Jurnal Akuatika
Not a member yet
    66 research outputs found

    KOMPOSISI KANDUNGAN SENYAWA FLAVOR IKAN MAS (Cyprinus carpio) SEGAR DAN HASIL PENGUKUSANNYA

    Full text link
    Proses pengolahan dapat mempengaruhi karakteristik flavor produk perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa flavor volatil dan non-volatil pada sampel ikan mas (Cyprinus carpio) segar dan hasil pengukusannya serta untuk mempelajari perbedaannya. Penelitian dilakukan dengan cara mendeteksi senyawa-senyawa volatil menggunakan Gas Chromatography/Mass Spectrometry (GC/MS) dan senyawa-senyawa non-volatil (asam amino bebas) menggunakan Liquid Chromatography/Mass Spectrometry (LC/MS) pada sampel ikan mas segar dan ikan mas kukus (suhu 100oC selama 30 menit). Pengujian kandungan proksimat dianalisis secara statistik (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan telah terdeteksi 21 senyawa volatil pada ikan mas segar dan 24 senyawa pada ikan mas kukus. Golongan senyawa volatil yang terdeteksi berasal dari golongan aldehid, alkohol, keton dan hidrokarbon. Hasil identifikasi asam amino bebas menunjukkan bahwa 8 jenis asam amino bebas teridentifikasi pada sampel ikan mas segar dan 12 jenis asam amino bebas pada sampel ikan mas kukus. Hasil analisis kandungan proksimat ikan mas segar dan kukus menunjukkan perbedaan yang signifikan pada kandungan air, protein, lemak dan karbohidrat tetapi tidak pada kadar abu (ikan mas segar: kadar air sebesar 79,65%, abu 1,06%, protein 16,04%, lemak 2,51%, karbohidrat (by difference) 0,73%; ikan kukus memiliki kadar air sebesar 75,10%, abu 1,07%, protein 18,13%, lemak 4,33% dan karbohidrat sebesar 1,76%)

    KARAKTERISTIK CANGKANG KAPSUL YANG TERBUAT DARI GELATIN TULANG IKAN

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan mempelajari sifat-sifat fisikokimia cangkang kapsul yang dibuat dari gelatin tulang ikan.  Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan rancangan acak lengkap yang terdiri dari tiga (3) perlakuan sumber gelatin sebagai bahan baku pembuatan cangkang kapsul yaitu a) gelatin dari tulang ikan tuna, b) gelatin dari tulang ikan nila, dan c) gelatin dari tulang ikan Tuna-Nila.  Perlakuan di ulang sebanyak empat (4) kali.  Pengamatan terhadap cangkang kapsul dilakukan terhadap bobot , kadar air, kadar abu,  pH, ketahanan dalam air, ketahanan dalam larutan asam, dan sifat kelenturan. Data yang diperoleh di analisis dengan uji F, jika hasilnya signifikan maka analisis dilanjutkan dengan uji Jarak Berganda Duncan, masing-masing dengan tingkat kepercayaan 95%. Data sifat kelenturan cangkang kapsul dianalis secara diskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cangkang kapsul yang terbuat dari gelatin tulang ikan nila memiliki sifat fisikokimia yang paling baik dibandingkan dengan yang terbuat dari gelatin tulang ikan tuna maupun campuran tulang tuna-nila. Sifat fisiko kimia cangkang kapsul yang terbuat dari gelatin tulang ikan nila yaitu bobot cangkang 74,66 mg/100 buah cangkjang kapsul, kadar air 13,44 %,  kadar abu 2,09%, pH 5,83, ketahanan dalam air 31 menit , kelarutan dalam larutan asam 6 menit 20 detik, dan sifat kelenturannya mudah pecah

    Identifikasi Tingkat Eksploitasi Sumber Daya Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta) Ditinjau Dari Hubungan Panjang Berat

    Full text link
    Ikan kembung (Rastrelliger kanagurta) salah satu jenis ikan ekonomi penting, jenis ini banyak ditemukan di Perairan Sorong dan sekitarnya dan sering tertangkap dengan alat tangkap bagan maupun purse seine. Sampai sekarang penelitian aspek-aspek biologi terutama tentang ukuran (panjang dan berat) belum banyak dilakukan. Sebagai penelitian pendahuluan, analisa hubungan panjang-berat dimaksudkan untuk mengetahui tingkat eksploitasi sumber daya tersebut.Analisa berdasarkan data panjang berat hasil pengukuran langsung secara acak dari hasil tangkapan  nelayan purse seiene selama 3 (tiga) bulan, dari September-November 2012. Data dianalisa dengan menggunakan persamaan kurva geometrik. Hasil analisa menunjukan sumber daya ikan kembung lelaki (R kanagurta) di Perairan Sorong dan sekitarnya telah over exploitasi dan pertumbuhannya adalah allometris negative, yang ditunjukkan oleh nilai b <3 dan uji t menunjukan bahwa 

    PERANAN SENYAWA METABOLIT SEKUNDER TUMBUHAN MANGROVE TERHADAP INFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio L.)

    Full text link
    Perikanan budidaya di Indonesia sangat beragam macamnya. Akan tetapi, pesatnya perkembangan budidaya belum ditunjang dengan biosecurity yang tepat. Penyakit merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi usaha budidaya perikanan dan menimbulkan kerugian. Salah satu penyebab penyakit adalah bakteri Aeromonashydrophila.Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk menghindari serangan bakteri tersebut adalah penggunaan anti bakterialyang bersifat alami dan efektif untuk membunuh dan menghambat pertumbuhan bakteri, ramah lingkungan serta mudah terurai di perairan, salah satunya senyawa metabolit sekunder dari tumbuhan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan senyawa metabolit sekunder tumbuhan mangrove terhadap infeksi bakteri Aeromonas hydrophilapada ikan mas (Cyprinus carpio L.). Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi FPIK Universitas Padjadjaran dari bulan Mei sampai November 2011. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode eksplorasi di laboratorium. Penelitian ini menghasilkan ekstrak daun mangrove sebanyak 127,6 gram padatan dengan warna hijau tua dan uji kandungan senyawa metabolit sekunder mengandung senyawa flavonoid dan saponin. Sedangkan untuk uji antibakteri Aeromonas hydrophila secara in vitro dengan menggunakan media agar TSA menghasilkan zona daya hambat sebesar 17,02 mm pada konsentrasi 20.000 ppm.Kata kunci : Bakteri Aeromonas hydrophila, Cyprinus carpioL, flavonoid, mangrove, dan saponin  

    PERBANDINGAN HASIL TANGKAPAN KELONG (LIFTNET) MENGGUNAKAN LAMPU CELUP BAWAH AIR (LACUBA) DAN PETROMAKS DI PERAIRAN DESA KOTE KECAMATAN SINGKEP KABUPATEN LINGGA PROPINSI KEPULAUAN RIAU

    Full text link
    Lampu Celup Bawah Air (LACUBA) yang menggunakan warna cahaya berbeda pada alat tangkap Kelong (liftnet) di Desa Kote merupakan hal baru. Dari  percobaan penangkapan secara umum hasil tangkapan kelong yang menggunakan LACUBA jauh lebih banyak dibandingkan menggunakan lampu petromaks. Hasil tangkapan  yang diperoleh dari kelong yang menggunakan lampu dengan  cahaya Sinar Biru dan Kuning  masing-masing adalah 325,25 Kg. dan 282.6 Kg, sedangkan lampu  Petromaks memberikan hasil tangkapan terendah yaitu hanya 164.9 Kg. Sinar biru dengan panjang gelombang terpendek yang lebih berpotensi untuk dihamburkan didalam perairan justru memberikan efek yang lebih baik terhadap kemampuan ikan untuk mendeteksinya dan direspon ikan secara positif

    PENCEMARAN PERAIRAN AKIBAT KADAR AMONIAK YANG TINGGI DARI LIMBAH CAIR INDUSTRI TEMPE

    Full text link
    Penelitian ini dilaksanakan di tempat industri tempe Tuah Karya Pekanbaru. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh pemakaian biofilter tempurung kelapa sawit dalam menurunkan kadar amoniak pada limbah cair tempe. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksprimen, menggunakan dua unit reaktor biofilter bermedia tempurung kelapa sawit dan tanpa media tempurung kelapa sawit. Dengan menghitung efektifitas penurunan kadar amoniak. Hasil pengukuran kadar amoniak pada inlet berkisar 23,37 – 39,12 mg/L, rata-rata 33,67 mg/L dan pada outlet berkisar 19,7- 27,63 mg/L dengan rata-rata 24,91 mg/L. Pada kondisi reaktor stabil dan selama variasi waktu tinggal  1, 3, dan 5 hari, diperoleh kadar amoniak pada inlet berkisar 25,52 – 39, 48 mg/L dan kadar amoniak pada outlet berkisar 18,85 – 30, 64 mg/L dengan efektivitas penurunan kadar amoniak antara inlet dan outlet berkisar 6,73 – 46,16%. Sedangkan pada reaktor tanpa media diperoleh kadar amoniak pada inlet berkisar 33,12 – 41,35 mg/L dan pada outlet berkisar 28,17 – 34,69 mg/L

    KARAKTERISASI DAN BIOAVAILABILITAS NANOKALSIUM CANGKANG UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei)

    Full text link
    Cangkang udang berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan baku dalam proses pembuatan nanokalsium. Tujuan dari penelitian ini yaitu memanfaatkan cangkang udang vannamei menjadi nanokalsium, menentukan karakteristik nanokalsium secara fisik dan kimia serta mengetahui bioavailabilitas nanokalsium yang dihasilkan. Pembuatan nanokalsium dilakukan dengan metode presipitasi. Nanokalsium memiliki rendemen optimum oleh perendaman cangkang udang selama 48 jam (13,92%). Kadar kalsium optimum dihasilkan oleh perendaman cangkang udang selama  48 jam (85,49%). Hasil analisis AAS menunjukkan nanokalsium masih mengandung komponen mineral lain yaitu magnesium, kalium, natrium, fosfor, besi, seng, dan mangan. Nanokalsium yang dihasilkan memiliki nilai pH sebesar 9,40. Ukuran partikel nanokalsium berkisar antara 37-127 nm. Nanokalsium memiliki nilai derajat putih berkisar 81,73-93,39%, dengan rata-rata 87,56%.  Bioavailabilitas nanokalsium cukup tinggi pada menit ke-7 yaitu sebesar 63,3%.   Kata kunci : AAS, bioavailabilitas, cangkang udang Vannamei, nanokalsium, dan SE

    PRODUKTIVITAS KOMUNITAS LAMUN DI PULAU BARRANGLOMPO MAKASSAR

    Full text link
    Lamun merupakan salah satu ekosistem penting di perairan pesisir dan laut dangkal karena mempunyai banyak peran, baik secara ekologis maupun secara ekonomis. Lamun merupakan produser primer pada struktur tingkatan trofik yang menghasilkan bahan organik melalui proses fotosintesis, dan menjadi salah satu kunci dari peran lamun. Oleh karena itu, dilakukan penelitian untuk menentukan besar produktivitas daun dan rhizoma lamun serta kontribusi masing-masing jenis lamun terhadap produktivitas.  Penelitian dilakukan di Pulau barranglompo Makassar.  Pengamatan produktivitas dilakukan dengan metode penandaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas daun lamun berkisar antara 0.604-1.494 gC/m2/hari, sedangkan produktivitas rhizoma berkisar antara 0.013-0.050 gC/m2/hari. Jenis Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii dan Cymodocea rotundata mempunyai kontribusi besar terhadap produktivitas lamun.  Kata kunci : lamun, produktivitas, dan pulau Barranglomp

    KOMPOSISI KIMIA DAN PROFIL POLISAKARIDA RUMPUT LAUT HIJAU

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan bentuk granula polisakarida pada dua spesies rumput laut hijau. U. lactuca mengandung 30.89 ± 1.87 % kadar abu, 2.24± 0.37% kadar lemak, 2.85±0.79 % kadar protein, 7.54±0.19 % serat kasar dan karbohidrat dengan perbedaan 20.86±2.29 %. C.crassa mengandung kadar abu 46.25 ± 0.33 %, kadar protein 2.32± 0.35 %, kadar lemak 0.97± 0.26 %, serat kasar 29.59±1.36 %, karbohidrat by difference 20.86±2.29 %. Secara rinci kandungan polisakarida sampel dianalisis dengan menggunakan metode Van Soest. U. lactuca mengandung hemiselulosa 16.42 %, selulosa 19.58 %, lignin 2.9 %. C. crassa mengandung 43.73 % hemiselulosa, 25.5 % selulosa dan 4 % lignin. Pengamatan mikroskopik polisakarida larut air dingin pada U. lactuca menunjukkan bentuk granula polisakarida berbentuk bulat sedangkan pada C.crassa berbentuk serat  serabut. Kata kunci : Ulva lactuca,Chaetomorpha crassa, Chlorophyta, hemiselulosa, lignin, and selulosa

    SENYAWA ANTIMIKROBA YANG DIHASILKAN OLEH BAKTERI ASAM LAKTAT ASAL BEKASAM

    Full text link
    Bakteri asam laktat (BAL) adalah mikroba dominan yang ditemukan dalam fermentasi ikan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan perkiraan kuantitatif awal dari substansi antimikroba yang dihasilkan oleh isolat BAL asal bekasam dan mengetahui aktivitas antimikrobnya terhadap lima bakteri patogen. Perkiraan kuantitatif asam laktat dan H2O2, menggunakan metode titrasi. Uji aktivitas antimikroba menggunakan metode difusi sumur agar. Karakterisasi (morfologi, fisologi dan pertumbuhan) dan identifikasi menggunakan API 50 CHL (Bio-Mereux, France). Produksi asam laktat dan H2O2 meningkat dengan waktu inkubasi untuk semua isolat kecuali pada isolat BP(3). Produksi asam laktat tertinggi adalah 21,765 g/L yang dihasilkan oleh isolat SK(5) (48 jam inkubasi). Konsentrasi H2O2 yang dihasilkan oleh semua isolat jauh lebih rendah dibandingkan dengan asam laktat. Konsentrasi H2O2 tertinggi ialah 0,079 g/L pada isolat BI(3) dan BP(20) dalam 72 jam inkubasi. Supernatan bebas sel yang dinetralkan tidak menghambat pertumbuhan bakteri uji, sedangkan yang tidak dinetralkan dapat mengambat bakteri uji yang digunakan dengan zona hambat 9 -15 mm. Zona penghambatan terbesar dihasilkan oleh isolat SK(5) (24 jam inkubasi) terhadap S. aureus. Isolat BI(3), BP(3) dan BP(20) adalah Pediococcus pentosaceus 1 dengan kemiripan sebesar 99,9%. Isolat SK(5) adalah Lactobacillus plantarum 1 dengan kemiripan sebesar 99,9%. Penelitian ini menunjukkan bahwa isolat BAL asal bekasam dapat dijadikan sebagai kandidat biopreservatif pangan terutama untuk pengolahan hasil perikanan. Kata kunci: antimikrobial, asam laktat, bakteri asam laktat, bekasam, dan hidrogen peroksida

    63

    full texts

    66

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Akuatika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇