SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
. Pengembangan Bahan Ajar Massa Atom, Massa Rumus, dan Konsep Mol sebagai Penuntun Pembelajaran Inkuiri dengan Strategi OE3R
Ilmu kimia diperoleh dan dikembangkan berdasarkan proses pengamatan atau fenomena oleh para kimiawan. Pemahaman konsep dalam ilmu kimia mengacu pada tiga level representasi kimia. Inkuiri merupakan model pembelajaran yang dicirikan oleh partisipasi aktif peserta didik dalam proses pembelajaran. Strategi OE3R yang diinisiasi oleh Sutrisno (2018) merupakan adaptasi dari model inkuiri dengan menekankan pada tiga aspek representatif yang terhibridisasi dengan enam domain sains. Salah satu materi yang sulit dipahami adalah Ar, Mr, dan konsep mol. Dalam jurnal berjudul “The Learning and Teaching of the Concepts Amount of Substance and Mole: a Review of the Literature” yang ditulis oleh Furio et al dinyatakan bahwa terdapat beberapa kesulitan yang dialami peserta didik dalam memahami jumlah zat dan konsep mol. Hal tersebut terjadi karena karakteristik materi yang dimaksud juga bersifat konsep abstrak dan konsep terdefinisi. Sehingga diperlukan sebuah bahan ajar yang dapat digunakan sebagai penuntun dan sesuai dengan karakteristik materi yaitu dengan strategi OE3R pada materi massa atom, massa rumus, dan konsep mol.Pengembangan bahan ajar ini dilakukan dengan mengadopsi model 4D dari Thiagarajan (1974) yang meliputi tahap membatasi, mendesain, dan mengembangkan. Validitas bahan ajar diperoleh dari data kualitatif dan kuantitatif dari kegiatan validasi. Validasi dilakukan oleh empat orang validator, yaitu satu dosen kimia FMIPA UM dan tiga guru kimia SMAN 1 Pandaan. Data kuantitatif diperoleh berdasarkan skor angket yang disusun dalam skala Likert, sedangkan data kualitatif diperoleh dari saran dan komentar validator.Hasil validasi menunjukkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan memiliki persentase rata-rata total sebesar 95,80% dengan kriteria sangat valid. Dengan demikian bahan ajar massa atom, massa rumus, dan konsep mol sebagai penunjang pembelajaran inkuiri dengan strategi OE3R yang dikembangkan tersebut dapat dianggap layak digunakan dalam proses pembelajaran di kelas
Perbandingan Penerapan Model Pembelajaran POE (Predict-Observe-Explain) dengan model pembelajaran PDEODE (Predict-Discuss-Explain-Observe-Discuss-Explain) terhadap Hasil Belajar pada Materi Redoks Kelas X di SMA Laboratorium UM
RINGKASANAfninda, L Fuad. 2019. Perbandingan Penerapan Model Pembelajaran POE (Predict-Observe-Explain) dengan model pembelajaran PDEODE (Predict-Discuss-Explain-Observe-Discuss-Explain) terhadap Hasil Belajar pada Materi Redoks Kelas X di SMA Laboratorium UM. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Siti Marfu’ah, M.S., (II) Herunata, S.Pd., M.Pd.Kata Kunci: POE, PDEODE, hasil belajar, redoks.Akhir-akhir ini sistem pembelajaran kimia di sekolah mendapat kritik yang mengarah pada materi pembelajaran yang bersifat teoritik-akademik dan sistem pembelajaran yang masih berpusat pada guru. Materi kimia juga masih dirasa sulit oleh siswa, salah satunya materi reaksi redoks. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Medina (2015) dan Astutik, dkk (2017). Salah satu guru kimia di Kota Malang menambahkan bahwa 65,5% dari 58 siswa belum mencapai KKM pada materi tersebut. Ristiyani (2016) menyebutkan salah satu penyebab kesulitan belajar siswa adalah faktor metode belajar. Metode belajar ini dipengaruhi oleh metode atau model pembelajaran yang digunakan oleh guru. Diantara model pembelajaran yang mampu membuat siswa lebih aktif dan menambah motivasi belajar siswa adalah model pembelajaran POE dan PDEODE. Banyak penelitian membuktikan bahwa masing-masing model ini mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Akan tetapi penelitian yang membandingkan kedua model pembelajaran ini belum pernah dilakukan sebelumnya. Perbedaan utama dari kedua model pembelajaran ini terletak pada penekanan aktivitas belajar (Costu, 2008). Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hasil belajar dengan model pembelajaran PDEODE lebih tinggi dibandingkan hasil belajar dengan model pembelajaran POE.Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuasi eksperimen dengan desain posttest-only design. Variabel bebas yang digunakan yaitu model pembelajaran dengan variabel terikat hasil belajar. Sedangkan variabel kontrolnya yaitu silabus, materi, alokasi waktu, dan soal posttest. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X IPA SMA Laboratorium UM yang berjumlah 103 siswa dan diambil 69 siswa sebagai sampel. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster random sampling dan diperoleh kelas X IPA 3 sebagai kelompok eksperimen 1 dan kelas X IPA 2 sebagai kelompok eksperimen 2. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan tes hasil belajar kognitif.Berdasarkan hasil analisis, diperoleh hasil sebagai berikut. Pertama, keterlaksanaan proses pembelajaran kedua kelompok termasuk dalam kriteria baik dengan persentase sebesar 87% untuk kelompok eksperimen 1 dan sebesar 87,75% untuk kelompok eksperimen 2. Ke dua, hasil uji-Z kemampuan kognitif diperoleh nilai Pvalue 0,004. Hasil tersebut menunjukkan nilai yang lebih kecil dari 0,05 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Dari hasil perhitungan tersebut disimpulkan bahwa hasil belajar dengan model pembelajaran PDEODE lebih tinggi dibanding hasil belajar dengan model pembelajaran POE
Adsorpsi Kadar Cd2+ Menggunakan Adsorben Silika Xerogel Berbasis Abu Bagasse
Kata Kunci : Abu bagasse, silika xerogel, adsorpsi, Cd2+, kapasitas adsorpsi.Kadmium merupakan salah satu limbah logam berat yang berasal dari sisa aktivitas industri tekstil, baterai dan plastik. Limbah kadmium di lingkungan berbahaya bagi manusia. Akumulasi kadmium dalam tubuh dapat terjadi pada hati, ginjal paru-paru dan tulang. Metode adsorpsi dilakukan untuk mengurangi konsentrasi limbah logam kadmium. Pada proses adsorpsi adsorben berperan penting sehingga perlu dilakukan sintesis silika xerogel dari abu bagasse. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui kapasitas adsorpsi silika xerogel terhadap Cd2+ dengan variasi waktu kontak, konsentrasi, pH dan suhu. Mengetahui model isoterm, besaran termodinamika dan kinetika adsorpsi silika xerogel hasil sintesis.Penelitian dilakukan melalui tiga tahap. Tahap pertama, sintesis silika xerogel berbasis abu bagasse. Tahap kedua, penentuan kapasitas adsorpsi silika xerogel dengan variasi waktu kontak, konsentrasi, pH, dan suhu terhadap ion kadmium (II). Tahap ketiga, mempelajari kinetika adsorpsi, besaran termodinamika dan model isoterm adsorpsi ion kadmium (II) oleh silika xerogel. Penentuan kapasitas adsorpsi ditentukan dari konsentrasi Cd2+ sisa dengan menggunakan AAS.Kapasitas adsorpsi silika xerogel terhadap Cd2+ dengan konsentrasi 10 mg/L pada waktu kontak 60 menit yaitu 16,745 mg/g. Kapasitas adsorpsi meningkat dengan peningkatan waktu kontak, namun peningkatan cenderung konstan setelah melewati waktu kontak optimum. Peningkatan konsentrasi awal Cd2+ meningkatkan kapasitas adsorpsi. Kapasitas adsorpsi meningkat dengan kenaikan pH namun terjadi penurunan kapasitas adsorpsi setelah melewati pH optimum yaitu 7. Mekanisme adsorpsi Cd2+ menggunakan silika xerogel mengikuti model isoterm Langmuir dengan nilai regresi linear (R2) 0,997 dan kinetika adsorpsi Pseudo-Second Order dengan nilai regresi linear (R2) yaitu 0,998. Adsorpsi Cd2+ oleh silika xerogel memiliki nilai ΔHo = -9,346 kJ/mol, ΔGo = -2,246 kJ/mol (35 oC), -2,045 kJ/mol (45 oC) , -1,778 kJ/mol (55 oC) dan ΔSo = -23,312 J/Kmo
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS LEARNING CYCLE 5E YANG DIPERKAYA AUGMENTED REALITY PADA MATERI IKATAN KIMIA
RINGKASANDiani, Ayu Wandira. 2019. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Learning Cycle 5E yang Diperkaya Augmented Reality pada Materi Ikatan Kimia. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Siti Marfu’ah, M.S., (II) Dr. Munzil, M.Si.Kata Kunci: ikatan kimia, learning cycle 5E, augmented realityBahan ajar yang menerapkan model pembelajaran dinilai lebih unggul dibanding buku teks biasa dan mampu memotivasi peserta didik untuk belajar. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan ikatan kimia adalah Learning Cycle 5E. Tahapan model LC 5E yaitu (1) engagement (membangkitkan minat dan rasa keingintahuaan), (2) exploration (eksplorasi), (3) explanation (penjelasan konsep), (4) elaboration (penerapan konsep), dan (5) evaluation (evaluasi). Bahan ajar saat ini sedikit menyertakan aspek submiskroskopis dalam penyampaian materi, maka dibutuhkan bahan ajar yang dapat memvisualisasikan aspek mikroskopis yaitu dengan mengembangkan bahan ajar berbasis LC 5E yang diperkaya Augmented Reality. Bahan ajar dengan model pembelajaran yang dikolaborasikan dengan Augmented Reality dapat memudahkan peserta didik dalam memahami materi karena dapat mengkonkretkan molekul-molekul kimia dalam bentuk 3 dimensi pada materi yang bersifat submikroskopis. Pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar berbasis learning cycle 5E yang diperkaya Augmented Reality pada materi ikatan kimia. Tujuan selanjutnya adalah untuk mengetahui kevalidan bahan ajar hasil pengembangan.Model pengembangan yang digunakan adalah model Lee & Owens (2004) dengan tahapan penilaian/analisis, desain, pengembangan, implementasi dan evaluasi karena urutan langkah dalam prosesnya tersusun secara sistematis dan setiap langkah pengembangan memiliki urutan langkah pengembangan yang tersusun jelas. Dalam pengembangan ini terbatas pada tahap penilaian/analisis, desain serta pengembangan.Tahap implementasi dan evaluasi tidak karena keterbatasan waktu, biaya dan tenaga.Hasil pengembangan berupa bahan ajar dan aplikasi augmented reality. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (a) nilai persentase ahli materi 88% dan ahli media 86% (b) uji keterbacaan yang dilakukan oleh 22 peserta didik SMAN 1 Gondanglegi diperoleh nilai persentase 91% (c) Bahan ajar yang dikembangkan tergolong dalam kriteria sangat layak dengan nilai persentase rata-rata 88%. Berdasarkan nilai persentase hasil validasi dan uji keterbacaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar sangat layak digunakan dalam kegiatan pembelajaran materi Ikatan Kimia
Pengaruh Problem Solving Terhadap Efektivitas Inkuiri Terbimbing Dalam Pembelajaran Larutan Penyangga Ditinjau Dari Kemampuan Argumentasi Ilmiah Peserta Didik
RINGKASANTsaniyatur, Rizqi Nurul Laily. 2019. Pengaruh Problem Solving Terhadap Efektivitas Inkuiri Terbimbing Dalam Pembelajaran Larutan Penyangga Ditinjau Dari Kemampuan Argumentasi Ilmiah Peserta Didik. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Suharti, S.Pd., M.Si. (2) Dr. Siti Marfu’ah, M.S.Kata Kunci: Inkuiri Terbimbing, Problem Solving, Larutan Penyangga, Argumentasi IlmiahKurikulum pendidikan yang saat ini diterapkan di Indonesia adalah kurikulum 2013 yang mewajibkan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran. Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk membangun keterampilan proses sains dalam memperoleh pengetahuan. Salah satu model pembelajaran yang disarankan adalah model inkuiri yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis. Model inkuiri yang biasa diterapkan di tingkat SMA adalah inkuiri terbimbing. Namun dalam penerapannya seringkali rata-rata hasil belajar peserta didik yang memperoleh nilai dibawah KKM masih cukup tinggi. Fenomena yang sering terjadi ketika pembelajaran dilaksanakan yaitu peserta didik tidak mampu mengaplikasikan konsep yang diperoleh untuk menyelesaikan masalah pada situasi yang berbeda. Integrasi problem solving dalam model inkuiri terbimbing bertujuan sebagai bantuan peserta didik untuk melatih memanfaatkan konsep yang diperoleh. Materi larutan penyangga merupakan salah satu materi yang penting dipelajari dan membutuhkan pemahaman konseptual dan algoritmik yang baik. Untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta didik maka digunakan evaluasi berupa argumentasi ilmiah. Konteks argumentasi relevan untuk kelas sains karena berperan sebagai pembenaran pengetahuan (knowledge justification) dan argumentasi sebagai persuasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) keterlaksanaan proses pembelajaran inkuiri terbimbing yang diperkaya problem solving pada materi larutan penyangga, (2) model pembelajaran inkuiri terbimbing yang diperkaya problem solving dapat memberikan hasil yang lebih baik terhadap keterampilan argumentasi ilmiah peserta didik daripada model pembelajaran inkuiri terbimbing, (3) pendapat peserta didik mengenai pembelajaran menggunakan LKPD berbasis inkuiri terbimbing yang diperkaya problem solving yang dikembangkan oleh Prastikasari (2018). Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu dengan pasca tes dan rancangan deskriptif. Populasi penelitian ini adalah semua peserta didik kelas XI MIA SMAN 1 Lawang. Teknik cluster random sampling adalah teknik pengambilan sampel yang digunakan. Sampel penelitian meliputi kelas XI MIA 2 sebagai kelas eksperimen yang dibelajarkan menggunakan inkuiri terbimbing yang diperkaya problem solving dan XI MIA 3 sebagai kelas kontrol yang dibelajarkan dengan inkuiri terbimbing. Data keterampilan argumentasi ilmiah peserta didik diperoleh dari kemampuan peserta didik menjawab soal tes uraian keterampilan argumentasi ilmiah. Instrument yang digunakan meliputi instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan uji-t satu pihak dengan bantuan program SPSS 25 for windows.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) keterlaksanaan proses pembelajaran inkuiri terbimbing yang diperkaya problem solving dan inkuiri terbimbing pada materi larutan penyangga dikategorikan terlaksana dengan sangat baik (95,47% dan 92,61%), (2) model pembelajaran inkuiri terbimbing yang diperkaya problem solving memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan model inkuiri terbimbing terhadap keterampilan argumentasi ilmiah peserta didik pada materi larutan penyangga, (3) LKPD model inkuiri terbimbing yang diperkaya problem solving yang dikembangkan oleh Prastikasari (2018) memberikan hasil uji lapangan dengan kriteria sangat baik (81%)
Isolasi Minyak Atsiri dari Bunga Kenanga, Sifat Fisika, dan Komponen Utamanya
Kata kunci: destilasi,bunga kenanga,minyakatsiri.Indonesia adalah negara yang mampu menghasilkan 40 jenis minyak atsiri dari 70 minyak atsiri di dunia. Salah satu tumbuhan yang menghasilkan minyak atsiri dan tumbuh baik di Indonesia adalah tumbuhan kenanga. Bunga kenanga dapat menghasilkann minyak atsiri yang saat ini banyak digunakan di berbagai industri. Namun saat ini minyak kenanga harganya relatif lebih rendah daripada minyak atsiri lainnya. Ini dikarenakan kurangnya mutu dari minyak kenanga karena bahan baku yang kurang diperhatikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui rendemen minyak atsiri hasil destilasi air bunga kenanga, (2) mengetahui sifat fisika minyak kenanga,(3)mengetahui komponen-komponen yang terdapat pada minyak kenanga.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium penelitian Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu (1) Destilasi Minyak Atsiri (2) Karakterisasi Minyak Kenanga, (3) Identifikasi komponen Minyak Kenanga dengan GC-MS.Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) destilasi bunga kenanga meghasilkan minyak kenanga dengan rendemen 0,171155 % (2) minyak kenanga yang dihasilkan memiliki sifat fisika yaitu memiliki bau segar khas bunga kenanga, berwarna kuning muda, memiliki indeks bias sebesar 1,494, dan berat jenisnya sebesar 0,9699 g/ml(3) Hasil identifikasi GC-MS komponen-komponen penyusun minyak bunga kenanga pada penelitian ini adalah 1-metoksi-4-metil-benzena (10,95 %), linalool (27,32 %), geraniol (4,88 %), neryl asetat (8,36 %), trans-caryophylenne (23,40 %), α-humulene (7,69 %), germacrene (9,27 %), dan farnesene (3,65 %)
Analisis Sebaran Logam Fe untuk Penilaian Status Kualitas Lingkungan Pantai Pasir Putih Situbondo
ANALISIS SEBARAN LOGAM FE UNTUK PENILAIAN STATUS KUALITAS LINGKUNGAN PANTAI PASIR PUTIH SITUBONDO Dwi Prisetiya Putri*, Anugrah Ricky Wijaya, Mohammad Sodiq Ibnu Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang Jalan Semarang No. 5 Malang 65145 *Email : [email protected] Abstrak: Pesatnya perkembangan lokasi Pantai Pasir Putih mengindikasikan terjadinya pencemaran lingkungan yang berdampak pada kesehatan manusia. Bahaya pencemaran dapat ditanggulangi dengan mengetahui status pencemaran lokasi tersebut. Salah satu caranya ialah dengan penentuan konsentrasi logam berat Fe pada sedimen Pasir Putih. Metode yang digunakan ialah BCR microwave teroptimasi. Dalam pengoptimalan proses leaching dilakukan variasi ukuran partikel sedimen yang akan dianalisis, dan variasi nilai pH dan konsentrasi pada fraksi oksidasi. Tahapan dalam penelitian ini ialah, (1) Penentuan titik sampling dan pengambilan sampel sedimen, (2) Penyiapan sampel sedimen, (3) Uji XRF sampel sedimen, (4) Uji akurasi dan presisi sampel sedimen dengan metode BCR Microwave Teroptimasi, (5) Leaching sampel sedimen menggunakan metode BCR microwave teroptimasi, (6) Analisis pengaruh ukuran partikel sedimen, pH dan konsentrasi pelarut terhadap jumlah Fe terleaching, (7) Analisis faktor kontaminasi logam berat pada sedimen Pasir Putih. Ukuran partikel sedimen serta pH dan konsentrasi pelarut pada fraksi reduksi berpengaruh dalam hasil leaching Fe. Jumlah Fe pada lokasi Pantai Pasir Putih masih dibawah ambang batas sehingga dinyatakan tidak mengindikasikan adanya pencemaran pada daerah perairan Pantai Pasir Putih. Kata Kunci: Sedimen, Besi, Ukuran Partikel, BCR, pH, Konsentrasi Abstract: The rapid development of the location of White Sand Beach indicates the occurrence of environmental pollution that has an impact on human health. The pollution hazard can be overcome by knowing the pollution status of location. One way is by determining the concentration of Fe heavy metals in sediments of Pasir Putih. Using optimized method of leaching. In optimizing the process leaching variations in the size of the particle sediment will be analyzed, and variations in the pH value and concentration of the oxidation fraction.The stages in this research are, (1) Determination of sampling points and sediment sampling, (2) Preparation of sediment samples, (3) XRF testing of sediment samples, (4) Test of accuracy and precision of sediment samples with BCR method Microwave Optimized, (5) Leaching sediment samples using the BCR method Microwave Optimized, (6) Analysis of the effect of particle size of sediment, pH and solvent concentration on the amount of iron leaching, (7) Analysis of factors of heavy metal contamination in Pasir Putih sediments. The particle size of the sediment and pH and solvent concentration in the reduction fraction had an effect on the yield of leaching Fe. The amount of Fe on the location of Pasir Putih Beach is still below the threshold so it is stated that it does not indicate any pollution in the waters of the Pasir Putih Beach Key Word: Sediment, Iron, Particle Size, BCR, pH, Concentration
Sintesis Nanomagnetit Berbahan Dasar Pasir Pantai Wonogiri Malang Berlapis Carboxymethyl Kappa-Carrageenan (CMKC) dan Kitosan
Nanomagnetit merupakan oksida besi (Fe3O4) berukuran nanometer yang memiliki sifat berbeda dengan ukuran bulk-nya. Nanomagnetit terbentuk dengan melibatkan reaksi antara Fe2+ dan Fe3+ dalam basa kuat. Nanomagnetit yang berwarna hitam kecoklatan memiliki kelemahan yaitu mudah teroksidasi dan mudah mengalami aglomerasi. Kelemahan tersebut dihindari dengan melapisi permukaan dari nanomagnetit dengan polisakarida seperti karboksimetil kappa-karagenan dan kitosan. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratoris yang dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu (1) Ekstraksi besi dari pasir pantai dengan menggunakan metode digesti total, (2) Sintesis Fe3O4 dengan metode kopresipitasi (3) Karakterisasi magnetit menggunakan Fourier Transform Infrared Spectrophotometry (FT-IR), Scanning Electron Microscopy with Energy Dispersive X-ray (SEM-EDX), (4) penyalutan nanomagnetit dengan CMKC dan CMKC-Kitosan, (5) Karakterisasi nanomagnetit terlapis CMKC dan CMKC-Kitosan menggunakan Fourier Transform Infrared Spectrophotometry (FT-IR), Scanning Electron Microscopy (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran HCl 12 M dan HF 21 M, perbandingan 9:1 (v/v) serta campuran H2SO4 18 M dan HF 21 M, perbandingan 9:1 (v/v) dapat mengekstrak besi dari pasir Pantai Wonogiri Malang. Kadar besi yang diperoleh dalam larutan hasil ekstraksi pasir besi dalam campuran HCl dan HF (9:1 (v/v)) lebih besar daripada kadar besi yang diperoleh dalam larutan hasil ekstraksi menggunakan H2SO4 dan HF. Konsentrasi besi dalam larutan hasil eksraksi menggunakan campuran HCl dengan HF sebesar 30,5031 mg/L, sedangkan konsentrasi besi dalam larutan hasil ekstraksi menggunakan campuran H2SO4 dengan HF sebesar 10,6434 mg/L. Nanomagnetit dapat disintesis dari larutan hasil ekstraksi dengan campuran HCl 12 M dengan HF 21 M (9:1 (v/v)) dan campuran H2SO4 18 M dengan HF 21 M (9:1 (v/v)), dengan perbandingan 1:1. Hasil sintesis dikarakterisasi dengan FT-IR dan SEM-EDX untuk mengkonfirmasi senyawa yang dihasilkan. Nanomagnetit yang dilapis dengan CMKC dan campuran CMKC dan kitosan (1:1(w/w)), memiliki morfologi bulat dengan ukuran masing-masing dibawah 100 nm. Nanomagnetit yang terlapis CMKC lebih teraglomerasi dibandingkan dengan nanomagnetit yang terlapis CMKC-Kitosan
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS LEARNING CYCLE 5E YANG DIPERKAYA AUGMENTED REALITY PADA MATERI LAJU REAKSI
RINGKASAN Sari, Eka Puspita Kartika. 2019. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Learning Cycle 5E Yang Diperkaya Augmented Reality Pada Materi Laju Reaksi. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Pembimbing: (I) Dr. Munzil, S.Pd., M.Si., (II) Rini Retnosari, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: laju reaksi, learning cycle 5E, augmented reality Ilmu kimia adalah materi pelajaran yang sebagian besar bersifat abstrak, untuk memahami ilmu kimia dibutuhkan observasi secara langsung dan tidak langsung. Banyak siswa yang juga merasa kesulitan dalam mempelajari kimia terutama materi laju reaksi. Jadi diperlukan bahan ajar yang dapat menunjang pembelajaran agar dapat berjalan secara maksimal. Seiring perkembangan teknologi informasi bahan ajar tidak hanya berisi tulisan dan gambar saja, akan tetapi dikombinasikan dengan hal yang bersifat interaktif. Interaktif berarti bahwa adanya timbal balik antara media dengan pengguna, salah satunya yaitu Augmented Reality. Sehingga bahan ajar yang memuat Augmented Reality akan membuat siswa lebih bersemangat dalam belajar. Diperlukan pula model pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam berfikir kritis, salah satunya Learning Cycle 5E yang memiiki lima tahapan yaitu engagement, exploration, explanation, elaboration, dan evaluation. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar Learning Cycle 5E berbantuan augmented reality pada materi Laju Reaksi. Bahan ajar tersebut sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013 karena pembelajaran berpusat pada peserta didik terutama dalam memahami materi Laju Reaksi.Model penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah model yang dikemukakan oleh William W. Lee & Diana L. Owens yang terdiri atas lima tahap: (1) penilaian/analisis yang terdiri dari analisis kebutuhan dan analisis awal akhir meliputi analisis karakteristik siswa, pengkajian materi, lingkungan, hingga biaya, (2) desain pada tahap ini meliputi perancangan produk, (3) pengembangan pada tahap ini produk dikembangkan kemudian diuji validasi oleh ahli dan guru serta uji keterbacaan pada siswa, (4) implementasi, dan (5) evaluasi. Dikarenakan keterbatasan waktu dan biaya, penelitian terbatas sampai tahap ketiga yaitu pengembangan. Hasil pengembangan bahan ajar ini berbentuk bahan ajar cetak dengan ukuran A6 berisi QRcode dan marker, juga aplikasi Augmented Realitydengan format .apk yang dapat pada smartphone dengan sistem operasi android. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan termasuk dalam kategori sangat layak dengan persentase (a) validasi materi sebesar 89,7%, (b) persentase validasi media sebesar 86%, dan (c) persentase uji keterbacaan sebesar 90%. Berdasarkan nilai persentasi hasil validasi dan uji keterbacaan dapat disimpulkan bahwa bahan ajar dapan digunakan sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran kimia khususnya materi Laju Reaksi di luar kelas
Pengaruh Strategi Pembelajaran Metakognitif Preparing, Doing, Checking, Assessing and Following-up (PDCA) terhadap Pengetahuan Metakognitif dan Prestasi Belajar Siswa Kelas X MIPA di SMAN 1 Mojosari pada Materi Larutan ELektrolit dan Nonelektrolit Serta R
RINGKASANNuzulahtuzzahro, Firdaus. 2019. Pengaruh Strategi Pembelajaran Metakognitif Preparing, Doing, Checking, Assessing and Following-up (PDCA) terhadap Pengetahuan Metakognitif dan Prestasi Belajar Siswa Kelas X MIPA di SMAN 1 Mojosari pada Materi Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit Serta Reaksi Redoks. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Parlan, M.Si., (II) Dr. Hj. Hayuni Retno Widarti, M.Si.Kata kunci: strategi metakognitif PDCA, pengetahuan metakognitif, prestasi belajar, larutan elektrolit dan nonelektrolit, reaksi redoksHasil dari beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan rendahnya pemahaman konsep siswa pada materi kimia, khususnya pada materi larutan elektrolit nonelektrolit dan reaksi redoks. Aspek penting dalam memahami konsep pelajaran kimia yaitu aspek kognitif dan metakognitif. Metakognitif berperan penting dalam keberhasilan pembelajaran karena siswa akan lebih mudah mengetahui, memahami, dan menyelesaikan masalah yang dihadapi, serta membentuk ingatan jangka panjang siswa dalam memahami konsep. Maka dari itu, untuk meningkatkan pemahaman siswa pada konsep kimia perlu diterapkan strategi belajar yang melibatkan kemampuan metakognitif siswa. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan metakognitif adalah strategi pembelajaran metakognitif Preparing, Doing, Checking, Assessing and Following-up (PDCA). Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh strategi pembelajaran metakognitif PDCA terhadap pengetahuan metakognitif dan prestasi belajar siswa pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit serta reaksi redoks.Rancangan penelitian yang digunakan yaitu rancangan penelitian eksperimen semu (Quasy Experimental Design) dengan model pretest-post test control group design dikarenakan tidak dilakukan randomisasi sampel. Pemilihan sampel dengan teknik cluster random sampling, dimana sampel dipilih secara acak dari keseluruhan populasi kelas X MIPA di SMA Negeri 1 Mojosari. Pada penelitian ini digunakan dua kelas, yaitu kelas X MIPA 1 yang dibelajarkan dengan strategi ekspositori dan X MIPA 2 yang dibelajarkan dengan strategi metakognitif PDCA. Penelitian dilakukan pada awal semester genap tahun pelajaran 2018/2019 pada bulan Januari-Februari 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan metakognitif di kelas SM PDCA kategori pengetahuan deklaratif tergolong tinggi, yaitu sebesar 42%, pengetahuan prosedural tergolong sedang yaitu sebesar 45% dan pengetahuan kondisional tergolong sedang, yaitu sebesar 53%. Tingkat pengetahuan metakognitif di kelas ekspositori kategori pengetahuan deklaratif tergolong sedang, yaitu sebesar 43%, pengetahuan prosedural tergolong rendah yaitu sebesar 39% dan pengetahuan kondisional tergolong sedang, yaitu sebesar 49%. Strategi Pembelajaran Metakognitif PDCA berpengaruh terhadap pengetahuan metakognitif dengan nilai signifikansi sebesar 0,002 dan terhadap prestasi belajar dengan nilai signifikansi sebesar 0,009, N-gain sebesar 0,53 dan deffect size sebesar 3,5 lebih besar dari kelas ekspositori. Terdapat hubungan yang sangat kuat antara pengetahuan metakognitif dengan prestasi belajar di kelas SM PDCA sebesar 0,936, dan di kelas ekspositori sebesar 0,972, sedangkan antara MAI dengan prestasi belajar tidak terdapat hubungan baik pada kelas SM PDCA maupun kelas ekspositori dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,118 dan 0,210.