SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
PerbedaanHasil Belajar Siswapada Materi Reaksi Oksidasi dan Reduksi yang Dibelajarkan dengan Model Learning Cycle 5E Kolaboratif dan Model Learning Cycle 5E
ABSTRAK Istikomah. 2015. PerbedaanHasil Belajar Siswapada Materi Reaksi Oksidasi dan Reduksi yang Dibelajarkan dengan Model Learning Cycle 5E Kolaboratif dan Model Learning Cycle 5E. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Darsono Sigit, M.Pd, (II)Drs. H. Ridwan Joharmawan, M.Si Kata kunci: Pembelajaran Kolaboratif, Model Learning Cycle 5E,Model Learning Cycle 5E Kolaboratif, Hasil Belajar. Pembelajaran yang diterapkan di kelas memiliki sejumlah kendala dimana siswa mempunyai bermacam karakteristik, perbedaan kemampuan awal, dan kecepataan belajar. Dengan berbagai perbedaan tersebut sulit untuk menyatukan semuanya. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pembelajaran dengan model Learning Cycle 5E maupun pembelajaran kolaboratif memberikan hasil belajar yang lebih baik. Namun pembelajaranLearning Cycle memiliki kelemahan dalam hal pembentukan kelompok yang kurang berpola. Hal tersebut dapat diatasi dengan pembelajaran kolaboratif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswapada materi Reaksi Oksidasi dan Reduksi yang dibelajarkan dengan model Learning Cycle 5E Kolaboratif dan model Learning Cycle 5E di kelas X MIA SMA BSS Malang. Penelitian ini dirancang menggunakan penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperiment) dengan mengambil subjek penelitian dua kelas sebagai kelas eksperimen dan sebagai kelas kontrol secara cluster random sampling. Dari empat kelas X MIA didapatkan dua kelas sebagai sample yaitu X MIA 1 sebagai kelas eksperimen dan X MIA 3 sebagai kelas kontrol.Instrumen yang digunakan dalam penelitian ada dua yaitu instrumen perlakukan dan pengukuran. Instrumen perlakuan berupa silabus, RPP, LKS, handout, Instrumenpengukuran berupa tes kemampuan kognitif dan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran. Teknik analisis yang digunakan adalah uji tdengan nilai α = 0,050yang dapat diselesaikan dengan bantuan SPSS 21.00 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan model Learning Cycle 5EKolaboratif dan modelLearning Cycle 5Eterhadap hasil belajar siswa pada materi Reaksi Oksidasi dan Reduksi. Dari hasil uji t didapat nilai signifikansi sebesar 0,033 (< 0,05) yang menunjukkan ada perbedaan hasil belajar siswapada materi Reaksi Oksidasi dan Reduksi yang dibelajarkan dengan model Learning Cycle 5E kolaboratif dan Learning Cycle5E. Dari hasil analisis nilai tes kemampuan kognitif diketahui kelas eksperimen mempunyai nilai hasil belajar rata-rata 77,92 sedangkan kelas kontrol 70,24.Keterlaksanaan pembelajaran dengan model Learning Cycle 5EKolaboratif dengan rata-rata persentase sebesar 96,9% dan 97,7% pada model Learning Cycle 5E menunjukkan bahwa pembelajaran telah dilaksanakan dengan baik sesuai dengan RPP
VALIDITAS METODE NIR TERHADAP METODE STANDAR DALAM ANALISIS WARNA NIRA SERTA PERBANDINGAN KADAR KROMIUM DALAM NIRA DAN GULA
ABSTRAK Puspita Sari, Billynda Fatwa . 2015.Validitas Metode NIR Terhadap Metode Standar dalam Analisis Warna Nira Serta Perbandingan Kadar Kromium dalam Nira dan Gula. Skripsi, JurusanKimia FMIPA UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Subandi, M. Si., (II) Agus Bachtiar, B.Sc., STP. Kata kunci: Warna Nira, Gula Kristal Putih, Kadar Kromium, Near Infrared Nira merupakan ekstraksi dari tanaman tebu, yang didalamnya banyak zat-zat yang terkandung, misalnya terdapat kandungan logam kromium (Cr3+). Nira tebu diolah menjadi gula kristal putih. Analisis nira dan gula dilakukan dengan menganalisa warna larutan (ICUMSA) dan analisa kandungan logam kromium (Cr3+). Warna larutan (ICUMSA) dianalisis melalui kadar brix dan absorbansi menggunakan refraktrometer dan spektrofotometer (metode standar), sedangkan metodeNear Infrared (NIR) juga mampu menganalisis karakter nira dan gula kristal putih. Metode Near Infrared (NIR) mampu menghasilkan spectrum dari sampel pada panjang gelombang 800-2500 nm.Keuntungan dari Near Infrared adalah tidak menggunakan tambahan bahan kimia dan prosesnya cepat. Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui tingkat kevalitan pengukuran warna ICUMSA nira dan kristal gula menggunakan metode NIR relatif terhadap metode standar, (2) untuk mengetahui kadar kromium (Cr3+) dalam nira dan gula kristal putih, (3) untuk mengetahui perbandingan kadar kromium dalam darah dan urine penderita diabetes relatif terhadap orang sehat, (4) untuk mengetahui dalam mengkonsumsi nira dapat meningkatkan kadar kromium dalam darah dan urine seseorang. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dan menggunakan sarana laboratorium Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI). Obyek penelitian ini adalah nira dan gula kristal putih yang berasal dari berbagai pabrik gula di Jawa, diperoleh dari laboratorium Bidang Kelompok Penelitian Pengolahan Hasil dan Bahan Olah (PHBO), P3GI Pasuruan tahun 2010-2011. Metode yang dilakukan adalah metode Near Infrared (NIR) dan metode standar. Analisis yang dilakukan adalah pengukuran % brix, absorbansi, dan penentuan kadar kromium. Hasil analisis metode NIR di kalibrasi dengan metode standar sehingga menghasilkan persamaan regresi yang menunjukkan tingkat kesalahannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Tingkat validitas NIR dalam mengukur gula kristal lebih tinggi (standar error 94,047) dibanding dalam mengukur nira (standar error 1627,447), (2) Kadar Cr3+ dalam nira yaitu 0,4758 ppm lebih besar dibanding kadar Cr3+ dalam gula kristal putih yaitu 0,0135 ppm, (3) Kadar Cr3+ dalam darah dan urine orang sehat nampaknya lebih tinggi (0,000030 ppm dan 0,000019 ppm), dibanding penderita diabetes (0,000017 ppm dan 0,000014 ppm), (4) Konsumsi nira selama satu bulan (200 mL setiap pagi dan sore), tampaknya dapat meningkatkan kadar kromium baik dalam darah (orang sehat 6,67%, pasien diabetes 15,78%) maupun dalam urine (orang sehat 17,64%, pasien diabetes 28,57%)
Pengaruh Konsentrasi Natrium Silikat terhadap Karakter Magnetit Bersalut Silika Hasil Sintesis secara Sol-Gel
ABSTRAK Manggarani, Rizki Daniar. 2015. Pengaruh Konsentrasi Natrium Silikat terhadap Karakter Magnetit Bersalut Silika Hasil Sintesis secara Sol-Gel. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Fauziatul Fajaroh, M.S., (II) Dr. Nazriati, M.Si. Kata-kata Kunci: nanopartikel magnetit, natrium silikat, sol-gel Nanopartikel magnetit memiliki banyak manfaat antara lain sebagai penyerap anion atau pun ion logam dari air limbah. Daya serap nanopartikel magnetit diduga akan meningkat, jika permukaan magnetit dilapisi dengan silika. Tujuan penelitian ini adalah mensintesis nanopartikel magnetit berlapis (bersalut) silika secara sol-gel dan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi natrium silikat sebagai sumber silika terhadap karakteristik magnetit bersalut silika yang dihasilkan. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap utama. Pertama, mendapatkan elektrode besi terlapisi besi murni dengan cara elektroplating besi. Kedua, proses sintesis nanopartikel magnetit melalui metode elektrolisis dengan elektrode besi terlapisi besi murni hasil elektroplating sebagai anode dan elektrode besi yang lain sebagai katode dengan elektrolit air demineralisasi. Tahap terakhir sintesis magnetit bersalut silika dengan metode sol-gel dengan larutan natrium silikat sebagai sumber silika. Hasil sintesis kemudian dikarakterisasi dengan XRD, FT-IR, SEM, dan BET. Analisis XRD menunjukkan lapisan silika pada permukaan magnetit menurunkan intensitas puncak-puncak magnetit. Hasil analisis FT-IR menunjukkan magnetit telah terlapisi silika dengan munculnya serapan dari ikatan-ikatan Si-O-Si dan Si-O-Fe. Rerata ukuran partikel dari analisis SEM adalah 81,5 nm dengan standar deviasi 4,0 nm untuk magnetit dan 105,3 nm dengan standar deviasi 3,8 nm untuk magnetit bersalut silika. Kedua jenis partikel menunjukkan morfologi sferik. Hasil analisis BET menunjukkan luas permukaan spesifik magnetit sebesar 27,894 m2/g, sedangkan magnetit bersalut silika berkisar antara 138,170 sampai 339,941 m2/g bergantung konsentrasi natrium silikat. Semakin tinggi konsentrasi natrium silikat, luas permukaan partikel magnetit bersalut silika yang dihasilkan semakin kecil
ANALISIS TINGKAT KEPUASAN SISWA JURUSAN GAMBAR BANGUNAN TERHADAP KONDISI SARANA, PRASARANA DAN PEMBELAJARAN DI SMK NEGERI 1 SINGOSARI MALANG
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan siswa jurusan Teknik Gambar Bangunan terhadap kondisi sarana, prasarana, dan pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMK Negeri 1 Singosari Malang jurusan Teknik Gambar Bangunan sebanyak 180 siswa, guna mendapatkan hasil yang representatif penelitian ini menggunakan tabel yang dikembangkan oleh Isaac dan Michael sebagai acuan dengan tingkat kesalahan 5% yaitu dengan jumlah sampel 119 siswa. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Probability sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan menggunakan skala likert. Teknik Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Hasil analisis data menyatakan (1) Kepuasan siswa terhadap kondisi sarana mendapat kategori puas dengan prosentase kepuasan sebesar 66,35%, (2) Kepuasan siswa terhadap kondisi prasarana mendapat kategori puas dengan jumlah prosentase 65,99%, (3) Kepuasan siswa terhadap pembelajaran mendapat kategori puas dengan jumlah prosentase paling tinggi yaitu sebesar 71,64%. Dari hasil penelitian dapat disarankan penelitian lanjutan dapat memperluas aspek-aspek penelitian dan juga perbanyak populasi pada program keahlian lainnya. Bagi Kepala Sekolah bisa ikut memonitoring langsung dilapangan agar perawatan atau pemeliharaan fasilitas sekolah bisa berjalan dengan baik guna mencapai kepuasan siswa yang maksimal. Bagi para guru meningkatkan pelayanan pembelajaran kepada siswa agar mencapai kepuasan yang maksimal. Bagi para siswa sebaiknya ikut menjaga dan merawat baik sarana maupun prasarana yang ada dan tidak bergantung kepada petugas kebersihan
Hubungan antara Kemampuan Metakognisi dengan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Turen pada Materi Hidrolisis Garam
ABSTRAK Maulidya, Siva. 2015. Hubungan antara Kemampuan Metakognisi dengan HasilBelajar Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Turen pada Materi HidrolisisGaram. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan IlmuPengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H.Suhadi Ibnu, M.A., Ph.D. (II) Laurent Octaviana, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: metakognisi, hasil belajar, hidrolisis garam Metakognisi adalah kemampuan berpikir dimana yang menjadi objekberpikirnya adalah proses berpikir yang terjadi pada diri sendiri. Metakognisiterdiri dari dua komponen utama yaitu pengetahuan metakognisi dan regulasi atauketerampilan metakognisi. Pengetahuan metakognisi mengacu pada pengetahuantentang kognisi seperti pengetahuan tentang keterampilan dan strategi kerja yangbaik untuk pembelajaran dan bagaimana serta kapan menggunakan keterampilandan strategi tersebut. Regulasi atau keterampilan metakognisi mengacu padakegiatan-kegiatan yang mengontrol keterampilan pebelajar seperti merencanakan,memonitor pemahaman, dan mengevaluasi. Adanya kemampuan metakognisiakan meningkatkan kesadaran seseorang dalam belajar . Metakognisi memilikiperanan penting dalam keberhasilan belajar dan pencapaian akademik, sehinggadengan adanya kemampuan metakognisi yang digunakan secara maksimal akanmeningkatkan hasil belajar. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahuihubungan kemampuan metakognisi dengan hasil belajar siswa dan besarnyapengaruh masing-masing komponen kemampuan metakognisi terhadap hasilbelajar siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Turen pada materi hidrolisis garam. Penelitian ini merupakan jenis penelitian korelasional yang dimaksudkanuntuk mengetahui hubungan antara variabel bebas, yaitu kemampuan metakognisidengan variabel terikat, yaitu hasil belajar. Data kemampuan metakognisi siswadiperoleh dari pengerjaan instrumen Metacognitive Awareness Inventory (MAI),sedangkan data hasil belajar siswa diperoleh dari pengerjaan intrumen berupa soaluraian materi hidrolisis garam. Dari kedua data yang diperoleh selanjutnyadianalisis hubungan kedua variabel dengan rumus korelasi Pearson menggunakanaplikasi SPSS 16.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antarakemampuan metakognisi dengan hasil belajar secara signifikan dengan koefisienkorelasi sebesar 0,453. Komponen kemampuan metakognisi yang pertama yaitupengetahuan metakognisi memiliki hubungan yang tidak signifikan dengankoefisien korelasi sebesar 0,211 dan memberikan pengaruh sebesar 4,45%terhadap hasil belajar. Sementara itu, komponen kemampuan metakognisi yangkedua yaitu keterampilan metakognisi memiliki hubungan yang signifikan dengankoefisien korelasi sebesar 0,515 dan memberikan pengaruh sebesar 26,52%terhadap hasil belajar. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwakomponen keterampilan metakognisi memiliki pengaruh yang lebih besarterhadap hasil belajar dibandingkan pengetahuan metakognisi
Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari Perak Nitrit dengan Ligan N,N’-Dietiltiourea
ABSTRAK Istikfaroh, Nurul. 2015. Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari Perak Nitrit dengan Ligan N,N’-Dietiltiourea. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Fariati, M.Sc. (2) Prof. Drs. H. Effendy, M.Pd., Ph.D. Kata kunci: sintesis, karakterisasi, senyawa kompleks, perak nitrit, N,N’-dietiltiourea Perak(I) nitrat dan tiourea (tu) dengan stoikiometri 1 : 3 menghasilkan senyawa kompleks ionik [Ag(tu)3](NO3). Kation dari senyawa kompleks tersebut adalah [Ag(tu)3]+ dengan geometri trigonal planar di sekitar atom pusatnya. N,N`-dietiltiourea (detu) merupakan salah satu turunan tu yang memiliki struktur lebih ruah. Penggantian tu dengan detu dapat mengurangi stokiometri dalam [Ag(tu)3](NO3). Perak(I) nitrit merupakan salah satu garam yang memiliki per-bedaan karakteristik dengan perak(I) nitrat. Ion nitrat berkoordinasi dengan atom pusat hanya melalui atom oksigen, sedangkan ion nitrit berkoordinasi melalui atom nitrogen atau oksigen. Sintesis senyawa kompleks dari perak nitrit dan detu belum dilaporkan. Penelitian bertujuan untuk menyintesis dan mengkarakterisasi senyawa kompleks dari perak(I) nitrit dan detu. Hasil yang diperoleh dapat di-gunakan untuk menentukan pola koordinasi dari ion nitrit pada atom pusat. Sintesis senyawa kompleks dari perak nitrit dan detu dengan stoikiometri 1 : 2 dilakukan secara langsung dalam pelarut asetonitril. Senyawa yang terbentuk diuji titik leburnya untuk mengetahui kebaruan, kemurnian, dan kestabilan termal-nya. Uji daya hantar listrik (DHL) dan kualitatif ion nitrit dilakukan untuk me-nentukan senyawa kompleks yang terbentuk merupakan senyawa ionik atau molekuler. Analisis EDX digunakan untuk menentukan rumus empiris senyawa kompleks. Berdasarkan rumus empiris,uji DHL, dan uji kualitatif ion nitrit yang dihasilkan maka rumus kimia senyawa tersebut dapat ditentukan. Berdasarkan rumus kimia, struktur senyawa kompleks dapat diprediksi. Energi bebas dari struktur yang mungkin dihitung menggunakan program Spartan’14 v1.1.0. Struktur senyawa kompleks yang memenuhi adalah struktur dengan energi bebas terendah. Senyawa hasil sintesis perak nitrit dan detu menghasilkan kristal prisma tidak berwarna dengan titik lebur 103-105°C. Hal ini mengindikasikan senyawa tersebut baru, murni, dan stabil. Analisis EDX memberikan rumus empiris C15H36AgN7O2S3. Uji daya hantar listrik dan uji kualitatif ion nitrit menghasilkan senyawa kompleks molekuler. Senyawa kompleks yang terbentuk dapat berupa senyawa kompleks nitro, [Ag(NO2)(detu)3], atau senyawa kompleks nitrito, [Ag(ONO)(detu)3] dan [Ag(O2N)(detu)3]. Energi bebas tiga senyawa tersebut berturut-turut adalah -874.3394, -922.1857, dan -1182.8101 kJ/mol. Struktur yang mungkin adalah kompleks nitrito karena memiliki energi bebas lebih rendah dibandingkan kompleks nitro. Senyawa [Ag(ONO)(detu)3] dan [Ag(O2N)(detu)3] berbeda satu ikatan dengan energi bebas sebesar 15 kJ/mol. Energi bebas [Ag(O2N)(detu)3] lebih rendah 260 kJ/mol dibandingkan [Ag(ONO)(detu)3]. Berdasarkan hal tersebut, [Ag(O2N)(detu)3] adalah struktur yang diterima. Struktur yang lebih akurat harus ditentukan berdasarkan metode difraksi sinar X kristal tunggal
Pengembangan Bahan Ajar Materi Hidrolisis Garam Berbasis Discovery Learning untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas
ABSTRAK Utami, Fitri Kartika. 2014. Pengembangan Bahan Ajar Materi Hidrolisis Garam Berbasis Discovery Learning untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas. Skripsi, Jurusan Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H. Drs. Effendy, M.Pd, Ph. D, (II) Dr. Munzil, S.Pd, M.Si. Kata-kata Kunci : bahan ajar, discovery learning, hidrolisisgaram Salah satu materi pelajaran kimia di SMA dan MA adalah hidrolisis garam yang mempelajari tentang reaksi antara ion-ion dari suatu garam dengan air. Materi ini menyangkut representasi makroskopik, mikroskopik, dan simbolik. Untuk mempelajari materi hidrolisis garam diperlukan kemampuan dalam tiga representasi tersebut serta kemampuan algoritma. Berdasarkan hasil observasi terhadap proses pembelajaran dan wawancara yang dilakukan pada guru kimia di SMAN 8 Malang diperoleh fakta bahwa materi hidrolisis garam dapat dianggap sebagai materi yang sulit dipahami oleh siswa. Hal ini ditunjukkan dengan 43,7% siswa mendapat nilai di bawah KKM. Salah satu penyebab kesulitan tersebut kemungkinan adalah pendekatan pembelajaran yang digunakan. Selama ini pembelajaran di sekolah tersebut menggunakan pendekatan verifikasi. Untuk mengatasi kesulitan tersebut diperlukan proses pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam membangun konsep yang dipelajari, agar pembelajaran yang disampaikan lebih bermakna. Penerapan Kurikulum 2013 menekankan pada konstruksi konsep oleh siswa melalui pendekatan ilmiah yang dapat dilakukan dengan pembelajaran yang berbasis pada Discovery Learning. Pembelajaran ini memerlukan bahan ajar yang disusun secara spesifik. Namun, sampai saat ini dapat dianggap belum ada bahan ajar yang memenuhi. Oleh karena itu, pengembangan bahan ajar berbasis Discovery Learning perlu untuk dilakukan. Tujuan dari pengembangan ini adalah menghasilkan bahan ajar kimia berbasis discovery learning pada materi Hidrolisis Garam untuk kelas XI Sekolah Menengah Atas. Bahan ajar tersebut terdiri dari “Buku Kerja Siswa” dan “Buku Panduan Guru”. Buku Kerja Siswa berisi skenario pembelajaran yang terdiri dari langkah-langkah yang harus dilakukan oleh siswa dalam rangka membangun atau mengkonstuksi konsep yang dipelajari. Buku Panduan Guru berisi jawaban atas setiap langkah yang dilakukan oleh siswa dalam rangka mengkonstruksi suatu konsep. Buku Panduan Guru berfungsi sebagai pedoman yang diperlukan oleh guru untuk mengarahkan siswa dalam mengkonstruksi suatu konsep dengan tepat. Buku Kerja Siswa yang dihasilkan diuji coba untuk diketahui kelayakan dan keefektifannya ditinjau dari hasil belajar siswa setelah menggunakan bahan ajar tersebut. Pengembangan bahan ajar mengadopsi model pengembangan Plomp (1997). Tahap-tahap pengembangan adalah: (1) fase investigasi awal, (2) fase perancangan (desain), (3) fase realisasi (konstruksi), (4) fase tes, evaluasi, dan revisi, dan (5) fase implementasi. Bahan ajar yang dihasilkan dinilai kelayakan isi, kebahasaan, dan penyajian berdasarkan standar yang telah ditetapkan oleh BSNP. Penilaian kelayakan bahan ajar dilakukan oleh validator ahli yang terdiri dari satu dosen kimia FMIPA UM dan dua guru kimia SMA. Keefektifan bahan ajar didasarkan pada hasil belajar siswa Kelas XI IPA SMAN 8 Malang setelah dilibatkan dalam proses pembelajaran menggunakan bahan ajar yang dikembangkan pada uji coba lapangan terbatas. Data dalam penelitian ini terdiri dari data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif meliputi tanggapan dan saran dari validator ahli terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Data kuantitatif berupa hasil penilaian bahan ajar oleh validator ahli serta hasil belajar siswa pada uji lapangan terbatas. Hasil belajar siswa diperoleh dengan menggunakan tes pilihan ganda yang terdiri dari 23 item yang meliputi soal konseptual, mikroskopis, dan algoritma dengan validitas isi 100%, dan koefisien reliabilitas diukur dengan menggunakan rumus Kuder-Richardson (K-R 20) sebesar 0,8. Bahan ajar hidrolisis garam yang dikembangkan berisi bagian pendahuluan; bagian inti yang terdiri dari langkah-langkah pembelajaran menggunakan model Discovery Learning; dan bagian penutup. Hasil penilaian para validator ahli menunjukan bahwa tingkat kelayakan bahan ajar hasil pengembangan sebesar 3,4 pada segi isi, sebesar 3,4 pada segi kebahasaan, dan sebesar 3,3 pada segi penyajian dari skor maksimal 4,0. Berdasarkan penilaian para validator ahli tersebut, bahan ajar hasil pengembangan dapat dianggap layak digunakan dalam pembelajaran pada materi hidrolisis garam. Keefektifan bahan ajar berdasarkan hasil uji coba lapangan terbatas menunjukan 91% siswa memperoleh nilai diatas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), yaitu 77. Berdasarkan hasil uji coba tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar hasil pengembangan dapat dianggap efektif membantu siswa dalam memahami materi hidrolisis garam ditinjau dari hasil belajar siswa setelah menggunakan bahan ajar tersebut. paling baik dengan persentase 95,5% ditemukan pada konsep tetapan hasil kali kelarutan, sedangkan pemahaman konsep siswa yang paling kurang dengan persentase 10,4% adalah pada konsep hubungan Qc dan Ksp
Pengembangan Bahan Ajar Pada Pokok Bahasan Hukum Dasar Kimia Berbasis Learning Cycle 5E Berdasarkan Kurikulum 2013 untuk Kelas X SMA/MA.
ABSTRAK Bahan ajar yang memfasilitasi siswa belajar dalam memperoleh dan mengembangkan ilmu kimia adalah yang berbasis Learning Cycle 5E. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah mengembangkan bahan ajar berbasis Learning Cycle 5E pada pokok bahasan hukum dasar kimia dan mengetahui kelayakannya. Model pengembangan bahan ajar yang digunakan adalah model 4D (4D-model) oleh Thiagarajan yang terdiri dari empat tahap yaitu membatasi (define), merancang (design), mengembangkan (develop), dan mendeseminasi (disseminate). Namun, pengembangan hanya dilakukan sampai tahap ketiga, yaitu tahap develop. Hasil validasi yang diperoleh menunjukkan persentase sebesar 80,3% yang menggambarkan bahwa bahan ajar ini sangat layak sebagai salah satu sumber belajar untuk kelas X SMA/MA. Kata kunci: bahan ajar, hukum dasar kimia, Learning Cycle 5
Pengaruh Penerapan Blended Learning dalam Model Kooperatif STAD Menggunakan Moodle pada Matakuliah Kimia Organik II terhadap Prestasi Belajar dan Motivasi Mahasiswa Jurusan Kimia Universitas Negeri Malang
ABSTRAK Purwanto, Kriesna Kharisma. 2013. Pengaruh Penerapan Blended Learning dalam Model Kooperatif STAD Menggunakan Moodle pada Matakuliah Kimia Organik II terhadap Prestasi Belajar dan Motivasi Mahasiswa Jurusan Kimia Universitas Negeri Malang. Tesis. Program Studi Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D., Pembimbing (II) Prof. Dra. Srini M. Iskandar, M.Sc., Ph.D. Kata kunci: blended learning, model kooperatif STAD, kimia organik, prestasi belajar, motivasi Penerapan suatu model pembelajaran memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa untuk mencari, menemukan, menyusun, dan memahami suatu konsep, termasuk konsep-konsep dalam Kimia Organik II. Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa mahasiswa Jurusan Kimia Universitas Negeri Malang masih mengalami kesulitan dalam memahami materi Kimia Organik II dan tidak ampu menyelesaikan pembelajaran Kimia Organik II di kelas sesuai alokasi waktu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar (kognitif) serta motivasi mahasiswa setelah dibelajarkan dengan menggunakan model kooperatif STAD dan blended learning yang dipadu dengan model kooperatif STAD dalam mempelajari Kimia Organik II. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu (quasi experimental design) dan analisis deskriptif. Subjek penelitian adalah mahasiswa, S1 Jurusan Kimia Universitas Negeri Malang yang menempuh matakuliah Kimia Organik II pada tahun akademik 2013/2014. Jumlah sampel penelitian (N) =74 mahasiswa (masing-masing kelas 37 mahasiswa). Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan metode tes (kuis dan tes akhir), metode angket, dan metode observasi. Uji hipotesis dilakukan dengan teknik analisis MANOVA satu jalur dengan taraf signifikansi (α) = 0,05 , sedangkan analisis deskriptif digunakan untuk menjelaskan motivasi dan kepuasan belajar mahasiswa, serta keterlaksanaan proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukan bahwa prestasi belajar (kognitif) antara mahasiswa yang dibelajarkan menggunakan blended learning yang dipadu dengan model kooperatif STAD memiliki kecenderungan lebih tinggi dibanding mahasiswa yang dibelajarkan menggunakan model kooperatif STAD, yaitu 85,8 banding 83,5. Selain itu, motivasi belajar antara mahasiswa yang dibelajarkan menggunakan blended learning yang dipadu dengan model kooperatif STAD tidak jauh berbeda dengan mahasiswa yang dibelajarkan dengan model kooperatif STAD, dimana skor rata-rata motivasi kedua kelas adalah 137 (kategori sedang). Berdasarkan hasil analisis MANOVA diperoleh kesimpulan bahwa ada perbedaan prestasi belajar (kognitif) antara mahasiswa yang dibelajarkan menggunakan blended learning yang dipadu dengan model kooperatif STAD dengan mahasiswa yang dibelajarkan menggunakan model kooperatif STAD, sedangkan untuk motivasi belajar mahasiswa tidak ada perbedaan. Berdasarkan hasil temuan yang diperoleh, disarankan bagi pembaca yang ingin melakukan penelitian sejenis hendaknya mendesain format blended learning dengan pembagian alokasi waktu yang tepat, mengatur atau menyediakan aktivitas pembelajaran dalam Moodle sesuai kebutuhan, dan mendesain kuis online semenarik mungkin
Pengembangan Modul Kesetimbangan Kimia Menggunakan Pendekatan Ilmiah (Scientific Approach) untuk Siswa SMA Kelas XI
ABSTRAK Ratnaningtyas, Latifah Camelia. 2015. Pengembangan Modul Kesetimbangan Kimia Menggunakan Pendekatan Ilmiah (Scientific Approach) Untuk Siswa SMA Kelas XI. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs.I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed, Ph.D, (2) Drs. Darsono Sigit, M.Pd. Kata kunci: Modul Pembelajaran, Pendekatan Ilmiah, Kesetimbangan Kimia. Kurikulum 2013 yang sedang disiapkan pemerintah memerlukan bahan ajar yang sesuai dengan pendekatan kurikulum tersebut yaitu pendekatan ilmiah (Scientific Approach). Bahan ajar yang tersedia saat ini di sekolah masih mengacu pada kurikulum sebelumnya yaitu KTSP. Untuk mengatasi hal tersebut, maka perlu dikembangkan suatu modul yang dapat digunakan sebagai alternatif bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum 2013. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan modul kesetimbangan kimia menggunakan pendekatan ilmiah (scientific approach) dan mengetahui kelayakan modul yang telah dikembangkan melalui hasil validasi. Modul dikembangkan berdasarkan model 4-Dyangterdiri atas empat tahapan, yaitu define, design, develop, dan disseminate. Namun pada pengembangan modul ini hanya dilakukan sampai pada tahap ketiga yaitu develop (pengembangan). Desain validasi terdiri dari validasi isi dan uji keterbacaan pada peserta didik. Validasi menggunakan angketyang dilakukan oleh validator yang terdiri dari dua dosen kimia Universitas Negeri Malang dan dua guru kimia SMA/MA. Uji keterbacaan dilakukan pada siswa sebagai pengguna modul untuk mengetahui tingkat keterbacaan modul. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif berdasarkan angket penilaian dan data kualitatif melalui komentar, saran, dan kritik dari validator. Analisis data menggunakan teknik persentase.Tingkat validasi menggunakan standar yang dikemukakan oleh Akbar (2013). Modul hasil pengembangan terdiri dari bagian pendahuluan, isi, dan penutup. Bagian isi terdiri dari tiga submateri yaitu: (1) Kesetimbangan Dinamis; (2) Tetapan Kesetimbangan (Kc dan Kp); dan (3) Pergeseran Kesetimbangan. Setiap submateri (kegiatan belajar) disajikan sesuai dengan tahapan pendekatan ilmiah. Berdasarkan hasil validasi modul ini telah memenuhi kriteria sangat layak dengan rata-rata persentase sebesar 88,1 % dan pada uji coba terbatas pada siswa didapatkan rata-rata persentase sebesar 84,9 % dengan kriteria layak