SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Isolasi dan Identifikasi Metabolit Sekunder dari Fraksi Etil Asetat Ekstrak Metanol Daun Jambu Biji Australia (Psidium guajava Linn) dan Uji Aktivitas Antibakterinya terhadap Escherichia coli
ABSTRACT Rahmawati, Hildayani. 2016. Isolasi dan Identifikasi Metabolit Sekunder dari Fraksi Etil Asetat Ekstrak Metanol Daun Jambu Biji Australia (Psidium guajava Linn) dan Uji Aktivitas Antibakterinya terhadap Escherichia coli. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Laurent Octaviana, S.Pd., M.Si. (II) Eli Hendrik Sanjaya, S.Si., M.Si.Kata kunci: aktivitas antibakteri, daun jambu biji australia, Escherichia coli, fraksi etil asetat.Tumbuhan secara turun temurun digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam pengobatan tradisional berbagai penyakit. Salah satu penyebab penyakit dapat disebabkan oleh bakteri di antaranya ialah bakteri Escherichia coli. Salah satu tanaman obat yang dipercaya oleh masyarakat Indonesia memiliki khasiat dalam pengobatan tradisional untuk infeksi bakteri ialah jambu biji australia (Psidium guajava Linn). Beberapa penelitian melaporkan bahwa ekstrak daun jambu biji australia berpotensi sebagai antibakteri, namun belum diketahui isolat aktif antibakteri dari fraksi etil asetat daun jambu biji australia. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengisolasi metabolit sekunder dari fraksi etil asetat ekstrak metanol daun jambu biji australia, (2) mengetahui bioaktivitas metabolit sekunder fraksi etil asetat daun jambu biji australia terhadap bakteri E. coli, dan (3) mengidentifikasi golongan metabolit sekunder fraksi etil asetat dari ekstrak metanol daun jambu biji australia.Penelitian ini mencakup beberapa tahapan, yaitu (1) preparasi sampel, (2) ekstraksi dan fraksinasi cair-cair, (3) analisis kromatografi lapis tipis (KLT), (4) kromatografi vakum cair (KVC), (5) pemurnian komponen menggunakan kromatografi kolom gravitasi, (6) uji bioaktivitas antibakteri isolat murni terhadap bakteri E. coli, dan (7) karakterisasi isolat murni dengan analisis spektrofotometri FT-IR dan dilanjutkan dengan skrinning fitokimia. Isolasi senyawa murni diawali dengan maserasi daun jambu biji Australia menggunakan metanol, dilanjutkan dengan fraksinasi cair-cair berturut-turut menggunakan n-heksana dan etil asetat. Fraksinasi dilakukan dengan cara kromatografi vakum cair (KVC) dan pemurnian dilakukan dengan metode kromatografi kolom gravitasi. Uji bioaktivitas terhadap E. coli dilakukan dengan menggunakan metode difusi kertas cakram.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) Senyawa H-15 diperoleh dari proses pemisahan dengan menggunakan kromatografi kolom gravitasi menggunakan eluen n-heksana : kloroform 9 : 1 dengan rendemen 4,15%, (2) hasil identifikasi menggunakan spektrofotometer FT-IR menunjukkan bahwa senyawa H-15 mengandung gugus fungsi –C=O karbonil dan ikatan –C-H alifatik. Hasil skrinning fitokimia yang dilakukan menunjukkan bahwa senyawa H-15 diduga merupakan golongan senyawa terpenoid, (3) senyawa murni H-15 memiliki aktivitas antibakteri yang tergolong sedang dengan diameter zona hambat sebesar 9,00 mm.ABSTRACT Rahmawati, Hildayani. 2016. Isolation and Identification of Secondary Metabolites from Ethyl Acetate Fraction Extract Methanol Australian Guava Leaf (Psidium guajava Linn) and Test of Antibacterial Activity Against Escherichia coli. Undergraduate Thesis, Faculty of Mathemathic and Sciences, State University of Malang. Supervisor: (I) Laurent Octaviana, S.Pd., M.Si. (II) Eli Hendrik Sanjaya, S.Si., M.Si.Keywords: antibacterial activity, australian guava leaf, Escherichia coli, ethyl acetate fractionPlants for generations used by Indonesian people in traditional treatment of various diseases. One of the diseases can be caused by bacteria including Escherichia coli. One of the medicinal plants that are trusted by Indonesian people have efficacy to traditional treatment of bacterial infections is australian guava (Psidium guajava Linn). Several studies have reported that australian guava leaf extract has potential as an antibacterial, but it is not known antibacterial active isolates of ethyl acetate fraction of guava leaves australia. This study aims to (1) isolating secondary metabolites from ethyl acetate fraction of methanol extract of australian guava leaf, (2) determine the bioactivity of secondary metabolites ethyl acetate fraction of Australian guava leaves on the bacteria E. coli, and (3) determine the character of a secondary metabolites fractions ethyl acetate from extract methanol australian guava leaf which has antibacterial bioactivity.This study includes several stages, namely (1) sample preparation, (2) extraction and liquid-liquid fractionation, (3) analysis by thin layer chromatography (TLC), (4) vacuum liquid chromatography (VLC), (5) purification components using gravity column chromatography, (6) test the bioactivity of antibacterial pure isolates of the bacterium E. coli, (7) the characterization of pure isolates by FT-IR spectrophotometric analysis and phytochemicals screening. Isolation of pure compounds starting with the Australian guava leaf maceration using methanol, followed by liquid-liquid fractionation in a row using n-hexane and ethyl acetate. Fractionation is done by vacuum liquid chromatography (VLC) and purification carried out by column chromatography gravity. Bioactivity test against E. coli using disc diffusion method. The conclusion from the research is (1) Compound H-15 obtained from separation process using a gravity column chromatography using eluent n-hexane : ethyl acetat 9 : 1 to yield 4,15%, (2) the identification using FT-IR spectrophotometer showed that the compound H-15 containing functional groups -C = O carbonyl and aliphatic -CH bond. From phytochemicals screening carried out showed that H-15 compound is thought to be the terpenoids compound. (3) H-15 compound has antibacterial activity that is classified as moderate inhibition zone with a diameter of 9.00 mm
Identifikasi Letak Kesulitan dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar Siswa Kelas X IPA SMA Negeri 4 Malang Pada Materi Ikatan Kimia
ABSTRAK Fauziyah, Na’ilah. 2016. Identifikasi Letak Kesulitan dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar Siswa Kelas X IPA SMA Negeri 4 Malang Pada Materi Ikatan Kimia. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Dra. Dedek Sukarianingsih. M.Pd., M.Si., (2) Dr. Nazriati. M.Si. Kata kunci: identifikasi, kesulitan belajar, ikatan kimia Konsep-konsep dalam ilmu kimia saling berkaitan antara satu dengan yang lain dan memiliki karakter yang berjenjang mulai dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks. Salah satu materi pelajaran kimia yang diajarkan pada siswa kelas X adalah ikatan kimia. Siswa harus memiliki pemahaman yang utuh dalam materi ikatan kimia, karena materi ikatan kimia merupakan pondasi untuk materi kimia selanjutnya seperti termokimia dan asam basa. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui pemahaman konsep siswa kelas X IPA SMAN 4 Malang, (2) Mengidentifikasi kesulitan siswa kelas X IPA SMAN 4 Malang, (3) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa pada materi ikatan kimia. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas X IPA SMAN 4 Malang yang terdiri dari 64 siswa kelas X F2 dan X G2. Subjek penelitian adalah siswa yang diduga mengalami kesulitan yang memiliki rata-rata nilai UH ikatan kimia rendah yang dipilih secara selektif dengan teknik purposie sampling. Penjaringan data menggunakan instrumen tes, angket, dan wawancara (triangulasi data). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tingkat pemahaman konsep siswa pada materi ikatan kimia berdasarkan masing-masing konsep yang diukur, (a) Persentase siswa yang memahami konsep kestabilan unsur sebesar 47,5% dengan kategori rendah, (b) Persentase siswa yang memahami konsep struktur Lewis sebesar 34,3% dengan kategori rendah, (c) Persentase siswa yang memahami konsep ikatan ionik sebesar 46,7% dengan kategori rendah, (d) Persentase siswa yang memahami konsep ikatan kovalen sebesar 42,5% dengan kategori rendah, (e) Persentase siswa yang memahami konsep ikatan kovalen koordinasi sebesar 40,7% dengan kategori rendah, (f) Persentase siswa yang memahami konsep ikatan kovalen polar-nonpolar sebesar 43% dengan kategori rendah, (g) Persentase siswa yang memahami konsep ikatan logam sebesar 42,2% dengan kategori rendah. (2) Kesulitan-kesulitan yang dialami siswa, (a) Pada konsep kestabilan unsur adalah menentukan elektron valensi pada suatu konfigurasi suatu atom unsur, menentukan molekul yang tidak memenuhi kaidah oktet, dan menentukan ion yang memenuhi kaidah duplet; (b) Pada konsep struktur Lewis adalah menggambarkan struktur Lewis kation, menggambarkan struktur Lewis anion, menggambarkan struktur Lewis senyawa ionik, dan menggambarkan struktur Lewis senyawa kovalen; (c) Pada konsep ikatan ionik adalah menjelaskan ciri-ciri ikatan ionik, menjelaskan definisi ikatan ionik, menentukan konfigurasi elektron suatu ion, menjelaskan proses terbentuknya ikatan ionik, dan menentukan ciri-ciri yang dapat membedakan ikatan ionik dan ikatan kovalen; (d) Pada konsep ikatan kovalen adalah menjelaskan proses terbentuknya ikatan kovalen, menjelaskan definisi ikatan kovalen, dan menentukan senyawa yang memiliki ikatan kovalen tunggal, rangkap dua, dan rangkap tiga;(e) Pada konsep ikatan kovalen koordinasi adalah menjelaskan proses terbentuknya ikatan kovalen koordinasi, dan menentukan senyawa yang memiliki ikatan kovalen koordinasi; (f) Pada konsep ikatan kovalen polar-nonpolar adalah menentukan senyawa yang memiliki ikatan kovalen polar berdasarkan data keelektronegatifan dan momen dipol, dan menjelaskan proses terbentuknya ikatan kovalen polar; (g) Pada konsep ikatan logam adalah menjelaskan definisi ikatan logam, menentukan ikatan yang terbentuk pada atom-atom Fe, menjelaskan ikatan logam yang paling kuat sesuai data yang diberikan, dan menentukan sifat fisik pada ikatan ionik, ikatan kovalen dan ikatan logam. (3) Faktor yang dominan penyebab kesulitan belajar materi ikatan kimia adalah faktor rendahnya kemampuan pendisiplinan diri untuk belajar (55,32%), faktor rendahnya kemampuan siswa memahami soal bertingkat (41,49%). dan tidak adanya teman diskusi atau kelompok belajar siswa (45,74%). Saran yang diberikan dari hasil penelitian ini adalah (1) Perlu dilakukan upaya untuk menghubungkan pemahaman siswa dan mengatasi kesulitan belajar yang dialami siswa agar mudah mempelajari materi ikatan kimia, (2) Pembelajaran yang harus dilakukan harus membuat siswa memiliki pemahaman yang benar, (3) Perlu adanya penelitian lain dengan kajian yang lebih mendalam dan subjek penelitian yang berbeda, dan (4) Kepada peneliti lain untuk menyempurnakan instrumen penelitian dan metode yang digunakan
Aplikasi Nanopartikel Magnetit dan Magnetit Bersalut Silika sebagai Adsorben Logam Berat Fe(III)
ABSTRAK Fitriana, Titis. 2015. Aplikasi Nanopartikel Magnetit dan Magnetit Bersalut Silika sebagai Adsorben Logam Berat Fe(III), Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Fauziatul Fajaroh, M.S., (II) Dr. Nazriati, M.Si. Kata-kata Kunci: adsorben, logam berat Fe(III), magnetit, magnetit bersalut silika Nanopartikel magnetit memiliki banyak manfaat antara lain sebagai penyerap anion ataupun ion logam dari air limbah. Daya serap nanopartikel magnetit diduga akan meningkat, jika permukaan magnetit dilapisi dengan silika karena silika merupakan material berpori. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis nanopartikel magnetit bersalut silika dengan metode sol-gel dan mengetahui pengaruh pelapisan silika terhadap karakteristik magnetit yang dihasilkan serta mengaplikasikan nanopartikel magnetit bersalut silika sebagai adsorben logam berat Fe(III) pada variasi waktu kontak, konsentrasi, pH, dan suhu, kemudian mempelajari model isoterm adsorpsi, termodinamika dan kinetika adsorpsi yang terjadi. Penelitian ini terdiri dari empat tahap utama. Pertama, mendapatkan elektrode besi terlapisi besi murni dengan cara elektroplating besi. Kedua, proses sintesis nanopartikel magnetit melalui metode elektrolisis dengan elektrode besi terlapisi besi murni hasil elektroplating sebagai anode dan elektrode besi yang lain sebagai katode dengan elektrolit air demineralisasi. Ketiga, sintesis magnetit bersalut silika dengan metode sol-gel dengan larutan natrium silikat sebagai sumber silika. Hasil sintesis kemudian dikarakterisasi dengan XRD, FT-IR, dan SEM. Tahap terakhir dilakukan pengujian magnetit dan magnetit bersalut silika sebagai adsorben logam Fe(III). Hasil penelitian menunjukkan bahwa difraktogram magnetit dan magnetit bersalut silika sesuai dengan magnetit standar. Spektra FTIR menunjukkan puncak vibrasi pada angka gelombang 560 cm-1 yang berupa ikatan Fe-O-Si dan angka gelombang 970 cm-1 berupa ikatan Si-O serta vibrasi pada angka gelombang 1000-1200 cm-1 berupa ikatan Si-O-Si, membuktikan bahwa magnetit telah tersalut silika. Magnetit menghasilkan kapasitas adsorpsi terhadap logam Fe(III) lebih baik dibanding magnetit bersalut silika
Potensi Keratinase Isolat Bakteri Keratinolitik dari Sampel Limbah Tahu dalam Mendegradasi Bulu Ayam
ABSTRAK Nilamsari, N. R. 2016.PotensiKeratinaseIsolatBakteriKeratinolitik dariSampelLimbahTahudalam MendegradasiBuluAyam.Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suharti, S.Pd.,M.Si., (II)Muntholib, S.Pd., M.Si. Kata Kunci :Isolasi, keratinase,bakteri indigen, pakan ternak. Keratin merupakankomponenutama yang menyusunbuluayam.Strukturkimia protein pada keratin sangatstabilkarenaadanyaikatandisulfidadaninteraksihidrofobik yang kuatpadarantaisampingresiduasam amino.Keratinaseadalah protease spesifik yang menghidrolisisikatanpeptidadanmemutusikatandisulfidapada keratin menghasilkan peptide pendekdanasam amino.Hidrolisatnyaberpotensiuntukpakanternak.Enziminidapatdihasikanolehmikroorganismesepertibakteri, fungi, danactinomycetes.Penelitianinibertujuanuntuk: mengisolasibakteriindigenpenghasilkeratinasedarilimbahtahudanmengidentifikasispesies isolatmikroba yang diperoleh dengan identifikasi genotip. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap: isolasi bakteri penghasil keratinase dari limbah tahu danidentifikasispesies bakteri berdasarkansekuen 16S rRNA. Isolasi bakteri penghasil keratinase dilakukan denganpengayaanmikroba yang adadalamlimbahtahudenganmenggunakanbuluayamsebagai media pengayaan.Selanjutnya,bakteri penghasil protease diseleksi pada media selektif susu skim-agarpada suhu 37℃.Bakteri yang telahberhasildiisolasidiujikemampuannyadalammendegradasi keratin dengancaramengujikemampuannyamendegradasibuluayam media garam yang mengandungbuluayam. Identifikasi spesiesbakteri dilakukan denganamplifikasifragmen DNA pengkode 16S rRNAdengansekuensifragmendanpecocokansekuen16S rRNAberdasarkan data padaGene Bank. Bakteri indigenyang diberi nama isolat N1 telah berhasil diisolasi dari limbah tahu. Isolat N1 dapat membentuk zona bening pada media minimal susu skim-agar pada hari kedua. Isolat N1 mampu mendegradasi bulu ayam utuh sebesar 53,5% selama 5 hari. Kadar tirosin yang dihasilkanselama 5 harisebesar 57,6 µmol/mL. Analisisgenetik 16S rRNAmenunjukkanbahwaN1 memiliki tingkat identitas maksimum sebesar 90% dengan Bacillus substilis sehingga dapat disimpulkan bahwa isolat N1 bukan spesiesBacillus substilis, dimungkinkan isolat N1 merupakan spesies baru yang belum dilaporkan. .  
Pengembangan Media Digital Pembelajaran Kimia pada Materi Asam Basa Berbasis Android Untuk SMA/MA Kelas XI
ABSTRACT Pengembangan Media Digital Pembelajaran Kimia pada Materi Asam Basa Berbasis Android Untuk SMA/MA Kelas XISebagian besar materi kimia bersifat abstrak karena memiliki ciri khas yang meliputi atom, ion, elektron, dan ikatan kimia yang merujuk pada tingkat molekuler atau submikroskopik dari suatu materi. Kajian materi kimia mencakup tiga aspek representasi yaitu: makroskopis, submikroskopis dan symbol. Salah satu materi kimia yang mencakup ketiga aspek tersebut adalah materi asam basa, sehingga materi asam basa dianggap sulit oleh siswa. Hal ini didasarkan hasil studi literatur terhadap pemahaman peserta didik pada materi asam basa ditemukan kesulitan dalam memahami materi. Hal tersebut bisa terjadi karena bahan ajar yang digunakan belum menggambarkan aspek submikroskopis dari materi. Untuk memudahkan siswa belajar materi asam basa perlu dibuat suatu media pembelajaran yang dapat memvisualisasikan aspek submikroskopis materi dengan adanya video dan animasi. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan media pembelajaran interaktif menggunakan aplikasi Adobe Flash Professional CS6 untuk sistem operasi android.Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan. Model pengembangan media digital pembelajaran berbasis android dikembangkan berdasarkan model 4-D yang direkomendasikan oleh Thiagarajan et al (1974). Model 4-D terdiri atas empat tahap pengembangan yaitu: Define (pendefinisian), Design (perancangan), Develop (pengembangan), dan Desseminate (penyebaran). Pada pengembangan media ini hanya dilakukan sampai tahap ketiga, yaitu develop (pengembangan), karena keterbatasan waktu. Media pembelajaran yang dikembangkan ini berupa multimedia interaktif yang dibuat dengan aplikasi Adobe Flash professional CS6 yang dapat digunakan pada mobile phone dengan system operasi android versi minimal 2,3 ginger bread. Proses validasi dilakukan oleh seorang dosen Jurusan Kimia Universitas Negeri Malang dan dua orang guru kimia SMA/MA. Setelah itu, media ini diujicobakan pada 10 peserta didik MAN 3 Malang kelas XI peminatan IPA. Pada penelitian pengembangan ini telah berhasil dikembangkan media digital pembelajaran kimia berbasis android pada materi asam basa yang dapat dioperasikan pada handphone dengan sistem operasi android dengan baik. Media pembelajaran yang dikembangkan telah memenuhi kriteria valid atau layak digunakan sebagai media pembelajaran tambahan pada materi asam basa untuk siswa SMA/Ma kelas XI. Hal ini didasarkan hasil validasi media diperoleh persentase rata-rata 86,33% menunjukkan bahwa media memenuhi kriteria sangat layak. Hasil validasi materi diperoleh persentase rata-rata 87,31 % menunjukkan bahwa materi dalam media memenuhi kriteria sangat layak. Jajak pendapat dari 10 peserta didik MAN 3 Malang kelas XI peminatan IPA diperoleh persentase rata-rata 84,75% menunjukkan kriteria sangat baik
ISOLASI, KARAKTERISASI, DAN UJI AKTIVITAS SUNSCREEN dan ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK METANOL BIJI ALPUKAT (Persea americana Mill)
ABSTRACT Putri, Devy Safiyanti. 2016. Isolasi, Karakterisasi, dan Uji Aktivitas Sunscreen dan Antibakteri dari Ekstrak Metanol Biji Alpukat (Persea americana Mill). Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sutrisno, M.Si., (II) Dr. Siti Marfu’ah, M.S.Kata kunci: antibakteri, biji alpukat, esktrak metanol, sunscreen.Biji alpukat merupakan salah satu bagian tanaman alpukat (Persea americana Mill) yang relatif belum dimanfaatkan. Sebagaimana tumbuhan pada umumnya, tanaman merupakan sumber informasi untuk beberapa ragam senyawa. Penelitian sebelumnya yang sudah dilakukan terhadap biji alpukat menunjukkan bahwa biji alpukat berpotensi sebagai sunscreen dan antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengisolasi salah satu komponen yang ada di dalam biji alpukat, (2) mengkarakterisasi dan mengidentifikasi salah satu komponen yang ada di dalam biji alpukat, dan (3) menguji aktivitas salah satu komponen yang ada di dalam biji alpukat sebagai sunscreen dan antibakteri, khususnya fraksi (n¬-heksana + etil asetat = 3 + 7) esktrak metanol.Penelitian ini dilakukan melalui empat tahap. Tahap 1: preparasi sampel meliputi pengumpulan, pengeringan, dan pembuatan serbuk. Tahap 2: isolasi komponen meliputi ekstraksi, fraksinasi, dan pemurnian. Tahap 3: karakterisasi dan identifikasi. Karakterisasi meliputi wujud, warna, titik lebur, uji ketidakjenuhan, dan uji golongan senyawa. Identifikasi meliputi spektroskopi UV dan IR. Tahap 4: uji aktivitas sebagai sunscreen dan antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Isolasi yang dilakukan secara ekstraksi, fraksinasi, dan pemurnian fraksi (n-heksana + etil asetat = 3 + 7) ekstrak metanol diperoleh zat padat berwarna kuning muda. Zat hasil isolasi mempunyai titik lebur 50-53oC, mengandung ikatan rangkap, larut dalam kloroform, etil asetat, dan metanol, sedikit larut dalam n-heksana, dan tidak larut dalam air. Hasil interpretasi spektrum UV zat hasil isolasi dalam kloroform mempunyai λmaks pada 241,5 nm (a = 1,75 cm2 mg-1) mengindikasikan adanya transisi ππ* terkonjugasi, λmaks pada 282,5 nm (a = 1,87 cm2 mg-1) mengindikasikan adanya transisi ππ* benzenoid, dan λmaks pada 323,7 nm (a = 0,73 cm2 mg-1) mengindikasikan adanya transisi nπ*. Interpretasi spektrum IR, zat hasil isolasi mengindikasikan adanya gugus -OH, gugus karbonil, C-H aromatik, C-H alifatik, dan C=C aromatik. Diduga zat hasil isolasi termasuk golongan senyawa saponin. Zat hasil isolasi tidak aktif sebagai sunscreen (SPF = 0,86) dan memiliki aktivitas antibakteri tergolong kuat baik terhadap Escherichia coli (diameter zona hambat = 26,35 mm) dan Staphylococcus aureus (diameter zona hambat = 17,7 mm)
Isolasi, Karakterisasi, dan Uji Aktivitas Sunscreen dan Antibakteri dari Fraksi (n-Heksana + Etil Asetat = 8 + 2) Ekstrak Metanol Biji Alpukat (Persea americana Mill)
ABSTRACT Handoyo, Karim. 2016. Isolasi, Karakterisasi, dan Uji Aktivitas Sunscreen dan Antibakteri dari Fraksi (n-Heksana + Etil Asetat = 8 + 2) Ekstrak Metanol Biji Alpukat (Persea americana Mill). Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Sutrisno, M. Si., (II) Laurent Octaviana, S.Pd., M.Si.Kata kunci: antibakteri, biji alpukat, ekstrak metanol, sunscreen.Biji alpukat merupakan salah satu bagian tanaman alpukat (Persea americana Mill) yang relatif belum dimanfaatkan. Sebagaimana tumbuhan pada umumnya tanaman merupakan sumber informasi untuk beragam senyawa. Penelitian sebelumnya yang sudah dilakukan terhadap biji alpukat menunjukkan bahwa biji alpukat berpotensi sebagaimana sunscreen dan antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi (salah satu) komponen dari fraksi (n-heksana + etil asetat = 8 + 2) ekstrak metanol, mengakarakterisasi serta menguji aktivitas komponen hasil isolasi sebagai sunscreen dan antibakteri.Penelitian ini dilakukan melalui 4 tahap. Tahap 1: preparasi sampel meliputi pengumpulan, pengeringan, dan pembuatan serbuk biji alpukat. Tahap 2: isolasi komponen dalam biji alpukat meliputi ekstraksi serbuk biji alpukat, fraksinasi ekstrak metanol biji alpukat, dan pemurnian fraksi (n-heksana + etil asetat = 8 + 2) ekstrak metanol biji alpukat. Tahap 3: karakterisasi zat hasil isolasi meliputi wujud, warna, titik lebur, uji ketidakjenuhan, uji golongan senyawa, serta interpretasi spektrum UV dan IR zat hasil isolasi. Tahap 4: uji aktivitas zat hasil isolasi sebagai sunscreen dan antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Isolasi yang dilakukan secara ekstraksi, fraksinasi, dan pemurnian terhadap fraksi (n-heksana + etil asetat = 8 + 2) ekstrak metanol biji alpukat diperoleh zat padat berwarna putih. Zat ini mempunyai titik lebur 67-70 °C, larut dalam kloroform, etil asetat, dan etanol, sedikit larut dalam n-heksana, tidak larut dalam metanol dan air. Zat ini mempunyai λmaks pada 219,0 nm (absorptivitas 8,80 cm2.mg-1 dalam etanol) mengindikasikan adanya transisi ππ* dan 344,0 nm (absorptivitas 0,10 cm2.mg-1 dalam etanol) mengindikasikan adanya transisi nπ*. Hasil interpretasi spektrum IR zat ini mengindikasikan adanya gugus -OH, gugus -C=O ester, gugus -CH, dan gugus C=C. Zat hasil isolasi diduga golongan saponin. Zat ini tidak berpotensi sebagai sunscreen (SPF 0,415) dan memiliki aktivitas antibakteri yang tergolong sedang, baik terhadap Escherichia coli (diameter zona hambat sebesar 7,53 mm) maupun terhadap Staphylococcus aureus (diameter zona hambat sebesar 7,21 mm), sehingga kedepannya memiliki prospek bagi pengembangan obat tradisional
Degradasi Gliserol menjadi Etanol menggunakan Katalis Zeolit Alam Aktif/Cu dengan Bantuan Ultrasonik
ABSTRACT Wardani, Riski Kusuma. 2016. Degradasi Gliserol menjadi Etanol menggunakan Katalis Zeolit Alam Aktif/Cu dengan Bantuan Ultrasonik. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sumari, M.Si., (II) Dr. Hj. Fauziatul Fajaroh, M.S.Kata Kunci: zeolit, katalis, degradasi gliserol, etanol, ultrasonikasiPertumbuhan penduduk yang meningkat setiap tahun menyebabkan laju konsumsi minyak bumi pun bertambah. Mengingat bahan fosil yang ada merupakan sumber alam terbatas maka dikhawatirkan terjadi kelangkaan bahan bakar. Pemerintah menggalakkan penggunaan biodiesel sebagai bahan bakar alternatif yang menghasilkan limbah gliserol dalam jumlah besar. Akibat melimpahnya gliserol sebagai produk samping ini maka para ahli berusaha mendegradasi gliserol menjadi bioetanol. Tujuan penelitian ini adalah mengkonversi gliserol menjadi bioetanol menggunakan katalis zeolit alam aktif/Cu dengan bantuan ultrasonik.Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia, Laboratorium Sentral FMIPA UM, Laboratorium Elektrokimia dan Korosi Teknik Kimia ITS, dan Laboratorium Teknik Kimia UBAYA. Katalis yang digunakan dalam penelitian ini adalah zeolit alam aktif/Cu. Proses degradasi dilakukan pada suhu 60°C pada variasi waktu degradasi 1,2, dan 4 jam dengan katalis zeolit alam aktif/Cu dengan bantuan ultrasonik. Katalis yang digunakan dikarakterisasi menggunakan isoterm Freundlich, BET, dan XRD. Produk degradasi gliserol dianalisis menggunakan kromatografi gas (GC). Hasil analisis XRD menunjukkan bahwa zeolit yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis mordenit. Uji isoterm Freundlich menunjukkan bahwa luas permukaan zeolit alam aktif sebesar 85,5266 m2/g dan luas permukaan zeolit alam aktif-Cu sebesar 42,6428 m2/g. Hasil analisis BET menunjukkan luas permukaan spesifik zeolit alam aktif sebesar 99,096 m2/g dan volum pori sebesar 0,026 cm3/g. Sementara itu, luas permukaan zeolit alam aktif Cu sebesar 6,597 m2/g dan volum pori sebesar 0,058 cm3/g. Berdasarkan analisis GC produk hasil degradasi gliserol dihasilkan etanol. Persentase kadar etanol tertinggi sebagai hasil degradasi adalah 3,704% yang diperoleh ketika waktu sonikasi 2 jam menggunakan katalis zeolit alam aktif
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Pendekatan Saintifik dengan Mengeksplisitkan Hakikat Sains (NOS) dan Berpikir Kritis pada Materi Kimia Unsur Golongan Utama
ABSTRACT Fajriani, Dahniar Rizka. 2016. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Pendekatan Saintifik dengan Mengeksplisitkan Hakikat Sains (NOS) dan Berpikir Kritis pada Materi Kimia Unsur Golongan Utama. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dra. Sri Rahayu, M.Ed., Ph.D (II) Drs. Dermawan Afandy, M.Pd.Kata Kunci: pendekatan saintifik, hakikat sains, berpikir kritis, kimia unsur, bahan ajarPenelitian OECD pada PISA dari tahun ke tahun memberikan hasil mengenai rendahnya kemampuan literasi sains anak-anak usia 15 tahun di Indonesia. Hal ini menunjukkan kurang tercapainya tujuan pembelajaran sains yang berfokus pada menciptakan peserta didik yang berliterasi sains melalui pembelajaran berbasis pendekatan saintifik. Kemampuan literasi sains diyakini akan meningkat dengan pengeksplisitan hakikat sains (NOS) dan berpikir kritis dalam pembelajaran. Pendekatan saintifik juga akan efektif dengan pengeksplisitan NOS. Akan tetapi, bahan ajar yang beredar belum mencukupi ketiga aspek tersebut, termasuk juga pada materi kimia unsur golongan utama. Materi tersebut cenderung hanya disampaikan secara deskriptif sehingga hanya menjadi hafalan. Padahal dengan mempelajari unsur-unsur kimia dalam materi kimia unsur seharusnya dapat lebih mendekatkan peserta didik terhadap pemahaman hakikat sains. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menghasilkan produk bahan ajar berbasis pendekatan saintifik dengan mengeksplisitkan hakikat sains (NOS) dan berpikir kritis pada materi kimia unsur golongan utama, dan (2) mengetahui kelayakan produk bahan ajar yang telah dikembangkan.Penelitian pengembangan yang akan dilaksanakan mengikuti model 4D yang dikembangkan oleh Thiagarajan, yang meliputi tahap pembatasan (define), perancangan (design), dan pengembangan (develop) sedangkan tahap penyebaran (disseminate) tidak dilakukan. Untuk mengetahui kelayakan bahan ajar, pada tahap akhir akan dilakukan validasi oleh dua validator ahli materi (dosen kimia) dan dua validator pengguna (guru kimia) dengan mengisi angket tanpa melaksanakan eksperimen di kelas. Bahan ajar layak digunakan bila interpretasinya ≥ 61%.Bahan ajar yang dihasilkan berupa buku siswa dan buku guru. Buku siswa berbasis langkah-langkah pembelajaran pendekatan saintifik dengan mengeksplisitkan hakikat sains pada sajian materi dan berpikir kritis pada soal-soal. Buku guru berisi pengantar mengenai alur saintifik, aspek hakikat sains, aspek berpikir kritis, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan petunjuk penggunaan buku siswa. Hasil validasi yang dilakukan oleh validator terhadap buku siswa dan buku guru menunjukkan persentase rata-rata sebesar 80,40% untuk buku siswa dan 88,50% untuk buku guru. Berdasarkan kriteria kelayakan, dapat disimpulkan bahwa produk pengembangan bahan ajar yang telah dikembangkan sangat layak digunakan dalam proses pembelajaran.ABSTRACT Fajriani, Dahniar Rizka. 2016. Development of Instructional Materials Based on Scientific Approach with Explicit Nature of Science (NOS) and Critical Thinking on Main Group Elements Topic. Thesis, Department of Chemistry, Faculty of Mathematics and Science, State University of Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dra. Sri Rahayu, M.Ed., Ph.D (II) Drs. Dermawan Afandy, M.Pd.Keywords: scientific approach, nature of science, critical thinking, chemical elements, instructional materialsOECD research at PISA year by year provides a result regarding the lack of science literacy skills of 15 years old students in Indonesia. This shows the lack of achievement of science learning goals that focuses on creating students who have scientific literacy through a scientific approach. Scientific literacy is believed to increase with explicit nature of science (NOS) and critical thinking in learning. The scientific approach would also be effective with the implementation of NOS. However, instructional material nowadays is not sufficient to fulfill these three aspects, including on main group elements topic. The material tends to just delivered descriptively so just be memorized. In fact, by studying chemical elements in the topic learners should be able to get closer towards understanding the nature of science. The research aims to: (1) produce instructional materials based on scientific approach by explicit nature of science (NOS) and critical thinking on main group elements topic, and (2) determine feasibility of instructional materials that has been developed.Development research which is going to be carried out following the 4D model developed by Thiagarajan which includes stage of define, design, and develop while the disseminate stage is not performed. To determine feasibility of instructional materials, at the final stage, validation will be conducted by two subject matter experts (chemistry lecturer) and two users (chemistry teacher) to complete a questionnaire without carrying out experiments in the classroom. Instructional materials are feasible to use if the interpretation is ≥ 61%. The instructional materials were produced in the form of student book and teacher book. Student book was based on learning steps on scientific approach with explicit nature of science on topic discussion and critical thinking on questions. Teacher book consisted of introduction about scientific plot, nature of science aspect, critical thinking aspect, lesson plan, and instruction on how to use student book. The validation test conducted by the experts to the student book and teacher book showed the average percentage of 80,40% for student book and 88,50% to teacher book. Based on the feasibility criteria, it can be concluded that the product development of instructional materials was very feasible to be used in the learning process
PengaruhPenggunaan Lembar Study History Sheet (SHS)-Model Pembelajaran Learning Cycle 3 Fase pada Materi Koloid terhadapHasil Belajar SiswaKelas XI IPA SMAN 7 Malang
ABSTRAK Purmita,Devid. 2016.PengaruhPenggunaan Lembar Study History Sheet (SHS)-Model Pembelajaran Learning Cycle 3 Fase pada Materi Koloid terhadapHasil Belajar SiswaKelas XI IPA SMAN 7 Malang. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. RidwanJoharmawan, M.Si., (II)Muntholib, S.Pd, M.Si. Kata kunci: learning cycle 3 fase, lembarstudy history sheet, hasilbelajar Koloid adalah salahsatumateridalamilmukimia. Materikoloidmerupakanmateri yang berhubungandenganfakta-faktailmiahdalamkehidupansehari-hari, sehinggadibutuhkansuatupendekatankonstruktivistik agar siswaaktifdalamkegiatanpembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang berbasis konstruktivistik adalah Learning Cycle 3 Fase. Penelitian yang dilakukan oleh Sulistiani (2010), menunjukkan bahwa hasil belajar siswa SMAN 10 malang yang diajar dengan Learning Cycle 3 Fase lebih tinggi daripada diajar dengan metode konvensional. Penggunaan lembar Study History Sheet pada model pembelajaran Learning Cycle 3 Fase bertujuan untuk lebih memudahkan siswa memahami materi koloid dengan cara membuat rangkuman sesuai dengan idenya sendiri. TujuanpenelitianadalahmengetahuipengaruhpenggunaanlembarStudy History Sheet (SHS) pada model pembelajaranLearning Cycle 3 Faseterhadaphasilbelajarsiswa. Rancanganpenelitian yang digunakanadalahquasy experimental designdenganposttest-only design.Pengambilansampeldilakukandenganteknikcluster random sampling. Kelas eksperimen (XI IPA-6) dibelajarkan menggunakan lembar Study History Sheet (SHS)-model pembelajaranLearning Cycle 3 Fase, sedangkan kelaskontrol (XI IPA-5) dibelajarkan dengan model pembelajaranLearning Cycle 3 Fase.Intrumenuntukmengambil data hasilbelajaradalahtes ulangan harian dan lembar penilaian afektif.Teknik analisis data penelitian dilakukan dengananalisis statistik dan deskriptif. Pengujianhipotesismengunakanindependent samples t-testpadatingkatsignifikansi 0,05denganbantuan program SPSS 16 for Windows. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwa, ada pengaruhpenggunaanlembarStudy History Sheet(SHS) pada model pembelajaranLearning Cycle 3Faseterhadaphasil belajar siswakelas XI IPA SMAN 7 Malang.Hasil belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan lembar Study History Sheet (SHS)-model pembelajaran Learning Cycle 3 Fase pada kelas eksperimen lebik baik daripada siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle 3 Fase pada kelas kontrol. Haltersebutdibuktikandengan rata-rata hasilbelajarkognitifsiswakelaseksperimenlebihtinggi ( = 85,36) dibandingkandengankelaskontrol ( = 81,66) dan rata-rata hasilbelajarafektifsiswakelaseksperimenlebihtinggi (87,40) dibandingkandengankelaskontrol (82,99)