SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Adsorpsi-Desorpsi Hasil Ekstrak Tanaman Padi Terinfeksi Wereng Batang Coklat Pada Penjerap Silika Gel dan Silika Surfaktan
ABSTRACT Adsorpsi-Desorpsi Hasil Ekstrak Tanaman Padi Terinfeksi Wereng Batang Coklat Pada Penjerap Silika Gel dan Silika Surfaktan Adsorpsi merupakan salah satu cara yang digunakan untuk pemisahan dalam kimia. Adsorpsi yaitu menjerap suatu senyawa dan melepaskan senyawa yang lain bergantung pada sifat adsorben dan adsorbat. Silika gel dan silika-surfaktan merupakan jenis adsorben yang sering digunakan dalam proses adsorpsi. Kedua adsorben diuji adsorpsi-desorpsinya dengan hasil ekstrak tanaman padi terinfeksi menggunakan analisis GCMS. Ekstrak padi terinfeksi di indikasikan mengandung senyawa kairomon yang digunakan sebagai atraktan parasitoid. Penelitian ini betujuan mengetahui adsorpsi desorpsi dari adsorben silika gel dan silika surfaktan. Penelitian ini diawali dengan mengekstrak tanaman padi terinfeksi hama wereng menggunakan pelarut metanol. Kemudian membuat media penjerap silika gel dari abu sekam padi dan silika yang ditambahkan surfaktan. Kedua adsorben dikarakterisasi untuk diuji fisik maupun uji BET. Adsorben silika gel dan silika-surfaktan ditetesi ekstrak tanaman padi dan ditutup rapat. Gas yang dilepas di ambil dengan menggunakan syring kemudian dianalisis menggunakan GC-MS sehingga dapat diketahui senyawa yang dilepas oleh kedua adsorben. Hasil penelitian menunjukkan bahwa silika gel dapat mendesorpsi lebih banyak senyawa dibanding silika surfaktan. Berdasarkan hasil GCMS silika gel memiliki kemampuan mendesorpsi lebih baik dibanding silika surfaktan. Silika surfaktan dapat menyerap hasil ektrak tanaman padi, tapi tidak dapat mendesorpsikannya kembali.
Identifikasi Miskonsepsi Siswa Kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Pasuruan pada Topik Konservasi Materi Menggunakan Tes Diagnostik Pilihan Ganda Dua Tingkat
ABSTRACT Sakina, Ade. 2016. Identifikasi Miskonsepsi Siswa Kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Pasuruan pada Topik Konservasi Materi Menggunakan Tes Diagnostik Pilihan Ganda Dua Tingkat. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Prayitno, M. Pd. (II) Dr. Sc. Anugrah Ricky Wijaya, M. Sc.Kata Kunci: miskonsepsi, konservasi materi, tes diagnostik pilihan ganda dua tingkatIlmu kimia bersifat abstrak dan membutuhkan kemampuan mengaitkan aspek makroskopis, submikroskopis, dan simbolis dalam mempelajarinya. Karakteristik kimia tersebut menyebabkan siswa mengalami kesulitan dan bahkan miskonsepsi. Miskonsepsi yang ditemukan Özmen dan Ayas (2003) di Turki menunjukkan bahwa massa zat hasil reaksi yang berupa endapan lebih besar daripada massa zat sebelum reaksi yang berupa cairan. Lebih lanjut Stavy (1990) di Israel menemukan miskonsepsi bahwa massa materi berwujud padat lebih besar daripada berwujud cair ataupun gas. Hasil observasi singkat peneliti di dua SMA Negeri Kabupaten Pasuruan menunjukkan sebanyak 61% siswa menganggap massa zat hasil reaksi yang berupa endapan lebih besar daripada massa zat sebelum reaksi yang berupa cairan. Hasil temuan tersebut menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari konservasi materi. Dari uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang bertujuan untuk: (1) Menemukan miskonsepsi siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Pasuruan pada topik konservasi materi yang melibatkan reaksi kimia dalam sistem tertutup dan terbuka; (2) Menemukan miskonsepsi siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Pasuruan dalam memecahkan soal tipe partikulat pada topik konservasi materi; dan (3) Menemukan miskonsepsi siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Pasuruan pada topik konservasi materi yang melibatkan perubahan wujud zat dalam sistem tertutup dan terbuka.Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan kepada 240 siswa kelas XI di enam SMA Negeri Kabupaten Pasuruan tahun ajaran 2015/2016. Instrumen penelitian yang digunakan berupa tes diagnostik pilihan ganda dua tingkat dengan reliabilitas sebesar 0,75. Hasil penelitian diperoleh sebanyak 26 macam miskonsepsi siswa tentang konservasi materi. Miskonsepsi dengan persentase terbesar adalah sebagai berikut: (1) sebesar 49% siswa menganggap bahwa massa zat hasil reaksi yang berupa endapan lebih besar daripada massa zat sebelum reaksi yang berupa cairan; (2) sebesar 56% siswa tidak memperhatikan zat sisa hasil reaksi dalam konteks konservasi materi dalam reaksi kimia; dan (3) sebesar 56% siswa menganggap bahwa massa total setelah seluruh es mencair lebih besar daripada massa total semula
Diagnosis Miskonsepsi Peserta Didik Kelas X di SMA Negeri Kabupaten Sumenep pada Materi Struktur Atom Menggunakan Tes Diagnostik Pilihan Ganda Dua Tingkat
ABSTRACT Prasemmi, Senna. 2016. Diagnosis Miskonsepsi Peserta Didik Kelas X di SMA Negeri Kabupaten Sumenep pada Materi Struktur Atom Menggunakan Tes Diagnostik Pilihan Ganda Dua Tingkat. Skripsi, Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Prayitno, M.Pd., (2) Dr. Yahmin, M.Si.Kata kunci: miskonsepsi, struktur atom, tes diagnostik pilihan ganda dua tingkat.Struktur atom merupakan materi dasar dalam pembelajaran kimia. Konsep-konsep dalam struktur atom yang abstrak dapat menyebabkan peserta didik mengalami miskonsepsi pada materi ini. Miskonsepsi merupakan pemahaman konsep peserta didik yang berbeda dengan pemahaman konsep yang disepakati oleh masyarakat ilmiah. Diagnosis miskonsepsi peserta didik pada materi struktur atom penting dilakukan agar guru dapat merancang suatu pendekatan pembelajaran yang memudahkan peserta didik memahami konsep dasar kimia dengan baik serta mencegah terjadinya miskonsepsi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan miskonsepsi yang sering dialami peserta didik pada materi struktur atom dan memetakan jenis miskonsepsi serta intensitas peserta didik yang mengalami miskonsepsi. Salah satu instrumen yang efektif untuk mendiagnosis miskonsepsi adalah tes pilihan ganda dua tingkat, yaitu tingkat pertama berisi pilihan jawaban dan tingkat kedua berisi pilihan alasan yang mengacu pada pilihan jawaban di tingkat pertama.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan sampel penelitian 363 peserta didik dari tujuh SMA Negeri di kabupaten Sumenep tahun ajaran 2015/2016. Prosedur penelitian ini secara garis besar, yaitu: (1) mengkaji literatur; (2) menyusun instrumen penelitian; (3) mengumpulkan data; dan (4) menyusun kesimpulan. Penyusunan tes diagnostik pilihan ganda dua tingkat terdiri atas 3 tahap, yaitu: (1) menentukan isi; (2) mengumpulkan informasi mengenai miskonsepsi peserta didik pada materi struktur atom; dan (3) menyusun tes diagnostik pilihan ganda dua tingkat. Instrumen yang digunakan berisi 26 butir soal dengan 2-4 alternatif jawaban disertai 2-4 alternatif alasan pilihan jawaban. Setiap konsep terdapat dua butir soal yang berpasangan. Miskonsepsi ditentukan dari jawaban yang konsisten salah pada soal-soal dengan konsep yang sama. Hasil validasi butir soal menggunakan SPSS for Windows 16 dengan teknik analisis korelasi Pearson Product Moment dengan taraf signifikan 5% diperoleh 26 butir soal valid dan nilai Cronbach Alpha diperoleh 0,865. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik kelas X di SMA Negeri kabupaten Sumenep mengalami miskonsepsi pada materi struktur atom, yaitu pada konsep: (1) pengaruh pemanasan atau pendinginan terhadap ukuran dan susunan partikel atom; (2) pengaruh jarak terhadap gaya tarik antara inti dan elektron; (3) jari-jari atom dan ion; (4) isotop; (5) tingkat energi; (6) susunan orbital dalam atom menurut teori mekanika kuantum; (7) struktur atom menurut teori mekanika kuantum; (8) eksitasi elektron; dan (9) energi ionisasi pertama dalam satu periode
Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Kolaboratif (Collaborative Learning) terhadap Hasil Belajar Kognitif Siswa Kelas XI IPA SMA pada Materi Pokok Hidrolisis Garam
ABSTRACT Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Kolaboratif (Collaborative Learning) terhadap Hasil Belajar Kognitif Siswa Kelas XI IPA SMA pada Materi Pokok Hidrolisis GaramSenja, Anggi Mega. 2016. Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Kolaboratif (Collaborative Learning) terhadap Hasil Belajar Kognitif Siswa Kelas XI IPA SMA pada Materi Pokok Hidrolisis Garam. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: Dr. Munzil, S.Pd., M.Si. Pembimbing II : Dr. Nazriati, M.Si.Kata Kunci : Pembelajaran Kolaboratif, Hasil Belajar Kognitif, Hidrolisis garamKimia adalah salah satu pelajaran wajib bagi siswa yang mengikuti program IPA di SMA/MA. Kemampuan siswa yang berbeda-beda mengakibatkan pemahaman siswa terhadap materi hidrolisis garam juga berbeda-beda. Sehingga dibutuhkan metode pembelajaran yang tepat agar siswa dengan kemampuan tinggi dapat berinteraksi dengan siswa berkemampuan rendah. Jika terjadi interaksi yang positif maka siswa dapat memperoleh pengetahuan secara mandiri. Perolehan pengetahuan secara mandiri membuat pengetahuan yang diperoleh bertahan lebih lama. Salah satu model pembelajaran yang melibatkan interaksi antara guru dan siswa serta interaksi siswa dengan siswa adalah model pembelajaran kolaboratif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh penerapan pembelajaran kolaboratif terhadap hasil belajar kognitif siswa kelas XI SMA Negeri 6 Malang dalam mempelajari materi hidrolisis garam.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu dengan model post test only design. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMAN 6 Malang. Pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling dan diperoleh dua kelas, yaitu kelas XI IPA 3 sebagai kelas eksperimen yang dibelajarkan dengan pembelajaran kolaboratif, dan kelas XI IPA 4 sebagai kelas kontrol yang dibelajarkan dengan model pembelajaran diskusi. Instrumen penelitian divalidasi dengan tingkat validasi 90 % dengan kriteria sangat baik. Analisis data dilakukan dengan uji t pada nilai a = 0,05. Analisis statistik dengan uji-t independent sample test digunakan untuk menguji perbedaan hasil belajar kognitif siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil penelitiaan menunjukkan rata-rata hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran kolaboratif (64,12) lebih tinggi dibandingkan rata-rata hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran diskusi adalah (51,36)
Isolasi dan SeleksiKapang Strain LokalPenghasil Lignin Peroksidase dari Kulit Kakao Lapuk Perkebunan Kakao Sepawon Kabupaten Kediri
ABSTRACT Delila, Liling. 2016. Isolasi dan Seleksi Kapang Strain Lokal Penghasil LigninPeroksidase dari Kulit Kakao Lapuk Perkebunan Kakao SepawonKabupaten Kediri. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas NegeriMalang. Pembimbing: (1) Evi Susanti, S.Si., M.Si., (II) Eli HendrikSanjaya, S.Si., M.SiKata Kunci: isolasi, kapang, lignin peroksidase, kulit kakaoLignin peroksidase diketahui dapat digunakan untuk mendegradasisenyawa aromatik yang sulit terurai seperti aromatik lignin non fenolik(diarylpropane), ikatan β-O-4 lignin non fenolik, aromatic azo dan berbagaisenyawa fenolik (guaciacol, vanilin alkohol, katekol, dan sringicacid). Ligninperoksidase dihasilkan oleh kapang pelapuk kayu (seperti P. Crysosporium, danC. Supvermispora). Penelitian mengenai lignin peroksidase dari kapangindigenous Indonesia masih sangat sedikit padahal lignin peroksidase adalah salahsatu enzim peroksidase yang di masa mendatang kebutuhannya akan semakinmeningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) keragaman isolatkapang penghasil lignin peroksidase dari kulit kakao lapuk Perkebunan KakaoSepawon Kabupaten Kediri (2) kemampuan isolat kapang terduga penghasil ligninperoksidase dari kulit kakao lapuk Perkebunan Kakao Sepawon Kabupaten Kediridalam memproduksi lignin peroksidase.Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu: (1) pengambilan sampel diperkebunan kakao Sepawon Kabupaten Kediri (2) isolasi, pemurnian, dan seleksikapang penghasil lignin peroksidase dari limbah kulit kakao perkebunan kakaoSepawon Kabupaten Kediri menggunakan media selektif Minimum Salt Mediumalkali Lignin (MSM-L), monospora dan seleksi metilen biru (3) Identifikasi isolatkapang terduga penghasil lignin peroksidase secara mikroskopis dengan teknikslide culture, dan (4) identifikasi produksi lignin peroksidase dalam kultur cairmeliputi; tahapan pembuatan suspensi spora, pertumbuhan dan produksi suspensispora dalam media produksi cair MSM-L. Kadar protein untuk menentukan kurvapertumbuhan dilakukan dengan metode Lowry. Uji aktivitas lignin peroksidase didasarkan pada kemampuan lignin peroksidase mengoksidasi veratril alkoholmenjadi veratril aldehida dengan adanya H2O2. Satu unit aktifitas ligninperoksidase sebanding dengan 1 µmol veratril aldehid yang dihasilkan permenitHasil penelitian yang diperoleh adalah, diketahui ada beberapa keragamanisolat kapang penghasil lignin peroksidase dari kulit kakao lapuk perkebunankakao Sepawon Kabupaten Kediri dan mampu menghasilkan aktifitas lignin peroksidase
Pengembangan Bahan Ajar Menggunakan Pendekatan Saintifik untuk Mengeksplisitkan Hakikat Sains (NOS) dan Berpikir Kritis pada Materi Larutan Penyangga
ABSTRAK Kurniawati, Riskaviana. 2015. Pengembangan Bahan Ajar Menggunakan Pendekatan Saintifik untuk Mengeksplisitkan Hakikat Sains (NOS) dan Berpikir Kritis pada Materi Larutan Penyangga. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Prayitno, M.Pd. (II) Dr. Fauziatul Fajaroh, M.S. Kata Kunci: bahan ajar, literasi sains, pendekatan saintifik, hakikat sains (NOS), berpikir kritis, model 4D Bahan ajar pada materi larutan penyangga yang ada saat ini kecenderungannya masih bersifat informatif dan menuntut siswa untuk menghafal rumus. Hal demikian ini dapat membuat siswa mengalami kesulitan dalam mengkonstruks konsep. Rendahnya pemahaman konsep sains siswa Indonesia tercermin pada hasil PISA. Hasil PISA pada tahun 2009 (ranking 38 dari 40 negara) dan pada tahun 2012 (ranking 64 dari 65 negara). Keadaan demikian sebagai salah satu alasan pemerintah melakukan reformasi kurikulum yang bertujuan menjadikan masyarakat yang berliterasi sains. Literasi sains dapat ditingkatkan dengan menerapkan hakikat sains (NOS) dan berpikir kritis. Fakta yang ada di lapangan, bahan ajar kimia yang ada masih belum mengeksplisitkan hakikat sains (NOS). Oleh karena itu, dalam pembelajaran larutan penyangga perlu dikembangkan bahan ajar yang menerapkan pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik dan mengajarkan secara eksplisit aspek hakikat sains (NOS) dan berpikir kritis. Bahan ajar ini dapat mengarahkan siswa memahami hakikat sains (NOS) melalui pernyataan langsung dan melatih siswa dalam berpikir kritis sehingga akan meningkatkan literasi sains mereka. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menghasilkan prototipe bahan ajar menggunakan pendekatan saintifik untuk mengeksplisitkan hakikat sains (NOS) dan berpikir kritis pada materi larutan penyangga serta mengetahui kelayakan prototipe bahan ajar yang dikembangkan. Penelitian pengembangan yang dilakukan menggunakan model 4D yang terdiri dari empat tahap yaitu, tahap pendefinisian (define), perancangan (design), pengembangan (develop), dan diseminasi (disseminate). Namun model 4D yang digunakan dalam penelitian ini hanya terbatas sampai tahap develop. Bahan ajar yang telah dikembangkan divalidasi oleh dua orang dosen serta dua orang Guru Kimia SMA. Validasi dilakukan untuk memperoleh data berupa penilaian dan saran-saran dari validator. Hasil penelitian pengembangan terdiri dari buku siswa dan buku guru yang menggunakan pendekatan saintifik untuk mengeksplisitkan hakikat sains (NOS) dan berpikir kritis pada materi larutan penyangga. Dari hasil validasi bahan ajar secara keseluruhan diperoleh nilai rata-rata sebesar 90,46% untuk buku siswa dengan kriteria sangat layak dan 90,40% untuk buku guru dengan kriteria sangat layak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bahan ajar pendekatan saintifik untuk mengeksplisitkan hakikat sains (NOS) dan berpikir kritis pada materi larutan penyangga telah layak untuk dilakukan uji lapangan
Pengembangan Bahan Ajar Materi Reaksi Redoks dan Elektrokimia Menggunakan Pendekatan Saintifik dengan Mengeksplisitkan Hakikat Sains (NOS) dan Berpikir Kritis
ABSTRAK Mahanani, Intan. 2014. Pengembangan Bahan Ajar Materi Reaksi Redoks dan Elektrokimia Menggunakan Pendekatan Saintifik dengan Mengeksplisitkan Hakikat Sains (NOS) dan Berpikir Kritis. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dra. Sri Rahayu, M.Ed., Ph.D (2) Dr. Yahmin, S.Pd., M.Si. Kata kunci: pendekatan saintifik, hakikat sains, berpikir kritis, Implementasi Kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memahami dan mengaplikasikan materi kurikulum. Materi reaksi redoks dan elektrokimia merupakan salah satu materi yang sangat aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Hasil analisa terhadap bahan ajar materi reaksi redoks dan elektrokimia yang tersedia saat ini menunjukkan bahan ajar belum relevan dengan konsep pendekatan saintifik yang diimplementasikan dalam Kurikulum 2013. Untuk mendukung implementasi Kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik yang efektif diperlukan pengembangan bahan ajar yang memuat langkah-langkah pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah, hakikat sains dan berpikir kritis secara eksplisit. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan bahan ajar yang memudahkan peserta didik dalam memahami materi reaksi redoks dan elektrokimia dengan menggunakan pendekatan ilmiah, hakikat sains, dan berpikir kritis. Model penelitian dan pengembangan ini menggunakan model pengembangan 4D yang dikemukakan oleh Thiagarajan. Model pengembangan 4D terdiri atas empat tahapan yaitu, pembatasan (define), perancangan (design), pengembangan (develop), dan penyebaran (disseminate). Dalam pengembangan bahan ajar ini hanya sampai tahap pengembangan (develop). Bahan ajar yang telah dikembangan kemudian divalidasi menggunakan instrumen berupa angket checklist oleh validator ahli materi dan ahli pembelajaran. Data hasil validasi ini kemudian dianalisis secara kualitatif untuk data berupa komentar/saran dan kuantitatif untuk skor Likert yang diperoleh. Bahan ajar layak digunakan apabila skor dari data kuantitatif ³ 61%. Bahan ajar hasil pengembangan terdiri atas buku siswa dan buku guru. Buku siswa memuat tiga subbab yaitu, penyetaraan reaksi redoks, sel elektrokimia, dan sel elektrolisis yang materinya telah disesuaikan dengan langkah-langkah pendekatan saintifik serta memuat aspek hakikat sains (NOS) dan indikator berpikir kritis. Buku guru dilengkapi dengan pedoman penggunaan buku guru, RPP, dan instrumen penilaian. Dari hasil validasi diperoleh nilai rata-rata 89,9% untuk buku siswa dengan kriteria sangat layak dan 86,3% untuk buku guru dengan kriteria sangat layak. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa bahan menggunakan pendekatan saintifik dengan mengeksplisitkan hakikat sains dan berpikir kritis pada materi redoks dan elektrokimia sangat layak untuk digunakan dalam pembelajaran
Isolasi dan Identifikasi Bakteri Indigenous Penghasil Keratinase dari Sampel Tanah
ABSTRAK Riesmi, Maurilla Trisna. 2015. Isolasidan Identifikasi Bakteri Indigenous Penghasil Keratinasedari Sampel Tanah. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suharti, S.Pd.,M.Si., (II) Evi Susanti, S.Si., M.Si. Kata kunci: Isolasi, keratinase,indigenous. Struktur kimia utama dari bulu ayam adalah protein serat struktural, keratin. Keratin sangat stabil karena adanya jembatan disulfide dan interaksi hidrofobik yang kuat. Pada umumnya, keratin dapat didegradasi oleh keratinase yang merupakan protease spesifik yang dapat menghidrolisis ikatan peptide pada keratin. Enzim ini banyak dihasilkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, fungi, dan actinomycetes. Enzim tersebut mendegradasi bulu ayam dan mengubahnya menjadi peptide pendek dan asam amino yang dapat berguna sebagai sumber asam amino esensial pada ternak. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendapatkan isolate mikroba indigenous penghasil keratinase dari tanah yang dicampur dengan bulu ayam; (2) mengetahui spesies mikroba yang telah diisolasi dengan identifikasi mikroba dengan analisis fenotip.Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap: (1) isolasi bakteri penghasil keratinase dari sampel tanah; (2) identifikasi bakteri secara uji fenotip. Isolasi bakteri penghasil keratinase dilakukan dengan menumbuhkan mikroorganisme yang ada dalam tanah yang diambil dari campuran tanah dan bulu ayam yang diambil di DesaWajak, Malang. Selanjutnya, diseleksi secara bertahap pada media selektif susu skim-agar dan keratin-agar pada suhu 37℃. Koloni positif dites secara bertahap untuk mengetahui kemampuanya dalam mendegradasi bulu ayam utuh dengan menginkubasi mikroba pada media cair yang mengandung bulu ayam utuh. Aktivitas keratinase diketahui melalui penentuan %weight loss bulu ayam dan penentuan kadar tirosin yang dihasilkan selama proses degradasi bulu ayam. Identifikasi isolate bakteri dilakukan melalui uji fenotip meliputi uji morfologi dan fisiologi. Bakteri indigenous yang dinamai isolat MD24 telah berhasil diisolasi. Bakteri isolat MD24 dapat membentuk zona bening pada media selektif susu skim-agar yang diinkubasi pada suhu 37 ℃. Pada keratin-agar, isolat MD24 dapat tumbuh setelah diinkubasi padasuhu 37 ℃. Isolat MD24 dapat menghasilkan keratinase karena mampu mendegradasi bulu ayam selama 10 hari dengan menghasilkan %weight loss dan kadar tirosin yang yang cukup tinggi dari 0,11 gram bulu ayam dalam 60 mL larutan garam
Studi Komputasi Metilasi Kaempferol Dengan Metode DFT
ABSTRAK Suseno, Citra Rizkylillah. 2015. Studi Komputasi Metilasi Kaempferol Dengan Metode DFT. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Siti Marfu’ah, M.S. (II) Dr. Yahmin, S.Pd., M.Si. Kata kunci : kaempferol, metilasi, struktur keadaan transisi, DFT Kaempferol merupakan senyawa flavonoid yang berguna sebagai antioksidan dan antibakteri. Untuk meningkatkan aktivitas antioksidan dan antibakteri dapat dilakukan dengan memetilasi gugus hidroksil. Reaksi metilasi kaempferol telah dilakukan secara eksperimen dan sudah diketahui produk akhir yang dihasilkan. Akan tetapi struktur keadaan transisi, energi aktivasi dan kereaktifan gugus hidroksil belum diketahui. Oleh karena itu dilakukan penelitian secara teoritis untuk mengetahui (1) struktur keaaan transisi dan energi aktivasi yang menyertai dan (2) reaktivitas gugus 3-OH, 5-OH dan 7-OH pada kaempferol. Penelitian teoritis ini terdiri dari empat tahapan yaitu (1) pembuatan struktur molekul reaktan dan produk (2) Optimasi geometri dan perhitungan energi reaktan dan produk (3) perhitungan energi keadaan transisi (4) perhitungan Intrinsic Reaction Coordinate (IRC). Metode yang digunakan adalah DFT dengan fungsi hybrid B3LYP dan himpunan basis 6-311G+(d,p). Hasil dari penelitian ini adalah tiga struktur keadaan transisi yaitu KT metilasi 3-O kaempferol, KT metilasi 5-O kaempferol dan KT metilasi 7-O kaempferol. Energi aktivasi metilasi 3-O kaempferol sebesar 53.587 kkal/mol, metilasi 5-O kaempferol sebesar 84.239 kkal/mol dan metilasi 7-O kaempferol sebesar 49.404 kkal/mol . Energi aktivasi metilasi 7-O kaempferol mempunyai nilai paling rendah, sehingga laju reaksi metilasi 7-O kaempferol paling cepat. Hal ini berarti 7-O kaempferol kereaktifannnya paling besar pada reaksi metilasi
Efektivitas Penerapan Modul Tatanama Senyawa Biner dan Anion Poliatomik Berbasis Konsep Sukar dan Kesalahan Konsep pada Pemahaman dan Persepsi Peserta Didik Kelas X IPA SMAN8 Malang
ABSTRAK Mustikasari, Putri. 2015. Efektivitas Penerapan Modul Tatanama Senyawa Biner dan Anion Poliatomik Berbasis Konsep Sukar dan Kesalahan Konsep pada Pemahaman dan Persepsi Peserta Didik Kelas X IPA SMAN8 Malang. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Fariati, M. Sc., (II) Oktavia Sulistina, S.Pd., M. Pd. Kata kunci: modul tatanama senyawa, konsep sukar, kesalahan konsep, pemahaman,persepsi Tatanama senyawa biner dan anion poliatomik merupakan konsep dasar yang perlu dipahami dengan benar sebelum peserta didik mempelajari penulisan persamaan reaksi.Kesulitan yang dialami peserta didik dalam memahami konsep tatanama senyawa biner dan anion poliatomik dapat menimbulkan konsep sukar. Jikakonsepsukarterjadiberulang-ulangdanterusmenerusmakadapat me-nyebabkankesalahan konsep.Hasil observasi menunjukkansebanyak 54 peserta didik kelas X IPA SMAN 8 Malang mendapat nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada ulangan hariantatanama senyawa kimia, sehingga belum mencapai ketuntasan belajar.Hal tersebutterjadikarena peserta didik mengalami konsep sukar dan kesalahan konsep. Peserta didik yang belum tuntas harus mengikuti pembelajaran remedial.Berdasarkan observasi, pembelajaran remedial yang dilakukan yaitu dengan pemberian latihan soal atau langsung diberikan ulangan remedial. Pembelajaran remedial dapat dilaksanakan dengan metode dan media yang berbeda dan pemberian latihan-latihan secara khusus.Salah satu penyebab peserta didik mengalami konsep sukar dan kesalahan konsep dimungkinkan karena bahan ajar yang kurang sesuai.Penelitian yang dilakukan,merupakan tahap lanjutan dari penelitian dan pengembangan modul berbasis konsep sukar dan kesalahan konsepdengan persentase kelayakan sebesar 86,67% (sangat valid)padapembelajaran remedial.Tujuan penelitian adalah men-deskripsikan keterlaksanaan pembelajaran, ketuntasan belajar, pemahaman, persepsi peserta didik, dan mengetahuiefektivitas modul dibanding latihan soal. Penelitian yang dilakukan adalah eksperimen murnidengan desaingrup kontrol pretes-postes.Sebanyak 54 peserta didik yang belum tuntas dibagi secara acak kemudian diambil 36 peserta didik sebagai sampel penelitian, sehingga didapat masing-masing 18 peserta didik di kelas eksperimen dibelajarkan denganbantuan modul dan kelas kontrol yang dibelajarkan denganbantuan latihan soal.Instrumen perlakuan yang digunakan adalah RPP, modul tatanama senyawa biner dan anion poliatomik berbasis konsep sukar dan kesalahan konsep, dan latihan soal. Instrumen pengukuran yang digunakan adalah tes diagnostik dengan validitas 92,3% (sangat valid) dan reliabilitas sebesar 0,687 (baik), angket persepsi peserta didik, dan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran. Teknik analisis statistik yang digunakan adalah uji-t dengan taraf signifikansi sebesar 0,050dandidukungperhitungangainternomalisasi. Hasil penelitian dilaporkan bahwa peserta didik yang dibelajarkan denganbantuan modul tatanama senyawa biner dan anion poliatomik dan bantuan latihan soal pada keterlaksanaan pembelajaran, ketuntasan belajar, penurunan persentase jawaban salah serta persentase kesalahan berturut-turut adalah 95,2% (baik) dan 88,6% (baik); 77,8% dan 38,9%;46,8% dan 34,3%; serta 13,2% dan 9,7%.Hasil uji-t (sig. (2-tailed) = 0,045) membuktikan bahwaada perbedaan pemahamanantara peserta didik kelas X IPA SMAN 8 Malang yang belum tuntas yang dibelajarkan dengan bantuan modul dan latihan soal. Perhitungan gainternomalisasi menunjukkan pemahaman peserta didik yang dibelajarkan dengan modul dan latihan soal berturut-turut adalah tinggi (0,74) dan sedang(0,55). Dari hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa modul tatanama senyawa biner dan anion poliatomik berbasis konsep sukar dan kesalahan konsep efektif digunakan sebagai bahan ajaruntuk meningkatkan pe-mahaman peserta didik.Persepsi peserta didik terhadap isi (83,8%) dan pem-belajaran menggunakan modul (77,1%) sangat positif. Hambatan pembelajaran adalah waktu yang terlalu singkat (58,3%) dan uraian materi dalam modul terlalu banyak (27,9%), sehingga peserta didik menyarankan modul boleh digandakan atau dibawa pulang (50,0%) dan uraian materi yang diberikan lebih ringkas (38,5%).Peserta didik perlu diajari cara membaca bahan ajar dengan tuntas, sehingga dapat memahami konsep kimia dengan utuh. ABSTRACT Mustikasari, Putri. 2015. The Effectiveness of Application of Binary Compounds and Polyatomic Anions Nomenclature Module Based on the Students’ Difficult Concept and Misconception toUnderstanding and Perception of Grade X Science of SMAN 8 Malang.Thesis, Chemistry Department, Mathematics and Science Faculty, State University of Malang. Advisors: (1) Dr. Fariati, M. Sc., (2) OktaviaSulistina, S. Pd., M.Pd. Keywords: compounds nomenclature module, difficult concept, misconception, understanding, perception The nomenclature of binary compounds and polyatomic anions is a basic concept that needs to be understood correctly by students before they learn to write equation of reaction. The difficulties that was experienced by students in understanding the concept of binary compounds and polyatomic anions nomenclature can causedifficultconcept. If difficult concept happen multiple times and continue then can cause misconception. The result of observation indicate that there were 54 students of class X Science in SMAN 8 Malang who had score below the minimum mastery learning criteria on examination of chemical compounds nomenclature topic, so they have not reached the mastery learning yet.This was happened because the students were having the difficult concept and misconception. Students who have not mastery learning should follow the remedial teaching. Based on the observation, remedial teaching was done by giving direct exercises or remedial test. Remedial teaching can be implemented with different method and media and giving special exercises. One of causes that make students experience the difficult concept and misconception were due to the lack of appropriate teaching materials.This research was acontinuationstep of the research and development of module based on students’ difficult concept and misconceptionwith haveeligibility percentage of 86.67% (very valid)on remedial teaching. The purposes of this research are to describe the learning’s feasibility, mastery learning, understanding, students’ perception, and to determine the effectiveness of the module compared by exercises. The research wastrue experimental with pretest-posttest control group design. Total of 54 students who have not mastery learning were randomly divided and 36 of them was taken as sample, so every class were consisted of 18 students in the experimental class who were taught with module and the control class who were taught with exercises. Treatment instruments were lesson plans, the nomenclature of binary compounds and polyatomic anions module based on students’ difficult concept and misconception, and exercises. Measurement instruments were the diagnostic test with validity of 92,3% (very valid) and reliability of 0,687 (good), the questionnaire of students’ perception, and the observation of learning’s feasibility sheet. Statistical analysis technique used t-test with a significance level was 0,050 and was supported by normalized gain. The results of the research reported that percentage of students who were taught with the module of binary compounds and polyatomic anions nomenclatureand exercises on the feasibility of learning, mastery learning, reduction of students’ wrong answers percentage and students’ error percentage respectively were 95,2% (good) and 88, 6% (good); 77,8% and 38,9%; 46,8% and 34,3%; and 13,2% and 9,7%. The t-test(sig.(2-tailed) = 0,045) result proved that there was differencebetween students’ understanding in class X Science at SMAN 8 Malang who have not reached mastery learningbetween students’ who were taught with nomenclature of binary compounds and polyatomic anions module and exercises. Normalized gain calculation showed students’ understanding who were taught with withnomenclature of binary compounds and polyatomic anions module and exercises respectively were high (0,74)andmedium(0,55). Based on the data analysis result, it can be concluded that the nomenclature of binary compounds and polyatomic anions module based on students’ difficult concept and misconceptionwas effective to be used as learning material to improve students’ understanding. Students’ perception of the content (83,8%) and learning that used the module (77,1%) was very positive. The learning obstacle were short allocation of time (58,3%) and the overly description of the material in the module (27,9%), so they suggested that module may be reproduced or be taken home (50,0%) and the description of the material should be more concise (38,5%). Students were needed to be taught how to read the instructional material thoroughly, so they can understand the chemical concepts comprehensively