Forum Arkeologi
Not a member yet
534 research outputs found
Sort by
HARMONI SUMBERDAYA ARKEOLOGI DAN HIDROLOGI PETANG: IDENTIFIKASI SEBARAN TINGGALAN ARKEOLOGI DAN SUMBER MATA AIR
Water is one of the primary needs in life. Petang subdistrict of Badung regency, especially the northern plateau region is dominated by hills and forests as a water catchment areas. The research aims to identify the distribution of archaeological remains and springs located in this region. Survey method and observation carried out to find the water source and distribution of archaeological remains. The research done also from interviews and literature study. Data were analyzed with qualitative, contextual, and comparative reduction methods. Water sources and archaeological remains are located mostly along the watershed, shaped as petirthaan, ponds, dikes and channels. The spring has a ritual and profane function.Air merupakan salah satu kebutuhan utama dalam kehidupan. Wilayah Kecamatan Petang didominasi oleh perbukitan dan hamparan hutan sekaligus sebagai daerah tangkapan air. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi sebaran tinggalan arkeologi dan sumber mata air yang terdapat di wilayah ini. Metode survei dan observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran sebaran sumber mata air dan tinggalan arkeologi. Selain itu dilakukan juga wawancara dan studi pustaka. Data dianalisis dengan metode kualitatif, kontekstual, reduksi, dan komparatif. Sumber mata air dan tinggalan arkeologi sebagian besar terletak di sepanjang daerah aliran sungai. Mata air tersebut memiliki fungsi ritual dan profan
PERWUJUDAN KONSEP KERAJAAN SURGA PADA PUSAT KOTA KERAJAAN DI BALI
This paper describes the application of kingdom of heaven concept in the centers of kingdom capitals in Bali. The study applies rationalism paradigm placing illustrative conception of the governance of kingdom capitals as a main concept serving as guidance in studying layout forms of the capitals. Research objects are some kingdom capitals selected by means of purposive sampling techniques. The study was focused on several aspects of the royal city, such as its form and layout of the main architectural elements of the city, position of the king, royal temple concept, and layout of the kingdom area in a macro level. The data were collected in two main ways, namely library research and field observations. The findings show that basically the capitals layout is an imaginary picture of the layout and governance in kingdom of heaven in the Hindus point of view, characterized by the presence of equivalence between the two, such as central axis in the center of the kingdom, conceptual equivalence between kings figure and Indra as the king of heaven, and synergistic relationship between kings residence and the existence of royal temple built nearby.Penelitian ini menjabarkan tentang gambaran wujud penerapan konsep kerajaan surga pada pusat-pusat kota kerajaan di Bali. Kajian ini menerapkan paradigma penelitian rasionalistik yang menempatkan konsepsi ilustratif tata pemerintahan Kerajaan Surga sebagai suatu konsep utama yang menjadi panduan untuk mencermati tata ruang ibukota-ibukota kerajaan di Bali. Objek kajian penelitian adalah beberapa pusat kota kerajaan di Bali yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Kajian difokuskan pada beberapa aspek kota kerajaan, seperti wujud dan tata letak elemen-elemen arsitektural utama kota, kedudukan raja, konsep pura kerajaan, dan tata ruang wilayah kerajaan secara makro. Data dikumpulkan dengan dua cara utama, yaitu studi kepustakaan dan observasi lapangan. Hasil temuan menunjukkan bahwa pada dasarnya tata ruang pusat kota kerajaan di Bali merupakan representasi dari gambaran imajiner tata ruang dan tata pemerintahan kerajaan surga yang dikenal dalam pandangan Hindu. Hal ini ditandai dengan adanya beberapa bukti kesetaraan antara keduanya, seperti sumbu pusat wilayah kerajaan di pusat kota, kesetaraan konseptual sosok raja penguasa wilayah dengan Dewa Indra sebagai raja surga, dan relasi yang sinergis puri kediaman raja dengan eksistensi pura kerajaan yang dibangun di dekatnya
SUMBER DAYA ARKEOLOGI KAWASAN KINTAMANI SEBAGAI MODAL PEMBANGUNAN PARIWISATA DAN KOTA PUSAKA DI KABUPATEN BANGLI
Archaeological resources found scattered in the area of Kintamani are tangible cultural heritage which was passed down from generation to generation. These resources are largely derived from prehistoric time especially megalithic tradition and associated with respect to the ancestors. These resources can be a regional asset that can be managed effectively as the capital of tourism development and heritage city. It aims to bring their present value but still pay attention to preservation aspects. The data were collected through observation, completed with interview and literature study. Then, it was analysed descriptive-qualitatively. Kintamani has large potential of archaeological resources which most of them are stored in temples. Management strategies that can be applied namely empowering local communities by involving them directly as the subject of planning, involving various stakeholders, and support from the legal source. The management system must be sustainable in both socio-cultural and economic.Sumber daya arkeologi yang ditemukan tersebar di kawasan Kintamani merupakan warisan budaya tangible yang diwariskan secara turun temurun. Sumber daya ini sebagian besar berasal dari masa prasejarah khususnya megalitik yang berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur. Tinggalan budaya ini merupakan aset daerah yang dapat dikelola secara efektif sebagai modal pembangunan pariwisata dan kota pusaka yang bertujuan untuk memunculkan nilai kekiniannya dengan tetap memperhatikan aspek-aspek pelestarian. Aset tersebut digali dengan observasi langsung yang dilengkapi dengan wawancara, serta ditunjang dengan studi pustaka, kemudian dianalisis secara deskriptif-kualitatif. Kawasan Kintamani mempunyai potensi sumber daya arkeologi yang cukup banyak dan sebagian besar disimpan di lingkungan pura. Strategi pengelolaan yang dapat diterapkan yaitu harus memberdayakan potensi masyarakat lokal, dengan melibatkannya secara langsung sebagai subyek dari perencanaan, pemangku kepentingan, dan dukungan sumber hukum. Sistem pengelolaan tersebut harus berkesinambungan, baik secara sosial budaya maupun ekonomi