SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
    1785 research outputs found

    Isolasi, Karakterisasi, Identifikasi dan Uji Aktivitas Antibakteri dan Sunscreen Senyawa dari Fraksi (n-heksana + etil asetat = 9 + 1) Ekstrak Aseton Biji Asam Jawa (Tamarindus indica Linn)

    No full text
    ABSTRACT Nurjannah, Ayu. 2016. Isolasi, Karakterisasi, Identifikasi dan Uji Aktivitas Antibakteri dan Sunscreen Senyawa dari Fraksi (n-heksana + etil asetat = 9 + 1) Ekstrak Aseton Biji Asam Jawa (Tamarindus indica Linn). Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Sutrisno, M.Si., (II) Dr. Siti Marfu’ah, M.S.Kata kunci: antibakteri, biji asam jawa, ekstrak aseton, sunscreen.Biji asam jawa merupakan salah satu organ tanaman asam jawa (Tamarindus indica Linn) yang belum banyak dimanfaatkan dibandingkan bagian lain dari tanaman ini. Sebagai bagian dari tumbuhan, biji merupakan bagian yang penting untuk keberlangsungan regenerasinya. Sebagaimana tumbuhan pada umumnya, tanaman merupakan sumber informasi berbagai ragam senyawa. Karenanya, diduga di dalam biji asam jawa terkandung senyawa-senyawa yang perlu ditindaklanjuti untuk pemanfaatannya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengisolasi senyawa dari fraksi (n-heksan + etil asetat = 9 + 1) dalam ekstrak aseton biji asam jawa, (2) Mengkarakterisasi dan mengidentifikasi senyawa hasil isolasi dari fraksi (n-heksan + etil asetat = 9 + 1) dalam ekstrak aseton biji asam jawa, dan (3) Menentukan aktivitas senyawa hasil isolasi dari fraksi (n-heksan + etil asetat = 9 + 1) dalam ekstrak aseton biji asam jawa sebagai sunscreen dan antibakteri.Penelitian ini terdiri dari 4 tahap. Tahap 1: Preparasi sampel (pengumpulan, pengeringan dan pembuatan serbuk). Tahap 2: Isolasi komponen meliputi ekstraksi, fraksinasi, dan pemurnian. Tahap 3: Karakterisasi dan identifikasi. Karakterisasi meliputi wujud, warna, titik lebur, uji kelarutan, uji ketidakjenuhan, dan uji golongan senyawa bahan alam. Identifikasi secara spektrofotometri UV (ultraviolet), dan IR (infrared). Tahap 4: Uji aktivitas meliputi aktivitas sebagai sunscreen dan antibakteri.Isolasi salah satu komponen dengan cara ekstraksi, fraksinasi, dan pemurnian dari fraksi (n-heksana + etil asetat = 9 + 1) ekstrak aseton diperoleh zat padat lunak berwarna kuning muda dengan titik lebur 45-47oC. Larut dalam n-heksana dan kloroform, sedikit larut dalam etil asetat, serta tidak larut dalam metanol dan air. Hasil interpretasi spektrum UV, zat ini mempunyai λmax 242,30 nm (a = 16,46 cm2.mg-1) menindikasikan adanya transisi ππ* terkonjugasi,  λmax 265,80 (a = 16,36 cm2. mg-1) menindikasikan adanya transisi ππ* benzenoid dan λmax 319,70 (a =1,6 cm2. mg-1) menindikasikan adanya transisi ππ*. Hasil interpretasi spektrum IR mengindikasikan adanya gugus OH, gugus karbonil –C=C- terkonjugasi dan –C=C- aromatik pada senyawa ini. Zat ini menunjukkan hasil positif terhadap uji ketidakjenuhan, fenolik dan tanin. Zat ini diduga merupakan senyawa fenolik golongan tanin. Zat ini tidak aktif sebagai sunscreen (SPF 1,493) dan aktif sebagai antibakteri meskipun tergolong kategori sedang terhadap Escherichia coli (diameter zona hambat 7,03 mm) dan Staphylococcus aureus (diameter zona hambat 6,20 mm).ABSTRACT Nurjannah, Ayu. 2016. Isolation, Characterization, Identification and Antibacterial and Sunscreen Activity Testing of Compound of (n - hexane + ethyl acetate = 9 + 1 ) Fraction of Acetone Extract Tamarind (Tamarindus indica L) Seeds. Undergraduate Thesis, Department of Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, State University of Malang. Advisor: (I) Dr. H. Sutrisno, M.Si., (II) Dr. Siti Marfu’ah, M.S.Keywords: antibacterial, Acetone extract, Tamarind, sunscreenSeed is a part of a tamarind palnt (Tamaarindus indica Linn) that has no been widely compared to any other parts. Seed is very important for a plant due to its sustainability of regeneration. Palnts are basically the information sources of chemical compound. Therefore, it was assumed that there were some chemical compounds in tamarind seeds whose benefits need to be explored in depth. This research aims to (1) isolate compound of (n-hexane + ethyl acetate = 9 + 1) fraction of tamarind seeds acetone extract, (2) characterize and identify compound of (n-hexane + ethyl acetate = 9 + 1) fraction of tamarind seeds acetone extract, (3) determine the antibacterial and sunscreen activity compound of (n-hexane + ethyl acetate = 9 + 1) fraction of tamarind seeds acetone extract.The research includes four stage. The first stage is sample preparation includes collecting, drying, and making the powder. The second stage is componend isolation includes extraction, fractionation, and purification. The third stage is characterization and identification. The characterization includes form, color, melting point, solubility, unsaturation test and class of natural product compound test. The identification includes spectrofotometric UV and IR. The fourth  stage is antibacterial and sunscreen activity testing. The result of these research are the isolation process of (n-hexane + ethyl acetate = 9 + 1) fraction of tamarind seeds acetone extract using extraction, fractionation, and purification produces yellow colored solid substances with malting point 45-47oC. Soluble in  n-hexane and chloroform, a little bit soluble in ethyl acetate and not soluble in methanol and water. The interpretation of UV spectrum this substances has λmax 242.30 nm (a = 16.46 cm2.mg-1) indicate transition of ππ* conjugate,  λmax 265.80 (a = 16.36 cm2. mg-1) indicate transition ππ* benzenoid dan λmax 319.70 (a =1.6 cm2. mg-1) indicate transition ππ*. The inteprecation of IR spectrum indicated OH group, C=O group, conjugated –C=C- bond, aromatic –C=C- bond. This compound estimate to be a tanin’s group. This compound doesn’t have an sunscreen activity (SPF 1.493) and medium antibacterial activity of Escherichia coli and Staphiloccocus aureus

    Isolasi, Karakterisasi, dan Uji Aktivitas Sunscreen dan Antibakteri dari Fraksi (n-Heksana + Etil Asetat = 8 + 2) Ekstrak Metanol Biji Alpukat (Persea americana Mill)

    No full text
    ABSTRACT Handoyo, Karim. 2016. Isolasi, Karakterisasi, dan Uji Aktivitas Sunscreen dan Antibakteri dari Fraksi (n-Heksana + Etil Asetat = 8 + 2) Ekstrak Metanol Biji Alpukat (Persea americana Mill). Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Sutrisno, M. Si., (II) Laurent Octaviana, S.Pd., M.Si.Kata kunci: antibakteri, biji alpukat, ekstrak metanol, sunscreen.Biji alpukat merupakan salah satu bagian tanaman alpukat (Persea americana Mill) yang relatif belum dimanfaatkan. Sebagaimana tumbuhan pada umumnya tanaman merupakan sumber informasi untuk beragam senyawa. Penelitian sebelumnya yang sudah dilakukan terhadap biji alpukat menunjukkan bahwa biji alpukat berpotensi sebagaimana sunscreen dan antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi (salah satu) komponen dari fraksi (n-heksana + etil asetat = 8 + 2) ekstrak metanol, mengakarakterisasi serta menguji aktivitas komponen hasil isolasi sebagai sunscreen dan antibakteri.Penelitian ini dilakukan melalui 4 tahap. Tahap 1:  preparasi sampel meliputi pengumpulan, pengeringan, dan pembuatan serbuk biji alpukat. Tahap 2: isolasi komponen dalam biji alpukat meliputi ekstraksi serbuk biji alpukat, fraksinasi ekstrak metanol biji alpukat, dan pemurnian fraksi (n-heksana + etil asetat = 8 + 2) ekstrak metanol biji alpukat. Tahap 3: karakterisasi zat hasil isolasi meliputi wujud, warna, titik lebur, uji ketidakjenuhan, uji golongan senyawa, serta interpretasi spektrum UV dan IR zat hasil isolasi. Tahap 4: uji aktivitas zat hasil isolasi sebagai sunscreen dan antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Isolasi yang dilakukan secara ekstraksi, fraksinasi, dan pemurnian terhadap fraksi (n-heksana + etil asetat = 8 + 2) ekstrak metanol biji alpukat diperoleh zat padat berwarna putih. Zat ini mempunyai titik lebur 67-70 °C, larut dalam kloroform, etil asetat, dan etanol, sedikit larut dalam n-heksana, tidak larut dalam metanol dan air. Zat ini mempunyai λmaks pada 219,0 nm (absorptivitas 8,80 cm2.mg-1 dalam etanol) mengindikasikan adanya transisi ππ* dan 344,0 nm (absorptivitas 0,10 cm2.mg-1 dalam etanol) mengindikasikan adanya transisi nπ*. Hasil interpretasi spektrum IR zat ini mengindikasikan adanya gugus -OH, gugus -C=O ester, gugus -CH, dan gugus C=C. Zat hasil isolasi diduga golongan saponin. Zat ini tidak berpotensi sebagai sunscreen (SPF 0,415) dan memiliki aktivitas antibakteri yang tergolong sedang, baik terhadap Escherichia coli (diameter zona hambat sebesar 7,53 mm) maupun terhadap Staphylococcus aureus (diameter zona hambat sebesar 7,21 mm), sehingga kedepannya memiliki prospek bagi pengembangan obat tradisional

    STUDI PROSES DIGESTI BASAH MENGGUNAKAN HCl DAN HNO3 PADA ANALISIS KANDUNGAN Fe DALAM SEDIMEN SUNGAI

    No full text
    ABSTRAK   Aantarokhim, Fanantra. 2016.  Studi Proses Digesti Basah menggunakan HCl dan HNO3 pada Analisis Kandungan Fe dalam Sedimen Sungai. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Dr.Yudhi Utomo, M.Si., (II) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D.  Kata-kata kunci: Digesti Basah, Fe, SedimenSedimen merupakan hasil dari proses pelapukan, erosi, dekomposisi dan akumulasi logam berat pada suatu perairan akibat aktivitas manusia dan alam. Analisis kandungan Fe dalam sedimen dilakukan dengan mendigesti sampel menggunakan HNO3, HCl, HNO3­­-HCl dan akuaregia. Analisis setiap logam mempunyai kondisi digesti yang mempunyai keefektifan masing-masing, termasuk analisis kandungan Fe. Jadi penelitian ini bertujuan 1) mengetahui efektifitas pelarut dengan variasi konsentrasi HCl dan HNO3 pada penentuan Fe dalam sedimen sungai, 2) mengetahui pengaruh suhu pemanasan metode digesti basah pada analisis Fe dalam sedimen sungai.  Penelitian eksperimental ini dilaksanakan di laboratorium penelitian Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Tahapan dari penelitian ini sebagai berikut: 1) preparasi sampel dengan menyortir dari sampah, pengeringan dan pengayakan, 2) proses digesti dengan variasi konsentrasi HCl dan HNO3, serta suhu pemanasan, 3) pengukuran Fe menggunakan AAS.     Hasil dari penelitian ini antara lain: 1) Penentuan kadar Fe dalam sedimen memiliki keefektifan pada masing-masing pelarut HCl 5M dan HNO3 3M, 2) berdasarkan pengujian secara statistik menunjukan konsentrasi pelarut yang efektif yaitu HCl 5M. 3) Suhu pemanasan pada analisis kadar Fe dalam sedimen, menunjukan pada suhu 1300C merupakan suhu yang efektif

    Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Learning Cycle 5-E pada Materi Reaksi Redoks Untuk Siswa Kelas X SMA/MA

    No full text
    ABSTRACT Wulandari, S.P. 2015. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Learning Cycle 5-Epada Materi Reaksi Redoks Untuk Siswa Kelas X SMA/MA. Skripsi, JurusanKimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Siti Marfu’ah, M.S (II) Drs. H. Parlan,M.Si.Kata kunci: bahan ajar, learning cycle 5-E, reaksi redoksKonsep-konsep dalam Reaksi Redoks merupakan konsep abstrak yanghanya dapat dipahami dengan baik oleh siswa yang telah mengembangkankemampuan berpikir formal. Kemampuan berpikir formal seharusnya sudahdimiliki oleh siswa SMA. Namun, laporan penelitian menunjukkan bahwa masihbanyak siswa yang belum mengembangkan kemampuan tersebut. Akibatnya,banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi kimia,khususnya Reaksi Redoks. Proses pembelajaran konsep Reaksi Redoks haruslahberpusat pada siswa, membuat siswa aktif dalam mengkonstruk konsep-konsepdan membantu perkembangan kemampuan berpikir formal siswa. Pembelajaranyang memenuhi kriteria tersebut adalah model pembelajaran Learning Cycle 5-Edengan bahan ajar dalam bentuk buku guru dan buku siswa. Bahan ajar yangdigunakan harus berdasarkan sintaks dari model pembelajaran tersebut. Namun,hasil analisis terhadap beberapa bahan ajar Reaksi Redoks yang selama inidigunakan di sekolah menunjukkan bahwa bahan ajar yang digunakan tidak cocokuntuk pembelajaran dengan model pembelajaran Learning Cycle 5-E. Tujuan daripenelitian ini adalah mengembangkan bahan ajar berbasis Learning Cycle 5-Epada materi Reaksi Redoks, serta mengetahui kelayakan bahan ajar tersebut.Pengembangan bahan ajar mengadopsi model pengembangan 4D (4DModel)yang dikembangkan oleh Thiagarajan, dkk (1974). Tahapan yangdilakukan adalah (1) membatasi (to define), (2) merancang (to design), (3)mengembangkan (to develope), dan (4) menyebarluaskan (to disseminate). Padapenelitian ini hanya sampai pada tahap ketiga yaitu mengembangkan (todevelope). Kelayakan bahan ajar ditentukan melalui kelayakan isi, bahasa, danpenyajian dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan berdasarkaninstrumen penilaian bahan ajar yang ditetapkan oleh Badan Standar NasionalPendidikan (BSNP). Instrumen tersebut berupa angket penilaian menggunakanskala Likert empat tingkat, disertai dengan lembar komentar dan saran. Penilaiankelayakan bahan ajar dilakukan oleh validator ahli yang terdiri dari satu orangdosen kimia FMIPA UM dan dua orang guru kimia SMA. Untuk mengetahuikelayakan bahan ajar hasil pengembangan dilakukan uji coba terbatas kepada 10orang siswa kelas X SMAN 10 Malang. Data hasil uji kelayakan berupa datakualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif terdiri dari tanggapan, kritik, dansaran perbaikan dari dosen dan guru kimia terhadap bahan ajar yangdikembangkan. Data kuantitatif diperoleh dari perhitungan rata-rata hasilpenskoran yang diberikan oleh dosen dan guru kimia terhadap bahan ajar yangdikembangkan. Bahan ajar hasil pengembangan dilakukan uji coba terbatasterhadap 10 orang siswa kelas X SMAN 10 Malang, serta tidak dilakukan ujiefektivitas.Produk pengembangan yang dihasilkan berupa bahan ajar denganmenggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5-E pada materi ReaksiRedoks. Bahan ajar Reaksi Redoks hasil pengembangan terdiri dari bagianpendahuluan, isi, dan penutup. Penilaian dosen kimia dan guru kimia SMAterhadap kelayakan buku siswa dan buku guru, serta hasil uji keterbacaan bahanajar terhadap siswa secara berurutan adalah 92,5, 91, dan 97,5%. Berdasarkan datatersebut bahan ajar Reaksi Redoks yang dikembangkan dapat dianggap layakuntuk digunakan dalam pembelajaran kimia pada materi Reaksi Redoks. Evaluasilebih lanjut tentang uji efektivitas bahan ajar hasil pengembangan perlu dilakukan untuk penyebaran yang lebih luas

    Pengaruh Waktu Sonikasi terhadap Karakter Nanopartikel Magnetit Berlapis Silika

    No full text
    ABSTRAK   Prabowo, Jefri Satria. 2015. Pengaruh Waktu Sonikasi terhadap Karakter Nanopartikel Magnetit Berlapis Silika. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Fauziatul Fajaroh, M.S., (II) Dr. Sumari, M.Si.   Kata Kunci: nanopartikel magnetit, sonikasi, natrium silikat, ultrasonik   Nanopartikel magnetit atau oksida besi hitam merupakan oksida besi yang paling kuat sifat kemagnetannya. Berbagai metode sintesis nanopartikel magnetit dan proses modifikasi pada permukaan nanopartikel magnetit telah dikembangkan. Metode-metode tersebut di antaranya metode elektrokimia, solgel, pirolisis, aerosol, mikroemulsi, dan sonokimia. Penelitian ini bertujuan   melapisi nanopartikel magnetit hasil sintesis secara elektrokimia dengan silika secara ex-situ dengan bantuan ultrasonik dan mengetahui pengaruh waktu sonikasi terhadap karakter partikel yang dihasilkan. Penelitian ini terdiri dari dua tahap. Tahap pertama, sintesis nanopartikel magnetit. Tahap kedua, pelapisan nanopartikel magnetit hasil sintesis menggunakan larutan natrium silikat (Na 2 SiO ) pada beberapa variasi waktu sonikasi. Proses pelapisan dilakukan dengan bantuan ultrasonik. Nanopartikel magnetit serta magnetit bersalut silika hasil sintesis dikarakterisasi dengan analisis XRD, FTIR, BET, serta SEM. Karakterisasi dengan XRD bertujuan untuk melihat perubahan kristalinitas relatif, FTIR bertujuan untuk mengidentifikasi jenis ikatan pada senyawa hasil sintesis, BET untuk menentukan luas permukaan spesifik partikel, dan SEM untuk  mendeskripsikan morfologi, distribusi ukuran partikel, dan rerata ukuran. 3 Hasil penelitian menunjukkan bahwa nanopartikel magnetit bersalut silika dapat disintesis secara ex-situ dengan bantuan ultrasonik. Dari hasil karakterisasi dengan BET, waktu sonikasi 8 menit menghasilkan nilai luas permukaan spesifik yang paling besar di antara yang lain, yakni sebesar 67,993 m 2 /g. Dari hasil karakterisasi dengan SEM dapat diketahui ukuran rata-rata partikel magnetit berlapis silika sebesar 51,53 nm. Waktu sonikasi yang digunakan berpengaruh terhadap kristalinitas dan luas permukaan spesifik partikel yang dihasilkan. Kristalinitas semakin kecil dengan semakin lamanya waktu sonikasi yang digunakan, tetapi luas permukaan spesifik  partikel semakin besar dengan semakin lamanya waktu sonikasi yang digunakan.

    Pengembangan Bahan Ajar Struktur Atom Berbasis Guided Scientific Inquiry untuk Siswa Kelas X SMA/MA Semester Gasal

    No full text
    ABSTRACT Pengembangan Bahan Ajar Struktur Atom Berbasis Guided Scientific Inquiry untuk Siswa Kelas X SMA/MA Semester GasalHikmah, Amirotul. 2016. Pengembangan Bahan Ajar Struktur Atom Berbasis Guided Scientific Inquiry untuk Siswa Kelas X SMA/MA Semester Gasal. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Muntholib, S.Pd., M.Si., (II) Oktavia Sulistina, S.Pd., M.Pd.Kata Kunci: pengembangan bahan ajar, struktur atom, guided scientific inquiry.Ilmu Kimia diakui sebagai bidang ilmu pengetahuan yang cukup sulit. Salah satu materi kimia SMA yang dianggap sulit oleh guru dan calon guru kimia dalam mengajarkannya adalah struktur atom. Materi struktur atom bersifat abstrak. Disamping itu, pembelajaran juga belum menekankan belajar bermakna bagi siswa. Upaya pemerintah untuk mengatasi situasi tersebut adalah melalui penggunaan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran Kurikulum 2013. Salah satu strategi pembelajaran yang berbasis pendekatan ilmiah adalah guided scientific inquiry. Keberhasilan suatu pembelajaran tidak hanya dipengaruhi oleh strategi pembelajaran yang digunakan guru untuk mengajar tetapi juga dipengaruhi oleh bahan ajar yang digunakan sebagai pedoman bagi guru dan sumber belajar bagi siswa. Berdasarkan hasil observasi, buku kimia yang digunakan sudah mengacu pada Kurikulum 2013, namun belum menggunakan pendekatan saintifik secara efektif karena penyajian materi dalam buku tersebut masih disajikan secara informatif, khususnya struktur atom. Oleh karena itu, perlu adanya bahan ajar yang menyajikan materi sesuai dengan pendekatan ilmiah untuk memenuhi tuntutan kurikulum 2013. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar struktur atom berbasis guided scientific inquiry untuk siswa kelas X SMA/MA semester gasal yang layak untuk digunakan.Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang mengacu pada model pengembangan 4D (4D-Model), yang terdiri dari 4 tahap pengembangan, yakni (1) define (pendefinisian), (2) design (perancangan), (3) develop (pengembangan), dan (4) disseminate (penyebarluasan). Pada penelitian pengembangan ini, tahap disseminate tidak dilakukan karena keterbatasan waktu penelitian. Bahan ajar hasil pengembangan diuji melalui validasi ahli dan uji keterbacaan. Instrumen validasi dan uji keterbacaan berupa angket dengan menggunakan skala Likert 5 tingkat yang dilengkapi dengan lembar komentar dan saran. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Dari validasi bahan ajar diperoleh skor rata-rata sebesar 85,74 dari skor maksimal 100 dengan kriteria sangat layak. Sedangkan skor rata-rata uji keterbacaan bahan ajar adalah 83,87 dengan kriteria layak. Hal ini menunjukkan bahwa bahan ajar yang telah dikembangkan layak untuk digunakan. Saran terkait pemanfaatan produk adalah penggunaan bahan ajar dalam proses pembelajaran sangat memerlukan peran dan bimbingan guru mengingat strategi yang digunakan adalah guided scientific inquiry. Saran terkait penyebarluasan produk adalah meneruskan pengembangan bahan ajar sampai tahap keempat yaitu penyebarluasan (disseminate). Saran terkait pengembangan produk lebih lanjut adalah melakukan pengembangan bahan ajar pada materi lain yang karakteristik materinya hampir sama dengan materi struktur atom

    Pengembangan Bahan Ajar Pembelajaran Kimia Materi Senyawa Karbon Turunan Alkana dengan Model Learning Cycle 5E untuk Peserta Didik Kelas XII SMA/MA

    No full text
    ABSTRACT Pengembangan Bahan Ajar Pembelajaran Kimia Materi Senyawa Karbon Turunan Alkana dengan Model Learning Cycle 5E untuk Peserta Didik Kelas XII SMA/MASaptanti, Karlina. 2016. Pengembangan Bahan Ajar Pembelajaran Kimia Materi Senyawa Karbon Turunan Alkana dengan Model Learning Cycle 5E untuk Peserta Didik Kelas XII SMA/MA. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Endang Budiasih, M.S.,(II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si.Kata Kunci : bahan ajar, Learning Cycle 5E, senyawa karbon turunan alkana.Pergeseran paradigma pembelajaran dari teacher-centered ke student-centered memerlukan bahan ajar yang sesuai. Penggunaan bahan ajar diperlukan untuk proses pembelajaran yang menitikberatkan pada keaktifan berpikir peserta didik. Salah satu model pembelajaran yang menekankan pada keaktifan peserta didik adalah Learning Cycle 5E. Penelitian difokuskan pada materi senyawa karbon turunan alkana karena materi ini merupakan langkah awal untuk mempelajari materi benzena dan turunannya, serta senyawa makromolekul dan umumnya materi ini masih dibelajarkan secara deskriptif di sekolah. Tujuan pengembangan adalah: 1) menghasilkan produk, yakni bahan ajar cetak materi senyawa karbon turunan alkana dengan model Learning Cycle 5E untuk peserta didik SMA/MA kelas XII; dan 2) mengetahui kelayakan bahan ajar materi senyawa karbon turunan alkana dengan model Learning Cycle 5E untuk peserta didik SMA/MA kelas XII.Pengembangan bahan ajar senyawa karbon turunan alkana ini mengacu pada model pengembangan 4D yang dikemukakan oleh Thiagarajan. Langkah-langkah model pengembangan 4D adalah 1) Define (pendefinisian), 2) Design (perancangan), dan 3) Develop (pengembangan) dan 4) Dissemate (pengembangan). Namun, karena keterbatasan waktu dan biaya, pengembangan hanya dilakukan sampai tahap ketiga, yaitu tahap Develop. Validasi bahan ajar dilakukan oleh 1 orang dosen Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang, dan 2 orang guru kimia SMA/MA, serta diujicobakan pada 10 peserta didik yang telah menerima materi senyawa karbon turunan alkana. Instrumen pengumpulan data berupa lembar validasi dengan rubrik penilaian menggunakan skala Likert 1-5 dan teknik analisis data menggunakan teknik persentase dengan kriteria: jika diperoleh persentase di atas 60%, maka bahan ajar layak digunakan dan jika diperoleh persentase di bawah 60%, maka bahan ajar kurang layak digunakan sehingga revisi perlu dilakukan. Hasil validasi dari segi isi diperoleh rata-rata persentase sebesar 85% dengan kriteria sangat layak, segi bahasa sebesar 88% dengan kriteria sangat layak, dan segi penyajian sebesar 89% dengan kriteria sangat layak. Hasil uji coba terbatas diperoleh rata-rata persentase pada aspek tampilan sebesar 85,33% dengan kriteria sangat layak, aspek sajian materi sebesar 83,11% dengan kriteria sangat layak, dan aspek manfaat sebesar 85,33% dengan kriteria sangat layak. Hasil validasi menunjukkan bahan ajar yang dikembangkan sangat layak untuk digunakan

    Studi Metode Digesti Menggunakan HNO3 dan HCl Pada Penentuan Mn Dalam Sedimen Sungai

    No full text
    ABSTRACT Setyaningsih, Eka. 2016. Studi Metode Digesti Menggunakan HNO3 dan HCl Pada Penentuan Mn dalam Sedimen Sungai. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Yudhi Utomo, M.Si., (II) Dr. Sc. Anugrah Ricky Wijaya, M.Sc.Kata-kata kunci: sedimen, digesti, MnBanyak limbah kegiatan manusia dibuang di sungai. Salah satu limbah mengandung Mn dihasilkan dari industri baterai, besi dan baja. Logam Mn yang ada dalam badan perairan pada kadar tertentu dapat bereaksi dengan berbagai ion dan senyawa lain seperti oksida, silikat, dan karbonat sehingga memungkinkan terjadinya proses pengendapan dan terbentuknya ion dan kompleks Mn pada sedimen. Tujuan dari penelitian adalah 1) Mengetahui pengaruh digestor dengan variasi konsentrasi HCl, HNO3 dan campuran HCl-HNO3 dalam penentuan kadar Mn dalam sedimen sungai 2) Mengetahui efektifitas digestor terbaik dibandingkan akuaregia dalam penentuan kadar Mn dalam sedimen sungai.Tahapan penelitian meliputi: preparasi sampel, proses digesti menggunakan HCl, HNO3 dan campuran HCl-HNO3 dengan variasi konsentrasi pada suhu 130oC selama 3 jam, pengujian sampel MnCl2.4H2O, perbandingan hasil proses digesti pada pelarut yang mempunyai hasil tertinggi dengan pelarut akuaregia dan penetapan kadar Mn dalam sampel dengan menggunakan SSA.  Hasil penelitian diperoleh kandungan Mn efektif dengan menggunakan pelarut HCl 6M, HNO3 3M, dan campuran HCl 6M: HNO3 3M mendigesti Mn yaitu 1,09 g/kg, 1,08 g/kg dan 0,46 g/kg, masing-masing. Pelarut HCl 6M lebih efektif dibandingkan dengan pelarut akuaregia dalam hal digestor Mn di sedimen

    Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Learning Cycle 5e terhadap Hasil Belajar dan Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas XI IPA SMAN 2 Pamekasan pada Materi Hidrolisis Garam

    No full text
    Sulimah. 2015. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E terhadap Hasil Belajar dan Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas XI IPA SMAN 2 Pamekasan pada Materi Hidrolisis Garam. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Dr. Hj. Endang Budiasih, M.S. (II)Dr. Siti Marfu’ah, M.S.Kata kunci: learning cycle 5E, hasil belajar, keterampilan proses sains, hidrolisis garamBerdasarkan observasi pembelajaran di SMAN 2 Pamekasan diperoleh fakta bahwa pembelajaran masih bersifat konvensional, dan hasil belajar siswa masih rendah selama tiga tahun terakhir, khususnya pada materi hidrolisis garam. Kondisi ini perlu diubah dengan menggunakan model pembelajaran yang menuntut siswa untuk aktif berfikir, salah satunya dengan model Learning Cycle5E. Model ini memungkinkan pula untuk melihat keterampilan proses sains siswa selama pembelajaran. Oleh karena itu tujuanpenelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui kualitas keterlaksanaan proses pembelajaran antara siswa yang dibelajarkan dengan model Learning Cycle 5E dan model konvensional, (2) untuk mengetahui perbedaan hasil belajar kognitif antara siswa yang dibelajarkan dengan model Learning Cycle 5E dan model konvensional, dan (3) untuk mengetahui hasil belajar psikomotor, afektif, serta keterampilan proses sains siswa antara siswa yang dibelajarkan dengan model Learning Cycle 5E dan model konvensional.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian quasi experimental dengan desain posttest only control group design. Desain penelitian ini menggunakan dua kelas yaitu XI IPA 2 sebagai kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5Edan XI IPA 1 sebagai kelas kontrol dengan menggunakan model pembelajaran Konvensional. Untuk menganalisis data dalam penelitian ini digunakan analisis deskriptif dan uji beda. Analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan kualitas keterlaksanaan proses pembelajaran, keterampilan proses sains, afektif, dan psikomotor, sedangkan uji beda digunakan untuk mengukur hasil belajar kognitif yang meliputi uji normalitas, uji homogenitas, uji kesamaan rata-rata, dan uji hipotesis.Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) kualitas Keterlaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan model Learning Cycle 5E adalah 95,93% dengan kriteria sangat baik, dan dengan menggunakan model konvensional adalah 93,28% dengan kriteria sangat baik. (2) Terdapat  perbedaan hasil belajar kognitif antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle 5E (89,14) dengan siswa yang dibelajarkan dengan model konvensional (83,50). (3) Hasil belajar psikomotor siswa pada kelas eksperimen (85,60) lebih tinggi daripada hasil belajar psikomotor siswa pada kelas kontrol (80,00).(4) Hasil belajar afektif  siswa kelas eksperimen (91,46) lebih tinggi daripada hasil belajar afektif  siswa  pada kelas kontrol  (87,88). (5) Keterampilan proses sains siswa kelas eksperimen (85,60) lebih tinggi daripada keterampilan proses sains siswa pada kelas kontrol(80,50). Dapat disimpulkan bahwa penerapan model Learning Cycle 5E lebih baik daripada model konvensional pada materi hidrolisis garam di SMAN 2 Pamekasan.

    Identifikasi Miskonsepsi Siswa Kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Pasuruan pada Topik Konservasi Materi Menggunakan Tes Diagnostik Pilihan Ganda Dua Tingkat

    No full text
    ABSTRACT Identifikasi Miskonsepsi Siswa Kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Pasuruan pada Topik Konservasi Materi Menggunakan Tes Diagnostik Pilihan Ganda Dua TingkatSakina, Ade. 2016. Identifikasi Miskonsepsi Siswa Kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Pasuruan pada Topik Konservasi Materi Menggunakan Tes Diagnostik Pilihan Ganda Dua Tingkat. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Prayitno, M. Pd. (II) Dr. Sc. Anugrah Ricky Wijaya, M. Sc.Kata Kunci: miskonsepsi, konservasi materi, tes diagnostik pilihan ganda dua tingkatIlmu kimia bersifat abstrak dan membutuhkan kemampuan mengaitkan aspek makroskopis, submikroskopis, dan simbolis dalam mempelajarinya. Karakteristik kimia tersebut menyebabkan siswa mengalami kesulitan dan bahkan miskonsepsi. Miskonsepsi yang ditemukan Özmen dan Ayas (2003) di Turki menunjukkan bahwa massa zat hasil reaksi yang berupa endapan lebih besar daripada massa zat sebelum reaksi yang berupa cairan. Lebih lanjut Stavy (1990) di Israel menemukan miskonsepsi bahwa massa materi berwujud padat lebih besar daripada berwujud cair ataupun gas. Hasil observasi singkat peneliti di dua SMA Negeri Kabupaten Pasuruan menunjukkan sebanyak 61% siswa menganggap massa zat hasil reaksi yang berupa endapan lebih besar daripada massa zat sebelum reaksi yang berupa cairan. Hasil temuan tersebut menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari konservasi materi. Dari uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang bertujuan untuk: (1) Menemukan miskonsepsi siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Pasuruan pada topik konservasi materi yang melibatkan reaksi kimia dalam sistem tertutup dan terbuka; (2) Menemukan miskonsepsi siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Pasuruan dalam memecahkan soal tipe partikulat pada topik konservasi materi; dan (3) Menemukan miskonsepsi siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Pasuruan pada topik konservasi materi yang melibatkan perubahan wujud zat dalam sistem tertutup dan terbuka.Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan kepada 240 siswa kelas XI di enam SMA Negeri Kabupaten Pasuruan tahun ajaran 2015/2016. Instrumen penelitian yang digunakan berupa tes diagnostik pilihan ganda dua tingkat dengan reliabilitas sebesar 0,75. Hasil penelitian diperoleh sebanyak 26 macam miskonsepsi siswa tentang konservasi materi. Miskonsepsi dengan persentase terbesar

    0

    full texts

    1,785

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇