SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
    1785 research outputs found

    PERBEDAAN HASIL BELAJAR DAN MOTIVASI BELAJAR MATERI REAKSI REDOKS PADA PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 5 FASE DAN LEARNING CYCLE 5 FASE-JIGSAW BAGI SISWA KELAS X SMAN 4 MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Asriya, Silma Nur.2015. Perbedaan Hasil Belajar dan Motivasi Belajar Materi Reaksi Redoks pada Penerapan Model Pembelajaran Learning Cycle 5 Fase dan Learning Cycle 5 Fase-Jigsaw bagi SiswaKelas X SMAN 4 Malang, Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Hj. Endang Budiasih, M.S. (2) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd.,M.Si.   Kata Kunci: Learning Cycle 5Fase, Jigsaw, hasilbelajar, motivasibelajar, reaksiredoks. Strategi yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran sebaiknya dapat membuat siswa senang, interaktif dan kondusif. Salah satu model pembelajaran yang sesuaidan dapat mengkonstruks pengetahuan siswa adalah model pembelajaran Learning Cycle 5 fase (LC 5E). Model pembelajaran LC 5E terdiri dari tahap-tahap pembelajaran yaitu engagement, exploration, explanation, elaboration dan evaluation. Fase exploration, explanation dan elaboration, sering diisi dengan kegiatan diskusi kelompok dengan tujuan untuk memudahkan siswa dalam mengkonstruk pemahamannya. Selamaini diskusi kelompok yang dilakukan pada pembelajaran LC 5E kurang berpola, sedangkan saat ini telah banyak berkembang model pembelajaran kooperatif yang berpola. Salah satu model pembelajaran kooperatif yang menekankan pertanggung jawaban individu yang tinggi adalah model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: keterlaksanaan pembelajaran, perbedaan hasil belajar dan motivasi belajar siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran LC 5E dan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran LC 5E-Jigsaw. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental semu dengan desain posttest only control group design. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMAN 4 Malang. Sampel penelitian ditentukan dengan teknik cluster random sampling. Instrumen penelitian meliputi instrumen pembelajaran (silabus, RPP, handout dan LKPD) dan instrumen pengukuran (soal tes, angket dan lembar observasi). Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif dan uji-t padasignifikansi α = 0,05. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pembelajaran model LC5E danLC 5E-Jigsaw telahterlaksana dengan sangat baik dengan rata-rata persentase keterlaksanaan masing-masing 91,30% dan 93,75%. (2) Ada perbedaanhasil belajar antara siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran LC 5E-Jigsaw (rerata 2,84) dengan siswa yang dibelajarkanmenggunakan model pembelajaranLC 5E(rerata 2,54). (3) Siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran LC 5E-Jigsaw memiliki motivasi belajar lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran LC 5E. Persentase siswa yang sangat termotivasi pada siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran LC 5E-Jigsaw adalah 42 %, sedangkan pada siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran LC 5E adalah 25 %

    Ekstraksi Kairomon dari Padi Terinfeksi Wereng dengan Variasi Metode Ekstraksi dan Uji Aktivitasnya sebagai Atraktan Parasitoid

    No full text
    EKSTRAKSI KAIROMON DARI PADITERINFEKSI WERENG DENGAN VARIASI METODE EKSTRAKSI DAN UJI AKTIVITASNYA SEBAGAI ATRAKTAN PARASITOID   Rizan Abi Sofyan, Surjani Wonorahardjo, dan Endang Budiasih Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang Email: [email protected] ABSTRAK : Pemisahan kairomon dari tanaman padi terinfeksi wereng (terinfeksi) sebelumnya menggunakan metode maserasi yang memiliki kelemahan.Proses ekstraksi sokhletasi dan ultrasonikasi diharapkan dapat mengatasi kelemahan metode maserasi. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh masing-masing metode dalam mengatasi masalah tersebut. Tujuan penelitian adalah (1) mengidentifikasi kairomon yang dapat terekstrak dengan variasi metode ekstraksi dan (2) mengetahui efektivitas kairomon dari masing-masing metode ekstraksi sebagai atraktan parasitoid. Penelitian merupakan penelitian eksperimental laboratoris yang terdiri atas beberapa tahap, yaitu (1) preparasi sampel padi, (2) mengekstrak sampel padi dengan variasi metode ekstraksi, (3) pemekatan ekstrak yang didapat, (4) menganalisis senyawa dalam ekstrak dengan GC-MS, (5) menguji aktivitas ekstrak masing-masing metode ekstraksi dengan metode olfaktometri yaitu uji bio-assay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) metode ekstraksi yang berbeda memberikan komponen senyawa yang berbeda.Beberapa senyawa yang sama dapat terekstrak dengan masing-masing metode ekstraksi. Namun, beberapa diantara senyawa tersebut juga terdapat dalam ekstrak padi tidak terinfeksi dengan masing-masing metode. Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan kairomon yang dimaksud masih belum ada dalam ekstrak padi terinfeksi.(2) hasil uji bioassay terhadap ekstrak padi terinfeksi dari masing-masing metode ekstraksi didapatkan ekstrak padi terinfeksi dengan meetode sokhletasi rata-rata dapat menarik parasitoid lebih banyak dari ekstrak padi terinfeksi dengan metode maserasi dan ultrasonikasi. Hasil uji F menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata dari ketiga metode tersebut. Kata kunci: ekstraksi, kairomon, padi, wereng batang coklat, Anagrus Sp

    Pengembangan Modul Asam dan Basa Berbasis Inkuiri Terbimbing untuk Siswa SMA/MA Kelas XI

    No full text
    ABSTRAK   Sangadah, Eni U. 2015. Pengembangan Modul Asam dan Basa Berbasis Inkuiri Terbimbing untuk Siswa SMA/MA Kelas XI. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Dermawan Afandy, M.Pd, (2) Dr. Yudhi Utomo, M.Si. Kata kunci: modul, asam dan basa, inkuiri terbimbing. Pembelajaran kimia tidak hanya berorientasi pada pemahaman konsep tetapi juga berorientasi pada proses siswa dalam memperoleh pemahaman tersebut, membangun pengetahuan, dan mengembangkan sikap ilmiah. Hal ini sesuai dengan tuntutan pembelajaran pada Kurikulum 2013 yang melibatkan kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan data, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Untuk memaksimalkan proses pembelajaran kimia maka dibutuhkan bahan ajar atau modul kimia. Bahan ajar yang digunakan di beberapa sekolah masih bersifat informatif dan belum mengkonstruksi konsep. Begitu juga modul khususnya modul asam basa yang telah ada belum memaksimalkan kegiatan belajar mandiri siswa dan mengkonstruksi konsep sehingga belum mengajarkan kepada siswa untuk memecahkan masalah.  Kegiatan belajar yang berorientasi pada proses siswa dalam memperoleh pemahaman, membangun pengetahuan, dan mengembangkan sikap ilmiah terdapat pada kegiatan pembelajaran yang berbasis inkuiri terbimbing sehingga perlu adanya modul asam basa berbasis inkuiri terbimbing untuk siswa SMA/MA kelas XI. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan modul asam basa berbasis inkuiri terbimbing untuk siswa SMA/MA kelas XI dan mengetahui kelayakannya. Pengembangan modul pada penelitian ini mengadopsi langkah-langkah pengembangan Model 4D (Four- D Model) dari Thiagarajan, dkk (1974), meliputi (1) menetapkan batasan (define), (2) merancang (design), (3) mengembangkan (develop), dan (4) mendiseminasikan (disseminate). Namun pada penelitian pengembangan ini hanya dilakukan sampai tahap ketiga. Kelayakan modul dinilai berdasarkan hasil validasi yang meliputi kelayakan isi, bahasa, dan tata letak dan berdasarkan uji keterbacaannya. Validasi dilakukan oleh satu dosen kimia dan tiga guru kimia. Uji keterbacaan dilakukan kepada 10 siswa kelas XI program IPA SMAN 5 Malang. Instrumen pengumpulan data validasi dan uji keterbacaan berupa angket penilaian yang disertai lembar komentar dan saran. Produk hasil pengembangan berupa modul asam basa berbasis inkuiri terbimbing untuk siswa SMA/MA kelas XI. Berdasarkan hasil validasi terhadap modul tersebut diperoleh persentase rata – rata kelayakan isi sebesar 92,90%, bahasa sebesar 91,67%, dan tata letak sebesar 91,67% dan uji keterbacaan sebesar 91%. Dengan demikian, modul asam basa berbasis inkuiri terbimbing untuk siswa SMA/MA kelas XI ini memiliki kriteria sangat layak untuk digunakan sebagai sumber belajar baik dalam pembelajaran di kelas maupun secara mandiri dengan bantuan atau tanpa bantuan guru. Namun, modul hasil pengembangan ini masih perlu diuji empiris untuk mengetahui efektifitasnya

    Pengembangan Multimedia Pembelajaran Kimia Bahasan Bentuk Molekul untuk Siswa SMA IPA

    No full text
    ABSTRAK   Rohmawati, Erly. 2015. Pengembangan Multimedia Pembelajaran Kimia Bahasan Bentuk Molekul untuk Siswa SMA IPA. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Munzil, S.Pd, M.Si. (II) Dr. Yahmin, S.Pd, M.Si Kata kunci: Multimedia Pembelajaran, Bentuk Molekul. Bentuk molekul merupakan salah satu konsep yang penting dalam kimia, namun masih banyak peserta didik yang mengalami kesulitan dalam memahaminya.Penelitian lain yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan hasil bahwa peserta didik di beberapa sekolah menengah atas di Malang memiliki kemampuan yang rendah dalam memprediksi bentuk molekul. Hal itu disebabkan karena peserta didik kesulitan dalammenggambarkan bentuk molekul, sedangkan bahan ajar yang ada selama ini hanya menampilkan bentuk molekul secara dua dimensi. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan adanya media pembelajaran yang membantu peserta didik memvisualisasikan bentuk molekul. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan multimedia pembelajaran yang layak dan diharapkan dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memahami serta memprediksi bentuk molekul. Metode penelitian dan pengembangan yang digunakan yaitu model 4-D (Thiagarajan, 1974) yang teridiri atas define (pendefinisian), design (perancangan desain), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Pada penelitian pengembangan ini tahap disseminate tidak dilakukan. Validasi yang dilakukan dari segi media dan segi materi bertujuan untuk mengetahui kelayakan mutimedia pembelajaran yang telah dihasilkan. Pelaksanaan validasi dilakukan dua kali yakni validasi media dan materi oleh dosen kimia kemudian dilanjutkan dengan validasi materi oleh guru SMA N 1 Malang. Uji coba terbatas dilakukan terhadap sepuluh orang peserta didik SMA N 1 Malang. Data penelitian diperoleh dari angket validator dan angket uji coba terbatas yang menggunakan skala likert 1-5. Multimedia pembelajaran yang dikembangkan disajikan dalam bentuk softfile yang dikemas dalam Compact Dics (CD). Karakteristik dari multimedia yaitu (a) mencakup representasi makroskopik, sub mikroskopik, dan simbolik, (b) representasi makroskopik ditampilkan melalui video, (c) representasi sub mikroskopik ditampilkan melalui animasi, (d) representasi simbolik ditampilkan melalui teks, (e) alur belajar multimedia dirancang agar peserta didik mampu mengkonstruk konsep bentuk molekul. Hasil validasi yang diperoleh dari segi media sebesar 81,1%, validasi segi materi sebesar 83,42%, dan hasil uji coba terbatas sebesar 89,2%. Hasil penelitian menujukkan bahwa multimedia pembelajaran ini layak digunakan dalam kegiatan pembelajaran

    PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SIKAP DAN KETERAMPILANPSIKOMOTORIK PADA MATERI ASAM BASA,TITRASI ASAM BASA,HIDROLISIS GARAM, DAN LARUTAN PENYANGGA

    No full text
    ABSTRAK Nadhiroh, Afidatun. 2015. Pengembangan Instrumen Penilaian Sikap dan Keterampilan Psikomotorik pada Materi Asam Basa, Titrasi Asam Basa, Hidrolisis Garam, dan Larutan Penyangga. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Oktavia Sulistina, S.Pd., M.Pd, (II) Drs. Darsono Sigit, M.Pd. Kata kunci: Instrumen penilaian, sikap dan keterampilan psikomotorik, asam basa dan titrasi, hidrolisis garam, larutan penyangga. Materi asam basa, titrasi asam basa, hidrolisis garam, dan larutan penyangga termasuk materi yang dikaji pada Kelas XI.Pembelajaran materi ini menekankan pada penemuan konsep melalui kegiatan laboratorium.Pembelajaran melalui kegiatan laboratorium membutuhkan penilaian keterampilan psikomotorik dan sikap selain pengetahuan yangsesuai tuntutan Kurikulum 2013. Penilaian dalam Kurikulum 2013 harus mengarah pada penilaian autentik yang menekankan pengukuran kompetensi siswa untuk ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan berdasarkan proses dan hasil pembelajaran.Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa guru kimia SMA diperoleh fakta bahwa (1) penilaian autentik belum terlaksana dengan baik karena guru hanya menenkankan penilaian kognitif; (2) guru kesulitan dalam melakukan penilaian autentik; dan (3)instrumen penilaian autentik untuk Kelas XI masih sangat terbatas. Oleh karena itu, dilakukan penelitian dan pengembangan instrumen penilaian sikap dan keterampilan psikomotorik pada materi asam basa, titrasi asam basa, hidrolisis garam, dan larutan penyangga untuk membantu guru dalam melakukan penilaian autentik. Tujuan utama penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan produk berupa instrumen penilaian sikap dan keterampilan psikomotorik pada materiasam basa, titrasi asam basa, hidrolisis garam, dan larutan penyangga.Penelitian dan pengembangan instrumen penilaian ini menggunakanlangkah-langkah: (1) studi kepustakaan; (2) survei lapangan; (3) penyusunan instrumen; (4) uji coba terbatas; (5) revisi hasil uji coba; (6) uji coba lebih luas; (7) penyempurnaan produk akhir; dan (8) desiminasi dan implementasi.Pengembangan instrumen penilaian ini hanya sampai pada langkah kelima. Produk hasil pengembangan diujicoba melalui validasi isi, uji coba terbatas instrumen penilaian sikap, dan uji keterbacaan instrumen penilaian keterampilan. Validasi isi dilakukan oleh 1 dosen Kimia dan2 guru KimiaSMA. Uji coba terbatas instrumen penilaian sikap dilakukan terhadap 35 siswa SMA. Uji keterbacaan instrumen penilaian keterampilan dilakukan terhadap 10 siswa SMA. Instrumen pengumpulan data menggunakan angket.Jenis data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa skor penilaian dari angket dan data kualitatif berupa komentar dan saran. Teknik analisis data yang digunakan adalah perhitungan persentase, analisis statistik formula koefisien korelasiproduct-moment Pearson, analisis Alpha Cronbach,dan deskriptif. Produk hasil penelitian dan pengembanganberupa instrumen penilaiansikap dan keterampilan pada materi asam basa, titrasi asam basa, hidrolisis garam, dan larutan penyangga dalam bentuk cetak. Hasil validasiisi oleh ahli menunjukkan bahwa instrumen penilaian sikap memiliki persentase rata-rata             97,3 % dengan kriteria kelayakan “sangat layak”dan instrumen penilaian keterampilan psikomotorik memiliki persentase rata-rata 91,5 % dengan kriteria kelayakan “sangat layak”. Hasil uji coba terbatas menunjukkan bahwa instrumen penilaian sikap memiliki rhitung antara 0,372-0,866 dengan kriteria “valid” dan nilai Alpha Cronbach antara 0,607-0,927dengan kriteria “reliabel”. Hasil uji keterbacaanmenunjukkan bahwa instrumen penilaian keterampilanpsikomotorik memiliki persentaserata-rata 83,8 % dengan kriteria sangat sesuai/sangat tepat digunakan dan sangat mudah dipahami bahasanya

    Hasil Belajar Kognitif dan Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas XI MIA SMA Negeri 7 Malang pada Pembelajaran Larutan Penyangga dengan Inkuiri Terbimbing dan Ekspositori

    No full text
    ABSTRAK Susanti, Meri Tria. 2015. Hasil Belajar Kognitif dan Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas XI MIA SMA Negeri 7 Malang pada Pembelajaran Larutan Penyangga dengan Inkuiri Terbimbing dan Ekspositori. Skripsi, Program StudiS1 Pendidikan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Sutrisno, M.Si.,(II) Drs. Ida Bagus Suryadharma, M.S. Kata Kunci : inkuiriterbimbing, hasilbelajarkognitif, keterampilan proses sains Ilmu kimia merupakan ilmu yang dibangun berdasarkan fakta-fakta, gejala-gejala dan fenomena baik yang terjadi di alam maupun yang sengaja dilakukan di laboratorium. Pembelajaran kimia hendaknya mengarah pada proses pembentukan konsep atau teori kimia, bukan hanya ilmu kimia sebagai sebuah produk pengetahuan. Keterampilan proses sains perlu terus ditumbuhkembangkan dalam diri siswa sehingga hasil belajar siswa tidak hanya dalam bentuk pengetahuan tetapi juga kemampuan dalam merancang dan melakukan penemuan ilmiah. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui keterlaksanaan pembelajaran secara inkuiri terbimbing, (2) membandingkan hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan menggunakan pembelajaran inkuiri terbimbing dan siswa yang dibelajarkan menggunakan pembelajaran ekspositori, dan (3) mengetahui keterampilan proses sains siswa yang dibelajarkan menggunakan pembelajaran inkuiri terbimbing.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dan eksperimental semu. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 7 Malang dengan subjek penelitian terdiri dari dua kelas yaitu kelas XI MIA 4 sebagai kelas eksperimen dan XI MIA 5 sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi instrumen perlakuan dan instrument pengukuran. Instrumen perlakuan yang digunakan meliputi RPP, silabus, LKS dan handout. Instrumen pengukuran yang digunakan meliputi lembar observasi dan soal tes. Lembar observasi digunakan untuk mengukur keterlaksanaan pembelajaran inkuiri terbimbing dan keterampilan proses sains. Soal tes digunakan untuk mengukur hasil belajar kognitif, berupa soal pilihan ganda sebanyak 21 soal yang valid dengan reliabilitasr = 0,750. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis deskriptif dan analisis statistik. Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis data keterlaksanaan pembelajaran inkuiri terbimbing dan keterampilan proses sains. Analisis statistic digunakan untuk menganalisis data hasil belajar kognitif (uji normalitas, uji homogenitas, dan uji-t satu pihak pada taraf signifikansi α= 0,05) dengan bantuan SPSS 20,0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pelaksanaan pembelajaran larutan penyangga dengan inkuiri terbimbing berlangsung dengan baik (rata-rata capaian keterlaksanaan sebesar 89,3%), (2) pembelajaran larutan penyangga dengan inkuiri terbimbing (rerata sebesar 86,3) mempunyai hasil belajar kognitif yang lebih tinggi dibanding pembelajaran ekspositori (rerata sebesar 69,3), (3) keterampilan proses sains siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran inkuiri terbimbing secara keseluruhan memiliki persentase pencapaian dengan kategori sangat baik (sebesar 90,6%)

    Pengembangan Bahan Ajar Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan Berdasarkan Pendekatan POGIL untuk Siswa SMA/MA Kelas XI Program IPA.

    No full text
    ABSTRAK   Nadhifa, Sheila Aulia. 2015. Pengembangan Bahan Ajar Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan Berdasarkan Pendekatan POGIL untuk Siswa SMA/MA Kelas XI Program IPA. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Prof. Drs. H. Effendy, M.Pd., Ph.D., (2) Drs. Muhadi.   Kata kunci : pengembangan, bahan ajar, Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan, POGIL   Salah satu topik Kimia yang dipelajari oleh siswa SMA dan MA program IPA adalah Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. Topik ini mencakup representasi makroskopik, mikroskopik, dan simbolik serta konsep-konsep abstrak yang cenderung hanya dipahami dengan tepat oleh siswa yang telah mengembangkan kemampuan berpikir formal. Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa banyak siswa SMA belum mencapai tingkat kemampuan berpikir formal. Situasi seperti ini menyebabkan sebagian siswa kesulitan dalam memahami topik tersebut. Pembelajaran topik tersebut selama ini cenderung menggunakan pendekatan verifikasi. Pembelajaran dengan pendekatan verifikasi dianggap tidak melibatkan siswa secara aktif dalam mengkonstruk konsep. Penggunaan pendekatan yang melibatkan siswa dalam mengkonstruk konsep akan membantu mereka mengembangkan kemampuan berpikir formal siswa dan diharapkan memberikan hasil belajar yang lebih tinggi. POGIL merupakan pendekatan yang diharapkan dapat memenuhi kriteria tersebut. Pendekatan ini terdiri dari aktivitas pembelajaran yang melibatkan siswa untuk mengkonstruk konsep dengan bimbingan yang diberikan oleh guru. Pembelajaran pendekatan POGIL memerlukan bahan ajar yang spesifik. Sampai saat ini dianggap belum ada bahan ajar topik Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan berdasarkan sintaks POGIL. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan bahan ajar Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan berdasarkan pendekatan POGIL serta menguji kelayakan dan keefektifannya. Pengembangan bahan ajar topik Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan mengadopsi model Plomp. Model ini terdiri dari lima fase, yaitu fase investigasi awal, perancangan, realisasi/konstruksi, tes, evaluasi, dan revisi, serta implementasi. Fase implementasi tidak dilakukan karena produk pengembangan masih digunakan secara terbatas di lingkup SMAN 8 Malang. Bahan ajar yang dikembangkan terdiri dari “Buku Kerja Siswa” dan “Buku Panduan Guru”. Pengujian kelayakan isi, bahasa, dan penyajian Buku Kerja Siswa dilakukan oleh satu dosen Jurusan Kimia dan dua guru Kimia SMA dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan berdasarkan standar penilaian bahan ajar yang dirumuskan oleh BSNP (2006). Pengujian keefektifan bahan ajar didasarkan pada hasil belajar siswa dan persentase siswa mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Data dalam penelitian ini terdiri dari data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif meliputi saran dan komentar yang diberikan oleh validator. Data kuantitaif berupa skor hasil validasi dan hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa diperoleh dengan menggunakan tes pilihan ganda yang terdiri dari 25 item yang meliputi soal konseptual dan algoritmik. Tes ini memiliki validitas isi sebesar 100% dan koefisien reliabilitas dihitung dengan rumus Kuder-Richardson 20, sebesar 0,74. Hasil uji kelayakan menunjukkan bahwa Buku Kerja Siswa memiliki kelayakan isi sebesar 83,6%, kelayakan bahasa sebesar 84,0 %, dan kelayakan penyajian sebesar 86,2%. Skor rata-rata hasil belajar siswa sebelum menggunakan bahan ajar sebesar 53,8 dan setelah menggunakan bahan ajar  sebesar 78,8. Sebanyak 84,8 % siswa mencapai skor KKM. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dianggap bahwa Buku Kerja Siswa tersebut adalah layak dan efektif untuk digunakan dalam pembelajaran Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan

    PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN COLLABORATIVE GUIDED INQUIRY PADA SUBMATERI LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X DI SMA BRAWIJAYA SMART SCHOOL

    No full text
    ABSTRAK   Nadya, Vella. 2015. Pengaruh Model Pembelajaran Collaborative Guided Inquiry pada Submateri Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas X Di SMA Brawijaya Smart School. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dedek Sukarianingsih, Dra., M.Pd, M.Si (II) Siti Marfuah, Dra., M.S. Dr.   Kata Kunci: Collaborative, inkuiri terbimbing, larutan elektrolit, prestasi belajar   Ilmu kimia adalah cabang dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang mengkaji tentang struktur, sifat dan susunan materi. Adanya kajian mengenai struktur materi tersebut membuat kimia bersifat abstrak. Salah satu materi yang bersifat abstrak yaitu larutan elektrolit dan non elektrolit. Model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi tersebut yaitu model pembelajaran Collaborative Guided Inquiry. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Collaborative Guided Inquiry pada submateri Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit terhadap prestasi belajar siswa kelas X di SMA Brawijaya Smart School. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu (Quasi Experimental). Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas X MIA SMA Brawijaya Smart School. Salah satu kelas dijadikan sebagai kelas eksperimen 1 (dibelajarkan dengan model pembelajaran Collaborative Guided Inquiry) dan kelas yang lain dijadikan sebagai kelas eksperimen 2 (dibelajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing) yang diambil dengan teknik cluster random sampling. Data keterlaksanaan proses pembelajaran dianalisis secara deskriptif sedangkan data hasil belajar kognitif siswa dianalisis dengan statistik inferensial menggunakan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlaksanaan proses pembelajaran siswa  yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Collaborative Guided Inquiry sebesar 89,5% dan keterlaksanaan proses pembelajaran siswa  yang dibelajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing sebesar 86%. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran Collaborative Guided Inquiry pada submateri larutan Elektrolit dan Non Elektrolit terhadap prestasi belajar siswa kelas X di SMA Brawijaya Smart School. Rata-rata hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Collaborative Guided Inquiry lebih tinggi ( = 3,18) daripada siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing ( = 3,00)

    Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL) pada Materi Ikatan Kimia Kelas X SMA

    No full text
    ABSTRAK   Materi ikatan kimia mengandung konsep-konsep yang mendasari pembentukan suatu zat atau senyawa. Pada pembelajaran kimia di SMA, siswa mempelajari hubungan fakta, konsep, dan simbol dalam materi ikatan kimia. Bahan ajar merupakan salah satu komponen dalam pembelajaran. Bahan ajar materi ikatan kimia yang dibutuhkan adalah bahan ajar yang menyajikan hubungan fakta, konsep, dan simbol yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Hasil analisis terhadap 3 bahan ajar menunjukkan bahwa  materi ikatan kimia didominasi oleh uraian konsep dan simbol sehingga bahan ajar tersebut kurang menarik minat siswa. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan bahan ajar berbasis  Contextual Teaching and Learning (CTL) pada materi ikatan kimia dan mengetahui kelayakan dari bahan ajar yang dikembangkan. Penelitian pengembangan menggunakan model rancangan 4-D yang terdiri dari define (pendefinisian), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Pada penelitian pengembangan ini, tahap disseminate tidak dilakukan. Validasi isi dilakukan oleh satu dosen kimia dan dua guru kimia SMA. Uji keterbacaan dilakukan kepada 10 orang siswa SMA Negeri 9 Malang. Instrumen validasi dan uji keterbacaan menggunakan angket. Klasifikasi pada angket validasi dan angket uji keterbacaan menggunakan kriteria tertentu. Hasil pengembangan berupa bahan ajar ikatan kimia yang terdiri dari buku guru dan buku siswa. Karakteristik bahan ajar tersebut antara lain: (1) menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), (2) dilengkapi video penunjang bahan ajar yang dikemas dalam bentuk Compact Disk (CD), (3) penyajian materi menggunakan alur pembelajaran yang berurutan, (4) disajikan fakta-fakta yang banyak dijumpai dalam kehidupan nyata siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil validasi isi hasil pengembangan adalah 83,3% dengan kriteria sangat layak. Uji keterbacaan diperoleh persentase sebesar 82,3% dengan kriteria sangat layak

    Pengaruh Strategi Pembelajaran Guided Discovery terhadap Hasil Belajar dan Motivasi Belajar Peserta Didik SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang (UM) pada Pokok Bahasan Reaksi Oksidasi-Reduksi

    No full text
    ABSTRAK   Istiqomah. 2015. Pengaruh Strategi Pembelajaran Guided Discoveryterhadap Hasil Belajar dan Motivasi BelajarPeserta Didik SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang (UM)pada Pokok Bahasan Reaksi Oksidasi-Reduksi. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing(I) Prof.Dra Srini M Iskandar, M.Sc.,Ph.D (II) Drs. Muhammad Su’aidy, M.Pd   Kata Kunci: guided discovery, reaksi oksidasi reduksi, hasil belajar dan motivasi belajar Pelajaran kimia diperkenalkan secara umum sebagai mata pelajaran IPA terpadu di SMP dan dijadikan matapelajaran di SMA. Hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 15 September 2014 di SMA Laboratorium UM menunjukkan bahwa motivasi belajar peserta didik untuk belajar kimia kurnag termotivasi dalma belajar. Hasil observasi juga ditemukan bahwa pada saat mengikuti pelajaran kimia, peserta didik kurang fokus dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi tersebut, nampaknya perlu dilakukan upaya untuk memperbaiki proses pembelajaran kimia. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh guru adalah menerapkan strategi pembelajaran konstruktivis yaitu strategi Guided Discovery. Melalui strategi pembelajaran ini, peserta didik dilatih agar terampil memecahkan persoalan dengan mengumpulkan data, menganalisis data dan belajar menemukan sesuatu. Dengan demikian diharapkan peserta didik memilki ingatan yang lebih tahan lama tentang materi pelajaran yang dapat menyebabkan hasil belajar kognitif peserta didik dan motivasi belajar peserta didik menjadi lebih baik. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitianquasy experimental postest only design. Penelitian dilakukan di SMA Laboratorium UM mulai 19 Januari 2015 – 13 Februari 2015. Populasi penelitian adalah peserta didik kelas X peminatan IPA di SMA Laboratorium UM dan sampel yang digunakan adalah peserta didik kelas X IPA 2 dan X IPA 4.Penentuan sampel dilakukan berdasarkan hasil dari undian. Instumen penelian terdiri dari 2 yaitu instrumen perlakukan yang terdiri dari (1) silabus, (2) RPP, (3) LKPD, (4) modul SMA Laboratorium UM dan instrumen untuk mengukur hasil belajar kognitif serta instrumen untuk mengukur motivasi belajar. Hasil belajar kognitif peserta didik diukur menggunakan 25 butir soal objektif pada saat tes evaluasi dan 3 kali kuis berbentuk uraian. Hasil belajar kognitif, diperoleh dari rata-rata nilai tes evaluasi dan nilai 3 kali kuis.  Angket untuk mengukur motivasi belajar terdiri dai 30 pernyataan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tidak ada perbedaan hasil belajar antara peserta didik yang dibelajarkan menggunakan strategi  pembelajaran Guided Discoverydengan peserta didik yang dibelajarkan menggunakan strategi  Ekspositori; (2) Ada perbedaan hasil belajar antara peserta didik yang memiliki kemampuan awal tinggi yang dibelajarkan menggunakan strategi Guided Discoverydengan peserta didik yang memiliki kemampuan awal tinggi yang dibelajarkan menggunakan strategi ekspositori ; (3) Tidak ada perbedaan hasil belajar antara peserta didik yang memiliki kemampuan awal tinggi yang dibelajarkan menggunakan strategi Ekspositori dengan peserta didik yang memiliki kemampuan awal rendah yang dibelajarkan menggunakan strategi ekspositori; (4) Tidak ada perbedaan hasil belajar antara peserta didik yang memiliki kemampuan awal tinggi yang dibelajarkan menggunakan strategi Ekspositoridengan peserta didik yang memiliki kemampuan awal rendah yang dibelajarkan menggunakan strategiGuided Discovery(5) Ada perbedaan hasil belajar antara peserta didik yang memiliki kemampuan awal rendah yang dibelajarkan menggunakan strategi Ekspositori dengan peserta didik yang memiliki kemampuan awal tinggi yang dibelajarkan menggunakan strategi Guided Discovery; (6) Tidak ada perbedaan hasil belajar antara peserta didik yang memiliki kemampuan awal rendah yang dibelajarkan menggunakan strategi Ekspositori dengan peserta didik yang memiliki kemampuan awal rendah yang dibelajarkan menggunakan strategi Guided Discovery(7) Ada perbedaan hasil belajar antara peserta didik yang memiliki kemampuan awal tinggi yang dibelajarkan menggunakan strategi Guided Discoverydengan peserta didik yang memiliki kemampuan awal rendah yang dibelajarkan menggunakan strategi Guided Discovery(8) Rata-rata motivasi belajar kelas eksperimen 3,03 dan kelas kontrol 3,15 dengan kriteria sangat termotivasi. Pada kelas eksperimen ada 16 dari 30 peserta didik sangat termotivasi dan 10 dari 30 peserta didik kelas kontrol sangat termotivasi

    0

    full texts

    1,785

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇