SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Penerapan Pembelajaran Kooperatif STAD Dipadu Problem Posing Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Materi Stoikiometri Kelas X SMA PGRI 1 Lumajang
ABSTRAKLukitasari, Lazmi. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif STAD Dipadu Problem Posing Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Materi Stoikiometri Kelas X SMA PGRI 1 Lumajang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dra. Srini M. Iskandar, M.Sc., Ph.D, (II) Herunata, S.Pd. M.PdKata Kunci: STAD, problem posing, prestasi belajar, stoikiometriPembelajaran berbasis konstruktivistik lebih menekankan pada proses “mengkonstruksi” pengetahuan sehingga siswa dapat aktif dan saling bekerja sama dalam proses pembelajaran. Kenyataannya masih ada sekolah yang belum sepenuhnya menerapkan model pembelajaran konstruktivistik termasuk di SMA PGRI 1 Lumajang. Salah satunya adalah pembelajaran kooperatif tipe STAD. Tipe ini menekankan adanya aktivitas dan interaksi antar siswa untuk saling membantu dalam menguasai materi guna mencapai prestasi yang maksimal. Selain itu, terdapat strategi Problem Posing yang dapat membiasakan siswa mengkonstruksi pemahaman berdasarkan informasi yang tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui apakah terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif STAD dipadu Problem Posing dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif STAD pada materi Stoikiometri, (2) mengatahui ketercapaian aspek dasar pembelajaran kooperatif siswa kelas kontrol dan eksperimen pada kegiatan diskusi, (3) mengetahui keterlaksanaan aspek afektif siswa kelas kontrol dan eksperimen selama proses pembelajaran berlangsung, (4) mengetahui kemampuan Problem Posing siswa eksperimen pada materi stoikiometri.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu dan des-kriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA PGRI 1 Lumajang semester dua tahun ajaran 2008/2009. Sampel penelitian terdiri dari dua kelompok yaitu kelas X-4 sebagai kelas kontrol dan kelas X-2 sebagai kelas eksperimen. Pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling. Instrumen penelitian adalah perangkat pembelajaran, tes prestasi belajar, lembar observasi, dan data kemampuan Problem Posing siswa kelas eksperimen. Data kemampuan awal siswa dan prestasi belajar siswa dideskripsikan secara kuantitatif yaitu: uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis. Data penilaian ketercapaian kelima unsur pembelajaran kooperatif, penilaian afektif, dan data kemampuan Problem Posing siswa kelas eksperimen dideskripsikan secara kualitatif.Hasil analisis uji t prestasi belajar siswa yang menggunakan SPSS 16.0 for windows menunjukkan Ho ditolak dengan nilai signifikansi 0,01
OPTIMASI KONDISI PROSES PEMBUATAN KAPUR TOHOR DARI BATU KAPUR UNTUK KEBUTUHAN PEMURNIAN NIRA DI PABRIK GULA
ABSTRAK Laraswati, Novy. 2009. Optimasi Kondisi Proses Pembuatan Kapur Tohor dari Batu Kapur untuk Kebutuhan Pemurnian Nira di Pabrik Gula. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Fauziatul Fajaroh, M.S. (II) Bambang Eddi Santoso, S.ST Kata kunci: Kondisi pembakaran, batu kapur, kapur tohor, CaO.Kapur tohor merupakan salah satu bahan pembantu untuk proses pemurnian nira tebu. Kapur tohor dibuat dari pembakaran batu kapur. Untuk mendapatkan kapur tohor secara tradisional yang siap dipasarkan biasanya diperlukan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 3-10 hari termasuk waktu untuk mendinginkannya. Berkaitan dengan kebutuhan kapur tohor yang memenuhi persyaratan pemurnian nira di pabrik gula, maka dilakukan percobaan pembakaran batu kapur pada skala laboratorium untuk menetapkan kondisi optimum pembakaran batu kapur. Batu kapur diambil dari 3 lokasi: Lamongan, Tulung Agung dan Tuban Jawa Timur. Pembakaran dilakukan terhadap batu kapur dengan memvariasi suhu pembakaran (600, 700, 800, dan 900 oC) dan memvariasi waktu pembakaran (1, 2, dan 4 jam). Masing-masing perlakuan (lokasi, suhu dan waktu pembakaran) diulangi 3 kali. Analisis variansi dan analisis regresi digunakan untuk mengevaluasi kondisi operasi optimum pembakaran. Setelah dilakukan analisis regresi didapat bahwa kadar CaO (90%) yang sesuai dengan kebutuhan CaO untuk pemurnian nira dicapai pada suhu pembakaran 900 oC dengan waktu minimal 5,0 jam; atau 950 oC minimal 3,2 jam; atau 1000 oC minimal 1,6 jam. Selanjutnya dengan rancangan sentral komposit dari respon permukaan dilakukan pembakaran pada suhu 900, 925 dan 950 oC selama 2,0; 3,0 dan 4 jam.Hasilnya menunjukkan bahwa untuk mendapatkan kadar CaO dalam kapur tohor sebesar 90 % maka pembakaran harus dilakukan pada suhu 900 oC selama 4,95 jam atau pada 950 oC selama 3,30 jam atau pada 1000 oC selama 1,55 jam. Semakin ditingkatkan suhu pembakaran (900 oC → 1000 C), maka waktu pembakaran semakin pendek (4,95 → 1,55 jam).
Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif TGT-Problem Posing dan TGT terhadap Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa Pada Materi Pokok Hidrolisis Garam untuk Siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Malang
ABSTRAK Yunita. 2009. Pengaruh Model Pembelajaran TGT-Problem Posing dan TGT Terhadap Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa pada Materi Pokok Hidrolisis Garam Untuk Siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Malang. Skripsi, Program studi pendidikan kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Parlan, M.Si., (II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si. Kata Kunci: TGT, Problem Posing, Prestasi belajar, motivasi, Hidrolisis Garam. Dalam KTSP pelajaran kimia termasuk dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang harus ditempuh siswa sampai tuntas. Ketuntasan yang diisyaratkan oleh KTSP adalah ketercapaian indikator yang telah disusun minimal 75% (BSNP, 2006:12). Agar ketuntasan belajar yang diisyaratkan oleh KTSP ini tercapai maka selain penguasaan materi oleh guru juga diperlukan adanya cara-cara yang efektif, efisien, dan menyenangkan untuk membelajarkan siswa tentang materi kimia tanpa membuat siswa merasa bosan dan putus asa dalam belajar. Beberapa model pembelajaran yang dapat digunakan diantaranya adalah pembelajaran kooperatif TGT dan Problem Posing. Model pembelajaran TGT ini mampu membangkitkan motivasi siswa dalam kegiatan yang menyenangkan dan menantang. Model Problem Posing dapat meningkatkan keaktivan siswa selama proses pembelajaran karena dalam model ini siswa dilatih untuk membuat soal dari kondisi-kondisi yang diberikan oleh guru. Salah satu materi kimia yang mencakup teori dan hitungan matematik adalah hidrolisis garam sehingga model TGT dan Problem Posing menjadi model pembelajaran yang cocok untuk diterapkan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Penggunaan rancangan ini dimaksudkan untuk membandingkan prestasi belajar siswa antara kelas eksperimen 1 yaitu siswa yang diajar dengan model pembelajaran TGT-Problem Posing, kelas eksperimen 2 yaitu siswa yang diajar dengan model pembelajaran TGT dan kelas kontrol yaitu siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X1 IPA SMA Negeri 10 Malang, yang terdiri dari 4 kelas. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan teknik sampling kelompok dan diperoleh tiga kelas sebagai sampel yaitu kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2 sebagai kelas eksperimen dan XI IPA 3 sebagai kelas kontrol. Data prestasi belajar diperoleh dari nilai unjuk kerja, nilai LKS, nilai aktivitas dalam pembelajaran kooperatif, nilai turnamen dan nilai tes akhir. Sedangkan data motivasi siswa diperoleh dari lembar angket yang diberikan kepada siswa tiap akhir pertemuan. Semua instrumen yang digunakan dalam penelitian ini telah divalidasi. Untuk instrumen tes akhir hasil validasi butir soal, diperoleh 23 soal valid dan 7 soal tidak valid sedangkan reliabilitas untuk soal ini adalah 0,838. Semua data yang diperoleh sebelum dilakukan pengujian hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas, menggunakan bantuan SPSS 16 for windows. Hasil analisis dengan uji t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran TGT-Problem Posing ( = 80,75) dan siswa yang diajar dengan model pembelajaran TGT ( = 76,72), siswa yang diajar dengan model pembelajaran TGT-Problem Posing ( = 80,75) dan siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional ( = 72,11) dan siswa yang diajar dengan model pembelajaran TGT ( = 76,72) dan siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional ( = 72,11) pada taraf signifikansi 75%, sangat termotivasi > 5%, dan yang tidak termotivasi > 5%
Kajian tentang Kesulitan Belajar Siswa Kelas XI IPA SMAN 7 Malang dalam Menyelesaikan Soal-soal Laju Reaksi
ABSTRAK Agestiani, Dwi Cahyu. 2007. Kajian tentang Kesulitan Belajar Siswa Kelas XI IPA SMAN 7 Malang dalam Menyelesaikan Soal-soal Laju Reaksi. Skripsi, Jurusan Kimia Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Nazriati, M.Si, (II) Dra. Fauziatul Fajaroh, M.S. Kata Kunci: Kajian, Kesulitan belajar, laju reaksi. Karakteristik ilmu kimia memiliki peranan sangat penting dalam pembelajaran kimia dan penilaian hasil belajar kimia sebagai produk dan proses. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan pengajaran kimia yaitu memperoleh pemahaman yang tahan lama, mengembangkan kemampuan mengenal dan memecahkan masalah, mengembangkan keterampilan proses dan sikap ilmiah maka terlebih dahulu dilakukan kajian kesulitan belajar siswa dalam mempelajari ilmu kimia. Hal ini dikarenakan sifat dari konsep-konsep ilmu kimia yang secara umum abstrak menjadi salah satu faktor yang diduga sebagai penyebab ketidakmampuan siswa dalam memahami materi kimia. Materi laju reaksi merupakan salah satu materi yang memuat banyak konsep abstrak dan konsep konkrit. Kesulitan memahami suatu konsep dapat menimbulkan kesulitan dalam memahami konsep-konsep lain yang berkaitan sebab suatu konsep kimia yang kompleks hanya dapat dikuasai jika konsep-konsep yang mendasar ikut dalam pembentukan konsep telah benar-benar dikuasai dan dipahami. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan mengkaji tingkat kesulitan belajar siswa dalam memahami dan menyelesaikan soal-soal laju reaksi serta mengetahui letak kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan soal-soal laju reaksi tersebut. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan populasi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 7 Malang tahun ajaran 2007/2008. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 125 siswa. Sampel penelitian diambil secara random dan didapatkan 2 kelas yaitu kelas XI IPA 1 dan XI IPA 3 yang berjumlah 83 siswa. Instrumen penelitian ini berupa tes obyektif terdiri dari 34 soal pilihan ganda dengan lima item jawaban. Sebelum digunakan, instrumen diujicobakan pada siswa kelas XII IPA 3 SMA Negeri 7 Malang. Berdasarkan hasil ujicoba instrumen penelitian termasuk valid dan didapatkan reliabilitas yang tinggi yaitu sebesar 0,7533. Analisis data dilakukan dengan cara membandingkan banyaknya siswa yang menjawab salah tiap indikator dengan jumlah sampel dan dihitung persentasenya. Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata persentase kesalahan siswa dalam menjawab pertanyaan diperoleh data 38,9% siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep dasar laju reaksi dan 41,4% siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal hitungan laju reaksi. Dari kedua persentase tersebut dapat diuraikan dalam setiap indikator yaitu: (1) dalam memahami konsep dasar laju reaksi: (a) 6,8% siswa mengalami kesulitan dalam menuliskan definisi laju reaksi, (b) 46,4% siswa mengalami kesulitan dalam menyimpulkan pengaruh konsentrasi, suhu, katalis, dan luas permukaan bidang sentuh pada laju reaksi berdasarkan data hasil pengamatan, (c) 74,5% siswa mengalami kesulitan dalam menjelaskan pengertian orde reaksi dari suatu persamaan laju reaksi, dan (d) 28% siswa mengalami kesulitan dalam menggambarkan kecenderungan orde reaksi, (2) dalam menyelesaikan soal-soal hitungan laju reaksi: (a) 50% siswa mengalami kesulitan dalam merumuskan persamaan laju reaksi berdasarkan data konsentrasi versus laju reaksi, (b) 48,3% siswa mengalami kesulitan dalam menyimpulkan pengaruh konsentrasi, suhu, katalis, dan luas permukaan bidang sentuh pada laju reaksi berdasarkan data hasil pengamatan, (c) 41,7% siswa mengalami kesulitan dalam menjelaskan pengertian orde reaksi dari suatu persamaan laju reaksi, dan (d) 25,5% siswa mengalami kesulitan dalam menentukan persamaan laju reaksi dengan metode laju reaksi awal
Identifikasi Pemahaman Siswa Pada Materi Termokimia Dalam Konteks Perubahan Entalpi Larutan Senyawa Ionik Kelas XIIA SMAN 3 Malang Tahun Ajaran 2009/2010.
Kata Kunci: Termokimia, Entalpi, Larutan, Senyawa, Ionik.Ilmu kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan eksperimen yang mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana gejala-gejala alam; khususnya yang berkaitan dengan komposisi, struktur dan sifat, transformasi, dinamika, dan energetika zat (Depdiknas, 2003:7). Herron (1975: 147) serta Kean dan Middlecamp (1985: 5) berpendapat bahwa sebagian besar konsep–konsep dalam kimia bersifat abstrak. Contoh dari konsep abstrak dalam kimia adalah konsep tentang atom, ion, orbital, energi, dan ikatan kimia. Dalam kimia energi yang menyertai reaksi kimia dibahas dalam topik termokimia. Salah satu kajian termokimia adalah perubahan entalpi larutan senyawa ionik. Pelarutan senyawa ionik dalam air dapat dianggap berlangsung melalui dua tahap yaitu peruraian kisi kristal padatan ionik menjadi ion–ionnya dalam fase gas dan hidrasi ion–ion dalam fase gas oleh molekul–molekul air. Dua tahap tersebut yang menyebabkan pelarutan senyawa ionik dalam air berlangsung secara endotermik atau eksotermik. Penelitian yang berkaitan dengan termokimia telah banyak yang dilaporkan tetapi tidak mengungkapkan mengapa suatu reaksi berlangsung secara endotermik dan eksotermik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemahaman siswa tentang (1) perubahan entalpi peruraian kisi kristal senyawa ionik menjadi ion–ionnya dalam fase gas, (2) perubahan entalpi pada hidrasi ion–ionnya dalam fase oleh molekul–molekul air, (3) perubahan entalpi pelarutan senyawa ionik dalam air beserta penyebabnya.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Populasi penelitian adalah siswa kelas XIIA SMAN 3 Malang tahun pelajaran 2009/2010 sedangkan sampel adalah siswa kelas XIIA-1 yang terdiri dari 23 siswa. Instrumen penelitian berupa soal tes uraian obyektif sebanyak 23 butir soal. Dari hasil uji coba diperoleh validitas isi tersebut sebesar 95,7% dan reliabilitas, dihitung dengan rumus KR-20 sebesar 0,74.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman siswa tentang: (1) perubahan entalpi kisi pada peruraian kisi kristal senyawa ionik menjadi ion–ionnya dalam fase gas yang berlangsung endotermik karena melibatkan pemutusan ikatan termasuk dalam kategori rendah (36,2%), (2) perubahan entalpi pada proses hidrasi ion–ion berlangsung secara eksotermik apabila melibatkan interaksi ion–dipol termasuk dalam kategori sangat rendah (6,5%), dan (3) pelarutan senyawa ionik dalam air berlangsung secara endotermik apabila energi kisi lebih dominan daripada energi hidrasi sebaliknya eksotermik apabila energi hidrasi lebih dominan daripada energi kisi termasuk dalam kategori cukup (52,2%)