SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
    1785 research outputs found

    Analisis Pemahaman Peserta Didik Kelas XII SMA Nasional Malang pada Materi Sifat Koligatif Larutan Menggunakan Metode Knowledge Space Theory (KST)

    No full text
     RINGKASANNurisa, Hardiyanti. 2019. Analisis Pemahaman Peserta Didik Kelas XII SMA Nasional Malang Pada Materi Sifat Koligatif Larutan Menggunakan Metode Knowledge Space Theory (KST). Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Endang Budiasih, M.S. (II) M. Muchson, S.Pd., M.Pd.Kata Kunci: Pemahaman Peserta Didik, Sifat Koligatif Larutan, Knowledge Space  Theory.Sifat koligatif larutan dapat digolongkan sebagai salah satu materi yang kompleks sebab memuat berbagai pengetahuan konseptual dan algoritmik. Aplikasi dari materi sifat koligatif larutan juga dapat dijumpai di kehidupan sehari-hari. Materi ini juga berkaitan dengan beberapa konsep lain, misalnya, peserta didik dituntut untuk memahami konsep konsentrasi larutan, larutan elektrolit, dan non elektrolit. Penelitian mengenai penggunaan metode KST untuk mengidentifikasi pemahaman peserta didik menjadi perlu dilakukan sebab selain dapat digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta didik, KST dapat digunakan untuk mengidentifikasi pola pemahaman peserta didik. Mengetahui tingkat dan pola pemahaman peserta didik diperlukan sebagai acuan untuk merancang pembelajaran yang lebih efektif, serta digunakan untuk melihat struktur pemahaman peserta didik, apakah mereka telah memahami konsep dasar untuk menyelesaikan konsep yang lebih kompleks, atau hanya sekadar menghafal jawaban untuk menyelesaikan soal.Instrumen penelitian yang digunakan sebagai alat bantu untuk mengukur pemahaman peserta didik dalam penelitian ini berupa 18 soal-soal esai dengan nilai reliabilitas 0,767 dan dikategorikan sebagai soal yang memiliki reliabilitas tinggi. Instrumen soal memuat 5 pokok bahasan, yaitu: 1) Konsep Dasar Sifat Koligatif Larutan (KSK), 2) Hitungan Sifat Koligatif Larutan (HSK), 3) Diagram Fasa (DF), 4) Aplikasi Sifat Koligatif Larutan (ASK), dan 5) Sifat Koligatif Larutan Elektrolit dan Non-Elektrolit (SKE). Berdasarkan jawaban peserta didik pada instrumen yang mereka kerjakan, kemudian dianalisis menggunakan metode KST. Analisis didahului dari penyusunan response state, response structure, knowledge structure, dan selanjutnya learning pathway. Melalui learning pathway, pola berpikir peserta didik untuk membentuk suatu konsep akan telihat.Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa pemahaman peserta didik SMA Nasional Malang pada materi sifat koligatif larutan dikategorikan cukup (50,36%). Bila dianalisis menggunakan persentase tingkat pemahaman, peserta didik memiliki pemahaman yang kurang pada pokok bahasan DF dan SKE. Peserta didik memiliki 5 jenis pola pemahaman berdasarkan analisis menggunakan metode KST. Pemahaman peserta didik pada pokok bahasan HSK, DF, dan SKE masih kurang jika dianalisis menggunakan metode KST namun telah terstruktur sebab peserta didik mampu menggunakan KSK untuk menyelesaikan soal-soal ASK

    Analisis Higher Order Thinking Skill (HOTs) dalam Soal Ujian Nasional Kimia SMA Tahun Pelajaran 2009/2010 sampai Tahun Pelajaran 2017/2018

    No full text
    RINGKASANRosida, Amalia. 2019. Analisis Higher Order Thinking Skill (HOTs) dalam Soal Ujian Nasional Kimia SMA Tahun Pelajaran 2009/2010 sampai Tahun Pelajaran 2017/2018. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Herunata, S.Pd, M.Pd., (II) Drs. Darsono Sigit, M.Pd.Kata Kunci: ujian nasional, kimia, HOTsKurikulum dirancang dengan berbagai penyempurnaan, yaitu penyempurnaan standar penilaian yang mengadaptasi model penilaian standar internasional. Penilaian hasil belajar berbasis HOTs dalam ujian nasional diharapkan dapat mendorong siswa untuk berpikir luas dan mendalam mengenai suatu materi pelajaran, salah satunya ilmu kimia. Soal ujian nasional kimia berisi soal multikonsep sehingga untuk mempermudah penguasaan materi dibutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi/HOTs. Tujuan penelitian adalah mengetahui profil soal ujian nasional kimia SMA berdasarkan perspektif HOTs dan menganalisis representasi soal ujian nasional kimia terhadap jenis HOTs.Rancangan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode penelitian berupa analisis isi (content analysis). Langkah-langkah dalam penelitian meliputi: (1) menentukan kesesuaian penelitian dengan penggunaan analisis isi, (2) menentukan bahan yang cocok untuk dimasukkan dalam analisis isi, (3) menentukan variabel penelitian, (4) membuat sub-variabel, (5) melakukan rencana analisis (6) melakukan kategori pengkodean, serta (7) menganalisis dan menginterpretasi hasil penelitian. Sumber data yang di analisis adalah soal ujian nasional kimia tahun pelajaran 2009/2010 sampai tahun pelajaran 2017/2018. Variabel penelitian berupa delapan jenis HOTs antara lain: 1) asesmen kontekstual, 2) PISA, 3) transfer, 4) critical thinking, 5) creative thinking, 6) judgment, 7) logic and reasoning, dan 8) problem solving. 9) Pengambilan data dilakukan dengan teknik dokumentasi kemudian keabsahan temuannya diuji dengan prosedur interrater reliability yang dihitung melalui reliabilitas Cohen-Kappa secara manual. Hasil pengujian reliabilitas Cohen-Kappa diperoleh: 1) analisis soal ujian nasional kimia yang dianalisis termasuk HOTs dan Non-HOTs sebesar 0,663, 2) kategorisasi aspek asesmen kontekstual sebesar 0,788, 3) kategorisasi aspek PISA sebesar 0,772, dan kategorisasi aspek transfer sebesar 0,743. Nilai pengujian mengindikasikan adanya kesepakatan yang kuat antara peneliti 1 dan peneliti 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara menyeluruh soal-soal ujian nasional kimia sudah memenuhi target yang ditentukan oleh pihak BNSP mengenai proporsi soal HOTs pada soal ujian nasional kimia SMA, hanya pada UN/V yang tidak memenuhi target. Hal ini dapat dilihat dari total skor yang diperoleh yaitu UN/I sebanyak 8 soal (20%), UN/II sebanyak 4 soal (10%), UN/III 4 soal (10%), UN/IV 4 soal (10%), UN/V 2 soal (5%), UN/VI 5 soal (12,5%), UN/VII 6 soal (15%), UN/VIII 6 soal (15%), dan UN/IX 9 soal (22,5%). Aspek HOTS yang ditemukan memiliki persebaran yang merata disetiap soal. Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis bahwa aspek asesmen kontekstual, PISA, dan transfer berada pada setiap soal yang termasuk HOTs

    Pengaruh Penambahan Dispersan Terhadap Kestabilan dan Perpindahan Panas Nanofluida Air-ZrO2

    No full text
    Abstrak:Penelitian mengenai nanofluida terus berkembang, mulai dari peningkatan kestabilan hingga kemampuan dalam memindahkan panas. Zirkonium merupakan bahan utama yang digunakan dalam pembuatan nanopartikel ini karena memiliki sifat tahan panas dan juga sifat anti korosif. Nanopartikel ZrO2 yang digunakan berasal dari mineral zirkon (ZrSiO4) yang disintesis dengan metode solgel dan dikalsinasi pada suhu 800oC/3jam. Dispersan yang ditambahkan adalah Cetyl trimethylammonium bromide (CTAB), Poli asam akrilik (PAA), Polietilena glikol 4000 (PEG 4000), dan Asam sitrat. Tujuan penelitian untuk mengetahui karakterisasi dan pengaruh penambahan dispersan terhadap kestabilan dan perpindahan panas nanofluida air-ZrO2. Penelitian ini terdiri dari empat tahap: (1) sintesis nanofluida air-ZrO2 dengan penambahan dispersan Cetyl trimethylammonium bromide (CTAB), Poli asam akrilik (PAA), Polietilena glikol 4000 (PEG 4000), dan Asam Sitrat (2) karakterisasi nanopartikel dan nanofluida  air-ZrO2 (3) uji pengaruh penambahan Cetyl trimethylammonium bromide (CTAB), Poli asam akrilik (PAA), Polietilena glikol 4000 (PEG 4000), dan Asam sitrat terhadap kestabilan dan perpindahan panas nanofluida air-ZrO2.Berdasarkan analisis karakterisasi XRD dan  surface area nanopartikel ZrO2 mengindikasikan kristal monoklinik dengan ukuran partikel sebesar 41 nm. Hasil pengamatan visual menunjukkan bahwa nanofluida air-ZrO2 yang paling stabil yaitu dengan dispersan CTAB yang mampu meningkatkan kestabilan nanofluida air-ZrO2 hingga 14 hari dengan nilai rata-rata zeta potensial sebesar 49,7 mV. Hasil uji heat transfer, nilai convective heat transfer coefficient dan overall heat transfer coefficient heat transfer nanofluida air-ZrO2 jauh lebih besar 1,72 dan 1,84 kali dibandingkan fluida dasar (air).Kata Kunci: dispersan, nanofluida air-ZrO2, kestabilan. AbstractResearch on nanofluid continues to grow, from increasing stability to the ability to heat transfer. Zirconium is the main ingredient used in the manufacture of nanoparticles because it has the properties of heat resistance and anti-corrosive properties. The ZrO2 nanoparticles used were derived from zircon minerals (ZrSiO4) which were synthesized by the solgel method and calcined at a temperature of 800oC/3hours. Dispersants added are Cetyl trimethylammonium bromide (CTAB), Poly acrylic acid (PAA), Polyethylene glycol 4000 (PEG 4000), and Citric Acid. The research objective was to determine the characterization and effect of the addition of dispersants on the stability and heat transfer of water-ZrO2 nanofluid.This study consisted of four stages: (1) synthesis of water-ZrO2 nanofluid with the addition of Cetyl trimethylammonium bromide (CTAB) dispersion, Poly acrylic acid (PAA), Polyethylene glycol 4000 (PEG 4000), and Citric Acid (2) characterization of nanoparticles and nanofluid water-ZrO2 (3) test the effect of adding Cetyl trimethylammonium bromide (CTAB), Poly acrylic acid (PAA), Polyethylene glycol 4000 (PEG 4000), and citric acid to the stability and heat transfer of water-ZrO2 nanofluid.Based on XRD characterization analysis and surface area of ​​ZrO2 nanoparticles indicate monoclinic crystals with a particle size of 41 nm. Visual observations showed that water-ZrO2 nanofluid was the most stable with CTAB dispersant capable of increasing the stability of water-ZrO2 nanofluid up to 14 days with a potential zeta average value of 49.7 mV. The heat transfer test results, the value of the convective heat transfer coefficient and overall heat transfer coefficient heat transfer of water-ZrO2 nanofluid is much greater 1.72 and 1.84 times than the base fluid (water).Keywords: dispersant, water-ZrO2 nanofluid, stability

    Pengaruh Model Pembelajaran Learning Cycle 5E dan Learning Cycle 5E Berbantuan Media Video Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Sistem Koloid Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Gondanglegi

    No full text
    RINGKASANSiti, Khusnaini Puji Astuti. 2019. Pengaruh Model Pembelajaran Learning Cycle 5E dan Learning Cycle 5E Berbantuan Media Video Pembelajaran tehadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Sistem Koloid Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Gondanglegi. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Endang Budiasih, M.S (II) Drs. Muhammad Su’aidy, M.Pd.Kata kunci: Learning Cycle 5E, media video pembelajaran, hasil belajar, sistem koloidPerkembangan IPTEK saat ini telah berkembang begitu pesat, salah satunya dalam bidang pendidikan. Perkembangan tersebut mempengaruhi kemajuan teknologi pendidikan yang ditandai dengan perkembangan media pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Penggunaan media seperti ini sangat penting dilakukan untuk memvisualisasikan konsep-konsep yang bersifat abstrak, salah satunya pada materi sistem koloid. Banyak konsep-konsep abstrak pada materi koloid, seperti pada pokok bahasan efek Tyndall, gerak brown, adsorbsi, koloid liofil, dan koloid liofob yang sukar dipahami oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle 5E berbantuan media video pembelajaran dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle 5E pada materi sistem koloid. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu (quasy experiment). Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Gondanglegi dengan populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI yang terdiri dari 5 kelas. Penentuan sampel penelitian yang digunakan sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol dilakukan dengan teknik cluster random sampling. Kelas eksperimen dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5E  berbantuan media video pembelajaran, sedangkan kelas kontrol dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle 5E. Hasil belajar kognitif dianalisis secara statistik inferensial menggunakan uji-t dengan bantuan program SPSS 15.0 for windows, sedangkan hasil belajar afektif dan psikomotorik dideskripsikan saja dengan kriteria tertentu.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle 5E berbantuan media video pembelajaran berbeda dengan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle 5E. Hasil belajar kognitif siswa kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Rata-rata nilai hasil belajar kognitif siswa kelas eksperimen lebih tinggi (79,84) dibandingkan hasil belajar siswa kontrol (74,27). 2) Hasil belajar afektif dan psikomotorik siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle 5E berbantuan media video pembelajaran lebih baik dibandingkan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle 5E. Rata-rata nilai afektif kedua kelas tergolong cukup baik, dimana nilai afektif siswa kelas eksperimen lebih tinggi (72,92) dibandingkan kelas kontrol (72,15), sedangkan untuk rata-rata nilai psikomotorik kelas eksperimen lebih tinggi (85,25) dibandingkan kelas kontrol (84,93) dan nilai psikomotorik di kedua kelas tergolong baik

    Pengembangan Instrumen Diagnostik Four Tier untuk Mengidentifikasi Pemahaman Konsep Siswa SMA pada Materi Hidrolisis Garam

    No full text
    RINGKASAN Ameliana, Devita. 2019. Pengembangan Instrumen Diagnostik Four Tier untuk Mengidentifikasi Pemahaman Konsep Siswa  SMA pada Materi Hidrolisis Garam. Skripsi. Jurusan Kimia. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Habiddin, M. Pd., Ph.D., (II) Drs. Muhammad Su’aidy, M. Pd. Kata Kunci: instrumen diagnostik four tier, pemahaman konsep, hidrolisis garam. Hidrolisis garam merupakan salah satu materi kimia yang bersifat kompleks dan abstrak sehingga membuat siswa mengalami kesulitan dalam mempelajarinya. Kesulitan siswa membuat tingkat pemahaman konsep pada materi hidrolisis garam menjadi rendah. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi pemahaman konsep adalah instrumen diagnostik. Instrumen diagnostik four tier adalah salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi pemahaman konsep siswa. Instrumen diagnostik four tier adalah pengembangan dari intrumen pilihan ganda three tier. Tujuan dari penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan yaitu menghasilkan intrumen diagnostik four tier materi hidrolisis garam untuk siswa SMA yang valid dan layak. Instrumen diagnostik four tier dalam penelitian ini meliputi 28 butir soal yang pada setiap pertanyaan didertai dengan tingkat keyakinan terhadap jawaban (tier pertama) dan alasan (tier ketiga). Pengembangan instrumen ini menggunakan metode menurut Treagust (1988) yang telah dimodifikasi (Habiddin & Page, 2019). Metode pengembangan ini terdiri dari enam tahapan pokok: (1) pemetaan konsep (mapping concept), (2) uji coba & wawancara (testing & interviewing), (3) identifikasi konsep siswa yang tidak saintifik (defining student unscientific ideas), (4)Pengembangan prototipe instrumen diagnostik four tier (developing the prototype four tier), (5) validasi prototipe instrumen diagnostik four tier (validating the prototype four tier), dan (6) revisi produk hasil (refining the final four tier). Pemahaman siswa yang tidak saintifik pada materi hidrolisis garam ditemukan pada saat uji coba menggunakan instrumen pilihan ganda alasan terbuka yang kemudian dianalisis lebih lanjut untuk mengembangkan tier empat pada instrumen diagnostik four tier. Instrumen diagnostik four tier yang telah dikembangkan divalidasi isi dan validasi empirik. Data yang diperoleh dari hasil validasi kemudian dianalisis. Hasil validasi pada penelitian dan pengembangan ini menunjukkan: (1) validitas butir soal sebanyak 85,7%  soal valid dan 14,3% soal tidak valid; (2) reliabilitas butir soal 0,833 untuk tier pertama (A); 0,801 untuk tier ketiga (R); dan 0,806 untuk kombinasi tier pertama dan tier ketiga (B); (3) tingkat kesukaran butir soal adalah 0,60 untuk tier A; 0,66 untuk tier R; dan 0,51 untuk tier B; (4) daya beda butir soal 91,7 % dengan kategori baik dan 8,3 % dengan kategori jelek; dan (5) efektifitas distraktor butir soal 85,7 % pada tier pertama dan 82,1% pada tier ketiga (R) dipilih lebih dari 5% siswa. Sehingga 28 instrumen diagnostik four tier yang dikembangkan dapat dinyatakan valid dan layak.   SUMMARY Ameliana, Devita. 2019. The Development of Four Tier Diagnostic Instrument to Identify Student’s Concept Understanding on Salt Hidrolysis Material. Undergraduate Thesis. Departement of Chemistry. Faculty of Mathematics and Science. State University of Malang. Advisor: (I) Habiddin, M. Pd., Ph.D., (II) Drs. Muhammad Su’aidy, M. Pd. Key words: diagnostic instrument, four tier, concept understanding, salt hydrolysis Salt hydrolysis is one of chemistry material which has complex and abstract characteristic and makes students difficult in Understanding. The student’s difficulties made the lavel of concept understanding of salt hydrolysis became low. One of the solutions that can be used to identify concept understanding is diagnostic instrument. Four tier diagnostic instrument was a development of three tier multiple choiches instrument. The purpose of the research and development that has been done was to create four-tier diagnostic instrument of salt hydrolysis material for high school students that are valid and suitable. Four tier diagnostic instrument in this research include 28 questions which in every question were followed by the level of student’s confidance of the answer (first tier) and reason (third tier). The development of this instrument was using the Treagust’s method that has been modified Habiddin & Page (2019). This research method consist six steps: (1) mapping concept, (2) testing & interviewing, (3) defining student unscientific ideas, (4) developing the prototype four tier, (5) validating the prototype four tier, and (6) refining the final four tier. The student unscientific ideas in salt hydrolysis material was found in trial using the open reason multiple choice instrument analized to develop tier four in four tier diagnostic instrument. Four tier diagnostic instrument was content validation and empirical validation. Data obtained from validation was than analized. The result of validation in this research and development shown tahat: (1) validity of questions was 85,7%  questions  valid and 14,3% questions invalid, (2) the questions reliability was 0,833 for the first tier (A); 0,801 for the third tier (R); and 0,806 for the combination of the first and third tier (B), (3) the dificulty level was 0,60 for A tier; 0,66 for R tier;  and 0,51 for B tier, (4) the questions different powe was 91,7% with good category and 8,3% with bad category, and (5) the distractor’s effectivity was 85,7% in the A tier and 82,1% in the R tier choosen more than 5% of the students. So that 28 of four tier diagnostic instrument developed can be stated as valid and suitable

    Pengembangan Instrumen Penilaian (Assessment) Asam-Basa Berkualifikasi HOTS (Higher Order Thinking Skills) untuk Peserta Didik SMA/MA Kelas XI

    No full text
    Pengembangan Instrumen Penilaian (Assessment) Asam-Basa Berkualifikasi HOTS (Higher Order Thinking Skills) untuk Peserta Didik SMA/MA Kelas XI Vevina Dyahsasi Nugraha1, Muntholib2, Ridwan Joharmawan3 Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang, email:[email protected] *) Corresponding: email [email protected]  Abstract Salah satu aspek yang tercantum dalam kurikulum 2013 mendukung proses evaluasi hasil belajar peserta didik dari semua kompetensi. Implementasi dari kurikulum 2013 adalah penilaian hasil belajar yang berorientasi pada kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Berdasarkan taksonomi Bloom revisi, kemampuan berpikir tingkat tinggi terbagi menjadi tiga ranah kognitif, yakni menganalisis, mengevaluasi, dan membuat. Instrumen penilaian berorientasi HOTS sangat baik untuk mengukur ketercapaian peserta didik pada bahan kajian yang kompleks, bersifat abstrak, kontekstual, dan mencakup empat dimensi pengetahuan yakni pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif. Bahan kajian asam-basa merupakan salah satu contoh bahan kajian yang memenuhi karakteristik tersebut. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan instrumen penelitian berkualifikasi Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada bahan kajian asam-basa untuk peserta didik SMA/MA kelas XI. Tahapan pengembangan instrumen mengadaptasi tahapan pengembangan dari Chandrasegaran et.al., 2007; Wattanakasiwich et.al., 2013; Damanhuri et.al., 2016; dan Muntholib et.al., in press. Uji kelayakan terhadap hasil produk dilakukan terhadap 205 peserta didik kelas XI MIPA SMA ‘Nasional’ Malang dan XI MIPA MAN Kota Batu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk instrumen penilaian berpikir tingkat tinggi pada bahan kajian asam-basa terdiri atas 32 butir soal valid dengan koefisien reliabilitas Cronbach’s Alpha sebesar 0,787 dan tingkat persentase rata-rata kelayakan produk instrumen penilaian sebesar 88,47% dengan kategori sangat valid. Berdasarkan hasil tes kelayakan produk instrumen tersebut, instrumen penilaian ini dapat digunakan oleh guru sebagai bahan evaluasi pembelajaran dan penilaian terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik pada bahan kajian asam-basa. Keywords: instrumen asesmen, HOTS, asam-basa   1. Pengantar Pengetahuan dan proses kognitif telah diterima sebagai tujuan pembelajaran (Anderson & Krathwohl, 2001:27). Proses kognitif tersebut diperlukan dalam mengetahui pemahaman peserta didik terhadap suatu konsep yang dibelajarkan. Akhir-akhir ini HOTS yang mencakup ranah kognitif menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan membuat (C6) menjadi isu penilaian hasil belajar kurikulum 2013 yang menyita banyak perhatian dunia pendidikan Indonesia. Salah satu aplikasi dari keterampilan berpikir tingkat tinggi dapat dilihat pada sistem penilaian pembelajaran kurikulum 2013, yang mengadaptasi secara bertahap model-model penilaian standar internasional. Dalam implementasinya, penilaian autentik dan nonautentik merupakan penilaian yang digunakan oleh kurikulum 2013. Penilaian autentik menuntut peserta didik untuk mampu mengembangkan jawaban. Peserta didik diharapkan untuk tidak sekedar memilih jawaban, namun juga mampu mendorong peserta didik untuk berpikir pada tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill, HOTS) (Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, 2017:12). Penilaian pembelajaran berbasis HOTS diharapkan mampu mendorong peserta didik untuk berpikir secara luas dan mendalam tentang materi pelajaran. Berdasarkan peringkat tes PISA (Programme for International Student Assessment) yang dilaporkan oleh Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD), pada tahun 2015 hasil tes PISA peserta didik Indonesia menduduki peringkat 62 dari 70 negara dengan nilai kemampuan sains di bawah nilai rata-rata OECD (OECD 2015). Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik di Indonesia memiliki kemampuan yang rendah jika dilihat dari aspek kognitifnya. Selain itu, berdasarkan hasil survey dan wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti di salah satu sekolah menengah atas di kota Malang saat kajian dan praktik lapangan, selama ini dalam membuat instrumen tes, guru mata pelajaran kimia hanya membuat soal tanpa melihat karakteristik dan mempertimbangkan level kognitif peserta didik yang akan dicapai dari instrumen tes tersebut. Fakta ini didukung dengan hasil penelitian Maureen & Salirawati (2016) yang menyebutkan bahwa penyusunan butir soal tes lebih banyak mengukur kemampuan peserta didik pada aspek mengingat sampai menerapkan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa perbandingan tingkat kognitif soal ulangan kimia di sekolah yang menerapkan kurikulum 2013 dan menyusun soal mandiri tahun 2015/2016 untuk C1 : C2 : C3 : C4,5,6 berturut-turut adalah 20,29% : 20,58% : 43,17% : 15,96%. Bahan kajian yang dipilih dalam penelitian pengembangan ini adalah Asam-Basa yang meliputi sub-kajian sifat keasaman larutan, hidrolisis garam, larutan penyangga (buffer), dan titrasi Asam-Basa. Materi pelajaran kimia Asam-Basa mencakup pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan metakognitif, dimana proses perolehan dan penggunaannya dapat melibatkan semua keterampilan berpikir tingkat tinggi yang mencakup proses menganalisis, mengevaluasi, dan membuat. Selain itu, Asam-Basa merupakan bahan kajian berupa konsep-konsep yang bersifat abstrak. Konsep Asam-Basa banyak pula ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, untuk memahami konsep yang bersifat abstrak dan menyelesaikan permasalahan kontekstual dari bahan kajian Asam-Basa ini diperlukan adanya keterampilan berpikir tingkat tinggi.   2. Metode Model pengembangan instrumen penilaian (assessment) Asam-Basa berkualifikasi HOTS (Higher Order Thinking Skills) untuk peserta didik SMA/MA Kelas XI ini diadaptasi dari Chandrasegaran et al., 2007; Wattanakasiwich et al., 2013; Damanhuri et al., 2016; dan Muntholib et al., in press yang dikembangkan melalui lima tahapan prosedur, yaitu: (1) telaah literatur (literature review), (2) penyusunan butir soal (item pool), (3) Review dan validasi instrumen penilaian oleh dosen pembimbing dan validator ahli (expert judgement), (4) uji coba instrumen penilaian (instrument trial), dan (5) finalisasi instrumen penilaian (finalization of instrument). Tahap literature review mencakup kegiatan identifikasi konsep dari bahan kajian sifat keasaman larutan, hidrolisis garam, larutan penyangga, dan titrasi asam-basa melalui proses kajian literatur. Tahap item pool mencakup kegiatan penyusunan 37 soal pada bahan kajian sifat keasaaman larutan, hidrolisis garam, larutan penyangga, dan titrasi asam basa berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS). Soal yang telah disusun divalidasi oleh validator ahli untuk mengetahui tingkat kelayakan produk instrumen penilaian dari segi isi dan penyajian instrumen penilaian, bahasa, serta tampilan, yang dilakukan pada proses expert judgement. Soal yang telah divalidasi selanjutnya diujicobakan kepada 205 peserta didik untuk dianalisis validitas dan reliabilitas dari instrumen penilaian tersebut, yang dilakukan pada tahap instrumen trial. Pada tahap finalization of instrument, produk instrumen penilaian dapat dihasilkan sesuai dengan hasil perbaikan dan saran dari dosen pembimbing dan validator dan siap untuk digunakan pada proses penilaian hasil pembelajaran.   3. Hasil Berdasarkan hasil analisis nilai validasi yang diberikan oleh tiga validator ahli, persentase rata-rata kelayakan produk instrumen penilaian sebesar 88,47% dengan kategori sangat valid. Berdasarkan hasil uji validitas terhadap 37 butir soal HOTS pilihan ganda yang digunakan dalam uji coba terbatas terhadap 205 peserta didik, didapatkan hasil berupa 32 butir soal termasuk soal yang valid (sahih) dengan tingkat kepercayaan (reliabilitas) sebesar 0,732 yang termasuk dalam kategori tinggi. Berdasarkan hasil analisis tingkat kesukaran soal terhadap 37 soal, didapatkan hasil berupa 10 butir soal termasuk kategori mudah dengan persentase sebesar 27%, 18 butir soal termasuk kategori sedang dengan persentase sebesar 49%, dan 9 butir soal termasuk kategori sulit dengan persentase sebesar 24%. Berdasarkan hasil analisis daya beda soal, didapatkan hasil yakni 1 butir soal termasuk kategori sangat baik dengan persentase 3%, 12 butir soal termasuk kategori baik dengan persentase 32%, 14 butir soal termasuk kategori cukup dengan persentase 38%, 6 butir soal termasuk kategori jelek dengan persentase 16%, dan 4 butir soal termasuk kategori sangat jelek dengan persentase 11%.   4. Pembahasan Produk hasil penelitian pengembangan ini berupa instrumen penilaian (assessment) berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills, HOTS) pada bahan kajian asam-basa, hidrolisis garam, larutan penyangga, dan titrasi asam-basa. Produk pengembangan instrumen penilaian ini terdiri dari beberapa bagian, yakni: (1) kisi-kisi soal, (2) butir soal, (3) kunci jawaban dan pembahasan, dan (4) keterangan mengapa soal tersebut termasuk kategori soal HOTS. Format penyusunan kisi-kisi soal HOTS pada bahan kajian sifat keasaman larutan, hidrolisis garam, larutan penyangga, dan titrasi asam-basa ini mengikuti aturan penyusunan dalam modul penyusunan soal HOTS (Kemendikbud, 2017). Soal yang dikembangkan dalam produk ini mencakup aspek-aspek berpikir tingkat tinggi menurut Anderson & Krathwol (2010). Penyusunan butir soal dalam produk pengembangan instrumen penilaian ini mengikuti penulisan butir soal menurut modul penyusunan soal HOTS (Kemendikbud, 2017), yang mana soal dikembangkan dalam bentuk kartu soal. Bagian awal kartu soal merupakan identitas butir soal yang mencakup nomor kartu soal, mata pelajaran, kelas/semester, kurikulum yang dijadikan landasan dalam penyusunan butir soal. Bagian kedua kartu soal berisi deskripsi soal yang mencakup kompetensi dasar (KD), materi, indikator soal, dan level kognitif. Bagian ketiga dari kartu soal merupakan isi/ konten soal yang berupa pilihan ganda. Pada bagian pembahasan soal berisi penjelasan konsep yang terkait dengan butir soal, serta penjabaran mengenai alur berpikir untuk menyelesaikan soal tersebut. Pada bagian keterangan soal berisi tentang poin-poin mengapa butir soal tersebut termasuk dalam kategori soal HOTS.   5. Simpulan Pengembangan instrumen penilaian (assessment) berkualifikasi Higher Order Thinking Skills  (HOTS) pada bahan kajian sifat keasaman larutan, hidrolisis garam, larutan penyangga, dan titrasi asam-basa terdiri dari 32 butir soal yang valid (sahih) dengan taraf kepercayaan (reliabilitas) Cronbach’s Alpha sebesar 0,787 yang termasuk dalam kategori tinggi dan tingkat persentase rata-rata kelayakan produk instrumen penilaian sebesar 88,47% dengan kategori sangat valid.   6. Acknowlegements Pengembangan ini tidak akan terlaksanan dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak. Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. Muntholib, M.Si selaku pembimbing I dan Drs. Ridwan Joharmawan, M.Si. selaku pembimbing II yang telah mem-bimbing dan memberikan saran selama proses pengembangan dan penulisaan laporan penelitian.  Dr. H. Parlan, M.Si selaku validator yang telah memberikan kritik dan saran sebagai penyempurnaan instrumen penilaian yang dikembangkan. Validator dari pihak guru yaitu Soni Syarifuddin dari SMA ‘Nasional’ Malang dan Siti Murtiningsih, S.Pd dari MAN Kota Batu yang telah memberikan banyak saran dan masukan untuk menyempurnakan instrumen penilaian (assessment) ini.   References Anderson, L.W. & Krathwohl, D.R. 2001. A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Education of Objectives (Rev.ed). New York: Addison Wesley Arikunto, Suharsimi. 2015. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Basuki, I. & Hariyanto. 2016. Asesmen Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya Brookhart, S.M. 2010. How to Assess Higher-Order Thinking Skills in Your Classroom. United States of America: ASCD Chandrasegaran A.L., Treagust D.F., & Mocerino M. 2007. The Development of A Two-Tier Multiple-Choice Diagnostic Instrument for Evaluating Secondary School Students’ Ability to Describe and Explain Chemical Reactions Using Multiple Levels of Representation. Chemistry Education Research and Practice. 8(3):293-307 Chang, R. 2013. Kimia Dasar: Konsep-Konsep Inti Jilid 2. Jakarta : Penerbit Erlangga Damanhuri, Treagust D.F., Won M., & Chandrasegaran A.L. 2016. High School Students’ Understanding of Acid-Base Concepts: An Ongoing Challenge for Teachers. International Journal of Environmental & Science Education. 11(1): 9-27 Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. 2015. Panduan Penilaian Untuk Sekolah Menengah Atas. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas. 2017. Panduan Oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan Untuk Sekolah Menengah Atas. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Enger, K.S. & Yager, E.R. 2009. Assessing Student Understanding in Science (2nd Edition). California: Corwin A SAGE Company Gunawan, A. W. 2003. Genius Learning Strategy: Petunjuk Praktis untuk Menerapkan Accelerated Learning. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama King, F.J., Rohani, F. & Goodson, L. 1998. Higher Order Thinking Skills: Definition, Teaching Strategies, and Assessment. Education Service Program. (Online), (http://cala.fsu.edu/files/higher_order_thinking_skills.pdf) diakses pada 10 April 2019 Krathwohl, D.R. 2002. A Revision of Bloom’s Taxonomy: An Overview. Theory Into Practice. 41 (4): 212 – 218 Maureen, J. & Salirawati. 2016. Analisis Kualitas Soal Ujian Kimia Akhir Semester Gasal Kelas XII SMA Se-Daerah Istimewa Yogyakarta, .Vol 5, No 6 (online), (http://journal.student.uny.ac.id/ojs/index.php/pkimia/article/view/4599/0) diakses pada 24 September 2018 Muntholib, Ibnu S., Rahayu S., Fajaroh F., Kusairi S., & Kuswandi B. 2019. Chemical Literacy: Performance of First Year Chemistry Students on Chemical Kinetics. in press OECD (2015). Programme for International Student Assessment (PISA). (online), (http://www.oecd.org/pisa/PISA-2015-Indonesia.pdf) diakses pada 14 Maret 2019 Raiyn, J & Tilchin, O. 2016. The Impact of Adaptive Complex Assessment On The HOT Skill Development of Strudents, World Journal of Education, 6(2), 12-19. (online), (http://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1158339.pdf) diakses pada 24 September 2018 Wattanakasiwich, Taleab P., Sharma M.D., & Johnston I.D. 2013. Development and Implementation of a Conceptual Survey in Thermodynamics. International Journal of Innovation in Science and Mathematics Education. 21(1): 29-53 Widana, I.W. 2017. Modul Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Widodo, A. 2005. Taksonomi Tujuan Pembelajaran. Vol 4, No 2. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesi

    KEMAMPUAN NANOPARTIKEL MAGNETIT TERLAPIS KARBOKSIMETIL KAPPA-KARAGENAN UNTUK MENGADSORPSI ION KROMIUM(III) DAN NIKEL(II) PADA VARIASI DERAJAT KEASAMAN (pH) DAN WAKTU KONTAK ADSORPSI

    No full text
    RINGKASAN Nostia, Rohima. 2019. Kemampuan Nanomagnetit terlapis Karboksimetil kappa-Karagenan (CMKC) untuk Mengadsorpsi Ion Cr(III) dan Ni(II) pada Variasi pH dan Waktu Kontak, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Irma Kartika Kusumaningrum, S.Si., M.Si. (II) Dr. Sc. Anugrah Ricky Wijaya, S.Si., M.Sc. Kata Kunci: Nanomagnetit, CMKC, adsorpsi, desorpsi, prekonsentrasi, ion logam Penentuan kadar ion Cr(III) dan Ni(II) dalam kadar rendah sering diperlukan dalam pekerjaan pemantauan kualitas air. Ion Cr(III) dan Ni(II) merupakan logam yang memiliki ambang batas sangat kecil di dalam air, sehingga perlu dilakukan pemantauan kadar ion Cr(III) dan Ni(II) secara akurat. Metode prekonsentrasi ion logam merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan konsentrasi sampel, salah satu metode prekonsentrasi yang dikembangkan adalah prekonsentrasi dengan nanomagnetit terlapis karboksimetil kappa-karagenan secara adsorpsi dan desorpsi. Nanomagnetit dapat mengikat ion logam karena sifat magnetisnya. Namun, nanomagnetit  mudah membentuk aglomerat, untuk mengatasi hal tersebut adalah melapisi permukaan dengan karboksimetil kappa-karagenan (CMKC). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi pH dan waktu kontak terhadap kemampuan nanomagnetit terlapis karboksimetil kappa-karagenan untuk mengadsorpsi ion Cr(III) dan Ni(II). Rancangan dalam penelitian ini diawali dengan tahap sintesis karboksimetil kappa-karagenan, sintesis magnetit, sintesis nanomagnetit terlapis karboksimetil kappa-karagenan, proses adsorpsi dan desorpsi ion Cr(III) dan Ni(II) dengan pengaruh variasi pH 3, 5, 7 pada waktu kontak 40 menit, dan pengaruh variasi waktu kontak adsorpsi pada pH optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintesis ini digunakan untuk mengadsorpsi ion Cr(III) dan Ni(II) dengan karakterisasi FTIR, XRD, SEM, dan VSM. Parameter yang berpengaruh adalah pH dan waktu kontak. pH optimal yang dilakukan pada waktu kontak 40 menit  dihasilkan ion Cr(III) dan Ni(II) pada pH 7, sedangkan waktu kontak adsorpsi optimal yang dilakukan pada pH optimal dihasilkan waktu kontak ion Cr(III) dan Ni(II) dapat dicapai pada waktu kontak 40, 60 menit, efektifitas adsorpsi sebesar ion Cr(III) sebesar 99,97%, dan ion Ni(II) sebesar 99,72% , efektifitas desorpsi ion Cr(III) sebesar 90,27%, dan ion Ni(II) sebesar 25,84%, dan efektifitas prekonsentrasi ion Cr(III) sebesar 450,10%, dan ion Ni(II) sebesar 129,18%

    SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS DARI ZINK(II) KLORIDA DENGAN KALIUM SIANIDA DAN LIGAN N,N’-DIETILTIOUREA

    No full text
    Abstrak: Tujuan penelitian adalah mensintesis, mengkarakterisasi, dan memprediksi struktur senyawa kompleks yang belum dilaporkan yakni dari zink(II) klorida, kalium sianida dan ligan detu. Senyawa kompleks hasil sintesis dikarakterisasi uji titik lebur, uji daya hantar listrik, uji kualitatif ion sianida, analisis gugus fungsi serta analisis permukaan dan komposisi atom. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh rumus kimia kemudian strukturnya diprediksi dan dihitung energi bebasnya menggunakan metode Semi-empirik PM6. Senyawa kompleks memiliki rumus kimia [Zn(C5H12N2S)4](CN)2 dengan geometri tetrahedral dan nilai energi bebas sebesar -129,6052 kJ/mol. Kata kunci: senyawa kompleks, kompleks ionik, zink(II) klorida, N,N’-dietiltiourea (detu)

    Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transferring (REACT) Melibatkan Multipel Representasi Pada Materi Laju Reaksi

    No full text
    ABSTRAKSelly, Voni Octavia. 2019. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transferring (REACT) Melibatkan Multipel Representasi Pada Materi Laju Reaksi. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Endang Budiasih, M.S., (II) Dr. Yudhi Utomo, M.Si.Kata Kunci : bahan ajar, REACT, representasi, laju reaksiMateri laju reaksi mempunyai tingkat generalisasi yang tinggi karena dijelaskan menggunakan tiga perbedaan representasi, serta berkaitan dengan erat dengan kehidupan sehari-hari. Beberapa konsep laju reaksi bersifat abstrak karena dijelaskan dalam bentuk representasi submikroskopik sehingga seringkali sulit dipahami oleh peserta didik, sedangkan fenomena yang dapat diamati secara langsung dijelaskan menggunakan representasi makroskopik, kemudian konsep dan fenomena dalam kehidupan sehari-hari dalam materi kimia direpresantasikan dalam bentuk persamaan laju  reaksi atau gambar grafik. Ketiga representasi pada materi laju reaksi harus disajikan secara terstruktur untuk membantu siswa dalam mengkonstruk pemahaman secara utuh. Pemahaman tentang fenomena laju reaksi akan lebih mudah jika menyajikan fakta-fakta yang ada di sekitar peserta didik. REACT merupakan suatu model pembelajaran yang memiliki 5 tahap pembelajaran, yaitu relating (mengkaitkan), experiencing (mengalami), applying (mengaplikasikan), cooperating (bekerja sama), dan transferring (mentransfer). Pemahaman dalam tiga representasi kimia tersebut dapat diaplikasikan dalam pembelajaran REACT sehingga tercipta pembelajaran laju reaksi yang bermakna. Hal tersebut dapat dicapai dengan cara menyediakan bahan ajar yang sesuai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan bahan ajar laju reaksi berbasis REACT dengan melibatkan representasi makroskopik, submikroskopik, dan simbolik yang layak digunakan.Pengembangan bahan ajar ini mengadopsi model pengembangan 4D oleh Thiagarajan, dkk. (1974) yang terdiri dari empat tahapan, yakni define, design, develop, dan disseminate. Namun penelitian ini dibatasi hanya sampai tahap ketiga, sedangkan tahap disseminate tidak dilakukan karena terbatasnya waktu dan finansial. Validasi dilakukan oleh satu dosen kimia dan satu guru kimia SMA. Uji keterbacaan dilakukan kepada satu kelas dengan 28 peserta didik SMA Negeri 1 Purwosari. Instrumen validasi dan uji keterbacaan menggunakan angket penilaian. Klasifikasi pada angket validasi dan angket uji keterbacaan menggunakan kriteria tertentu.Hasil validasi bahan ajar yang dilakukan oleh dua validator ahli terhadap buku guru diperoleh rata-rata sebesar 97,80% untuk performansi bahan ajar secara menyeluruh dengan kriteria sangat layak. Hasil validasi bahan ajar pada buku siswa diperoleh rata-rata sebesar 97,00% untuk performansi bahan ajar secara menyeluruh dengan kriteria sangat layak. Berdasarkan kritik dan saran dari validator maka bahan ajar direvisi. Setelah menjalani tahap revisi, bahan ajar diuji keterbacaan. Hasil uji keterbacaan menunjukkan bahwa bahan ajar dinyatakan sangat layak untuk digunakan dengan rata-rata persentase 84,50%. Saran untuk pengembangan produk lebih lanjut adalah peneliti lain dapat melakukan uji efektifitas penggunaan bahan ajar

    Pengembangan Unit Kegiatan Belajar Mandiri (UKBM) Materi Konfigurasi Elektron dan Sifat Periodik Unsur-Unsur Berbasis Inkuiri Terbimbing untuk Siswa Kelas X SMA.

    No full text
    Kurikulum 2013 telah mengimplementasikan program Sistem Kredit Semester (SKS) secara terbatas. Untuk melayani bakat, minat, dan kemampuan siswa yang beragam, kurikulum ini menerapkan metode belajar mandiri berbantuan modul atau bahan ajar yang disebut sebagai Unit Kegiatan Belajar Mandiri (UKBM). UKBM berisi paparan materi pelajaran dan latihan soal-soal, kurang memberikan perhatian pada aspek keterampilan berpikir tinggi (Higher Order Thinking Skills/ HOTS) dan keterampilan abad 21 yang terkenal dengan sebutan 4C (critical thinking, creativity, collaboration, communication). Salah satu pembelajaran yang berorientasi pada HOTS dan 4C adalah pembelajaran berbasis inkuiri, termasuk di dalamnya inkuiri terbimbing. Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk mengembangkan Bahan Ajar Unit Kegiatan Belajar Mandiri (UKBM) berbasis inkuiri terbimbing materi konfigurasi elektron dan sifat periodik yang berorientasi HOTS dan 4C serta mengevaluasi kelayakannya untuk digunakan dalam pembelajaran.Penelitian dan pengembangan ini menerapkan model 4D yang terdiri atas empat fase, yakni define, design, develop, dan disseminate (Thiagarajan, 1974). Pada pengembangan ini tidak diakukan tahap disseminate karena keterbatasan penulis. Terdapat dua data yang diperoleh dalam penelitian, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data ini diperoleh dari uji validasi dan uji keterbacaan. Validasi bahan ajar dilakukan oleh tiga validator, yaitu satu dosen kimia Universitas Negeri Malang, dan dua guru SMA Negeri 1 Kepanjen. Sedangkan uji keterbacaan bahan ajar dilakukan oleh 10 siswa SMAN 1 Kepanjen. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik persentase.Hasil analisis menunjukkan bahwa: (a) skor rata-rata validitas RPP adalah 88,90 (sangat valid) dan layak digunakan untuk mengembangkan UKBM, (b) Skor rata-rata validitas UKBM adalah 91,25% (sangat valid) dan layak digunakan untuk bahan belajar siswa secara mandiri,  dan (c) persentase rata-rata uji keterbcaan oleh siswa diperoleh hasil sebesar 90,00% dengan kriteria sangat layak. Hal ini menunjukkan bahwa UKBM materi konfigurasi elektron dan sifat periodik unsur berbasis inkuiri terbimbing untuk siswa kelas X SMA dinyatakanvalid dan praktis

    0

    full texts

    1,785

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇