SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
    1785 research outputs found

    ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI INDIGEN PENGHASIL KERATINASE DARI LIMBAH TAHU SERTA APLIKASI KERATINASENYA SEBAGAI AGEN DEHAIRING

    No full text
    ABSTRACT   Tyas, D. R. 2016. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Indigen Penghasil Keratinase dari Limbah Tahu serta Aplikasi Keratinasenya sebagai Agen Dehairing. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suharti, S.Pd., M.Si., (II) Muntholib, S.Pd., M.Si. Kata kunci: keratinase, isolasi, bakteri Bacillus Subtilis, dehairing Keratinase merupakan enzim protasae spesifik yang mengkatalisis degradasi keratin menjadi peptida-peptida pendek. Enzim keratinase dapat diperoleh dari berbagai bakteri. Keratinase dapat diaplikasikan dalam proses dehairing. Dehairing mengunakan keratinase lebih efektif dan lebih baik hasilnya daripada dehairing menggunakan bahan kimia, yaitu cara dehairing yang saat ini banyak digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) memperoleh isolat bakteri indigen penghasil keratinase dari limbah tahu, (2) mengetahui jenis isolat bakteri dengan identifikasi secara fenotip, (3) mengetahui pH optimum, temperatur optimum dan pengaruh logam terhadap aktivitas keratinase, dan (4) mengetahui potensi keratinase yang dihasilkan dalam proses dehairing. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen laboratorium yang dilakukan dalam tiga tahap, yaitu: (1) isolasi bakteri penghasil keratinase (2) identifikasi bakteri secara fenotip, dan (3) dehairing kulit menggunakan enzim keratinase berdasarkan kondisi optimum. Isolasi bakteri dilakukan dengan menumbuhkan mikroba pada bulu ayam yang telah direndam dengan limbah tahu di desa Pagerwojo, Kesamben, Blitar untuk memperkaya bakteri penghasil keratinase. Bakteri diseleksi pada media susu skim. Koloni tunggal hasil isolasi diidentifikasi secara fenotip di LAB Mikrobiologi UB. Kulit hasil dehairing dianalisis menggunakan SEM untuk mengetahui struktur permukaan kulit. Mikroba penghasil protease yang diberi nama isolatT2 telah berhasil diisolasi dan dapat membentuk zona bening pada media selektif susu skim-agar yang diinkubasi pada suhu 37 ℃ selama 24 jam. Isolat T2 terbukti menghasilkan keratinase karena mampu mendegradasi bulu ayam selama 5 hari dengan aktivitas tertinggi pada hari kedua sebesar (7,04 U/mL). Hasil uji fenotip menunjukkan bahwa mikroba hasil isolasi merupakan bakteri Bacillus subtilis. Keratinase dari Bacillus subtilis dapat diaplikasikan dalam proses dehairing, dibuktikan dengan tercabutnya rambut pada kulit

    Identifikasi Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan Soal-soal Reaksi Redoks Berdasarkan Perubahan Bilangan Oksidasi Menggunakan Analisis Langkah Penyelesaian Soal

    No full text
    ABSTRAK Anshory, Ahmad Faishal. 2016. Identifikasi Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan Soal-soal Reaksi Redoks Berdasarkan Perubahan Bilangan Oksidasi Menggunakan Analisis Langkah Penyelesaian Soal. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Muntholib, S.Pd., M.Si, (II) Dr. Irma Kartika Kusumaningrum, M.Si. Kata Kunci:identifikasikesulitan, reaksi redoks, bilangan oksidasi, analisis penyelesaian soal.             Reaksi redoks merupakan salah satu bahan kajian kimia yang tergolong sulit bagi siswa. Konsep utama bahan kajian ini, konsep redoks mengalami perubahan makna sampai empat kali, yakni redoks berdasarkan transfer oksigen, redoks berdasarkan transfer hidrogen, redoks berdasarkan transfer elektron dan redoks berdasarkan perubahan bilangan oksidasi. Perubahan makna konsep ini dan penyelesaian soal-soal redoks yang memerlukan banyak tahapan menyebabkan siswa kesulitan dalam memecahkan soal-soal reaksi redoks. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) kesulitan siswa dalam konsep redoks berdasarkan perubahan biloks, (2) letak kesulitan siswa dalam menerapkan langkah-langkah penyelesaian soal-soal konsep redoks berdasarkan perubahan biloks, dan (3) pemahaman konsep siswa terhadap reaksi redoks berdasarkan perubahan biloks.             Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian ini adalah 59 siswa kelas X MIA 1 dan X MIA 2 MAN Mojosari yang dipilih secara acak dengan menggunakan teknik acak kelas. Instrumen yang digunakan adalah 10 soal uraian dan wawancara tidak terstruktur. Data dari hasil penelitian berupa jawaban siswa dalam mengerjakan soal uraian digunakan untuk menentukan kesulitan siswa dengan cara membagi jumlah siswa yang menjawab salah dengan total keseluruhan siswa.             Hasil penelitian menunjukkan: (1) kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal-soal konsep redoks berdasarkan perubahan biloks terdapat pada:(a) bagaimana cara menentukan reaksi redoks (61,9%), (b) bagaimana cara menentukan reaksi autoredoks (69,87%), (c) bagaimana caramenentukan reaksi non-redoks (70,04%), (d) bagaimana cara menentukan oksidator, reduktor, hasil oksidasi, dan hasil reduksi (67,46%), (2) kesulitan siswa dalam menerapkan langkah-langkah penyelesaian soal reaksi redoks berdasarkan perubahan bilangan oksidasi dengan kesulitan paling tinggi terletak pada langkah menuliskan unsur yang mengalami reduksi dan oksidasi (74,51%) dan kesulitan paling rendah terletak pada langkah menentukan senyawa yang bertindak sebagai oksidator dan reduktor (48,57%) dan (3) pemahaman siswa terhadap konsep-konsep reaksi redoks berdasarkan perubahan biloks cukup baik

    Sintesis Nanokomposit Ag-Fe3O4 dengan Metode Reduksi

    No full text
    ABSTRAK   Sudarto, Dewi, A. 2016. Sintesis Nanokomposit Ag-Fe3O4  dengan Metode Reduksi. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Fauziatul Fajaroh, M.S., (II) Dr. Nazriati, M.Si.   Kata Kunci : Ag-Fe3O4, nanokomposit, metode reduksi. Magnetit (Fe3O4) merupakan oksida besi yang kuat sifat magnetisnya, tetapi  mudah teroksidasi. Ketahanan oksidasi magnetit akan meningkatkan, jika permukaannya dilapisi dengan suatu bahan,  antara lain perak. Sintesis komposit Ag-Fe3O4 ini dapat dilakukan dengan metode reduksi. Mula-mula ion Ag+ diadsorpsikan pada permukaan magnetit, kemudian ion tersebut direduksi sehingga terbentuk Ag-Fe3O4. Faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap proses ini adalah konsentrasi NaOH sebagai akselerator dan perbandingan mol perak nitrat terhadap glukosa sebagai agen pereduksi. Tujuan penelitian ini adalah mensntesis komposit  Ag-Fe3O4 dengan metode tersebut dan mempelajari pengaruh konsentrasi NaOH serta perbandingan mol AgNO3 terhadap glukosa pada karakter partikel nanokomposit Ag-Fe3O4 yang dihasilkan. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap utama. Pertama, sintesis nanopartikel magnetit secara elektrokimia yaitu melalui elektro-oksidasi besi dalam air. Kedua, sintesis nanokomposit Ag-Fe3O4 dengan metode reduksi pada konsentrasi NaOH dan perbandingan mol AgNO3 terhadap glukosa yang bervariasi. Proses sintesis komposit Ag-Fe3O4 terdiri dari dua tahap yaitu adsorpsi Ag+ pada permukaan Fe3O4 dan reduksi Ag+ menjadi Ag dengan reduktor glukosa. Proses adsorpsi dilakukan dengan sonikasi larutan AgNO3 dan Fe3O4 pada frekuensi 42 kHz selama 20 menit untuk mempermudah perak teradsorpsi pada permukaan magnetit dan memecah aglomerasi magnetit. Ketiga, karakterisasi nanokomposit Ag-Fe3O4 yang dihasilkan yang meliputi XRD, XRF, dan SEM-EDX. Hasil analisis XRD, XRF, dan SEM-EDX menunjukkan bahwa nanokomposit Ag-Fe3O4 telah berhasil disintesis. Konsentrasi NaOH dan perbandingan mol AgNO3 terhadap glukosa berpengaruh terhadap karakter partikel yang dihasilkan. Pada penelitian ini diperoleh kondisi optimum sintesis ditinjau dari kedua parameter tersebut

    Pengembangan Buku Siswa dan Buku Guru pada Materi Elektrokimia dengan Pendekatan Saintifik untuk Kelas XII SMA/MA

    No full text
    ABSTRAK   Saputra, Ryan Bagus. 2016. Pengembangan Buku Siswa dan Buku Guru pada Materi Elektrokimia dengan Pendekatan Saintifik untuk kelas XII SMA/MA. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Oktavia Sulistina, S,Pd., M.Pd., (2) Drs. Muhadi   Kata kunci: buku siswa, buku guru, pendekatan saintifik, elektrokimia Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang menggunakan pendekatan saintifik sebagai acuan dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini dipilih karena dapat melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran. Pendekatan saintifik menekankan proses peserta didik dalam membangun konsep melalui kegiatan mengamati, menanya, menggali informasi, mengasosiasikan, dan menyimpulkan.  Walaupun, pengimplementasian pendekatan saintifik telah dilakukan pada sekolah, pendekatan ini sulit untuk diterapkan. Hal ini dikarenakan, kurangnya pengaalaman guru dalam membelajarkan peserta didik dengan menggunakan pendekatan saintifik dan kurangnya sumber belajar yang mendukung pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran. Salah satu mata pelajaran pada Kurikulum 2013 adalah kimia. Elektrokimia merupakan bagian ilmu kimia yang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi.Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan buku siswa dan buku guru pada materi elektrokimia dengan pendekatan saintifik untuk kelas XII SMA/MA dan untuk mengetahui tingkat kelayakannya. Pengembangan buku siswa dan buku guru pada penelitian ini menggunakan Model pengembangan 4D yang direkomendasikan oleh Thiagarajan dkk (1974) yang terdiri dari empat tahapan yaitu, mendefinisi (define), merancang (design), mengembangkan (develop), dan menyebarluaskan (disseminate). Namun, pengembangan buku siswa dan buku guru ini hanya dilakukan sampai tahap ketiga. Validasi buku siswa dan buku guru dilakukan oleh satu dosen kimia dan dua guru kimia. Uji keterbacaan juga dilakukan pada buku siswa oleh sepuluh peserta didik. Instrumen pengumpulan data berupa angket penilaian dengan menggunakan skala Likert yang disertai lembar komentar dan saran, sehingga data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data yang telah diperoleh dianalisis secara deskriptif. Produk hasil pengembangan berupa buku siswa dan buku guru elektrokimia dengan pendekatan saintifik untuk kelas XII SMA/MA dalam bentuk cetak. Buku siswa terdiri dari 93 halaman dan buku guru terdiri dari 128yang mencakup bagian pendahuluan, isi, dan penutup. Buku siswa dan buku guru tersusun atas tiga materi yaitu, sel volta, sel elektrolisis, dan korosi. Masing-masing materi berisi kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan data, dan menyimpulkan. Berdasarkan hasil validasi diperoleh persentase rata-rata kelayakan untuk buku siswa sebesar 90,1% dan buku guru sebesar 88,7%. Dengan demikian, buku siswa dan buku guru pada materi elektrokimia dengan pendekatan saintifik untuk SMA/MA kelas XII ini memiliki kriteria sangat layak untuk digunakan sebagai sumber belajar

    Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Modified Discovery-Inquiry pada Materi Laju Reaksi Kelas XI SMA/MA

    No full text
    ABSTRACT Husna, Muhibatul. 2016. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Modified Discovery-Inquiry pada Materi Laju Reaksi Kelas XI SMA/MA. Skripsi,  Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed., Ph.D. (II) Dr. Yahmin, S.Pd., M.Si.Kata Kunci: bahan ajar, laju reaksi,modified discovery-inquiry, Dick & CareyKurikulum 2013 menggunakan pendekatan ilmiah (scientific approach). Implementasi pendekatan ilmiah pada pembelajaran kimia melalui pembelajaran kimia berbasis discovery/inquiry  yang ditunjang oleh kompetensi pendidik serta ketersediaan bahan ajar. Bahan ajar kimia materi laju reaksi yang dibutuhkan adalah bahan ajar berbasis modified discovery-inquiry. Hasil penelitian dan analisis terhadap bahan ajar materi laju reaksi menunjukkan bahwa ketersediaan bahan ajar materi laju reaksi belum berbasis discovery/inquiry. Tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah: (1) menghasilkan bahan ajar materi laju reaksi berbasis modified discovery-inquiry, dan (2) mengetahui kelayakan bahan ajar materi laju reaksi berbasis modified discovery-inquiry.Penelitian pengembangan menggunakan model Dick & Carey 9 langkah, yaitu: (1) identifikasi tujuan pembelajaran,(2) analisis materi pelajaran,(3) analisis pembelajar, (4) merumuskan tujuan performansi, (5) mengembangkan instrumen, (6) mengembangkan strategi penyajian, (7) mengembangkan bahan ajar,(8) melakukan evaluasi formatif, dan (9) melakukan revisi. Produk ini diuji coba melalui validasi dan uji terbatas dengan menggunakan angket. Validasi dilakukan oleh 3 validator, yaitu 1 dosen jurusan kimia Universitas Negeri Malang, 1 guru kimia MAN 3 Malang dan 1 guru kimia MAN Gondanglegi Malang. Sedangkan uji terbatas dilakukan pada 10 siswa kelas XII IPA 3 MAN Gondanglegi Malang. Hasil penelitian pengembangan bahan ajar berbasis modified discovery-inquiry materi laju reaksi untuk kelas XI SMA/MA terdiri dari 2 buku yaitu buku siswa dan buku guru. Karakteristik bahan ajar tersebut antara lain : (1) mengacu pada KD 3.6, 3.7,. 4.6, dan 4.7 Kurikulum 2013 dengan dilengkapi sub bab jenis-jenis laju reaksi, dan (2) berbasis modified discovery-inquiry yang terdiri dari langkah stimulation, problem statement, data collection, data processing, verification, dan generalization. Rata-rata skor hasil validasi bahan ajar oleh validator yaitu 86,8% yang dikategorikan sangat layak. Sedangkan rata-rata skor hasil uji keterbacaan yaitu 94,6% yang dikategorikan sangat layak. Produk hasil pengembangan diharapkan dapat mendukung implementasi Kurikulum 2013 yaitu berbasis modified discovery-inquiry dan disarankan dilakukan penelitian untuk mengetahui efektivitas bahan ajar serta dilakukan pengembangan bahan ajar dengan basis yang sama pada materi kimia yang lain

    Pengaruh Model Think Talk Write (TTW) terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas XI SMAN 02 Batu pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan

    No full text
    ABSTRACT Pengaruh Model Think Talk Write (TTW) terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas XI SMAN 02 Batu pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali KelarutanMateri Ksp merupakan salah satu materi yang bersifat abstrak dan berdasarkan hasil wawancara guru kimia sebagian besar siswa di SMAN 02 Batu mengalami kesulitan belajar dalam mempelajari materi Ksp. Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi Ksp adalah model pembelajaran kooperatif. Materi Ksp di SMAN 02 Batu diajar dengan metode ceramah digabung dengan metode diskusi kelompok bebas. Pada penelitian ini menggunakan metode diskusi dengan model Think Talk Write (TTW). Think Talk Write (TTW) merupakan salah satu model pembelajaran yang memberi ruang kepada siswa untuk aktif berfikir dan saling berinteraksi dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar kognitif siswa antara siswa yang dibelajarkan dengan metode diskusi dengan model Think Talk Write (TTW) dan metode diskusi kelompok bebas pada materi Ksp.Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan eksperimental semu. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI MIA SMAN 02 Batu tahun ajaran 2015/2016. Penelitian ini menggunakan dua kelas yang digunakan sebagai sampel. Kelas XI MIA 4 sebagai kelas eksperimen yang dibelajarkan dengan metode diskusi dengan model Think Talk Write (TTW). Kelas XI MIA 2 sebagai kelas kontrol yang dibelajarkan dengan menggunakan metode diskusi kelompok bebas. Instrumen yang digunakan untuk mengambil data hasil belajar kognitif siswa berupa soal tes pilihan ganda dengan lima pilihan jawaban yang memiliki validitas butir soal antara 0,386-0,625; tingkat kesulitan butir soal antara 0,12-0,97; daya beda butir soal antara 0,17-0,68; dan reliabilitasnya sebesar 0,727. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data pada kelas eksperimen dan kelas kontrol terdistribusi normal dan mempunyai varian yang homogen. Oleh karena itu, syarat untuk pengujian hipotesis telah terpenuhi. Uji hipotesis yang dilakukan dengan menggunakan uji-t dengan taraf signifikasi  = 0,05 menunjukkan adanya perbedaan antara metode diskusi dengan model Think Talk Write (TTW) terhadap hasil belajar siswa dengan nilai signifikasi 0,011. Hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan metode diskusi dengan model Think Talk Write (TTW) (dengan skor rata-rata73) lebih baik dibandingkan dengan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan metode diskusi kelompok bebas (dengan skor rata-rata 66,6)

    Pembuatan Adsorben Silika-Selulosa, Silika-Selulosa-Surfaktan, dan Aplikasinya sebagai Adsorben Rhodamin B, Tartrazin, dan Campurannya

    No full text
    ABSTRAK   Yulandari, Setyowati Dewi. 2016. Pembuatan Adsorben Silika-Selulosa, Silika-Selulosa-Surfaktan, dan Aplikasinya sebagai Adsorben Rhodamin B, Tartrazin, dan Campurannya. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:  (I) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D., (II) Dr. Sc. Anugrah Ricky Wijaya, M.Sc.   Kata kunci:  adsorpsi, rhodamin B-tartrazin, silika-selulosa, silika-selulosa-surfaktan, surfaktan. Adsorben silika-selulosa mampu menyerap dan memisahkan campuran rhodamin B dan tartrazin. Sifat kepolaran silika-selulosa lebih rendah jika dibandingkan dengan silika gel, sehingga menghasilkan keterpisahan yang lebih baik. Berdasarkan penelitian sebelumnya, adsorben silika gel dapat ditambahkan dengan surfaktan n-CTMABr sehingga mampu meningkatkan daya adsorpsi terhadap rhodamin B, tartrazin, dan campurannya. Daya adsorpsi silika-selulosa dan silika-surfaktan belum memperoleh hasil yang baik sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut, yaitu dengan pembuatan adsorben baru, yaitu silika-selulosa-surfaktan. Tujuan penelitian adalah (1) membuat adsorben silika-selulosa, dan silika-selulosa-surfaktan, (2) menguji keterpisahan antara campuran rhodamin B dan tartrazin dalam eluen etanol, metanol, dan surfaktan dalam etanol dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT), (3) mengetahui keterserapan rhodamin B, tartrazin, dan campurannya dengan metode Batch dalam adsorben silika-selulosa, dan silika-selulosa-surfaktan. Penelitian eksperimental ini dilakukan di laboratorium Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu (1) pembuatan adsorben silika-selulosa dan silika-selulosa-surfaktan yang masing-masing diperoleh dari ekstraksi silika sekam padi, hidrolisis selulosa nata de coco, dan perpaduan dengan surfaktan n-CTMABr, (2) karakterisasi adsorben, (3) aplikasi kemampuan adsorben dalam memisahkan rhodamin B dan tartrazin dalam berbagai eluen, (4) aplikasi kemampuan adsorben dalam mengadsorpsi rhodamin B, tartrazin, dan campurannya dengan metode Batch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) hasil karakterisasi uji fisik adsorben yang meliputi kadar air, kadar abu, massa jenis, dan daya serap terhadap iod pada silika-selulosa-surfaktan lebih besar dibandingkan dengan silika-selulosa, namun hasil karakterisasi BET menunjukkan bahwa silika-selulosa memiliki luas permukaan, diameter pori, dan volume pori lebih besar daripada silika-selulosa-surfaktan, (2) kedua adsorben mampu memisahkan campuran rhodamin B dan tartrazin, namun silika-selulosa-surfaktan menghasilkan pola keterpisahan yang lebih baik pada eluen surfaktan dalam etanol, (3) silika-selulosa-surfaktan dapat mengadsorpsi rhodamin B, tartrazin, dan campurannya lebih baik dibandingkan silika-selulosa

    IDENTIFIKASI KESULITAN SISWA KELAS XI KOMPETENSI KEAHLIAN KIMIA INDUSTRI DI SMK GULA RAJAWALI MADIUN PADA MATERI TERMOKIMIA

    No full text
    ABSTRAK   Nisa, Fara. 2016. Identifikasi Kesulitan Siswa Kelas XI Kompetensi Keahlian Kimia Industri di SMK Gula Rajawali Madiunpada Materi Termokimia.Skripsi,Program Studi Pendidikan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Siti Marfu’ah, M.S.,(2) Drs. Parlan, M.Si.   Kata kunci:kesulitan belajar, termokimia, konseptual, algoritmik. Ilmu kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan eksperimen yang mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana gejala-gejala alam; khususnya yang berkaitan dengan komposisi, struktur, sifat, transformasi, dinamika dan energetika zat. Energi yang terlibat dalam proses fisika dan kimia dipelajari dalam termokimia. Termokimia merupakan salah satu konsep penting dalam kimia yang berkaitan dengan pengukuran dan perubahan kalor yang menyertai reaksi kimia, perubahan fase, dan pembentukan larutan. Siswa harus memiliki pemahaman konseptual dan pemahaman algoritmik yang utuh untuk menguasai materi termokimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui letak kesulitan siswa kelas XI Kimia Industri SMK Gula Rajawali Madiun pada materi termokimia. Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI Kimia Indistri SMK Gula Rajawali Madiun yang terdiri dari 30 siswa. Subjek adalah siswa yang diduga mengalami kesulitan dan memiliki rata-rata nilai UH termokimia rendah. Penjaringan data menggunakan instrumen tes diagnostik dan wawancara. Tes diagnostik berupa soal pilihan ganda beralasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kesulitan-kesulitan yang dialami siswa adalah pada konsep (a) reaksi eksoterm dan endoterm adalah menentukan reaksi eksoterm dan endoterm, arah aliran kalor serta prediksi harga ΔH; (b) perubahan entalpi adalah menjelaskan perubahan entalpi pembentukan dan menjelaskan perubahan entalpi pembentukan; (c) data entalpi pembentukan standar adalah menjelaskan persamaan termokimia perubahan entalpi pembentukan standar. (2) Perhitungan algoritmik yang sulit bagi siswa adalah pada perhitungan (a) data perubahan entalpi pembentukan standar adalah menentukan rumus perubahan entalpi berdasarkan ΔH°f; (b) data energi ikatan adalah menentukan rumus perubahan entalpi berdasarkan data energi ikatan dan menuliskan rantai ikatan suatu senyawa; (c) kalorimeter sederhana adalah mengkonversi joule menjadi kilojoule, kilogram menjadi gram, dan °C menjadi Kelvin; menentukan rumus perubahan entalpi berdasarkan kalorimeter sederhana; dan menerapkan operasi matematis; (d) hukum Hess adalah menentukan rumus perubahan entalpi berdasarkan hukum Hess dan menentukan tahap-tahap operasi persamaan reaksi dan ΔH°r nya

    PengaruhKondisi Aging terhadapKarakteristikSilika Gel Berbasis Abu Bagasse

    No full text
    ABSTRACT   Putri, Tatiana Samantha. 2016.  Pengaruh Kondisi Aging terhadap Karakteristik Silika Gel Berbasis Abu Bagasse. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nazriati, M.Si., (II) Dr. Hj. Fauziatul Fajaroh, M.S. Kata Kunci: abu bagasse, asam silikat, kondisi aging, silika gel Abu bagasse memiliki kandungan silika yang cukup tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku sintesis silika gel. Silika gel dapat dimanfaatkan sebagai adsorben dan katalis karena luas permukaannya yang tinggi. Karakteristik silika gel dipengaruhi oleh kondisi sintesis, salah satunya adalah kondisi aging. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh kondisi aging dan penambahan konsentrasi monomer pada tahap aging terhadap karakteristik silika gel berbasis abu bagasse. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap utama. Pertama, ekstraksi silica dari abu bagasse menggunakan metode ekstraksi basa. Kedua, pembuatan sol silica dengan cara mencampurkan larutan natrium silikat hasil ekstraksi ke dalam resin penukar kation untuk memperoleh larutan asam silikat. Terakhir, sintesis silika gel dengan variasi temperature aging dan penambahan konsentrasi monomer. Hasil sintesis kemudian dikarakterisasi dengan FT-IR, SEM, dan BET. Analisis dengan FT-IR menunjukkan silika gel berhasil disintesis, ditunjukkan dengan munculnya serapan khas gugus silanol (Si – OH) dan siloksan (Si – O – Si). Hasil analisis SEM menunjukkan terdapat partikel yang teragregasi di permukaan silika gel. Hasil analisis dengan BET menunjukkan luas permukaan silika gel dipengaruhi oleh temperature aging dan penambahan konsentrasi monomer. Temperatur aging optimum adalah 40oC, dengan luas permukaan sebesar 421,868 m2/g, dan volume optimum pada penambahan monomer adalah 4 mL dengan luas permukaan sebesar 369,101 m2/g

    Pengembangan Instrumen Asesmen untuk Implementasi Pembelajaran Kimia secara Inkuiri bagi para Siswa

    No full text
    ABSTRACT Fadhilah, Riza Dewi Nur. 2016. Pengembangan Instrumen Asesmen untuk Implementasi Pembelajaran Kimia secara Inkuiri bagi para Siswa. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Sutrisno, M.Si., (II) Drs. Darsono Sigit, M.Pd.Kata kunci: Instrumen Asesmen, Implementasi InkuiriKurikulum 2013 terdiri atas lima pengalaman belajar yang selaras dengan inkuiri. Pada proses pembelajaran, segala  sesuatu  yang telah dirancang oleh guru untuk siswa seharusnya sama dengan yang dialami oleh siswa. Atas dasar itu siswa dapat menilai guru dalam proses pembelajaran, apakah pembelajaran yang dialami siswa telah mencapai kompetensi yang diinginkan. Oleh karena itu, diperlukan instrumen untuk membantu siswa dalam menilai proses pembelajaran. Salah satu instrumen yang dapat digunakan adalah instrumen asesmen. Tujuan dari pengembangan instrumen asesmen ini adalah menghasilkan produk instrumen asesmen pada pembelajaran kimia yang dikemas dengan mengimplementasikan inkuiri, menentukan kelayakan instrumen asesmen sebagai alat untuk merefleksi diri guru, dan memperoleh gambaran pembelajaran menurut siswa, tentang implementasi inkuiri yang dilaksanakan guru. Model pengembangan yang digunakan untuk mengembangkan instrumen asesmen ini adalah model 4D (4D-model) dari Thiagarajan. Model 4D terdiri dari define (membatasi), design (merancang), develop (mengembangkan), dan disseminate (mendiseminasikan). Pada tahap membatasi dilakukan analisis pendahuluan dan analisis isi instrumen. Pada tahap merancang dilakukan mendesain format instrumen asesmen dan merancang isi instrumen asesmen. Pada tahap mengembangkan dilakukan pengembangan awal draf instrumen asesmen, konsultasi dengan dosen pembimbing, pengembangan draf lanjut, finalisasi instrumen asesmen, revisi produk hasil pengembangan, validasi produk, revisi hasil validasi produk, dan produk yang dihasilkan. Pada tahap diseminasi dilakukan penyebaran terbatas yaitu kesembilan sekolah yang ada di kota Malang.Hasil validasi instrumen asesmen yang telah dikembangkan, menunjukkan tingkat kelayakan sebesar 80,4% yang termasuk kategori sangat layak. Hasil ini menunjukkan bahwa instrumen asesmen hasil pengembangan sangat layak untuk digunakan untuk merefleksi guru dalam melaksanakan pembelajaran yang mengimplementasikan inkuiri. Berdasarkan uraian dari perolehan persentase sembilan sekolah terhadap enam sub butir/butir pokok utama menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara guru kimia satu dengan lainnya dalam implementasi pembelajaran kimia secara inkuiri. Dengan demikian, instrumen asesmen yang dikembangkan ini dapat digunakan guru untuk merefleksi dirinya sendiri dalam melaksanakan pembelajaran, sehingga dapat digunakan untuk memperbaiki kekurangan dalam melaksanakan pembelajaran agar tujuan kompetensi yang diharapkan dapat tercapai.ABSTRACT Fadhilah, Riza Dewi Nur. 2016. The Development Assessment Instrument for Implementing the Chemistry Inquiry Learning for Students. Sarjana’s Thesis, Chemistry Department, Faculty of Mathematics and Natural Science, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. H. Sutrisno, M.Si., (II) Drs. Darsono Sigit, M.Pd.Key words: Instrument of Assessment, Implementing InquiryCurriculum 2013 consists of five points of experiential learning which is in line with the concept of inquiry. In learning process, everything that has been planned by the teacher for students ia the same with what happen to the students. Due to that concept, students could assess the teacher during the teaching and learning process on whether the process has reached the competences for students. Therefore, instruments that could help students in assesing the teaching and learning process are needed. One of instruments that could be used is instrument of assessment. The purpose of developing an assessment instrument is to produce a product of assessment instrument on learning chemistry by implementing inquiry, to determine the appropriateness of the assessment instrument as a tool for teacher’s self reflection, and to know the students’ views on the implementing inquiry is being implemented in teaching system done by their teachers.The development model used to develop the instrument is 4D model from Thiagarajan. This model consists of some steps: defining, designing, developing, and disseminating. On defining step, the preliminary and content analysis were done. On designing process, the format and content of the instrument of assesment were designed. On the development process, drafting the instrument of assessment was done early, supervising to advisors, developing further draft, finalization the instrument of assessment, revision of the developed product, product validation, product revision, and the final product. The dissemination was done by limited spreading to nine schools in Malang. The assessment instrument which has been developed were categorized worth to be used with appropriateness level 80.4%. This result showed that the instrument of assessment that has been developed is very appropriate to be used as a tool to assess the teacher in teaching and learning process. Based on the description from percentage’s result of nine schools to six sub-grains or main-grains showed that there is difference between one chemistry teacher to another in implementing chemistry learning with inquiry. Thus, assessment instrumen which has been developed can be used to correct deficiencies in implementing learning  in order expected goals of the competence can be achieved

    0

    full texts

    1,785

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇