SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Pengaruh Strategi Pembelajaran Metakognitif PDCA (Preparing, Doing, Checking, Assessing and Following-Up) terhadap Pengetahuan Metakognitif dan Prestasi Belajar Siswa Kelas X SMAN 9 Malang pada Materi Reaksi Redoks
RINGKASANNugroho, Rohmat. 2019. Pengaruh Strategi Pembelajaran Metakognitif PDCA (Preparing, Doing, Checking, Assessing and Following-Up) terhadap Pengetahuan Metakognitif dan Prestasi Belajar Siswa Kelas X SMAN 9 Malang pada Materi Reaksi Redoks. Program Studi S1 Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: Dr. H. Parlan, M.Si., Pembimbing II: Drs. H. Mohammad Sodiq Ibnu, M.Si. Kata-kata kunci: metakognisi, strategi metakognitif, prestasi belajar, redoks. Kesulitan belajar sering dialami oleh siswa karena kurang mampu menggunakan metakognisinya dalam membangun pengetahuan. Kemampuan menggunakan metakognisi dalam pembelajaran mempengaruhi kemampuan memecahkan masalah dan keberhasilan akademik siswa. Untuk meningkatkan kemampuan metakognitif digunakan strategi metakognitif dalam proses belajar yang mendorong dan menstimulasi siswa untuk menggunakan kemampuan metakognitif dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh strategi pembelajaran metakognitif PDCA (Preparing, Doing, Checking, Assessing and Following-Up) terhadap peningkatan pengetahuan metakognitif dan prestasi belajar siswa pada materi reaksi redoks. Penelitian ini menggunakan rancangan kuasi eksperimen dengan menggunakan desain pretest dan posttest. Penelitian dilaksanakan di SMAN 9 Malang yang melibatkan dua kelas, kelas X IPA 4 sebagai kelas eksperimen yang dibelajarkan dengan strategi metakognitif PDCA dan kelas X IPA 3 sebagai kelas kontrol yang dibelajarkan dengan UKBM. Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun 2018/2019, dimulai tanggal 11 s/d 29 Maret 2019. Data dikumpulkan dengan mengerjakan pretest dan posttest menggunakan instrumen yang telah dibuat oleh Prasetyo (2018) yang dimodifikasi dari instrumen Rompayom et al. (2010) dan mengisi kuisioner MAI (Metacognitive Awareness Inventory) yang dikembangkan oleh Schraw & Dennison (1994). Analisis data dilakukan dengan teknik deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa ada perbedaan pengetahuan metakognitif dan prestasi belajar siswa kelas SM-PDCA dan kelas UKBM. Siswa yang dibelajarkan menggunakan strategi metakognitif PDCA menunjukkan peningkatan kemampuan metakognitif dan prestasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang dibelajarkan dengan UKBM. Strategi pembelajaran metakognitif PDCA memiliki keefektifan dalam meningkatkan pengetahuan metakognitif siswa utamanya pengetahuan deklaratif dengan nilai deffect size dan N-Gain berturut-turut sebesar 1,26 dan 0,21 (sedang), pengetahuan prosedural memiliki nilai d-effect size dan N-Gain berturut-turut sebesar 1,21 dan 0,15 (sedang), dan pengetahuan kondisional (data kurang lengkap), serta meningkatkan prestasi belajar siswa dengan d-effect size dan N-Gain berturut-turut sebesar 1,73 dan 0,35 (tinggi). Selain itu strategi metakognitif PDCA juga meningkatkan keterampilan metakognitif siswa.  
Pengembangan Instrumen Diagnostik Four-Tier Untuk Mengidentifikasi Pemahaman Siswa Pada Materi Hidrolisis Garam
RINGKASAN Husniah, Isnatul. 2019. Pengembangan Instrumen Diagnostik Four-Tier Untuk Mengidentifikasi Pemahaman Siswa Pada Materi Hidrolisis Garam, Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Habiddin, M.Pd., Ph.D. (2) Drs. Muhammad Su’aidy, M.Pd. Kata Kunci: Instrumen four-tier, identifikasi pemahaman, hidrolisis garam Instrumen diagnostik berfungsi untuk mengetahui ke¬le¬mahan-kele¬mahan pemahaman siswa pada konsep materi tertentu, sehingga nan¬tinya dapat diberikan tindak lanjut berupa perlakuan pembelajaran dengan tepat. Salah satunya yaitu pada materi pela¬jaran kimia yaitu hidrolisis garam pada kelas XI SMA yang perlu dianalisis. Penelitian ini dilaksanakan bertujuan untuk menyusun instrumen diag-nostik four-tier yang valid. Instrumen tersebut memiliki em¬pat tingkatan yaitu pada ting¬kat pertama berisi jawaban dari pertanyaan pilihan ganda, tingkat kedua berisi tentang tingkat keyakinan jawaban siswa, tingkat keti¬ga berisi pilihan alasan yang sesuai dengan jawaban, dan tingkat yang keempat ya¬¬itu tingkat keyakinan siswa memilih alasan. Penelitian ini menggunakan metode pengembangan pada model penelitian milik Treagust (1988) yang telah dilakukan modifikasi oleh Habiddin & Page (2019). Model penelitian tersusun dalam 6 tahapan, dian¬taranya; (1) Pemetaan konsep (mapping concept); (2) Uji coba & wawancara (testing & interviewing); (3) Identifikasi konsep siswa yang tidak santifik (defining students unscientific ide¬as¬); (4) Peng¬embangan prototipe instrumen diagnostik four-tier (developing the pro¬to-type four-tier); (5) Validasi prototipe instrumen diagnostik four-tier (validating the prototype four-tier); dan (6) Revisi produk hasil (refining the final four-tier). Materi yang dikembangkan yaitu pada KD 3.11 dalam instrumen pilihan ganda alasan terbuka yang dikerjakan dalam 2 kelas 11 SMA. Selanjutnya jawaban dan alasan dianalisis digunakan untuk pengembangan instrumen diagnostik four-tier pada jawaban alasan. Instrumen instrumen diagnostik four-tier ini dikerjakan oleh 64 siswa pada kelas 11 SMA Negeri 2 Malang dan hasilnya dilakukan analisis data. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh hasil peng¬embangan uji coba instrumen diagnostik four-tier berupa analisis validasi isi dan validasi empirik. Pada validasi isi untuk semua nomor dan semua kriteria komponen soal masuk kriteria valid, sedangkan validasi empirik diantaranya yaitu, uji validitas butir soal terdapat instrumen diagnostik four-tier yang tidak valid yaitu pada: (1) nomor 10,14 dan 18 pada ti¬er A (pilihan jawaban); (2) nomor 14,17 dan 19 pada tier R (pilihan alasan); serta (3) nomor 10, 14, dan 17, untuk tier B (pilihan jawaban dan alasan), sedangkan untuk uji reliabilitas butir soal baik pada pilihan jawaban, pilihan alasan, dan pilihan jawa¬ban-alasan semua nilainya tinggi. Kemudian untuk tingkat kesukaran butir soal pada jawaban, alasan, dan jawaban-alasan rata-rata semua tergolong sedang atau mudah bukan tergolong sukar, sedangkan untuk daya beda terdapat soal yang tidak sesuai dan keefektivitas distraktor masih ditemukan yang tidak masuk kriteria efek¬tif. Kemudian untuk soal yang tidak layak diperbaikan atau revisi dan menghasilkan produk akhir instrumen diagnostik four-tier. SUMMARY Husniah, Isnatul. 2019. The Development of Four-Tier Diagnostic Instrument to Identify Students’ Understanding on Salt Hydrolysis Material, Undergraduate Thesis, Department of Chemistry, Faculty of Mathematic and Science, State University of Malang. Advisor: (1) Habiddin, M.Pd., Ph.D. (2) Drs. Muhammad Su’aidy, M.Pd. Keyword: Four-Tier Instrument, Understanding Identification, Salt Hydrolysis. The diagnostic instrumen can be used to find out the lack of Students’ Understanding on certain materials, so that later the right learning treatment can be given as a further act. One of the chemistry materials is salt hydrolysis in XI grade high school. This research was done with the purpose to make a valid of instrument four-tier diagnostic test. The instrument has four level as for the first level was the answer of the multiple choices question, the second level was students’ confidence of their answer, the third level was choices of the reason related to the previous answer, the fourth level was the students’ confidence of chosing the reason. This research used the development methods that was used in Treagust research model (1988) which has been modified by Habiddin & Page (2019). This research models design in six steps; (1) mapping concept; (2) testing & interviewing; (3) defining students unscientific ide¬as; (4) developing the pro¬to¬type four-tier; (5) validating the prototype four-tier; and (6) refining the final four-tier. Material developed was KD 3.11 in multiple choices instrument with open minded reason that was done by 2 classes in XI grade high school furthermore, the answer and reason analized and used for the development of diagnostic instrument in reason of answer. Four-tier diagnostic instrument was done by 64 students of XI grade at SMA Negeri 2 Malang and the result was analized. Based on the result of data analysis, the result of the development testing of four-tier instrument were obtained in form of content validation and empirical validation. For content validation all the number of question and all criteria question was valid, whereas empirical validation include the validity of questions was invalid four-tier diagnostic instrument in question (1) number 10,14 and 18 in A tier (multiple choice for answer); (2) number 14,17 and 19 in R tier (multiple choice for reason); and (3) number 10,14 and 17 in B tier (multiple choice for answer and reason), as for the question’s realibility test both with the multiple choice for answer, multiple choice for reason, and multiple choice for answer-reason was high scored. For the question’s difficulty level in answer, reason, and answer-reason was averagely classified as middle difficulties or easy not difficult, as of the different power there were questions that don’t suit and the effectiveness of the distractor that doesn’t effective still found. Furthermore for questions that didn’t suitable for fixing or revision and resulting the final product of four-tier diagnostic instrument
Preparasi, Karakterisasi, dan Uji Aktivitas Antibakteri Zn-Ag-Zeolit Terhadap Bakteri Escherichia coli
RINGKASANPrastika, Annes Widya Candra. 2019. Preparasi, Karakterisasi, dan Uji Aktivitas Antibakteri Zn-Ag-Zeolit Terhadap Bakteri Escherichia coli. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Ridwan Joharmawan, M.Si., (II) Dr. Aman Santoso, M.Si.Kata Kunci: Zn-Ag-zeolit, antibakteri, Escherichia coliAir merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi makhuk hidup. Namun, saat ini sumber-sumber air telah banyak yang tercemar sehingga menyebabkan air menjadi terkontaminasi oleh bakteri patogen dan kontaminan lainnya. Salah satu bakteri patogen yang umumnya terdapat dalam air ialah bakteri Escherichia coli. Untuk menghilangkan adanya bakteri patogen yang terdapat dalam air maka perlu dilakukan pengolahan air. Tahap desinfeksi pada proses pengolahan air dapat menyebabkan adanya residu klorin dalam air dan dapat mengakibatkan penyakit tertentu. Oleh karena itu diperlukan bahan lain yang berfungsi sebagai antibakteri dan dapat digunakan dalam proses pengolahan air. Zeolit merupakan salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri. Untuk memperoleh zeolit yang memiliki sifat antibakteri maka kation logam alkali atau alkali tanah yang terdapat dalam zeolit harus ditukar dengan kation logam inhibitor. Tujuan penelitian ini ialah untuk mensintesis, mengkarakterisasi, dan melakukan uji aktivitas antibakteri Zn-Ag-zeolit terhadap bakteri Escherichia coli.Zn-Ag-zeolit disintesis dari zeolit alam yang diaktivasi menggunakan HF 1%, HCl 6 M dan NH4Cl 1 M. Kemudian impregnasi logam Ag dan Zn dilakukan dengan menggunakan AgNO3 0,05 M dan Zn(NO3)2 dengan 3 variasi konsentrasi yaitu 0,01; 0,025; dan 0,05 M. Zn-Ag-Zeolit yang telah disintesis kemudian dikarakterisasi menggunakan spektrofotometer serapan atom, difraksi sinar X, dan dilakukan uji keasaman. Untuk menentukan aktivitas antibakteri dari Zn-Agzeolit yang telah disintesis, dilakukan uji aktivitas antibakteri Zn-Ag-zeolit terhadap bakteri Escherichia coli dengan menggunakan metode turbidimetri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Zn-Ag-zeolit dapat disintesis dari zeolit alam yang sebelumnya telah diaktivasi terlebih dahulu kemudian diimpregnasi dengan logam Ag dan Zn. Pola difraktogram zeolit menunjukkan bahwa proses aktivasi dan impregnasi tidak mengubah kristalinitas zeolit. Karakterisasi menggunakan spektrofotometer serapan atom menunjukkan bahwa impregnasi logam yang dilakukan telah berhasil, dengan persen adsorptivitas zink paling besar terdapat pada Zn-Ag-zeolit 0,05 M yaitu sebesar 92,48%. Uji keasaman yang telah dilakukan menunjukkan bahwa keasaman zeolit setelah aktivasi dan impregnasi lebih besar dibandingkan dengan keasaman zeolit sebelum aktivasi dan impregnasi. Uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa Zn-Ag-zeolit memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri E.coli dan Zn-Agzeolit 0,05 M memiliki aktivitas antibakteri yang paling besar dengan penurunan sebesar 86,283%
Pengembangan Instrumen Untuk Mendiagnosis Miskonsepsi Siswa SMA Kelas XI Pada Materi Laju Reaksi Melalui Three-tier Diagnostic Test
RINGKASAN Prasasti, Tirangga Lutfi. 2019. Pengembangan Instrumen Untuk Mendiagnosis Miskonsepsi Siswa SMA Kelas XI Pada Materi Laju Reaksi Melalui Three-tier Diagnostic Test. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Muhammad Su’aidy, M.Pd., (II) Dr. H. Parlan, M.Si. Kata Kunci: three-tier diagnostic test, miskonsepsi, laju reaksi Salah satu materi dalam ilmu kimia adalah laju reaksi. Konsep-konsep dalam laju reaksi terdiri dari konsep yang paling sederhana sampai konsep yang paling kompleks. Materi laju reaksi pada dasarnya memerlukan pengetahuan dan pemahaman konsep dasar yang kuat karena cakupan materinya sangat luas. Selain itu, konsep-konsep yang harus dipahami siswa pada materi laju reaksi cenderung tentang konsep pada level simbolik, mikroskopik, dan makroskopik yang saling berkaitan satu sama lain. Berdasarkan karakteristik tersebut siswa sulit memahami konsep-konsep dalam laju reaksi dengan benar. Selain itu, kesulitan yang dialami siswa dalam memahami suatu materi juga bisa disebabkan karena siswa mengalami miskonsepsi. Siswa yang mengalami miskonsepsi pada salah satu konsep dasar akan mengakibatkan munculnya miskonsepsi pada konsep yang lebih kompleks. Oleh sebab itu, sangat penting mengetahui miskonsepsi yang dialami siswa. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi miskonsepsi siswa adalah three-tier diagnostic test. Instrumen tersebut dapat membedakan siswa yang paham konsep, miskonsepsi, kurang paham konsep, dan siswa yang hanya menebak saat menjawab soal. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen untuk mendiagnosis miskonsepsi siswa SMA kelas XI pada materi laju reaksi melalui three-tier diagnostic test. Model penelitian yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini adalah mengadaptasi beberapa model penelitian pengembangan dari Treagust (1988) dengan modifikasi. Tahap-tahap penelitian pengembangan adalah: (1) menentukan cakupan materi; (2) menggali miskonsepsi siswa; (3) mengembangkan three-tier diagnostic test; (4) validasi instrumen three-tier diagnostic test; (5) revisi produk. Soal pilihan ganda dengan alasan terbuka disebarkan pada 127 siswa kelas XI MIA SMAN 1 Pakel Tulungagung untuk menggali miskonsepsi siswa yang digunakan sebagai alternatif alasan pada tier kedua. Uji coba instrumen three-tier diagnostic test dilakukan pada 121 siswa kelas XI MIA MAN 2 Tulungagung. Validator pada penelitian pengembangan ini adalah satu dosen kimia FMIPA UM dan dua guru kimia SMA Brawijaya Smart School Malang. Berdasarkan hasil validasi yang diperoleh dari validator, didapatkan rata-rata persentase validasi isi sebesar 88,1% dan rata-rata persentase validasi konstruk sebesar 84,55%. Hal itu menunjukkan bahwa instrumen tersebut sangat layak digunakan. Hasil uji coba menunjukkan nilai reliabilitas soal, validitas, daya beda, dan tingkat kesukuran butir soal. Nilai reliabilitas dari 35 soal adalah 0,889. Nilai reliabilitas dari 27 soal yang valid adalah 0,913. Dari 27 soal tersebut nilai validitasnya antara 0,366-0,772; daya bedanya antara 0,243-0,721; tingkat kesukaranya antara 0,231-0,868
Preparasi, Karakterisasi, dan Uji Aktivitas Antibakteri Cu-Ag/Zeolit terhadap Bakteri Escherichia coli (E.coli)
RINGKASANSudibyo, S.Y. 2019. Preparasi, Karakterisasi, dan Uji Aktivitas Antibakteri Cu-Ag/Zeolit Terhadap Bakteri Escherichia coli (E.coli). Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. H. Ridwan Joharmawan, M.Si., (II) Drs. Ida Bagus Suyardharma M.SKata kunci : Zeolit alam, tembaga, perak, tembaga-perak zeolit, antibakteri, E. coliAir merupakan sumber daya yang penting bagi semua bentuk kehidupan di muka bumi. Air diklasifikasikan menjadi 4 kelas. Air minum yang baik harus memenuhi syarat baku mutu air. Air untuk diminum harus aman dan bebas dari mikroorganisme penyebab penyakit serta bahan-bahan kimia yang menggangu kesehatan. Keberadaan bakteri E.coli dalam air dapat digunakan indikator air tersebut tercemar sehingga tidak layak dikonsumsi. Salah satu alternatif metode pengolahan air adalah dengan menggunakan zeolit tembaga-perak yang dapat berfungsi sebagai bahan antimikroba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik zeolit alam sebelum dan sesudah diimpregnasi, mengetahui konsentrasi maksimum garam tembaga yang dikombinasikan dengan garam perak terhadap kemampuan zeolit/Cu-Ag yang dihasilkan sebagai bahan antibakteri bakteri E. coli serta mengetahui efektivitas antibakteri zeolit alam yang diimpregnasi logam perak dan tembaga terhadap bakteri E. coli.Penelitian dilakukan melalui tiga tahap. Tahap pertama, aktivasi zeolit alam (Z-A) secara kimia dengan larutan HF, HCl, NH4Cl, kemudian aktivasi secara fisika dilakukan proses kalsinasi pada suhu 550 oC sehingga diperoleh zeolit aktif (Z-Ak). Tahap kedua, proses impregnasi zeolit aktif dengan garam Ag2SO4 sehingga menjadi zeolit Ag (Z-Ag) kemudian dilanjutkan dengan garam CuSO4 dengan berbagai konsentrasi garam CuSO4 yaitu 0,01 M; 0,025 M; 0,05 M sehingga diperoleh Z-Cu0,01Ag; Z-Cu0,025Ag; Z-Cu0,05Ag. Tahap ketiga, uji karakterisasi meliputi AAS, XRD, uji keasaman, dan uji aktivitas antibakteri secara turbidimetri. Hasil analisis dengan XRD membuktikan bahwa tidak adanya perbedaan kristalinitas zeolit alam aktif dan zeolit alam hasil impregnasi. Hasil keasaman zeolit yang telah diimpregnasi dengan Ag dan Cu lebih tinggi daripada zeolit alam aktif. Diantara ketiga varian, keasaman zeolit yang paling besar adalah Z-Cu0,05Ag sebesar 4,694. Hasil pengujian dengan AAS jumlah logam terbanyak juga terdapat pada Z-Cu0,05Ag dengan logam perak sebanyak 17,18 ppm dan logam tembaga sebanyak 279,58 ppm. Setelah diuji sebagai antibakteri, Z-Cu0,05Ag merupakan yang paling efektif karena pada Z-Cu0,05Ag terjadi penurunan tertinggi sebesar 85,40%
SKRINING TURUNAN ALKALOID SEBAGAI KANDIDAT INHIBITOR PROTEASE DARI VARICELLA ZOSTER VIRUS MENGGUNAKAN PENDEKATAN MOLECULAR DOCKING
RINGKASAN Ghozali, Fadly. 2019. Skrining Turunan Alkaloid sebagai Kandidat Inhibitor Protease dari Varicella Zoster Virus menggunakan Pendekatan Molecular Docking. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Yahmin, S.Pd., M.Si., (II) Dr. Suharti, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: alkaloid, VZV protease, varicella zoster virus, molecular docking Varicella Zoster Virus (VZV) adalah salah satu virus yang menyebabkan penyakit herpes zoster. Acyclovir merupakan salah satu senyawa yang secara luas telah digunakan sebagai obat untuk penyakit herpes zoster. Namun, resistensi terhadap obat anti VZV ini mulai terbentuk dan juga obat ini memiliki beberapa efek samping seperti gagal ginjal dan neurotoksik sehingga diperlukan pencarian obat baru yang lebih efektif dan aman. VZV protease merupakan salah satu protease yang berperan penting dalam siklus hidup virus varicella zoster. Hal tersebut menjadikan VZV protease berpotensi untuk dijadikan sebagai target inhibisi karena peranannya yang sangat penting dalam proses perakitan kapsid dan pengemasan DNA virus. Inhibitor yang digunakan untuk menginhibisi VZV protease yaitu senyawa turunan alkaloid. Senyawa turunan alkaloid dipilih sebagai inhibitor karena telah terbukti secara in vitro sebagai antivirus untuk virus influenza, herpes simplex virus (HSV), dan dengue virus (DENV). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh senyawa turunan alkaloid yang berpotensi sebagai inhibitor VZV protease dengan metode pendekatan molecular docking dan mengkaji interaksi apa saja yang terjadi antara VZV protease dengan senyawa turunan alkaloid hasil skrining. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan studi literatur yang relevan. Penelitian ini dilakukan dengan cara membandingkan nilai binding affinity dan juga mengkaji interaksi yang terjadi antara senyawa turunan alkaloid dengan VZV protease. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan molecular docking dengan bantuan software PyRx 0.9.5. Metode yang digunakan ada dua macam, yaitu metode blind docking dan metode specific docking. Metode blind docking bertujuan untuk mengetahui sifat inhibisi secara non kompetitif ataupun unkompetitif dari ligan terhadap reseptor target sedangkan metode specific docking untuk mengetahui sifat inhibisi secara kompetitif. Hasil dari proses molecular docking kemudian divisualisasikan menggunakan bantuan beberapa software diantaranya software Edu PyMOL, LIGPLOT+, dan Discovery Studio. Ketiga software tersebut digunakan untuk mengkaji interaksi apa saja yang terjadi antara senyawa turunan alkaloid dengan VZV protease. Pada penelitian ini juga dilakukan analisis aturan Lipinski yang bertujuan untuk mengetahui profil senyawa alkaloid yang bisa digunakan untuk obat secara oral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan metode blind docking diperoleh empat senyawa turunan alkaloid yang berpotensi sebagai inhibitor untuk VZV protease. Keempat senyawa turunan alkaloid tersebut yaitu alantrypinone, circumdain E, lapatin A, dan spiroquinazoline yang memiliki nilai binding affinity berturut-turut -8,8; -8,8; -9.3; dan -8,9 kkal/mol. Dari metode specific docking diperoleh empat senyawa turunan alkaloid yang berpotensi untuk dijadikan sebagai inhibitor VZV protease. Keempat senyawa turunan alkaloid tersebut yaitu alantrypinone, circumdatin E, lapatin A, dan lapatin B dengan nilai binding affinity berturut-turut -7,5; -7,4; -6,6; dan -6,5 kkal/mol. Hasil visualisasi molekul menggunakan software Edu PyMOL, LIGPLOT+, dan Discovery Studio menunjukkan terbentuknya ikatan hidrogen dan interaksi hidrofobik yang dapat menstabilkan posisi pengikatan ligan dengan reseptor. Hasil dari analisis aturan Lipinski menunjukkan bahwa senyawa alkaloid yang berpotensi sebagai inhibitor VZV protease tersebut memiliki profil yang sesuai dengan lima aturan Lipinski, sehingga bisa dijadikan kandidat obat herpes zoster secara oral. Berdasarkan hal tersebut diperoleh ligan circumdatin E yang merupakan ligan yang paling berpotensi sebagai inhibitor VZV protease. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini akan bermanfaat untuk perancangan dan pengembangan obat untuk penyakit herpes zoster di masa yang akan datang. Namun, uji pada lab basah perlu dilakukan untuk memvalidasi senyawa ini sebelum menetapkannya sebagai calon obat yang potensial
Sintesis dan Karakterisasi Nanopartikel ZnO (ZnO NPs) dengan Menggunakan Ekstrak Kulit Pisang serta Uji Aktivitasnya sebagai Antibakteri
Nanopartikel merupakan materi yang memiliki sifat-sifat lebih unggul dibandingkan materi sejenis yang berukuran lebih besar. Salah satu Nanopartikel yang dimanfaatkan di dunia medis adalah nanopartikel ZnO. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis nanopartikel ZnO dengan menggunakan ekstrak kulit pisang kepok merah, ambon, dan tanduk sebagai capping agent. Ekstrak kulit pisang dapat menghindari terjadinya aglomerasi pada sintesis nanopartikel karena mengandung senyawa-senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, polifenol, alkaloid, dan saponin. Penelitian ini dilakukan di laboratorium penelitian organik Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang dan Laboratorium Mikrobiologi Universitas Negeri Malang. Tahap pertama adalah ekstraksi kulit pisang kapok merah, kulit pisang tanduk dan kulit pisang ambon kemudian uji fitokimia pada ekstrak kulit pisang. Tahap kedua adalah sintesis nanopartikel ZnO dengan menggunakan ekstrak kulit pisang kepok merah, kulit pisang tanduk, dan kulit pisang ambon. Tahap ketiga adalah karakterisasi nanopartikel ZnO dengan menggunakan X-Ray Diffraction (XRD) yang dilakukan di laboratorium sentral Universitas Negeri Malang. Tahap keempat adalah uji aktivitas antibakteri dari nanopartikel ZnO yang dilakukan di laboratorium mikrobiologi Universitas Negeri Malang. Hasil penelitian didapatkan bahwa hasil uji fitokimia pada ketiga ekstrak kulit pisang semuanya mengandung senyawa-senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, polifenol, alkaloid, dan saponin dengan persentase yang berbeda-beda. Hasil sintesis didapatkan 3 sampel nanopartikel ZnO yang kemudian dikarakterisasi dengan XRD dihasilkan difraktogram yang sesuai dengan standar dari database dan didapatkan ukuran partikel dari masing-masing sampel. Untuk uji antibakteri dapat dikatakan ZnO NPs yang disintesis dengan menggunakan ekstrak kulit pisang dapat digunakan sebagai antibakteri dilihat dari diameter zona bening yang dihasilkan. Zona bening yang dihasilkan berkisar antara 8 sampai 10 mm, angka ini lebih besar dari 5 mm yang artinya ZnO hasil sintesis dapat berfungsi sebagai antibakteri
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS REACT (RELATING, EXPERIENCING, APPLYING, COOPERATING, TRANSFERRING) BERBANTUAN ADVANCE ORGANIZER PADA MATERI LARUTAN PENYANGGA UNTUK PESERTA DIDIK SMA/MA KELAS XI
RINGKASANIlma, Ade Restantri. 2019. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis REACT (Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transferring) Berbantuan Advance Organizer Pada Materi Larutan Penyangga untuk Peserta Didik SMA/MA Kelas XI. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Hj. Endang Budiasih, M.S. (II) Dra. Hj. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si. Kata Kunci: bahan ajar, REACT, advance organizer, larutan penyanggaPemahaman konsep peserta didik terhadap materi larutan penyangga cukup rendah dan banyak kesulitan yang dialami oleh peserta didik terhadap beberapa konsep yaitu pembuatan larutan penyangga, perhitungan pH dan prinsip kerja larutan penyangga. Hal ini disebabkan karena penggunaan bahan ajar yang bersifat deskriptif yaitu terfokus pada inti materi dan rumus-rumus saja. Bahan ajar kimia juga masih berupa buku teks yang menuntut peserta didik untuk menghafal bukan memperoleh pengetahuannya sendiri, sehingga kegiatan belajar peserta didik kurang maksimal dan berakibat pada hasil belajar peserta didik. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan ini adalah mengembangkan bahan ajar dengan model pembelajaran berbasis kontekstual yaitu REACT karena sesuai dengan karakteristik materi larutan penyangga dengan melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran yang nyata. Adanya advance organizer dalam bahan ajar digunakan sebagai penguat struktur kognitif peserta didik yaitu memberikan gambaran mengenai keterkaitan antar konsep pada materi larutan penyangga. Penerapan model REACT berbantuan advance organizer diharapkan dapat membantu peserta didik mempelajari materi secara keseluruhan dan pembelajaran menjadi lebih bermakna. Tujuan penelitian ini adalah (1) menghasilkan bahan ajar larutan penyangga berbasis REACT berbantuan advance organizer untuk peserta didik SMA/MA kelas XI (2) mengetahui tingkat kelayakan bahan ajar yang dikembangkan. Pengembangan bahan ajar menggunakan model Thiagarajan et al., (1974) yang terdiri dari empat tahapan yaitu design, define, develop, dan disseminate. Tahapan disseminate tidak dilakukan karena tujuan penelitian ini terbatas untuk mengetahui tingkat kelayakan bahan ajar yang dikembangkan. Penilaian kelayak-an bahan ajar dilakukan oleh validator yaitu satu orang dosen kimia dan dua orang guru SMA, dilanjutkan dengan uji keterbacaan kepada sepuluh peserta didik yang telah menerima materi larutan penyangga. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif yaitu skor yang diberikan oleh validator dan subjek uji keterbacaan, dan data kualitatif berupa komentar dan saran yang diberikan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan revisi terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis persentase dan deskripsi kualitatif. Hasil validasi terhadap bahan ajar yang dikembangkan pada buku peserta didik diperoleh rata-rata persentase kelayakan isi sebesar 85,60%, dan kelayakan bahasa dan penyajian sebesar 89,20%, sedangkan pada buku guru diperoleh rata-rata persentase kelayakan isi sebesar 85,60%, kelayakan bahasa dan penyajian sebesar 89,20%, dan kelayakan perangkat pembelajaran sebesar 86,70%. Hasil uji keterbacaan yang dilakukan pada sepuluh peserta didik kelas XII diperoleh rata-rata persentase untuk aspek tampilan sebesar 92,00%, aspek penyajian materi sebesar 85,60%, dan aspek manfaat sebesar 94,80%. Berdasarkan kriteria kelayakan bahan ajar menurut Riduwan (2013:16) dapat disimpulkan bahwa produk pengembangan bahan ajar sangat layak digunakan sebagai sumber belajar untuk materi larutan penyangga
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN EXPLANATION DRIVEN INQUIRY (EDI) DAN INKUIRI TERBIMBING TERHADAP KETERAMPILAN SCIENTIFIC EXPLANATION PESERTA DIDIK SMAN 1 GAMBIRAN PADA MATERI ASAM BASA
SUMMARY Puspitasari, Hesti. 2019. The effect of Learning Model Explanation Driven Inquiry (EDI) and Guided Inquiry on Scientific Explanation Skills of Students Senior High School 1 Gambiran on Acid and Based. Thesis, Chemistry Departement, Mathematic and Science Faculty, State University of Malang, Advisors : (I) Oktavia Sulistina, S.Pd., M.Pd., (II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si. Keywords : EDI Model, Guided Inquiry Model, Scientific Explanation Skill, Acid Bases Indonesian student’s scientific literacy is very low. Results analysis of scientific literacy Indonesia show that students have limitations in expressing scientific explanation. Scientific explanation skills can be enhanced through inquiry-based learning. The models of inquiry-based learning are guided inquiry and EDI. EDI learning model is an improvement model of guided inquiry that facilitates students to construct scientific explanation in stages with better quality. Therefore, this study represents two objectives in order to (1) examine the quality of students scientific explanation who were taught by using EDI model and guided inquiry model (2) examine the differences in scientific skills between the students who were taught using the EDI model and the students who were taught using guided inquiry model. This research used embedded mixed method research with posttest only controlled group design. The population was the whole students of XI IPA major at SMAN 1 Gambiran in academic year 2018/2019. The sampling technique was using cluster random sampling. The research sample included XI IPA 1 as a class that learned using the EDI model and XI IPA 2 as a class that learned using the guided inquiry model. The research instruments of the study consisted of treatment instrument and measurement instrument. Treatment instrument includes syllabus, lesson plan (RPP), and (LKPD). The measurement uses a skills test of scientific explanation that consists of six validated essay questions with reliability of 0.615. The data of this study were obtained in six meetings. The researcher conducted the teaching learning process to apply the treatment, provided test and collected the data as a result of treatment and measurement in this reasearch. The research data which were obtained from the written answers about the scientific explanation skill test were categorized based on progression evidence-based explanation. Determining of the quality of student’s scientific explanation was done by two assessors who examined them separately. Interrater reliability analysis using Kappa test was done and it was obtained the percentage of coding agreement at 0.825 with the category of reliability is a very high. Statistical analysis using Independent Sample t-Test was conducted to determine the differences of student’s scientific explanation skills between studenct’s EDI class and student’s inquiry class. The results of the study show that (1) the scientific explanation skill quality of the students learned with the EDI model are dominated by level 4 at 49.44% which are categorized good and followed by level 3 at 28.89 % which have less categories. While, the quality of scientific explanation skill for the students who were taught with guided inquiry models are dominated by level 3 at 35.55% which have less categories then followed by level 4 at 31.67% which have less categories (2) EDI learning model produces better results than the guided inquiry learning model towards student scientific explanation skill on acidbased
Pengaruh Model Pembelajaran POGIL Menggunakan Pendekatan Science, Environment, Technology, and Sosiety (SETS) terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Kelas XI SMAN 1 Pandaan pada Materi Larutan Penyangga
SUMMARY Anizarini, Fariza. 2019. The Effect of the POGIL Learning Model Using the Science, Environment, Technology, and Society (SETS) Approach to Critical Thinking Skills of Class XI Students of SMAN 1 Pandaan in Buffer Solution Materials. Thesis, Department of Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, State University of Malang. Advisor: (I) Dr. Hj. Endang Budiasih, MS, (II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Sc. Keywords: critical thinking, POGIL, SETS approach, buffer solution Critical thinking skills are the skills needed in the XXI century and are demands in the 2013 curriculum used in education today. Critical thinking ability of high school students who have developed in the field has not been fully achieved or there are still many students who have low critical thinking skills in the buffer solution material. This is due to chemical learning activities that still use conventional methods that are teacher center and followed by exercises that lack sharpening students' critical thinking skills. One learning model that can improve student activity in critical thinking is the POGIL learning model using the SETS approach. The purpose of this study was to determine the differences in critical thinking skills between students who took POGIL learning using the SETS approach with students who took POGIL learning on buffer solution material. This study used quasy experimental method with a posttest-only control group design. Quantitative data was obtained from the results of statistical analysis of the scores of students 'critical thinking skills, while the qualitative data was obtained from the categorization of students' critical thinking skills. The study was conducted by giving different treatments, namely one class that applied the POGIL learning model using the SETS approach and one class that applied the POGIL learning model. The measurement instrument used for data collection is a test of critical thinking skills in the form of 10 essay questions using aspects of critical thinking skills according to Ennis (2011: 2). Validation test for 10 essay questions used has an average rating of 98.11 with very high validity criteria and has a reliability value of 0.789 with a high level of reliability. Data were analyzed to test hypotheses through t-test (independent sample) t-test) assisted by theprogram SPSS 16.0 had a significance value of 0.002 and descriptive analysis was used to describe the differences in the results of critical thinking skills based on the category of critical thinking skills of students according to Setyowati, (2011) seen from the student answer scores obtained. Research Results show 1) the learning activities in both classes are very well implemented; 2) there are differences in students' critical thinking skills in the buffer solution material between the students who are taught with the POGIL learning model using the SETS approach and students who are taught with the POGIL learning model; scores of critical thinking skills students have a scale of 0-4 with the maximum score obtained by students is 40; the average score of critical thinking skills of students taught with the POGIL learning model using the SETS approach is higher, namely 31.2 than the class taught with the POGIL learning model only 28.9