Forum Arkeologi
Not a member yet
534 research outputs found
Sort by
NILAI KESUBURAN TRADISI BUKAKAK DI DESA PAKRAMAN SANGSIT DANGIN YEH, SAWAN, BULELENG
Ethnic Balinese in Sangsit Pakraman Village, Sawan Subdistrict, Buleleng Regency had adaptive abilities that are manifested in the form of Bukakak traditions. The problem that will be revealed in the context of preserving the Bukakak tradition is, 1) the form of Bukakak tradition, 2) the values of Bukakak tradition. The purpose of the study is to know the origin, and understand the benefits and values contained in the Bukakak tradition. The approach used to examine the Bukakak tradition, namely, Cultural Ecology which contains ‘grace’ in accordance with beliefs and faith of its supporting community. This study uses qualitative interpretative method. The organization of this tradition is centered on Gunung Sekar Temple so that religious values and solidarity are the main objectives. Because it is not surprising that this tradition was born based on the view of cosmology in the form of ‘cili’ and Lingga-Yoni, that this nature is fertile built by the motherland (predana) and the sky (akasa-purusa). The conclusion of this research is that the implementation of the Bukakak tradition is very important because it evokes the work ethic of the farmer in addition to integrate the farming community and other professions in Sangsit Dangin Yeh Pakraman Village. Etnis Bali yang berada di Desa Pakraman Sangsit, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng telah memiliki kemampuan beradaptasi denganalam yang diwujudnyatakan dalam bentuk tradisi Bukakak. Masalah yang akan diungkap dalam rangka pelestarian tradisi Bukakak yaitu, 1) Bentuk tradisi Bukakak, 2) Nilai-nilai dalam tradisi Bukakak. Tujuan penelitian untuk mengetahui asal-usul, dan memahami, manfaat dan nilai yang dikandung dalan tradisi Bukakak. Pendekatan yang digunakan untuk mengkaji tradisi Bukakak yakni, Ekologi Budaya yang mengandung ‘rahmat’ sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan masyarakat pendukungnya. Penelitian ini mempergunakan metode qualitative interpretative. Penyelenggaraan tradisi ini dipusatkan di Pura Gunung Sekar sehingga, nilai religius dan solidaritas menjadi tujuan utama. Karena itu tidak mengherankan kalau tradisi ini lahir didasari pandangan kosmologi dalam bentuk cili dan Lingga-Yoni. Bahwa alam ini subur yang dibangun oleh ibu pertiwi (predana) dan langit (akasapurusa). Kesimpulan dari penelitian ini penyelenggaraan tradisi Bukakak menjadi amat penting karena membangkitkan etos kerja petani disamping mengintegrasikan masyarakat petani dan profesi lain di Desa Pakraman Sangsit Dangin Yeh
PENGARCAAN DEWA WISNU PADA MASA HINDU-BUDDHA DI BALI (ABAD VII-XIV MASEHI)
Figurine of goddess Vishnu is an archaeological remain of Hindu-Buddhist period that rarely found in Bali. This research examines the variation of iconography, as well as the role and the position of Vishnu in the Hindu-Buddhist period in Bali in VII-XIV Century AD. The purpose of this research is to reconstruct the history of Balinese culture in the past, especially in the religion aspect. The methods of data collection are literature study, observation and interviews as well as data processing through the analysis of comparative iconography, and iconoplastic. The theory that used to assist analysis is a theory of religious iconology and iconography of Erwin Panofsky. Based on the results of the study found that there is a variation of the iconography on the statues of Vishnu in Hindu-Buddhist period in Bali. The variation can be seen in the variety of depictions of jewelry, clothing, “laksana” and posture. There are also variations for the iconography that caused by the factors of the ability and creativity of the artists, social restriction, cultural influence and raw material of the statue. The role and position of Vishnu in the Hindu-Buddhist period in Bali as a protector and preserver. His position is important although it is not as high as the god of Shiva. Arca Dewa Wisnu merupakan tinggalan arkeologi dari periode Hindu- Buddha yang sangat sedikit ditemukan di Bali. Penelitian ini meneliti variasi ikonografi, serta peranan dan kedudukan Dewa Wisnu pada masa Hindu-Buddha di Bali abad VII-XIV Masehi. Tujuan penelitian ini adalah untuk merekonstruksi sejarah kebudayaan masyarakat Bali pada masa lalu terutama aspek religinya. Penulis menggunakan metode pengumpulan data seperti studi pustaka, observasi dan wawancara serta pengolahan data melalui analisis ikonografi, ikonoplastik dan komparatif. Teori yang digunakan untuk membantu analisis adalah teori ikonografi dan ikonologi Erwin Panofsky. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat variasi ikonografi pada arcaarca dewa Wisnu pada masa Hindu-Buddha di Bali abad VII-XIV Masehi. Variasi terlihat pada ragam penggambaran perhiasan, busana, laksana, dan sikap tubuh. Adapun variasi ikonografi disebabkan oleh faktor kemampuan dan kreativitas seniman, batasan sosial, pengaruh budaya dan bahan baku arca. Peranan dan kedudukan dewa Wisnu pada masa Hindu-Buddha di Bali yaitu sebagai dewa pelindung dan pemelihara, kedudukannya sangat penting walaupun tidak setinggi Dewa Siwa
SEJARAH DAN PROSPEK PENGEMBANGAN SITUS KAPAL KARAM WAIRTERANG, SIKKA, NUSA TENGGARA TIMUR
Indonesia has very large water areas and dense maritime activities which is very rich in underwater archeological remains. These artefacts certainly have the significance value of history, science, and culture. One of the potential underwater archaeological remains found is the site of Waiterang shipwreck in Sikka District, East Nusa Tenggara Province. This paper aims to determine the importance of the shipwreck, therefore public could understand the historical event which happened there. Data collection is done through exploration, surveys, interviews, and then associated with relevant literatures. Exploration is carried out on primary archeological data and environmental data at the seabed and the surrounding area. Land surveys are carried out to observe archaeological remains in this area, while underwater surveys are carried out by diving techniques using SCUBA (Self Contained Underwater Breathing Apparatus) equipment. The data were analyzed by descriptive, comparative, and oceanographic analysis methods. The results showed that the ship sunken during the Japanese occupation of Indonesia. The existence of a shipwreck at Wairterang has potential development of special interest of the underwater tourism and local history subject for educational purposes. Indonesia memiliki wilayah perairan yang sangat luas dan aktivitas maritim yang padat sehingga sangat kaya akan tinggalan arkeologi bawah air. Tinggalan tersebut tentunya memiliki siginifikansi informasi yang berkaitan dengan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Salah satu potensi tinggalan arkeologi bawah air yang ditemukan adalah situs kapal karam Waiterang yang terdapat di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai penting dari kapal karam tersebut agar dipahami oleh masyarakat bahwa pada masa lalu di wilayah ini pernah terjadi suatu peristiwa sejarah. Pengumpulan data dilakukan melalui eksplorasi, survei, wawancara, dan kemudian dikaitkan dengan literatur yang relevan. Eksplorasi dilakukan terhadap data arkeologi primer dan data lingkungan, yaitu artefak-artefak di dasar laut dan kawasan sekitarnya. Survei darat dilakukan untuk mengobservasi tinggalan arkeologi yang terdapat di wilayah ini, sedangkan survei bawah air dilakukan dengan teknik selam dengan menggunakan alat SCUBA (Self Contained Underwater Breathing Apparatus). Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan metode analisis deskriptif, komparatif, dan analisis oceanografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapal tersebut karam pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Keberadaan kapal karam di Wairterang tersebut memiliki potensi untuk pengembangan wisata bawah air minat khusus dan juga perlu ditambahkan dalam mata pelajaran sejarah lokal di daerah
PENDEKATAN EKOLOGI DALAM PERMUKIMAN KUNO SITUS DORO MANTO
The Doro Manto site located in Hu’u District, Dompu Regency, West Nusa Tenggara. It has a perfected settlement culture that needs to be revealed. This study aims to find out the ancient settlements at Doro Manto Site through traces that are still found today. This research is qualitative research with an ecological approach. The data of this study were collected through literature studies and direct observation at Doro Manto Site. After the data is collected, it is analyzed and concluded. The results of this study are in the form of the spread of pottery sherds and stone holes located at the top of Doro Manto; throne of ncuhi on the slope; stone shower, stone stairs, hollow stones with a platform above it, grave with a cover in the form of a large stone and ‘batu gong’ as grave goods. There are also findings of ceramics and Chinese coin at the base of Doro Manto; rice fields and rivers downstream. Based on the results of these studies it can be seen that the Doro Manto Site is an ancient settlement site that utilizes high hills, with the application of local genius leka dana. Situs Doro Manto terletak di Kecamatan Hu,u, Kabupaten Dompu, Nusa Tengara Barat, memiliki budaya permukiman yang adiluhung yang perlu diungkap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui permukiman kuno yang ada di Situs Doro Manto melalui jejak-jejak yang masih ditemukan saat ini. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan pendekatan ekologi. Data penelitian ini dikumpulkan melalui studi pustaka dan observasi langsung di Situs Doro Manto. Setelah data terkumpul, kemudian dianalisis dan disimpulkan. Hasil penelitian ini berupa sebaran kereweng dan lubang-lubang batu yang terletak di puncak Doro Manto; tahta ncuhi di lereng; pancuran batu, batu tangga, batu berlubang dengan tonjolan di atasnya, kubur dengan penutup berupa batu besar dan batu gong dengan bekal kubur, terdapat pula temuan keramik dan uang kepeng di pangkal Doro Manto; areal persawahan dan sungai pada bagian hilir. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa Situs Doro Manto merupakan situs permukiman kuno masa ncuhi yang memanfaatkan bukit tinggi, dengan penerapan lokal genius leka dana
PERILAKU KONSUMSI KERANG OLEH MASYARAKAT PESISIR DESA HALERMAN, ALOR BARAT DAYA, NUSA TENGGARA TIMUR
Exploitation of aquatic resources has been carried out since the time of hunting and gathering food. Aquatic resources are generally exploited by communities or people living in coastal areas. One area that still exploits aquatic resources is Halerman Village, Alor Barat Daya Regency. People who live on the coast use marine resources as food, one of which is shellfish. The most shellfish that widely exploited is Haliotidae. Research question brought in this article is how shellfish consumption behavior of people in Halerman Village is. The purpose of this research is to record shellfish consumption behavior of people in Halerman Village. The research method used was in the form of observation and interviews regarding all stages of shellfish exploitation conducted by Alor coastal communities in Halerman Village. The use of shellfish is closely related to the consumption behaviors of the community which consists of the search for shellfish carried out during periods of low tide when the intertidal area is exposed. When collecting the shellfish, people use various equipment such as iron, wood, stone, baskets and buckets. The method of processing is done by gouging, burning, boiling, cooking with spices and breaking the shell using stones or other hard tools. Shellfish processing in archaeological assemblages can be demonstrated by the presence of breakage and/or burning patterns on the shell remains. These experimental and ethno-archaeological observations can be used as a reference for understanding the behaviour that resulted in the formation of shells in archaeological deposits. Pemanfaatan sumber daya akuatik telah dilakukan sejak masa berburu dan mengumpulkan makanan. Sumber daya akuatik pada umumnya dieksploitasi oleh komunitas atau masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir. Salah satu daerah yang masih melakukan eksploitasi sumber daya akuatik yaitu Desa Halerman, Kabupaten Alor Barat Daya. Masyarakat yang bertempat tinggal di pesisir memanfaatkan sumber daya laut sebagai bahan pangan, salah satunya kerangkerangan. Salah satu jenis kerang yang banyak dieksploitasi yaitu Haliotidae. Rumusan masalah penelitian yaitu bagaimana perilaku konsumsi kerang masyarakat Desa Halerman. Tujuan Penelitian untuk mendokumentasikan perilaku konsumsi kerang masyarakat Desa Halerman. Metode penelitian yang digunakan berupa observasi partisipasi dan wawancara yang dilakukan kepada masyarakat pesisir Alor di Desa Halerman. Pemanfaatan kerang erat kaitannya dengan perilaku konsumsi masyarakat yang terdiri dari waktu pencarian kerang, cara pemilihan dan proses pengambilan, alat yang digunakan serta cara pengolahan kerang. Waktu pencarian kerang dilakukan meting surut (air laut surut) pada saat area intertidal terbuka. Jenis kerang yang dikonsumsi pada umumnya jenis kerang yang hidup di area low dan middle intertidal, akan tetapi salah satu jenis yang paling banyak dicari merupakan jenis kerang abalone (Haliotidae), alat yang digunakan untuk mencari kerang berupa besi, kayu, batu, keranjang dan ember. Cara pengolahan yang dilakukan dengan cara dicungkil, dibakar, direbus, dimasak bersama bumbu dan dipecahkan cangkangnya menggunakan batu atau alat keras lainnya. Pola pecah atau bekas pembakaran pada cangkang kerang dapat menjadi referensi untuk penelitian arkeologi yang berkaitan dengan pola kerusakan cangkang kerang pada deposit arkeologi
IDENTIFIKASI DAN PEMAKNAAN RELIEF FLORA PADA TINGGALAN ARKEOLOGI DI LERENG BARAT GUNUNG LAWU
The holy building religious in the past founded in Indonesia equipped with various componens. One of the componens that to interesting for talking is relief. the temples is locatated in western slope Mount Lawu much to contain various kinds of relief, but this study want to identify the kind of type of flora that enshrined in the form of relief as well as looking for the functions and benefits. Data collection was done through observation and literature review. Data analysis was using qualitative and contextual. This research managed to identify twelve the kinds of relief is coconut, jackfruit, eggplant, areca nut, durian, lotus, banyan tree, wine, plants spread, silk cotton tree, bulging, banana?. This flora reliefs carved in different places is in the housing, the grave, and the forest. The function showed is for beautify temple building, showed environment in the past, and function link to religious. The past peoples that lived in research site to using flora to the foods, medicine, and holy ritual. Bangunan suci keagamaan masa lalu yang ditemukan di Indonesia dilengkapi dengan berbagai komponen. Salah satu komponen yang menarik untuk dibicarakan adalah relief. Candi-candi yang terletak di Lereng Barat Gunung Lawu mengandung berbagai jenis relief, namun studi ini lebih memfokuskan terhadap relief tumbuh-tumbuhan. Untuk itu penelitian ini ingin mengidentifikasi jenis-jenis flora yang diabadikan dalam bentuk relief serta menelusuri fungsi dan manfaatnya. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi dan kajian pustaka. Analisis yang digunakan ialah kualitatif dan kontekstual. Penelitian ini berhasil mengindentifikasi duabelas jenis flora yaitu kelapa, nangka, terung, pinang, durian, teratai, beringin, anggur, tumbuhan menjalar, randu, kepuh, dan pisang?. Relief-relief flora ini dipahatkan diberbagai lokasi baik di perumahan, kuburan, maupun hutan. Fungsi yang ditunjukkan adalah untuk memperindah bangunan candi, menunjukkan lingkungan masa lalu, dan fungsi dalam kaitan keagamaan. Masyarakat masa lalu yang hidup di situs penelitian memanfaatkan berbagai jenis flora untuk bahan makanan, obat-obatan, dan upakara