SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
    1785 research outputs found

    Sintesis Nanopartikel Magnetit Bersalut Silika secara Sol-Gel dan Aplikasinya sebagai Adsorben Metilen Biru

    No full text
    ABSTRAK   Nurlatifah, Choirun Nisa’. 2016. Sintesis Nanopartikel Magnetit Bersalut Silika secara Sol-Gel dan Aplikasinya sebagai Adsorben Metilen Biru. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Fauziatul Fajaroh, M.S., (II) Dr. Nazriati, M.Si.   Kata kunci: isoterm adsorpsi, metilen biru, nanopartikel magnetit bersalut silika, sol-gel Metilen biru merupakan zat warna yang berpotensi sebagai pencemar air, sehingga perlu upaya untuk mengolah air yang tercemar metilen biru. Salah satu metode  yang dapat menangani pencemaran air adalah metode adsorpsi. Nanopartikel magnetit bersalut silikamemiliki luas permukaan besar sehingga berpotensi sebagai adsorben metilen biru. Tujuan penelitian adalah melakukan sintesisnanopartikel magnetit bersalut silika dan mempelajari kemampuannya sebagai adsorben pada proses adsorpsi metilen biru melalui metodebatch. Selain itu, juga dipelajari isoterm adsorpsi, termodinamika dan kinetika adsorpsi. Penelitian ini terdiri dari 4 tahap. Pertama, sintesis nanopartikel magnetit dengan metode elektrokimia. Kedua, pelapisan nanopartikel magnetit dengan silika secara sol-gel dan karakterisasinya menggunakan analisis XRD, BET, SEM, dan FT-IR. Ketiga, pengujian kemampuan nanopartikel magnetit bersalut silika sebagai adsorben metilen biru pada variasi waktu kontak dan konsentrasi awal adsorbat (3 hingga 7 mg/L) untuk mengetahui kapasitas adsorpsinya. Terakhir, penentuan parameter kesetimbangan adsorpsi yaitu isoterm adsorpsi (Freundlich dan Langmuir), besaran-besaran termodinamika dan kinetika adsorpsi. Nanopartikel magnetit bersalut silika hasil sintesis memiliki karakteristik fisik berupa serbuk hitam yang dapat ditarik oleh magnet. Partikel yang dihasilkan memiliki luas permukaan spesifik yang relatif besar. Nanopartikel magnetit bersalut silika mampu mengadsorpsi metilen biru. Daya adsorpsi dipengaruhi oleh waktu kontak dan konsentrasi awal adsorbat. Mekanisme adsorpsi cenderung mengikuti  model isoterm adsorpsi Langmuir daripada model Freundlich. Kinetika adsorpsi cenderung mengikuti orde dua semu. Proses adsorpsi berlangsung spontandan eksotermik

    Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kimia dengan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E-TPS Pada Materi Pokok Reaksi Redoks Untuk Peserta Didik SMA/MA Kelas X

    No full text
    ABSTRACT Yustika, Niken. 2016. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kimia dengan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E-TPS Pada Materi Pokok Reaksi Redoks Untuk Peserta Didik SMA/MA Kelas X. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Endang Budiasih, M.S, (II) Oktavia Sulistina, S.Pd., M.Pd.Kata Kunci: perangkat pembelajaran, learning cycle 5E-TPS (LC 5E-TPS), reaksi redoks.Kurikulum 2013 menuntut proses pembelajaran yang diselenggarakan berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif. Namun, faktanya dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar guru masih dominan dengan metode ceramah, walaupun juga disertai diskusi dan tanya jawab. Pembelajaran yang demikian cenderung hanya beberapa saja peserta didik yang berpartisipasi, cenderung pasif, diam, dan kurang termotivasi. Kondisi tersebut bertentangan dengan tuntutan Kurikulum  2013, sehingga perlu diperbaiki. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menyediakan perangkat pembelajaran dengan model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. Model pembelajaran yang sesuai diantaranya adalah learning cycle 5E (LC 5E) dan Think-Pair-Share (TPS) yang keduanya dapat dipadukan menjadi learning cycle 5E-TPS (LC 5E-TPS) diharapkan dapat memenuhi tuntutan Kurikulum 2013. Di samping itu, sebagian besar peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami materi reaksi redoks karena sebagian besar konsepnya bersifat abstrak. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mengembangkan perangkat pembelajaran pada materi reaksi redoks yang terdiri dari silabus, RPP, LKPD, instrumen penilaian, dan handout yang memenuhi kelayakan isi, bahasa, dan tampilan.Pengembangan perangkat pembelajaran ini menggunakan langkah-langkah dalam model pengembangan 4-D menurut Thiagarajan, Semmel, & Semmel (1974)  yaitu 1) tahap define, 2) tahap design, 3) tahap develop, 4) tahap disseminate. Penelitian dan pengembangan ini hanya dilakukan sampai tahap ketiga. Produk perangkat pembelajaran divalidasi oleh satu dosen Kimia, dan dua guru Kimia. Uji keterbacaan dilakukan kepada 10 peserta didik. Instrumen pengumpul data yang digunakan berupa angket, lembar komentar, dan saran. Jenis data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan kualitatif.  Data kuantitatif berupa skor penilaian hasil angket, data kualitatif berupa komentar, kritik, dan saran. Teknik analisis menggunakan analisis deskriptif. Produk hasil pengembangan perangkat pembelajaran ini berupa silabus, RPP, LKPD, instrumen penilaian meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan dan handout dalam bentuk cetak. Hasil persentase rata-rata kelayakan validasi isi sebagai berikut: silabus (96,79%) dengan kriteria sangat layak, RPP dan instrumen penilaian (94,96%) dengan kriteria sangat layak, LKPD (96,54%) dengan kriteria sangat layak, handout (94,87%) dengan kriteria sangat layak. Hasil persentase rata-rata kelayakan uji keterbacaan sebagai berikut: LKPD (97,14%) dengan kriteria sangat layak, handout (96,78%) dengan kriteria sangat layak. Berdasarkan hasil validasi isi dan uji keterbacaan menunjukkan bahwa secara umum perangkat pembelajaran telah valid dan layak digunakan. Namun demikian perlu dilakukan langkah selanjutnya yaitu tahap disseminate

    Pengembangan Bahan Ajar Kimia Berbasis Learning Cycle 5E pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan Untuk Siswa SMA Kelas XI

    No full text
    ABSTRAK Wulandari, Pustika. 2016. Pengembangan Bahan Ajar Kimia Berbasis Learning Cycle 5E pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan Untuk Siswa SMA Kelas XI.Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Endang Budiasih, M.S., (II) Drs. Mohamad Sodiq Ibnu, M.Si Kata kunci: Learning Cycle 5E, Kelarutan, Hasil Kali Kelarutan Konsep dalam materi kelarutan dan hasil kali kelarutan bersifat abstrak dan kompleks.Hal tersebut menyebabkan banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari materi tersebut.Atas dasari nilah, peneliti mengembangkan bahan ajar untuk materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.Produk yang akan dikembangkan berupa bahan ajar kimia pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan yang digunakan untuk siswa dan guru. Produk yang akan dihasilkan disusun berdasarkan sintaks model pembelajaran learning cycle 5E.Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar kimia menggunakan model pembelajaran learning cycle 5Epada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan untuk siswa SMA kelas XI serta mengetahui tingkat kelayakan bahan ajar tersebut. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dan pengembangan menurut Thiagarajan(1974) yang terdiridari 4 tahap, yaitu: define (pembatasan), design (perancangan), develop (pengembangan), dandies seminate (penyebaran). Namun, penelitian ini terbatas pada tahap define, design, develop tanpa melakukan tahap disseminate. Bahan ajar hasil pengembangan diuji dengan valida siisi dan uji keterbacaan.Validasi isi dilakukan dengan memberikan angket penilaian terhadap bahan ajar yang dikembangkan kepada validator yaitu dosen kimia dan guru kimia SMA.Uji keterbacaan dilaksanakan pada 10 siswa kelas XI.Jenis data yang diperoleh dari hasil validasi dan uji keterbacaan bahan ajar ada dua, yaitu data kuantitatif yang diperoleh dari perhitungan persentase untuk mengetahui besarnya kelayakan bahan ajar tersebut dan data kualitatif berupa tanggapan, kritik, dan saran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian validator ahli terhadap bahan ajar yang dihasilkan sangat layak digunakan dalam pembelajaran. Kelayakan ini ditinjau dari aspek kelayakan isi dan penyajian serta kelayakan kegrafisan.Hasil penilaian buku siswa diperoleh persentase kelayakan sebesar 89,55%dan buku guru diperoleh persentase kelayakan sebesar 91,65%.Kelayakan bahan ajar hasil pengembangan juga dapat dilihat berdasarkan penilaian siswa terhadap bahan ajar melalui uji keterbacaan.Uji keterbacaan dilakukan pada 10 siswa yang telah menempuh materi kelarutan dan hasil kali kelarutan dan diperoleh persentase kelayakan sebesar 96,5%.Produk pengembangan yang dikembangkan secara umum telah memenuhi criteria sangat valid dan layak untuk digunakan.Namun belum diuji cobakan di kelas, sehingga disarankan pada peneliti lain untuk melakukan uji coba di beberapa kelas dan sekolah

    PERBANDINGAN KEKUATAN TARIK PADA SAMBUNGAN PROFIL SIKU DENGAN MENGGUNAKAN SAMBUNGAN BAUT DAN SAMBUNGAN LAS

    No full text
    ABSTRACT Widyanata, Alif. 2016. Perbandingan Kekuatan Tarik Pada Sambungan Profil SikuDengan Menggunakan Sambungan Baut Dan Sambungan Las. Program StudiS1 Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I)Drs. Adjib Karjanto, S.T., M.T. (II) Drs. Ir. Sudomo, M.M.T. Kata Kunci: Baja Profil Siku Sama kaki, Sambungan Baut, Sambungan Las, KekuatanTarik. Profil siku dalam konstruksi rangka baja digunakan sebagai rangka kuda-kudaatap, pengaku rangka batang, elemen ikat angin, dan menara kabel listrik. Profil inidinyatakan dengan tanda L, dimana terdapat tiga bilangan yang menunjukkan tinggi,lebar, dan tebal profil. Dalam SNI 07-2054-2006 tentang baja profil siku sama kaki,standar ukuran penampang dinyatakan dalam satuan millimeter dan menggunakanpenamaan untuk setiap ukuran profilnya. Struktur yang tersusun dari beberapa profil baja membutuhkan alatpenyambung sebagai pengikat (fastener) untuk menyatukan elemen-elemen profil bajamenjadi suatu kesatuan bentuk konstruksi. Sambungan baut dan dan sambungan lasmerupakan jenis alat sambung yang umum digunakan dalam konstruksi baja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kekuatan tarik maksimum sertajenis kerusakan pada sambungan baut dan sambungan las pada baja profil siku. Desainpermodelan sambungan menggunakan metode LRFD (Load Resistance and FactorDesign) berdasarkan SNI 03-1729-2002 dan SNI 1729-2015. Dari hasil uji pendahuluan diperoleh uji tarik baut sebesar 472.82 MPa, uji tariklas sebesar 594.51 MPa, dan uji karakteristik kekuatan baja profil siku sebesar 593.66MPa. Pengujian tarik model sambungan dilakukan dengan pemberian beban secarabertahap pada pembacaan dial gauge setiap 1 mm sampai benda uji menerima bebanmaksimum. Kekuatan tarik maksimum rata-rata pada sambungan baut sebesar 13.03 ton dansambungan las sebesar 12.48 ton. Kekuatan tarik maksimum sambungan baut lebihbesar 4.41% daripada sambungan Las. Pertambahan panjang sambungan baut pada saatbeban maksimum sebesar 18.7 mm dan sambungan las sebesar 13.3 mm, menunjukkanbahwa sambungan las memiliki struktur yang lebih kaku daripada sambungan bautdilihat dari pertambahan panjangnya. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwasambungan baut lebih efektif diterapkan pada sambungan baja profil siku. Jenis kerusakan pada model sambungan sebagian besar terjadi pada penampang profilsiku yang mengalami putus atau patah tumpu. Baut pada model sambungan mengalamidistorsi, yaitu baut mengalami rotasi atau kemiringan dari sumbu awal. Padasambungan las terjadi keretakan pada pertemuan penampang profil siku ABSTRACT Widyanata, Alif. 2016. Comparison of Tensile Strength on the L  Steel Profile JointUsing Bolts And Welding Connection. S1 Program Civil Engineering, Facultyof Engineering State University of Malang. Supervisor (I) Drs. Adjib Karjanto,S.T., M.T. (II) Drs. Ir. Sudomo, M.M.T. Keywords: Elbow Same leg Steel Profile, Bolt Connection, Welds Connection,Tensile Strength. Elbows Profile in steel frame construction used as a roof truss, stiffeners, fastening elements of wind, and towers construction. This profile is expressed by an Lsyimbol, there are three numbers that indicate the height, width, and thickness profile.In SNI 07-2054-2006 about isosceles steel profiles, standard section size is expressedin millimeters. Structure which composed by several steel profiles require a connection asfastener to bring together the elements of steel profiles into a single form ofconstruction. And the bolt connection and welding connection is a type commonly usedin steel construction. The purpose of this study was to determine the maximum tensile strength andthe type of damage to the connection bolts and welds on steel elbow profile. Designmodeling connections using LRFD (Load and Resistance Factor Design) based SNI03-1729-2002 and SNI 1729-2015. From the preliminary test tensile test bolt result is 472.82 MPa, welding tensiletest result is 594.51 MPa, and the strength characteristics of L steel profile at 593.66MPa. Testing models of joints done by loading step by step which use dial gauge tomeasure the deformation per 1 mm until maximum tensile strength. The maximum tensile strength averages on bolt connection at 13.03 tons andtons of welded joints at 12.48 tons. The maximum tensile strength of the boltconnection 4.41% larger than welds connection. The length deformation of boltconnection at maximum load is 18.7 mm and 13.3 mm at welded joints, indicating thatthe welds have a structure that is more rigid than the bolt connection seen from thedeformations in length. From the results of this study concluded that the bolt connectionis more effectively applied to the elbow steel profile connection. The type of damage in connection models mostly occur in cross-section elbowsteel profile which have fracture. Bolt on the model of joint occur distortion or rotationfrom the first axis. In the weld joint cracking occurred at a meeting of the profile crosssectionofthe Lsteel profile

    ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI INDIGEN PENGHASIL KERATINASE DARI TANAH DESA BUNULREJO MALANG SERTA UJI POTENSINYA DALAM MENDEGRADASI BULU AYAM

    No full text
    ABSTRACT Hizkia Putraasa. 2015. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Indigen Penghasil Keratinase dari Tanah Desa Bunulrejo Malang serta Uji Potensinya dalam Mendegradasi Bulu Ayam. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suharti, S.Pd, M.Si, (II) Eli Hendrik Sanjaya, S.Si, M.Si Kata Kunci: Bulu , Keratin, Keratinase.Komponen utama bulu ayam adalah keratin. Keratin merupakan protein serat yang bersifat sangat hidrofobik dan mempunyai struktur yang sangat stabil. Stabilitas keratin disebabkan karena adanya  ikatan disulfida dalam jumlah yang banyak. Enzim keratinase diketahui dapat mendegradasi keratin menjadi asam amino-asam amino dan polipeptida pendek. Keratinase dapat dihasilkan oleh fungi serta mikroba. Indonesia merupakan negara dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi. Potensi keanekaragaman hayati Indonesia memberikan peluang yang besar pada diversitas mikroba penghasil keratinase. Penelitian  ini bertujuan untuk: (1) mendapatkan isolat mikroba penghasil keratinase dari tanah Kelurahan Bunulrejo Malang dan (2) mengetahui spesies mikroba yang telah diisolasi dengan identifikasi mikroba secara  genotip. Penelitian dilakukan melalui 2 tahapan yaitu, (1)  Isolasi bakteri penghasil keratinase serta (2) Identifikasi mikroba secara genotip. Isolat bakteri diambil dari tanah Desa Bunulrejo Malang yang telah diperkaya dengan menambahkan bulu ayam sebagai subtrat keratin. Selanjutnya, isolat mikroba diseleksi pada media selektif susu skim-agar serta di uji potensinya dalam mendegradasi bulu ayam dengan menginkubasi isolat mikroba pada media cair yang berisi bulu ayam. Potensi isolat mikroba dalam mendegradasi bulu ayam dapat diketahui dengan mengukur berat bulu yang tersisa dan penentuan kadar tirosin selama proses degradasi bulu ayam. Identifikasi mikroba secara genotip dilakukan dengan menganalisis urutan asam nukleat dari gen pengkode 16S rRNA.Hasil penelitian menunjukan isolat LH yang diambil dari kelurahan Bunulrejo Malang merupakan bakteri indigenous penghasil keratinase. Hasil pengamatan selama 5 hari menunjukkan bahwa isolat LH dapat mendegradasi bulu ayam dengan persentase bulu sisa mencapai 47,01 % serta menghasilkan kadar tirosin sebesar 72,53 µmol/mL. Identifikasi bakteri indigenous LH secara genotip menunjukkan bahwa isolat LH merupakan bakteri Pseudomonas. Hal ini ditunjukan dengan hasil BLAST pada situs NCBI yang menginformasikan bahwa isolat LH memiliki homologi 99 % dengan 6 galur bakteri pseudomonas. Pohon filogenetik yang berhasil dibuat menunjukkan bahwa isolat LH memiliki kekerabatan yang dekat dengan Pseudomonas Nitroreducens strain IAM 1439. Tetapi isolat bakteri LH bukan merupakan bakteri Pseudomonas Nitroreducens galur IAM 1439 oleh karena tidak memiliki homologi 100 %. Hal ini diduga bahwa isolat bakteri LH merupakan bakteri Pseudomonas Nitroreducents galur baru.ABSTRACT Hizkia Putraasa. 2015. Isolation and Identification of Indigenous Bacteria in Producing Keratinase from District Bunulrejo Malang Soil and Its Potential Study to Degrade Chicken Feathers. Thesis, Department of Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, State University of Malang. Supervisor: (I) Dr. Suharti, S.Pd, M.Si, (II) Eli Hendrik Sanjaya, S.Si, M.Si Keyword : Feather, Keratin, KeratinaseThe main component a chicken feather is keratin. Keratin is highly hydrophobic protein fibers and it has a very stable structure. Keratin stability due to the disulfide bonds in large amounts. Keratinase enzyme known to degrade keratin  become amino acids and short polypeptides. Keratinase can be produced by fungi and microbes. Indonesia is a country with a high level of biodiversity. Potential Indonesian biodiversity presents a great opportunity to microbes diversity in the process of producing keratinase. This study aims to: (1) Getting the microbial isolates producing keratinase from District Bunulrejo Malang Soil sample and (2) Knowing the species of microbes that have been isolated by the identification of microbial genotype.The study was conducted through two phases, namely, (1) Isolation of bacterial that producing keratinase (2) Identification of microbial genotype. The bacteria isolate taken from district Bunulrejo Malang that enriched by adding chicken feather as subtrat of keratin. Furthermore, the microbial isolate selected in  the media selective milk skim and testing its potential to degrade chicken feather with incubation the microbes isolate in the liquid medium containing chicken feather. The potential of the microbes for degradation chicken feather can be known to measure the weight of chicken feather left and the deterination tirosin levels during the process od degradation chicken feather. Genotypically microbial identification is done by analyzing the nucleic acid sequence of the gene encoding 16S rRNA.  The research showed isolates LH who taken from the District Bunulrejo Malang is indigenous bacteria that have been produce keratinase. The result of the observation for 5 days showed that LH isolate could degrade chicken feathers by % weight left was reached 47.01% and to produce tyrosine levels of 72.53 µmol/mL. Identification of indigenous bacteria LH genotype is showed as Pseudomonas Nitroreducens bacteria. It is directed by the results of BLAST on NCBI web site that informs LH isolates has a homology of 99 % with 6 strains of bacteria Pseudomonas. Phylogenetic tree created successfully demonstrated that LH isolates closely related to Pseudomonas Nitroreducens strain IAM 1439. But LH isolates is not bacteria Pseudomonas Nitroreducens strain IAM 1439 because it does not have 100% homology. It suspected bacterial LH isolates is a new strain of the bacterium Pseudomonas Nitroreducents

    Identifikasi Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan Tes PISA pada Aspek Kimia untuk Siswa SMA Negeri Kelas X di Kota Malang

    No full text
    ABSTRACT Fitrianingsih, Azizah. 2016. Identifikasi Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan Tes PISA pada Aspek Kimia untuk Siswa SMA Negeri Kelas X di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Prayitno, M.Pd, (II) Prof. Dra. Sri Rahayu, M.Ed., Ph.D.Kata Kunci: PISA, kesulitan siswaDewasa ini penguasaan literasi sains merupakan salah satu tujuan pembelajaran IPA termasuk kimia. Untuk mengukur literasi sains siswa, OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) melakukan penilaian secara internasional dengan program yang disebut PISA (Programme for International Student Assessment). Namun, peringkat siswa Indonesia dalam kemampuan literasi sains pada PISA masih berada pada urutan bawah dan setiap periodenya tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Kimia yang merupakan bagian dari sains dapat memberikan kontribusi dalam profil pencapaian literasi sains Indonesia dalam PISA. Mengetahui kesulitan siswa dalam menjawab soal PISA pada materi kimia dapat memberikan informasi diagnostik yang bermanfaat dalam pembuatan kebijakan untuk peningkatan mutu pendidikan dan dapat digunakan sebagai acuan untuk perbaikan diri siswa jika menemui soal-soal yang serupa.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan-kesulitan yang dialami siswa yang berusia 15-16 tahun (siswa SMA Negeri Kelas X di Kota Malang) dalam menyelesaikan tes PISA pada aspek kimia dan kemungkinan-kemungkinan penyebabnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Langkah-langkah dalam penelitian ini adalah (1) mengkaji aspek kimia yang terdapat dalam tes PISA, (2) menyusun instrumen penelitian, (3) mengumpulkan data penelitian dengan tes tertulis yang diadaptasi dari tes PISA dan mengisi angket, (4) melakukan analisis data penelitian, dan (5) melaporkan hasil pembahasan penelitian yang telah dilaksanakan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) profil capaian siswa pada aspek kimia dalam tes PISA tergolong rendah dengan rata-rata nilai yang diperoleh siswa adalah 48, (2) tingkat kesukaran soal kimia pada tes PISA didominasi oleh soal-soal dalam kategori sedang (66%), kemudian soal dalam kategori sukar (22%), dan soal dalam kategori mudah (12%), (3) siswa mengalami kesulitan berkaitan dengan kompetensi sains dalam menjelaskan fenomena secara ilmiah, mengidentifikasi isu/masalah sains, dan menggunakan bukti-bukti ilmiah, (4) persepsi siswa tentang kesulitan siswa dalam menyelesaikan tes PISA di antaranya adalah (i) siswa belum pernah mendapatkan materi sesuai dengan materi yang ditanyakan pada soal PISA; (ii) model soal yang diujikan oleh guru berbeda dengan soal yang diujikan dalam PISA; (iii) dalam soal PISA terdapat istilah-istilah kimia yang belum diajarkan pada anak usia 15-16 tahun

    Optimasi Produksi Keratinase dari Bakteri Keratinolitik Bacillus licheniformis MD24

    No full text
    ABSTRACT Hidayati, A. 2016. Optimasi Produksi Keratinase dari Bakteri Keratinolitik Bacillus licheniformis MD24. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suharti, S.Pd., M.Si., (II) Evi Susanti, S.Si., M.Si.Kata Kunci: Bacillus licheniformis MD24, keratin, keratinase, optimasi produksiBakteri keratinolitik merupakan bakteri yang mampu menghasilkan enzim keratinase. Bacillus licheniformis MD24 merupakan salah satu bakteri keratinolitik yang diisolasi dari sampel tanah. Enzim keratinase merupakan enzim protease spesifik yang mampu mendegradasi keratin. Keratinase yang dihasilkan oleh bakteri Bacillus licheniformis mampu mendegradasi bulu ayam. Produksi enzim dari bakteri sangat ditentukan oleh beberapa faktor antara lain  jenis sumber nitrogen dan karbon yang ada pada media. Selain itu, kondisi lingkungan seperti pH media dan suhu pertumbuhan bakteri juga mempengaruhi produksi enzim. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi produksi enzim dengan:                  (1) mengetahui pengaruh penambahan jenis sumber karbon untuk menentukan sumber karbon terbaik; (2) menentukan pH media pertumbuhan optimum; dan   (3) menentukan suhu pertumbuhan optimum bakteri Bacillus licheniformis MD24. Tahap-tahap penelitian ini terdiri dari: (1) regenerasi kultur murni Bacillus licheniformis MD24; (2) produksi keratinase pada berbagai jenis sumber karbon tambahan (bulu ayam (tanpa sumber karbon tambahan), gliserol, glukosa, dan sukrosa); (3) produksi keratinase pada berbagai pH (pH 6, 7, 8, dan 9);  dan       (4) produksi keratinase pada berbagai suhu (suhu 35 oC, 37 oC, 39 oC, dan 41 oC). Kondisi terbaik atau optimum diketahui berdasarkan nilai aktivitas keratinase dan didukung oleh nilai Weight  Loss. Aktivitas keratinase ditentukan dari nilai absorbansi tirosin yang diukur pada panjang gelombang 280 nm. Weight Loss ditentukan dari perbandingan massa bulu ayam sebelum dan sesudah proses degradasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produksi keratinase tertinggi diperoleh pada media bulu ayam 0,1 % (w/v) sebagai minimal sumber karbon dengan pH media 8 dan suhu pertumbuhan 37 oC. Aktivitas ekstrak kasar keratinase rata-rata yang dihasilkan pada kondisi produksi optimum sebesar  17,05 U/mL. ABSTRACT Hidayati, A. 2016. Optimization Production of Keratinase from Keratinolytic Bacteria Bacillus licheniformis MD24. Undergraduate, Chemistry Department, Mathematics and Science Faculty, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Suharti, S.Pd., M.Si., (II) Evi Susanti, S.Si., M.Si.Keywords: Bacillus licheniformis MD24, keratin, keratinase, optimization productionKeratinolytic bacteria is a bacteria that produces keratinase. Bacillus licheniformis MD24 is one of keratinolytic bacteria isolated from soil. Keratinase is a specific protease enzymes that degrades keratin. Bacillus licheniformis’ keratinase is able to degrade chicken feathers. Production of enzyme from the bacteria is determined by many factors such as nitrogen and carbon sources in the medium. In addition, environmental conditions such as pH and growth temperature of bacteria also influence the enzyme production. The aims of this research is to optimize the production of keratinase by: (1) studying the influence of carbon source to find out the best carbon source; (2) finding optimum pH of the medium; and (3) finding optimum temperature of Bacillus licheniformis MD24 growth. This research steps consist of (1) regeneration of Bacillus licheniformis MD24 pure culture; (2) production of keratinase in various types of carbon sources (feather chicken, glycerol, glucose, and sucrose); (3) production of keratinase at different pH (pH 6, 7, 8, and 9); and (4) production of keratinase at different temperatures (temperature 35 oC, 37 oC, 39 oC, and 41 oC). The best conditions or optimum values based on activity of keratinase and supported of percentage of Weight Loss. Keratinase activity was determined by measuring absorbance tyrosine at 280 nm. Weight Loss was determined by comparing the mass chicken feathers before and after degradation.  The results showed the highest keratinase production is achieved with     0,1 % (w/v) chicken feather as a carbon source at pH 8 and temperature of 37 oC. At such production condition the average activity of keratinase crude extract is 17,05 U/mL.

    Pengembangan Media Pembelajaran Kimia pada Materi Elektrokimia Kelas XII SMA

    No full text
    ABSTRACT Andrianto, Rely. 2016. Pengembangan Media Pembelajaran Kimia Berbasis Android pada Materi Elektrokimia Kelas XII SMA. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Munzil, S.Pd.,M.Si. (II) Dr. Yahmin, S.Pd.,M.Si.Kata Kunci:Android, Elektrokimia, Media Pembelajaran.Materi elektrokimia memuat banyak konsep yang abstrak. Konsep abstrak tersebut membuat siswa mengalami miskonsepsi sehingga diperlukan suatu media pembelajaran untuk menjelaskan materi kimia yang bersifat abstrak tersebut agar lebih mudah dipahami siswa. Salah satunya media pembelajaran yang berkembang pesat saat ini yaitu media pembelajaran berbasis android yang didalamnya menyajikan animasi, video dan soal evaluasi. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah untuk menghasilkan media pembelajaran kimia berbasis android pada materi elektrokimia kelas XII SMA serta mengetahui tingkat kelayakan media pembelajaran  kimia berbasis android pada materi elektrokimia kelas XII SMA.Model penelitian dan  pengembangan ini menggunakan Four-D model yang terdiri dari empat tahap meliputi tahap define, design, develop, dan disseminate. Penelitian ini hanya dilakukan terbatas hingga tahap develop sehingga hanya dilakukan sampai uji validitas dan uji coba pada produk yang dihasilkan. Validasi media terdiri dari validasi tampilan media dan validasi isi materi. UJi coba produk dilakukan untuk mengetahui tingkat  keefektifan  dan daya tarik media dan dilakukan melalui uji coba kelompok kecil. Data yang dikumpulkan berupa data kuantitatif dan kualitatif melalui instrument berupa angket. Data kuantitatif diperoleh melalui angket checklist sesuai kriteria validitas, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui kolom saran. Data kuantitatif yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik rata-rata. Pada penelitian ini telah dikembangkan media pembelajaran berbasis android berbentuk aplikasi bertipe apk. Media pembelajaran yang dikembangkan ini bersifat fleksibel dan  interaktif. Selain itu media pembelajaran dapat dijalankan secara berurutan maupun tidak, dan dapat digunakan sebagai bahan belajar mandiri. Aplikasi berukuran 60 Mb ini berisi teks, tabel, gambar, animasi, video, peta konsep, soal latihan dan soal kuis. Berdasarkan validasi yang telah dilakukan, rata-rata yang diperoleh dari validasi tampilan adalah 96,57 % sedangkan rata-rata yang diperoleh dari validasi materi adalah 93,45 %. Hasil uji coba kelompok kecil diperoleh persen rata-rata sebesar 92,17 %. Dari data hasil uji validitas dan uji coba kelompok kecil diketahui bahwa media pembelajaran elektrokimia berbasis android yang dikembangkan ini telah memenuhi kriteria layak sehingga media dapat digunakan sebagai media pembelajaran

    . Identifikasi Miskonsepsi Siswa Kelas X SMA Negeri di Kata Kediri pada Materi Ikatan Kovalen Menggunakan Tes Diagnostik Pilihan Ganda Dua Tingkat

    No full text
    ABSTRACT Layly, Lia Fatra Noer. 2016. Identifikasi Miskonsepsi Siswa Kelas X SMA Negeri di Kata Kediri pada Materi Ikatan Kovalen Menggunakan Tes Diagnostik Pilihan Ganda Dua Tingkat. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Prayitno, M.Pd., (II) Dr. Munzil, M.Si.Kata Kunci: miskonsepsi, ikatan kovalen, tes diagnostik pilihan ganda dua tingkat.Konsep dalam ilmu kimia terbagi kedalam tiga aspek yakni makroskopis, mikroskopis dan simbolis yang ketiganya saling berhubungan satu sama lain. Jika siswa tidak  mampu menghubungkan ketiga aspek tersebut dalam mempelajari ilmu kimia, maka siswa akan mengalami kesulitan dalam pemahaman konsep atau dapat mengalami miskonsepsi. Miskonsepsi merupakan masalah utama dalam pembelajaran sains. Suatu miskonsepsi yang dipegang oleh siswa cenderung akan bertahan dalam waktu yang lama dan digunakan terus menerus terlebih jika konsep tersebut berakar dari pengalaman sehari-hari. Salah satu materi kimia yang sering mengalami miskonsepsi adalah materi ikatan kovalen. Pemahaman siswa terhadap konsep ikatan kovalen berpengaruh pada kebenaran pemahaman siswa mengenai materi selanjutnya karena konsep dalam ilmu kimia berjenjang dan saling berhubungan. Salah satu instrumen yang efektif untuk mengidentifikasi miskonsepsi pada siswa adalah instrumen diagnostik pilihan ganda dua tingkat. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti bertujuan melakukan penelitian untuk mengetahui konsep-konsep pada materi ikatan kovalen yang mengalami miskonsepsi dan tingkat persentasenya. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian diskriptif, dengan populasi penelitiannya adalah enam SMA Negeri di Kota Kediri. Teknik sampling kelas yang digunakan adalah teknik sampling bertingkat dengan jumlah sampel 175 siswa. Instrumen soal yang digunakan berjumlah 32 butir soal dengan 2-3 alternatif jawaban disertai 4 alasan. Langkah yang dilakukan dalam menyusun instrumen diagnostik pilihan ganda dua tingkat adalah (1) menentukan cakupan konsep, (2) melakukan kajian literatur miskonsepsi, (3) menyusun dan menyebarkan tes terbuka, (4) penyusunan dan validasi instrumen diagnostik pilihan ganda dua tingkat. Hasil tes diagnostik dan wawancara dianalisis secara deskriptif. Miskonsepsi yang dialami siswa ditentukan dari kekonsistenan jawaban salah siswa pada soal sejenis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan miskonsepsi pada siswa kelas X SMA Negeri di Kediri pada sembilan sub topik materi ikatan kovalen sebanyak 16 miskonsepsi, diantarnya: sebanyak 38,8% siswa menganggap bahwa senyawa kovalen harus tersusun atas unsur non logam dengan unsur non logam, sebanyak 37,7% siswa menganggap bahwa elektron total adalah jumlah dari elektron valensi, sebanyak 33,1% siswa menganggap bahwa pada suhu 100oC dan tekanan 1 atm ikatan kovalen pada motekul air terputus sehingga molekul H2O berubah kembali mejadi molekul-molekul diatomik penyusunnya yaitu molekul H2 dan molekul O2, dan sebanyak 22,3% siswa menganggap bahwa atom oksigen pada OCl2 memiliki 2 PEI sehingga bentuk molekulnya linier.ABSTRACT Layly, Lia Fatra Noer. 2016. Identification of Students’ Misconception about Covalent Bond of Material by Using Diagnostic Test of Two-Tier Multiple Choice in State Senior High School in Kediri. Sarjana’s Thesis, Chemistry Department, Faculty of Mathematics and Natural Science, State University of Malang. Advisors: (1) Drs, Prayitno, M.Pd, (II) Dr. Munzil, M.Si.Key words: misconception, covalent bond, two-tier multiple choice diagnostic testConcepts on Chemistry are divided into three aspects, namely macroscopic, microscopic, and symbolism associated to one another. If students cannot relate those three aspects in learning Chemistry, it will be difficult in comprehending the concepts and fall into misconception. Misconception is the main problem happened during teaching and learning natural science. A misconception of a student tends to be long last and frequently used even if the concept is rooted from their daily experiences. One of the materials which often creates a misconception is covalent bond. Students’ understanding on this material affected the correctness of the next materials since they are tiered and interrelated. One of the instruments which is effective to identify the misconception happened among students is diagnostic test of two-tier multiple choice. Based on the explanation, the researcher intended to do a research in order to know the concept misconception and its percentage level.This research were descriptive research. The population of the research is six Senior High Schools in Kediri. The sampling techniques used for classes is stratified random sampling with total sample 175 students. The item instrument used consists of 32 items with 2-3 alternative answers completed with 4 reasons. Steps used in arranging the diagnostic instruments of two-tier multiple choice are (1) determining the coverage of the concepts, (2) conducting a literature study concerning misconception, (3) arranging and subtituting an open test, (4) arranging and validating diagnostic instrument of two-tier multiple choice. The result of the diagnostic test and interview were analyzed descriptively. The misconception found among the students were determined by false answers on similar items.  The research result showed that 16 misconceptions happened among students grade X in State Senior High School in Kediri was found on nine sub-topics of covalent bond material. There are 38,8% of the students thought that covalent compound must consist of nonmetallic element; 37.7% of the students presume that total electron is the total of valence electron; 31.1% of the students thought that in 100oC temperature and 1 atm pressure, the covalent bond on water molecule was disconnected so that H2O molecule turns back into is constituent diatomic molecules that is H2 and O2; and 22.3% of the students presume that oxygen atomic on OCl2 has 2 PEI so that it creates linear molecule

    Sintesis Metil Ester Dari Minyak Dedak Padi Melalui Reaksi Esterifikasi dan Uji Potensinya Sebagai Biodiesel

    No full text
    ABSTRACT Abdurrohman. 2016. Sintesis Metil Ester Dari Minyak Dedak Padi Melalui Reaksi Esterifikasi dan Uji Potensinya Sebagai Biodiesel.Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Aman Santoso, M.Si., (II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si.Kata kunci: Esterifikasi, metil ester, minyak dedak padiIndonesia sebagai Negara agraris, merupakan Negara penghasil padi terbesar ke tiga di dunia. Besarnya produksi padi di Indonesia mengakibatkan bertambah besarnya hasil samping penggilingan padi menjadi beras, berupa menir, sekam, dan dedak padi. Dedak padi sampai saat ini baru dimanfaatkan sebagai pakan ternak, dedak padi tersebut mempuyai kandungan minyak yang dapat dikonversi menjadi alkil ester, dengan cara mereaksikannya dengan alkohol berbantuan katalis. Sintesis alkil ester dari minyak nabati dapat dilakukan melalui reaksi esterifikasi atau transesterifikasi, namun minyak dengan kemurnian rendah seperti minyak dedak padi lebih tepat melalui reaksi esterifikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mengetahui rendemen minyak dedak padi hasil ekstraksi, 2) sintesis metil ester dari minyak dedak padi melalui reaksi esterifikasi berkatalis asam, 3) karakterisasi metil ester hasil sintesis serta uji potensinya sebagai biodiesel meliputi uji densitas, viskositas, indeks bias, dan angka asam, 4) identifikasi senyawa penyusun metil ester hasil sintesis dengan instrumen GC-MSPenelitian ini merupakan penelitian bersifat eskperimental laboratoris yang bertujuan untuk mensintesis metil ester dari minyak dedak padi melalui reaksi esterifikasi. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium penelitian Jurusan Kimia, dan  Lab Sentral FMIPA Universitas Negeri Malang. Tahapan dalam penelitian ini,  yaitu 1) ekstraksi minyak dedak padi, 2) sintesis metil ester dari dedak padi melalui reaksi esterifikasi, 3) karakterisasi metil ester minyak dedak padi dan uji potensinya sebagai biodiesel meliputi penentuan densitas, viskositas, indeks bias, dan uji bilangan asam, 4) identifikasi senyawa penyusun metil ester hasil sintesis dengan GC-MS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa minyak dedak padi memiliki rendemen sebesar 18,09 %. Metil ester dapat disintesis dari minyak dedak padi dan metanol melalui reaksi esterifikasi berkatalis asam dengan rendemen 72,37 %. Karakter metil ester hasil sintesis masuk kedalam rentangan standar mutu biodiesel yaitu, densitas sebesar 0,850 g/mL, viskositas 4,73 cSt, indeks bias 1,45871, dan angka asam sebesar 0,6 g KOH/g metil ester, sehingga diketahui metil ester hasil sintesis berpotensi sebagai biodiesel. Hasil identifikasi senyawa penyusun metil ester hasil sintesis dengan GC-MS menunjukkan adanya  senyawa metil miristat (0,38 %), metil palmitat (40,67 %), metil oleat (53,68 %), metil stearat (5,02 %), dan metil arakhidat (0,14 %)

    0

    full texts

    1,785

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇