SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
    1785 research outputs found

    Perbedaan Hasil Belajar Model Learning Cycle 5E-Peta Konsep dan Learning Cycle 5E-Merangkum pada Materi Stoikiometri Kelas X di SMA Negeri 6 Malang

    No full text
    ABSTRAK   Ilmu kimia dipelajari berdasarkan tiga hal, yaitu: fakta, konsep, dan simbol yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari yang dikenal dengan Tetrahedral Chemistry Education. Salah satu model pembelajaran yang menganut teori pembelajaran kontruktivistik dan sesuaiTetrahedral Chemistry Educationadalah Learning Cycle 5E. Model pembelajaran  Learning Cycle 5E sesuai dengan karakter materi Stoikiometri yang membahas tentang konsep mol dan perhitungan kimia. Materi yang berkaitan dengan konsep dan perhitungan harus dapat dipahami secara sistematis dan struktural sehingga apabila digabungkan dengan peta konsep akan menghasilkan pembelajaran yang bermakna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) keterlaksanaan proses pembelajaran Stoikiometri dengan model Learning Cycle 5E-Peta Konsep dan Learning Cycle5E-Merangkum pada siswa kelas X SMA Negeri 6 Malang (2) ada tidaknya perbedaan hasil belajar materi Stoikiometri antara siswa yang pembelajarannya menggunakan model Learning Cycle 5E-Peta Konsep dengan siswa yang pembelajarannya menggunakanLearning Cycle5E-Merangkum pada siswa kelas X SMA Negeri 6 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimental semu(quasy experimentaldesign) dengan model posttest only control group design. Sampel dipilih dengan teknik clusterrandom sampling melalui dua kali undian. Undian pertama digunakan untuk menentukan kelas sampel penelitian. Undian kedua, terpilih kelas X MIA 1sebagai kelas eksperimen dan X MIA 2 sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5E-Peta Konsepdan kelas kontrol dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle5E-Merangkum. Instrumen yang digunakan berupa instrumen perlakuan (silabus, RPP, handout, dan LKS) dan instrumen pengukuran (lembar observasi, kuis, danposttest). Instrumen posttest terdiri dari 26 butir soal yang valid dengan reliabilitas α = 0,717. Data keterlaksanaan proses pembelajaran dan nilai kuis siswa dianalisis dengan analisis deskriptif, sedangkan data posttestdianalisis dengan analisis statistika melalui uji-t dengan signifikansi α = 0,05 berbantuan program SPSS 20.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) keterlaksanaan proses pembelajaran pada siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5E-Peta Konsep dan siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle5E-Merangkumtermasuk dalam kriteria terlaksana dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari persentase rata-rata keterlaksanaan proses pembelajaran pada siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5E-Peta Konsep yaitu sebesar 88% dan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle5E-Merangkum sebesar 86%. (2) ada perbedaan hasil belajar materi Stoikiometri antara siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5E-Peta Konsep dengan siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaranLearning Cycle5E-Merangkumpada siswa kelas X SMA Negeri 6 Malang. Hal ini diketahui berdasarkan hasil uji-t nilai signifikansi (α = 0,04) < 0,05. Rata-rata nilai hasil belajar kognitif materi Stoikiometri siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5E-Peta Konsep ( 82,1)lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle5E-Merangkum(  = 78,1)

    Sintesis Senyawa Kompleks Dari Perak(I) Nitrat Dengan Ligan N,N`-Dietiltiourea.

    No full text
    ABSTRAK &nbsp; Reaksi antara AgNO3 dan ligan tiourea (tu) dengan perbandingan mol 1 : 3 menghasilkan senyawa kompleks ionik [Ag(tu)3](NO3). Struktur kation [Ag(tu)3]+ adalah trigonal planar. Ligan N,N&rsquo;-dietiltiourea (detu) merupakan turunan dari tu. Detu lebih sterik daripada tu karena adanya penggantian dua atom hidrogen dengan dua gugus etil. Senyawa kompleks dari AgNO3 dan detu belum disintesis. Pergantian tu dengan detu dapat menghasilkan struktur senyawa kompleks yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah sintesis dan karakterisasi senyawa kompleks dari AgNO3 dan ligan detu. Struktur senyawa kompleks yang dihasilkan berguna untuk mengetahui pengaruh subtituen yang ada pada ligan detu. Sintesis senyawa kompleks dilakukan dengan mereaksikan langsung antara AgNO3 dan ligan detu pada stoikiometri 1 : 4 dalam pelarut metanol. Uji titik lebur dilakukan untuk mengindikasikan senyawa kompleks hasil sintesis berupa baru, murni, dan memiliki kestabilan termal. Analisis dengan EDX digunakan untuk mengetahui rumus empiris senyawa kompleks. Uji daya hantar listrik (DHL) dan kualitatif&nbsp; ion nitrat untuk menentukan jenis senyawa kompleks hasil sintesis merupakan senyawa ionik atau molekuler. Berdasarkan rumus empiris dan jenis senyawa kompleks, rumus kimia dari senyawa tersebut dapat ditentukan sehingga diperoleh juga prediksi strukturnya. Energi bebas dari struktur prediksi dihitung dengan program Spartan&rsquo;14. Struktur senyawa kompleks yang paling sesuai adalah struktur dengan energi bebas terendah. Senyawa kompleks hasil sintesis dari AgNO3 dan detu berupa kristal tidak berwarna dengan titik lebur 116-118˚C. Hasil uji titik lebur mengindikasikan bahwa senyawa kompleks hasil sintesis merupakan senyawa baru, murni, dan stabil. Analisis EDX memberikan rumus empiris C15H36AgN7O3S3. Hasil uji DHL dan kualitatif ion nitrat diketahui bahwa senyawa kompleks hasil sintesis berupa kompleks ionik dengan rumus kimia [Ag(detu)3]NO3. Berdasarkan rumus kimia tersebut, terdapat dua prediksi struktur senyawa kompleks hasil sintesis yaitu monomer [Ag(detu)3NO3] dan dimer [(detu)2Ag(&micro;-S-(detu)2Ag(detu)2](NO3)2. Hasil perhitungan energi bebas dapat diketahui monomer [Ag(detu)3NO3] dan dimer [(detu)2Ag(&micro;-S-(detu)2 Ag(detu)2] (NO3)2 memiliki energi bebas berturut- turut sebesar -588,3507 kJ/mol dan -1492,1812 kJ/mol. Energi bebas dari dimer lebih rendah dari dua kali energi bebas monomer. Berdasarkan perhitungan energi bebas, struktur dimer lebih mudah terbentuk. Oleh sebab itu, senyawa kompleks hasil sintesis adalah {[(detu)2Ag(&micro;-S-(detu)2Ag(detu)2](NO3)2 . kation dari senyawa kompleks berupa dimer dengan geometri tetrahedral terdistorsi di sekitar atom pusatnya

    HUBUNGAN KEMAMPUAN VISUAL-SPASIAL DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS XI IPA SMAN 1 KREMBUNG PADA SUBMATERI GEOMETRI MOLEKUL

    No full text
    ABSTRAK Wati, Erna. 2015. Hubungan Kemampuan Visual-spasial dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI IPA SMAN 1 Krembung pada Submateri Geometri Molekul. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Dermawan Affandy, M.Pd., (II) Drs. Darsono Sigit, M.Pd. Kata Kunci: Kemampuan visual-spasial, Prestasi belajar, Geometri molekul           Kimia merupakan ilmu visual. Beberapa dekade ini banyak para peneliti dan pendidik kimia yang melakukan eksplorasi mengenai metode untuk membantu siswa mengembangkan pemahaman konseptual representasi dalam pembelajaran kimia. Beberapa studi empiris menyatakan bila pemahaman representasi mikroskopis dan simbolik sangat sulit dipahami oleh siswa karena representasi ini tak terlihat dan abstrak. Tanpa pengetahuan konseptual substansial dan kemampuan visual-spasial, siswa kurang mampu menerjemahkan satu informasi yang diberikan ke dalam bentuk representasi lainnya.Penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan signifikan antarakemampuan visual-spasial dengan prestasi belajar siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Krembung pada submateri geometri molekul (KTSP 2006). Instrumen yang digunakan yaitu  tes kemampuan visual-spasial dan tes geometri molekul.Uji hipotesis untuk penelitian inimenggunakan uji korelasi product moment Pearson (α=0,05). Hasil uji hipotesis penelitian ini diperoleh nilai r=-0,072, hal ini  menunjukkan bahwa kemampuan visual-spasial tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kemampuan visual-spasial dengan prestasi belajar siswa kelas XI IPA SMAN 1 Krembung pada submateri geometri molekul. Meskipun hasil penelitian ini tidak terdapat hubungan antara kemampuan visual-spasial dengan prestasi belajar, diharapkan para guru dapat menerapkan strategi pembelajaranmultiple intelligences dengan metode pembelajaran seperti LC, inkuiri, atau direct instruction dan juga lebih banyak memberikan peragaan visual-spasial dalam usaha membantu siswa untuk memahami konsep geometri molekul dan bukan hanya sekedar menghafal konsep

    PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MENGGUNAKAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENGEKSPLISITKAN HAKIKAT SAINS (NOS) DAN BERPIKIR KRITIS PADA MATERI LARUTAN ELEKTROLIT-NONELEKTROLIT DAN REAKSI REDOKS

    No full text
    ABSTRAK   Metalia, Eva S. 2015. Pengembangan Bahan Ajar Menggunakan Pendekatan Saintifik untuk Mengeksplisitkan Hakikat Sains (NOS) dan Berpikir Kritis pada Materi Larutan Elektrolit-Nonelektrolit dan Reaksi Redoks. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Sri Rahayu, M.Ed., Ph.D, (II) Drs. Prayitno, M.Pd.   Kata kunci: bahan ajar, literasi sains, pendekatan saintifik, hakikat sains, berpikir kritis, model 4D. Hasil PISA 2012 menunjukkan bahwa literasi sains siswa di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan negara-negara lain. Hal tersebut merupakan permasalahan pendidikan yang harus diselesaikan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menekankan komponen utama literasi sains, yaitu hakikat sains dan berpikir kritis. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa hakikat sains dan berpikir kritis kurang ditekankan secara eksplisit dalam bahan ajar kimia. Oleh karena itu, diperlukan bahan ajar yang secara tegas mengeksplisitkan hakikat sains dan berpikir kritis. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan prototipe bahan ajar menggunakan pendekatan saintifik untuk mengeksplisitkan hakikat sains dan berpikir kritis pada materi larutan elektrolit-nonelektrolit dan reaksi redoks dan mengetahui kelayakannya. Penelitian pengembangan ini menggunakan model 4D yang sudah dimodifikasi dan disesuaikan dengan kebutuhan, yang meliputi tahap membatasi (define), merancang (design), mengembangkan (develop), dan menyebarkan (disseminate). Namun, model 4D yang digunakan dalam penelitian ini hanya terbatas sampai tahap mengembangkan. Validasi prototipe bahan ajar dilakukan oleh dua dosen dan dua guru kimia SMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku siswa secara keseluruhan, baik pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit maupun reaksi redoks sudah mencapai kriteria sangat layak, dengan persentase 89,7% untuk buku siswa materi larutan elektrolit dan nonelektrolit dan 90,5% untuk buku siswa materi reaksi redoks. Buku guru baik pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit maupun reaksi redoks juga mencapai kriteria sangat layak dengan persentase 91,8% untuk buku guru materi larutan elektrolit dan nonelektrolit dan 92,1% untuk buku guru materi reaksi redoks. Berdasarkan hasil validasi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa prototipe bahan ajar yang telah dikembangkan dengan menggunakan pendekatan saintifik untuk mengeksplisitkan hakikat sains (NOS) dan berpikir kritis pada materi larutan elektrolit-nonelektrolit dan reaksi redoks ini telah layak untuk dilakukan uji lapangan

    PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE TERHADAP MINATDAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X SMAN 7 MALANG PADA MATERI REAKSI REDOKS DAN TATA NAMA SENYAWA KIMIA

    No full text
    ABSTRAK   Nasir, Mukhamad. 2015. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Terhadap Minat dan Prestasi Belajar Siswa Kelas X SMAN 7 Malang pada Materi Reaksi Redoks dan Tata Nama Senyawa Kimia.Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dra. Srini M. Iskandar, M.Sc, Ph.D.(II) Drs. Muhadi.   Kata Kunci: model Think Pair Share, prestasi belajar, minat belajar, reaksi redoks dan tata nama senyawa kimia Pembelajaran kimia di SMAN 7 Malang umumnya masih menggunakan model konvensional yang mengakibatkan minat belajar siswa rendah, keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran kurang sehingga prestasi belajar mereka tidak memenuhi harapan, untuk meningkatkan kualitas belajar siswa diperlukan suatu inovasi dalam proses pembelajaran, guru harus bisa memilih dan menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan di kelas. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran kooperatiftipeThink Pair Share. Model Think Pair Share mendorong siswa untuk lebih aktif dan berperan dalam proses pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan bertujuan (1) mengetahui keterlaksanaan penerapan model pembelajaran kooperatiftipeThink Pair Share dan model pembelajaran ceramah dan tanya jawab pada materi reaksi redoks dan tata nama senyawa kimia, (2) mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipeThink Pair Share dan model pembelajaran ceramah dan tanya jawab terhadap minat dan prestasi belajar siswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimental semu dengan post-test only control group design. Populasi penelitian adalah seluruh kelas X SMAN 7 Malang. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Cluster Random Sampling.Sampel yang digunakan adalah 2 kelas yaitu kelas X-MIA 4 sebagai kelas kontrol dan kelas X-MIA 5 sebagai kelas eksperimen.Waktu pelaksanaan penelitian adalah 19 Januari 2015 sampai 23 Februari 2015. Instrumen yang digunakan yaitu instrumen perlakuan berupa silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran(RPP), handout, dan lembar kerja siswa(LKS) dan instrumen pengukuran berupa soal tes, soal kuis, lembar observasi, dan angket. Teknik analisis data penelitian dilakukan dengan cara analisis statistik dan deskriptif. Analisis statistik dilakukan dengan bantuan program SPSS 16 for Windows. Pengujian hipotesis menggunakan independent samples t-test pada tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa(1) keterlaksanaan model pembelajaran kooperatiftipeThink Pair Share dan model pembelajaran ceramah dan tanya jawab berlangsung sangat baik, (2) ada perbedaan prestasi belajar antara kelas yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipeThink Pair Share dan kelas yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran ceramah dan tanya jawab, (3)ada perbedaan minat belajar antara kelas yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipeThink Pair Share dan kelas yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran ceramah dan tanya jawab

    PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MENGGUNAKAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENGEKSPLISITKAN HAKIKAT SAINS (NOS) DAN BERPIKIR KRITIS PADA MATERI HIDROKARBON DAN MINYAK BUMI

    No full text
    ABSTRAK   Febrylian, Valientine Indah. 2015. Pengembangan Bahan Ajar Menggunakan Pendekatan Saintifik untuk Mengeksplisitkan Hakikat Sains (NOS) dan Berpikir Kritis pada Materi Hidrokarbon dan Minyak Bumi. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Prayitno, M.Pd. (II) Dra. Sri Rahayu, M.Ed., Ph.D.   Kata Kunci: bahan ajar, literasi sains, pendekatan saintifik, hakikat sains (NOS), berpikir kritis, model 4D. Literasi sains merupakan tujuan utama pada pendidikan sains. Kebermaknaan pembelajaran sains dapat dicapai jika siswa memiliki kemampuan literasi sains yang baik. Hasil penelitian PISA (Programme for International Student Assessment) menunjukkan bahwa literasi sains siswa Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan negara lain. Hal tersebut merupakan permasalahan pendidikan yang harus diselesaikan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan memberi penekanan pada komponen utama literasi sains dalam pembelajaran, yakni hakikat sains (NOS) dan berpikir kritis. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa hakikat sains (NOS) dan berpikir kritis belumditekankan secara eksplisit dalam bahan ajar, termasuk bahan ajar kimia. Oleh karena itu, perlu dikembangkan bahan ajar menggunakan pendekatan saintifik untuk mengeksplisitkan hakikat sains (NOS) dan berpikir kritis. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan prototipe bahan ajar menggunakan pendekatan saintifik untuk mengeksplisitkan hakikat sains (NOS) dan berpikir kritis pada materi hidrokarbon dan minyak bumi dan mengetahui tingkat kelayakannya. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang dikembangkan dengan model 4D yang terdiri dari 4 tahap, yaitu define (pembatasan), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Namun dalam pengembangan bahan ajar ini terbatas dilakukan sampai tahap develop tanpa melakukan tahap disseminate. Pada penelitian pengembangan ini diperoleh data kuantitatifberdasarkan skor angket tanggapan yang disusun berdasarkan skala Likert, serta data kualitatif berdasarkan tanggapan dan saran perbaikan yang diisi oleh 2 validator ahli, yaitu dosen dan 2 validator praktisi, yaitu guru kimia SMA/MA. Hasil penelitian pengembangan ini berupa prototipe bahan ajar yang berupa buku siswa dan buku guru. Buku siswa berisi materi hidrokarbon dan minyak bumi, sementara buku guru memuat profil bahan ajar, petunjuk penggunaan bahan ajar, silabus, RPP, dan instrumen penilaian. Hasil validasi menunjukkan bahwa buku siswa sangat layak untuk digunakan dengan memenuhi persentase sebesar 88,44%. Begitu pula dengan buku guru yang juga sangat layak untuk digunakan dengan memenuhi persentase sebesar 93,40%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bahan ajar menggunakanpendekatan saintifik untuk mengeksplisitkan hakikat sains (NOS) dan berpikir kritis pada materi hidorkarbon dan minyak bumi hasil pengembangan ini telah layak untuk dilakukan uji lapangan

    IDENTIFIKASI KESALAHAN KONSEP STOIKIOMETRI SISWA KELAS X MAN 2 KOTA BATU MENGGUNAKAN TWO-TIER MULTIPLE CHOICE DIAGNOSTIC INSTRUMENT

    No full text
    ABSTRAK   Anggarwati, Marisa Lidia. 2015. Identifikasi Kesalahan Konsep Stoikiometri Siswa Kelas XMAN 2 Kota BatuMenggunakan Two-Tier Multiple Choice Diagnostic Instrument. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Muntholib, S.Pd., M.Si, (2) Eli Hendrik Sanjaya, S.Si., M.Si.   Kata Kunci: kesalahan konsep, stoikiometri, two-tier Ilmu kimia memiliki konsep-konsep yang terkait satu dengan yang lain sehingga pemahaman terhadap suatu konsep akan berpengaruh terhadap konsep berikutnya. Konsep-konsep kimia dapat benar-benar dipahami apabila konsep dasar telah dipahami sebelumnya, salah satu konsep dasar kimia adalah stoikiometri. Kesalahan konsep stoikiometri dikhawatirkan dapat mempengaruhi pemahamanmateri-materi selanjutnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan identifikasi kesalahan konsep stoikiometri yang terjadi pada siswa. Salah satu tes diagnostik untuk mengetahui kesalahan konsep siswa adalahtwo-tier multiple choice diagnostic instrument. Instrumen ini terdiri dari dua bagian, bagian pertama terdiri dari pertanyaan dan pilihan jawaban sedangkanbagian kedua terdiri dari alternatif alasan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui tingkat pemahaman konsep yang terjadi pada siswa kelas X MAN 2 Kota Batu dalam memahami materi stoikiometri, dan (2) mengetahui kesalahan konsep yang terjadi pada siswa kelas X MAN 2 Kota Batu dalam memahami materi stoikiometri. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data dalam penelitian adalah siswa kelas X.1 dan X.2 MAN 2 Kota Batu. Data dikumpulkan dengan menggunakan menggunakan tes terbuka, wawancara, dan instrumen diagnostik two-tier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa terhadap: hukum-hukum dasar kimia tergolong tinggi (73,84%), persamaan reaksi kimia tergolong tinggi (78,70%), massa atom relatif dan massa molekul relatif tergolong tinggi (62,70%), konsep mol tergolong cukup (53,94%), massa molar tergolong rendah (34,36%),volume molar tergolong tinggi (78,70%),rumus empiris tergolong cukup (49,07%), rumus molekul tergolong cukup (53,70%), penentuan kadar zat tergolong tinggi(93,52%), dan pereaksi pembatas tergolong tinggi (95,06%). Sedangkan kesalahan konsep yang terjadi adalah sebagai berikut: massa zat hasil reaksi lebih kecil dari massa sebelum direaksikan karena terbentuk gas di akhir reaksi ataupun terbentuknya abu yang massanya lebih rendah, massa zat hasil reaksi lebih besar dari massa sebelum direaksikan karena terbentuknya zat baru, perbandingan massa unsur-unsur dalam senyawa tidak selalu tetap, volumegas total sebelum dan sesudah reaksi sama, jumlah partikel tidak tergantung pada jumlah mol, senyawa ionik tersusun atas molekul atau atom, jumlah ion total dalam 1 mol senyawa ionik sama dengan bilangan Avogadro, massa molar tidak memiliki satuan,mol tidak berpengaruh dalam perhitungan volume, rumus empiris menyatakan jenis-jenis atom penyusun senyawa, rumus molekul merupakan perbandingan nomor atom tiap unsur-unsur penyusunnya, dan rumus molekul merupakan perbandingan massa atom relatif tiap unsur-unsur penyusunnya

    Pengembangan Bahan Ajar Menggunakan Pendekatan Saintifik untuk Mengeksplisitkan Hakikat Sains (NOS) dan Berpikir Kritis pada Materi Ikatan Kimia dan Gaya Antarmolekul

    No full text
    ABSTRAK   Ardhana, Ivan Ashif. 2015. Pengembangan Bahan Ajar Menggunakan Pendekatan Saintifik untuk Mengeksplisitkan Hakikat Sains (NOS) dan Berpikir Kritis pada Materi Ikatan Kimia dan Gaya Antarmolekul. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dra. Sri Rahayu, M.Ed., Ph.D. (II) Drs. Prayitno, M.Pd.   Kata Kunci: bahan ajar, literasi sains, hakikat sains, berpikir kritis, pendekatan saintifik Pembelajaran sains kimia dewasa ini menunjukkan adanya perubahan dari triplet makroskopis, mikroskopis, dan simbolis menjadi bentuk tetrahedron. Perubahan tersebut menempatkan aspek kemanusiaan pada puncak pembelajaran. Artinya, siswa diharapkan memiliki kemampuan memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan etika, moral, dan kemanusiaan melalui proses pembelajaran. Kemampuan tersebut merupakan literasi sains yang telah dimunculkan secara tersirat pada kurikulum 2013. Literasi sains memiliki aspek hakikat sains dan berpikir kritis yang dapat dieksplisitkan melalui pembelajaran dengan pendekatan saintifik dan inkuiri ilmiah. Sayangnya, kemampuan literasi sains siswa Indonesia masih jauh dari harapan. Survei PISA membuktikan hal tersebut dengan selalu menempatkan Indonesia pada posisi lima terbawah pada kurun waktu 2002 hingga 2012. Salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan literasi sains siswa adalah dengan mengembangkan bahan ajar menggunakan pendekatan saintifik sesuai kurikulum 2013. Bahan ajar ini memasukkan aspek hakikat sains dan berpikir kritis yang diajarkan secara eksplisit guna meningkatkan cara pandang siswa terhadap sains. Pengembangan bertujuan menghasilkan prototipe serta bahan ajar yang menggunakan pendekatan saintifik pada materi ikatan kimia dan gaya antarmolekul untuk siswa SMA/MA sederajat kelas X. Selain itu, akan diperoleh penilaian kuantitatif, komentar, dan saran terhadap bahan ajar hasil pengembangan melalui proses validasi. Model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan 4D yang terdiri dari empat tahap yaitu tahap membatasi, merancang, mengembangkan, dan menyebarkan. Namun, model 4D yang digunakan dalam penelitian ini hanya terbatas sampai tahap mengembangkan dan tidak sampai pada tahap menyebarkan karena keterbatasan waktu, tenaga, serta biaya. Bahan ajar hasil pengembangan divalidasi oleh empat validator yaitu dua dosen dari Jurusan Kimia dan dua guru kimia SMA. Hasil penelitian berupa penilaian kuantitatif  menghasilkan presentase rata-rata sebesar 92.75% untuk buku siswa dengan kriteria sangat layak, sedangkan untuk buku guru mendapatkan presentase sebesar 96.98% dengan kriteria sangat layak pula. Data kualitatif berupa komentar dan saran pada proses validasi digunakan sebagai pertimbangan pada revisi bahan ajar. Dari hasil validasi, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar menggunakan pendekatan saintifik untuk mengeksplisitkan hakikat sains dan berpikir kritis pada materi ikatan kimia dan gaya antarmolekul sangat layak untuk digunakan dalam uji lapangan

    Perbedaan Hasil Belajar Kognitif Materi Hidrolisis Garam Antara Siswa Yang Dibelajarkan Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT Dan Ekspositori Pada Siswa Kelas XI MIA SMA Negeri 7 Malang

    No full text
    ABSTRAK   Widiantika, Riki. 2015. Perbedaan Hasil Belajar Kognitif Materi Hidrolisis Garam Antara Siswa Yang Dibelajarkan Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT Dan Ekspositori Pada Siswa Kelas XI MIA SMA Negeri 7 Malang Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Dermawan Afandy M.Pd., (II) Oktavia Sulistina S.Pd., M.Pd.   Kata Kunci : Hasil belajar kognitif, TGT, ekspositori, dan Hidrolisis Garam. Pembelajaran kimia dengan menggunakan pembelajaran ceramah memberikan hasil belajar yang kurang maksimal. Hal ini disebabkan karena siswa menjadi kurang aktif dalam memecahkan masalah, dan partisipasi rendah dalam pembelajara. Dengan demikian diperlukan model pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan siswa sehingga pemahaman dan hasil belajar siswa lebih baik. Salah satu model yang dianggap cocok digunakan adalah pembelajaran kooperatif yaitu TGT. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perbedaan hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT berbeda dengan yang dibelajarkan dengan model pembelajaran ekspositori. Rancangan penelitian ini adalah eksperimen semu dengan menggunakan 2 kelas. Kelas eksperimen dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan kelas kontrol dibelajarkan dengan model pembelajaran ekspositori. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster sampling dari 5 kelas yang ada. Penelitian ini melibatkan tiga macam variabel yaitu variabel terikat, kontrol dan bebas. Variabel terikat adalah hasil belajar kognitif siswa, variabel kontrol adalah materi Hidrolisis Garam, waktu pembelajaran dan buku pegangan, dan variabel bebas adalah model pembelajaran. Instrumen yang digunakan berupa soal pilihan ganda sebanyak 25 soal yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data yang dilakukan adalah analisis statistika meliputi uji normalitas, uji homogenitas dan uji t dengan bantuan SPSS 20,0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan  yang dibelajarkan dengan model pembelajaran ekspositori

    Pengaruh Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD terhadap Hasil Belajar Kognitif Siswa Kelas XI IPA MA Al Ma’Arif Singosari pada Materi Pokok Hidrolisis Garam

    No full text
    ABSTRAK   Yulitasari, Anggi. 2015. Pengaruh Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD terhadap Hasil Belajar Kognitif Siswa Kelas XI IPA MA Al Ma’Arif Singosari pada Materi Pokok Hidrolisis Garam. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Munzil, S.Pd, M.Si., (II) Drs. Ida Bagus S., M.Pd.   Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif  Tipe Stad, Ekspositori,  Hasil Belajar Kognitif Siswa, Hidrolisis Garam. Hasil belajar kognitif merupakan salah satu alat ukur keberhasilan pembelajaran. Namun ternyata hasil belajar siswa kognitif di MA Al Ma’arif Singosari  masih relatif rendah. MA Al Ma’arif Singosari menggunakan strategi ekspositori dalam proses pembelajaran. Strategi pembelajaran ini kurang memberikan kesempatan siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Sehingga dibutuhkan suatu strategi yang dapat membuat siswa aktif dalam proses pembalajaran dan mengkonstruk pengetahuannya. Strategi  pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan suatu strategi pembelajaran dimana siswa dapat saling berinteraksi, bertanya, dan mengungkapkan pendapat dengan siswa dalam satu kelompok. Melalui STAD setiap siswa diwajibkan untuk memahami keseluruhan materi pelajaran guna mencapai keberhasilan kelompok. Sehingga diharapkan hasil belajar kognitif siswa juga meningkat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari perbedaan pencapaian hasil belajar kognitif antara siswa yang dibelajarkan dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe STAD dan siswa yang dibelajarkan dengan strategi ekspositori  pada kelas XI IPA MA Al Ma’arif Singosari dalam mempelajari materi pokok Hidrolisis Garam. Rancangan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif eksperimen dengan pendekatan (Quasi- Experiment) dengan posttest only control group design. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI IPA MA Al Ma’Arif Singosari dan sampelnya adalah dua kelas yang diambil berdasarkan kemampuan awal yang hampir sama. Satu kelas sebagai kelas eksperimen dan satu kelas sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen dibelajarkan dengan strategi kooperatif tipe STAD dan kelas kontrol dibelajarkan dengan strategi ekspositori. Instrumen penelitian berupa instrumen perlakuan (silabus, RPP, dan LKS) dan instrumen pengukuran (tes kognitif). Instrumen pengukuran terdiri dari 25 soal dengan tipe soal C1-C5. Selanjutnya data diuji dengan aplikasi software SPSS 20.00 for Windows. Hasil uji Independent Sample T-Test menunjukkan nilai α sebesar 0.011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan dengan strategi kooperatif tipe STAD dan strategi ekspositori. Siswa yang dibelajarkan dengan strategi kooperatif tipe STAD mempunyai persentase ketuntasan belajar lebih tinggi yaitu 42% dibandingkan siswa yang dibelajarkan dengan strategi ekspositori sebesar 19 %. Hal ini disebabkan pada kelas yang dibelajarkan dengan strategi kooperatif  tipe STAD pembelajaran berpusat pada siswa (student centered). Siswa dapat saling bertukar pengetahuan dan mengkonstruksi pengetahuan melalui kegiatan diskusi kelompok. sehingga konsep yang didapat lebih lengkap dan rinci

    0

    full texts

    1,785

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇