Jurnal Akuatika
Not a member yet
    66 research outputs found

    PENGARUH PERBEDAAN INTENSITAS CAHAYA TERHADAP KELIMPAHAN ZOOXANTHELLA PADA KARANG BERCABANG (MARGA: Acropora) DI PERAIRAN PULAU PARI, KEPULAUAN SERIBU

    Full text link
    Keberhasilan proses transplantasi karang sangat tergantung pada kelimpahan zooxanthella. Semakin padat jumlah zooxanthella dalam karang, maka akan semakin tinggi efisiensi pertumbuhan karang dalam suatu perairan. Cahaya sangat mempengaruhi kelimpahan zooxanthella pada karang, dimana semakin tinggi intensitas cahaya maka semakin besar pula kelimpahan zooxanthella. Penelitian mengenai perbedaan intensitas cahaya terhadap kelimpahan zooxanthella pada karang bercabang di perairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu telah dilakukan pada bulan April 2012. Penelitian dilakukan dengan cara menutup ujung cabang koloni karang dengan plastik terang (intensitas cahaya 58 μE/m2s), plastik setengah gelap (intensitas cahaya 26 μE/m2s), dan plastik gelap (intensitas cahaya 0 μE/m2s) selama 4 hari. Zooxanthella dalam fragmen karang dikeluarkan dengan cara dipanaskan, dan kelimpahannya dihitung di bawah mikroskop. Data hasil penelitian ditabulasi dan dianalisis menggunakan uji Regresi Linier dan uji ANAVA satu arah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan zooxanthella mengalami penurunan dibandingkan kontrol (1.302.425 sel/cm2) yaitu pada perlakuan 1, perlakuan 2, dan perlakuan 3 dengan jumlah masing-masing 1.201.644 sel/cm2, 933.944 sel/cm2, dan 507.458 sel/cm2. Hasil analisis statistik juga menunjukkan korelasi positif antara kelimpahan zooxanthella dengan kenaikan intensitas cahaya. Kata kunci : kelimpahan zooxanthella, perbedaan intensitas cahaya, dan pulau par

    ANTIMIKROBA DARI Chaetoceros gracilis YANG DIKULTIVASI DENGAN LAMA PENYINARAN BERBEDA

    Full text link
    Microalgae mampu menghasilkan berbagai senyawa aktif seperti antibakteri. Salah satu microalgae yang menghasilkan komponen antibakteri adalah Chaetoceros gracilis. Antibakteri adalah zat yang menghambat atau membunuh pertumbuhan mikroorganisme. Studi ini bertujuan untuk mendapatkan mentah ekstrak Chaetoceros gracilis dan tes untuk aktivitas antibakteri. Chaetoceros gracilis dibudidayakan di buatan media dengan durasi berbeda pencahayaan dan dipanen pada budaya berbeda usia. Ekstraksi untuk antibakteri senyawa digunakan etanol. Ekstrak kasar C. gracilis yang dibudidayakan di berbeda pencahayaan durasi dan dipanen dalam budaya berbeda usia memiliki aktivitas antibakteri Bacillus cereus dan Vibrio harveyi. Kata kunci : Anti bakteri, Antifungal, bacillus cereus, chaetoceros gracilis, ethanol, fusarium oxysporum, dan Vibrio harvey

    KONSUMSI DAN EFISIENSI PAKAN DARI IKAN JAMBAL SIAM YANG DIBERI PAKAN DENGAN TINGKAT ENERGI PROTEIN

    Full text link
    Informasi mengenai jumlah konsumsi pakan dari berbagai tingkat energi-protein pakan penting diketahui untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsumsi pakan ikan jambal siam dari berbagai tingkat energi protein dalam pakan dan pengaruhnya terhadap efisiensi protein pakan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap enam perlakuan yang diulang tiga kali dengan imbangan energi/protein pakan 8 dan 9 kkal/g pada tingkat protein 35%, 40% dan 45% (2800 kcal/35%; 3150 kcal/35%; 3200 kcal/40%; 3600 kcal/40%; 3600 kcal/45%; dan 4050 kcal/45%). Benih jambal siam dipelihara dalam 18 buah akuarium  dengan padat penebaran 10 ekor per 15 l air. Parameter yang diukur meliputi  konsumsi pakan, pertumbuhan mutlak, efisiensi pakan, dan imbangan efisiensi protein pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat energi protein dalam pakan berpengaruh terhadap konsumsi, pertumbuhan mutlak, efisiensi pakan, dan efisiensi protein pakan.  Pakan A (tingkat energy protein  2800 kkal/35%) dan C (3200 kkal/40%) dengan imbangan 8 kkal/g dapat digunakan dalam susunan formulasi ransum benih ikan jambal siam, agar menghasilkan konsumsi, pertumbuhan,  efisiensi pakan, dan imbangan efisiensi protein pakan yang optimal. Kata kunci : efisiensi pakan, jambal siam, konsumsi, pertumbuhan, dan tingkat energi/protein

    PARTISIPASI MASYARAKAT PESISIR DALAM PENGELOLAAN EKOSISTEM HUTAN MANGROVE BERKELANJUTAN DI KABUPATEN INDRAMAYU

    Full text link
    Penelitian mengenai aspek sosial budaya masyarakat dalam pengelolaan ekosistem hutan mangrove ini bertujuan untuk menganalisis persepsi dan partisipasi masyarakat dalam pelestarian ekosistem hutan mangrove yang ada di wilayah pesisir Indramayu karena akar masalah kerusakan ekosistem hutan mangrove berawal dari perilaku manusia itu sendiri dalam memanfaatkan sumberdaya alam yang ada. Metode penelitian secara umum yang digunakan adalah metode studi kasus. Variabel yang diteliti meliputi persepsi dan partisipasi masyarakat dalam pelestarian ekosistem hutan mangrove. Pengukuran derajat persepsi dan partisipasi diukur menggunakan metode skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi responden terhadap 10 kriteria pengelolaan hutan mangrove, 7 kriteria diantaranya, yaitu kerusakan wilayah pesisir karena faktor alam, kerusakan wilayah pesisir lebih karena perbuatan manusia, kerusakan hutan mangrove karena abrasi dan kepentingan ekonomi. Mangrove memiliki manfaat penting bagi lingkungan pesisir, pengelolan hutan mangrove tanggung jawab bersama, perusahaan lokal berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan, dan pemda sudah menjalankan tugas pengelolaan lingkungan dengan baik; menunjukkan  nilai skala Likert berada pada rentang positif. Sementara itu, untuk 3 kriteria lainnya, yaitu mangrove memiliki manfaat penting bagi kegiatan tambak, penegakan hukum lingkungan dinilai sudah cukup memadai, dan partisipasi masyarakat dalam pelestarian lingkungan meningkat; responden memiliki persepsi negatif terhadap kriteria tersebut. Indeks partisipasi masyarakat  berada pada rentang 0,50 – 0,60. Nilai rata-rata CRI sebesar 2.48 yang berada pada rentang cukup bertanggung jawab terhadap upaya pelestarian lingkungannya. Kata kunci: csr, partisipasi, persepsi, indeks, dan sosial budaya

    KELOMPOK FORAMINIFERA BENTIK RESEN BERDASARKAN KOMPOSISI DINDING CANGKANG DI PERAIRAN TELUK JAKARTA

    Full text link
    Penelitian foraminifera bentik Resen dari 25 sampel sedimen permukaan dasar laut Perairan Teluk Jakarta untuk mengetahui komposisi dinding cangkangnya. Hasil pengamatan kelompok foraminifera bentik Resen ditemukan 86 spesies. Terdapat 74,57 %, berdinding cangkang hyalin, 17,85 % berdinding cangkang porselen dan yang berdinding cangkang agglutinin 7,58 %. Spesies yang paling dominan pada foraminifera bentik berdinding cangkang hyalin adalah Operculina ammonoides (Gronovlus) yaitu 18,02 % dan Elphidium indicum (Cushman) yaitu 10,7 %. Ditinjau dari pola sebaran berdasarkan komposisi dinding cangkang, didominasi oleh sub ordo. Rotaliina yang mempunyai komposisi dinding cangkang calcareous hyalin. Adanya kelompok dominan yang berdinding cangkang hyalin menunjukkan bahwa pada daerah penelitian merupakan lingkungan laut normal dengan kandungan karbonat yang cukup tinggi. Kata Kunci : foraminifera bentik resen, komposisi dinding cangkang, dan teluk jakart

    SIMULASI NUMERIS ARUS PASANG SURUT DI PERAIRAN CIREBON

    Full text link
    Model hidrodinamika tiga-dimensi MOHID yang dikembangkan oleh Universitas Teknik Lisbon, Portugal, diaplikasikan dalam kajian arus pasang surut di Perairan pantai Cirebon.Data yang digunakan adalah data pasang surut yang diterapkan pada syarat batas terbuka dengan menggunakan program model pasut global FES04 serta bathimetri hasil pengukuran dilapangan. Simulasi numeris dilakukan selama 14 hari dan hanya menggunakan pasang surut sebagai satu-satunya gaya pembangkit arus laut. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kecepatan arus berkisar dari 0,04 m/det – 0,99 m/det dengan kecepatan pada saat surut relatif lebih besar dibandingkan pada saat pasang. Pola arus pasang surut saat pasang menuju surut didominasi oleh aliran yang menuju ke arah tenggara kemudian berbelok ke arah timur, sedangkan pola arus pasang surut saat surut menuju pasang didominasi oleh aliran yang menuju ke arah barat kemudian berbelok ke arah barat laut

    KANDUNGAN MINERAL REMIS (Corbicula javanica) AKIBAT PROSES PENGOLAHAN

    Full text link
    Tujuan penelitian ini adalah menentukan komposisi kimia, kandungan mineral dan kelarutan  mineral  daging  remis  segar  dan  setelah pengolahan,  serta  menentukan  metode pengolahan  terbaik  dengan  kehilangan  mineral terendah  dan  kelarutan  mineral  tertinggi. Komposisi kimia remis diuji dengan metode termogravimetri, soxhlet dan kjeldahl. Kandungan mineral dan kelarutan mineral diuji dengan metode Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Pengolahan menurunkan komposisi kimia remis, namun meningkatkan kandungan kadar abu setelah dilakukan metode pengolahan dengan cara perebusan garam. Metode pengolahan juga memberikan penurunan kandungan mineral kalsium, magnesium, fosfor, kalium dan seng pada remis.  Kandungan mineral natrium pada remis segar meningkat setelah direbus garam, namun menurun setelah direbus dan kukus.  Metode pengolahan juga memberikan peningkatan persentase kelarutan mineral natrium, kalsium, fosfor dan magnesium remis. Penelitian ini dapat memberikan rekomendasi kepada masyarakat bahwa untuk memperoleh asupan mineral yang paling baik dari remis, sebaiknya masyarakat mengolah remis dengan cara direbus garam dengan konsentrasi 1,5%.   Kata kunci : Corbicula javanica, kandungan mineral, kelarutan mineral, dan komposisi kimia

    APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) UNTUK ZONASI JALUR PENANGKAPAN IKAN DI PERAIRAN KALIMANTAN BARAT

    Full text link
    Pemanfaatan sumberdaya ikan di laut semakin intensif dan daya jangkauan operasi penangkapan ikan oleh para nelayan semakin luas dan jauh dari daerah asal nelayan tersebut. Konflik sering terjadi karena tidak jelasnya wilayah pemanfaatan yaitu dapat melibatkan nelayan dalam satu daerah yang sama ataupun antara daerah yang satu dengan dengan daerah lainnya.Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam menghindari terjadinya konflik pemanfaatan adalah dengan mengendalikan perkembangan kegiatan penangkapan ikan melalui penerapan zonasi jalur penangkapan ikan di laut, berdasarkan Kepmentan No. 392 tahun 1999 tentang jalur-jalur penangkapan ikan.Wilayah studi adalah Perairan Kalimantan Barat yang merupakan salah satu fishing ground yang sangat berpotensi, terletak di Selat Karimata hingga Laut Cina Selatan dan berbatasan langsung dengan perairan Malaysia. Tujuan dari studi ini adalah untuk menggambarkan peta zona jalur penangkapan ikan di wilayah perairan Kalimantan Barat.Bahan dan data dalam studi ini berupa data spasial,data pasang surut dan Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan zonasi jalur penangkapan ikan. Metode yang digunakan adalah pendekatan SIGdengan teknikanalisis spasial.Visualisasi dalam bentuk peta jalur dalam Kepmentan No. 392 Tahun 1999mempunyai beberapa ketimpangan, antara lain yaitu: penentuan batas pulau pulau terluar yang masih rancu, terdapatnya karang-karang kering yang berpotensi menjadi batas wilayah serta penentuan jarak minimum antar titik tersebut, perairan pedalaman yang belum dibahas, daerah perbatasan antar negara yaitu bagian utara propinsi Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Malaysia, daerah ekosistem terumbu karang dengan kedalaman kurang dari 20 meter yang masuk dalam jalur I.Peta alternative dibuat memperbaiki ketimpangan tersebutmaka dibuat peta alternatif dengan mempertimbangkan parameter jarak dan kedalaman (isobath) disertai dengan beberapa asumsi dan pembatasan. Kata Kunci: Jalur Penangkapan Ikan, SIG, spasial, dan zonasi

    KAJIAN JENIS DAN KELIMPAHAN PERIFITON PADA ECENG GONDOK (Eichornia crassipes) DI ZONA LITORAL WADUK LIMBUNGAN, PESISIR RUMBAI, RIAU

    Full text link
    Studi ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kelimpahan dari periphyton yang ada di batang eichornia crassipes dan telah dilakukan di bulan april hingga mei 2011. Sampel crassipes didapat dari zona littoral zona dari  bendungan limbungan. Sampling dilakukan 3 kali, dimana pada 1 minggu dilakukan 3 kali. Parameter kualitas air juga diukur, sementara periphyton jenis dan kelimpahan akan dideskripsikan secara kualikatif dan kuantitatif. Sampel periphyton tersebut diperoleh dengan penyemprotan e. Crassipes batang permukaan ( 5x5 ) cm2 dengan aquadest menggunakan plastik sprayer. Periphyton diawetkan dengan lugol 1 % dan diidentifikasi berdasarkan whitford dan schumacher (tahun 1984), presscot (tahun 1970), yunfang (1995). Hasil pengukuran kualitas air adalah sebagai berikut : suhu 28-32oC; ph 5; oksigen terlarut: 3,46-6,48 mg/L; carbondioxide 6,20-8,27 mg/L; nitrat 0,19 -1,52 mg/L; fosfat 0,06-0,08 mg/L. Ada 24 spesies dari periphyton hadir dan mereka milik 4 kelas, yaitu chlorophyceae (12 spesies), diatom (5 spesies), cyanophyceae (4 spesies) dan euglenophyceae (3 spesies). Kelimpahan dari periphyton 812 - 876 sel/cm2; keragaman index (h’) : 4,54-4,55 dan indeks dominansi : 0,04-0,05. Berdasarkan data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa air kualitas dalam bendungan limbungan baik dan mampu untuk mendukung kehidupan periphyton. Kata kunci : Periphyton, eichornia crassipes, bendungan limbungan, pesisir rumba

    KELIMPAHAN FORAMINIFERA BENTIK RESEN PADA SEDIMEN PERMUKAAN DI PERAIRAN TELUK JAKARTA

    Full text link
    Perairan Teluk Jakarta merupakan wilayah perairan dangkal dengan kedalaman perairan sangat bervariasi, umumnya memiliki kedalaman 30 meter meskipun di beberapa lokasi hingga 70 meter seperti di utara Pulau Pari dan di utara Pulau Semak Daun. Habitat  foraminifera terdiri dari semua kedalaman laut dari tepi pantai sampai pada laut dalam. Secara umum, spesies  bentik hidup pada kedalaman tertentu. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kelimpahan dan jenis-jenis foraminifera bentik resen yang terdapat pada sedimen permukaan di perairan Teluk Jakarta. Sebanyak 25 sampel sedimen permukaan yang diambil dari  25 buah core milik Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan yang berada di dalam cold storage di Cirebon. Sampel yang diperoleh dianalisis jenis sedimennya dan kandungan foraminifera bentik resen didalamnya. Jumlah yang ditemukan 85  spesies yang termasuk dalam 42 genus. Spesies yang banyak melimpah ditemukan di perairan iniOperculina ammonoides (Gronovlus), Elphidium indicum (Cushman),Planulina  floridana (Cushman) dan Asterorotalia trispinosa (Thalmann). Jenis sedimen yang mendominasi perairan Teluk Jakarta adalah lempung ( 21 stasiun) dan lanau  (4 stasiun)

    63

    full texts

    66

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Akuatika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇