Forum Arkeologi
Not a member yet
    534 research outputs found

    JEJAK PERMUKIMAN PADA BEKAS KAWAH DORO BENTE: SEBUAH PERSPEKTIF GEOARKEOLOGI KAWASAN TAMBORA

    Get PDF
    Tambora Mountain region still has a mystery about a buried civilization, therefore research is still being carried out to uncover it. This researchaims to obtain archaeological evidence related to settlements on Doro Bente site, located on one of cratersremains on the southern slope of Mount Tambora. Data collection is done through excavation and survey, then analyzed using specific methods which is landscape, contextual, and comparative analysis. At the landscape scale, a recognition to landformis carried out through maps and elevation models, as well as determining the boundaries. Significant artifacts such as clay beads, necklace pendants, mest ballast, bronze ring, ecofacts, features, and the results of landscape reconstruction, further strengthen the indications of settlements, even fromperiod before the 1815 eruption. Kawasan Gunung Tambora masih menyimpan misteri tentang peradaban yang terkubur, maka dari itu penelitian tetap dilakukan untuk mengungkap jejak-jejak peradaban tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan bukti arkeologis terkait permukiman di Situs Doro Bente,yang terletak pada bekas kawah salah satu gunung parasit di lereng selatanGunung Tambora. Pengumpulan datadilakukan melalui ekskavasi dan survei, kemudian dianalisis dengan metode khusus yaitu analisislanskap, kontekstual, dan komparatif. Pada skala lanskap dilakukan pengenalan bentukan lahan melalui peta dan model elevasi, serta menentukan batasannya. Melalui artefak yang signifikan seperti manik-manik tanah liat, bandul kalung, bandul pemberat, cincin perunggu, ekofak, fitur yang ditemukan, serta hasil rekonstruksi lanskap, semakin menguatkan indikasi permukiman, bahkandalam rentang waktu jauh sebelum letusan tahun 1815

    APPENDIX FORUM ARKEOLOGI VOL. 27 NO. 3 NOVEMBER 2014

    No full text

    KOMODITI PERDAGANGAN KESULTANAN TAMBORA KAJIAN PENDAHULUAN HASIL EKSKAVASI SITUS TAMBORA

    Get PDF
    Tambora Sultanate played an important role in the trade hegemony in Nusa Tenggara. Tambora was an area which had many natural resources and produced weaving textile. It made Tambora become strategic as the main zone of comodity that supported Bima Sultanate or did direct selling to other kingdoms and traders. Based on survey and excavation method, it is known that the trading comodities were coffee, hazelnut, honey, deer jerked meat, ropes, weaving crafts, and horses. Some variables that supported the argument that Tambora was a trading zone namely Tambora was rich in natural resources and there were efforts to produce comodities to be sold. Tambora had strategic location which could access to Labuhan Kenanga and Teluk Saleh, trade route to Nusa Tenggara. Tambora was also famous as an area with many bandars which gave a chance for Tambora to be an important part of trading activity. Kesultanan Tambora berperan dalam hegemoni perdagangan di wilayah Nusa Tenggara. Sebagai wilayah yang memiliki sumberdaya alam serta memproduksi kerajinan tenun, menjadi strategis, baik sebagai kawasan penyangga komoditi untuk kesultanan Bima, maupun hubungan dagang langsung dengan kerajaan atau pedagang lainnya. Berdasarkan metode survei dan ekskavasi yang dilakukan dalam penelitian ini dapat menjawab permasalahan tentang komoditi perdagangan yang dimiliki Tambora adalah kopi, kemiri, madu, dendeng rusa, tali tambang, kerajinan tenun dan kuda. Diketahui sejumlah variabel yang mendukung keberadaan Tambora sebagai kawasan perdagangan, selain sumberdaya alam, ada upaya memproduksi komoditi dagang. Variabel geografi s letak kesultanan Tambora strategis memiliki akses ke Labuhan Kenanga dan Teluk Saleh yang merupakan jalur perdagangan ke kawasan Nusa Tenggara. Peranan kesultanan Bima sebagai kawasan yang terkenal memiliki bandar ramai pada waktu itu memberi peluang Tambora dalam kegiatan perdagangan

    BACK COVER FORUM ARKEOLOGI VOL. 28 NO. 1 APRIL 2015

    No full text

    PENGEMBANGAN PUSAKA BUDAYA SITUS WASAN

    No full text

    COVER FORUM ARKEOLOGI VOL. 24 NO. 1 APRIL 2011

    No full text

    PADI GUNUNG PADA MASYARAKAT DAYAK, SEBUAH BUDAYA BERCOCOK TANAM PENUTUR AUSTRONESIA (MELALUI PENDEKATAN ETNOARKEOLOGI)

    Get PDF
    Dayak is one large group of people occupying the island of Borneo which is the speakers. In public life Dayak rice plant is a plant that is very important. An interesting thing is, that there is rice in the Dayak community, especially people whose lives are still in the forest or inland are mountain rice. Not only that religious communities and indigenous arranged such that rice from the process of clearing up the rice consumed. A thing that is so strictly regulated the relationship between humans and rice (plants), and God. The problem that arises is how the sustainability of this traditional rice cultivation in Kalimantan and what caused the traditional culture of rice growing in these fields continues to this day on the Dayak community. This study uses ethnoarchaeology approach. The conclusion is almost all the Dayak people are not familiar with irrigation systems. Cultural sustainability of mountain rice is caused by several factors, namely: the state of geography, the potential for vast land, a culture that has been done for generations, and cost efficiency. Dayak merupakan salah satu kelompok besar masyarakat penghuni Pulau Kalimantan yang merupakan penutur bahasa Austronesia. Dalam kehidupan masyarakat Dayak, tanaman padi sangat dimuliakan dan seluruh masyarakat Dayak yang ada di Pulau Kalimantan. Suatu hal yang menarik yaitu, padi yang ada dalam masyarakat Dayak terutama masyarakat yang masih di dalam hutan atau pedalaman adalah padi gunung atau ladang. Religi masyarakat dan adat mengatur padi sedemikian rupa mulai dari proses membuka lahan hingga padi tersebut dikonsumsi. Permasalahan yang muncul adalah bagaimana keberlanjutan perladangan padi secara tradisional di Pulau Kalimantan dan apa yang menyebabkan budaya tradisonal penanaman padi secara perladangan ini terus berlangsung hingga kini. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnoarkeologi. Kesimpulan yang diperoleh adalah hampir seluruh masyarakat Dayak tidak mengenal sistem irigasi dalam budaya. Kebersinambungan budaya padi gunung atau padi ladang ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: keadaan geografi, potensi lahan yang luas, budaya yang telah dilakukan secara turun temurun, dan kepraktisan. Kata kunci: austronesia, padi, pertanian, teknologi, borneo

    PREFACE FORUM ARKEOLOGI VOL. 27 NO. 3 NOVEMBER 2014

    No full text

    COVER FORUM ARKEOLOGI VOL. 27 NO. 2 AGUSTUS 2014

    No full text

    COVER FORUM ARKEOLOGI VOL. 28 NO. 1 APRIL 2015

    No full text

    140

    full texts

    534

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Forum Arkeologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇