Perkebunan dan Lahan Tropika
Not a member yet
77 research outputs found
Sort by
Kajian Kapasitas Infiltrasi Lahan Jeruk dan Karet Di Daerah Pasang Surut Desa Sebawi Kabupaten Sambas
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari laju atau kapasitas infiltrasi pada lahan yang berbeda (lahan jeruk dan lahan karet) pada wilayah pasang surut di Desa Sebawi Kabupaten Sambas. Pengukuran laju infiltrasi dilakukan pada 4 titik pengukuran tiap lahan, sehingga diperoleh 8 titik pengukuran. Laju infiltrasi diukur dengan menggunakan alat infiltrometer cincin ganda. Keberadaan vegetasi seperti rerumputan memberikan perbedaan laju infiltrasi yang nyata. Dari hasil pengukuran di lapangan, diperoleh pengukuran laju infiltrasi pada lahan jeruk pada saat pasang yaitu 11,78 cm/jam sedangkan pada lahan karet 4,79 cm/jam dan pada saat surut laju infiltrasi lahan jeruk 15,30 cm/jam sedangkan di lahan karet 8,58 cm/jam. Dari hasil analisis laboratorium yang dilakukan bahwa tekstur tanah di dominasi oleh liat, dan menunjukkan t hitung pada lahan jeruk dan lahan karet bahwa bobot isi, porositas, kadar air, berat jenis partikel dan permeabilitas tanah tidak berbeda nyata terhadap t tabel. Tanaman penutup tanah seperti rerumputan sangat membantu meningkatkan porositas tanah, sehingga semakin banyak tanaman penutup tanah dan rerumputan maka laju infiltrasi semakin baik.Kata kunci : Lahan, Infiltrasi, Permeabilitas, Kebun, Infiltrometer Ring Ganda
KARAKTERISASI TRICHODERMA HARZIANUM ASAL LAHAN GAMBUT SEBAGAI AGENS ANTAGONIS TERHADAP PENYEBAB PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG SAWIT SECARA IN VITRO
T. harzianum merupakan agen antagonis yang digunakan untuk pengendalian hayati. Penelitian ini bertujuan mengetahui keragaman cendawan dari beberapa jenis vegetasi di lahan gambut, mengetahui kemampuan daya hambat dan sifat-sifat lain T. harzianum penentuan sifat yang dapat digunakan sebagai penciri T. harzianum sebagai agens pengendali busuk pangkal batang, dan kemampuan mendegradasi kitin sebagai salah satu komponen dinding sel Ganoderma spp.. Pengujian ini dilakukan melalui hasil isolasi T. harzianum dari beberapa areal, inkubasi menggunakan media PDA kemudian dilakukan pencirian berdasarkan uji antagonis, uji pertumbuhan, morfologi dan mekanisme penghambatan, uji kitinase dilakukan dengan menginkubasi cendawan T. harzianum pada media kolodial kitin diamati zona bening setiap hari. Keragaman cendawan dari berbagai wilayah relatif sama. Agen pengendali Ganoderma spp. seperti busuk pangkal batang banyak ditemukan pada wilayah yang ditumbuhi cabai dan hutan belukar. Pencirian T. harzianum terbaik berdasarkan tingginya daya hambat, kerapatan spora dan mekanisme penghambatan. Mekanisme penghambatan bersifat hiperparasit mampu menekan pertumbuhan Ganoderma spp. melalui degradasi kitin.Kata kunci : Busuk Pangkal Batang, Gambut, Pencirian T. harzianum, Sawi
Potensi Bakteri Indigenous pada Tanah Tailing Kecamatan Mandor dalam Remediasi Metil Merkuri
Kecamatan Mandor memiliki banyak lahan penambangan emas baik yang aktif digunakan maupun yang telah ditinggalkan. Wilayah-wilayah yang pernah dibuka sebagai tempat usaha penambangan emas tidak pernah diupayakan untuk membersihkan sisa-sisa merkuri yang digunakan sebagai bahan pemisah butiran emas baik oleh pihak pemerintah, swasta maupun perorangan. Akibatnya wilayah ini menjadi lahan kritis yang rawan dampak pencemaran wabah penyakit yang disebabkan oleh paparan metil merkuri. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bakteri yang berasal dari Kecamatan Mandor dan memiliki kemampuan mereduksi metil merkuri secara in vitro. Isolat yang diperoleh adalah isolat yang dapat dijadikan sebagai agent yang mampu memulihkan lahan yang tercemar metil merkuri. Penelitian dilakukan pada skala laboratorium dan diperoleh sebanyak 20 isolat yang tersebar dari beberapa lokasi pengambilan sampel. Isolat bakteri ditumbuhkan dengan menggunakan metode tuang yang menggunakan media nutrien agar. Dari 20 isolat yang ditemukan 6 diantaranya adalah isolat yang memiliki kemampuan hidup pada media yang ditambahkan metil merkuri mulai taraf konsentrasi 5 ppm, 10 ppm dan 15 ppm Hg.Kata kunci : Bakteri Indigenous, Metil Merkuri dan Tailing.
Epidemi Penyakit Hawar Beludru Septobasidium pada Kebun Lada dengan Jenis Tajar Berbeda
Hawar beludru Septobasidium spp. menjadi penyebab utama penurunan produksi lada di Kalimantan Barat. Pada awal kemunculan penyakit umumnya dijumpai pada kebun tua yang tidak terawat. Saat ini penyakit ini dapat dijumpai baik pada kebun yang terawat maupun tidak terawat. Penelitian bertujuan mengenal gejala, penyebaran penyakit dan hubungan antara berbagai anasir penyakit dengan perkembangan patogen di kebun lada dengan tajar yang berbeda. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tanaman sakit memperlihatkan gejala dengan tingkat keparahan beragam dan penyakit dijumpai di semua sentra lada Kalimantan Barat. Intensitas penyakit di Kabupaten Sambas dan Mempawah termasuk berat menunjukkan banyak dijumpai kebun lada yang puso. Perkembangan penyakit memiliki keeratan hubungan dengan temperatur (x1) dan kepadatan spora (x2) baik pada kebun dengan tajar hidup maupun tajar mati. Konsistensi besarnya nilai korelasi ini dijadikan dasar dalam penyusunan model regresi multivariat pada kebun dengan tajar hidup dan mati berturut-turut y= 17,58 - 0,19 x1 + 0,43 x2 dan y=15,30 - 0,18x1 + 0,65 x2. Penyakit berkembang baik saat temperatur udara (x1) mencapai 24 oC dan kepadatan spora (x2) di kebun mencapai 7 spora/cm2. Kata kunci: hawar beludru, lada, tajar dan Septobasidiu
Kajian Formulasi Mutan Trichoderma sebagai Kandidat Agens Pengendali Hayati Hawar Beludru Septobasidium pada Lada
Hawar beludru Septobasidium adalah penyakit utama di sentra lada Kalimantan Barat. Upaya pengendalian penyakit dengan Trichoderma spp. memberikan harapan besar. Trichoderma spp. memiliki keragaman yang tinggi, adaptif terhadap lingkungan ekstrim, mekanisme antagonis bekerja simultan antara antibiosis, hiperparasit dan kompetisi untuk beragam patogen. Media propagasi Trichoderma spp. juga mudah diperoleh dari lingkungan setempat. Penelitian ini bertujuan mengkaji isolat mutan T. harzinum sebagai bahan aktif biofungisida, pembuatan formulasi granuler, kemampuan bertahan dan efektifitas biofungisida di lapangan. Kegiatan meliputi perbanyakan mutan unggul Trichoderma spp isolat Th-E1002, serangkaian uji untuk konfirmasi kemampuan antagonis, degradasi kitin, sporulasi dan pertumbuhan miselium. Pembuatan formulasi granular dengan bahan pembawa seperti tepung beras ketan, bawang putih dan lengkuas. Pengujian kualitas biofungisida melalui aplikasi di lapangan dan kelayakan selama masa penyimpanan. Hasil penelian menunjukkan agens hayati yang baik dapat diperoleh melalui seleksi yang mempertimbangkan berbagai cara kerja agens hayati baik berupa antibiosis, kompetisi maupun hiperparasit. Formulasi biofungisida granuler berbentuk keping berbahan aktif isolat mutan T. harzianum Th-1002 memiliki berat 5 gr, kepadatan konidia 3,5 x 106/keping dan viabilitas konidia mencapai 80%. Masa pakai terbaik dari biofungisida granuler dalam kantung plastik hanya mencapai 1 bulan. Dosis aplikasi 1 tablet/liter digunakan 2-3 kali mampu menghambat Septobsidum spp mencapai 70-80%. Kata kunci: hormon organik, pupuk cair organik, stum mata tidur karet. Kata kunci: biofungisida, hawar beludru, lada
Preferensi dan Respons Fungsional Chelisoches morio terhadap Larva Brontispa longissima di Laboratorium Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Pontianak
Brontispa longissima (Coleoptera : Chrysomelidae) merupakan salah satu hama penting tanaman kelapa yang memerlukan pengendalian, salah satu pengendalian yang ramah lingkungan adalah dengan memanfaatkan predator Chelisoches morio (Dermaptera : Chelisochidae). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi preferensi C. morio terhadap instar larva B. longissima dan mengkaji respons fungsionalnya. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium BPTP Pontianak. Pengujian preferensi menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan dianalisis dengan anova. Pengujian respons fungsional dilakukan dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan dianalisis dengan regresi linier. Hasil uji preferensi menunjukkan bahwa C. morio memiliki preferensi tertinggi pada larva B. longissima instar 1 yaitu 10 ekor (100%), sedangkan preferensi C. morio terendah adalah pada larva instar 4 yaitu 2,25 ekor (22,5%). Hasil uji respons fungsional menunjukkan bahwa C. morio memiliki respons fungsional Holling tipe II {Ne = 0,820Nt/(1+0,024Nt)}. Namun respons fungsionalnya masih lemah karena nilai R rendah yaitu 0,167. Kata Kunci : B. longissima, C. morio, preferensi, respons fungsiona
Salam Sejahtera
Selain kelapa sawit dan karet, hasil perkebunan lada, kelapa dan kakao juga merupakan komoditas perkebunan utama bagi Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Namun demikian, berbeda dengan kelapa sawit yang sebagian besar dikelola oleh perusahaan besar, lada dan kakao hampir semuanya dikelola oleh petani kecil dan bermodal terbatas. Salah satu faktor pembatas produksi lada dan kakao adalah keberadaan patogen. Penyakit Hawar beludru (velvet blight) , saat ini merupakan pembatas utama dalam mempertahankan produksi. Mengingat di daerah lain penyakit ini bukan merupakan penyakit penting, diperlukan kajian komprehensif untuk mengungkap mengapa di Kalbar penyakit ini berkembang luas dan dalam upaya menemukan metode pengendaliannya. Demikian juga dengan penyakit busuk buah karena Phythopthora pada tanaman kakao. Dari tahun ke tahun, penyakit tersebut merupakan faktor penghambat penting dalam peningkatan produksi sehingga tetap memerlukan berbagai kajian dalam pengendaliannya. Penemuan metode dan bahan yang murah serta praktis dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman pada dua komoditas perkebunan utama Kalbar tersebut akan merupakan sumbangan besar dalam upaya peningkatan produksi. Dalam Volume 4 Nomor 2 ini, kami terbitkan artikel yang berupa laporan penelitian tentang upaya pengendalian penyakit hawar beludru pada lada dan busuk buah kakao serta pengendalian hayati hama Brontispa pada kelapa. Sebagai artikel tambahan kami terbitkan hasil penelitian terbaru tentang pembibitan karet. Kami mengucapkan banyak terimakasih kepada para kontributor dan semua mitra bestari yang telah meluangkan waktu untuk penerbitan edisi ini. Redaksi selalu menunggu hasil-hasil penelitian dan telaah terbaru tentang komoditas-komoditas perkebunan lainnya. Semoga bermanfaat
Uji Penggunaan Asap Cair Tempurung Kelapa dalam Pengendalian Phytophthora sp. Penyebab Penyakit Busuk Buah Kakao secara In Vitro
Penelitian ini bertujuan menentukan tingkat konsentrasi yang dapat menghambat pertumbuhan jamur Phytophthora sp. dan pengaruhnya terhadap jumlah sporangium dan klamidospora. Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Pontianak. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas perlakuan asap cair tempurung kelapa pada konsentrasi 0%, 0,02%, 0,043%, 0,085%, 0,17% dan 0,34%. Masing – masing perlakuan diulang sepuluh kali. Percobaan ini dilakukan secara in vitro pada medium agar yang telah dicampur dengan asap cair. Analisis statistik menunjukkan LC50 dalam penelitian ini adalah sebesar 0,11%. konsentrasi di atas LC50 secara nyata menekan pembentukan sporangium dan klamidospora. Kata kunci : asap cair, busuk buah, kaka
Study Content Nutrient Waste Plant Seeds Nyamplung (Calophyllum inophyllum Linn) after Made as Biofuel
Determination revoke government fuel subsidies in 2008, with all its consequences have begun to be realized by finding various solutions techno-socio-economic development. Among the various solutions that are developing alternative fuel made from vegetable oils or biofuels. This is demonstrated by the issuance of Presidential Regulation No. 5/2006 on National Energy Policy and Presidential Instruction No. 1/2006 on the Provision and Use of Biofuels (Biofuel) as an alternative fuel on January 25, 2006. Biofuel Excess addition can also be environmentally friendly renewable, biodegradable, able to eliminate the greenhouse effect, and continuity is assured raw material. Bioenergy can be obtained with a fairly simple way is through the cultivation of biofuel crops, have recently discovered a new source of biofuel that is nyamplung (Calophyllum inophyllum Linn). Nyamplung is a plant that grows in coastal forests. As with other agricultural residual waste, waste from the process of making biofuels from plants also contain nutrients that can be used as a soil or as a source of fertilizer for plants. This study aims to assess the nutrient content of the waste content of seeds nyamplung (Calopphyllum inophyllum Linn) after it is created as a Biofuel. The results showed that the biofuel seed crop nyamplung (Calopphyllum inophyllum Linn) have oil content of 46.57%, and biofuels from waste plant seeds contain nutrients: total N 1.43% (very high), 47.99% Organic C ( very high), total P 0.35% (very low), 1.30% total K (very low), C / N 33.78 (very high), and 17.93 KPK to 100 g-1 (medium). Key words: oil nyamplung, nutrient waste plant seeds nyamplun