SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Identifikasi Kemampuan Menyelesaikan Soal Konseptual dan Algoritmik Termokimia serta Kesalahan yang Dialami Siswa SMAN 6 Malang
ABSTRACT Tjandra, Henny Martien. 2010. Identifikasi Kemampuan Menyelesaikan Soal Konseptual Dan Algoritmik Termokimia serta Kesalahan Yang Dialami Siswa SMAN 6 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Ida Bagus Suryadharma, M.S., (II) Dra. Hayuni Retno Widarti, M.Si.Kata kunci: Kemampuan, soal konseptual, soal algoritmik, termokimia.Termokimia adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara panas dan reaksi kimia, atau studi mengenai jumlah panas (kalor) yang diserap atau dilepaskan dari suatu reaksi kimia. Termokimia merupakan salah satu materi kimia SMA yang memerlukan penyelesaian secara konseptual dan algorimik. Penyelesaian secara konseptual digunakan untuk menjawab soal kimia bersifat abstrak sedangkan algoritmik untuk menyelesaikan soal kimia yang memerluka keahlian matematik. Secara konseptual adalah soal yang berdasarkan pada teks atau diagram dan menghendaki siswa untuk memberikan penjelasan tentang konsep yang mendasar atas suatu teori ilmu pengetahuan. Soal algoritmik adalah soal yang memerlukan seperangkat prosedur dalam penyelesaiannya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui presentase kemapuan siswa dengan kategori benar konseptual benar algoritmik (BKBA) yaitu siswa yang mampu menyelesaikan soal-soal termokimia secara konseptual dan algoritmik dengan benar, benar konseptual salah algoritmik (BKSA) yaitu siswa yang mampu menyelesaikan soal-soal termokimia secara konseptual benar namun secara algoritmik salah, salah konseptual benar algoritmik (SKSA) yaitu siswa tidak mampu menyelesaikan soal termokimia secara konseptual dan algoritmik dengan benar, serta presentase kesalahan yang dialami siswa pada tiap sub topik termokimia secara konseptual dan algoritmik. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif tanpa memberikan perlakuan apapun dan tanpa menggeneralisasi hasil penelitian. Pengambilan data penelitian dilakukan di SMAN 6 Malang pada tanggal 12 April sampai 17 April 2010 dengan populasi kelas XI IPA. Sampel diambil secara acak sehingga didapatkan kelas XI IPA 2 dan XI IPA 3 sebagai kelas sampel dengan jumlah 53 siswa. Instrumen berupa seperangkat soal tes termokimia yang berjumlah 14 soal konseptual dan 14 soal algoritmik. Hasil validasi isi instrumen oleh pihak ahli sebesar 89.3% dan realibilitas instrument dihitung dengan rumus korelasi product moment didapatkan hasil sebesar 0.73. Teknik analisis data dihitung dengan perhitungan presentase. Hasil penelitian menunjukkan presentase kemampuan siswa sebesar 38.55% kategori BKBA; 20.49% BKSA; 19.94% SKBA; dan 21.02% SKSA. Presentase kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal termokimia secara konseptual dan algoritmik berturut-turut pada subtopic entalpik pembentukan standar sebesar 43.3% dan 18.8% entalpi pembakaran standar sebanyak 30.2% dan 15% entalpi penguraian standar adalah 33.9% dan 9.4%, penentuan kalor reaksi secara kalorimetris yaitu 52.8% dan 62.3% penentuan ∆H reaksi berdasarkan data ∆Hf0 adalah 39.6% dan 50.9% penentuan ∆H reaksi berdasarkan data energi ikatan sebanyak 35.8% dan 61.1% serta hukum Hess sebesar 49% dan 69.8%
Pengembangan Bahan Ajar Pembelajaran Kimia Materi Senyawa Karbon Turunan Alkana dengan Model Learning Cycle 5E untuk Peserta Didik Kelas XII SMA/MA
ABSTRACT Saptanti, Karlina. 2016. Pengembangan Bahan Ajar Pembelajaran Kimia Materi Senyawa Karbon Turunan Alkana dengan Model Learning Cycle 5E untuk Peserta Didik Kelas XII SMA/MA. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Endang Budiasih, M.S., (II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si.Kata Kunci : bahan ajar, Learning Cycle 5E, senyawa karbon turunan alkana.Pergeseran paradigma pembelajaran dari teacher-centered ke student-centered memerlukan bahan ajar yang sesuai. Penggunaan bahan ajar diperlukan untuk proses pembelajaran yang menitikberatkan pada keaktifan berpikir peserta didik. Salah satu model pembelajaran yang menekankan pada keaktifan peserta didik adalah Learning Cycle 5E. Penelitian difokuskan pada materi senyawa karbon turunan alkana karena materi ini merupakan langkah awal untuk mempelajari materi benzena dan turunannya, serta senyawa makromolekul dan umumnya materi ini masih dibelajarkan secara deskriptif di sekolah. Tujuan pengembangan adalah: 1) menghasilkan produk, yakni bahan ajar cetak materi senyawa karbon turunan alkana dengan model Learning Cycle 5E untuk peserta didik SMA/MA kelas XII; dan 2) mengetahui kelayakan bahan ajar materi senyawa karbon turunan alkana dengan model Learning Cycle 5E untuk peserta didik SMA/MA kelas XII.Pengembangan bahan ajar senyawa karbon turunan alkana ini mengacu pada model pengembangan 4D yang dikemukakan oleh Thiagarajan. Langkah-langkah model pengembangan 4D adalah 1) Define (pendefinisian), 2) Design (perancangan), dan 3) Develop (pengembangan) dan 4) Dissemate (pengembangan). Namun, karena keterbatasan waktu dan biaya, pengembangan hanya dilakukan sampai tahap ketiga, yaitu tahap Develop. Validasi bahan ajar dilakukan oleh 1 orang dosen Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang, dan 2 orang guru kimia SMA/MA, serta diujicobakan pada 10 peserta didik yang telah menerima materi senyawa karbon turunan alkana. Instrumen pengumpulan data berupa lembar validasi dengan rubrik penilaian menggunakan skala Likert 1-5 dan teknik analisis data menggunakan teknik persentase dengan kriteria: jika diperoleh persentase di atas 60%, maka bahan ajar layak digunakan dan jika diperoleh persentase di bawah 60%, maka bahan ajar kurang layak digunakan sehingga revisi perlu dilakukan. Hasil validasi dari segi isi diperoleh rata-rata persentase sebesar 85% dengan kriteria sangat layak, segi bahasa sebesar 88% dengan kriteria sangat layak, dan segi penyajian sebesar 89% dengan kriteria sangat layak. Hasil uji coba terbatas diperoleh rata-rata persentase pada aspek tampilan sebesar 85,33% dengan kriteria sangat layak, aspek sajian materi sebesar 83,11% dengan kriteria sangat layak, dan aspek manfaat sebesar 85,33% dengan kriteria sangat layak. Hasil validasi menunjukkan bahan ajar yang dikembangkan sangat layak untuk digunakan
Identifikasi Miskonsepsi Siswa Kelas XI SMA Negeri Di Kabupaten Blitar Pada Materi Kesetimbangan Kimia Menggunakan Tes Diagnostik Pilihan Ganda Dua Tingkat
ABSTRACT Arum Sari, Citra. 2016. Identifikasi Miskonsepsi Siswa Kelas XI SMA Negeri Di Kabupaten Blitar Pada Materi Kesetimbangan Kimia Menggunakan Tes Diagnostik Pilihan Ganda Dua Tingkat. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs, Prayitno, M.Pd, (II) Dr, Fauziatul Fajaroh, M.S.Kata Kunci: miskonsepsi, kesetimbangan kimia, instrumen diagnostik two-tierIlmu kimia merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam yang memiliki karakteristik bersifat abstrak dan kompleks, sehingga menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep kimia. Beberapa siswa bahkan guru mengalami kesulitan dalam menghubungkan ketiga representasi yang menggambarkan konsep kimia yaitu, representasi makroskopik, mikroskopik dan simbolik. Kesulitan-kesulitan dalam memahami konsep kimia mengakibatkan siswa memiliki pemahaman yang berbeda dengan sudut pandang ilmiah atau disebut miskonsepsi. Salah satu materi kimia yang dianggap sukar oleh siswa adalah materi kesetimbangan kimia. Beberapa penelitian mengenai miskonsepsi pada materi kesetimbangan kimia yaitu Al-Balushi (2003, Ozmen (2008), Sendur (2010) dan Akkus (2011). Hasil dari beberapa penelitian tersebut menunjukan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi kesetimbangan kimia. Salah satu instrumen yang efektif untuk mengidentifikasi miskonsepsi pada siswa adalah instrumen diagnostik pilihan ganda dua tingkat. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) jenis konsep pada materi kesetimbangan kimia yang mengalami miskonsepsi dan 2) persentase siswa yang mengalami miskonsepsi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian diskriptif, dengan populasi penelitiannya adalah seluruh siswa kelas XI di enam SMA Negeri di Kabupaten Blitar. Teknik sampling kelas yang digunakan adalah Cluster random sampling dengan jumlah sampel 210 siswa. Instrumen soal yang digunakan berjumlah 30 butir soal dengan 3 alternatif jawaban disertai 4 alasan, yang memiliki nilai reliabilitas sebesar 0,78. Ada 2 Langkah yang dilakukan oleh peneliti dalam melakukan penelitian ini yaitu 1) penysunan instrumen diagnostik pilihan ganda dua tingkat dan 2) penggunaan instrumen untuk menentukan jenis dan jumlah miskonsepsi. Hasil tes diagnostik dan wawancara dianalisis secara deskriptif. Selain itu miskonsepsi ditentukan dari kekonsistenan jawaban salah siswa pada soal sejenis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari enam subtopik materi kesetimbangan ditemukan miskonsepsi diantaranya: 1) laju reaksi ke kanan lebih besar dari pada laju reaksi ke kiri pada saat setimbang (25% dari siswa), 2) tetapan kesetimbangan merupakan hasil bagi konsentrasi produk dan reaktan berlaku untuk semua fasa kesetimbangan (20% dari siswa), 3) pada suhu konstan perubahan konsentrasi mempengaruhi konstanta kesetimbangan (35% dari siswa), 4) penambahan katalis menyebabkan laju ke kanan lebih cepat daripada laju reaksi ke kiri (45% dari siswa)
Isolasi, Identifikasi, dan Uji Bioaktivitas Metabolit Sekunder dari Fraksi n-Heksana Ekstrak Metanol Batang Tapak Dara (Catharanthus roseus (L.) G. Don.) Terhadap Bakteri Escherichia coli
ABSTRACT Ummah, Khozzidatul. 2016. Isolasi, Identifikasi, dan Uji Bioaktivitas Metabolit Sekunder dari Fraksi n-Heksana Ekstrak Metanol Batang Tapak Dara (Catharanthus roseus (L.) G. Don.) Terhadap Bakteri Escherichia coli. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Laurent Octaviana, S.Pd., M.Si. (II) Drs. Dermawan Afandy, M.Pd.Kata kunci: antibakteri, batang tapak dara, Escherichia coli, fraksi n-heksana, isolasi. Salah satu jenis penyakit yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Bakteri patogen dapat dibunuh atau dihambat pertumbuhannya oleh senyawa-senyawa antibakteri yang banyak ditemukan sebagai metabolit sekunder pada tanaman. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai sumber antibakteri alami ialah tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G. Don.). Tapak dara merupakan salah satu tanaman herbal tradisional yang dapat tumbuh subur di Indonesia. Tanaman ini memiliki potensi antibakteri pada setiap bagiannya. Namun pada batang tapak dara masih belum diketahui komponen yang memiliki aktivitas antibakteri tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengisolasi senyawa murni dari ekstrak metanol batang tapak dara dalam fraksi n-heksana; (2) mengetahui besarnya aktivitas antibakteri dari isolat murni fraksi n-heksana ekstrak metanol batang tapak dara terhadap Escherichia coli; dan (3) mengidentifikasi golongan metabolit sekunder dari isolat murni fraksi n-heksana ekstrak metanol yang memiliki bioaktivitas antibakteri.Penelitian ini dilakukan melalui 4 tahap, yaitu (1) preparasi sampel batang tapak dara, (2) ekstraksi, fraksinasi, dan pemurnian, (3) uji aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli, dan (4) identifikasi senyawa aktif antibakteri. Ekstraksi sampel dilakukan dengan cara maserasi menggunakan metanol. Fraksinasi cair-cair terhadap ekstrak metanol dilakukan menggunakan pelarut n-heksana. Pemurnian komponen dilakukan dengan metode kromatografi kolom gravitasi. Uji bioaktivitas terhadap Escherichia coli dilakukan dengan metode difusi cakram, sedangkan identifikasi senyawa murni dilakukan dengan analisis spektrum FTIR.Hasil dari penelitian ini ialah (1) senyawa murni Z-1 dari fraksi n-heksana ekstrak metanol batang tapak dara dapat diisolasi melalui fraksinasi cair-cair yang selanjutnya dimurnikan dengan kromatografi kolom gravitasi menggunakan eluen n-heksana:kloroform 9,5:0,5; (2) senyawa murni Z-1 memiliki aktifitas antibakteri terhadap Escherichia coli dengan diameter zona hambat rata-rata sebesar 11,45 mm yang tergolong antibakteri kuat dan sebanding dengan kloramfenikol, yang menunjukkan bahwa senyawa Z-1 berpotensi untuk dikembangkan sebagai antibakteri alami, dan (3) berdasarkan spektrum FTIR, senyawa Z-1 mengandung gugus hidroksil (-OH), gugus karbonil (-C=O), dan gugus -C=C- aromatik dan diduga termasuk golongan senyawa fenolik.ABSTRACT Ummah, Khozzidatul. 2016. Isolation, Identification, and Antibacterial Activity of a Secondary Metabolite from n-Hexane Fraction of the Methanol Extract of the Tapak Dara (Catharanthus roseus (L.) G. Don.) Stems Against Escherichia coli. Undergraduate Thesis, Faculty of Mathematics and Sciences, State University of Malang. Supervisor: (I) Laurent Octaviana, S.Pd., M.Si., (II). Drs. Dermawan Afandy, M.PdKata kunci: antibacterial, tapak dara stems, Escherichia coli, n-hexane fraction, isolation. The human’s life can not be separated from disease, one of which is infectious caused by bacteria. The growth of pathogenic bacteria can be inhibited by antibacterial compounds which are found as secondary metabolites in plants. One of plants that are highly potent as a source of natural antibacterial is tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G. Don.). Tapak dara or vinca rosea is one of the traditional herbal plants grow in Indonesia. All parts of this plant has antibacterial activity, but it is not isolated yet pure compounds having antibacterial activity on its stems. This research aims to (1) isolate the pure compound from n-hexane fraction of the methanol extract of the tapak dara stem, (2) evaluate the antibacterial activity of the pure compound from n-hexane fraction of the methanol extract of the tapak dara stem against Escherichia coli, and (3) identify the chemical characteristics of the antibacterial compound from n-hexane fraction of the methanol extract.This research were conducted by 4 stages, namely (1) sample preparation, (2) extraction, fractionation, and purification of a pure secondary metabolite, (3) the antibacterial assay of the pure isolate against Escherichia coli, and (4) identification of the antibacterial active compound. The isolation performed by maceration using methanol, followed by liquids fractination to give the n-hexane fraction. The next step was purification by gravity column chromatography yielded a pure compound, namely Z-1. The antibacterial activity assay of the Z-1 against Escherichia coli was performed by the disc diffusion method, while the identification of the Z-1 compound was analyzed by FTIR spectra. The result of this research are (1) the pure compound, namely Z-1 from n-hexane fraction of the methanol extract of tapak dara stem was isolated by liquid fractionations followed by the gravity column chromatography using n-hexane:chloroform 9,5:0,5; (2) the Z-1 compound has high antibacterial activity against Escherichia coli with the average zone of inhibition is 11,45 mm that comparable with the chloramphenicol, it showed that Z-1 is highly potent to be developed as a nature antibacterial agent, and (3) based on FTIR spectrum, compound Z-1 contains hydroxyl groups (-OH), carbonyl group (-C = O), and aromatic -C = C-. It indicated that the compound is phenolic
Pengaruh Jenis Inokulum Terhadap Sifat Organoleptik, Sifat Kimia, Dan Aktivitas Antioksidan Tempe Kacang Komak (Lablab Purpureus (L.) Sweet)
ABSTRACT Shovia, Nur. 2016. Pengaruh Jenis Inokulum Terhadap Sifat Organoleptik, Sifat Kimia, Dan Aktivitas Antioksidan Tempe Kacang Komak (Lablab Purpureus (L.) Sweet). Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dra. Mazarina Devi, M.Si, (II) Dr. Ir. Soenar Soekopitojo, M. Si. Kata Kunci: Kacang komak, tempe, inokulum, sifat kimia, aktivitas antioksidan.Kacang komak merupakan salah satu jenis kacang-kacangan yang potensial untuk dikembangkan menjadi produk pangan fungsional. Tempe merupakan salah satu pangan fungsional yang banyak dikonsumsi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis inokulum terhadap sifat organoleptik yaitu uji hedonik (warna, aroma, tekstur tempe kacang komak segar),dan uji hedonik (warna, aroma, rasa, dan tekstur tempe kacang komak yang telah digoreng), sifat kimia (protein dan serat kasar), serta aktivitas antioksidan tempe kacang komak.Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga jenis perlakuan yaitu inokulum pasar, inokulum usar, dan inokulum LIPI dengan dua kali pengulangan. Data dianalisis menggunakan ANOVA (Analysisof Variance). Jika terdapat perbedaan antar perlakuan, maka dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesukaan warna, aroma, dan tekstur tempe kacang komak segar diperoleh dari inokulum pasar. Tingkat kesukaan warna, aroma, rasa, dan tekstur tempe kacang komak yang telah digoreng tertinggi diperoleh dari inokulum pasar. Kandungan protein tertinggi diperoleh dari tempe kacang komak dengan inokulum LIPI. Kandungan serat kasar tertinggi diperoleh dari tempe kacang komak dengan inokulum pasar. Aktivitas antioksidan tertinggi diperoleh dari tempe kacang komak dengan inokulum pasar. Berdasarkan hasil penelitian, rekomendasi produk tempe kacang komak terbaik diperoleh dari tempe kacang komak dengan inokulum pasar
Metode Titrimetri untuk Penentuan Kadar EDTA Melalui Pembentukan Senyawa Kompleks H2CoEDTA dan H2CuEDTA
ABSTRACT Melalui Pembentukan Senyawa Kompleks H2CoEDTA dan H2CuEDTA. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dr. Irma Kartika Kusumaningrum, M.Si., (II) Dr. H. Yudhi Utomo, M.Si.Kata-kunci: EDTA, kompleksometri, titrimetri, recovery. Etilenadiaminatetraasetat (EDTA) merupakan salah satu senyawa aditif pada bahan pangan. EDTA ditambahkan pada bahan pangan dalam bentuk Na2H2EDTA dan NaFeEDTA. Dengan tujuan untuk menentukan secara akurat batas konsentrasi EDTA yang direkomendasikan oleh FDA dan BPOM. Penelitian ini diarahkan untuk menganalisis metode penentuan kadar EDTA pada sampel Na2H2EDTA, NaFeEDTA dan campuran keduanya secara titrimetri melalui pembentukan senyawa kompleks H2CoEDTA dan H2CuEDTA. Penentuan kadar EDTA dilakukan dalam empat tahap,(1) penentuan kadar EDTA dalam Na2H2EDTA, (2) penentuan kadar EDTA dalam NaFeEDTA, (3) penentuan kadar EDTA total secara titrimetri dalam campuran Na2H2EDTA dan NaFeEDTA melalui pembentukan senyawa kompleks H2CoEDTA dan H2CuEDTA, (4) perhitungan persentase recovery penentuan kadar EDTA melalui pembentukan senyawa kompleks H2CoEDTA dan H2CuEDTA. Dari hasil penelitian, persentase recovery penentuan kadar EDTA secara titrimetri melalui pembentukan kompleks H2CoEDTA dan H2CuEDTA secara berturut-turut adalah sebagai berikut, (1) penentuan kadar EDTA dalam Na2H2EDTA pada konsentrasi 400 ppm melalui pembentukan senyawa kompleks H2CoEDTA adalah 91,5%, dan melalui pembentukan kompleks H2CuEDTA adalah 81,6%, (2) penentuan kadar EDTA dalam NaFeEDTA pada konsentrasi 400 ppm melalui pembentukan senyawa kompleks H2CoEDTA adalah 89,1% dan melalui pembentukan kompleks H2CuEDTA adalah 79,6%, (3) penentuan kadar EDTA dalam campuran Na2H2EDTA dan NaFeEDTA pada perbandingan 400:400 melalui pembentukan senyawa kompleks H2CoEDTA adalah 91,0%, sedangkan melalui pembentukan kompleks H2CuEDTA adalah 81,1%
Pengembangan Bahan Ajar Materi Kelarutan dan Hasil kali Kelarutan Menggunakan Pendekatan Saintifik untuk Siswa SMA Kelas XI semester 2
ABSTRAK Choiriyah, Zulfa Anifatul. 2016. Pengembangan Bahan Ajar Materi Kelarutan dan Hasil kali Kelarutan Menggunakan Pendekatan Saintifik untuk Siswa SMA Kelas XI semester 2. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Endang Budiasih, M.S., (2) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd.,M.Si. Kata kunci: bahan ajar, kelarutan dan hasil kali kelarutan, pendekatan saintifik Pembelajaran kimia pada umumnya masih bersifat konvensional. Pengetahuan hanya dipindahkan begitu saja dari guru ke siswa atau pembelajaran lebih mengarah pada guru (teacher centered).Proses pembelajaran kimia sebaiknya dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang mengarah pada proses penemuan konsep, tidak hanya fokus pada perolehan hasil.Pendekatan yang sesuai adalah pendekatan saintifik. Salah satu materi yang diajarkan pada siswa SMA kelas XI semester 2 adalah kelarutan dan hasil kali kelarutan. Materi tersebut bersifat abstrak, melibatkan perhitungan matematis, dan penggunaan rumus bervariasi.Tingkat pemahaman siswa terhadap materi tersebut tergolong rendah, sehingga perlu adanya peningkatan kualitas penyajian materi. Salah satunya adalah dengan pengadaan bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik pendekatan saintifik dalam kurikulum 2013.Beberapa buku kimia yang telah mencantumkan logo kurikulum 2013 belum sepenuhnya sesuai dengan kurikulum 2013. Materi disajikan secara naratif dan belum menuntunsiswa untuk mengkonstruksi konsep secara mandiri. Oleh karena itu, penelitian pengembangan inibertujuan untuk mengembangkan dan mengetahui tingkat kelayakan bahan ajar materi kelarutan dan hasil kali kelarutan menggunakan pendekatan saintifik untuk siswa SMA kelas XI semester 2. Model penelitian dan pengembangan yang digunakan dalam bahan ajar diadaptasi dari model pengembangan four-D yang dikembangkan oleh Thiagarajan, Semmel and Semmel (1974). Model pengembangan four-D terdiri atas 4 tahapan pengembangan yaitu (1) mendefinisikan (define), (2) merancang (design), (3) mengembangkan (develop), (4) menyebarluaskan (disseminate). Pada pengembangan ini hanya dilakukan sampai tahap ketiga karena adanya keterbatasan waktu dan biaya. Penilaian bahan ajar dilakukan melalui uji validasi oleh satu dosen kimia dan dua guru kimia SMA. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif berdasarkan angket penilaian dan data kualitatif melalui komentar atau saran dari validator. Penilaian meliputi tiga aspek yaitu kelayakan isi, tata letak dan bahasa yang digunakan. Produk yang dihasilkan berupa bahan ajar materi kelarutan dan hasil kali kelarutan menggunakan pendekatan saintifik. Bahan ajar hasil pengembangan terdiri dari 6 kegiatan belajar dan mempunyai tahapan mengamati, menanya, mengumpulkan data, mengasosiasi, dan mengkomunikaskan. Berdasarkan hasil validasi bahan ajar diperoleh persentase sebesar 91,05% dengan kriteria “sangat layak” sedangkan dari uji keterbacaan oleh siswa diperoleh persentase 92,64% dengan kriteria “sangat layak”. Dengan demikian, bahan ajar ini memenuhi kriteria sangat layak digunakan sebagai bahan ajar
Pengembangan Metode Penentuan Kandungan EDTA Secara Titrimetri Melalui Pembentukan Senyawa Kompleks H2CoEDTA dan Kompleks H2NiEDTA
ABSTRACT Pengembangan Metode Penentuan Kandungan EDTA Secara Titrimetri Melalui Pembentukan Senyawa Kompleks H2CoEDTA dan Kompleks H2NiEDTANurul Eky Meyana*, Irma Kartika Kusumaningrum, Munzil AriefProgram Studi Kimia Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang*email: [email protected] (EDTA) merupakan salah satu bahan tambahan pangan yang berfungsi sebagai sekuestran. Menurut BPOM RI No 18 Tahun 2013, batas maksimum penggunaan sekuestran sebesar 33-1000 mg/kg berat badan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan metode penentuan kandungan EDTA dalam sampel Na2H2EDTA, NaFeEDTA, larutan campuran Na2H2EDTA dan NaFeEDTA secara titrimetri melalui pembentukan senyawa kompleks H2CoEDTA dan H2NiEDTA. Penentuan kandungan EDTA dilakukan dalam 4 tahap, yaitu (1) penentuan kandungan EDTA sebagai Na2H2EDTA dengan metode titrimetri; (2) dekomposisi larutan NaFeEDTA dan larutan campuran Na2H2EDTA dan NaFeEDTA; (3) penentuan kandungan EDTA sebagai NaFeEDTA serta campuran Na2H2EDTA dan NaFeEDTA dengan metode titrimetri; (4) perhitungan persen recovery penentuan kandungan EDTA pada sampel. Berdasarkan penelitian, metode penentuan kandungan EDTA secara titrimetri menunjukkan akurasi optimum penentuan kandungan EDTA melalui pembentukan senyawa kompleks H2CoEDTA dan kompleks H2NiEDTA tercapai pada konsentrasi EDTA dalam sampel sebesar 400 ppm. Persen recovery penentuan kandungan EDTA yang diperoleh adalah sebagai berikut: (a) persen recovery penentuan kadar EDTA sebagai Na2H2EDTA melalui pembentukan kompleks H2CoEDTA adalah 91,5% dan melalui pembentukan senyawa kompleks H2NiEDTA 90,8%; (b) persen recovery penentuan kadar EDTA sebagai NaFeEDTA melalui pembentukan senyawa kompleks H2CoEDTA adalah 88,5% dan melalui pembentukan senyawa kompleks H2NiEDTA 86,5%; (c) persen recovery penentuan kadar EDTA sebagai campuran Na2H2EDTA dan NaFeEDTA melalui pembentukan senyawa kompleks H2CoEDTA adalah 91,4% dan melalui pembentukan senyawa kompleks H2NiEDTA 90,8%
Pengaruh Pendekatan Scientific-Chemoentrepreneurship (Saintifik-CEP) pada Pokok Bahasan Hidrokarbon terhadap Minat Berwirausaha, Motivasi, dan Hasil Belajar Kognitif.
ABSTRACT Mentari, Norma Wahyu Tri. 2016. Pengaruh Pendekatan Scientific-Chemoentrepreneurship (Saintifik-CEP) pada Pokok Bahasan Hidrokarbon terhadap Minat Berwirausaha, Motivasi, dan Hasil Belajar Kognitif. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Ridwan Joharmawan, M.Si. (2) Eli Hendrik Sanjaya, S.Si, M.Si.Kata kunci:. hidrokarbon, saintifik, chemoentrepreneurshipMengembangkan jiwa kewirausahaan melalui dunia pendidikan sangat penting karena pendidikan adalah agen perubahan yang diharapkan dapat menanamkan karakter maupun semangat berwirausaha. Materi hidrokarbon memiliki konsep-konsep abstrak yang harus dipahami siswa, namun pembelajaran yang umum dilakukan masih konvesional sehingga siswa sulit memahami materi. Disisi lain, penerapan kontekstual dari materi hidrokarbon banyak dijumpai dalam berbagai produk. Pendekatan saintifik-CEP merupakan pendekatan yang dapat digunakan untuk memperoleh pemahaman materi sekaligus keterampilan berwirausaha pada siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendekatan saintifik-CEP terhadap minat berwirausaha, motivasi dan hasil belajar kognitif siswa.Rancangan penelitian yang digunakan adalah Posttest Only Control Group Design. Populasi pada penelitian ini adalah delapan kelas program keahlian teknologi dan rekayasa SMKN 6 Malang. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster random sampling. Kelas yang digunakan untuk sampel adalah kelas XI OTO2 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI MP1 sebagai kelas kontrol. Instrumen pengukuran hasil perlakuan terdiri atas lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, soal posttest, angket minat berwirausaha, dan angket motivasi belajar. Sebelum digunakan soal posttest, angket minat berwirausaha, dan angket motivasi belajar dihitung validitas dan reliabilitasnya. Data keterlaksanaan pembelajaran dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Sedangkan data minat berwirausaha, motivasi belajar dan hasil belajar kognitif siswa diuji hipotesis dengan uji Independent Sample t-Test dan dihitung besar kontribusi relatifnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pelaksanaan pembelajaran kimia materi hidrokarbon dengan pendekatan saintifik-CEP berlangsung dengan kriteria sangat baik dengan rata-rata pencapaian keterlaksanaan 97,58%; (2) Terdapat pengaruh pendekatan saintifik-CEP terhadap minat berwirausaha dengan kontribusi relatif kategori sedang, siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan saintifik-CEP memiliki skor minat berwirausaha yang lebih tinggi dibandingkan siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan saintifik; (3) Terdapat pengaruh pendekatan saintifik-CEP terhadap motivasi belajar dengan kontribusi relatif kategori sedang, siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan saintifik-CEP memiliki skor motivasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan saintifik; (4) Terdapat pengaruh pendekatan saintifik-CEP terhadap hasil belajar kognitif dengan kontribusi relatif kategori sedang, siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan saintifik-CEP memiliki skor hasil belajar kognitif yang lebih tinggi dibandingkan siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan saintifik
Isolasi, Karakterisasi, Identifikasi, dan Uji Aktivitas Antibakteri dan Sunscreen Senyawa dari Fraksi (n-Heksana + Etil Asetat = 9 + 1) Ekstrak Aseton Biji Asam Jawa (Tamarindus indica Linn)
ABSTRAK Hanifa, Aini Fitrotun. 2016. Isolasi, Karakterisasi, Identifikasi, dan Uji Aktivitas Antibakteri dan Sunscreen Senyawa dari Fraksi (n-Heksana + Etil Asetat = 9 + 1) Ekstrak Aseton Biji Asam Jawa (Tamarindus indica Linn). Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Sutrisno, M.Si., (II) Dr. Siti Marfu’ah, M.S. Kata kunci: antibakteri, biji asam , ekstrak aseton, sunscreen. Biji asam jawa merupakan salah satu bagian organ tanaman asam jawa (Tamarindus indica Linn) yang relatif belum banyak dimanfaatkan dibandingkan bagian lain dari tumbuhan ini. Biji merupakan bagian yang penting dari suatu tanaman untuk keberlangsungan regenerasinya. Hal ini dikarenakan tanaman pada umumnya merupakan sumber informasi tersedianya berbagai macam senyawa. Karenanya, diduga di dalam biji asam juga terkandung senyawa-senyawa kimia yang perlu digali untuk pemanfaatannya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengisolasi salah satu komponen dari fraksi (n-heksana + etil asetat = 9 + 1) ekstrak aseton biji asam jawa, (2) mengkarakterisasi dan mengidentifikasi salah satu komponen dari fraksi (n-heksana + etil asetat = 9 + 1) ekstrak aseton biji asam jawa, (3) menguji aktivitas antibakteri dan sunscreen salah satu komponen dari fraksi (n-heksana + etil asetat = 9 + 1) ekstrak aseton biji asam jawa. Penelitian ini terdiri dari 4 tahap. Tahap 1: preparasi sampel meliputi pengumpulan, pengeringan, dan pembuatan serbuk. Tahap 2: isolasi komponen meliputi ekstraksi, fraksinasi, dan pemurnian. Tahap 3: karakterisasi dan identifikasi. Karakterisasi meliputi wujud, warna, titik lebur, kelarutan, uji ketidakjenuhan, dan uji golongan/kelompok senyawa. Identifikasi meliputi spektroskopi UV dan IR. Tahap 4: uji aktivitas sebagai antibakteri dan sunscreen. Isolasi yang dilakukan secara ekstraksi, fraksinasi, dan pemurnian dari fraksi (n-heksana + etil asetat = 9 + 1) dalam ekstrak aseton biji asam jawa diperoleh zat padat berwarna putih dan titik lebur 69-71˚C. Zat ini larut dalam kloroform dan n-heksana, tidak larut dalam etil asetat, metanol, dan air. Hasil interpretasi spektrum UV zat ini mempunyai λmax 309nm (a = 13,6 cm2 mg-1) mengindikasikan adanya transisi nπ*, λmax 298nm (a = 13,4 cm2 mg-1) transisi ππ*C=C aromatik, dan 250nm (a = 11,05) transisi ππ*C=C terkonjugasi. Indentifikasi spektrum IR mengindikasikan adanya gugus C=C terkonjugasi, C=C aromatik, –OH, C=O ester, dan C-O ester. Diduga zat ini merupakan senyawa fenolik golongan tanin. Zat ini tidak berpotensi sebagai antibakteri (diameter zona hambat = 6 mm) dan sunscreen (SPF = 1,47)