SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
    1785 research outputs found

    REDUKSI TEMBAGA(II) MENJADI TEMBAGA(I) PADA SINTESIS SENYAWA KOMPLEKS TEMBAGA(II) BROMIDA DENGAN 1,3-BIS(DIFENILFOSFINO) PROPANA

    No full text
    ABSTRAK   Sari, Nike Prilil Puspita. 2015. Reduksi Tembaga(II) menjadi Tembaga(I) pada Sintesis Senyawa Kompleks Tembaga(II) Bromida dengan1,3–Bis(difenilfosfino)propana. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Effendy, Ph. D. (2) Dr. Fariati, M.Sc.   Kata–kata kunci: reduksi, sintesis, senyawa kompleks, tembaga(II) bromida,1,3–bis(difenilfosfino)propana 1,3–Bis(difenilfosfino)propana (dppp) dan tembaga(I) bromida membentuk kompleks dimer [(dppp–P,P’)Cu(μ–Br)2Cu(dppp–P,P’)]. Pada senyawa kompleks ini ion halida bertindak sebagai ligan jembatan dan dppp berlaku sebagai ligan sepit bidentat. Geometri di sekitar atom Cu(I) adalah tetrahedral terdistorsi. Senyawa kompleks dari tembaga(II) bromida dengan dppp belum pernah disintesis. Senyawa kompleks dari tembaga(II) bromida mungkin memiliki stuktur yang berbeda dibandingkan senyawa kompleks [(dppp–P,P’)Cu(μ–Br)2Cu(dppp–P,P’)] karena tembaga(II) ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan tembaga(I). Reduksi tembaga(II) menjadi tembaga(I) mungkin terjadi saat proses sintesis. Tujuan penelitian adalah mensintesis dan menentukan struktur senyawa kompleks dari CuBr2 dan dppp. Struktur yang diperoleh dapat digunakan untuk mempelajari kemungkinan terjadinya reduksi tembaga(II) menjadi tembaga(I). Sintesis senyawa kompleks dilakukan secara langsung dengan mereaksikan CuBr2 dan dppp pada stoikiometri 1:1 dalam aseton. Pengukuran titik lebur senyawa kompleks hasil sintesis dilakukan untuk mengetahui kebaruan, kemurnian, dan kestabilan zztermalnya. Senyawa kompleks tersebut dianalisis dengan EDX untuk menentukan rumus empirisnya. Jenis senyawa, ionik atau molekuler ditentukan dengan uji kualitatif ion bromida dan uji daya hantar listrik (DHL). Berdasarkan hasil pengujian, ditentukan rumus kimianya beserta beberapa prediksi struktur yang mungkin. Energi bebas dari struktur tersebut dihitung dengan program SPARTAN ’14 V1.1.0. Struktur yang memenuhi adalah struktur yang memiliki energi bebas terendah. Hasil reaksi antara CuBr2 dengan dppp berupa kristal tak berwarna, berbentuk jarum, dan melebur pada suhu 165–167°C. Hasil titik lebur kristal mengindikasikan bahwa senyawa hasil sintesis adalah senyawa baru, murni, dan stabil. Analisis EDX memberikan rumus empiris senyawa hasil sintesis adalah C81H78Br2Cu2P6. Hasil tersebut menunjukkan terjadinya reduksi tembaga(II) menjadi tembaga(I). Hasil uji DHL dan uji kualitatif ion bromida menunjukkan bahwa senyawa kompleks hasil sintesis berupa senyawa ionik. Senyawa tersebut dapat berupa dimer ionik maupun polimer ionik. Dimer ionik adalah[(dppp–P,P’)Cu(μ–Br)(μ–dppp)Cu(dppp–P,P’)]Br, sedangkan polimer ionik adalah [Cu(μ–dppp)2Cu(μ–dppp)]n.2nBr. Kedua struktur tersebut ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Senyawa dimer ionik memiliki energi bebas sebesar –9.866,07 kJ/mol, sedangkan polimer ionik memiliki energi bebas sebesar –14.507,58 kJ/mol. Energi bebas polimer ionik 4.641,51 kJ/mol lebih rendah dari pada energi bebas dimer ionik. Dengan demikian, struktur polimer ionik merupakan struktur yang tepat karena memiliki energi bebas yang rendah

    Pengaruh Kondisi Aging terhadap Karakteristik Silika Gel Berbasis Abu Bagasse

    No full text
    ABSTRACT   Putri, Tatiana Samantha. 2016.  Pengaruh Kondisi Aging terhadap Karakteristik Silika Gel Berbasis Abu Bagasse. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nazriati, M.Si., (II) Dr. Hj. Fauziatul Fajaroh, M.S. Kata Kunci: abu bagasse, asam silikat, kondisi aging, silika gel Abu bagasse memiliki kandungan silika yang cukup tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku sintesis silika gel. Silika gel dapat dimanfaatkan sebagai adsorben dan katalis karena luas permukaannya yang tinggi. Karakteristik silika gel dipengaruhi oleh kondisi sintesis, salah satunya adalah kondisi aging. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh kondisi aging dan penambahan konsentrasi monomer pada tahap aging terhadap karakteristik silika gel berbasis abu bagasse. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap utama. Pertama, ekstraksi silica dari abu bagasse menggunakan metode ekstraksi basa. Kedua, pembuatan sol silica dengan cara mencampurkan larutan natrium silikat hasil ekstraksi ke dalam resin penukar kation untuk memperoleh larutan asam silikat. Terakhir, sintesis silika gel dengan variasi temperature aging dan penambahan konsentrasi monomer. Hasil sintesis kemudian dikarakterisasi dengan FT-IR, SEM, dan BET. Analisis dengan FT-IR menunjukkan silika gel berhasil disintesis, ditunjukkan dengan munculnya serapan khas gugus silanol (Si – OH) dan siloksan (Si – O – Si). Hasil analisis SEM menunjukkan terdapat partikel yang teragregasi di permukaan silika gel. Hasil analisis dengan BET menunjukkan luas permukaan silika gel dipengaruhi oleh temperature aging dan penambahan konsentrasi monomer. Temperatur aging optimum adalah 40oC, dengan luas permukaan sebesar 421,868 m2/g, dan volume optimum pada penambahan monomer adalah 4 mL dengan luas permukaan sebesar 369,101 m2/g

    Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Inkuiri Terbimbing dalam Blended Learning untuk Siswa SMA/MA Kelas X Pada Materi Reaksi Redoks

    No full text
    ABSTRACT Rakhmatika, Ana Naila. 2016. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis InkuiriTerbimbing dalam Blended Learning untuk Siswa SMA/MA Kelas X PadaMateri Reaksi Redoks. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika danIlmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1)Surjani Wonorahardjo, Ph.D., (2) Suharti, M.Si., Ph.D.Kata Kunci: Pengembangan, Bahan Ajar, Inkuiri Terbimbing, Blended Learning,Reaksi Redoks.Salah satu topik Kimia yang dipelajari oleh siswa SMA dan MA programIPA adalah Reaksi Redoks. Topik ini mengandung konsep-konsep bersifat abstrakdan konkrit. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitanbahkan kesalahan dalam memahami konsep reaksi redoks. Pembelajaran topiktersebut selama ini lebih menekankan aspek teoritis dan kurang mengembangkanketerampilan berpikir dalam perolehan konsep. Pembelajaran seperti ini tidaksesuai dengan karakteristik ilmu kimia sebagai produk dan proses, seperti yangdiamanatkan dalam kurikulum 2013, yaitu melalui pelaksanaan pembelajaranmenggunakan pendekatan saintifik. Permendikbud No. 65 tahun 2013 menyatakanbahwa untuk memperkuat pendekatan saintifik, perlu diterapkan pembelajaranberbasis discovery learning atau inquiry learning. Pelaksanaan pembelajaraninkuiri yang mendorong siswa untuk aktif berpikir dalam menemukanpengetahuannya sendiri, belum didukung bahan ajar yang sesuai. Selain itu,pelaksanaan pembelajaran yang berpusat pada siswa cenderung memakan banyakwaktu, sedangkan waktu pembelajaran di sekolah terbatas. Salah satu cara untukmengatasi keterbatasan waktu dalam pembelajaran inkuiri adalahmembelajarkannya secara blended learning. Blended learning memadukanpembelajaran tatap muka dengan pembelajaran online sebagai perpanjanganwaktu. Pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing dalam blended learningmembutuhkan bahan ajar khusus. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untukmengembangkan bahan ajar berbasis inkuiri terbimbing dalam blended learninguntuk kelas X SMA/MA pada materi reaksi redoks, (2) untuk mendeskripsikankelayakan bahan ajar hasil pengembangan (3) untuk mengetahui keefektifanbahan ajar hasil pengembangan, (4) untuk mengetahui persepsi siswa terhadappembelajaran menggunakan bahan ajar hasil pengembangan.Pengembangan bahan ajar mengadopsi model pengembangan 4D dariThiagarajan et al., (1974) yang meliputi empat tahap pengembangan yaitupendefinisian (define), perancangan (design), pengembangan (develop), danpenyebaran (disseminate). Tahap keempat yaitu penyebaran tidak dilakukankarena produk pengembangan masih digunakan di lingkup SMA Negeri 1Pasuruan. Bahan ajar yang dikembangkan terdiri dari “Buku Siswa” dan “BukuGuru”. Pengujian kelayakan isi, bahasa, penyajian dan kegrafisan dilakukan olehsatu dosen Jurusan Kimia dan satu guru Kimia SMA dengan menggunakaninstrumen yang dikembangkan berdasarkan standar penilaian bahan ajar yangdirumuskan oleh BSNP (2006). Keterbacaan juga diujicobakan terhadap sepuluhsiswa pada uji perorangan. Pengujian keefektifan bahan ajar didasarkan padapersentase siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Data yang iidikumpulkan terdiri dari data kualitatif (komentar dan saran yang diberikan olehvalidator dan siswa) dan data kuantitatif (penilaian validator, penilaian siswa danhasil belajar siswa). Hasil belajar siswa diperoleh dengan menggunakan tespilihan ganda yang terdiri dari 25 item yang telah divalidasi dan memilikikoefisien reliabilitas sebesar 0,991 dihitung dengan Spearman-Brown Coefficient.Persepsi siswa terhadap pembelajaran menggunakan bahan ajar diketahuiberdasarkan angket persepsi pada uji lapangan terbatas.Hasil uji kelayakan menunjukkan bahwa Buku Siswa dan Buku Gurumemiliki kelayakan isi sebesar 83,9%, kelayakan bahasa sebesar 90,6%,kelayakan penyajian sebesar 87,5%, dan kelayakan kegrafisan sebesar 91,75%.Hasil uji perorangan mendapatkan nilai 91,75%. Hal ini menunjukkan bahwabahan ajar layak digunakan pada pembelajaran kimia. Persepsi siswa terhadappembelajaran menggunakan bahan ajar pengembangan yaitu sebesar 76,0% yangberarti bahwa persepsi siswa sangat baik ketika diajar menggunakan bahan ajarhasil pengembangan. Berdasarkan skor hasil belajar siswa setelah menggunakanbahan ajar, 82,9% siswa mencapai skor KKM. Hal ini menunjukkan bahwa bahanajar efektif digunakan dalam pembelajaran kimia. Berdasarkan hasil tersebut,dapat dianggap bahwa bahan ajar hasil pengembangan adalah layak dan efektif digunakan dalam pembelajaran Reaksi Redoks

    Identifikasi Pemahaman Konsep Materi Asam Basa pada Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 4 Malang

    No full text
    ABSTRAK IDENTIFIKASI PEMAHAMAN KONSEP MATERI ASAM BASA PADA SISWA KELAS XI IPA SMA NEGERI 4 MALANG FebryanYustiadi, DedekSukarianingsihdanAnugrah Ricky Wijaya. UniversitasNegeri Malang Email: [email protected] Materiasambasaadalahmateri yang cukup penting untuk dikuasai secara mendalam baik aspek makroskopis, submikroskopis maupun simbolik.Siswa yang tidak memahami konsep asam basa dengan baik kemungkinan akan mengalami kesulitan dalam mempelajari larutan penyangga dan hidrolisis garam.Pemahaman konsep asam basa juga berguna dalam kehidupan sehari hari.Rumusanmasalahdalampenelitianiniadalah (1) Bagaimanakah tingkat pemahaman siswa kelas XI IPA SMA Negeri 4 Malang pada konsep asam basa Arrhenius? (2) Bagaimanakah tingkat pemahaman siswa kelas XI IPA SMA Negeri 4 Malang pada konsep asam basa Bronsted-Lowry? (3) Bagaimanakah tingkat pemahaman siswa kelas XI IPA SMA Negeri 4 Malang pada konsep asam basa Lewis? (4) Bagaimanakah perbandingan tingkat pemahaman siswa kelas XI IPA SMA Negeri 4 Malang pada setiap konsep asam basa? (5) Pada indikator apa sajakah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 4 Malang mengalami kesulitan dalam membelajari materi asam basa? Kata kunci :pemahaman, konsep, asambasa Salah satu tujuan pengajaran kimia di SMA/MA adalah siswa dapat memahami sifat berbagai larutan asam basa, larutan koloid, larutan elektrolit-non elektrolit, termasuk cara pengukuran dan kegunaannya (Permendiknas No 23 Tahun 2006 : 35).Materiasambasaadalahmateri yang cukup penting untuk dikuasai secara mendalam baik aspek makroskopis, submikroskopis maupun simbolik. Materi asam basa adalah dasar dari materi yang akan dipelajari selanjutnya yaitu titrasi asam basa, larutan penyangga dan hidrolisis garam. Pengetahuan makroskopis sangat diperlukan untuk memahami pH larutan. Pengetahuan submikroskopis diperlukan dalam memahami mekanisme kerja larutan buffer dan mekanisme hidrolisis garam. Pengetahuan simbolik diperlukan dalam perhitungan pH larutan buffer dan pH larutan garam. Siswa yang tidak memahami konsep asam basa dengan baik kemungkinan akan mengalami kesulitan dalam mempelajari larutan penyangga dan hidrolisis garam.Pemahaman konsep asam basa juga berguna dalam kehidupan sehari hari. Moore dan Stanitski (2011 :753) menyatakan bahwa asam dan basa merupakan materi yang penting, karena hampir semua larutan (aqueous) yang ada di lingkungan makluk hidup merupakan larutan yang bersifat asam atau basa. Fotosintesis dan respirasi yang merupakan proses biologi yang penting di bumi prinsipnya adalah reaksi asam basa. Karbondioksida (CO2) adalah senyawa pembentuk asam yang penting di alam. Air hujan selalu sedikit asam karena adanya CO2 terlarut dan hujan asam terbentuk karena adanya asidifikasi lebih lanjut yang dilakukan oleh gas polutan seperti SO2 dan NO2.Kurikulum 2013 mencantumkan materi asam basa dengan susunan yang urut dan berjenjang. Materi dimulai dari teori asam basa Arrhenius yang tidak terlalu kompleks, kemudian teori asam basa Bronsted-Lowry dan diakhiri dengan teori asam basa Lewis yang cukup kompleks. Berdasarkan hasil observasi di SMA Negeri 4 Malang, diperoleh informasi bahwa siswa kelas XI IPA banyak yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep asam basa khususnya asam basa Lewis. Pada keenam kelas XI IPA telah dilakukan pengulangan pembelajaran pada materi asam basa, tetapi masih banyak siswa yang kesulitan dalam memahami asam basa Lewis. Hal tersebut diperkuat dengan fakta bahwa jumlah siswa yang belum memenuhi kriteria kelulusan minimal (KKM) masih tergolong banyak yaitu dari 6 kelas XI IPA, 59,9% siswa belum mencapai KKM, pada beberapa kelas jumlah siswa yang tidak mencapai KKM bahkan sampai 100%. Masalah yang lebih lanjut adalah sampai saat ini belum diketahui pada konsep manakah siswa mengalami kesulitan. Rumusanmasalahdalampenelitianiniadalah (1) Bagaimanakah tingkat pemahaman siswa kelas XI IPA SMA Negeri 4 Malang pada konsep asam basa Arrhenius? (2) Bagaimanakah tingkat pemahaman siswa kelas XI IPA SMA Negeri 4 Malang pada konsep asam basa Bronsted-Lowry? (3) Bagaimanakah tingkat pemahaman siswa kelas XI IPA SMA Negeri 4 Malang pada konsep asam basa Lewis? (4) Bagaimanakah perbandingan tingkat pemahaman siswa kelas XI IPA SMA Negeri 4 Malang pada setiap konsep asam basa? (5) Pada indikator apa sajakah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 4 Malang mengalami kesulitan dalam membelajari materi asam basa? Metode Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mengetahui ragam kesalahan konsep mulai dari tingkatan konsep rendah hingga konsep tinggi pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri 4 Malang secara de facto. Pada penelitian ini, analisis data berupa deskripsi dari gejala-gejala yang diamati secara faktual dengan tidak melakukan perlakuan khusus atau eksperimen pada subjek yang akan diteliti.Penelitian dilakukan pada kelas XI IPA 4 dan XI IPA 5 SMA Negeri 4 Malang. Pemilihan kelas yang diteliti dilakukan berdasarkan hasil tes asam basa sebelum penelitian ini dilakukan. Kedua kelas yang diteliti adalah kelas dengan persentase siswa yang tidak mencapai KKM terbesar. Penelitian diawali dengan penyusunan instrumen penelitian, kemudian dilanjutkan dengan uji coba instrumen untuk mengetahui kelayakan dari instrumen penelitian tersebut.Dalam proses ujicoba instrument inididapatkan 5 soaltidak valid yang kemudiantidakdimasukkandalam instrument penelitian. Setelah didapatkan instrumen yang memenuhi standar kelayakan kemudian instrumen diujikan kepada kelas yang menjadi target penelitian. Setelah siswa selesai mengerjakan tes, kemudian dilakukan wawancara kepada siswa untuk menggali lebih dalam kesulitan belajar siswa. Data yang diperoleh ada 2 data yaitu berupa data tertulis dan data pendukung. Data tertulis adalah data yang diperoleh dari instrumen tes diagnostik, sedangkan data pendukung adalah data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan siswa yang diduga mengalami kesalahan konsep. Data tersebut diperoleh melalui tahap – tahap penelitian mulai dari tahap persiapan, pengumpulan data, analisis data dan pelaporan hasil penelitian. Bagan alur peneltian dapat dilihat pada Gambar 1 Gambar 1 Bagan Alur Penelitian HasilPenelitian DeskripsiTingkat PemahamanKonseptualSiswapadaKonsepAsamBasa Arrhenius Konsep asam basa menurut Arrhenius mengandung enam indikator yang diukur yaitu : (1) menjelaskan ciri ciri asam basa, (2) menjelaskan indikator asam basa, (3) menjelaskan konsep umum asam basa Arrhenius, (4) menjelaskan konsep keasaman (pH), (5) menjelaskan reaksi ionisasi asam basa dan (6) menghitung pH larutan. Penentuan tingkat pemahaman konseptual siswa didasarkan pada analisis persentase siswa yang menjawab benar (PSB) pada setiap indikator soal.Data pemahaman siswa berupa grafik pemetaan pemahaman konseptual siswa pada konsep asam basa menurut Arrhenius tertera pada Gambar 2 Gambar 2 Grafik Pemetaan Pemahaman Konseptual Siswa pada Konsep Asam Basa Menurut Arrhenius Gambar 2 menunjukkan bahwa rata rata tingkat pemahaman konseptual siswa pada konsep umum asam basa tergolong sangat tinggi kecuali menjelaskan ciri-ciri asam basa yang tergolong tinggi. Rata-rata persentase siswa yang menjawab benar (PSB) tersebut adalah sebesar 84,57% atau dapat dikatakan tingkat pemahaman konsep umum asam basa siswa pada tingkat yang sangat tinggi. DeskripsiTingkat PemahamanKonseptualSiswapadaKonsepAsamBasaBronsted-Lowry Konsep asam basa menurut Bronsted-Lowry mengandung empat indikator yang diukur yaitu : (1) menjelaskan dan menghitung derajat ionisasi dan tetapan kesetimbangan asam basa, (2) menjelaskan konsep umum asam basa menurut Bronsted-Lowry, (3) menjelaskan hubungan tetapan kesetimbangan air (Kw), tetapan kesetimbangan asam (Ka), tetapan kesetimbangan basa (Kb), dan kekuatan asam basa dan (4) menjelaskan reaksi asam basa Bronsted-Lowry. Penentuan tingkat pemahaman konseptual siswa didasarkan pada analisis persentase siswa yang menjawab benar (PSB) pada setiap indikator soal.Data pemahaman siswa berupa grafik pemetaan pemahaman konseptual siswa pada konsep asam basa menurut Bronsted-Lowry tertera pada Gambar 3 Gambar 3  Grafik Pemetaan Pemahaman Konseptual Siswa pada Konsep Asam Basa Menurut Bronsted-Lowry Gambar 3  menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa pada indikator menjelaskan dan menghitung derajat ionisasi dan tetapan kesetimbangan asam basa tergolong tinggi, tingkat pemahaman siswa pada indikator menjelaskan konsep umum asam basa Bronsted-Lowry tergolong tinggi, tingkat pemahaman siswa pada indikator menjelaskan hubungan tetapan kesetimbangan air (Kw), tetapan kesetimbangan asam (Ka), tetapan kesetimbangan basa (Kb), dan kekuatan asam basa dan menjelaskan reaksi asam basa Bronsted Lowry tergolong rendah. DeskripsiTingkat PemahamanKonseptualSiswapadaKonsepAsamBasa Lewis Konsep asam basa menurut Lewis mengandung tiga indikator yang diukur yaitu : (1) menjelaskan konsep umum asam basa menurut Lewis, (2) menjelaskan reaksi asam basa Lewis dan (3) menjelaskan ikatan kovalen koordinasi pada hasil adisi asam basa Lewis. Penentuan tingkat pemahaman konseptual siswa didasarkan pada analisis persentase siswa yang menjawab benar (PSB) pada setiap indikator soal.Data pemahaman siswa berupa grafik pemetaan pemahaman konseptual siswa pada konsep asam basa menurut Bronsted-Lowry tertera pada Gambar 4 Gambar 4 Grafik Pemetaan Pemahaman Konseptual Siswa pada Konsep Asam Basa Menurut Lewis Gambar 4 menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa pada indikator menjelaskan konsep umum asam basa menurut Lewis tergolong tinggi, tingkat pemahaman siswa pada indikator menjelaskan reaksi asam basa Lewis tergolong rendah dan tingkat pemahaman siswa pada indikator menjelaskan ikatan kovalen koordinasi tergolong cukup. DeskripsiTingkat PemahamanKonseptualSiswapadaKeseluruhanMateriAsamBasa Penentuan tingkat pemahaman konseptual siswa didasarkan pada analisis persentase siswa yang menjawab benar (PSB) pada soal yang telah mereka kerjakan. Berdasarkan Tabel 3.5 dapat diperoleh grafik pemetaan pemahaman konseptual siswa pada setiap konsep asam basa yang tertera pada Gambar 5 Hasil analisis perbandingan tingkat pemahaman konseptual asam basa diperoleh bahwa konsep yang paling dipahami oleh siswa adalah konsep asam basa menurut Arrhenius, kemudian konsep asam basa menurut Bronsted-Lowry dan terakhir adalah konsep asam basa menurut Lewis. Hal tersebut dibuktikan dengan persentase siswa yang menjawab benar pada soal konsep asam basa Arrhenius adalah yang paling tinggi, kemudian persentase siswa yang menjawab benar pada urutan kedua adalah pada soal konsep asam basa Bronsted-Lowry dan persentase siswa yang menjawab benar yang paling kecil adalah pada soal konsep asam basa Lewis. Dengan kata lain, kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal konsep asam basa Arrrhenius adalah yang paling baik, kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal konsep asam basa Bronsted-Lowry berada dalam urutan kedua dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal konsep asam basa Lewis Gambar 5 Grafik Pemetaan Pemahaman Konseptual Siswa pada Setiap Konsep Asam Basa Pembahasan Ciri-ciriAsamBasa Ciri-ciri asam basa tercermin pada soal nomor 1. Persentase jawaban salah dan alasan jawaban salah tertinggi untuk indikator ini adalah sebesar 35,71%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian kecil siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami konsep tersebut. Kesalahan siswa dalam menjawab soal tersebut merupakan cerminan kesulitan yang dialami siswa saat mengerjakan soal. Letak kesalahan siswa pada soal tersebut dibahas berdasarkan sebaran pilihan jawaban siswa. Sebaran pilihan jawaban salah siswa pada soal nomor 1 dapat dilihat pada Tabel 1. Persentase jawaban salah tertinggi pada soal nomor 1 terdapat pada pilihan jawaban E dengan persentase sebesar 33,33% dari total siswa keseluruhan. Siswa menganggap bahwa larutan basa tidak dapat menghantarkan listrik. Pemahaman tersebut tidaklah tepat karena larutan yang dapat menghantarkan listrik adalah larutan yang menghasilkan ion. Senyawa basa akan menghasilkan anion OH- dalam pelarut air.  Larutan yang bersifat basa mengandung ion OH- sehingga dapat menghantarkan listrik Tabel 1 Sebaran Piilihan Jawaban Salah pada Soal Nomor 1 No       Soal     Pilihan jawaban salah  Ʃ siswa            % 1          Berikut ini yang bukan merupakan ciri-ciri larutan yang bersifat basa adalah….                         Rasa Pahit       0          0                                     Mengandung Hidroksida        3          4,35                                     Mengubah lakmus merah menjadi biru           0          0                                     Menghantarkan listrik 23        33,33 IndikatorAsamBasa Indikator asam basa tercermin pada soal nomor 2. Persentase jawaban salah dan alasan jawaban salah tertinggi untuk indikator ini adalah sebesar 1,43%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa sudah memahami indikator asam basa dengan baik meskipun sebagian kecil siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami konsep tersebut. Kesalahan siswa dalam menjawab soal tersebut merupakan cerminan kesulitan yang dialami siswa saat mengerjakan soal. Letak kesalahan siswa pada soal tersebut dibahas berdasarkan sebaran pilihan jawaban siswa. Sebaran pilihan jawaban salah siswa pada soal nomor 2 dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Sebaran Piilihan Jawaban Salah pada Soal Nomor 2 No       Soal                 Pilihan jawaban salah  Ʃ siswa            % 2          Perhatikan tabel berikut ini Larutan            Nyala lampu    Indikator (lakmus)                         Merah Biru A         +          Merah  Biru B         -           Merah  Biru C         +          Merah  Merah D         +          Biru     Biru E          -           Merah Biru Berdasarkan data tersebut larutan yang bersifat asam adalah….                   A         0          0                                     B         1          1,45                                     D         1          1,45                                     E          0          0 Persentase jawaban salah tertinggi pada soal nomor 2 terdapat pada pilihan jawaban B dan D dengan persentase sebesar 1,45% dari total siswa keseluruhan. Siswa menganggap nyala lampu adalah sesuatu yang harus lebih dipertimbangkan daripada warna kertas lakmus setelah dicelupkan ke dalam larutan. Hal tersebut tidak tepat karena nyala lampu tidak menunjukkan sifat keasaman suatu larutan, nyala lampu hanya menunjukkan bahwa larutan tersebut merupakan larutan elektrolit. Hal tersebut membuktikan bahwa siswa tidak memahami konsep larutan elektrolit dengan baik sehingga membuat siswa tersebut kesulitan dalam memahami konsep larutan asam basa. Sedangkan untuk jawaban B, siswa yang menjawab salah, kurang teliti dalam membaca soal. Siswa tersebut mengira bahwa pada soal yang diminta adalah senyawa basa. Hal tersebut membuktikan bahwa beberapa siswa cenderung meremehkan soal ini karena menganggap bahwa soal ini mudah sehingga tidak teliti dalam mengerjakannya KonsepUmumAsamBasaMenurutArrhenius Konsep umum asam basa Arrhenius tercermin pada soal nomor 3. Persentase jawaban salah dan alasan jawaban salah tertinggi untuk indikator ini adalah sebesar 8,57%. Hal ini menunjukkan sebagian kecil siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami konsep tersebut. Kesalahan siswa dalam menjawab soal tersebut merupakan cerminan kesulitan yang dialami siswa saat mengerjakan soal. Kesalahan siswa pada soal tersebut dibahas berdasarkan sebaran pilihan jawaban siswa. Sebaran pilihan jawaban salah siswa pada soal nomor 3 dapat dilihat pada Tabel 3.   Tabel 3 Sebaran Piilihan Jawaban Salah pada Soal Nomor 3 No       Soal     Pilihan jawaban salah  Ʃ siswa            % 3          Menurut teori Arrhenius, asam adalah….                         Donor proton  2          2,90                                     Donor pasangan elektron        0          0                                     Aseptor pasangan elektron      3          4,35                                     Zat yang dalam air melepas OH-        1          1,45 Persentase jawaban salah tertinggi pada soal nomor 3 terdapat pada pilihan jawaban C dengan persentase sebesar 4,35% dari total siswa keseluruhan. Siswa menganggap bahwa asam menurut Arrhenius adalah aseptor pasangan elektron. Definisi tersebut tidak tepat karena definisi tersebut merupakan definisi asam menurut Lewis. Kesalahan pemahaman terhadap definisi tersebut membuktikan bahwa siswa masih bingung dengan adanya tiga definisi asam basa dari tiga pakar yang berbeda. Definisi asam menurut Arrhenius yang benar adalah asam adalah zat yang melepas ion H+ ketika dilarutkan dalam pelarut air.             KonsepKeasaman (pH) Konsep keasaman tercermin pada soal nomor 4. Persentase jawaban salah dan alasan jawaban salah tertinggi untuk indikator ini adalah sebesar 14,29%. Hal ini menunjukkan sebagian kecil siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami konsep tersebut. Kesalahan siswa dalam menjawab soal tersebut merupakan cerminan kesulitan yang dialami siswa saat mengerjakan soal. Letak kesalahan siswa pada soal tersebut dibahas berdasarkan sebaran pilihan jawaban siswa. Sebaran pilihan jawaban salah siswa pada soal nomor 4 dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Sebaran Piilihan Jawaban Salah pada Soal Nomor 4   No       Soal     Pilihan jawaban salah  Ʃ siswa            % 4          Data berikut merupakan hasil analisis keasaman dari beberapa bahan No       Zat yang dianalisis      pH 1          Urine   6 2          Dara

    Isolasi dan Identifikasi Bakteri Indigen Penghasil Keratinase dari Tanah Desa Bunulrejo Malang serta Uji Potensinya dalam Mendegradasi Bulu Ayam

    No full text
     Hizkia Putraasa. 2015. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Indigen Penghasil Keratinase dari Tanah Desa Bunulrejo Malang serta Uji Potensinya dalam Mendegradasi Bulu Ayam. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suharti, S.Pd, M.Si, (II) Eli Hendrik Sanjaya, S.Si, M.Si Kata Kunci: Bulu , Keratin, Keratinase.Komponen utama bulu ayam adalah keratin. Keratin merupakan protein serat yang bersifat sangat hidrofobik dan mempunyai struktur yang sangat stabil. Stabilitas keratin disebabkan karena adanya  ikatan disulfida dalam jumlah yang banyak. Enzim keratinase diketahui dapat mendegradasi keratin menjadi asam amino-asam amino dan polipeptida pendek. Keratinase dapat dihasilkan oleh fungi serta mikroba. Indonesia merupakan negara dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi. Potensi keanekaragaman hayati Indonesia memberikan peluang yang besar pada diversitas mikroba penghasil keratinase. Penelitian  ini bertujuan untuk: (1) mendapatkan isolat mikroba penghasil keratinase dari tanah Kelurahan Bunulrejo Malang dan (2) mengetahui spesies mikroba yang telah diisolasi dengan identifikasi mikroba secara  genotip. Penelitian dilakukan melalui 2 tahapan yaitu, (1)  Isolasi bakteri penghasil keratinase serta (2) Identifikasi mikroba secara genotip. Isolat bakteri diambil dari tanah Desa Bunulrejo Malang yang telah diperkaya dengan menambahkan bulu ayam sebagai subtrat keratin. Selanjutnya, isolat mikroba diseleksi pada media selektif susu skim-agar serta di uji potensinya dalam mendegradasi bulu ayam dengan menginkubasi isolat mikroba pada media cair yang berisi bulu ayam. Potensi isolat mikroba dalam mendegradasi bulu ayam dapat diketahui dengan mengukur berat bulu yang tersisa dan penentuan kadar tirosin selama proses degradasi bulu ayam. Identifikasi mikroba secara genotip dilakukan dengan menganalisis urutan asam nukleat dari gen pengkode 16S rRNA.Hasil penelitian menunjukan isolat LH yang diambil dari kelurahan Bunulrejo Malang merupakan bakteri indigenous penghasil keratinase. Hasil pengamatan selama 5 hari menunjukkan bahwa isolat LH dapat mendegradasi bulu ayam dengan persentase bulu sisa mencapai 47,01 % serta menghasilkan kadar tirosin sebesar 72,53 µmol/mL. Identifikasi bakteri indigenous LH secara genotip menunjukkan bahwa isolat LH merupakan bakteri Pseudomonas. Hal ini ditunjukan dengan hasil BLAST pada situs NCBI yang menginformasikan bahwa isolat LH memiliki homologi 99 % dengan 6 galur bakteri pseudomonas. Pohon filogenetik yang berhasil dibuat menunjukkan bahwa isolat LH memiliki kekerabatan yang dekat dengan Pseudomonas Nitroreducens strain IAM 1439. Tetapi isolat bakteri LH bukan merupakan bakteri Pseudomonas Nitroreducens galur IAM 1439 oleh karena tidak memiliki homologi 100 %. Hal ini diduga bahwa isolat bakteri LH merupakan bakteri Pseudomonas Nitroreducents galur baru.ABSTRACT Hizkia Putraasa. 2015. Isolation and Identification of Indigenous Bacteria in Producing Keratinase from District Bunulrejo Malang Soil and Its Potential Study to Degrade Chicken Feathers. Thesis, Department of Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, State University of Malang. Supervisor: (I) Dr. Suharti, S.Pd, M.Si, (II) Eli Hendrik Sanjaya, S.Si, M.Si Keyword : Feather, Keratin, KeratinaseThe main component a chicken feather is keratin. Keratin is highly hydrophobic protein fibers and it has a very stable structure. Keratin stability due to the disulfide bonds in large amounts. Keratinase enzyme known to degrade keratin  become amino acids and short polypeptides. Keratinase can be produced by fungi and microbes. Indonesia is a country with a high level of biodiversity. Potential Indonesian biodiversity presents a great opportunity to microbes diversity in the process of producing keratinase. This study aims to: (1) Getting the microbial isolates producing keratinase from District Bunulrejo Malang Soil sample and (2) Knowing the species of microbes that have been isolated by the identification of microbial genotype.The study was conducted through two phases, namely, (1) Isolation of bacterial that producing keratinase (2) Identification of microbial genotype. The bacteria isolate taken from district Bunulrejo Malang that enriched by adding chicken feather as subtrat of keratin. Furthermore, the microbial isolate selected in  the media selective milk skim and testing its potential to degrade chicken feather with incubation the microbes isolate in the liquid medium containing chicken feather. The potential of the microbes for degradation chicken feather can be known to measure the weight of chicken feather left and the deterination tirosin levels during the process od degradation chicken feather. Genotypically microbial identification is done by analyzing the nucleic acid sequence of the gene encoding 16S rRNA.  The research showed isolates LH who taken from the District Bunulrejo Malang is indigenous bacteria that have been produce keratinase. The result of the observation for 5 days showed that LH isolate could degrade chicken feathers by % weight left was reached 47.01% and to produce tyrosine levels of 72.53 µmol/mL. Identification of indigenous bacteria LH genotype is showed as Pseudomonas Nitroreducens bacteria. It is directed by the results of BLAST on NCBI web site that informs LH isolates has a homology of 99 % with 6 strains of bacteria Pseudomonas. Phylogenetic tree created successfully demonstrated that LH isolates closely related to Pseudomonas Nitroreducens strain IAM 1439. But LH isolates is not bacteria Pseudomonas Nitroreducens strain IAM 1439 because it does not have 100% homology. It suspected bacterial LH isolates is a new strain of the bacterium Pseudomonas Nitroreducents

    Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Modified Discovery-Inquiry pada Materi Laju Reaksi Kelas XI SMA/MA

    No full text
    ABSTRACT Husna, Muhibatul. 2016. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Modified Discovery-Inquiry pada Materi Laju Reaksi Kelas XI SMA/MA. Skripsi,  Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed., Ph.D. (II) Dr. Yahmin, S.Pd., M.Si.Kata Kunci: bahan ajar, laju reaksi, modified discovery-inquiry, Dick & Carey Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan ilmiah (scientific approach). Implementasi pendekatan ilmiah pada pembelajaran kimia melalui pembelajaran kimia berbasis discovery/inquiry yang ditunjang oleh kompetensi pendidik serta ketersediaan bahan ajar. Bahan ajar kimia materi laju reaksi yang dibutuhkan adalah bahan ajar berbasis modified discovery-inquiry. Hasil penelitian dan analisis terhadap bahan ajar materi laju reaksi menunjukkan bahwa ketersediaan bahan ajar materi laju reaksi belum berbasis discovery/inquiry. Tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah: (1) menghasilkan bahan ajar materi laju reaksi berbasis modified discovery-inquiry, dan (2) mengetahui kelayakan bahan ajar materi laju reaksi berbasis modified discovery-inquiry. Penelitian pengembangan menggunakan model Dick & Carey 9 langkah, yaitu: (1) identifikasi tujuan pembelajaran, (2) analisis materi pelajaran, (3) analisis pembelajar, (4) merumuskan tujuan performansi, (5) mengembangkan instrumen,  (6) mengembangkan strategi penyajian, (7) mengembangkan bahan ajar, (8) melakukan evaluasi formatif, dan (9) melakukan revisi. Produk ini diuji coba melalui validasi dan uji keterbacaan dengan menggunakan angket. Validasi dilakukan oleh 3 validator, yaitu 1 dosen jurusan kimia Universitas Negeri Malang, 1 guru kimia MAN 3 Malang dan 1 guru kimia MAN Gondanglegi Malang. Sedangkan uji keterbacaan dilakukan pada 10 siswa kelas XII IPA 3 MAN Gondanglegi Malang. Hasil penelitian pengembangan bahan ajar berbasis modified discovery-inquiry materi laju reaksi untuk kelas XI SMA/MA terdiri dari 2 buku yaitu buku siswa dan buku guru. Karakteristik bahan ajar tersebut antara lain : (1) mengacu pada KD 3.6, 3.7,. 4.6, dan 4.7 Kurikulum 2013 dengan dilengkapi sub bab jenis-jenis laju reaksi , dan (2) berbasis modified discovery-inquiry yang terdiri dari langkah stimulation, problem statement, data collection, data processing, verification, dan generalization. Rata-rata skor hasil validasi bahan ajar oleh validator yaitu 86,8% yang dikategorikan sangat layak. Sedangkan rata-rata skor hasil uji keterbacaan yaitu 94,6% yang dikategorikan sangat layak. Produk hasil pengembangan diharapkan dapat mendukung implementasi Kurikulum 2013 yaitu berbasis modified discovery-inquiry dan disarankan dilakukan penelitian untuk mengetahui efektivitas bahan ajar serta dilakukan pengembangan bahan ajar dengan basis yang sama pada materi kimia yang lain

    Pengembangan Media Pembelajaran Sifat Koligatif Larutan melalui Aplikasi Mobile Learning of Chemistry (MLC) pada Smartphone Berbasis Android

    No full text
    ABSTRAK Kustanto, Bagus. 2016. Pengembangan Media Pembelajaran Sifat Koligatif Larutan Melalui Aplikasi Mobile learning of chemistry (MLC) pada Smartphone Berbasis Android. Skripsi, Jurusan Kimia, Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Munzil, M.Si, (II) Dr. Sc. Anugrah Ricky Wijaya, S.Si., M.Sc Kata kunci : MLC, android Media pembelajaran saat ini sebagian besar berupa media cetak. Media pembelajaran berbasis cetak ini memiliki kelemahan, yakni tidak bisa menyampaikan ilustrasi atau gambaran dalam mata pelajaran konkret seperti kimia yang didasari oleh fakta yang ada di alam dan bersifat makroskopis. Salah satu materi kimia SMA yang banyak membutuhkan suatu ilustrasi untuk mewakili keadaan sebenarnya adalah materi sifat koligatif larutan. Banyaknya konsep yang konkret tersebut membuat siswa kesulitan untuk memahami jika hanya dengan membayangkan, membaca buku dan model ceramah atau dengan bercerita dari guru yang mengajarinya. Hal ini yang mendasari pengembangan media pembelajaran yang berisi materi pembelajaran kimia yang memuat teks, gambar, animasi, dan latihan soal yang dapat dioperasikan pada smartphone berteknologi android. Dengan media pembelajaran seperti ini, selain mudah mengkonstruk pengetahuan juga lebih fleksibel dan efisien karena media pembelajaran dapat dijalankan dimana saja dan tidak memerlukan koneksi internet. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan media pembelajaran sifat koligatif larutan pada smartphone berbasis android dan mengetahui kelayakan aplikasi mobile learning of chemistry (MLC) sifat koligatif larutan berbasis android. Penelitian pengembangan aplikasi mobile learning of chemistry (MLC)  berbasis android yang digunakan pada materi sifat koligatif larutan ini adalah model 4D (4DModel) oleh Thiagarajan (1974) yang terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan (define), perancangan (designe), pengembangan (develop), dan penyebaran (disseminate). Namun, pengembangan ini hanya dilakukan sampai pada tahap yang ketiga, yakni tahap develop dan tidak dilanjutkan ke tahap disseminate. Sehingga hanya dilakukan uji validitas dan uji coba pada produk yang dihasilkan. Uji coba dilakukan untuk mengetahui tingkat keefektifan dan daya tarik dari aplikasi ini melalui uji coba kelompok kecil. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik deskriptif untuk menghitung presentase skor masing-masing aspek yang dinilai oleh responden. Aplikasi media pembelajaran yang dikembangkan telah melaui tahap validasi oleh ahli dan juga uji coba kelompok kecil dan memperoleh penilaian 82,45 dengan kriteria sangat layak. Aplikasi media pembelajaran ini berbentuk software aplikasi yang dapat dipasang pada smartphone yang lebih efektif, efisien dan fleksibel untuk digunakan sebagai sarana belajar mandiri. Aplikasi ini berukuran 51 MB yang memuat teks, gambar, animasi, video dan disertai juga latihan soal. Dari data hasil uji validitas dan uji coba kelompok kecil diketahui bahwa aplikasi mobile learning of chemistry berbasis android yang dikembangkan memenuhi kriteria layak sehingga media sudah dapat digunakan sebagai media pembelajaran

    PENGGUNAAN KATALIS NIKEL-ZEOLIT ALAM AKTIF PADA HIDROLISIS SELULOSA MENJADI GLUKOSA DENGAN BANTUAN ULTRASONIK

    No full text
    ABSTRAK Fungky. 2016. Penggunaan Katalis Nikel-Zeolit Alam Aktif pada Hidrolisis Selulosa menjadi Glukosa dengan Bantuan Ultrasonik. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sumari, M.Si., (II) Dr. Yahmin, S.Pd., M.Si. Kata kunci: hidrolisis selulosa, glukosa, katalis nikel-zeolit, ultrasonikasi Selulosa merupakan sumber daya alam terbarukan yang sangat melimpah. Ketersediaan selulosa yang  melimpah tersebut menarik untuk dikaji dan diteliti agar dapat dijadikan sebagai bahan yang memiliki nilai manfaat lebih besar. Selulosa dapat didegradasi dengan cara hidrolisis menghasilkan glukosa. Degradasi selulosa dapat dilakukan dengan menggunakan katalis zeolit. Tujuan penelitian ini adalah melakukan hidrolisis selulosa menjadi glukosa menggunakan katalis Nikel-zeolit alam aktif dengan berbantuan ultrasonik. Tahapan penelitian ini meliputi (1) preparasi, aktivasi dan karakterisasi katalis zeolit alam aktif (2) pembuatan dan karakterisasi katalis Nikel-zeolit alam aktif (3) hidrolisis selulosa dengan katalis nikel-zeolit alam aktif (4) Analisis produk hasil hidrolisis selulosa. Preparasi katalis dilakukan dengan membuat zeolit alam berukuran 100 mesh ditambah NiCl2 0,2 M dengan direfluks selama 24 jam menjadi Nikel-zeolit alam aktif. Karakterisasi katalis dianalisis menggunakan XRD dan BET. Hidrolisis selulosa dilakukan pada suhu 70oC selama 2 dan 4 jam dengan frekuensi 42 kHz. Produk hasil hidrolisis dianalisis menggunakan pereaksi Fehling dan Nelson-Somogyi dengan metode spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zeolit alam aktif Malang yang digunakan berjenis Mordenit (MOR) dengan luas permukaan 99,096 m2/g, diameter rerata pori 0,80393 nm dan volume total pori 1,992x10-2 cc/g. Produk hasil hidrolisis mengandung glukosa setelah diuji dengan pereaksi Fehling. Produk hasil hidrolisis diperoleh rendemen sebesar 0,967%. ABSTRACT Fungky. 2016. The Use of a Nickel-Active Natural Zeolite Catalyst on Hydrolysis of Cellulose to Glucose with Ultrasonic assisted. Thesis. Department of Chemistry, Faculty of Mathematics and Science, State University of Malang. Supervisors: (I) Dr. Sumari, M.Si., (II) Dr. Yahmin, S.Pd., M.Si. Keywords: cellulose hydrolysis, glucose, nickel-zeolite catalyst, ultrasonication Cellulose is a renewable natural resource that is very abundant. The availability of abundant cellulose is interesting to be studied and researched in order to be used as a material that has a value greater benefit. Cellulose can be degraded by hydrolysis to produce glucose. Degradation of cellulose can be done by using a zeolite catalyst. The purpose of this study was to conduct the hydrolysis of cellulose to glucose using nickel-zeolite catalyst active with ultrasonic assisted. Stages of this research include (1) preparation, activation and characterization of active natural zeolite catalysts (2) the manufacture and characterization of active natural nickel-zeolite catalyst (3) hydrolysis of cellulose with active natural nickel-zeolite catalyst (4) Analysis of cellulose hydrolysis products. Preparation of the catalyst was done by creating a natural zeolite size of 100 mesh was added to 0.2 M if NiCl2 refluxed for 24 hours with active nature nickel-zeolite. The catalysts characterization tested using XRD and BET. Cellulose hydrolysis carried out at 70°C for 2 and 4 hours with a frequency of 42 kHz. Hydrolysis produced was analyzed made using Fehling and the Nelson-Somogyi reagent by spectrophotometric method. The research showed Malang active natural zeolite type was Mordenite (MOR) with a surface area of 99.096 m2/g, a mean pore diameter of 0.80393 nm and total pore volume of 1,992x10-2 cc/g. The products of hydrolysis contained glucose tested by Fehling reagent. The yield product of  hydrolysis obtained was 0.967%

    Pengembangan Perangkat Pembelajaran Pada Materi Hidrolisis Garam Dengan Menggunakan Pendekatan Saintifik Untuk Siswa SMA/MA Kelas XI Semester 2

    No full text
    ABSTRACT Anwar, Muchammad Zainul. 2016. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Pada Materi Hidrolisis Garam Dengan Menggunakan Pendekatan Saintifik Untuk Siswa SMA/MA Kelas XI Semester 2. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I) Drs. Darsono Sigit, M.Pd., (II) Oktavia Sulistina, S.Pd., M.PdKata Kunci: Perangkat pembelajaran, Pendekatan saintifik, Hidrolisis garamSaat ini kurikulum yang berlaku di Indonesia adalah kurikulum 2013. Dalam kurikulum 2013 digunakan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran. Pendekatan saintifik (scientific approach) dalam proses pembelajaran mempunyai lima pengalaman belajar meliputi mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengkomunikasikan. Dengan pendekatan saintifik, guru diharapkan bisa membimbing siswa untuk secara aktif, mencari, mengolah dan mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri agar tidak selalu bergantung pada guru saja. Salah satu materi kimia yang dianggap sulit oleh siswa adalah materi hidrolisis garam. Kesulitan yang dialami siswa dalam mempelajari materi hidrolisis garam disebabkan tidak terlibatnya siswa pada proses penemuan konsep. Pemberian konsep secara langsung oleh guru mengakibatkan konsep yang diterima siswa kurang bermakna. Oleh karena itu diperlukan sebuah perangkat pembelajaran yang bisa membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk: 1) menghasilkan perangkat pembelajaran kimia pada materi hidrolisis garam dengan pendekatan saintifik berupa buku guru dan buku siswa, 2) mengetahui kelayakan perangkat pembelajaran kimia pada materi hidrolisis garam dengan pendekatan saintifik yang dihasilkan.Model penelitian dan pengembangan yang digunakan mengadopsi model penelitian dan pengembangan 4-D Thiagarajan yang terdiri dari empat tahap, yaitu: (1) Define (pendefinisian), (2) Design (perancangan), (3) Develop (pengembangan) dan (4) Disseminate (penyebaran). Namun, tahap ke empat dari model pengembangan ini yaitu tahap disseminate tidak dilaksanakan. Penilaian terhadap produk penelitian dilakukan melalui validasi dan uji terbatas. Data hasil penelitian berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh berdasarkan penilaian pada instrumen validasi dan angket uji keterbacaan dengan skala likert, sedangkan data kualitatif diperoleh dari komentar dan saran validator dan subyek uji keterbacaan. Produk pengembangan yang dihasilkan berupa buku guru dan buku siswa tentang hidrolisis garam yang dikembangkan dengan pendekatan saintifik sesuai kurikulum 2013. Hasil validasi yang dilakukan pada buku siswa sebesar 83,50% yang memenuhi kriteria sangat layak, dan hasil validasi pada buku guru sebesar 93,00% yang memenuhi kriteria sangat layak. Sedangkan hasil uji  keterbacaan pada buku siswa yang diperoleh sebesar 88,50% yang memenuhi kriteria sangat layak. Dari kedua hasil tersebut menunjukkan bahwa  perangkat pembelajaran sangat layak digunakan dalam pembelajaran

    Uji Toksisitas Ekstrak Metanol dan Fraksi Etil Asetat Batang Kenikir (Cosmos caudatus) terhadap Artemia salina serta Isolasi Salah Satu Komponen Penyusunnya.

    No full text
    ABSTRACT Munfaati, Elmi. 2016. Uji Toksisitas Ekstrak Metanol dan Fraksi Etil Asetat Batang Kenikir (Cosmos caudatus) terhadap Artemia salina serta Isolasi Salah Satu Komponen Penyusunnya. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Siti Marfu’ah, M.S., (II) Dr. H. Sutrisno, M.Si.,Kata Kunci: batang kenikir, fraksi etil asetat, toksisitas, Artemia salinaKenikir (Cosmos caudatus) merupakan salah satu tanaman yang tumbuh subur dan sering dijumpai di Indonesia. Umumnya, bagian kenikir yang dimanfaatkan adalah daun, sedangkan batangnya tidak dimanfaatkan. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pada batang kenikir mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid, saponin, steroid, dan flavonoid. Adanya senyawa-senyawa tersebut menyebabkan kenikir memiliki aktivitas yang dapat dimanfaatkan. Toksisitas ekstrak metanol dan fraksi etil asetat batang kenikir terhadap Artemia salina  belum pernah diteliti sebelumnya. Artemia salina merupakan sejenis udang laut yang digunakan untuk menguji toksisitas suatu bahan alam dan banyak digunakan untuk penemuan senyawa antikanker baru. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menentukan sifat toksisitas ekstrak metanol batang kenikir, 2) menentukan sifat toksisitas fraksi etil asetat batang kenikir, dan 3) mengidentifikasi komponen hasil pemisahan fraksi etil asetat ekstrak batang kenikir.Penelitian yang dilakukan terdiri dari 8 tahap yaitu, 1) preparasi sampel, (2) ekstraksi, 3) uji fitokimia, 4) uji toksisitas terhadap larva udang Artemia salina dengan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test), 5) analisis kromatografi lapis tipis (KLT), 6) pemisahan dengan kromatografi kolom gravitasi, 7) pemisahan komponen dengan kromatografi lapis tipis preparatif (KLT preparatif), 8) identifikasi komponen hasil pemisahan secara organoleptik dan analisis secara spektrofotometri IR.Ekstrak metanol dan fraksi etil asetat batang kenikir bersifat toksik terhadap Artemia salina dengan nilai LC50 berturut-turut sebesar 695 ppm dan 727ppm. Komponen hasil isolasi dari fraksi etil asetat batang kenikir merupakan padatan berwarna kuning pudar, positif terhadap uji flavonoid, dan mempunyai pita serapan khas gugus C-C, C-H, dan C=C aromatik, -OH, C-H alifatik, serta CO eter. Komponen hasil isolasi fraksi etil asetat batang kenikir diduga merupakan golongan flavonoid.ABSTRACT Munfaati, Elmi. 2016. Toxicity Test of Methanol Extract and Ethyl Acetate Fraction from Kenikir’s  Stem (Cosmos caudatus) using Artemia salina and Isolation One of Its Component. Undergraduate Thesis. Department of Chemistry, Faculty of Mathematics and Science, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Siti Marfu’ah, M.S., (II) Dr. H. Sutrisno, M.Si.,Keywords: kenikir’s stem, ethyl acetate fraction, toxicity, Artemia salinaKenikir (Cosmos caudatus) is one of plants which can flourish and it is almost found in Indonesia. In general, the part of kenikir which can be used is its leaves, while its stem cannot be used. The previous study showed that the kenikir’s stem consisted of secondary metabolite compounds i.e. alkaloid, saponin, steroid, and flavonoid. The existing of all those compounds causes kenikir plant has biological activity which can be used. The toxicity of methanol extract and ethyl acetate fraction on the kenikir’s stem has not been researched yet. Artemia salina is like a shrimp that is used to test the toxicity of a natural substance and it is also almost used for the inventory of new anti-cancer compound. This study aims to (1) determine the toxicity characteristics of methanol extract on the kenikir’s stem, (2) determine the toxicity characteristics of ethyl acetate fraction on the kenikir’s stem, and (3) identify  the component of the separation result in ethyl acetate fraction on the kenikir’s stem.The study consisted of 8 steps i.e. 1) the sample preparation, 2) the extraction, 3) the phytochemical test, 4) the toxicity test toward Artemia salina shrimp larvae through BSLT (Brine Shrimp Lethality Test), 5) the analysis of thin layer chromatography, 6) the separation of using gravitation column chromatography, 7) the component separation using preparative thin layer chromatography, 8) the component identification of the separation result through organoleptic and the analysis of using spectrophotometry IR.  Methanol exctract and ethyl acetate fraction of the kenikir’s stem were toxic toward Artemia salina with LC50 were 695 ppm and 727 ppm respectively. The component of isolation from ethyl acetate fraction of the kenikir’s stem was the solid with dim yellow colored, gave positive test on the existing of flavonoid group, and having the absorption bands i.e. groups of C-C, C-H and C=C aromatic, -OH, C-H aliphatic, and CO eter. The isolation component of ethyl acetate fraction of kenikir’s stem was assumed that it belong to flavonoid group

    0

    full texts

    1,785

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇