Perkebunan dan Lahan Tropika
Not a member yet
77 research outputs found
Sort by
MODIFIKASI MEDIA ALTERNATIF DARI SAYURAN UNTUK ANALISIS KUANTITATIF PERTUMBUHAN MIKROORGANISME ASAL TANAH GAMBUT KALIMANTAN BARAT DENGAN METODE TPC
Medium formulations for quantitative testing and isolation of microorganism from peat soils, require adequate nutrition. This needs to be supported by the type of substrate and incubation conditions that support each other. Isolation media used mostly though available, but the price is quite high. This is what underlies the need to find alternative sources of new substrates that can support the growth of microbes from peat soils. Some of these ingredients include, carrots, Gembili Bulbs, tomatoes, and pumpkin which are abundantly available in West Kalimantan. This study shows that the best substrate in isolation of bacteria and fungi from peat is Gembili Bulbs with a total colony of 26 x 105 (CFU / gr) and fungi of 10 x 105 (CFU / gr). Peat bacteria and fungus cannot grow on carrot and pumpkin substrate media as indicated by the absence of growing microbial colonies. The best formulation of microbial isolation media with Gembili Bulbs is also supported by the highest C / N ratio of 44.8.Key Words : Bacteria, Fungi, Quantitative, Pour Plate Methode, TP
FLUKS CO2 MALAM HARI PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI LAHAN GAMBUT
The use of peat land for the development of oil palm plantations is considered to have a negative impact on the environment based on the release of CO2 emissions. Some of the results of the study show that emissions measurements using a closed hood method with a measurement duration of 2-4 minutes that takes place during the day. The aim of this study was to measure CO2 flux at night on oil palm plantation areas of 9 years and 10 years in peatlands and to analyze the relationship of CO2 flux at night in oil palm plantations on peat with Temperature Soil, Groundwater Face, Water Content Gravimetric, Soil pH, and Eh Soil. Location this research was carried out on the oil palm plantation area of PT. Sintang Raya. The location of the research plot is located in the village of Olak-olak Kubu, Kubu District, Kubu Raya Regency, West Kalimantan in July 2018 until October 2018. Measurements were made using vaisala with CO2 sensors namely InfraRed Gas Analyzer (vaisala) and conducted for ≤4 minutes per plot. This measurement is carried out in the afternoon until the morning and is repeated every 4 hours at 18.00, 22.00, 02.00 and 06.00. The measurement of CO2 flux is done once a week starting from August to September. The results showed that nighttime CO2 flux in oil palm plants on peatland was between 0.27 g CO2 m-2 hours-1 to 0.34 g CO2 m-2 hours-1 or equivalent to 26.86 tons CO2 ha-1 year-1 to 29.74 tons CO2 ha-1 year-1. Differences in levels of organic matterand ash content between peatlands in TM 6 and TM 7 did not cause significant differences in CO2 flux values between the two locations. Variation in the time of measurement of real estate at night, but does not affect real changes in flux values. This is related to the level of organic matter, ash content, and also the temperature associated with CO2 flux, including other factors that also determine the amount of nighttime CO2 flux on peatland.Keywords: CO2 Flux, Measurement Time, Plant Age
ANALISIS TINGKAT PENDAPATAN DAN KESEJAHTERAAN PETANI KELAPA KELAPA SAWIT DI DESA MERARAI SATU KECAMATAN SUNGAI TEBELIAN KABUPATEN SINTANG
Kelapa kelapa sawit merupakan salah satu komoditas ekspor non migas yang mempunyai nilai ekonomi dalam perdagangan nasional maupun internasional. Pesatnya perkembangan perkebunan kelapa kelapa sawit di Kalimantan Barat tidak dipungkiri turut mendongkrak perekonomian di Kalimantan Barat. PT. SDK III (SDK III) yang beroperasi di Desa Merarai Satu kecamatan Sungai Tebelian Kabupaten Sintang. PT. SDK III adalah perusahaan yang mengacu pada pola pengembangan perkebunan inti rakyat dikaitkan dengan program pengembangan transmigrasi (PIR-Trans). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Tingkat pendaptan dan kesejahteraan petani kelapa kelapa sawit di Desa Merarai Satu Kecamatan Sungai Tebelian Kabupaten Sintang. Dari perhitungan uji t tingkat pendapatan petani kelapa kelapa sawit setelah lunas kredit lebih tinggi dibandingkan sebelum lunas kredit petani kelapa kelapa sawit terhadap PT. SDK III hal ini dapat dilihat pada uji-t diperoleh t hitung > t tabel yaitu sebesar 12,245 dan t tabel pada 0,05 sebesar 2,708 yang artinya tolak H0 dan terima H1.Tingkat kesejahteraan petani kelapa kelapa sawit sebelum dan setelah lunas kredit diukur dengan menggunakan indikator tingkat kesejahteraan setara beras (Sajogyo) dimana sebelum lunas kredit petani kelapa kelapa sawit di Desa Merarai Satu termasuk dalam kriteria cukup dimana terdapat 32 KK atau sebesar 80% KK petani kelapa kelapa sawit sedangkan setelah lunas kredit petani kelapa kelapa sawit Di Desa Merarai Satu termasuk dalam kriteria kaya yaitu sebanyak 28 kk atau 70% petani kelapa kelapa sawit. Dari pendapatan setara beras dapat disimpulkan bahwa petani kelapa kelapa sawit di Desa Merarai Satu dapat dikatakan sejahtera.Kata kunci : Tingkat Pendapatan, Kesejahteraan, Petani Kelapa Kelapa sawi
Studi Sifat Fisik Tanah Pada Kebun Karet Dan Kelapa Sawit Di Desa Rasan Kecamatan Ngabang Kabupaten Landak Wirahadi
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan sifat fisik tanah pada kebun karet dan kelapa sawit di Desa Rasan Kecamatan Ngabang Kabupaten Landak. Titik pengamatan sampel tanah di ambil pada kebun karet dan kelapa sawit dengan kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm. Parameter pengamatan yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari karakteristik sifat fisik tanah yaitu warna tanah, struktur tanah, tekstur tanah, bobot isi tanah, kadar air kapasitas lapangan, porositas tanah, permeabilitas tanah, kemantapan agregat tanah, kandungan C-organik, N-total, C/N rasio, dan reaksi tanah (pH).Hasil pengamatan warna tanah di lapangan pada kebun karet dan kelapa sawit diketahui bahwa, terdapat beberapa perbedaan dan persamaan pada setiap titik pengamatan. Struktur tanah kebun karet dengan kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm gumpal membulat dan butir (granular) sedangkan pada kebun kelapa sawit dengan kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm struktur tanah yaitu gumpal bersudut. Sementara tekstur tanah pada kebun karet kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm termaksuk lempung liat berpasir dan lempung berliat sedangkan tekstur tanah pada kebun kelapa sawit dengan kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm termasuk lempung liat berpasir, liat dan lempung berliat.Kemantapan agregat tanah lebih tinggi pada kebun kelapa sawit dibandingkan dengan kebun karet. Sementara hasil analisis bahan organik pada kebun karet dan kelapa sawit tergolong rendah sampai dengan sangat rendah baik itu pada kedalaman 0-30 cm maupun 30-60 cm, N-total rendah sampai dengan sangat rendah, dan C/N rasio rendah serta reaksi tanah (pH) masam sampai sangat masam. Kata kunci : Ultisol, Sifat Fisik Tanah, Karet dan Kelapa Sawit
IDENTIFIKASI SIFAT FISIKA TANAH ULTISOLS PADA DUA TIPE PENGGUNAAN LAHAN DI DESA BETENUNG KECAMATAN NANGA TAYAP KABUPATEN KETAPANG
Penelitian bertujuan membandingkan sifat fisika tanah pada kebun karet dan kelapa sawit di Desa Betenung Kecamatan Nanga Tayap Kabupaten Ketapang. Sampel tanah diambil secara diagonal dengan mengambil sampel tanah utuh, sampel tanah agregat utuh dan contoh tanah terganggu. Sampel tanah di ambil pada kebun karet dan kelapa sawit dengan kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm. Hasil penelitan menunjukkan profil warna tanah pada kebun karet terdapat dua lapisan warna tanah yaitu 7,5YR 3/3 coklat gelap dan 7,5YR 6/8 kuning kemerahan. Profil warna tanah pada perkebunan kelapa sawit terdapat dua lapisan warna tanah, lapisan pertama 7,5YR 4/6 coklat gelap, lapisan kedua 7,5YR 6/8 kuning kemerahan. Struktur tanah kebun karet lapisan I remah, lapisan II dan III gumpal membulat. Struktur pada kebun kelapa sawit lapisan I remah, lapisan II gumpal bersudut, lapisan III gumpal membulat. Tekstur tanah kebun karet kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm termasuk lempung dan lempung berliat, pada kebun kelapa sawit kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm termasuk lempung liat berdebu. Hasil uji t bobot isi tanah kebun karet dan kelapa sawit kedalaman 0-30cm berbeda tidak nyata, kedalaman 30-60 cm berbeda nyata. Hasil uji t kadar air kapasitas lapangan kebun karet dan kelapa sawit kedalaman 0-30 cm dan 30-60cm berbeda tidak nyata. Hasil uji t porositas tanah kebun karet dan kelapa sawit kedalaman 0-30 dan 30-60 cm berbeda tidak nyata. Hasil uji t permeabilitas tanah kebun karet dan kelapa sawit kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm berbeda tidak nyata. Kemantapan agregat tanah lebih tinggi pada kebun kelapa sawit dibandingkan hutan karet, baik kedalaman 0-30 cm maupun 30-60 cm. Bahan organik pada kebun karet dan kelapa sawit tergolong rendah, baik pada kedalaman 0-30 cm maupun 30-60 cm, N-total rendah, dan C/N rasio rendah serta reaksi tanah (pH) masamKata kunci : Ultisols, Sifat Fisika Tanah, Kebun Karet dan Kelapa Sawit
Kadar Hara Npk Tanaman Kelapa Sawit pada Berbagai Tingkat Kematangan Tanah Gambut Di Perkebunan Kelapa Sawit PT. Peniti Sungai Purun Kabupaten Mempawah
Kadar hara merupakan proses untuk mengetahui kandungan unsur hara yang ada didalam jaringan tanaman. Kadar hara diperoleh melalui survey lapangan dan analisis unsur hara di laboratorium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Kadar hara N, P dan K serta merekomendasi penggunaan hara N, P dan K untuk tanaman kelapa sawit sehingga dapat meningkatkan produksi kelapa sawit. Penelitian ini dilakukan di PT. Peniti Sungai Purun Kabupaten Mempawah. Hasil Analisis menunjukkan bahwa kadar hara N, P dan K pada Blok G50 tergolong defisiensi sampai optimum, Blok H34 tergolong defisiensi sampai optimum, Blok I26 tergolong defisiensi sampai optimum, dan Blok J26 tergolong defisiensi sampai optimum. Pada masing-masing Blok di Rekomendasikan dosis pemupukan N, P dan K untuk blok G50 (1,73 kg urea/pohon/tahun, 1,50 kg Rock Phospate/pohon/tahun, dan 2,50 kg KCl/pohon/tahun). Blok H34 (3.00 kg urea/pohon/tahun, 3,50 kg Rock Phospate/pohon/tahun, dan 3,50 kg KCl/pohon/tahun). Blok I26 (1,73 kg urea/pohon/tahun, 1,50 kg Rock Phospate/pohon/tahun, dan 2,50 kg KCl/pohon/tahun). Blok J26 (3,00 kg urea/pohon/tahun, 3,50 kg Rock Phospate/pohon/tahun, dan 3.50 KCl/pohon/tahun). Dosis rekomendasi digunakan untuk meningkatkan produksi tanaman Kelapa Sawit di PT. Peniti Sungai Purun.Kata Kunci : Kadar Hara, Rekomendasi Pemupuka
PENGARUH ASAP CAIR TEMPURUNG KELAPA TERHADAP P. palmivora PENYEBAB PENYAKIT BUSUK BUAH PADA KAKAO
Penyakit busuk buah yang disebabkan oleh P.palmivora merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman kakao kerena menyebabkan kerugian cukup besar pada hasil panen. Salah satu cara pengendalian busuk buah menggunakan asap cair tempurung kelapa. Penelitian ini bertujuan memperoleh konsentrasi asap cair untuk menekan aktivitas P.pamivora. Penelitian berlangsung selama tiga bulan di Laboratorium Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan 0%, 5%, 10%, 20%, 40% dan fungisida berbahan aktif mancozeb 80% di ulang 3 kali. Parameter yang diamati adalah jumlah bercak dan panjang bercak, pengamatan dimulai pada hari kelima setelah inkubasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengendalian penyakit busuk buah menggunakan cuka kayu efektif pada konsentrasi 5% dan 10% yang mampu menghambat aktivitas P.palmivora.Kata Kunci: Buah kakao, asap cair tempurung kelapa, P.palmivor
Analisis Risiko Produksi Usaha Tani Karet Unggul dan Karet Lokal Di Desa Sekura, Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas
Penelitian ini bertujuan untuk Menganalisis seberapa besar Risiko Produksi Pada Kelompok (1) Umur Tanaman 15 dan 16 Tahun, Kelompok (2) Umur Tanaman 17 dan 18 Tahun, dan Kelompok (3) Umur Tanaman 20 Tahun Usahatani Karet Unggul dan Karet Lokal di Desa Sekura Kecamatan Teluk Keramat Kabupaten Sambas dan untuk Membandingkan Risiko Produksi Usahatani Karet Unggul dan Karet Lokal di Desa Sekura Kecamatan Teluk Keramat Kabupaten Sambas. Pada penelitian ini menggunakan metode survey dengan lokasi penelitian di Desa Sekura Kecamatan Teluk Keramat Kabupaten Sambas. Lokasi penelitian ditentukan dengan sengaja (purposive), populasi dalam penelitian ini adalah petani karet unggul dan petani karet lokal sebanyak 84 orang dengan 42 orang petani karet unggul dan 42 orang petani karet lokal. Variabel penelitian meliputi Risiko produksi usahatani karet unggul dan karet lokal. Tekhnik analisis data yang digunakan adalah koefisian variasi (CV).Hasil penelitian dari ketiga kelompok umur tanaman karet unggul maupun lokal yaitu umur 15 dan 16 tahun, 17 dan 18 tahun, dan 20 tahun. Ternyata yang paling berisiko adalah pada umur 20 tahun dengan nilai CV 1 = 0,47 > CV 2= 0,37. dan produksi yang dihasilkan usahatani karet unggul lebih besar daripada produksi karet lokal. Risiko produksi usahatani karet unggul lebih besar atau sama dengan risiko produksi karet lokal dengan nilai CV 1 = 0,36 ≥ CV 2 = 0,32Kata Kunci : Risiko Produksi, Usahatani, Karet Unggul, Karet Lokal
UJI PATOGENISITAS NEMATODA PATOGEN SERANGGA (Steinernema carpocapsae) DARI TANAH GAMBUT TERHADAP RAYAP TANAH (Coptotermes curvignathus)
Rayap tanah (Coptotermes curvignathus) merupakan salah satu hama yang menimbulkan kerugian ekonomis yang sangat besar karena banyak menyerang tanaman pertanian sehingga menyebabkan tanaman mati dan produksi menurun. Salah satu cara pengendalian yaitu secara biologis menggunakan nematoda patogen serangga (Steinernema carpocapsae). Penelitian ini bertujuan untuk melihat daya patogenisitas S. carpocapsae dari isolat tanah gambut terhadap rayap tanah (C. curvignathus). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Hama Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura Pontianak. Rancangan yang digunakan Rancangan acak kelompok (RAK) dengan menggunakan satu perlakuan dan 6 taraf konsentrasi S. carpocapsae (25 ji/ml, 50 ji/ml, 100 ji/ml, 200 ji/ml, 400 ji/ml, dan 800 ji/ml) dengan 5 kali pengulangan. Pengujian patogenisitas dilakukan terhadap C. curvignathus kasta pekerja. Kemampuan patogenisitas S. carpocapsae diukur berdasarkan mortalitas, jumlah S. carpocapsae yang keluar, periode letal dan virulensi. Hasil pengujian menunjukan bahwa S. carpocapsae mampu menyebabkan mortalitas sebesar 100% pada perlakuan 800 ji/ml dalam 96 jam setelah inokulasi. Priode letal yang dihasilkan sebesar 40,68 dan Virulensi sebesar 0,024. Jumlah S. carpocapsae yang dihasilkan tidak berbeda nyata antara satu perlakuan dengan perlakuan lainnya dikarenakan C. curvignathus merupakan serangga uji yang memiliki tubuh ukuran kecil antara 4,5-5,0 mm. Sehingga tiap perlakuan konsentrasi S. carpocapsae yang diinokulasikan memiliki kapasitas ruang yang sama untuk perkembangannya.Kata kunci : Inokulasi, Mortalitas, Priode letal, Virulens