tarian. Strategi yang dilakukan dalam usaha merevitalisasi budaya Sanggar adalah dengan memasukkan pembelajaran budaya lokal Sanggar ke dalam kurikulum dan mengadakan kegiatan di luar jam kelas yaitu Lintas Alam mengunjungi situs-situs bersejarah di Sanggar dan kegiatan pentas seni