SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Perbedaan Hasil Belajar dan Motivasi Belajar Materi Hidrolisis Garam antara Siswa yang Dibelajarkan dengan Model Pembelajaran LC 5E dan LC 5E - Peta Konsep pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 8 Malang
ABSTRAK Rosyida, Alfiyah. 2015. Perbedaan Hasil Belajar dan Motivasi Belajar Materi Hidrolisis Garam antara Siswa yang Dibelajarkan dengan Model Pembelajaran LC 5E dan LC 5E - Peta Konsep pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 8 Malang. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd, M.Si. (II) Dr. Hj. Endang Budiasih, M.S. Kata kunci:Pembelajaran Learning Cycle 5E, Peta Konsep, Hasil Belajar, Motivasi Belajar, Hidrolisis Garam Ilmu kimia seharusnya diajarkan dengan model pembelajaran yang sesuai dan menarik bagi siswa yaitu pembelajaran yang mengacu pada teori belajar konstruktivistik yang berpusat pada siswa (StudentCentered Learning). Salah satu model pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan adalah model pembelajaran Learning Cycle 5E (LC 5E).Model pembelajaran yang berpusat pada siswa membuat siswa belajar lebih mandiri sehingga pemahamannya lebih terkonstruk. Namun, sering kali didapatkan pemahaman siswa yang sudah terkonstruk tidak sama dengan pemahaman yang diharapkan. Hal ini sering terjadi pada siswa yang memiliki kemampuan rendah sehingga sering kali siswa mengalami sedikitkesulitan dalam memahami materi yang diberikan oleh guru. Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan memberikan tugas yang bersifat konstruktif, yaitu dengan memberikan tugas pembuatan peta konsep. Model pembelajaran LC 5E cocok dipadukan dengan tugas pembuatan peta konsep karena sama-sama didukung dengan pengolahan informasi. Model pembelajaran LC 5E– Peta Konsep dan LC 5E diterapkan pada materi hidrolisis garam. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui keterlaksanaan proses pembelajaran Hidrolisis Garam dengan model pembelajaran LC 5E – Peta Konsep dan LC 5E pada siswa kelas XI SMA Negeri 8 Malang (2) Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil belajar materi Hidrolisis Garam antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran LC 5E dan LC 5E – Peta Konsep pada siswa kelas XI SMA Negeri 8 Malang (3) Untuk mengetahui motivasi belajar materi Hidrolisis Garam antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran LC 5E dan LC 5E – Peta Konsep pada siswa kelas XI SMA Negeri 8 Malang Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian ini adalah rancangan penelitian eksperimental semu(quasy experimentaldesign) dengan model posttest only control group design. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik random sampling melalui dua kali undian. Undian pertama digunakan untuk menentukan kelas sampel penelitian. Undian kedua, terpilih kelas XI MIA 2 sebagai kelas kontrol dan XI MIA 3 sebagai kelas eksperimen. Kelas eksperimen dibelajarkan menggunakan model pembelajaran LC 5E – Peta Konsep dan kelas kontrol dibelajarkan menggunakan model pembelajaran LC 5E. Instrumen yang digunakan berupa instrumen perlakuan (silabus, RPP, LKS) dan instrumen pengukuran (tes hasil belajar, lembar observasi dan angket). Data keterlaksanaan proses pembelajaran, nilai kuis, dan nilai belajar afektif siswa dianalisis dengan analisis deskriptif, sedangkan data nilai ulangan harian dianalisis dengan analisis statistika dengan menggunakan bantuan program SPSS 20.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (I) keterlaksanaan proses pembelajaran pada siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran LC 5E – Peta Konsep dan siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran LC 5E masuk dalam kategori terlaksana dengan sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari persentase rata-rata keterlaksanaan proses pembelajaran pada siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran LC 5E yaitu sebesar 93,47% dan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran LC 5E – Peta Konsep sebesar 93,57%. (2) Ada perbedaan hasil belajar materi Hidrolisis Garam antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran LC 5E dan LC 5E – Peta Konsep pada siswa kelas XI SMA Negeri 8 Malang. Rata-rata nilai hasil belajar kognitif materi Hidrolisis Garam siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran LC 5E – Peta Konsep lebih tinggi ( 84,90) daripada siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran LC 5E ( = 78,71). Rata-rata nilai hasil belajar afektif materi Hidrolisis Garam siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran LC 5E – Peta Konsep lebih tinggi ( = 89,25) daripada siswa yang dibelajarkan denganmenggunakan model pembelajaran LC 5E ( = 81,25). (3) Ada perbedaan motivasi belajar materi Hidrolisis Garam antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran LC 5E dan LC 5E – Peta Konsep pada siswa kelas XI SMA Negeri 8 Malang. Rata-rata persentase motivasi belajar materi Hidrolisis Garam siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran LC 5E – Peta Konsep lebih tinggi yaitu sebesar 32,30% (sangat termotivasi) daripada siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran LC 5E yaitu sebesar 29% (sangat termotivasi)
Perbedaan Hasil Belajar Larutan PenyanggaSiswa Kelas XI MAN Malang 1 antara Siswa yang Diajar Menggunakan Model Learning Cycle 5E dengan yang Diajar Menggunakan Learning Cycle 5E Berbantuan Media Animasi
ABSTRAK Apriliyanti, Enik Dwi. 2015. Perbedaan Hasil Belajar Larutan PenyanggaSiswa Kelas XI MAN Malang 1 antara Siswa yang Diajar Menggunakan Model Learning Cycle 5E dengan yang Diajar Menggunakan Learning Cycle 5E Berbantuan Media Animasi. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Muntholib, S.Pd., M.Si., (II) Dr. Irma K. Kusumaningrum, S.Si, M.Si Kata Kunci : learning cycle 5E,media animasi, hasil belajar, larutan penyangga Karakteristik ilmu kimia adalah sebagian besar konsep-konsepnya bersifat abstrak. Sifatnya yang abstrak menyebabkan kimia cenderung menjadi pelajaran yang sulit bagi kebanyakan siswa. Fenomena kimia digambarkan dan dijelaskan oleh para ahli kimia menggunakan level-level representasi yang meliputi representasi makroskopik, (sub)mikroskopik, dan simbolik. Levelmolekuler tidak dapat diamati secara langsung, olehkarena itu merupakan suatu hal yang penting untukmemberikan gambaran/visualisasi pada level molekular kepada siswa. Media animasiadalah sebuah media berbasis komputer yang memungkinkan siswa untuk melihat penyebab terjadinya fenomena kimia pada level partikulat.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) hasil belajar Larutan Penyangga siswa yang diajar menggunakan model Learning Cycle-5E. 2)hasil belajar Larutan Penyangga siswa yang diajar menggunakan model Learning Cycle-5E berbantuan media animasi. 3) perbedaan hasil belajar Larutan Penyangga antara siswa yang diajar menggunakan modelLearning Cycle-5E dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Learning Cycle-5E berbantuan media animasi. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu dengan posttest only design. Penelitian ini dilakukan di MAN Malang 1. Teknik pengambilan sampel dengan cara random sampling. Dari seluruh populasi yaitu sebanyak 5 kelas XI IPA, diambil dua kelas yang akan dijadikan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle-5E berbantuanmedia animasi, sedangkan kelas kontrol dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle-5E. Instrumen perlakuan berupa silabus, RPP, Lembar Kerja Siswa, dan media animasi. Instrumen pengukuran hasil belajar berupa soal-soal ulangan harian berupa dua puluh soal pilihan ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata Larutan Penyanggasiswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaranLearning Cycle-5E berbantuan media animasi sebesar 71,88, sedangkan siswa yang dibelajarkan dengan Learning Cycle-5E memiliki hasil belajar rata-rata 65,47. Dari hasil t-test dapat disimpulkan bahwa skor rata-rata hasil belajar kognitif Larutan Penyangga siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle-5E berbantuan media animasilebih baik daripada siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaranLearning Cycle-5E
Hubungan Representasi Makroskopik-Simbolik, Makroskopik-Submikroskopik, dan Submikroskopik-Simbolik Pada Pemahaman Materi Stoikiometri Siswa Kelas XI SMA Negeri 5 Malang
ABSTRAK Wardah, Dini Zahrotul. 2015. Hubungan Representasi Makroskopik-Simbolik, Makroskopik-Submikroskopik, dan Submikroskopik-Simbolik Pada Pemahaman Materi Stoikiometri Siswa Kelas XI SMA Negeri 5 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mohammad Sodiq Ibnu, M.Si. (II) Oktavia Sulistina, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci :pemahaman, stoikiometri, makroskopik, submikroskopik, simbolik Stoikiometri merupakan materi yang menjadi dasar dalam mempelajari materi lainnya yang melibatkan perhitungan kimia. Selain itu untuk mempelajari ilmu kimia secara utuh siswa harus memahami tiga representasi kimia, yaitu makroskopik, submikroskopik, dan simbolik, termasuk dalam mempelajari materi stoikiometri. Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) tingkat pemahaman materi stoikiometri pada siswa kelas XI SMA Negeri 5 Malang, (2) tingkat pemahaman stoikiometri representasi makroskopik, submikroskopik, dan simbolik pada siswa kelas XI SMA Negeri 5 Malang, (3) hubungan representasi pemahaman makroskopik-simbolik, makroskopik–submikroskopik dan submikroskopik-simbolik. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian adalah kelas XI MIA 4 dan XI MIA 6 SMA Negeri 5 Malang yang dipilih dengan teknik sampling purposive. Instrumen penelitian adalah tes diagnostik berbentuk pilhan ganda disertai dengan kolom perhitungan ataupun alasan pemilihan jawaban siswa, berisi 27 soal yang terdiri dari 9 soal representasi makroskopik, 9 soal representasi submikroskopik, dan 9 soal representasi simbolik pada materi stoikiometri dengan lima alternatif jawaban. Validitas isi dan reliabilitas soal diagnostik berturut-turut adalah 71,55% dan 0,882 yang berarti bahwa soal layak digunakan untuk penelitian. Data dianalisis berdasarkan persentase jawaban siswa yang benar dan sebaran jawaban salah pada tiap-tiap butir soal. Analisis hubungan representasi kimia menggunakan uji korelasi Product Moment. Hasil penelitian tingkat pemahaman materi stokiometri siswa kelas XI MIA SMA Negeri 5 Malang tahun ajaran 2014/2015 adalah sebagai berikut: (1) tingkat pemahaman materi stoikiometri tergolong baik, (2) tingkat pemahaman materi stoikiometri representasi makroskopik pada siswa kelas XI SMA Negeri 5 Malang termasuk dalam kategori tinggi, persentase jumlah siswa yang menjawab benar sebesar 69%, tingkat pemahaman materi stoikiometri representasi submikroskopik pada siswa kelas XI SMA Negeri 5 Malang termasuk dalam kategori sedang, persentase jumlah siswa yang menjawab benar sebesar 57%, tingkat pemahaman materi stoikiometri representasi simbolik pada siswa kelas XI SMA Negeri 5 Malang termasuk dalam kategori tinggi, persentase jumlah siswa yang menjawab benar sebesar 78%, (3) ada hubungan yang rendah antara representasi makroskopik-simbolik dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,357 dan sumbangan pemahaman representasi makroskopik terhadap representasi simbolik sebesar 12%, ada hubungan yang rendah antara representasi makroskopik-submikroskopik dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,345 dan sumbangan pemahaman representasi makroskopik terhadap representasi submikroskopik sebesar 12%. Ada hubungan yang rendah antara representasi submikroskopik- simbolik dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,382 dan sumbangan pemahaman representasi submikroskopik terhadap representasi simbolik sebesar 14%
Identifikasi Kesulitan Peserta Didik Kelas XI MIA SMA Negeri 10 Malang Dalam Memahami Kesetimbangan Kimia
ABSTRAK Indriani, Aninda. 2015. Identifikasi Kesulitan Peserta Didik Kelas XI MIA SMA Negeri 10 Malang Dalam Memahami Kesetimbangan Kimia. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Ida Bagus Suryadharma,M.Si., (II) Dr. Yahmin,S.Pd.,M.Si. Kata Kunci: kesetimbangan kimia,identifikasi kesulitan, kesetimbangan dinamis, konstanta kesetimbangan, pergeseran kesetimbangan. Konsep yang diajarkan dalam ilmu kimia sifatnya berjenjang dan bertingkat mulai dari yang sederhana hingga kompleks. Memahami konsep kimia yang sederhana dalam pembelajaran kimia merupakan hal yang penting sebelum memahami konsep pada jenjang berikutnya. Pada kenyataannya, peserta didik sering mengalami kesulitan dalam memahami konsep kimia karena konsep dasar tidak dipahami dengan benar. Pemahaman konsep kesetimbangan diperlukan sebagai konsep dasar pada konsep yang lebih kompleks, antara lain: asam-basa, hidrolisis garam, larutan penyangga, kelarutan dan hasil kali kelarutan. Peserta didik yang mengalami kesulitan dalam memahami kesetimbangan kimia akan mengalami kesulitan pada materi selanjutnya yang membutuhkan pemahaman tentang materi kesetimbangan kimia. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kesulitan peserta didik kelas XI MIA SMA Negeri 10 Malang dalam memahami kesetimbangan kimia: (1) secara keseluruhan dan (2) pada kelompok bawah serta kelompok atas. Penelitian menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Populasi penelitian terdiri dari seluruh peserta didik kelas XI MIA SMA Negeri 10 Malang yang terdiri dari 3 kelas. Sampel penelitian adalah kelas XI MIA 1 dan XI MIA 3 yang diambil dengan teknik acak kelas. Instrumen penelitian berupa 26 butir soal pilihan ganda disertai alasan terbuka. Reliabilitas instrumen r = 0.713 tergolong tinggi. Pengambilan data dilakukan dengan teknik tes tertulis kemudian dianalisis tingkat kesulitannya berdasarkan jumlah jawaban yang salah. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis presentase pada tiap indicator soal kemudian dikualifikasikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan dalam memahami kesetimbangan kimia secara keseluruhan meliputi kesulitan dalam memahami kesetimbangan dinamis tergolong tinggi (sebesar 61%), kesulitan dalam memahami konstanta kesetimbangan tergolong rendah (sebesar 39%), kesulitan dalam memahami faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran kesetimbangan tergolong rendah (sebesar 31%). Konsep yang sulit dipahami oleh peserta didik kelompok bawah adalah konsep kesetimbangan dinamis (sebesar 66%) dan konsep konstanta kesetimbangan (sebesar 56%). Konsep yang sulit dipahami oleh peserta didik kelompok atas adalah konsep kesetimbangan dinamis (sebesar 58%)
UJI EFEKTIVITAS SILIKA-SELULOSA DALAM MELEPASKAN SENYAWA DARI EKSTRAK METANOL PADI TERINFEKSI SEBAGAI ATRAKTAN PARASITOID
UJI EFEKTIVITAS SILIKA-SELULOSA DALAM MELEPASKAN SENYAWA DARI EKSTRAK METANOL PADI TERINFEKSI SEBAGAI ATRAKTAN PARASITOID Satriana Pratiwi Hadi, Surjani Wonorahardjo*, dan Neena Zakia Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang Email: [email protected] ABSTRAK: Tanaman dapat menghasilkan senyawa yang berperan dalam interaksi diantara organisme. Tanaman yang terinfeksi herbivora akan memproduksi senyawa sebagai mekanisme pertahanan tidak langsungnya yang dapat menarik musuh alami herbivora tersebut. Tanaman padi yang terinfeksi wereng akan memproduksi senyawa yang dapat menarik musuh alami wereng (parasitoid) sebagai mekanisme pertahanan tidak langsungnya. Senyawa yang terdapat pada ekstrak padi perlu dijerapkan pada suatu penjerap agar mudah terlepas ke udara. Penjerap yang dapat digunakan adalah silika-selulosa. Permukaan silika-selulosa memiliki gugus aktif yang mampu mengikat senyawa dari ekstrak metanol padi terinfeksi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui (1) karakterisasi silika-selulosa sebagai penjerap senyawa dari ekstrak metanol padi dan (2) efektivitas silika selulosa dalam menjerap dan melepaskan senyawa dari ekstrak metanol padi terinfeksi sebagai atraktan parasitoid dengan uji bioassay. Penelitian ini terdiri dari 5 tahap, yaitu (1) preparasi dan ekstraksi tanaman padi, (2) analisis senyawa yang terkandung dalam ekstrak padi dengan GC-MS, (3) pembuatan dan karakterisasi silika-selulosa sebagai penjerap, (4) penjerapan ekstrak padi pada silika-selulosa, dan (5) uji keefektifan silika-selulosa dalam menjerap dan melepaskan senyawa dari ekstrak metanol padi terinfeksi sebagai atraktan parasitoid dengan bioassay. Hasil penelitian adalah (1) silika-selulosa dapat digunakan sebagai penjerap senyawa dari ekstrak metanol padi dengan karakterisasi yang telah dilakukan meliputi analisis BET dan SEM, kadar air, kadar abu, dan massa jenis dan (2) efektiftivitas jerapan ekstrak metanol padi terinfeksi pada permukaan silika-selulosa sebagai atraktan parasitoid hingga minggu keempat. Kata kunci: bioassay, silika-selulosa, atraktan, ekstrak metanol padi, sokhletas
Pengembangan Bahan Ajar Materi Konsep Mol dan Stoikiometri Menggunakan Pendekatan Saintifik dengan Mengeksplisitkan Hakikat Sains (NOS) serta Berfikir Kritis
ABSTRAK Sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, pemerintah telah menerapkan kurikulum 2013. Implementasinya kurikulum tersebut menggunakan pendekatan saintifik. Salah satu materi kimia yang termuat dalam silabus kurikulum 2013 adalah konsep mol dan stoikiometri. Hasil kajian pendahuluan peneliti di beberapa SMA menunjukkan bahwa bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran pada materi tersebut masih menggunakan cara konvensional. Bahan ajar yang seperti ini dapat menyebabkan peserta didik kurang mampu melatih kemampuan berfikir kritis serta memahami konsep secara memadai dan menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar materi konsep mol dan stoikiometri menggunakan pendekatan saintifik dengan mengeksplisitkan hakikat sains (NOS) serta berfikir kritis. Rancangan yang digunakan adalah penelitian pengembangan menggunakan model 4D seperti yang dikemukakan oleh Thiagarajan et al. Model pengembangan 4D terdiri atas empat tahapan yaitu: (1) tahap pembatasan (define), (2) tahap perancangan (design), (3) tahap pengembangan (develop), dan (4) tahap penyebaran (disseminate). Akan tetapi, pengembangan bahan ajar ini hanya sampai tahap develop. Bahan ajar yang telah dikembangkan kemudian divalidasi menggunakan instrumen berupa angket checklist yang diadaptasi dan dimodifikasi dari Cucu (2010) berdasarkan sumber Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Validasi dilakukan oleh satu validator ahli materi dan dua validator ahli pembelajaran. Data hasil validasi terdiri dari dua jenis yaitu data kuantitatif untuk skor skala Likert dan data kualitatif berupa komentar atau saran dari validator. Produk pengembangan yang dihasilkan berupa bahan ajar materi konsep mol dan stoikiometri menggunakan pendekatan saintifik dengan mengeksplisitkan hakikat sains (NOS) serta berfikir kritis yang terdiri dari buku siswa dan buku guru. Buku siswa memuat materi konsep mol dan stoikiometri dalam lima subbab utama dan satu subbab pengantar. Materi yang dimuat telah disesuaikan dengan langkah-langkah pembelajaran saintifik dengan mengeksplisitkan hakikat sains (NOS) dan berfikir kritis. Sedangkan buku guru memuat petunjuk penggunaan buku siswa disertai dengan RRP dan pedoman penilaiannya. Dari hasil validasi diperoleh nilai rata-rata 88,4% untuk buku siswa dengan kriteria sangat layak dan 88,9% untuk buku guru dengan kriteria sangat layak. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa bahan ajar materi konsep mol dan stoikiometri menggunakan pendekatan saintifik dengan mengeksplisitkan hakikat sains (NOS) dan berfikir kritis sangat layak untuk digunakan dalam pembelajaran
Pengaruh Serapan Selenium terhadap Aktivitas Antioksidan Ekstrak Jamur Kuping Hitam (Auricularia Polytricha)
ABSTRAK Indriani, Khilawatul. 2015. Pengaruh Serapan Selenium terhadap Aktivitas Antioksidan Ekstrak Jamur Kuping Hitam (Auricularia Polytricha). Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Irma K. Kusumaningrum, S.Si., M.Si.(II) Dr. Sc. H. Anugrah Ricky Wijaya, S.Si, M.Sc. Kata kunci: Fortifikasi selenium, Auricularia polytricha, NaHSeO3, antioksidan Selenium merupakan salah satu mikronutrisi yang memiliki peranan besar dalam sistem biologis tubuh. Selenium dengan asupan tertentu berperan sebagai pelindung tubuh dari keracunan logam berat, penyakit jantung dan kanker. Berdasarkan World Health Organization (WHO) tahun 1996 dalam European Journal of Clinical Nutrition asupan selenium untuk anak-anak sebesar 20μg/hari dan untuk orang dewasa sebesar 30-40μg/hari. Kekurangan selenium dalam asupan makanan dapat menyebabkan penyakit keshan yang ditandai dengan gagal jantung, stroke hingga kematian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar selenium dalam badan buah jamur kuping hitam (Auricularia polytricha) pada pH 7dengan kadar fortifikan 0ppm; 25ppm; 50ppm dan 75ppm dan mengetahui kandungan total senyawa fenolik secara spektrofotometri serta aktivitas penangkapan radikal bebas yang diuji menggunakan 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) oleh ekstrak etanol jamur kuping hitam.Penelitian ini dilakukan melalui lima tahap, yaitu (1) pembuatan media tanam jamur kuping hitam pada pH 6, 7 dan 8 dengan kadar fortifikan NaHSeO3 sebesar 0ppm; 25ppm, 50ppm dan 75ppm, (2) budidaya dan pemanenan jamur kuping hitam, (3) preparasi sampel dengan metode destruksi basah, (4) analisis kadar selenium pada jamur dengan instrumen Atomic Absorption Spectrophotometric (AAS) dan (5) uji aktivitas antioksidan yang meliputi penentuan kandungan total senyawa fenolik dan aktivitas penangkapan radikal bebas DPPH. Hasil penelitian menunjukkan kadar selenium dalam jamur kuping hitam dipengaruhi oleh kadar selenium pada media tanam. Semakin besar kadar selenium pada media tanam dengan konsentrasi 0ppm, 25ppm, 50ppm dan 75ppm, maka kadar selenium dalam jamur kuping hitam semakin besar. Kandungan total senyawa fenolik dan aktivitas penangkapan radikal bebas DPPH juga dipengaruhi oleh kadar selenium pada media tanam. Semakin besar kadar selenium pada media tanam dengan konsentrasi 0ppm, 25ppm, 50 ppm dan 75ppm, pertumbuhan miselium semakin lambat dan kandungan total senyawa fenolik menjadi semakin meningkat. Kandungan total senyawa fenolik pada pH 7 cenderung menurun, sedangkan pada pH 6 dan 8 cenderung meningkat jika kadar fortifikan pada media tanam ditingkatkan. Nilai IC50 pada pH 7 cenderung meningkat, sedangkan pH 6 dan 8 cenderung menurun jika kadar fortifikan ditingkatkan
Pengaruh Penyerapan Kromium terhadap Kadar Total Senyawa Fenolik dan Aktivitas Antioksidan Jamur Kuping (Auricularia polytricha))
ABSTRAK Adityawati, Ika Nugraheni. 2015. Pengaruh Penyerapan Kromium terhadap Kadar Total Senyawa Fenolik dan Aktivitas Antioksidan Jamur Kuping Hitam (Auricularia polytricha). Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Pembimbing: (I) Dr. Irma Kartika Kusumaningrum, S.Si., M.Si., (II) Eli Hendrik Sanjaya, S.Si., M.Si. Kata Kunci: fortifikasi kromium, kadar total senyawa fenolik, aktivitas antioksidan, jamur kuping Kromium(III) merupakan ion logam yang bermanfaat bagi manusia. Kromium(III) terlibat dalam metabolisme glukosa, protein, lipid, dan sensitivitas reseptor insulin. Kromium(III) secara alami ditemukan dalam makanan, untuk meningkatkan asupan kromium dapat ditempuh dengan konsumsi suplemen atau bahan pangan yang kaya kromium. Jamur kuping hitam dapat menyerap ion logam dan merupakan bahan pangan yang disukai masyarakat. Kemampuan jamur kuping menyerap ion logam dapat diarahkan untuk aplikasi fortifikasi kromium(III). Penambahan kromium(III) pada jamur dapat mempengaruhi metabolisme sekundernya. Pada penelitian ini dipelajari pengaruh penambahan kromium(III) terhadap kadar total senyawa fenolik dan aktivitas penangkapan radikal bebas DPPH (1,1-difenil-2-pikrihidrazil) ekstrak etanol jamur kuping hitam (Auricularia polytricha). Penelitian menggunakan rancangan eksperimen dengan tujuh tahapan yaitu: (1) pembuatan media tanam dengan penambahan kromium(III) nitrat, (2) inokulasi dan pemeliharaan jamur kuping hitam, (3) pemanenan jamur kuping hitam, (4) preparasi sampel, (5) analisis data kadar kromium total, kromium (III), dan kromium(VI) pada badan buah jamur, (6) analisis kadar total senyawa fenolik ekstrak etanol jamur kuping hitam, dan (7) analisis aktivitas penangkapan radikal bebas DPPH ekstrak etanol jamur kuping hitam. Hasil Penelitian menunjukkan makin banyak kadar fortifikan yang ditambahkan ke dalam media tanam yakni pada rentang 0-100 ppm maka makin banyak kromium yang terabsorpsi pada badan buah jamur kuping hitam. Peningkatan kadar kromium diikuti dengan peningkatan kadar total senyawa fenolik dan aktivitas antioksidan jamur kuping hitam. Aktivitas antioksidan tidak dapat dihubungkan dengan fluktuasi kadar total fenolik. Pada kadar fortifikan yang sama, kadar total fenolik tertinggi dihasilkan dari jamur kuping hitam yang ditanam pada pH 6. Sementara itu, aktivitas antioksidan tertinggi dihasilkan dari jamur kuping yang ditanam pada pH 7
Isolasi dan Karakterisasi Senyawa dari Fraksi Etil Asetat Biji Alpukat (Persea americana Mill) dan Uji Aktivitasnya Sebagai Antioksidan dan Sunscreen
ABSTRAK Buah alpukat (Persea americana Mill) adalah buah yang banyak dimanfaatkan olehmasyarakat untuk dikonsumsi karena rasanya yang lezat. Bagian dari buah alpukat yang lain yaitu biji alpukat cenderung tidakdimanfaatkan dan dibuang. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, bij ialpukat memilik ipotensi sebagai sumber senyawa-senyawa aktif yang harus dimanfaatkan.Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengisolasi salah satu komponen dari fraksi etil asetat biji alpukat, (2) mengkarakterisasi komponen hasil isolas idarifraksi etil asetat biji alpukat dan (3) menentukan aktivitas antioksidan dansunscreen komponen hasil isolasi dari fraksi etil asetat biji alpukat. Penelitian ini merupakan survey yang dilakukan secara eksperimen di laboratorium yang terdiri dari empattahap, yaitu (1) ekstraksi biji alpukat menggunakan etil asetat, (2) isolasi komponen biji alpukat dengan kromatografi kolom, (3) karakterisasi dan identifikasi meliputi wujud, warna, penentuan titik lebur, uji kelarutan, penentuan putaran optik, uji ketidakjenuhan, uji golongan senyawa bahan alam, analisis spektrofotometri UV-Vis dan IR pada komponen hasil isolasidan (4) uji aktifitasantioksidan menggunakan metode peredaman DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl) dan sunscreen secaraspektrofotometri UV. Komponen hasil isolasi dari fraksi etilasetat biji alpukat memiliki wujud padatan lembek berwarna kuning pucat dengan titik lebur 45-46 oC dan bersifat tidak optik aktif. Komponen larut dalam kloroform, etil asetat,dan metanol, sedikit larut dalam n-heksan dan air, dalam metanol(200 mg.L-1) mempunyai λmaks 210 nm (a 4,63mL.cm-1.mg-1) dan 266 nm (a 0,295 mL.cm-1.mg-1). Komponen ini memiliki ikatanrangkap terkonjugasi, mengandung gugus O-H,-CH2-,dan C-H aromatik, diduga komponen ini adalah senyawa golongan saponin.Komponen tidak memiliki aktivitas antioksidan (KP503026 mg.L-1) dan sunscreen (SPF 0,1398)
Hasil Pembelajaran Inkuiri Terbimbing dalam Pembelajaran Kelas dan dalam Pembelajaran Kooperatif Tipe-STAD
ABSTRAK Pendekatan saintifik merupakan pendekatan yang ditekankan untuk digunakan dalam pendidikan di Indonesia saat ini. Pendekatan saintifik bertujuan agar siswa menjadi lebih aktif dalam mengkonstruksi pengetahuan yang akan dimilikinya. Selain itu juga dapat mendorong siswa untuk melakukan penyelidikan (eksperimen) guna menemukan fakta dari suatu fenomena atau kejadian. Salah satu model pembelajaran yang menggunakan pedekatan saintifik dalam pelaksanannya adalah model inkuiri terbimbing. Pada kenyataannya, di Indonesia masih banyak sekolah yang masih cenderung melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada guru. Penerapan model inkuiri terbimbing ini dapat membantu siswa yang masih kurang aktif dalam pembelajaran dan meningkatkan kemampuan analisis siswa dengan melakukan observasi dan percobaan. Berdasarkan uraian tersebut, maka penting dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil pembelajaran yang menggunakan inkuiri terbimbing berbasis pendekatan saintifik secara individual dan secara kooperatif pada pokok bahasan kelarutan dan hasil kali kelarutan menggunakan tipe-STAD. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan deskriptif dan rancangan eksperimental semu (Quasi experimental design). Subjek penelitian adalah 2 kelas yang dipilih secara acak dari 3 kelas yang ada dan masing-masing kelas berisi 40 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah perangkat pembelajaran dan tes hasil belajar. Uji validitas soal yang digunakan meliputi uji validitas isi dan validitas butir soal. Uji validitas isi menunjukkan hasil sebesar 95,8% dan uji validitas butir soal menunjukkan 20 butir soal yang valid. Uji reliabilitas pada penelitian ini dilakukan dengan metode Alpha-Cronbach dengan bantuan program SPPS 16.0 for Windows. Hasil uji coba tes hasil belajar menunjukkan tingkat reliabilitas 0,69. Pengujian hipotesis mengunakan independent samples t-test pada tingkat signifikansi 0,05 dengan bantuan program SPSS 16 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) skor kualitas proses model pembelajaran inkuiri terbimbing sebesar 70,71% dan model pembelajaran inkuiri terbimbing-STAD sebesar 77,32% ; (2) terdapat perbedaan hasil belajar materi kelarutan dan hasil kali kelarutan antara siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan inkuiri terbimbing-STAD pada siswa kelas XI IPA SMAN 1 Baureno. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran pembelajaran inkuiri terbimbing-STAD (= 82,1) lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dalam pembelajaran kelas (= 73,6)