SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Penentuan Tingkat Kemurnian, Perolehan Kembali Protein, dan Stabilitas Hasil Pemurnian Ekstrak Kasar Selulase Bacillus circulans dengan Pengendapan Amonium Sulfat Fraksi 0-10 %, 10-60 %, dan Fraksi 0-60 %.
ABSTRACT Lutfiana, Nia. 2016. Penentuan Tingkat Kemurnian, Perolehan Kembali Protein, dan Stabilitas Hasil Pemurnian Ekstrak Kasar Selulase Bacillus circulans dengan Pengendapan Amonium Sulfat Fraksi 0-10 %, 10-60 %, dan Fraksi 0-60 %. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Evi Susanti, S. Si., M. Si., (II) Muntholib, S. Pd., M. Si.Kata Kunci: Amonium sulfat, Bacillus circulans, SelulaseSelulase merupakan enzim yang menghidrolisis selulosa menjadi glukosa. Selulase dalam bentuk ekstrak kasar memiliki aktivitas dan stabilitas yang rendah. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemurnian untuk meningkatkan aktivitas dan stabilitasnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kemurnian dan perolehan kembali protein hasil pemurnian ekstrak kasar selulase Bacillus circulans menggunakan fraksinasi amonium sulfat dengan tingkat kejenuhan (1) 0-10 %, 10-60 % dan (2) 0-60 %, serta (3) untuk mengetahui penurunan aktivitas selulase total hasil pemurnian pada resuspensi pelet fraksi 10-60 % selama penyimpanan dalam freezer (Sharp VR-D180).Penelitian ini bersifat eksperimen dan dilakukan dalam 6 tahap yakni:(1) produksi ekstrak kasar selulase Bacillus circulans strain lokal, (2) penambahan EDTA pada ekstrak kasar selulase, (3) pemurnian dengan pengendapan amonium sulfat pada kejenuhan 0-10 %, 10-60 %, dan kejenuhan 0-60 %, (4) penentuan kadar protein sebelum dan setelah pemurnian dengan metode Lowry, (5) penentuan aktivitas CMCase, avicelase, dan selulase total melalui penentuan kadar glukosa (gula pereduksi) hasil reaksi enzimatis dengan metode Somogy-Nelson, dan (6) penentuan stabilitas hasil pemurnian fraksi 10-60 %. Penentuan stabilitas fraksi murni ditentukan berdasarkan % penurunan aktivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tingkat kemurnian fraksi 0-10 % untuk aktivitas CMCase; avicelase; selulase total adalah 0,57; 2,07; 2,59 kali. Fraksi 10-60 % untuk aktivitas CMCase; avicelase; selulase total adalah 1,197; 3,13; 9,70 kali. Fraksi sisa untuk aktivitas CMCase; avicelase; selulase total adalah 0,067; 0,24; 1,2 kali. Perolehan kembali protein fraksi 0-10 % untuk aktivitas CMCase; avicelase; selulase total adalah 2,009 %; 7,23 %; 9,04 %. Fraksi 10-60 % untuk aktivitas CMCase; avicelase; selulase total adalah 6,87 %; 17,97 %; 56,16 %. Fraksi sisa untuk aktivitas CMCase; avicelase; selulase total adalah 5,47 %; 19,72 %; 98,63 %. (2) Tingkat kemurnian pada fraksi 0-60 % untuk aktivitas CMCase; avicelase; selulase total adalah 6,90; 9,77; 11,76 kali. Fraksi sisa untuk aktivitas CMCase; avicelase; selulase total adalah 0,27; 0,36; 0,5 kali. Perolehan kembali protein fraksi 0-60 % untuk aktivitas CMCase; avicelase; selulase total adalah 40,00 %; 56,67 %; 50,00 %. Sedangkan fraksi sisa untuk aktivitas CMCase; avicelase; selulase total adalah 28,46 %; 37,94 %; 37,94 %, dan (3) Penurunan aktivitas selulase total pada hari ke-0 sebesar 0 %, hari ke-1 sebesar 12,5 %, hari ke-4 sebesar 37,5 %, dan hari ke-7 sebesar 87,5 % menunjukkan stabilitas yang lebih baik dibandingkan ekstrak kasarnya
Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Dengan Problem Solving Terhadap Hasil Belajar Kognitif Dan High Order Thinking Skill (HOTS) Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Kediri Pada Materi Larutan Penyangga
ABSTRACT PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) DENGAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF DAN HIGH ORDER THINKING SKILL (HOTS) SISWA KELAS XI SMAN 1 KEDIRI PADA MATERI LARUTAN PENYANGGA Tutur Taliningsih, Munzil, Ridwan Joharmawan Universitas Negeri Malang Email : [email protected], [email protected], [email protected] Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui apakah terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dengan Problem Solving terhadap hasil belajar kognitif dan HOTS siswa kelas XI SMAN 1 Kediri dalam mempelajari materi larutan penyangga. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu dengan model post test only control group design. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI MIIA SMAN 1 Kediri. Pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling. Analisis statistik dengan uji-t independent sample test digunakan untuk menguji perbedaan hasil belajar kognitif dan kemampuan HOTS siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, ada pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dengan Problem Solving pada hasil belajar kognitif siswa dengan nilai signifikans
Uji Toksisitas Ekstrak dan Fraksi Metanol Beluntas (Pluchea indica L) terhadap Artemia salina serta Isolasi Salah Satu Komponen Penyusunnya
ABSTRACT Sabatini, Anggun. 2016. Uji Toksisitas Ekstrak dan Fraksi Metanol Beluntas (Pluchea indica L) terhadap Artemia salina serta Isolasi Salah Satu Komponen Penyusunnya. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Siti Marfu’ah, M.S., (2) Dr. H. Sutrisno, M.Si. Kata kunci: daun beluntas, ekstraksi, fraksi metanol, uji toksisitas. Beluntas (Pluchea indica L) adalah salah satu tanaman perdu yang daunnya dapat digunakan sebagai sayuran (lalapan). Selain sebagai sayuran daun beluntas biasa digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional. Khasiat daun beluntas terhadap kesehatan tubuh karena adanya senyawa bioaktif yang berperan dalam pengobatan. Daun beluntas mengandung senyawa bioaktif diantaranya adalah flavonoid, alkaloid, fenolik, tannin, monoterpen, triterpen,steroid, benzoid, dan fenilpropanoid. Golongan senyawa flavonoid berpotensi sebagai antikanker, antioksidan, antitumor, dan antiinflamasi yang telah di ujikan pada mencit. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menentukan sifat toksik ekstrak metanol daun beluntas terhadap larva Artemia salina, (2) menentukan sifat toksik fraksi metanol daun beluntas terhadap larva Artemia salina, (3) mengidentifikasi komponen hasil isolasi fraksi metanol daun beluntas. Penelitian ini terdiri dari tujuh tahap, yaitu (1) preparasi sampel, (2) ekstraksi serbuk daun beluntas di maserasi selama tiga hari dengan penggantian pelarut setiap satu hari. Maserat yang dihasilkan dipekatkan menggunakan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental. Selanjutnya di fraksinasi menggunakan pelarut yang berbeda kepolaran, (3) uji fitokimia, (4) uji toksisitas terhadap Artemia salina, (5) analisis dengan kromatografi lapis tipis (KLT) menggunakan variasi eluen dengan perbedaan kepolaran, (6) pemisahan senyawa secara kromatografi lapis tipis preparatif dengan eluen yang sesuai, (7) identifikasi senyawa hasil isolasi secara organoleptik dan analisis secara spektrofotometri IR. Ekstrak dan fraksi metanol daun beluntas bersifat toksik terhadap Artemia salina dengan LC50 berturut-turut 651 ppm dan 922 ppm. Zat hasil isolasi fraksi metanol daun beluntas berwujud padatan berwarna kuning dan memiliki identitas dengan gugus fungsi OH, C=C aromatik, C-H alkana, C-O eter, C-H aromatik dan diduga adalah golongan flavonoid
Pengaruh Teknik Pembelajaran Conceptual Change Text terhadap Hasil Belajar Stoikiometri Siswa Kelas X MIA SMAN 7 Malang
ABSTRACT Pengaruh Teknik Pembelajaran Conceptual Change Text terhadap Hasil Belajar Stoikiometri Siswa Kelas X MIA SMAN 7 MalangPuspitasari, Wanda Agung. 2016. Pengaruh Teknik Pembelajaran Conceptual Change Text terhadap Hasil Belajar Stoikiometri Siswa Kelas X MIA SMAN 7 Malang. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I) Muntholib, S.Pd, M.Si, (II) Drs. Muhammad Su’aidy, M.Pd.Kata-kata Kunci : Conceptual Change Text, hasil belajar, stoikiometriStoikiometri merupakan salah satu materi kimia yang mengandung banyak konsep kimia dan hitungan. Diperlukan upaya untuk mencegah terjadinya kesalahan konsep. Salah satu upaya tersebut adalah dengan menggunakan teknik pembelajaran Conceptual Change Text, karena dapat memperbaiki kesalahan konsep siswa dan konsep baru yang diperoleh dapat bertahan lebih lama dalam ingatannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) keterlaksanaan teknik pembelajaran Conceptual Change Text terhadap hasil belajar stoikiometri siswa kelas X MIA SMAN 7 Malang, (2) keterlaksanaan model pembelajaran Direct Instruction terhadap hasil belajar stoikiometri siswa kelas X MIA SMAN 7 Malang, dan (3) ada tidaknya perbedaan hasil belajar stoikiometri siswa kelas X MIA SMAN 7 Malang antara yang dibelajarkan menggunakan teknik pembelajaran Conceptual Change Text dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Direct Instruction.Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian eskperimen semu (quasi experimental) dengan pretest-posttest control group design. Pemilihan sampel penelitian dilakukan dengan teknik undian, dan diperoleh kelas X MIA 3 sebagai kelas kontrol dan X MIA 5 sebagai kelas eksperimen. Instrumen yang digunakan berupa instrumen perlakuan (silabus, RPP, dan LKS) dan instrumen pengukuran (lembar observasi dan soal tes). Instrumen soal tes (Anggarwati, 2015) terdiri dari 35 butir soal two-tier yang valid dengan reliabilitas α = 0,902. Data keterlaksanaan proses pembelajaran dianalisis menggunakan statistika deskriptif dengan teknik persentase, sedangkan data kemampuan awal dan data hasil belajar siswa dianalisis menggunakan statistika deskriptif dan inferensial melalui uji-t dengan signifikansi α = 0,05 berbantuan program SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) keterlaksanaan teknik pembelajaran Conceptual Change Text termasuk dalam kriteria terlaksana dengan sangat baik, yakni dengan persentase sebesar 91,08%, (2) keterlaksanaan model pembelajaran Direct Instruction termasuk dalam kriteria terlaksana dengan sangat baik, yakni dengan persentase sebesar 90,48%, dan (3) ada perbedaan hasil belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan teknik pembelajaran Conceptual Change Text dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Direct Instruction, dimana hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan menggunakan teknik pembelajaran Conceptual Change Text (82,457) lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Direct Instruction (78,857)
PENGEMBANGAN BUKU AJAR KIMIA SMA/MA PADA MATERI TERMOKIMIA UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN PESERTA DIDIK
ABSTRACT PENGEMBANGAN BUKU AJAR KIMIA SMA/MA PADA MATERI TERMOKIMIA UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN PESERTA DIDIKBerdasarkan hasil penelitian terhadap hasil pembelajaran, diperoleh fakta bahwa peserta didik mengalami kesulitan belajar dan miskonsepsi pada materi termokimia. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa, peserta didik kesulitan tentang kalor, kapasitas kalor, energi ikatan, dan Hukum Hess.Salah satu penyebab kesulitan dan miskonsepsi tersebut adalah bahan ajar. Bahan ajar yang selama ini digunakan hanya berupa susunan definisi dan ringkasan materi yang tidak memperhatikan kesulitan yang dialami peserta didik. Salah satu bahan ajar yang telah dapat mengatasi kesulitan belajar adalah buku ajar. Oleh karena itu, dibutuhkan buku ajar yang dapat mengatasi kesulitan belajar dan miskonsepsi, sehingga dapat membantu meningkatkan pemahaman peserta didik pada materi termokimia. Berdasarkan masalah tersebut, penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan buku ajar pada materi termokimia untuk meningkatkan pemahaman peserta didik dan mengetahui kelayakannya dengan menggunakan validasi isi dan uji keterbacaan.Pada pengembangan buku ajar ini, model pengembangannya mengadaptasi model penelitian dan pengembangan pembelajaran menurut Thiagarajan (1974) dengan modifikasi, namun dibatasi hanya sampai tahap 3 yaitu tahap develop (tahap pengembangan). Data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif berdasarkan skor angket yang disusun dalam skala Likert untuk menentukan kelayakan buku ajar. Kelayakan buku ajar dianalisis dengan cara menghitung persentase data kuantitatif. Data kualitatif berdasarkan komentar dan saran perbaikan (revisi) oleh validator ahli yaitu dosen kimia dan guru kimia terhadap buku ajar yang dikembangkan. Buku ajar disempurnakan dengan memperbaiki bagian-bagian yang perlu diperbaiki berdasarkan komentar dan saran para validator serta peserta didik. Hasil validasi buku ajar oleh seorang dosen dan dua guru kimia SMA menunjukkan rata-rata persentase kelayakan sebesar 90% (sangat valid). Hasil uji keterbacaan oleh sepuluh peserta didik menghasilkan persentase kelayakan sebesar 86% (sangat valid). Hasil validasi isi dan uji keterbacaan menunjukkan bahwa buku ajar termokimia sangat layak digunakan sebagai sumber belajar, baik dalam pembelajaran di kelas maupun secara mandiri. Pengembangan buku ajar termokimia untuk meningkatkan pemahaman peserta didik hanya mengadaptasi model 4-D sampai tahap ketiga. Tahap keempat yaitu penyebarluasan (disseminate) belum dilakukan. Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan disseminate untuk membuktikan kefektifan buku ajartermokimia untuk meningkatkan pemahaman peserta didik
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR PADA MATERI HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA BERBASIS DISCOVERY LEARNING untuk KELAS X PROGRAM IPA SEKOLAH MENENGAH ATAS
Abstrak Salam, Aidha Fajariana Prikarti. 2015. Pengembangan Bahan Ajar Materi Hukum-Hukum Dasar Kimia Berbasis Discovery Learning Untuk Kelas X Program IPA Sekolah Menengah Atas. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H. Drs. Effendy, M. Pd, Ph.D; (II) Drs. Muhadi. Kata Kunci: pengembangan, bahan ajar, Hukum-Hukum Dasar Kimia, Discovery Learning. Hukum-Hukum Dasar Kimia merupakan salah satu materi yang dipelajari oleh siswa SMA/MA kelas X program IPA. Materi ini mencakup konsep-konsep abstrak dan perhitungan yang menyangkut aspek kuantitatif kimia. Konsep-konsep abstrak dalam materi ini cenderung hanya dipahami oleh siswa yang telah mengembangkan kemampuan berpikir formal. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa SMA belum mengembangkan kemampuan berpikir formal. Hal ini menyebabkan siswa cenderung mengalami kesulitan dalam mempelajari materi ini. Selamai ini pembelajaran pada materi ini cenderung didominasi oleh pendekatan verifikasi. Hasil penelitian melaporkan bahwa pendekatan ini tidak efektif dalam pengembangan kemampuan berpikir siswa karena tidak melibatkan siswa dalam mengkonstruk konsep. Kemampuan siswa untuk memahami konsep-konsep abstrak kemungkinan meningkat ketika pendekatan pembelajaran yang digunakan optimal dalam pengembangan kemampuan berpikir formal siswa. Discovery Learning merupakan pendekatan yang diharapkan memenuhi tuntutan tersebut. Discovery Learning merupakan sebuah pendekatan yang melibatkan siswa aktif mengkonstruk konsep melalui serangkaian aktifitas. Aktifitas ini penuh dengan rangsangan intelektual yang berpotensi untuk mengembangkan kemampuan berpikir formal siswa. Hal ini membuat siswa lebih mudah dalam mempelajari konsep-konsep abstrak dan hasil belajar kognitif mereka akan cenderung lebih tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan bahan ajar berbasis Discovery Learning pada materi Hukum-hukum Dasar Kimia serta menguji kelayakan dan keefektifannya. Model yang digunakan dalam pengembangan bahan ajar mengadopsi model pengembangan Plomp (1997) yang terdiri dari lima fase: (1) investigasi awal, (2) desain, (3) realisasi/konstruksi, (4) tes, evaluasi, dan revisi, serta (5) implementasi. Fase implementasi tidak dilakukan karena keterbatasan waktu dan penggunaan produk. Bahan ajar yang dikembangkan terdiri dari “Buku Kerja Siswa” dan “Buku Panduan Guru”. Kelayakan Buku Kerja Siswa dari aspek isi, kebahasan, dan penyajian dinilai menggunakan instrumen panduan pengembangan bahan ajar dari BSNP 2006. Penilaian kelayakan Buku Kerja Siswa dilakukan oleh satu orang dosen kimia dan dua orang guru kimia SMA. Keefektifan Buku Kerja Siswa ditentukan berdasarkan persentase siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) setelah mengikuti pembelajaran menggunakan bahan ajar yang dikembangkan. Siswa lulus KKM jika mereka mendapat nilai minimal 76 dari nilai maksimum 100 pada tes kemampuan kognitif. Tes ini berupa tes pilihan ganda yang terdiri dari 12 butir soal konseptual dan algoritmik dengan validitas isi sebesar 97,2% dan koefisien realibilitas, dihitung menggunakan rumus Kuder-Richardson 20 (KR-20) sebesar 0,90. Buku Kerja Siswa berisi serangkaian aktifitas yang harus ditempuh oleh siswa dalam mengkonstruk konsep. Buku Pedoman Guru berisi jawaban di setiap kegiatan dalam Buku Kerja Siswa termasuk saran untuk guru dalam membimbing siswa mengkonstruk konsep. Hasil penilaian kelayakan Buku Kerja Siswa menghasilkan rata-rata 3,3 untuk kelayakan isi, 3,3 untuk kelayakan penyajian, dan 3,4 untuk kelayakan kebahasaan dari skor maksimal 4,0. Batas ketuntasan minimal dicapai oleh 83% siswa. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa Buku Kerja Siswa yang dikembangkan layak dan efektif untuk digunakan dalam pembelajaran materi Hukum-Hukum Dasar Kimia
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Pendekatan Saintifik dengan Mengeksplisitkan Hakikat Sains dan Berpikir Kritispada Materi Senyawa Karbon (Haloalkana, Alkanol, Alkoksialkana, Alkanal, Alkanon, Asam Alkanoat dan Alkilalkanoat)
ABSTRACT Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Pendekatan Saintifik dengan Mengeksplisitkan Hakikat Sains dan Berpikir Kritispada Materi Senyawa Karbon (Haloalkana, Alkanol, Alkoksialkana, Alkanal, Alkanon, Asam Alkanoat dan Alkilalkanoat)Implementasi Kurikulum 2013 merupakan upaya memperbaiki pendidikan sains di Indonesia. Dalam Kurikulum 2013 diterapkan pendekatan saintifik sebagai salah satu pendekatan dalam proses pembelajaran. Penerapan pendekatan santifik disertai pengekspisitan hakikat sains dan berpikir kritis merupakan metode pembelajaran yang efektif. Namun berdasarkan analisis pendahuluan yang dilakukan, bahan ajar materi senyawa karbon (haloalkana, alkanol, alkoksialkana, alkanal, alkanon, asam alkanoat dan alkilalkanoat)yang tersedia saat ini belum mencerminkan konsep pendekatan saintifik dan belum mengeksplisitkan hakikat sains. Oleh karena itu, penelitian pengembangan bertujuan untuk menghasilkan produk berupa bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013 pada materi senyawa karbon (haloalkana, alkanol, alkoksialkana, alkanal, alkanon, asam alkanoat dan alkilalkanoat)dengan menggunakan pendekatan saintifik, serta mengeksplisitkan hakikat sains dan berpikir kritis.Penelitian pengembangan dilakukan dengan menggunakan model 4Dmeliputi tahap perencanaan (Define), tahap perancangan (Design), tahap pengembangan (Develop), dan tahap penyebaran (Disseminate), namun untuk tahap penyebaran (Disseminate) tidak dilakukan. Bahan ajar yang dikembangkan, meliputi buku siswa dan buku guru. Validasi bahan ajar dilakukan oleh validator yang terdiri dari dua validator ahli materi, yaitu dosen dari Jurusan Kimia UM dan dua validator ahli pembelajaran, yaitu guru Kimia SMA/MA. Validasi dari produk pengembangan bahan ajar menghasilkan data kualitatif dan data kuantitatif. Data kuantitatif digunakan untuk mengetahui kelayakan produk dan diperoleh presentase sebesar 77,92% untuk buku siswa dengan kriteria layak dan 81,55% untuk buku guru dengan kriteria sangat layak. Sedangkan, data kualitatif berupa saran dan komentar digunakan untuk revisi bahan ajar. Berdasarkan hasil validasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar berbasis pendekatan saintifik dengan mengeksplisitkan hakikat sains dan berpikir kritis pada materi senyawa karbon (haloalkana, alkanol, alkoksialkana, alkanal, alkanon, asam alkanoat dan alkilalkanoat)layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran di kelas
Analisis 16S rDNA Bakteri Penghasil Keratinase MD24 serta Studi Pengaruh Suhu dan Penambahan Ion Ca2+ Terhadap Aktivitas Keratinase selama Penyimpanan
ABSTRACT Permatasari, A. 2016. Analisis 16S rDNA Bakteri Penghasil Keratinase MD24serta Studi Pengaruh Suhu dan Penambahan Ion Ca2+ Terhadap AktivitasKeratinase selama Penyimpanan. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA,Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Suharti, S.Pd., M.Si.,(II) Eli Hendrik Sanjaya, S.Si., M.Si.Kata Kunci: 16S rDNA, aktivitas enzim, ion Ca2+, keratinaseIsolat MD24 merupakan bakteri penghasil keratinase yang sudahdiidentifikasi secara fenotip sebagai Bacillus licheniformis. Analisis secara fenotipdapat memberikan kesimpulan yang kurang tepat, sehingga diperlukan analisisgenotip untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih baik. Keratinase yangdihasilkan oleh isolat MD24 membutuhkan substrat keratin untuk memproduksienzim. Dalam penelitian ini, bulu ayam digunakan sebagai sumber keratin karenajumlahnya melimpah di Indonesia. Aktivitas enzim keratinase dari ekstrak kasaryang dihasilkan oleh isolat MD24 untuk mendegradasi bulu ayam utuh masihrelatif rendah. Aktivitas ekstrak kasar menurun secara signifikan setelah inkubasiselama 24 jam. Aktivitas keratinase dilaporkan dapat meningkat denganpenambahan ion Ca2+. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menentukan spesiesisolat MD24 dengan metode analisis bioinformatika terhadap urutan nukleotidadari 16S rDNA, (2) menentukan pengaruh suhu dan penambahan ion Ca2+terhadap aktivitas keratinase selama penyimpanan.Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu (1) analisis bioinformatikaterhadap urutan nukleotida dari 16S rDNA untuk menentukan spesies isolatMD24 dan (2) penentuan pengaruh suhu dan penambahan ion Ca2+ terhadapaktivitas keratinase selama penyimpanan. PCR dan sequencing terhadap isolatMD24 dilakukan oleh Macrogen Inc., Korea Selatan. Hasil sequencingdicocokkan dengan gen pengkode 16S rRNA dari mikroba lain yang terdaftar diGenBank. Urutan nukleotida berbagai macam bakteri tersebut dijajarkan dandibuat pohon filogenetik. Aktivitas ekstrak kasar keratinase ditentukan denganmengukur tirosin bebas yang diproduksi permenit menggunakan spektrofotometerpada panjang gelombang 280 nm. Pengaruh penambahan ion Ca2+ terhadapaktivitas keratinase diamati berdasarkan hasil uji aktivitas selama 3 hari berturutturutterhadap 9 sampel yang memiliki variasi suhu dan konsentrasi ion Ca2+Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat MD24 memiliki kemiripan91% terhadap Bacillus pumilus strain SAFR-032 dan menempati cabang terdekatdengan bakteri tersebut pada pohon filogenetiknya. Oleh karena itu, dapatdisimpulkan bahwa isolat MD24 bukan Bacillus licheniformis seperti hasilanalisis fenotip. Hasil uji menunjukkan bahwa aktivitas ekstrak kasar keratinasedapat dipertahankan dengan penambahan ion Ca2+ 5 mM pada suhu 37 oC selama 3 hari masa penyimpanan
Analisis Komposisi Silika-Selulosa Terhadap Kemampuannya Melepas Senyawa Kairomon Sebagai Atraktan Parasitoid
ABSTRAK Aprilia,S. A. 2016. Analisis Komposisi Silika – Selulosa Terhadap Kemampuannya Melepas Senyawa Kairomon Sebagai Atraktan Parasitoid. Skripsi, Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D. (II) Dr. Yudhi Utomo, M.Si. Kata kunci: atraktan, bioassay, senyawa kairomon, variasi komposisi silika-selulosa Tanaman padi yang terinfeksi hama Nilaparvata lugens memiliki mekanisme pertahanan tidak langsung yaitu dengan mengeluarkan senyawa yang dapat menarik parasitoid yang disebut kairomon. Isolasi kairomon dari batang padi terinfeksi dapat dilakukan dengan cara ekstraksi sokhletasi menggunakan pelarut metanol. Senyawa kairomon bersifat volatil dan mudah terlepas ke udara sehingga diperlukan suatu penjerap agar terlepasnya senyawa kairomon secara bertahap. Silika-selulosa dapat digunakan sebagai penjerap senyawa kairomon. Pada penelitian ini dibuat dua perbandingan komposisi silika-selulosa yang digunakan sebagai penjerap untuk senyawa kairomon. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui (1) morfologi permukaan pada berbagai variasi komposisi silika-selulosa, (2) karakterisasi masing-masing silika-selulosa sebagai penjerap senyawa kairomon dan (3) uji efektivitas penjerap pada berbagai variasi komposisi silika-selulosa dalam melepas senyawa kairomon sebagai atraktan parasitoid dengan bioassay dan uji lapang. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental laboratoris. Penelitian ini terdiri dari dua perlakuan yang masing-masing terdiri dari beberapa tahapan, yaitu (a) perlakuan pada sampel yang terdiri dari: (1) preparasi dan ekstraksi tanaman padi sehat dan terinfeksi menggunakan pelarut methanol dan (2) analisis senyawa yang terkandung dalam ekstrak padi sehat dan sakit dengan GC-MS. (b) Perlakuan pada penjerap yang terdiri dari: (1) pembuatan variasi komposisi penjerap silika-selulosa, (2) karakterisasi penjerap pada berbagai variasi silika-selulosa yang meliputi analisis SEM, BET, penentuan massa jenis, kadar air, kadar abu, dan daya serap terhadap larutan iod, dan (3) uji keefektifan penjerap pada berbagai variasi silika-selulosa dalam melepaskan senyawa kairomon sebagai atraktan parasitoid dengan bioassay dan uji lapang. Hasil penelitian adalah (1) penambahan selulosa pada permukaan silika menghasilkan material berpori yang tidak rata dengan bentuk partikel globular, (2) karakter fisik dari adsorben seperti massa jenis, kadar air, kadar abu, daya serap iod berubah makin besar seiring dengan penambahan selulosa, dan (3) hasil uji variansi (uji F) menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan respon positif parasitoid pada berbagai komposisi adsorben silika-selulosa melalui uji bioassay dan uji lapang
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis CORE (Connecting, Organizing, Reflecting and Extending) Materi Stoikiometri untuk SMA/MA Kelas X
ABSTRACT Prastika, Yunike Putri. 2016. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis CORE (Connecting, Organizing, Reflecting and Extending) Materi Stoikiometri untuk SMA/MA Kelas X. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Fauziatul Fajaroh, M.S, (II) Oktavia Sulistina, S.Pd, M.Pd.Kata kunci: bahan ajar, CORE, stoikiometriMempelajari kimia tidak terlepas dari persamaan kimia beserta perhitungan kuantitatifnya, yaitu stoikiometri. Mayoritas siswa merasa sulit memahami materi kimia terutama materi stoikiometri yang memiliki karakteristik konseptual dan matematis. Bahan ajar yang selama ini digunakan masih bersifat deskriptif, sehingga kurang mengajak siswa membangun pengetahuannya sendiri. Atas dasar inilah, peneliti mengembangkan bahan ajar untuk materi stoikiometri. Produk dari bahan ajar yang akan dikembangkan berupa paket bahan ajar kimia pada materi stoikiometri yang digunakan untuk siswa dan guru. Produk yang akan dihasilkan disusun dengan menggunakan model CORE (Connect, Organize, Reflect, and Extend). Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan sebuah produk bahan ajar dan mengetahui kelayakan bahan ajar kimia berbasis CORE pada materi stoikiometri. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan. Model pengembangan bahan ajar mengacu pada model 4-D, meliputi 4 tahap utama yaitu define, design develop dan disseminate. Namun, penelitian ini terbatas pada tahap define, design, develop tanpa melakukan tahap disseminate. Bahan ajar hasil pengembangan diuji dengan validasi isi dan uji keterbacaan. Validasi isi dilakukan dengan memberikan angket penilaian terhadap bahan ajar yang dikembangkan kepada validator yaitu dosen kimia FMIPA UM dan guru kimia MAN 1 Malang. Uji keterbacaan dilaksanakan pada 10 peserta didik kelas XI MAN 1 Malang. Jenis data yang akan diperoleh dari hasil validasi dan uji keterbacaan pengembangan bahan ajar ada dua, yaitu data kuantitatif yang diperoleh dari perhitungan nilai rata-rata untuk mengetahui besarnya kelayakan atau kevalidan bahan ajar tersebut dan data kualitatif berupa tanggapan, kritik dan saran. Produk hasil pengembangan berupa bahan ajar stoikiometri. Hasil validasi isi oleh validator menunjukkan bahwa buku siswa memperoleh 72% dengan kriteria valid sedangkan buku guru menunjukkan kriteria valid sebesar 74%. Hasil uji keterbacaan menghasilkan persentase kelayakan sebesar 89% (sangat valid) yang menunjukkan bahwa bahan ajar layak untuk digunakan sebagai sumber belajar. Saran untuk penelitian selanjutnya yaitu melakukan tahap penyebaran (disseminate) melalui uji efektivitas bahan ajar