SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Pengembangan Buku Ajar Kimia untuk Materi Kelarutan dan Tetapan Hasil Kali Kelarutan (Ksp) untuk Peserta didik SMA Kelas XI IPA
ABSTRACT Widayati, Riska Atik. 2016. Pengembangan Buku Ajar Kimia untuk Materi Kelarutan dan Tetapan Hasil Kali Kelarutan (Ksp) untuk Peserta didik SMA Kelas XI IPA. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Oktavia Sulistina, S.Pd., M.Pd. (II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si.Kata Kunci: Pengembangan, Buku Ajar Kimia, Kelarutan dan Tetapan Hasil Kali Kelarutan (Ksp)Kelarutan dan tetapan hasil kali kelarutan (Ksp) merupakan salah satu materi kimia yang sulit bagi peserta didik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemahaman peserta didik pada materi tersebut tergolong rendah. Rendahnya pemahaman dapat mengakibatkan peserta didik mengalami kesalahan dalam memahami konsep (miskonsepsi). Beberapa hal yang menyebabkan kesulitan peserta didik antara lain karakteristik materi kelarutan dan tetapan hasil kali kelarutan (Ksp), buku ajar yang digunakan, minat baca yang rendah, dan proses belajar peserta didik. Berdasarkan hal tersebut perlu pengembangan buku ajar yang dapat menutupi kekurangan buku ajar yang telah ada, agar dapat mengurangi miskonsepsi, meningkatkan pemahaman, meningkatkan minat baca, dan meningkatkan ketuntasan belajar peserta didik pada materi kelarutan dan tetapan hasil kali kelarutan (Ksp). Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan dan mengetahui kelayakan buku ajar kimia pada materi kelarutan dan tetapan hasil kali kelarutan (Ksp) untuk peserta didik SMA kelas XI IPA.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dan pengembangan, yang mengacu pada model 4-D (four D-models) yang meliputi 4 tahap, yaitu define (perencanaan), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Penelitian dan pengembangan ini terbatas pada tahap define, design, develop tanpa melakukan tahap disseminate. Buku ajar hasil pengembangan divalidasi oleh 3 validator yaitu satu dosen Kimia UM dan dua guru Kimia SMAN 1 Grogol Kediri, dan uji keterbacaan dilakukan pada 10 peserta didik kelas XII IPA SMAN 1 Grogol Kediri. Data hasil validasi dan uji keterbacaan terdiri dari dua jenis yaitu data kuantitatif diperoleh dari perhitungan nilai rata-rata untuk mengetahui kelayakan buku ajar dan data kualitatif berupa komentar, kritik, dan saran dari validator untuk memperbaiki buku ajar yang dikembangkan. Produk hasil pengembangan berupa buku ajar kimia pada materi kelarutan dan tetapan hasil kali kelarutan (Ksp). Hasil validasi buku ajar oleh validator menunjukkan bahwa kelayakan komponen isi sebesar 83%, komponen penyajian sebesar 85%, komponen kegrafisan sebesar 88%, dan komponen bahasa sebesar 83%. Sehingga persentase kelayakan buku ajar yang diperoleh sebesar 85% dengan kriteria layak digunakan. Hasil uji keterbacaan oleh peserta didik menunjukkan persentase kelayakan sebesar 90% dengan kriteria sangat layak digunakan. Buku ajar hasil pengembangan diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai buku pendamping bagi guru maupun peserta didik, dan juga dapat dimanfaatkan sebagai pengganti pembelajaran remedial bagi peserta didik yang belum tuntas
Pengaruh Tingkat Kejenuhan dan Waktu Inkubasi terhadap Kemurnian Selulase dari Bacillus circulans yang Dimurnikan dengan Pengendapan Etanol serta Stabilitasnya Selama Penyimpanan
ABSTRACT Islami, Lila Sukma. 2016. Pengaruh Tingkat Kejenuhan dan Waktu Inkubasi terhadap Kemurnian Selulase dari Bacillus circulans yang Dimurnikan dengan Pengendapan Etanol serta Stabilitasnya Selama Penyimpanan. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Evi Susanti, S.Si., M.Si, (II) Muntholib, S.Pd., M.Si.Kata Kunci: Bacillus circulans, pengendapan etanol, selulaseSelulase merupakan enzim yang menghidrolisis ikatan β-1,4-glikosidik dalam rantai selulosa menjadi gula pereduksi. Selulase dalam bentuk ekstrak kasar memiliki kestabilan dan aktivitas yang rendah, sehingga memerlukan pemurnian untuk meningkatkan aktivitas dan stabilitasnya. Salah satu metode pemurnian ekstrak kasar selulase adalah metode pengendapan etanol. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat kejenuhan etanol dan waktu inkubasi terhadap kemurnian selulase dari Bacillus circulans, serta waktu penyimpanan dalam freezer lemari pendingin SHARP VR-D180 terhadap aktivitas selulase dari Bacillus circulans yang dimurnikan dengan pengendapan etanol.Penelitian ini dapat dicapai melalui beberapa tahapan, yaitu: (1) produksi ekstrak kasar selulase Bacillus circulans dari biakan murni, (2) pemurnian ekstrak kasar selulase menggunakan metode pengendapan etanol dengan beberapa variasi tingkat kejenuhan etanol dan waktu inkubasi pengendapan, (3) uji kadar gula pereduksi dan protein sebelum dan sesudah pemurnian, (4) penyimpanan dan penentuan aktivitas selulase dalam freezer lemari pendingin SHARP VR-D180 pada hari ke-0, 1, 4, dan 7. Variabel penelitian ini yaitu variabel bebas berupa kejenuhan etanol absolut (33, 50, 60, 67, 71 %), waktu inkubasi pengendapan (1, 3, 23 jam), dan waktu penyimpanan (0, 1, 4, 7 hari), variabel kontrol berupa kondisi reaksi enzimatis ekstrak kasar selulase, dan variabel terikat berupa perolehan kembali protein dan tingkat kemurnian enzim. Aktivitas selulase yang diukur adalah aktivitas selulase total. Penentuan kadar gula pereduksi menggunakan metode Somogy-Nelson. Kadar protein ditentukan dengan metode Lowry. Tingkat kejenuhan etanol dan waktu inkubasi berpengaruh terhadap kemurnian selulase dari Bacillus circulans yang dimurnikan dengan pengendapan etanol. Fraksi optimum ekstrak kasar selulase adalah fraksi II (tingkat kejenuhan etanol 50 %) dengan perolehan kembali rata-rata 65,15 ± 21,41 % dan tingkat kemurnian rata-rata 49,17 ± 13,50 kali ekstrak kasar. Waktu inkubasi optimum adalah 23 jam. Waktu penyimpanan dalam freezer lemari pendingin SHARP VR-D180 berpengaruh terhadap aktivitas selulase dari Bacillus circulans yang dimurnikan dengan pengendapan etanol. Aktivitas selulase menurun sebesar 80 % pada hari pertama dan 90 % pada hari ketujuh setelah penyimpanan.ABSTRACT Islami, Lila Sukma. 2016. Effect of Saturation and Incubation Period to The Purity of Cellulase From Bacillus circulans Purified by Ethanol Precipitation Method and Its Stability During Storage. Undergraduate Thesis, Department of Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, State University of Malang. Advisors: (I) Evi Susanti, S.Si., M.Si, (II) Muntholib, S.Pd., M.Si.Keywords: Bacillus circulans, ethanol precipitation, cellulaseCellulase is an enzyme that hydrolyzes β-1,4-glycosidic bond in the cellulose producing reducing sugars. Cellulase in the form of crude extracts have low activity and stability, therefore purification is needed to increase its activity and stability. One possibility is purifying cellulase crude extract by ethanol precipitation method. The aims of this research is studying the effect of ethanol saturation and incubation period to the purity of cellulase from Bacillus circulans and storage period in the refrigerator SHARP VR-D180 freezer to the activity of cellulase from Bacillus circulans purified by ethanol precipitation method.This research steps consist of: (1) production of Bacillus circulans-cellulase crude extract from pure cultures, (2) purification of cellulase crude extract by using ethanol precipitation method with some variation of ethanol saturation and incubation period, (3) test the amount of reducing sugars and protein content before and after purification, (4) determination activity of cellulase on 0, 1, 4, 7 days storage in the refrigerator SHARP VR-D180 freezer. This research variable is divided into independent variables consist of ethanol saturation (33, 50, 60, 67, 71%), precipitation incubation period (1, 3, 23 hours), and storage period (0, 1, 4, 7 days), control variables is condition of the enzymatic reaction, and the dependent variables consist of recovery and enzyme purification factor. Cellulase activity as measured is total cellulase activity. Determination of reducing sugars using Somogy-Nelson method. Determination of protein content using Lowry method. Etanol saturation and incubation period affected the purity of cellulase from Bacillus circulans purified by ethanol precipitation method. The purification result showed that the highest activity found in fraction which is precipitated at 50 % ethanol saturation with average recovery of 65.15 ± 21.41% and purification factor of 49.17 ± 13.50 times, and incubated at 23 hours. Storage period in the refrigerator SHARP VR-D180 freezer affected the activity of cellulase from Bacillus circulans purified by ethanol precipitation method. Cellulase activity is decreased by 80% in the first day of storage, and 90% on the seventh day of storage
Uji Toksisitas Ekstrak Metanol dan Fraksi Etil Asetat Daun Beluntas (Pluchea indica Less) terhadap Artemia salina serta Isolasi salah satu Komponen Penyusunnya.
ABSTRACT Purwigati. 2016. Uji Toksisitas Ekstrak Metanol dan Fraksi Etil Asetat Daun Beluntas (Pluchea indica Less) terhadap Artemia salina serta Isolasi salah satu Komponen Penyusunnya. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Siti Marfu’ah, M.S., (II) Dr. H. Sutrisno, M. Si. Kata Kunci: Daun beluntas, fraksi etil asetat, uji toksisitas, dan metode Brine Shrimp Lethality Test. Daun beluntas (Pluchea indica Less) telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pengobatan tradisional. Beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa daun beluntas memiliki kandungan senyawa yang berkhasiat. Toksisitas fraksi etil asetat daun beluntas terhadap Artemia salina belum diteliti. Oleh karena itu, diperlukan informasi ilmiah mengenai toksisitas dan kandungan metabolit sekunder dalam daun beluntas. Penelitian ini bertujuan (1) menentukan sifat toksik ekstrak metanol daun beluntas terhadap Artemia salina, (2) menentukan sifat toksik fraksi etil asetat ekstrak daun beluntas terhadap Artemia salina, dan (3) mengidentifikasi hasil isolasi fraksi etil asetat ekstrak daun beluntas. Penelitian ini terdiri dari 7 tahap. Tahap 1: preparasi sampel meliputi pengumpulan, pengeringan, dan pembuatan serbuk. Tahap 2: ekstraksi. Tahap 3: uji toksisitas terhadap Artemia salina. Tahap 4: uji golongan senyawa fraksi etil asetat. Tahap 5: analisis secara kromatografi lapis tipis. Tahap 6: Isolasi komponen fraksi etil asetat meliputi pemisahan komponen dengan kromatografi kolom gravitasi dan pemurnian dengan kromatografi lapis tipis preparatif. Tahap 7: karakterisasi dan identifikasi komponen hasil isolasi fraksi etil asetat. Karakterisasi meliputi wujud, warna, dan uji golongan senyawa, sedangkan identifikasi secara spektrofotometri IR (infrared). Ekstraksi metanol dan fraksi etil asetat daun beluntas bersifat toksik terhadap Artemia salina dengan LC50 berturut-turut 652 ppm dan 745 ppm. Komponen hasil isolasi fraksi etil asetat mempunyai gugus O-H, C-H sp3, C=C aromatik, CH3, gugus C-O eter, C-H aromatik, dan positif uji flavonoid. Diduga sebagai senyawa golongan flavonoid.
Studi Pengaruh Kondisi Dekomposisi Pada Analisis Fe Dalam Sedimen Dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)
ABSTRACT Romlah, Ulfa. 2016. Studi Pengaruh Kondisi Dekomposisi Pada Analisis Fe Dalam Sedimen Dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Skripsi. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Sc. Anugrah Ricky Wijaya, M.Sc. (II) Dr. Irma Kartika Kusumaningrum, S.Si., M.Si.Kata Kunci : Dekomposisi, Fe, Sedimen, Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)Sedimen merupakan kimia fosil yang terdiri dari bahan anorganik dan organik yang berasal dari aktivitas manusia dan pelapukan batuan dan tanah.¬¬¬ Sedimen memiliki salah satu kemampuan mengadsorpsi logam-logam berat. Logam Fe terhadap media lingkungan dapat berpotensi menjadi racun. Penelitian pada logam Fe dalam sedimen telah banyak dilakukan, tetapi studi pengaruh kondisi dekomposisi analisis Fe dalam sedimen belum dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh kondisi dekomposisi pada analisis Fe dalam sedimen yang diukur dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA), (2) membandingkan Fe dalam sedimen pada kondisi dekomposisi optimum dengan, a) larutan HNO3 dan b) akuaregia (campuran HNO3 : HCl rasio 1:3)Penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) Pengambilan dan perlakuan sampel sedimen, (2) Uji dekomposisi larutan HNO3 berbagai variasi konsentrasi (2M; 4M; 6M; 8M; dan 10M), (3) Uji waktu dekomposisi menggunakan larutan HNO3 berbagai variasi waktu dekomposisi (15 menit; 30 menit; 60 menit; 120 menit; 150 menit; dan 180 menit), (4) Uji variasi volume HNO3 pada konsentrasi optimum adalah (10 mL; 25 mL; 50 mL; 75 mL; dan 100 mL), (5) Uji hasil analisis Fe dalam sedimen pada kondisi dekomposisi optimum dengan: a) larutan HNO3, b) akuaregia (campuran HNO3 : HCl rasio 1:3). Penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif metode dekomposisi dan pengaruhnya terhadap analisis Fe dalam sedimen. Kesimpulan dari penelitian yaitu, kondisi dekomposisi memberikan pengaruh pada analisis Fe dari sedimen. Kondisi optimum yang diperoleh yakni dengan menggunakan 50 mL larutan HNO3 8 M dan waktu dekomposisi selama 150 menit. Hasil penentuan konsentrasi Fe sebanyak 0.72 ppm. Hasil tersebut lebih tinggi dibandingkan pelarutan menggunakan akuaregia sebanyak 0.60 ppm. Oleh karena itu, kondisi optimum dengan pelarut HNO3 yang diperoleh pada penelitian ini memungkinkan untuk dijadikan alternatif metode dekomposisi untuk menganalisis Fe dari sampel sedimen.
Pengembangan Bahan Ajar Materi Sifat Koligatif Larutan dengan Model Learning Cycle 5E untuk Siswa Kelas XII SMA/MA
ABSTRACT Gusta, Shinta. 2016. Pengembangan Bahan Ajar Materi Sifat Koligatif Larutan dengan Model Learning Cycle 5E untuk Siswa Kelas XII SMA/MA. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Endang Budiasih, M.S., (II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si.Kata Kunci: sifat koligatif larutan, Learning Cycle 5EKarakteristik buku teks untuk mata pelajaran kimia yang ada di pasaran saat ini sebagian besar menyajikan materi secara deskriptif, dengan penyajian materi bersifat langsung, diikuti dengan rumus-rumus, serta diberikan beberapa contoh permasalahan atau contoh soal yang disertai dengan penyelesaian langsung menggunakan rumus-rumus yang tersedia. Soal-soal untuk uji kompetensi siswa banyak yang serupa dengan contoh soal yang telah diberikan, sehingga ada kecenderungan siswa hanya akan menghafal saja. Hal ini dapat mengakibatkan kurangnya pemahaman siswa serta kurang bermaknanya pemahaman yang telah dimiliki siswa, sehingga siswa tidak mampu menerapkan konsep pada kondisi atau permasalahan yang lebih luas. Dengan demikian, diperlukan bahan ajar dengan model pembelajaran yang lebih konstruktivis dan berpusat pada siswa (student centered), salah satunya adalah Learning Cycle 5E, yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran untuk membangun pengetahuannya, dengan harapan pemahaman siswa dapat lebih bermakna. Materi yang akan dikembangkan adalah sifat koligatif larutan. Materi ini memiliki banyak aplikasi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga sesuai dengan model pembelajaran Learning Cycle. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah menghasilkan bahan ajar kimia untuk siswa kelas XII dengan model Learning Cycle 5E pada materi sifat koligatif larutan dan menguji tingkat kelayakan bahan ajar.Pengembangan bahan ajar materi sifat koligatif larutan mengadopsi model pengembangan 4-D dari Thiagarajan, dkk (1974). Tahap-tahap pengembangan adalah (1) define, (2) design, (3) develop dan (4) disseminate. Tahap disseminate tidak dilakukan karena keterbatasan waktu dalam penelitian. Kelayakan produk ditentukan berdasarkan kelayakan isi, bahasa, dan penyajian. Penilaian kelayakan bahan ajar dilakukan oleh satu orang dosen kimia dan dua orang guru kimia. Data penelitian berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif berupa catatan validasi, saran, dan komentar para validator. Data kuantitatif berupa perhitungan persentase yang diperoleh dari penskoran hasil validasi. Alat pengumpul data yaitu angket validasi untuk dosen kimia dan guru kimia, serta angket uji keterbacaan oleh siswa SMA. Teknik yang digunakan untuk analisis bahan ajar yang telah dikembangkan adalah teknik perhitungan persentase. Berdasarkan hasil penilaian validator didapatkan hasil kelayakan bahan ajar yang diperoleh dari perhitungan persentase rata-rata yaitu dari segi isi sebesar 91,9%, segi bahasa sebesar 94,7%, dan segi penyajian sebesar 92,2%, sehingga diperoleh rata-rata sebesar 92,9%. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan maka bahan ajar ini sangat layak digunakan untuk membantu pembelajaran maupun sebagai sumber belajar materi pokok sifat koligatif larutan berbasis Learning Cycle 5E bagi siswa kelas XII SMA/MA
Perbedaan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Arjasa Situbondo yang Dibelajarkan Menggunakan Model Learning Cycle 3E dan Model Ekspositori pada Bahan Kajian Bahan Kimia dalam Kehidupan
ABSTRAK Sofyan, Ahmad. 2016. Perbedaan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Arjasa Situbondo yang Dibelajarkan Menggunakan ModelLearningCycle 3E dan Model Ekspositori pada Bahan Kajian Bahan Kimia dalam Kehidupan. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Parlan, M.Si., (II) Drs. M. Sodiq Ibnu, M.Si. Kata kunci: LearningCycle3E, bahan ajar, hasil belajar, bahan kimia dalam kehidupan Penerapan Kurikulum 2013 dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas pendidikan dengan penguatan proses pembelajaran yang dilakukan melalui pendekatan ilmiah atau saintifik. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk mendukung pelaksanaan Kurikulum 2013 adalah model LearningCycle 3E yang berbasis konstruktivis. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan model LearningCycle 3Ememerlukan bahan penunjang yang berupa bahan ajar dengan menggunakan model pembelajaran yang sama.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterlaksanaan model LearningCycle 3Eberbantuan bahan ajar dan model ekspositori pada bahan kajian bahan kimia dalam kehidupan dan perbedaan hasil belajar antara siswa yang dibelajarkan model LearningCycle 3Eberbantuan bahan ajar dan model ekspositori. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian Quasyexperimental dengan model post-testonlycontrolgroupdesign dan rancangan deskriptif. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Arjasa Situbondo tahun ajaran 2015/2016 yang terdiri dari 5 kelas. Pemilihan kelas eksperimen dan kontroldilakukan dengan teknik cluster random sampling. Kelas VIII A terpilih sebagai kelas eksperimen dibelajarkan dengan model LearningCycle 3Eberbantuan bahan ajar dan kelas VIII B sebagai kelas kontrol dibelajarkan dengan model ekspositori. Instrumen pengukuran berupa soal tes dan lembar observasi. Perbedaan hasil belajar kognitif siswa dianalisis secara statistik menggunakan uji-tdengan taraf signifikansi 0,05. Data keterlaksanaan pembelajaran, hasil belajar afektif dan psikomotorik siswa disampaikan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlaksanaan proses pembelajaran model LearningCycle 3E berbantuan bahan ajar sebesar 95,00% dan model ekspositorisebesar 94,20%. Hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan menggunakan model LearningCycle 3E berbantuan bahan ajar (rata-rata 80,00) lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan menggunakan model ekspositori (rata-rata 75,40). Rata-rata hasil belajar afektif siswa yang dibelajarkan menggunakan model LearningCycle 3E berbantuan bahan ajar (80,07) lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan menggunakan model ekspositori (75,11). Rata-rata hasil belajar psikomotorsiswa yang dibelajarkan menggunakan model LearningCycle 3E berbantuan bahan ajar (86,00) lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan menggunakan model ekspositori (83,67)
SINTESIS NANOPARTIKEL MAGNETIT DAN NANOPARTIKEL MAGNETIT BERSALUT SILIKA SERTA APLIKASINYA SEBAGAI ADSORBEN ION KADMIUM (II)
ABSTRACT Savitri, Ossie Steffiani. 2016. Sintesis Nanopartikel Magnetit dan Nanopartikel Magnetit Bersalut Silika serta Aplikasinya sebagai Adsorben Ion Kadmium(II). Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Fauziatul Fajaroh, M.S., (II) Dr. Nazriati, M.Si. Kata Kunci: adsorben, Kadmium, nanopartikel magnetit, magnetit bersalut silika.Nanopartikel magnetit memiliki banyak manfaat antara lain sebagai adsorben anion atau pun ion logam dari air limbah. Magnetit perlu dilapisi dengan silika untuk meningkatkan kestabilannya. Tujuan penelitian ini adalah (1) mensintesis nanopartikel magnetit secara elektrokimia dan melapisinya dengan silika secara sol-gel; (2) mengaplikasikan nanopartikel magnetit dan magnetit bersalut silika sebagai adsorben ion kadmium pada variasi waktu pengadukan, konsentrasi, temperatur dan pH. Penelitian ini terdiri dari empat tahap utama. Pertama, mendapatkan elektrode besi terlapisi besi murni dengan cara elektroplating besi. Kedua, proses sintesis nanopartikel magnetit melalui metode elektrolisis dengan elektrode besi terlapisi besi murni hasil elektroplating sebagai anode dan elektrode besi yang lain sebagai katode dengan elektrolit air demineralisasi. Ketiga, sintesis magnetit bersalut silika dengan metode sol-gel dengan larutan natrium silikat sebagai sumber silika. Hasil sintesis kemudian dikarakterisasi dengan XRD, FT-IR, dan SEM. Tahap terakhir dilakukan pengujian magnetit dan magnetit bersalut silika sebagai adsorben terhadap ion kadmium. Hasil analisis FT-IR menunjukkan puncak Si-O-Si pada angka gelombang 1000 - 1200 cm-1, Si-O-Fe pada angka gelombang 560 cm-1 dan Si-O pada angka gelombang 970 cm-1 menunjukkan magnetit terlapisi silika. Hasil XRD menunjukkan penurunan kristalinitas pada magnetit bersalut silika. Hasil SEM menunjukkan ukuran partikel magnetit bersalut silika lebih besar dibandingkan magnetit. Aplikasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa magnetit memiliki kapasitas adsorpsi terhadap ion kadmium (II) yang lebih besar dibandingkan magnetit bersalut silika pada variasi kondisi, namun tidak berbeda secara signifikan
PENGARUH PENERAPAN MODEL INKUIRI TERBIMBING TERHADAP HASIL BELAJAR DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS XI MIA PADA MATERI ASAM-BASA DI SMA NEGERI 1 SITUBONDO
ABSTRACT Mu’izzah, Nur. 2016. Pengaruh Penerapan Model Inkuiri Terbimbing Terhadap Hasil Belajar dan Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas XI MIA Pada Materi Asam-Basa di SMA Negeri 1 Situbondo. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Endang Budiasih, M.S., (II) Dr. Siti Marfuah, M.S.Kata Kunci : inkuiri terbimbing, hasil belajar, keterampilan proses sains, asam-basaKimia termasuk Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang mempelajari materi dari segi struktur, susunan, perubahan susunan dan mekanisme perubahan susunannya. Bahasan dalam ilmu kimia umumnya bersifat abstrak, dan asam-basa merupakan salah satu materi sulit untuk dipahami oleh siswa SMA Negeri 1 Situbondo. Hal ini dibuktikan dengan rata-rata nilai ulangan harian asam-basa di SMA Negeri 1 Situbondo Tahun Pelajaran 2013/2014 dan 2014/2015 adalah 72,35 dan 70,00, rata-rata tersebut berada dibawah nilai KKM yaitu 75. Kondisi ini perlu diatasi dengan membelajarkan siswa dengan menggunakan model pembelajaran yang lebih baik, agar bisa meningkatkan hasil belajar siswa. Model pembelajaran yang dicobakan adalah inkuiri terbimbing. Dalam model ini siswa dituntut untuk menemukan sendiri pengetahuannya melalui keterampilan proses sains. Keterampilan proses sains bersifat penting dalam pembelajaran dikarenakan membuat siswa memiliki pemahaman konsep yang baik, sehingga selain meningkatkan hasil belajar siswa, juga dapat melatih keterampilan proses sains siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar dan keterampilan proses sains siswa.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu dengan model post test only control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI MIA SMA Negeri 1 Situbondo. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster random sampling. Kelas XI MIA 1 terpilih sebagai kelas eksperimen yang dibelajarkan dengan inkuiri terbimbing, dan kelas XI MIA 2 sebagai kelas kontrol yang dibelajarkan dengan model ekspositori. Instrumen pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini tes hasil belajar kognitif, lembar observasi afektif, psikomotor, dan keterampilan proses sains. Hasil uji coba tes menghasilkan 24 soal valid dan memiliki reliabilitas sebesar 0,833. Analisis data penelitian dilakukan dengan analisis statistik kuantitatif dan analisis deskriptif. Data hasil belajar kognitif siswa dianalisis secara kuantitatif yang meliputi uji normalitas, uji homogenitas, dan uji-t dua pihak dengan taraf signifikansi 0,05, sedangkan data keterlaksanaan pembelajaran, hasil belajar afektif, psikomotor, dan keterampilan proses sains dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat perbedaan hasil belajar kognitif antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing (rata-rata 81,85) dan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran ekspositori (rata-rata 73,90); (2) hasil belajar afektif siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing (rata-rata 97,10), kriteria sangat baik) lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran ekspositori (rata-rata 87,30); (3) hasil belajar psikomotor siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing (rata-rata 97,10, kriteria sangat baik) lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran ekspositori (90,70, kriteria sangat baik); (4) keterampilan proses sains siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing (90,39, kriteria sangat baik) lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran ekspositori (83,28, kriteria baik). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap hasil belajar dan keterampilan proses sains siswa daripada model pembelajaran ekspositori
Pengembangan Bahan Ajar Materi Kimia Unsur Golongan Alkali Dan Alkali Tanah Berbasis Inkuiri Terbimbing Untuk Siswa SMA/ MA Kelas XII
ABSTRAK Puspita, Deby. 2016. Pengembangan Bahan Ajar Materi Kimia Unsur Golongan Alkali Dan Alkali Tanah Berbasis Inkuiri Terbimbing Untuk Siswa SMA/ MA Kelas XII. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Wayan Dasna, M.Ed.,M.Si.,Ph.D, (II) Drs. Ida Bagus Suryadharma, M.S. Kata Kunci : Bahan Ajar, Inkuiri Terbimbing, Unsur Alkali dan Alkali Tanah Pembelajaran kimia pada kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik pada kurikulum 2013 digunakan untuk meningkatkan kemampuan spiritual, sikap, kognitif, dan psikomotor secara seimbang. Keberhasilan Kurikulum 2013 tidak hanya ditentukan oleh model pembelajaran, namun juga ditentukan oleh bahan ajar yang digunakan. Bahan ajar merupakan salah satu komponen dalam pembelajaran. Bahan ajar materi golongan alkali dan alkali tanah yang dibutuhkan adalah bahan ajar yang menyajikan fakta dan konsep yang sesuai dengan kurikulum 2013 yaitu inkuiri terbimbing. Hasil analisis terhadap 2 bahan ajar menunjukkan bahwa penyajian materi golongan alkali dan alkali tanah secara deskriptif tidak membantu guru dalam membelajarkan kimia sehingga bahan ajar tersebut kurang menarik minat peserta didik. Tujuan dari penelitian pengembangan bahan ajar adalah: (1) menghasilkan bahan ajar materi kimia unsur golongan alkali dan alkali tanah berbasis inkuiri terbimbing; dan (2) mengetahui kelayakan bahan ajar materi kimia unsur golongan alkali dan alkali tanah berbasis inkuiri terbimbing. Penelitian pengembangan menggunakan model rancangan 4D yang terdiri dari pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran. Pada penelitian pengembangan ini, tahap penyebaran tidak dilakukan. Validasi dilakukan oleh 3 validator yaitu seorang dosen kimia dan dua guru kimia SMA/ MA. Uji keterbacaan dilakukan pada 10 orang peserta didik SMA Negeri 1 Sumberpucung. Instrumen validasi dan uji keterbacaan menggunakan angket. Klasifikasi angket validasi dan uji keterbacaan menggunakan kriteria tertentu. Hasil pengembangan berupa bahan ajar kimia unsur golongan alkali dan alkali tanah berbasis inkuiri terbimbing yang terbagi menjadi 2 buku yaitu Buku Siswa dan Buku Pedoman Guru. Karakteristik bahan ajar tersebut antara lain : (1) menggunakan model inkuiri terbimbing, (2) dilengkapi video penunjang bahan ajar yang dikemas dalam bentuk Compactdisk (CD), (3) penyajian materi menggunakan alur pembelajaran yang berurutan, dan (4) disajikan fakta-fakta yang banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor hasil validasi Buku Siswa yaitu 81,6% dan Buku Pedoman Guru yaitu 83,3% yang dikategorikan sangat layak. Skor hasil uji keterbacaan yaitu 81,2% yang dikategorikan sangat layak. Produk hasil pengembangan diharapkan dapat mendukung implementasi kurikulum 2013 yaitu menggunakan inkuiri terbimbing dan disarankan untuk diuji secara empiris sehingga peneliti lain dapat mengetahui keefektifan bahan ajar bila diterapkan dalam pembelajaran kelas
Difenilmetanation dan 2,2,4,4-tetrametil-3-tiooksosiklobutanon: Kajian Reaktivitas dan Keadaan Transisinya dalam Reaksi Sikloadisi 1,3 dengan 3-diazo-2,4-pentanadion Menggunakan Metode Density Functional Theory
ABSTRAK Alfadini, Annisa. 2015. Difenilmetanation dan 2,2,4,4-tetrametil-3-tiooksosiklobutanon: Kajian Reaktivitas dan Keadaan Transisinya dalam Reaksi Sikloadisi 1,3 dengan 3-diazo-2,4-pentanadion Menggunakan Metode Density Functional Theory. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Yahmin, S.Pd, M.Si., (II) Dr. Siti Marfu’ah, M. S. Kata Kunci : 3-diazo-2,4-pentanadion, DFT, Energi Aktivasi, Keadaan Transisi, Reaksi Sikloadisi 1,3 Sintesis 1,3-oksatiol banyak dilakukan karena perannya dalam bidang farmasi yang sukup besar. 1,3-Oksatiol dapat disintesis dari reaksi sikloadisi 1,3 pada 3-diazo-2,4-pentanadion dengan difenilmetanation menghasikan produk dengan rendemen 81%, sedangkan dengan 2,2,4,4-tetrametil-3-tiooksosiklobutanon mempunyai rendemen sebesar 88%. Analisis mengenai perbedaan persentase produk yang telah disebutkan dapat dipelajari secara teoritis dengan menggunakan metode komputasi. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui struktur 3D keadaan transisi reaksi sikloadisi 1,3 pada 3-diazo-2,4-pentanadion, (2) mengetahui besar energi aktivasi reaksi sikloadisi 1,3 pada 3-diazo-2,4-pentandion dengan difenilmetanation dan 2,2,4,4-tetrametil-3-tiooksosiklobutanonon, (3) mengetahui reaktivitas difenilmetanation dan 2,2,4,4-tetrametil-3-tiooksosiklobutanon pada reaksi tersebut. Kajian dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Gaussian 09 dan Gauss view 5.0. Metode yang digunakan adalah DFT dengan fungsi hibrid B3LYP himpunan basis 6-31G(d). Pengumpulan data menggunakan seperangkat server komputer dengan menggambarkan struktur seyawa yang terlibat. Semua struktur tersebut kemudian dioptimasi dan dihitung frekuensi vibrasinya pada keadaan dasar. Selanjutnya mencari struktur keadaan transisi dengan metode QST3. Data yang didapatkan tersebut kemudian dianalisis proses pembentukannya serta pemutusan ikatannya, dan penentuan energi aktivasi reaksi sikloadisi 1,3 pada 3-diazo-2,4-pentanadion. Gambar 3D dari dua struktur keadaan transisi dalam masing-masing mekanisme reaksi sikloadisi 1,3 pada 3-diazo-2,4-pentanadion dengan dua pereaksi berbeda menunjukkan bahwa proses reaksi diawali dengan pembentukan struktur cincin, kemudian terjadi pelepasan N2 . Adanya dua keadaan transisi dan satu zat antara menyimpulkan bahwa proses reaksi terdiri dari dua tahap. Energi aktivasi reaksi 1 adalah: Tahap 1: 16,085 kkal/mol; Tahap 2: 18,184 kkal/mol. Energi aktivasi reaksi 2 adalah: Tahap 1: 16,118 kkal/mol; Tahap 2: 16,719 kkal/mol. Tahap 2 dari masing-masing reaksi merupakan penentu laju reaksi. Reaksi 2 lebih cepat berlangsung dibandingkan dengan reaksi 1. Reaktivitas difenilmetanation lebih kecil daripada 2,2,4,4-tetrametil-3-tiooksosiklobutanon