SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
    1785 research outputs found

    Pembuatan, Karakterisasi dan Aplikasi Adsorben Silika-Selulosa terhadap Bromtimol Biru, Fluorosein dan Campurannya

    No full text
    ABSTRAK   Adsorben silika-selulosa berasal dari abu sekam padi sebagai sumber silika dan nata de coco sebagai sumber selulosa. Berdasarkan penelitian sebelumnya, adsorben silika-selulosa mampu menyerap dan memisahkan campuran zat warna rhodamin B dan tartrazin, sehingga diharapkan silika-selulosa dapat digunakan sebagai adsorben zat warna seperti bromtimol biru dan fluorosein. Tujuan penelitian mengetahui (1) karakteristik fisika silika-selulosa sebagai adsorben; (2) daya adsorpsi yang dihasilkan pada bromtimol biru, fluorosein dan campurannya dengan metode adsorpsi batch; (3) keterpisahan campuran bromtimol biru dan fluorosein dengan menggunakan KLT; (4) sifat permukaan silika-selulosa dengan larutan bromtimol biru, fluorosein dan campurannya menggunakan spektroskopi inframerah (FT-IR). Penelitian eksperimental ini dilakukan di laboratorium Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang (UM). Penelitian ini terdiri dari 5 tahap, yaitu (1) pembuatan adsorben silika-selulosa, (2) karakterisasi adsorben, (3) aplikasi kemampuan adsorben dalam memisahkan bromtimol biru dan fluorosein dengan variasi eluen, (4) aplikasi kemampuan adsorben dalam mengadsorpsi bromtimol biru, fluorosein dan campurannya dengan metode Batch, (5) analisis permukaan adsorben dengan larutan bromtimol biru, fluorosein dan campurannya. Hasil penelitian ini adalah (1) Karakterisasi fisik menunjukkan kualitas yang baik ditunjukkan oleh daya serap larutan iod; (2) Adsorpsi larutan bromtimol biru dan fluorosein dengan variasi konsentrasi persentase adsorpsi semakin menurun; (3) Pemisahan campuran bromtimol biru dan fluorosein dengan menggunakan KLT memberikan yang terbaik menggunakan eluen air; (4) Munculnya pelebaran pita serapan pada gugus silanol (Si-OH) dan gugus –OH dari selulosa

    Karakterisasi Paduan Karagenan-Xhantan gum dan Aplikasinya sebagai Matriks Sediaan Lepas Lambat Kalium Diklofenak

    No full text
    ABSTRAK   Khusna, Binti Nafingatul. 2017. Karakterisasi Paduan Karagenan-Xhantan gum danAplikasinya sebagai Matriks Sediaan Lepas Lambat Kalium diklofenak.Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Dr. Irma Kartika K, M.Si., (II) Eli Hendrik Sanjaya, S.Si., M.Si.   Kata Kunci: Karagenan, xhantan gum, hidrogel, sediaan lepas lambat, kaliumdiklofenak Karagenan merupakan hasil ekstraksi rumput laut dengan larutan alkali. Karagenan banyak dimanfaatkan dalam berbagai industri misalnya industri pangan, industri kosmetik, dan industri farmasi. Dalam industri farmasi karagenan digunakan sebagai matriks obat lepas lambat, namun karagenan sebagai matriks kurang mampu menghambat pelepasan obat sehingga perlu dikombinasi dengan matriks lain misalnya xhantan gum. Xhantan gum adalah polimer alami yang memiliki viskositas tinggi dan daya rekat yang kuat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik fisikokimia paduan karagenan-xhantan gum pada berbagai variasi komposisi perbandingan dan mengetahui kemampuan paduan karagenan-xhantan gum sebagai matriks sediaan lepas lambat kalium diklofenak. Penelitian dilakukan dalam 2 tahap. Tahap (1) uji karakterisasi paduan karagenan-xhantan gum yang meliputi: uji kadar air, uji kemampuan swelling, dan uji FTIR, tahap (2) uji karakterisasi paduan karagenanxhantan gum sebagai matriks sediaan lepas lambat kalium diklofenak yang meliputi: uji kadar air, uji kekerasan, uji kerapuhan, uji kemampuan swelling dan in vitro release. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air karagenan 16,58% dan xhantan gum 14,33%. Paduan karagenan dengan kandungan karagenan yang lebih banyak memiliki kadar air lebih tinggi. Kemampuan swelling pada paduan karagenan-xhantan gum lebih tinggi dibandingkan dengan karagenan atau xhantan gum saja. Pada aplikasi paduan karagenan-xhantan gum sebagai matriks sediaan lepas lambat dengan komposisi F1 (karagenan:mikrokristalin selulosa, 1:5,15), F2 (xhantan gum:mikrokristalin selulosa, 1:5,15), F3 (karagenan:xhantan gum:mikrokristalin selulosa, 2,25:1:5,15), F4 (karagenan:xhantan gum:mikrokristalin selulosa, 1,17:1: 5,15), F5 (karagenan:xhantan gum, 5,15:1), F6 (karagenan:xhantan gum, 7:1), dan F7 (karagenan:xhantan gum, 4:1) memiliki berat 200 mg menghasilkan tablet dengan diameter 3,19-3,63 mm, tebal 9,00-9,04, kekerasan tablet 5,303-6,424 kg, dan kerapuhan kurang dari 0,8%. F1, F3, dan F4 mengembang dalam waktu yang singkat, sedangkan F2, F5, F6, dan F7 mengembang terjadi secara perlahan. Uji in vitro release dilakukan pada F2 dan F7. Pada F2 obat yang terdisolusi meningkat dari menit 0 hingga menit ke720 sedangkan pada F7 konsentrasi obat yang terdisolusi meningkat hingga menit ke 480 seterusnya turun secara keseluruhan. F7 merupakan formulasi yang paling sesuai untuk dikembangkan sebagai matriks sediaan lepas lambat kalium diklofenak

    Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Pendekatan Saintifik dengan Mengeksplisitkan Hakikat Sains dan Berpikir Kritis pada Materi Benzena dan Turunannya

    No full text
     ABSTRAK     Lestari, Rizky Wahyu. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Pendekatan Saintifik dengan Mengeksplisitkan Hakikat Sains dan Berpikir Kritis pada Materi Benzena dan Turunannya. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Sri Rahayu, M.Ed., Ph.D. (2) Dr. Aman Santoso, M.Si.   Kata kunci: bahan ajar, pendekatan saintifik, hakikat sains, berpikir kritis   Kurikulum 2013 menekankan pada penggunaan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran, sehingga sumber belajar juga harus mengacu pada pendekatan saintifik. Bahan ajar menggunakan pendekatan saintifik dan mengeksplisitkan kemampuan berpikir kritis akan lebih efektif dalam mengkonstruk dan mengembangkan kemampuan sains peserta didik bila memasukkan aspek hakikat sains (NOS) di dalamnya. Namun berdasarkan analisis pendahuluan yang dilakukan, bahan ajar materi benzena dan turunannya yang tersedia saat ini menunjukkan bahwa aspek pendekatan saintifik masih belum dimunculkan. Selain itu, buku tersebut belum mengeksplisitkan hakikat sains dan belum menerapkan soal berpikir kritis secara memadai. Oleh karena itu, dilakukan penelitian pengembangan yang bertujuan untuk menghasilkan produk berupa bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013 pada materi benzena dan turunannya dengan menggunakan pendekatan saintifik, serta mengeksplisitkan hakikat sains dan berpikir kritis. Penelitian pengembangan dilakukan dengan menggunakan model 4D yang meliputi tahap perencanaan (Define), tahap perancangan (Design), tahap pengembangan (Develop), dan tahap penyebaran (Disseminate), namun untuk tahap penyebaran (Disseminate) tidak dilakukan. Bahan ajar yang dikembangkan, terdiri dari buku siswa dan buku guru. Validasi bahan ajar dilakukan oleh validator yang terdiri dari satu validator ahli materi, yaitu dosen dari Jurusan Kimia UM dan dua validator ahli pembelajaran, yaitu guru Kimia SMA/MA. Validasi dari produk pengembangan bahan ajar menghasilkan data kualitatif dan data kuantitatif. Data kuantitatif digunakan untuk mengetahui kelayakan produk dan diperoleh presentase sebesar 76,79% untuk buku siswa dengan kriteria layak dan 77,78% untuk buku guru dengan kriteria layak juga. Sedangkan, data kualitatif berupa saran dan komentar digunakan untuk revisi bahan ajar. Berdasarkan hasil validasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar berbasis pendekatan saintifik dengan mengeksplisitkan hakikat sains dan berpikir kritis pada materi benzena dan turunannya layak digunakan dalam proses pembelajaran di kelas.        

    Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari Perak Asetat dan1,4-Bis(difenilfosfino)butana dengan Stoikiometri 2 : 1

    No full text
    ABSTRAK Supriyanto, M.U. 2017. Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari Perak Asetat dan1,4-Bis(difenilfosfino)butana dengan Stoikiometri 2 : 1. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Effendy, Ph.D.(2) Dr. Fariati, M.Sc. Kata-kata kunci: senyawa koordinasi, perak asetat, 1,4-bis(difenilfosfino)butanaReaksi antara perak pentafluoropropionat (AgC2F5COO) dan1,4-bis(di-fenilfosfino)butana (dppb) menghasilkan senyawa kompleks dimer molekuler [Ag2(O2CC2F5)2(dppb)]2 dengan geometri trigonal planar terdistorsi di sekitar atom pusatnya. Perak pentafluoropropionat dan perak asetat memiliki perbedaan sifat basa pada anionnya. Ion asetat merupakan basa yang lebih kuat daripadaion pentafluoropropionat. Oleh karena itu, senyawa kompleks dari perak asetat dengan ligan yang sama kemungkinan menghasilkan senyawa kompleks yang berbeda strukturnya. Senyawa kompleks dari AgCH3COO dan dppb dengan stoikiometri 2 : 1 belum pernah disintesis. Tujuan penelitian ini adalah men-sintesis dan mengkarakterisasi senyawa kompleks dari perak asetat dan dppb dengan stoikiometri 2 : 1.  Struktur yang diperoleh dapat digunakan untuk mengetahui pola koordinasi ion asetat terhadap atom pusat.Senyawa kompleks disintesis dengan mereaksikan AgCH3COO dan dppb dengan perbandingan mol 2 : 1 dalam pelarut metanol. Senyawa kompleks hasil sintesis dikarakterisasi dengan uji titik lebur, analisis SEM-EDX, uji daya hantar listrik (DHL), dan uji kualitatif ion asetat. Uji titik lebur untuk mengetahui ke-murnian dan kebaruannya. Hasil analisis EDX untuk memperoleh rumus empiris senyawa. Uji DHL dan analisis kualitatif ion asetat untuk menentukan senyawa kompleks bersifat ionik atau molekuler. Berdasarkan hasil karakterisasi, rumus kimia senyawa kompleks dapat ditentukan dan strukturnya dapat diprediksi. Energi bebas dari struktur yang mungkin terbentuk  dihitung dengan program Gaussian 09W. Struktur yang diterima adalah struktur dengan energi bebas terendah.Reaksi antara AgCH3COO dan dppb dengan stoikiometri 2 : 1 meng-hasilkan kristal-kristal tidak berwarna, berbentuk prisma, dan melebur pada suhu 149-150 °C, yang menunjukkan bahwa senyawa tersebut baru dan murni. Hasil analisis EDX memberikan rumus empiris C16H17AgO2P. Hasil uji DHL dan uji kualitatif ion asetat mengindikasikan senyawa kompleks yang diperoleh adalah senyawa molekuler. Berdasarkan hasil karakterisasi, rumus kimia yang memenuhi adalah [Ag2(O2CCH3)2(dppb)]. Kompleks tersebut memiliki tiga kemungkinan struktur yaitu [Ag2(O2CCH3)2(dppb)] dengan geometri trigonal planar, [Ag2(O2C CH3)2(dppb)]2 dengan geometri trigonal planar terdistorsi, dan [Ag2(O2CCH3)2(dp pb)]2 dengan geometri tetrahedral terdistorsi. Struktur tersebut memiliki energi bebas per ikatan berturut-turut sebesar -417, -417, dan -439 kJ/mol. Struktur yang diterima adalah [Ag2(O2CCH3)2(dppb)]2 dengan geometri tetrahedral terdistorsi di sekitar atom pusatnya dan memiliki energi bebas per ikatan terendah. Struktur ini isostruktur dengan [Ag2(O2CCH3)2(dppf)]

    Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kimia Berbantuan Web Pada Materi Struktur Atom dan Tabel Periodik Unsur Kelas X

    No full text
    ABSTRAK   Reswari, Chamalia Ardhana. 2017. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kimia Berbantuan Web Pada Materi Struktur Atom dan Tabel Periodik Unsur Kelas X. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Parlan, M.Si. (II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd, M.Si.   Kata Kunci:  pengembangan, perangkat pembelajaran, kimia, website, struktur atom, tabel periodik unsur. Kurikulum terbaru saat ini dikenal dengan Kurikulum 2013 yang merupakan penyempurnaan kurikulum sebelumnya. Salah satu penyempurnaannya adalah pembelajaran yang dulu berpusat pada guru (teacher center), kini menjadi berpusat pada peserta didik (student center). Agar pembelajaran dapat berpusat pada peserta didik, pembelajaran di kelas menggunakan pendekatan saintifik. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik sudah berjalan beberapa waktu, namun kurangnya pemahaman guru terhadap pendekatan saintifik menyebabkan perancangan perangkat pembelajaran dan penerapannya masih kurang sesuai dengan tahapan pendekatan saintifik. Selain itu, banyaknya sub materi pada pokok bahasan struktur atom yang bersifat abstrak memungkinkan peserta didik tidak menguasai materi yang diajarkan dengan baik, sehingga memerlukan waktu yang lebih lama untuk membelajarkannya. Dengan demikian,  diperlukan perangkat yang dapat mengkonkretkan materi struktur atom dan tabel periodik unsur yaitu perangkat kimia berbantuan web. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah adaptasi model pengembangan Thiagarajan, dkk (1974) yang terdiri dari tahap define, design, develop, dan disseminate. Namun, penelitian yang dilakukan hanya sampai tahap develop. Subjek validasi dalam penelitian tediri dari satu dosen kimia dan dua guru kimia. Data hasil validasi berupa data kualitatif yang berupa kritik, saran, dan komentar dan data kuantitatif berupa nilai persentase dari angket yang diisi oleh validator. Data yang diperoleh kemudian dikalkulasi dan digolongkan berdasarkan kriteria kelayakan perangkat pembelajaran. Disamping itu, dilakukan uji keterbacaan terhadap 10 peserta didik saja. Hasil pengembangan perangkat pembelajaran kimia menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran kimia yang dikembangkan sangat valid dengan persentase sebesar 83,3% untuk silabus, 85,4% untuk RPP, 81,3% untuk handout, 84% untuk LKS, dan 82,5% untuk tampilan web. Kelayakan perangkat pembelajaran yang dikembangkan didukung dengan hasil uji keterbacaan terhadap 10 peserta didik yang telah menempuh materi struktur atom dan tabel periodik unsur dengan persentase kelayakan LKS sebesar 82,5%, handout sebesar 84,5%, dan website pembelajaran sebesar 86,1%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran kimia berbantuan web yang dikembangkan sudah memenuhi kriteria layak digunakan dalam pembelajaran kimia.

    Identifikasi Pengetahuan Metakognitif Peserta Didik Kelas XI MIPA SMA Negeri 5 Malang pada Materi Asam Basa

    No full text
    ABSTRAK Safitri, Ina.2017. Identifikasi Pengetahuan Metakognitif Peserta Didik  Kelas XI MIPA SMA Negeri 5 Malang pada Materi Asam Basa.Skripsi,Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Parlan, M.Si. (II) Drs Ida Bagus Suryadharma, M.S Kata kunci : pengetahuan metakognitif, pengetahuan deklaratif, pengetahuan prosedural, pengetahuan kondisional, asam basaSubstansi ilmu kimia yang kompleks menjadikan hasil belajar kognitif dalam pembelajaran kimia sangat penting. Hasil belajar kimia diharapkan tidak hanya tampak dari menghafal fakta, konsep, teori, atau hukum tetapi juga pemahaman yang mendalam mengenai materi. Namun selama ini hasil belajar yang diharapkan belum tercapai secara optimal terutama pada materi yang kompleks seperti asam basa. Kemampuan metakognisi merupakan aspek penting dalam proses belajar. Kemampuan metakognisi dapat dibagi menjadi dua yaitu pengetahuan metakognitif dan ketrampilan metakognitif. Pengetahuan metakognitif memegang peran penting dalam pengolahan pengetahuan yang dimiliki serta dalam pemecahan masalah. Peserta didik yang memiliki pengetahuan metakognitif yang baik dapat menggunakan informasi yang diketahui dari soal dengan tepat, menyusun strategi penyelesaiannya, serta dapat menjelaskan kapan dan mengapa menggunakan strategi tersebut. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengetahuan metakognitif peserta didik yang meliputi pengetahuan deklaratif, pengetahun prosedural, dan pengetahuan kondisional pada materi asam basa.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah metode survei. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas XI MIPA H-4 SMA Negeri 5 Malang yang telah mempelajari materi asam basa. Instrumen yang digunakan adalah tes tertulis yang terdiri dari 10 butir soal pilihan ganda yang dikembangkan peneliti disertai tes pengetahuan metakognitif yang diadopsi dari Rompayom (2010). Instrumen valid secara isi dan butir dengan reliabilitas sangat tinggi (0,894). Data dikumpulkan dengan tes. Setelah penskoran, reliabilitas data penelitian diuji dengan metode interrater reliability yang dihitung dengan koefisien Kappa. Hasil pengujian interrater reliability sangat baik (0,87). Hasil tersebut menunjukkan bahwa data penelitian reliabel dan valid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengetahuan deklaratif 64% peserta didik berada pada kategori sedang, 5% dalam kategori tinggi, dan 31% dalam kategori rendah. Sebesar 61% peserta didik memiliki tingkat pengetahuan prosedural rendah, 27% dalam  kategori sedang, dan 12% dalam kategori tinggi. Pada pengetahuan kondisional, 85% peserta didik dalam kategori rendah, 12% dalam kategori sedang, dan 3% dalam kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan metakognitif peserta didik rendah. Peserta didik  mampu menyebutkan konsep terkait dengan pertanyaan namun belum dapat mendeskripsikannya dengan jelas. Peserta didik belum mampu mendeskripsikan strategi yang digunakan dalam pemecahan masalah asam basa serta tidak dapat menjelaskan kapan dan mengapa menggunakan strategi tertentu dalam pemecahan masalah asam basa

    SURVEI PEMAHAMAN KONSEPTUAL TERMOKIMIA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 PARE MENGGUNAKAN INSTRUMEN TES PILIHAN GANDA

    No full text
    ABSTRAK Sayekti, Indah. 2017. Survei Pemahaman Konseptual Termokimia Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Pare Menggunakan Instrumen Tes Pilihan Ganda. Skripsi, jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) M­untholib S. Pd., M. Si., (II) Drs. Dermawan Afandy, M. Pd. Kata kunci:  pemahaman konseptual, miskonsepsi, termokimiaIlmu kimia merupakan salah satu ilmu sains yang membahas tentang struktur, sifat, dan reaksi-reaksi yang terjadi pada materi. Setiap reaksi mematuhi dua hukum dasar yakni, hukum kekekalan massa dan hukum kekekalan energi. Hukum kekekalan energi secara khusus dibahas dalam termokimia. Pemahaman konseptual termokimia sangat penting bagi siswa karena konsep-konsep termokimia merupakan salah satu prasyarat untuk dapat mempelajari materi kimia lain yang lebih kompleks. Oleh karena itu, perlu dilakukan survei mengenai pemahaman konseptual termokimia siswa agar dapat diketahui sejauh mana pemahaman yang dimiliki siswa. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pemahaman konseptual siswa kelas XI SMA Negeri 1 Pare terhadap materi termokimia dan mengidentifikasi jenis kesalahan konsep siswa.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI SMAN 1 Pare sebanyak 130 siswa. Instrumen penelitian yang digunakan berupa tes survei pemahaman konseptual yang terdiri dari 25 soal pilihan ganda dengan 5 pilihan jawaban.Analisis statistik menunjukkan bahwa reliabilitas dari instrumen tersebut adalah 0,856. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman siswa terhadap konsep-konsep termokimia berkisar antara 32,05% hingga 57,69% dengan pemahaman rata-rata46,78%dan termasuk ke dalam kategori sedang. Rincian rata-rata pemahaman siswa terhadap konsep-konsep materi termokimia adalah sebagai berikut: (1) konsep sistem dan lingkungan sebesar 43,23% dan termasuk ke dalam kategori sedang, (2) konsep kalor sebesar 42,31% dan termasuk ke dalam kategori sedang, (3) konsep eksoterm dan endoterm sebesar 48,08% dan termasuk ke dalam kategori sedang, (4) konsep persamaan termokimia sebesar 46,16% dan termasuk ke dalam kategori sedang, (5) konsep jenis-jenis perubahan entalpi sebesar 32,05% dan termasuk ke dalam kategori rendah, (6) konsep energi ikatan sebesar 52,31% dan termasuk ke dalam kategori sedang, (7) konsep entalpi pembentukan standar sebesar 43,08% dan termasuk ke dalam kategori sedang, (8) konsep hukum Hess sebesar 57,69% dan termasuk ke dalam kategori sedang, dan(9) konsep hemat energi bahan bakar sebesar 56,16% dan termasuk ke dalam kategori sedang. Sedangkan beberapa jenis kesalahan konsep yang ditemukan antara lain: (1) siswa menganggap bahwa yang berperan sebagai sistem hanya larutan yang direaksikan saja, sedangkan hasil reaksi merupakan lingkungan, dan tabung reaksi merupakan batas yang memisahkan antara sistem dan lingkungan, (2) Perpindahan kalor hanya dipengaruhi oleh massa saja, atau oleh temperatur saja, (3) Siswa juga kesulitan menentukan apakah perubahan air menjadi es termasuk ke dalam peristiwa eksotermik atau endotermik, (4) energi diperlukan untuk membentuk suatu ikatan begitupun sebaliknya, (5) energi ikatan pada ikatan tunggal, rangkap dua, dan rangkap tida adalah sama, dan (6) siswa terbalik dalam menggunakan rumus perhitungan ΔH

    Pengaruh Penggunaan Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)-Study History Sheet (SHS) Bahan Ajar Berbasis Green Chemistry Pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan terhadap Prestasi Belajar Belajar siswa kelas XI SMA Negeri 10 Malang

    No full text
    ABSTRAK   Subandi, Elinira. 2017. Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)-Study History Sheet (SHS) Bahan Ajar Berbasis Green Chemistry pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan terhadap Prestasi Belajar Belajar Siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Malang. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I)Drs. H. Ridwan Joharmawan, M.Si. (II) Drs. Aman Santoso, M.Si.   Kata kunci: Problem Based Learning (PBL), Study History Sheet (SHS),Green Chemistry, Prestasi Belajar   Green chemistry adalah konsep yang berisi pendekatan tentang cara pencegahan pencemaran. Penerapan konsep green chemistry kedalam pembelajaran menggunakan model pembelajaran problem based learning. PBL (Problem Based Learning) merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada kerangka kerja teoritik konstruktivisme. Penggunaan Study history sheet yaitu lembar kertas yang digunakan siswa untuk merangkum materi pembelajaran bersama dengan model pembelajaran problem based learning dan green chemistry dalam upaya memaksimalkan peningkatan prestasi belajar siswa pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)-Study History Sheet (SHS) bahan ajar berbasis Green Chemistry pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan terhadap prestasi belajar belajar siswa kelas XI SMA Negeri 10 Malang. Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI IPA SMAN 10 Malang pada tahun ajaran 2013/2014 yang terdiri dari 3 kelas. Dua kelas diambil sebagai sampel dengan teknik cluster random sampling. Kelas kontrol (XI IPA-1) dibelajarkan dengan model pembelajaran problem based learning, sedangkan kelas eksperimen dibelajarkan dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)-Study History Sheet (SHS) bahan ajar berbasis Green Chemistry. Intrumen untuk mengambil data prestasi belajar kognitif adalah tes ulangan harian. Instrumen untuk mengambil prestasi belajar afektif adalah angket. Analisis data hasil penelitian dilakukan secara deskriptif dan statistik. Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran problem based learning (PBL)-study history sheet (SHS) bahan ajar berbasis green chemistry pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan terhadap prestasi belajar afektif khususnya sikap peduli siswa terhadap pencemaran air. Sedangkan analisis statistik digunakan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran problem based learning (PBL)-study history sheet (SHS) bahan ajar berbasis green chemistry pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan terhadap prestasi belajar kognitif. Prestasi belajar kognitif siswa kelas dengan perlakuan problem based learning (PBL)-study history sheet (SHS) bahan ajar berbasis green chemistry lebih tinggi ( = 79) dibandingkan dengan prestasi belajar kognitif siswa pada kelas dengan perlakuan model pembelajaran problem based learning ( = 76). Demikian juga prestasi belajar afektif siswa khususnya sikap peduli pada masalah pencemaran air kelas dengan perlakuan problem based learning (PBL)-study history sheet (SHS) bahan ajar berbasis green chemistry lebih tinggi daripada kelas dengan perlakuan model pembelajaran problem based learning. Hal ini dibuktikan dengan data persentase rata-rata sikap kepedulian siswa pada masalah pencemaran air kelas dengan perlakuan model pembelajaran problem based learning sebesar 90 %, sedangkan kelas dengan perlakuan problem based learning (PBL)-study history sheet (SHS) bahan ajar berbasis green chemistry sebesar 92%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)-Study History Sheet (SHS) bahan ajar berbasis Green Chemistry pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan terhadap prestasi belajar belajar siswa kelas XI SMA Negeri 10 Malang

    UPAYA MENCEGAH MISKONSEPSI MATERI STOIKIOMETRI DENGAN STRATEGI PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING PADA SISWA KELAS X MIA SMA NEGERI 1 LAWANG

    No full text
    ABSTRAK   ABSTRAK: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penggunaan strategi  pembelajaran Problem Solving terhadap hasil belajar kognitif sebagai upaya mencegah miskonsepsi siswa pada materi stoikiometri. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu (Quasy Experimental Design) dengan posttest only control group design. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X MIA SMA Negeri 1 Lawang semester genap tahun ajaran 2016/2017, terdiri dari 7 kelas MIA. Sampel yang terpilih adalah kelas X MIA 5 sebagai kelas kontrol dan kelas X MIA 6 sebagai kelas eksperimen. Teknik pengumpulan data menggunakan soal pilihan ganda three­tier yang diadopsi dari penelitian Aini (2014). Uji coba ulang soal diperoleh hasil 30 soal valid, rata-rata taraf kesukaran sebesar 0,35 dengan kriteria sedang, rata-rata daya beda sebesar 0,41 dengan kriteria baik, dan nilai reliabilitas sebesar 0,735 dengan kriteria tinggi. Analisis data penelitian ini menggunakan teknik persentase miskonsepsi dari hasil belajar kognitif siswa pada materi stoikiometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) rata-rata persentase siswa yang mengalami miskonsepsi materi stoikiometri dengan pembelajaran strategi Problem Solving lebih sedikit (2,86%) daripada siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional (7,22%), (2) hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan dengan strategi Problem Solving (83,26) lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional (76,67), oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa upaya mencegah miskonsepsi siswa dapat dilakukan dengan menggunakan strategi pembelajaran Problem Solving.   Kata kunci: Problem Solving, Stoikiometri, Miskonseps

    Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Learning Cycle 5-E pada Materi Senyawa Hidrokarbon Kelas XI Semester 1 SMA/MA

    No full text
    ABSTRAK ABSTRAK Putri, Andreana Widya. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Learning Cycle 5-E pada Materi Senyawa Hidrokarbon Kelas XI Semester 1 SMA/MA. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Muhammad Su’aidy, M.Pd, (II) Drs. Ida Bagus Suryadharma, M.S. Kata Kunci: bahan ajar, learning cycle 5-E, senyawa hidrokarbon.Senyawa hidrokarbon merupakan salah satu materi dalam ilmu kimia yang bersifat deskriptif. Materi yang bersifat deskriptif akan lebih baik jika diajarkan dengan menerapkan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan peserta didik. Senyawa hidrokarbon yang diajarkan dengan model pembelajaran konvensional akan membuat peserta didik hanya belajar menghafal. Untuk melatih keaktifan peserta didik perlu diterapkan model pembelajaran yang sesuai serta dilengkapi dengan bahan ajar yang mendukung. Namun sampai saat ini bahan ajar yang digunakan pada pembelajaran kimia kebanyakan hanya berupa buku teks. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan bahan ajar berbasis pembelajaran inovatif, salah satunya dengan menerapkan Learning Cycle 5-E. Learning Cycle 5-E merupakan model pembelajaran yang dapat membimbing peserta didik untuk ikut aktif dalam pembelajaran yang terdiri dari lima tahapan, yaitu engagement, exploration, explanation, elaboration, dan evaluation.Model penelitian dan pengembangan yang digunakan dalam pengembangan bahan ajar ini mengadaptasi dari model pengembangan 4-D menurut Thiagarajan (1974) yang terdiri dari empat tahap, yaitu define, design, develop, dan disseminate. Pada pengembangan bahan ajar ini hanya dilakukan sampai tahap develop karena keterbatasan waktu. Untuk bahan ajar hasil pengembangan selanjutnya dilakukan uji kelayakan isi oleh satu dosen kimia dan dua guru kimia SMA, selanjutnya uji keterbacaan pada peserta didik kelas XI MIPA SMA. Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa angket yang berisi skor penilaian disertai komentar dan saran. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dan digunakan sebagai pedoman untuk melakukan revisi. Hasil dari pengembangan yang dilakukan berupa buku guru dan buku peserta didik yang berbasis learning cycle 5-E dengan materi senyawa hidrokarbon. Hasil untuk uji kelayakan isi dan penyajian buku peserta didik berturut-turut adalah 89 dan 91, dengan kriteria sangat layak. Hasil uji kelayakan isi dan penyajian buku guru adalah 90 dan 96, dengan kriteria sangat layak. Hasil uji keterbacaan adalah 84, dengan kriteria sangat menarik dan mudah dipahami. Berdasarkan hasil keseluruhan dapat disimpulkan bahwa bahan ajar ini sangat layak untuk digunakan

    0

    full texts

    1,785

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇