Forum Arkeologi
Not a member yet
    534 research outputs found

    COVER FORUM VOLUME 26, NO 2, AGUSTUS 2013

    No full text

    BACK COVER FORUM ARKEOLOGI VOL. 27 NO. 2 AGUSTUS 2014

    No full text

    PREFACE FORUM ARKEOLOGI VOL. 28 NO. 1 APRIL 2015

    No full text

    INTEGRASI BANGSA DAN HARMONISASI SOSIAL: SISTEM PEMERINTAHAN DESA DI BALI

    No full text

    PERBANDINGAN RAGAM HIAS KERETA KYAI GARUDA KENCANA DAN GARUDA YAKSA

    Get PDF
    Carriage is a material manifestation from the highest social structure in the Javanese culture, the kraton. But, studies on this subject are still considered as scarce and having narrow contexts. These two considerations have led this research to adopt not only Javanese, but also European culture paradigm. Using those paradigms, we compared royal carriages ornaments of Kraton Kasunanan Surakarta (named Garuda Kencana) and Kasultanan Yogyakarta (Garuda Yaksa). This study aims to uncover ornaments differences or similarities, how those ornaments symbolized the status of kraton, and how they relate to the social culture at that time. The method being use was qualitative by inductive reasoning. Data were compared and interpreted with combining field and literature data. This research concludes that those carriages are using style and symbolization concept of European ornament. Those similarities are highlighting the social realities that at 19th Century Java, European Dutch culture were dominant among the elites. Kereta adalah salah satu manifestasi bendawi dari struktur sosial tertinggi di kebudayaan Jawa, kraton. Sayangnya, penelitian atas artefak ini masih sedikit dan beberapa penelitian sebelumnya pun konteksnya tidak begitu luas. Dilatari oleh penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian ini mempertimbangkan tidak hanya budaya Jawa, namun juga budaya Eropa. Konteks artefak yang lebih luas dengan dua sudut pandang itu kemudian digunakan untuk membandingkan ragam hias antara kereta-kereta kebesaran Kraton Kasunanan Surakarta dan Kraton Kasultanan Yogyakarta. Dua kereta yang diambil sebagai bahan perbandingan adalah kereta kebesaran di kedua kraton, yaitu Garuda Kencana dan Garuda Yaksa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah perbedaan atau persamaan ragam hias, bagaimana penyimbolan status kerajaan melalui ragam hias itu, dan bagaimanakah pula hubungannya dengan konteks sosial budaya pada masa tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan penalaran induktif. Hasil analisis diinterpretasikan dengan menggabungkan data primer dari observasi langsung dengan data sekunder studi pustaka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kedua kereta tersebut menggunakan gaya ragam hias dan konsep penyimbolan kerajaan pada budaya Eropa. Persamaan tersebut mengungkapkan realita bahwa budaya Eropa Belanda pada abad ke-19 dominan di antara para elit Jawa

    BACK COVER FORUM VOLUME 26, NO 2, AGUSTUS 2013

    No full text

    PREFACE FORUM ARKEOLOGI VOL. 27 NO. 2 AGUSTUS 2014

    No full text

    JEJAK ARSITEKTUR TRADISIONAL DI KAMPUNG MEGALITIK SUMBA BARAT

    No full text

    KARAKTER BANGSA DAN AKTUALISASINYA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT BALI

    Get PDF
    Each community has a character as the values that is inherent in their daily life. The character gives traits in the way of thinking, behavior, infl uenced by a variety of input received from the environment. Therefore, instead of an existing character by nature, but rather the process of life is refl ected in his behavior. Thus the character of a nation is a long process of Indonesian people of which the data traces can be tracked from the past.This paper attempts to lift the national character of the people of Bali, which focused on four villages, in the category of rural villages and coastal villages. Four villages were: Village of Kayubihi and Bugbug (as rural village) and Kampung Baru Village and Kusamba (as coastal village). This study raised the questions: How is the national character refl ected and actualized in the public life ? Further, what factors are affecting the formation of the nation characters in the life of society ? Methodologically, this study tried to do a more comprehensive approach in the following aspects: historical, values, and the environmental community. In terms of method, this study applied qualitative methods, by taking some research steps: interviews, readings, recording, note taking, FGD, and interpretative analysis.The results showed that the character of the nation in the four villages shows similarity that the general concepts applied in Bali, such as: tri hita karana, tri kaya parisuda, tri mandala, desa kala patra, rwa bhineda, Unity in Diversity, Pancasila. While in particular, the remote villages show old tradition properties as the village inheritance, such as: ulu apad, homogeneous properties, hulu teben, the role of village kebayan, while in the coastal village is refl ected by the spirit of multicultural behavior, heterogeneous, mutual respect, and so other. The actualization is shown on people’s lives such as: on mutual understanding, consultation in the village, and the synergy of traditional and offi cial village services, worked together in mutual cooperation, each gives place to the interests of others. All the activities are affected by historical factors, the values of religion, nationality, and the environment. Setiap kelompok masyarakat memiliki karakter sebagai nilai-nilai yang melekat dalam kehidupannya. Karakter itu memberi ciri pada cara berpikir, tingkah laku, yang dipengaruhi oleh berbagai masukan yang diterima dari lingkungannya. Karena itu, karakter sesuatu yang ada secara alamiah, melainkan hasil proses kehidupan yang tercermin dalam tingkah lakunya. Demikian karakter bangsa adalah merupakan suatu proses panjang bangsa Indonesia yang dapat dilacak jejak-jejaknya sejak masa lampau. Tulisan ini mencoba mengangkat karakter bangsa dari masyarakat Bali, yang terfokus pada empat buah desa, dalam kategori desa pedalaman dan desa pantai. Empat desa itu adalah: Desa Kayubihi dan Bugbug (sebagai desa pedalaman) dan Kelurahan Kampung Baru dan Kusamba (sebagai desa pantai). Penelitian ini mengangkat pertanyaan: Bagaimana nilai karakter bangsa itu tercermin dan teraktualisasi dalam kehidupan masyarakat ? Selanjutnya faktor-faktor apa yang memperngaruhi terbentuknya karakter bangsa dalam kehidupan masyarakat itu ? Secara metodologis dicoba melakukan pendekatan yang lebih komprehensif dari aspek-aspek: historis, nilai-nilai, dan lingkungan masyarakat. Dari segi metode, digunakan metode kualitatif, dengan melakukan langkah-langkah penelitian dengan wawancara, pembacaan, perekaman, pencatatan, FGD, dan analisis interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa karakter bangsa di empat desa itu, memperlihatkan persamaan konsep-konsep yang umum berlaku di Bali, seperti: tri hita karana, tri kaya parisuda, tri mandala, desa kala patra, rwa bhineda, bhineka tunggal ika, Pancasila. Sementara secara khusus, desa pedalaman memperlihatkan sifat-sifat kekunaan tinggalan desa, seperti: ulu apad, sifat homogeen, hulu-teben, peranan kabayan desa, sedangkan di desa pantai tercermin semangat menyama braya (multikultur), hetrogeen, saling menghargai, dan lain-lain. Aktualisasinya terlihat pada kehidupan masyarakat seperti: hidup saling memahami, musyawarah dalam desa, sinergi desa adat dan dinas, bergotong royong, saling memberikan tempat pada kepentingan yang lain. Sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi adalah: faktor sejarah, nilainilai agama, kebangsaan, dan keadaan lingkungan

    POTENSI WISATA ARKEOLOGI DI KAWASAN DANAU BERATAN

    Get PDF
    The site around of Beratan Lake, at Candi Kuning Village, District of Baturiti, Tabanan regency, until present day become one destination area at Bali Island. It offers environment tourism, water tourism and also agro tourism. Beside that, surely this area has potential in the aspect of cultural tourism, esspecially archaeological tourism. Around Beratan lake, it was found several archaeological site which spread in many places and consist of several item of archaeological remains, with the their uniquenesses. All of archaeological remains exactley to be sustainable development, caused by the quality and the quantity of the archaeological resourches more posibble became one of the tourism destinations. Planned and integrated treatments of all stake holders are necessary. Kawasan Danau Beratan, di Desa Candi Kuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan,sampai saat ini sudah menjadi salah satu Daerah Tujuan Wisata di Pulau Bali. Daya tariknya berupa wisata alam, wisata air, dan juga agrowisatanya. Disamping semua daya tarik tersebut, sebenarnya wilayah ini memiliki potensi dalam bidang wisata budaya, khususnya wisata arkeologi. Disekitar danau Beratan banyak ditemukan situs-situs arkeologi yang tersebar di berbagai tempat serta terdiri dari berbagai jenis tinggalan arkeologi yang memiliki daya tarik tersendiri. Tinggalan-tinggalan arkeologi ini, sangat tepat untuk dikembangkan secara berkelanjutan, mengingat kwantitas dan kwalitas sumberdaya arkeologi yang ada sangat memungkinkan untuk dijadikan sebuah daya tarik pariwisata. Hanya saja diperlukan penangaan yang bersifat terencana dan terpadu dari semua komponen

    140

    full texts

    534

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Forum Arkeologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇