SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Optimasi Aktivitas Ekstrak Kasar Keratinase Dari Bacillus sp. Sebagai Agen Dehairing Kulit Kambing
ABSTRACT Zuhriyah, U. F. 2016. Optimasi Aktivitas Ekstrak Kasar Keratinase Dari Bacillus sp.Sebagai Agen Dehairing Kulit Kambing. Skripsi, Jurusan Kimia, FakultasMatematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Dr. Suharti, S. Pd., M. Si., (II) Evi Susanti, S. Si., M. Si.Kata-kunci: Bacillus sp., isolat MD24, kation logam divalen, keratinase, kulitkambing, jenis protease, surfaktanIsolat MD24 teridentifikasi sebagai Bacillus sp. mampu memproduksikeratinase. Keratinase merupakan protease yang memiliki potensi digunakan dalamproses dehairing pada penyamakan kulit. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui (1) jenis protease berdasarkan pengaruh inhibitor spesifik terhadapaktivitas ekstrak kasar keratinase, (2) pengaruh beberapa kation logam divalenterhadap aktivitas ekstrak kasar keratinase, (3) pengaruh surfaktan terhadap stabilitasaktivitas ekstrak kasar keratinase, dan (4) kemampuannya sebagai agen dehairingkulit kambing.Penelitian ini bersifat eksplorasi laboratoris yang terdiri dari beberapa tahapyaitu (1) regenerasi biakan murni Bacillus sp., (2) produksi ekstrak kasar keratinaseBacillus sp., (3) penentuan aktivitas ekstrak kasar keratinase, (4) penentuan jenisprotease berdasarkan pengaruh inhibitor spesifik (PMSF dan EDTA) terhadapaktivitas ekstrak kasar keratinase, (5) penentuan pengaruh beberapa kation logamdivalen (Ca2+, Co2+, Mn2+, Mg2+, dan Ni2+ ) terhadap aktivitas ekstrak kasarkeratinase, (6) penentuan pengaruh surfaktan terhadap aktivitas ekstrak kasarkeratinase, (7) penentuan kemampuannya sebagai agen dehairing kulit kambing.Aktivitas ekstrak kasar keratinase ditentukan melalui pengukuran serapan tirosinbebas yang dihasilkan setelah reaksi hidrolisis secara spektrofotometri pada 280 nm.Kemampuan ekstrak kasar keratinase dalam dehairing kulit kambing ditentukanberdasarkan pengamatan secara langsung terhadap kulit kambing sebelum dansesudah reaksi enzimatis selama 24, 48, dan 72 jam perendaman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas ekstrak kasar keratinasemeningkatkan oleh penambahan ion Ca2+, Co2+, Mn2+, dan Ni2+ pada konsentrasi 1mM dan menurun oleh penambahan ion Mg2+. Ekstrak kasar keratinase yangdiproduksi oleh Bacillus sp. tergolong jenis serin metaloprotease. Aktivitas ekstrakkasar keratinase menurun oleh penambahan surfaktan Tween-20 pada suhu 37 oC, 25oC, maupun 4 oC masing- masing menjadi 97,42 %, 97,56 %, dan 96,34 %.Berdasarkan pengamatan secara langsung selama 24, 48, dan 72 jam diketahui bahwa ekstrak kasar keratinase dapat menghilangkan rambut kulit kambing
Pengembangan Bahan Ajar Reaksi Redoks Berdasarkan Pendekatan Process Oriented Guided Inquiry Learning (POGIL) untuk Siswa SMA/MA Kelas X Program IPA
ABSTRAK Savitri, Tetty, H. 2015. Pengembangan Bahan Ajar Reaksi Redoks Berdasarkan Pendekatan Process Oriented Guided Inquiry Learning (POGIL) untuk Siswa SMA/MA Kelas X Program IPA. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Effendy, Ph.D; (2) Drs. M. Shodiq Ibnu, M.Si Kata-kata kunci: pengembangan, bahan ajar, Reaksi Redoks, POGIL Reaksi Redoks merupakan salah satu materi kimia di SMA/MA kelas X program IPA. Pembelajaran materi ini menyangkut representasi makroskopik, mikroskopik, dan simbolik serta konsep-konsep abstrak yang cenderung hanya dapat dipahami dengan baik oleh siswa yang telah mengembangkan kemampuan berpikir formal. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa sekolah lanjutan belum mencapai tingkat berpikir formal. Hal ini menyebabkan sebagian siswa cenderung mengalami kesulitan dalam mempelajari materi ini. Selama ini pembelajaran Reaksi Redoks cenderung menggunakan metode ceramah. Metode pembelajaran ini tidak mengikutsertakan siswa dalam mengkonstruksi konsep. Dengan demikian, diperlukan pendekatan pembelajaran yang menyertakan siswa secara aktif dalam mengkonstruk konsep sehingga kemampuan berpikir formal siswa meningkat. Hal ini dapat memudahkan siswa dalam mempelajari konsep-konsep yang bersifat abstrak. POGIL merupakan pendekatan pembelajaran yang diharapkan memenuhi tuntutan tersebut karena pendekatan ini mengharuskan siswa untuk terlibat langsung dalam membangun konsep dengan bantuan dari guru. Tahap-tahap pembelajaran POGIL sarat dengan pertanyaan-pertanyaan yang berfungsi sebagai stimulasi intelektual yang diperlukan dalam perkembangan kemampuan berpikir formal siswa. Pembelajaran dengan pendekatan POGIL memerlukan bahan ajar yang disusun secara sistematis dan spesifik. Sampai saat ini dapat dianggap belum ada bahan ajar materi Reaksi Redoks yang memenuhi persyaratan tersebut. Penelitian ini bertujuan menghasilkan bahan ajar pada materi Reaksi Redoks berdasarkan pendekatan POGIL untuk siswa SMA/MA kelas X program IPA serta mengidentifikasi kelayakan dan efektivitasnya. Penelitian ini menggunakan model pengembangan Plomp (1997) yang terdiri dari lima fase pengembangan yaitu investigasi awal, perancangan, realisasi, tes, evaluasi, dan revisi, dan implementasi. Fase implementasi tidak dilakukan karena produk pengembangan masih digunakan secara terbatas. Bahan ajar yang dikembangkan terdiri dari “Buku Kerja Siswa” dan “Buku Panduan Guru”. Buku Kerja Siswa berisi serangkaian aktifitas yang harus dilalui oleh siswa dalam mengkonstruk suatu konsep, sedangkan buku Panduan Guru berisi jawaban dari setiap aktifitas yang terdapat pada Buku Kerja Siswa. Buku Kerja Siswa dinilai kelayakan isi, bahasa, dan penyajian bahan ajar dilakukan oleh satu dosen kimia dan dua orang guru kimia SMA menggunakan instrumen yang dikembangakan berdasarkan standar penilaian bahan ajar yang ditetapkan oleh BSNP. Data penelitian berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa tanggapan dan saran perbaikan oleh validator. Data kuantitatif berupa skor validasi dan hasil belajar siswa. Data hasil belajar siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes pilihan ganda yang terdiri dari 20 butir soal dengan validitas isi sebesar 96,9% dan koefisien reliabilitas, dihitung dengan persamaan Kuder-Richardson 20, sebesar 0,82. Hasil penilaian menunjukkan bahwa Buku Kerja Siswa memiliki kelayakan isi 86,7%, kelayakan bahasa 84,0 % dan kelayakan penyajian 89,4%. Skor rata-rata hasil belajar siswa setelah menggunakan buku tersebut adalah 82,9. Kriteria ketuntasan minimal dicapai oleh 86,2% siswa. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dianggap bahwa Buku Kerja Siswa yang dikembangkan adalah layak dan efektif untuk digunakan dalam pembelajaran topik Reaksi Redoks. Evaluasi lebih lanjut mengenai kelayakan dan keefektifan bahan ajar perlu dilakukan untuk pemakaian bahan ajar dalam lingkup yang lebih luas. ABSTRACT Savitri, Tetty, H. 2015. Development of Learning Material on Redox Reaction Topic Based on POGIL Approach for 10th Grade Science Students of Senior High School. Undergraduate Thesis, Department of Chemistry Education, Faculty of Mathematics and Sciences, State University of Malang. Advisor: (1) Prof. Effendy, Ph.D; (2) Drs. M. Shodiq Ibnu, M.Si Key words: development, learning material, Redox Reaction, POGIL Redox reaction is one of chemistry topic in secondary school for X grade science program students. Learning this material includes macroscopic, microscopic and symbolic representation as well as abstract concepts in this topic which only be studied by students who have reached formal thinking level. Some research showed that most of secondary school students have not reached formal thinking level. Therefore some students faced difficulties to learn this topic. So far, teachers teach Redox Reactions tend to use the lecture method. This teaching method does not involve students to construct concepts. Thus, it needs a learning approach that includes students actively in constructing the concept so formal thinking ability of students increased. It can help students learn the abstract concepts. POGIL is a learning approach that is expected to meet these demands because this approach requires students to be directly involved in developing the concept with the assistance of a teacher. POGIL learning stages loaded with questions that serve as intellectual stimulation which is needed in the development of formal thinking abilities. Learning by using POGIL approach requires learning material arranged in a systematic and specific. Until now, there is no instructional material in Redox Reaction topic that meets these requirements. This purpose of this research to develop learning materials on Redox Reactions topic based on POGIL approach for 10th grade of science program students and to identify its feasibility and effectiveness. Development of instructional material on Redox Reaction topic adopted Plomp Model which consisted of five phases: preliminary investigation, design, realization, test, evaluation, and revision, and implementation. The implementation phase was not done because of limitation of product developed. Learning material developed consisted of "Student Workbook" and "Teacher’s Handbook". Student Workbook contains a set of activities that must be passed by students in constructing a concept, while book Teacher's Handbook contains the answers of every activity that is contained in the Student Workbook. The feasibility of content, language, and presentation of Student Workbook were assessed using an instrument constructed based on instructional material evaluation instrument set by BSNP 2006. Student Workbook feasibility test was carried out by expert validators consisted of one chemistry lecturer and two senior high school chemistry teachers. The research data consist of qualitative and quantitative data. Qualitative data refers to feedback and suggestions for improvements by the validator. Quantitative data consist scores of student learning outcomes and score by the validator. Student learning outcome data were collected using a multiple-choice test consisting of 20 items with the content validity of 96.9% and a reliability coefficient is calculated by Kuder-Richardson 20, of 0.82. The assessment result shows that the Student Workbook has a content feasibility of 86.7%, language feasibility 84.0% and presentation feasibility of 89.4%. The average score of student learning outcomes after using the Student Workbook was 82.9%. In addition, minimum passing grade score was achieved by 86.2% of students. Based on these results, it could be considered that the Student Workbook developed was feasible and effective to be used in the learning of Redox Reaction topic. Further evaluation for the feasibility and effectiveness of this learning material can be done by using this learning material on broader area
Perbedaan Hasil Belajar Kognitif dan Motivasi Belajar Peserta Didik Kelas XI SMAN 1 Kepanjen pada Penerapan Pendekatan Ilmiah dan Pendekatan Ilmiah dalam Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT pada Materi Koloid
ABSTRAK Sudariasri, Vida Zenitha. 2016. Perbedaan Hasil Belajar Kognitif dan Motivasi Belajar Peserta Didik Kelas XI SMAN 1 Kepanjen pada Penerapan Pendekatan Ilmiah dan Pendekatan Ilmiah dalam Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT pada Materi Koloid. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Muhammad Su’aidy, M. Pd, (II) Oktavia Sulistina, S. Pd, M. Pd. Kata kunci: model pembelajaran kooperatif tipe TGT, pendekatan ilmiah, hasil belajar kognitif, motivasi belajar, koloid. Implementasi Kurikulum 2013 di Indonesia menuntut guru untuk menggunakan pendekatan ilmiah dalam proses pembelajaran. Pendekatan ilmiah dalam Permendikbud No. 81A (2013) meliputi lima pengalaman belajar, yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, menalar/mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Dengan demikian, peserta didik dapat membangun pengetahuannya sendiri bukan dari orang lain. Akan tetapi, berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan peserta didik kelas XI MIA SMAN 1 Kepanjen yang telah menerapkan Kurikulum 2013 dan menggunakan pendekatan ilmiah dalam proses belajar kimianya, peserta didik terlihat tidak memiliki semangat belajar dan cenderung mengabaikan proses pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi, menurunnya motivasi belajar peserta didik berimbas pada hasil belajar kognitif. Oleh karena itu, untuk meningkatkan hasil belajar kognitif dan motivasi belajar dapat dilakukan dengan memadukan unsur dari model pembelajaran yang lebih menyenangkan ke dalam pendekatan ilmiah. Salah satu model pembelajaran yang dapat menunjang hasil belajar kognitif dan motivasi belajar ialah model pembelajaran kooperatif. Salah satu tipe pembelajaran kooperatif adalah Team Game Tournament (TGT). Model pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan ilmiah dapat diterapkan untuk pembelajaran kimia. Salah satu materi pokok pada pembelajaran kimia ialah materi koloid. Pembelajaran kooperatif yang dipadukan dengan proses belajar sesuai pendekatan ilmiah diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar kognitif dan motivasi belajar peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui bagaimanakah keterlaksana-an proses pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan proses pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah pada materi koloid, (2) mengetahui adakah perbedaan hasil belajar kognitif peserta didik yang dibelajarkan menggunakan pendekatan ilmiah dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan peserta didik yang dibelajarkan hanya menggunakan pendekatan ilmiah, (3) mengetahui bagaimanakah motivasi belajar peserta didik yang dibelajarkan menggunakan pendekatan ilmiah dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan peserta didik yang dibelajarkan hanya menggunakan pendekatan ilmiah. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu (Quasy Experimental). Subjek penelitian melibatkan siswa kelas XI MIA 2 dan XI MIA 3 SMA Negeri 1 Kepanjen. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelas yang dibelajarkan dengan menggunakan pendekatan ilmiah dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT berlangsung dengan sangat baik (rata-rata keterlaksanaan 94,3%) dan pada kelas yang dibelajarkan dengan menggunakan pendekatan ilmiah berlangsung sangat baik (rata-rata keterlaksanaan 92,3%). Pembelajaran dengan pendekatan ilmiah dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT (rata-rata nilai 80,53) mempunyai hasil belajar kognitif lebih tinggi daripada pembelajaran dengan pendekatan ilmiah (rata-rata nilai 75,07). Peserta didik yang dibelajarkan menggunakan pendekatan ilmiah dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki persentase motivasi belajar dengan kriteria termotivasi 30% dan sangat termotivasi sebesar 70%, sedangkan peserta didik yang dibelajarkan hanya menggunakan pendekatan ilmiah memiliki persentase dengan kriteria termotivasi 67% dan sangat termotivasi sebesar 33%
Pengaruh LKS Berbasis Learning Cycle 5E Terhadap Hasil Belajar Stoikiometri Siswa Kelas X SMAN 5 Malang
ABSTRACT Pengaruh LKS Berbasis Learning Cycle 5E Terhadap Hasil Belajar Stoikiometri Siswa Kelas X SMAN 5 MalangPrawesti, Bazhlina Puji. 2016. Pengaruh LKS Berbasis Learning Cycle 5E Terhadap Hasil Belajar Stoikiometri Siswa Kelas X SMAN 5 Malang. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: Muntholib, S.Pd.,M.Si, Pembimbing II: Drs. Ida Bagus Suryadarma, M.S.Kata Kunci : LKS, Model Pembelajaran Learning Cycle 5E, Hasil Belajar Siswa.Ilmu kimia merupakan salah satu cabang Ilmu Pengatahuan Alam yang memiliki karakteristik: a) ilmu yang mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana gejala-gejala alam yang berkaitan dengan komposisi, struktur dan sifat, perubahan, dinamika, dan energetika, b) ilmu yang pada awalnya diperoleh dan dikembangkan berdasarkan percobaan (induktif) namun pada perkembangan selanjutnya juga diperoleh dan dikembangkan berdasarkan teori (deduktif). Namun demikian, umumnya pembelajaran kimia masih dilakukan dengan menggunakan pendekatan ekspositori yakni ceramah. Pembelajaran dengan menggunakan ceramah sebenarnya memiliki keuntungan, yakni waktu yang diperlukan lebih singkat dan lebih efisien. Namun penggunaan ceramah memiliki kelemahan, diantaranya siswa cenderung pasif dan bergantung pada penjelasan guru dan kurang dapat menyampaikan ide-idenya sehingga pembelajaran menjadi kurang bermakna. Hal ini menyebabkan perolehan hasil belajar belum sesuai dengan harapan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan LKS Berbasis Learning Cycle 5E dalam pembelajaran stoikiometri di kelas X SMAN 5 Malang.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu dengan model pre-test post-test design. Pengambilan sampel dilakukan dengan acak klasikal dan diperoleh dua kelas, yakni X MIA 4 sebagai kelas eksperimen yang dibelajarkan dengan model Learning Cycle 5E, dan kelas X MIA 6 sebagai kelas kontrol yang dibelajarkan dengan model Direct Instruction. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar. Analisis data dilakukan dengan uji-t pada nilai α= 0,05 dan analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis keterlaksanaan pembelajaran. Analisis statistik dengan uji-t independent sample test digunakan untuk menguji perbedaan hasil belajar kognitif siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran, baik kelas yang menerapkan model pembelajaran Learning Cycle 5E dan model pembelajaran Direct Instruction, terlaksana dengan sangat baik dengan rata-rata persentase keterlaksanaan sebesar berturut-turut sebesar 91,12% dan 90,38%. Hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotorik siswa yang dibelajarkan dengan LKS berbasis Learning Cycle 5E lebih tinggi dari pada yang dibelajarkan dengan LKS berbasis Direct Instruction
Pembuatan dan Karakterisasi Adsorben Silika-Selulosa-Surfaktan untuk Adsorpsi Cd2+ dengan Kehadiran Pb2+ dan Cr3+ sebagai Ion Pengganggu
ABSTRAK Fauziah, Dwi Ismiatul. 2016. Pembuatan dan Karakterisasi Adsorben Silika–Selulosa-Surfaktan untuk Adsorpsi Cd2+dengan Keberadaan Pb2+ dan Cr3+sebagai Ion Pengganggu, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D, (II) Dr. Sc. Anugrah Ricky Wijaya, M.Sc. Kata kunci : Adsorpsi, logam berat, n-CTMABr, sekam padi, silika-selulosa-surfaktan. Telah dilakukan pembuatan adsorben silika-selulosa dan silika-selulosa-surfaktan. Adsorben yang dibuat digunakan untuk mengadsorpsi Cd2+, Cr3+, dan Pb2+. Tujuan penelitian adalah untuk (1) membuat dan mengkarakterisasi adsorben silika-selulosa-surfaktan, (2) mengetahui adsorpsi Pb2+ , Cr3+, dan Cd2+ menggunakan metode KLT (fase diam berupa adsorben yang telah dibuat) dan Cd2+ menggunakan metode batch, (3) mengetahui pengaruh Cr3+ dan Pb2+ sebagai ion pengganggu terhadap adsorpsi Cd2+. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan di laboratorium Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap, yaitu (1) pembuatan dan karakterisasi adsorben silika-selulosa dan silika-selulosa-surfaktan yang meliputi uji massa jenis, uji kadar air, uji kadar abu, daya serap iod, uji BET, dan FT-IR, (2) aplikasi adsorpsi Cd2+, Cr3+, dan Pb2+ menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan adsorpsi Cd2+ menggunakan metode batch. Plat KLT dibuat dengan cara meratakan adsorben yang telah ditambah aquades pada kaca preparat, sedangkan metode batch dilakukan dengan waktu kontak selama 20 menit dengan massa adsorben yang sama, (3) analisis pengaruh keberadaan Pb2+ dan Cr3+sebagai ion pengganggu terhadap adsorpsi Cd2+ menggunakan Atomic Absorption Spektrophotometer (AAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) silika-selulosa-surfaktan memiliki massa jenis, kadar air, kadar abu, dan daya serap iod yang lebih besar dari silika-selulosa, namun hasil analisis BET menunjukkan bahwa luas permukaannya lebih kecil dari silika-selulosa, uji FT-IR menunjukkan adanya pita serapan dari gugus N-CH3 yang merupakan gugus yang khas pada surfaktan n-CTMABr, (2) Pb2+, Cr3+, dan Cd2+ tidak terelusi pada plat KLT dan metode adsorpsi batch menunjukkan persen adsorpsi Cd2+ pada adsorben silika-selulosa-surfaktan lebih besar dari adsorben silika-selulosa, (3) keberadaan Pb2+ dan Cr3+ menurunkan keterserapan Cd2+ pada adsorben
Perbedaan Hasil Belajar Kognitif dan Kemampuan Berpikir Kreatif pada Peserta didik yang Dibelajarkan Menggunakan Metode Saintifik-Proyek dan Metode Saintifik pada Materi Sistem Koloid di SMA Negeri 1 Kedungwaru Tulungagung
ABSTRAK Permatasari, Lia Nurindah. 2016. Perbedaan Hasil Belajar Kognitif dan Kemampuan Berpikir Kreatif pada Peserta didik yang Dibelajarkan Menggunakan Metode Saintifik-Proyek dan Metode Saintifik pada Materi Sistem Koloid di SMA Negeri 1 Kedungwaru Tulungagung. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Oktavia Sulistina, S.Pd., M.Pd (2) Dr. Yahmin, S.Pd.,M.Si. Kata Kunci: Metode Saintifik, Metode Proyek, Metode Saintifik-Proyek, Berpikir Kreatif, Hasil Belajar Kognitif, Sistem Koloid Sistem koloid merupakan salah satu materi kimia SMA yang dipelajari di kelas XI MIA pada semester genap. Materi sistem koloid merupakan materi yang penting dan aplikasinya banyak ditemukan dalam berbagai bidang yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga materi sistem koloid dapat dibelajarkan dengan metode saintifik-proyek. Melalui metode saintifik-proyek peserta didik dapat belajar dengan baik untuk meningkatkan hasil belajar kognitifnya serta kemampuan berpikir kreatifnya. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil belajar kognitif dan mengetahui kemampuan berpikir kreatif antara peserta didik yang dibelajarkan dengan menggunakan metode saintifik-proyek dengan peserta didik yang dibelajarkan hanya dengan metode saintifik pada materi sistem koloid. Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimen semu dengan post test only control group design. Populasi pada penelitian ini adalah peserta didik kelas XI MIA SMAN 1 Kedungwaru Tulungagung. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster random sampling. Sampel yang digunakan sejumlah dua kelas yaitu kelas XI MIA 1 sebagai kelas eksperimen 1 dan kelas XI MIA 2 sebagai kelas eksperimen 2. Instrumen perlakuan yang digunakan adalah silabus, rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan lembar kerja peserta didik (LKPD). Instrumen pengukuran yang digunakan adalah soal tes ulangan harian dan soal berpikir kreatif. Teknik analisis data penelitian dilakukan dengan cara statistik dan deskriptif. Pengujian hipotesis dihitung menggunakan Independent Sample t-test dengan (Sig.) > 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tidak terdapat perbedaan hasil belajar kognitif peserta didik yang dibelajarkan menggunakan metode saintifik-proyek dengan peserta didik yang dibelajarkan hanya menggunakan metode saintifik (Sig.> 0,05), (2) Rata-rata hasil kemampuan berpikir kreatif peserta didik yang dibelajarkan menggunakan metode saintifik-proyek adalah lebih tinggi (46,70) daripada rata-rata hasil kemampuan berpikir kreatif pada peserta didik yang dibelajarkan menggunakan metode saintifik (40,90)
SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS DARI [Co(H2O)2(quin)2]2+ DAN [Ag(SCN)2]ˉ
ABSTRACT Putra, J. L. 2015. Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari[Co(H2O) 2 (quin)2]2+ dan [Ag(SCN) ]ˉ. Skripsi, Jurusan Kimia, FakultasMatematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Drs. I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed, Ph.D., (II) Dr. Fariati, M.Sc. 2 Kata-kata kunci : sintesis, karakterisasi, senyawa kompleks, [Co(H 2O),[Ag(SCN) Reaksi Co(NO3)22]ˉ dengan kuinolina (quin) menghasilkan senyawa kompleks [Co(H2O)2(quin)2](NO3)2. Kation senyawa tersebut adalah [Co(H dengan struktur tetrahedral terdistorsi. Sementara itu, reaksi AgNO dan KSCN menghasilkan senyawa kompleks K[Ag(SCN) ]. Anion senyawa tersebut adalah [Ag(SCN)22]ˉ dengan struktur tetrahedral terdistorsi. Reaksi antara larutan[Co(H 2O)2(quin)2](NO3)2 dalam asetonitril dan larutan K[Ag(SCN)] dalam asetonitril dapat menghasilkan senyawa kompleks ionik atau molekuler. Senyawa kompleks ionik dapat terbentuk akibat gaya tarik elektrostatik antara ion [Co(H2O)2(quin)2]2+ dan [Ag(SCN)]ˉ. Senyawa kompleks molekuler dapat terbentuk bila atom nitrogen dari ion [Ag(SCN)2]ˉ berikatan dengan atom pusat dariion [Co(H2O)2(quin)2]2+2 . Ikatan koordinasi tersebut dapat menaikkan bilangankoordinasi dari atom kobalt dan mempengaruhi kestabilan senyawa yang terbentuk.Penghilangan ligan untuk mempertahankan bilangan koordinasi dari atom kobaltmungkin terjadi agar terbentuk senyawa yang lebih stabil. Tujuan dari penelitianadalah untuk mensintesis dan mengkarakterisasi senyawa kompleks dari[Co(H2O)2(quin)2]2+ dan [Ag(SCN)]ˉ. Hasil karakterisasi dapat digunakan untukidentifikasi senyawa kompleks yang terbentuk merupakan senyawa ionik ataumolekuler dan juga untuk mengetahui bilangan koordinasi atom kobalt tetap ataumengalami kenaikkan. Senyawa kompleks disintesis dengan mereaksikan larutan[Co(H2O)2(quin)2](NO3)22 dalam asetonitril dan larutan K[Ag(SCN)] dalamasetonitril pada perbandingan mol 1:2. Larutan [Co(H2O)2(quin)22](NO disintesisdengan mereaksikan Co(NO3) dan kuinolina dalam asetonitril pada perbandinganmol 1:2, sedangkan K[Ag(SCN)22] disintesis dengan mereaksikan AgNO danKSCN dalam asetonitril pada perbandingan mol 1:2. Pengukuran titik lebur darikristal hasil sintesis untuk menentukan kebaruan, kemurnian, dan kestabilantermalnya. Analisis komposisi unsur dengan EDX untuk memperoleh rumusempiris senyawa kompleks. Uji daya hantar listrik (DHL) untuk menentukansenyawa kompleks tergolong ionik atau molekuler. Data spektroskopi IR digunakanuntuk identifikasi gugus fungsi dari ligan kuinolina dan pola koordinasi dari ionSCNˉ. Berdasarkan hasil analisis, maka kemungkinan rumus kimia senyawakompleks dapat ditentukan. Berdasarkan rumus kimia tersebut, maka kemungkinanstruktur senyawa kompleks dapat diprediksi. Energi bebas dari setiap kemungkinanstruktur dihitung dengan program Spartan’14. Struktur yang memungkinkan adalahstruktur dengan nilai energi bebas terendah. Reaksi larutan [Co(H2O)2(quin)2](NO3) dalam asetonitril dan larutanK[Ag(SCN)2] 2dalam asetonitril pada perbandingan mol 1:2 menghasilkan kristal 2(quin)O)3 3)222(quin)223]2+2]2+ biru gelap, berbentuk prisma, dan melebur pada 230-231ºC. Hasil pengukuran titiklebur menunjukkan bahwa senyawa kompleks hasil sintesis merupakan senyawabaru, murni, dan stabil. Analisis dengan EDX diperoleh rumus empiris senyawaadalah C22H14Ag2CoN6S. Data uji DHL membuktikan bahwa senyawa kompleks bersifat molekuler. Spektrum IR senyawa menunjukkan serapan kuatpada 1500,62 cm -1 4 yang mengindikasikan vibrasi ulur C=N dari ligan kuinolina. Spektrum IR juga menunjukkan serapan kuat pada 2092,26; 2100,48; dan 2110,83 cm -1 yang mengindikasikan vibrasi ulur C≡N dari tiga ligan ion tiosianat yang berperan sebagai ligan jembatan dengan model 1,3--SCN. Berdasarkan rumus empiris dan data IR, senyawa hasil sintesis memungkinkan berupa polimer dengan rumus kimia [{(–NCS)Ag(–SCN)} 2 Co(quin) 2 ] . Berdasarkan rumuskimia senyawa memungkinkan terbentuk isomer cis- atau trans-. Berdasarkan nstruktur senyawa kompleks, bilangan koordinasi dari atom perak dan kobaltberturut-turut adalah empat dan enam. Molekul air yang berikatan dengan atomkobalt digantikan oleh ligan SCNˉ. Geometri di sekitar atom pusat perak adalahtetrahedral terdistorsi, sedangkan di sekitar atom pusat kobalt adalah oktahedralterdistorsi. Isomer cis- memiliki energi bebas sebesar -206,2367 kJ/mol, sedangkanisomer trans- sebesar -305,9294 kJ/mol. Isomer trans- adalah struktur yang diterima karena memiliki energi bebas lebih rendah.  
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kimia dengan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E-TPS Pada Materi Pokok Reaksi Redoks Untuk Peserta Didik SMA/MA Kelas X
ABSTRACT Yustika, Niken. 2016. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kimia dengan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E-TPS Pada Materi Pokok Reaksi Redoks Untuk Peserta Didik SMA/MA Kelas X. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Endang Budiasih, M.S, (II) Oktavia Sulistina, S.Pd., M.Pd.Kata Kunci: perangkat pembelajaran, learning cycle 5E-TPS (LC 5E-TPS), reaksi redoks.Kurikulum 2013 menuntut proses pembelajaran yang diselenggarakan berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif. Namun, faktanya dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar guru masih dominan dengan metode ceramah, walaupun juga disertai diskusi dan tanya jawab. Pembelajaran yang demikian cenderung hanya beberapa saja peserta didik yang berpartisipasi, cenderung pasif, diam, dan kurang termotivasi. Kondisi tersebut bertentangan dengan tuntutan Kurikulum 2013, sehingga perlu diperbaiki. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menyediakan perangkat pembelajaran dengan model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. Model pembelajaran yang sesuai diantaranya adalah learning cycle 5E (LC 5E) dan Think-Pair-Share (TPS) yang keduanya dapat dipadukan menjadi learning cycle 5E-TPS (LC 5E-TPS) diharapkan dapat memenuhi tuntutan Kurikulum 2013. Di samping itu, sebagian besar peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami materi reaksi redoks karena sebagian besar konsepnya bersifat abstrak. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mengembangkan perangkat pembelajaran pada materi reaksi redoks yang terdiri dari silabus, RPP, LKPD, instrumen penilaian, dan handout yang memenuhi kelayakan isi, bahasa, dan tampilan.Pengembangan perangkat pembelajaran ini menggunakan langkah-langkah dalam model pengembangan 4-D menurut Thiagarajan, Semmel, & Semmel (1974) yaitu 1) tahap define, 2) tahap design, 3) tahap develop, 4) tahap disseminate. Penelitian dan pengembangan ini hanya dilakukan sampai tahap ketiga. Produk perangkat pembelajaran divalidasi oleh satu dosen Kimia, dan dua guru Kimia. Uji keterbacaan dilakukan kepada 10 peserta didik. Instrumen pengumpul data yang digunakan berupa angket, lembar komentar, dan saran. Jenis data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa skor penilaian hasil angket, data kualitatif berupa komentar, kritik, dan saran. Teknik analisis menggunakan analisis deskriptif. Produk hasil pengembangan perangkat pembelajaran ini berupa silabus, RPP, LKPD, instrumen penilaian meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan dan handout dalam bentuk cetak. Hasil persentase rata-rata kelayakan validasi isi sebagai berikut: silabus (96,79%) dengan kriteria sangat layak, RPP dan instrumen penilaian (94,96%) dengan kriteria sangat layak, LKPD (96,54%) dengan kriteria sangat layak, handout (94,87%) dengan kriteria sangat layak. Hasil persentase rata-rata kelayakan uji keterbacaan sebagai berikut: LKPD (97,14%) dengan kriteria sangat layak, handout (96,78%) dengan kriteria sangat layak. Berdasarkan hasil validasi isi dan uji keterbacaan menunjukkan bahwa secara umum perangkat pembelajaran telah valid dan layak digunakan. Namun demikian perlu dilakukan langkah selanjutnya yaitu tahap disseminate
Perbedaan Hasil Belajar Kognitif Materi Stoikiometri Antara Peserta Didik yang Diajarkan dengan Model Pembelajaran LC 5E – Mind Mapping dan LC 5E – Merangkum di SMA Laboratorium UM.
ABSTRACT Mufida, Imaratul. 2016. Perbedaan Hasil Belajar Kognitif Materi StoikiometriAntara Peserta Didik yang Diajarkan dengan Model Pembelajaran LC 5E– Mind Mapping dan LC 5E – Merangkum di SMA Laboratorium UM.Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Drs. Muhammad Su’aidy, M.Pd., (II) Drs. H. RidwanJoharmawan, M.Si.Kata Kunci: Learning Cycle 5E, Mind Mapping, Merangkum, StoikiometriBerdasarkan hasil observasi di SMA Laboratorium UM, guru kimiamenyatakan bahwa peserta didik merasa kesulitan dalam mempelajari materiStoikiometri. Pada tahun ajaran 2014/2015 sebanyak 91% peserta didik yangbelum tuntas KKM (Kriteria Kelulusan Minimal). Hal ini disebabkan karenamateri Stoikiometri memiliki konsep yang abstrak dan membutuhkan perhitungan.Kombinasi antara konsep yang abstrak dan perhitungan membutuhkanpemahaman yang lebih, bukan sekedar hafalan. Oleh karena itu, diperlukan carayang tepat untuk mempelajarinya yaitu dengan menerapkan model pembelajaranLearning Cycle (LC) 5E yang berbasis konstruktivis. Pemahaman konsep dalammateri ini akan semakin mudah apabila dipadukan dengan pembuatan mind mapdan rangkuman. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui, (1)keterlaksanaan proses pembelajaran materi Stoikiometri antara peserta didik yangdiajarkan menggunakan model LC 5E - Mind Mapping dan LC 5E – Merangkum,dan (2) ada tidaknya perbedaan hasil belajar kognitif peserta didik pada materiStoikiometri yang diajarkan menggunakan model LC 5E - Mind Mapping dan LC5E – Merangkum.Penelitian ini menggunakan quasi experimental design dengan modelposttest only control group design. Sampel dipilih berdasarkan saran dari gurukimia melalui teknik undian. Kelas X IPA 3 terpilih sebagai kelas eksperimen 1dengan menggunakan model LC 5E – Mind Mapping. Sedangkan kelas X IPA 2terpilih sebagai kelas eksperimen 2 dengan menggunakan model LC 5E –Merangkum. Instrumen yang digunakan berupa instrumen perlakuan (silabus,RPP, dan modul) dan instrumen pengukuran (lembar observasi, dan soal tes hasilbelajar). Data keterlaksanaan proses pembelajaran dianalisis menggunakananalisis statistik deskriptif dengan teknik persentase, sedangkan data hasil belajarkognitif peserta didik dianalisis menggunakan analisis statistika deskriptif daninferensial dengan uji-t dengan nilai signifikansi α = 0,05 yang dihitung denganSPSS 16.0 for Windows.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) keterlaksanaan prosespembelajaran menggunakan model LC 5E – Mind Mapping dan LC 5E –Merangkum pada materi Stoikiometri memiliki rata-rata sebesar 92,04% dan91,31%. Dapat disimpulkan bahwa keduanya memiliki kriteria keterlaksanaandengan sangat baik. (2) Ada perbedaan hasil belajar kognitif antara peserta didikyang diajarkan menggunakan LC 5E – Mind Mapping dan LC 5E – Merangkumpada materi Stoikiometri. Hasil belajar kognitif peserta didik yang diajarkanmenggunakan LC 5E – Mind Mapping lebih tinggi (60,27) daripada peserta didik yang diajarkan menggunakan LC 5E - Merangkum (50,03)
Sintesis Silika Xerogel Hidrofilik Berbasis Abu Bagasse
ABSTRAK Qolbiah, Ulfa Nurul. 2016. Sintesis Silika Xerogel Hidrofilik Berbasis Abu Bagasse. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nazriati, M.Si., (II) Dr. Hj. Fauziatul Fajaroh, M.S,. Kata kunci: abu bagasse, hidrofilik, silika gel, temperatur Kandungan silika yang tinggi pada abu bagasse sangat berpotensi sebagai bahan dasar pembuatan silika gel. Silika gel dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu silika hidrogel, silika xerogel dan silika aerogel. Potensi aplikasi silika gel sangat luas seperti insulator termal, katalis, dan adsorben. Tujuan penelitian ini adalah untuk mensintesis silika xerogel hidrofilik hasil pemodifikasian permukaan dan mengetahui temperatur transisi silika xerogel hidrofobik menjadi silika gel hidrofilik. Penelitian dilakukan dengan tiga tahap. Pertama, proses ekstraksi silika dari abu bagasse menggunakan larutan NaOH 2N dan dilanjutkan pencampuran dengan resin penukar kation yang menghasilkan larutan asam silikat. Kedua, proses sintesis silika gel hidrofobik dengan pemodifikasian permukaan melalui penambahan TMCS dan HMDS dengan perbandingan 0,03 : 0,06 ke dalam larutan asam silikat membentuk gel. Gel yang dihasilkan kemudian di aging 18 jam pada suhu 40 oC dan dikeringkan pada suhu 80 oC selama 24 jam. Ketiga, proses perubahan silika gel hidrofobik menjadi silika gel hidrofilik dengan memanaskan pada berbagai variasi suhu yaitu tanpa pemanasan, 100 oC, 200 oC, 300 oC, 400 oC, 500 oC, dan 600 oC. Karakterisasi FTIR menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu pemanasan semakin rendah intensitas serapan gugus metil. Pemanasan silika gel pada suhu 600 oC menghasilkan silika gel yang bersifat hidrofilik dibuktikan dengan hilangnya serapan gugus metil pada bilangan gelombang 2962,66 cm-1 dan 1255,66 cm-1. Berdasarkan analisis sudut kontak menunjukkan bahwa sampel yang dipanaskan pada suhu 600 oC memberikan sudut kontak 0o atau air langsung diserap yang memperkuat bahwa silika gel tersebut bersifat hidrofilik. Karakteristik silika gel hidrofilik yang dihasilkan memiliki luas permukaan spesifik 583,010 m2/g dan volume pori 0,577 cm3/g