SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Pengembangan Bahan Ajar Kimia Materi Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit Berbasis Inkuiri Terbimbing untuk Peserta Didik SMA/MA Kelas X
ABSTRAK Sahara, Y.N. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Kimia Materi Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit Berbasis Inkuiri Terbimbing untuk Peserta Didik SMA/MA Kelas X. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Fauziatul Fajaroh, M.S., (2) Dr. Sumari, M.Si. Kata Kunci : Bahan ajar, inkuiri terbimbing, kurikulum 2013, larutan elektrolit dan non elektrolit Kurikulum 2013 merupakan produk dari penyempurnaan dan pengembangan kurikulum lama tetapi kurikulum tersebut lebih menekankan pada keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik. Seiring dengan berubahnya kurikulum menjadi kurikulum 2013, secara otomatis semua komponen penyusunnya. Salah satunya adalah bahan ajar. Bahan ajar yang digunakan harus sesuai dengan kurikulum 2013. Faktanya, bahan ajar yang selama ini digunakan masih bersifat uraian materi dan tidak menuntut peserta didik untuk mengkonstruk konsep. Untuk itu perlu adanya pengembangan bahan ajar yang sesuai dengan standar kurikulum 2013 sebagai perbaikan penanaman konsep bagi peserta didik. Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti melakukan pengembangan bahan ajar berbasis inkuiri terbimbing. Tujuan dari pengembangan bahan ajar ini adalah menghasilkan bahan ajar larutan elektrolit dan non elektrolit yang sesuai dengan standar kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik berbasis inkuiri terbimbing, dan mengetahui kelayakan bahan ajar yang dihasilkan. Pengembangan ini dilakukan menggunakan model pengembangan 4D-Model dari Thiagarajan yang terdiri dari 4 tahapan yakni define (pembatasan), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Namun, pengembangan bahan ajar ini hanya dilakukan hingga pada tahap ketiga yaitu develop. Validasi bahan ajar dilakukan oleh satu orang dosen kimia dan dua orang guru kimia. Instrumen yang digunakan adalah lembar validasi berupa angket dan lembar komentar atau saran terhadap bahan ajar. Uji keterbacaan dilakukan oleh peserta didik di MAN Kota Batu dan SMAN 2 Trenggalek. Berdasarkan hasil analisis data, bahan ajar dinyatakan sangat layak dengan rata-rata 4.2 oleh validator dan 4.5 dari skala 5 pada uji keterbacaan oleh peserta didik. Jadi, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar dikategorikan sangat layak. Pengembangan lebih lanjut dapat dilakukan melalui uji empirik bahan ajar dengan sampel yang lebih luas untuk mengetahui keefektifan bahan ajar dalam pembelajara
Pengembangan Bahan Ajar Kimia Materi Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit Berbasis Inkuiri Terbimbing untuk Peserta Didik SMA/MA Kelas X
ABSTRAK Sahara, Y.N. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Kimia Materi Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit Berbasis Inkuiri Terbimbing untuk Peserta Didik SMA/MA Kelas X. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Fauziatul Fajaroh, M.S., (2) Dr. Sumari, M.Si. Kata Kunci : Bahan ajar, inkuiri terbimbing, kurikulum 2013, larutan elektrolit dan non elektrolit Kurikulum 2013 merupakan produk dari penyempurnaan dan pengembangan kurikulum lama tetapi kurikulum tersebut lebih menekankan pada keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik. Seiring dengan berubahnya kurikulum menjadi kurikulum 2013, secara otomatis semua komponen penyusunnya. Salah satunya adalah bahan ajar. Bahan ajar yang digunakan harus sesuai dengan kurikulum 2013. Faktanya, bahan ajar yang selama ini digunakan masih bersifat uraian materi dan tidak menuntut peserta didik untuk mengkonstruk konsep. Untuk itu perlu adanya pengembangan bahan ajar yang sesuai dengan standar kurikulum 2013 sebagai perbaikan penanaman konsep bagi peserta didik. Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti melakukan pengembangan bahan ajar berbasis inkuiri terbimbing. Tujuan dari pengembangan bahan ajar ini adalah menghasilkan bahan ajar larutan elektrolit dan non elektrolit yang sesuai dengan standar kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik berbasis inkuiri terbimbing, dan mengetahui kelayakan bahan ajar yang dihasilkan. Pengembangan ini dilakukan menggunakan model pengembangan 4D-Model dari Thiagarajan yang terdiri dari 4 tahapan yakni define (pembatasan), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Namun, pengembangan bahan ajar ini hanya dilakukan hingga pada tahap ketiga yaitu develop. Validasi bahan ajar dilakukan oleh satu orang dosen kimia dan dua orang guru kimia. Instrumen yang digunakan adalah lembar validasi berupa angket dan lembar komentar atau saran terhadap bahan ajar. Uji keterbacaan dilakukan oleh peserta didik di MAN Kota Batu dan SMAN 2 Trenggalek. Berdasarkan hasil analisis data, bahan ajar dinyatakan sangat layak dengan rata-rata 4.2 oleh validator dan 4.5 dari skala 5 pada uji keterbacaan oleh peserta didik. Jadi, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar dikategorikan sangat layak. Pengembangan lebih lanjut dapat dilakukan melalui uji empirik bahan ajar dengan sampel yang lebih luas untuk mengetahui keefektifan bahan ajar dalam pembelajara
Identifikasi Miskonsepsi Siswa Kelas XI SMAN 10 Malang pada Materi Hidrolisis Garam Menggunakan Soal Three Tier
ABSTRAK Rahmawati, Triana. 2016. Identifikasi Miskonsepsi Siswa Kelas XI SMAN 10 Malang pada Materi Hidrolisis Garam Menggunakan Soal Three Tier. Skripsi. Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Parlan, M.Si. (II) Drs. Dermawan Afandy, M. Pd. Kata Kunci: identifikasi, miskonsepsi, Hidrolisis GaramHidrolisis Garam merupakan salah satu topik dalam pelajaran kimia di SMA dan MA yang banyak mencakup konsep abstrak. Untuk memahami konsep abstrak dibutuhkan pemahaman berpikir abstrak. Namun, hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa SMA dan MA belum sepenuhnya mengembangkan kemampuan tersebut. Disamping itu, pembelajaran Hidrolisis Garam mencakup tiga tingkat representasi, yaitu representasi makroskopik, sub-mikroskopik, dan simbolik. Hasil-hasil penelitian mengungkapkan adanya kesulitan siswa SMA dalam menghubungkan ketiganya. Oleh karena itu Hidrolisis Garam merupakan salah satu materi pelajaran yang berpotensi sulit untuk dipahami oleh siswa. Kesulitan itu dapat mengakibatkan kesalahan pemahaman dan bila berlangsung secara konsisten akan menimbulkan miskonsepsi. Jika miskonsepsi tersebut tidak dieliminasi, maka berpotensi untuk timbulnya miskonsepsi pada konsep lain yang berkaitan. Selama ini identifikasi miskonsepsi dilakukan menggunakan soal essay atau wawancara. Persoalannya, cara tersebut memerlukan banyak waktu sehingga cara tersebut kurang efisien untuk mengidentifikasi miskonsepsi siswa. Untuk mengatasi hal tersebut dikembangkan cara baru dalam mengidentifikasi miskonsepsi yaitu dengan menggunakan soal pilihan ganda two tier. Persoalannya adalah soal pilihan ganda two tier tidak dapat membedakan siswa yang mengalami miskonsepsi dengan tidak paham konsep. Untuk mengatasi hal tersebut dikembangkan soal pilihan ganda three tier. Soal pilihan ganda three tier merupakan instrumen diagnostik yang efisien karena dapat mengidentifikasi miskonsepsi siswa dengan waktu pengoreksian yang cepat dan dapat membedakan siswa yang paham konsep, kurang paham konsep, tidak paham konsep, miskonsepsi, dan menebak. Selain itu, soal pilihan ganda three tier memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi. Hal tersebut terbukti dari hasil penelitian yang menemukan bahwa soal pilihan ganda three tier memiliki nilai koefisien reliabilitas lebih tinggi daripada soal pilihan ganda biasa ataupun soal pilihan ganda two tier. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi miskonsepsi siswa pada materi Hidrolisis Garam menggunakan soal pilihan ganda three tier dan mengetahui sumber-sumber miskonsepsi tersebut.Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif. Subyek penelitian adalah 52 siswa SMAN 10 Malang dari dua kelas (XI MIPA G dan XI MIPA H) yang diambil dari lima kelas yang homogen. Data penelitian adalah jawaban siswa terhadap tes materi Hidrolisis Garam dan rekaman hasil wawancara. Jawaban siswa terhadap soal-soal materi hidrolisis garam dikumpulkan menggunakan soal pilihan ganda three tier yang terdiri dari 20 item dengan validitas isi sebesar 83,6% dan koefisien reliabilitas, dihitung dengan persamaan Cronbach Alpha, sebesar 0,85. Wawancara menggunakan pedoman wawancara. Jawaban tes materi Hidrolisis Garam dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil analisis, siswa dikategorikan menjadi paham konsep, kurang paham konsep, tidak paham konsep, menebak, dan miskonsepsi. Pada siswa yang mengalami miskonsepsi dilakukan wawancara untuk mengetahui sumber miskonsepsi. Dari hasil analisis data penelitian diidentifikasi enam miskonsepsi yaitu: (1) kation garam dari basa kuat terhidrolisis, (2) anion garam dari asam kuat terhidrolisis, (3) larutan garam yang terhidrolisis total selalu bersifat netral karena garamnya berasal asam lemah dan basa lemah, (4) larutan garam hasil reaksi asam kuat dan basa lemah bersifat asam karena yang terhidrolisis adalah anion dari asam kuat, (5) semua garam selalu bersifat netral, (6) garam yang mengandung atom H selalu bersifat asam. Adapun sumber miskonsepsi yang dominan adalah penggunaan istilah kimia yang tidak konsisten, buku, teman diskusi, dan penalaran siswa sendiri
Trans-esterifikasi Minyak Biji Asam Jawa (Tamarindus indica Linn) menjadi Metil Ester Asam Lemaknya dan Uji Aktivitasnya Sebagai Antibakteri
ABSTRAK Hidayati, Ely. 2017. Trans-esterifikasi Minyak Biji Asam Jawa (Tamarindus indica Linn) menjadi Metil Ester Asam Lemaknya dan Uji Aktivitasnya Sebagai Antibakteri. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sutrisno, M.Si., (II) Dr. Siti Marfu’ah, M. S. Kata kunci: minyak biji asam jawa, reaksi trans-esterifikasi, metil ester asam lemak, aktivitas antibakteri.Biji asam jawa merupakan bagian tanaman asam jawa (Tamarindus indica Linn) yang belum banyak digunakan oleh masyarakat. Biji asam jawa dilaporkan mengandung minyak (trigliserida cair) yang tidak aktif antibakteri. Hal ini diduga trigliserida memiliki struktur molekul besar sehingga tidak mampu menembus dinding sel bakteri. Asam-asam lemak penyusun minyak biji asam jawa diketahui memiliki aktivitas antibakteri. Oleh karena itu perlu dilakukan transformasi minyak biji asam jawa menjadi molekul yang lebih sederhana dan berbasis pada struktur induknya. Diharapkan transformasi minyak biji asam jawa menjadi metil esternya dapat meningkatkan aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mentransformasi minyak biji asam jawa menjadi metil ester asam lemaknya, (2) mengetahui karakteristik dan jenis metil ester asam lemak hasil transformasi,dan (3) menentukan aktivitas antibakteri metil ester asam lemak hasil transformasi.Penelitian ini terdiri dari 6 tahap. Tahap 1 adalah preparasi sampel meliputi pengumpulan biji asam jawa, pengeringan, dan pembuatan serbuk. Tahap 2 adalah ekstraksi minyak biji asam jawa. Tahap 3 adalah karakterisasi dan identifikasi hasil ekstraksi meliputi wujud, warna, massa jenis, indeks bias, viskositas, uji penyabunan, uji ketidakjenuhan, bilangan asam, bilangan iod, bilangan penyabunan, dan identifikasi secara spektrofotometri IR. Tahap 4 adalah trans-esterifikasi minyak biji asam jawa menjadi metil ester asam lemaknya. Tahap 5 adalah karakterisasi dan identifikasi metil ester asam lemak hasil transformasi meliputi wujud, warna, massa jenis, indeks bias, viskositas, uji ketidakjenuhan, bilangan asam, bilangan iod, bilangan penyabunan, identifikasi secara spektrofotometri IR dan GC-MS. Tahap 6 adalah uji aktivitas antibakteri metil ester asam lemak hasil trans-esterifikasi. Transformasi minyak biji asam jawa dilakukan melalui reaksi trans-esterifikasi. Minyak biji asam direaksikan dengan metanol berkatalis kalium hidroksida dihasilkan metil ester asam lemaknya. Metil ester asam lemak ini berwujud cair, berwarna kuning cerah, memiliki massa jenis 0,834 g.mL-1, indeks bias 1,457 (250C), viskositas 4,686 cSt, dapat menghilangkan warna brom dalam CCl4, memiliki bilangan asam 0,55, bilangan iod 224,69; dan bilangan penyabunan 215,36. Metil ester yang diperoleh adalah metil 9-heksedekenoat ( 0,46 %), metil heksadekanoat (12,24 %), metil 9,12-oktadekadienoat (42,81 %), metil 9-oktadekenoat (6,09 %), metil oktadekanoat (9,75 %), metil 8,11,14-dokosatrienoat (0,35 %), metil 11-eikosenoat (3,6 %), metil eikosanoat (4,88 %), metil 11,14-eikosadienoat (0,24 %), metil dokosanoat (5,20 %), metil trikosanoat (0,24 %), metil tetrakosanoat (11,70 %), metil heneikosanoat (0,27 %), dan metil heksakosanoat (1,09 %). Jenis dan kadar metil ester hasil transformasi analog dengan asam lemak penyusun trigliserida. Metil ester asam lemak ini memiliki aktivitas antibakteri kategori sedang terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus lebih besar dibandingkan Escherichia coli
Pengembangan Bahan Ajar Materi Hidrolisis Garam Berbasis POGIL (Process Oriented Guided Inquiry Learning) untuk SMA/MA Kelas XI
ABSTRAK Menurut paradigma konstruktivistik dalam proses pembelajaran, siswa dituntut untuk membangun sendiri pengetahuannya. Salah satu pendekatan pembelajaran yang mengkonstruksi sendiri pengetahuannya adalah inkuiri. Model pembelajaran yang dikembangkan dengan pendekatan inkuiri salah satunya adalah model POGIL. Komunikasi personal dengan beberapa guru kimia menunjukkan bahwa materi pembelajaran kimia Hidrolisis Garam mengandung pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dan metakognisi yang sesuai dengan metode pembelajaran POGIL. Penelitian ini bertujuan mengembangkan Bahan Ajar Hidrolisis Garam Berbasis POGIL.Pengembangan rancangan 4–D yang meliputi 4 tahap utama yaitu define, design, develop dan disseminate. Namun demikian, karena keterbatasan waktu. Langkah “disseminate” tidak dilakukan. Bahan ajar hasil pengembangan diuji dengan validasi isi dan uji keterbacaan. Validasi isi dilakukan dengan memberikan angket penilaian terhadap bahan ajar yang dikembangkan kepada validator. Uji keterbacaan dilaksanakan pada 10 siswa kelas XI. Jenis data yang diperoleh dari hasil validasi dan uji keterbacaan pengembangan bahan ajar ada dua, yaitu data kuantitatif yang diperoleh dari perhitungan nilai rata-rata untuk mengetahui besarnya kelayakan bahan ajar tersebut dan data kualitatif berupa tanggapan, kritik dan saran.Produk hasil pengembangan berupa Bahan Ajar Hidrolisis Garam. hasil validasi isi oleh validator menunjukkan bahwa buku siswa memperoleh 89,16% (sangat valid) sedangkan buku guru menunjukkan kriteria sangat valid sebesar 89,21% (sangat valid). Hasil uji keterbacaan menghasilkan presentase kelayakan sebesar 85,3% (sangat valid) yang menunjukkan bahwa bahan ajar layak untuk digunakan sebagai sumber belajar.
Isolasi, Karakterisasi, dan Uji Aktivitas sebagai Antibakteri Ekstrak Aseton Biji Mangga Golek (Mangifera indica Linn)
ABSTRAK Tiyas, Ayuning. 2017. Isolasi, Karakterisasi, dan Uji Aktivitas sebagai Antibakteri Ekstrak Aseton Biji Mangga Golek (Mangifera indica Linn). Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. Sutrisno, M.Si., (II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si. Kata Kunci: biji mangga golek (Mangifera indica Linn), antibakteri, ekstrak aseton.Salah satu tanaman yang cukup melimpah di Indonesia adalah mangga jenis golek. Bagian buah mangga yang sering dikonsumsi adalah daging buahnya. Produk olahan dari mangga, seperti: produk minuman, selai, keripik, salad. Sisa pengolahan dari buah mangga adalah biji mangga yang menjadi bahan buangan dan berpotensi sebagai limbah. Penelitian tentang biji mangga telah banyak dilakukan namun, kebanyakan menggunakan metode ekstraksi dengan pelarut polar. Pelarut polar tidak hanya mengekstrak senyawa metabolit sekunder, namun senyawa metabolit primer seperti karbohidrat, dan protein juga ikut terekstrak. Kajian lebih lanjut tentang pelarut yang dapat mengekstrak metabolit sekunder dalam biji mangga perlu dilakukan. Pelarut yang akan dipilih memiliki tingkat kepolaran lebih rendah dan diharapkan dapat mengekstrak senyawa yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengisolasi komponen dalam biji mangga dengan metode maserasi dan sokhletasi menggunakan pelarut aseton; (2) mengkarakterisasi komponen hasil isolasi ekstrak aseton biji mangga; (3) menentukan aktivitas komponen hasil isolasi dari ekstrak aseton biji mangga sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.Penelitian ini dilakukan secara eksperimen di laboratorium yang terdiri dari empat tahapan. Tahap (1) preparasi sampel yang meliputi pengumpulan sampel, pengeringan sampel, dan pembuatan serbuk; (2) isolasi komponen biji mangga golek meliputi ekstraksi (maserasi dan sokhletasi) dan pemurnian (KLT dan kromatografi kolom gravitasi); (3) karakterisasi dan identifikasi komponen meliputi analisis wujud dan warna, uji kelarutan, uji ketidakjenuhan, uji golongan senyawa, dan penentuan titik lebur serta interpretasi spektrum UV dan FTIR komponen hasil isolasi; (4) Uji aktivitas komponen sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Hasil penelitian ini adalah (1) ekstrak aseton biji mangga berupa cairan kental berwarna putih kekuningan yang larut dalam air, metanol, aseton, dan etil asetat; tidak larut dalam kloroform dan heksana; positif pada uji golongan fenolik, flavonoid, terpenoid, saponin; tanin dan aktif sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli kategori tinggi ; (2) komponen hasil kolom berupa padatan putih dengan titik lebur 41-43 oC, larut dalam heksana, kloroform, dan etil asetat; memudarkan warna larutan brom; positif terdapat golongan senyawa saponin; memiliki λmaks 224,20 nm dan λmaks 338,60 nm; memiliki vibrasi ulur C=O ester, C-O ester, dan vibrasi ulur C=C; (3) komponen B memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli kategori sedang
Implementasi Pembelajaran Model Inkuiri Terbimbing pada Materi Larutan Penyangga di SMAN 02 Batu
ABSTRAK Fatimah, Atik. 2017. Implementasi Pembelajaran Model Inkuiri Terbimbing pada Materi Larutan Penyangga di SMAN 02 Batu. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Dermawan Afandy, M.Pd., (2) Dr. Suharti, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: inkuiri terbimbing, larutan penyangga Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan guru mata pelajaran kimia di SMAN 02 Batu, pemahaman siswa kelas XI masih banyak yang belum bisa memahami konsep kimia asam basa. Selain itu siswa juga mengalami kesulitan dalam menghitung secara matematis yang berakibat pada hasil belajar siswa masih ada yang belum maksimal. Hasil wawancara yang dilakukan dengan guru kimia di SMAN 02 Batu menunjukkan bahwa biasanya materi larutan penyangga di ajarkan dengan menggunakan model pembelajaran ekspositori dan lebih banyak menggunakan metode ceramah. Dengan adanya kelemahan pada model pembelajaran ekspositori, modifikasi perlu dilakukan pada model pembelajaran yang diterapkan disekolah dengan penerapan strategi pembelajaran student centered learning (siswa sebagai pusat belajar) disertai pendekatan konstruktivistik. Model pembelajaran inkuiri terbimbing dipilih sebagai alternatif model pembelajaran student centered lerning. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 02 Batu pada semester genap tahun ajaran 2016/2017 yaitu pada bulan Februari-April 2017. Pengumpulan data dilakukan setelah proses pembelajaran materi larutan penyangga. Data tersebut berupa hasil belajar kognitif siswa yang diperoleh dari nilai ulangan harian siswaserta data motivasi belajar siswa yang diperoleh dari angket motivasi belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran pada materi larutan penyangga. Data yang sudah terkumpul kemudian diolah dan dianalisis secara kualitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk mengetahui bagaimana hasil belajar kognitif dan motivasi belajar siswa setelah dibelajarkan dengan model inkuri terbimbing pada materi larutan penyangga. Berdasarkan data yang didapatkan, jumlah siswa yang memenuhi standar nilai KKM sebanyak 58,82% dan yang belum memenuhi standar nilai KKM sebanyak 41,18%. Hasil data angket motivasi menunjukkan bahwa sebanyak 97% siswa termotivasi dan 2,9% siswa kurang termotivasi. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa masuk dalam kategori sangat baik
. Identifikasi Genetik Spesies Padi Lokal Indonesia Jenis MH, BWI, dan JW MenggunakanPenanda Genetik Gen matK
ABSTRAK Herawati, R. 2017. Identifikasi Genetik Spesies Padi Lokal Indonesia Jenis MH, BWI, dan JW MenggunakanPenanda Genetik Gen matK. Skripsi, Jurusan Kimia, FakultasMatematikadanIlmuPengetahuanAlam, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suharti, S.Pd, M.Si, (II) Dr. Evi Susanti, S.Si, M.Si Kata Kunci:Padi lokal Indonesia, gen matK, DNA barkoding, analisis filogenik.Indonesia memiliki berbagai macam varietas padi lokal yang beragam, akan tetapi belum banyak yang diidentifikasi dan dilaporkan. Identifikasi pada varietas padi-padi lokal biasanya berdasarkan pada perbedaan fenotip yaitu struktur anatomi dan morfologi. Hasil yang diperoleh dengan menggunakan parameter tersebut kurang spesifik dan memerlukan waktu yang lama, sehingga diperlukan metode baru seperti uji genotip dengan menggunakan teknik DNA Barkoding. DNA Barkoding dapat digunakan untuk identifikasi spesies dengan menggunakan gen penanda yang spesifik seperti gen matK. Tujuan penelitian ini adalah (1) menentukan urutan DNA fragmen gen matKdari padi lokal Indonesia jenis MH, BWI, dan JW, (2) mengetahui konstruksi filogenik varian padi-padi lokal Indonesia jenis MH, BWI, dan JWberdasarkan data pada Gene Bank. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah informasi tentang urutan gen matK, spesies dan klasifikasi padi lokal Indonesia jenis MH, BWI, dan JW.Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Sentral Bioteknologi Universitas Negeri Malang. Tahapan dalam penelitian ini meliputi enam tahap yaitu; (1) isolasi DNA total dengan menggunakan DNA mini Kit “Bioline” pada padi jenis MH, BWI, dan JW, ketigannya merupakan padi lokal Indonesia yang belum pernah diidentifikasi , (2) uji kualitas DNA(3) amplifikasi gen matK dengan teknik PCR, (4) elektroforesis dan visualisasi, (5) sekuensing yang dilakukan oleh 1stBase Malaysia, (6) analisis bioinformatika dan pembuatan konstruksi filogenik. Hasil penelitian dari amplifikasi gen matK menggunakan teknik PCR diperoleh pita tunggal yang sejajar dengan pita ke 1000 bp pada marker.Diperoleh urutan basa nukleotida dari fragmen gen matK jenis padi MH sebanyak 915 bp, BWI sebanyak 916 bp, dan JW sebanyak 904 bp. Konstruksi pohon filogenik berdasarkan gen matK menggunakan metode Neighbour joining menunjukkan padi lokal Indonesia jenis BWI memiliki kedekatan paling dekat dengan spesies Oryza Sativa Japonika, kemudian jenis JW, dan kedekatan paling jauh yaitu MH. Ketiga jenis padi lokal Indonesia MH, BWI, dan JW merupakan satu spesies Oryza Sativa Japonika beda varietas
PRODUKSI DAN PEMEKATAN KERATINASE BACILLUS SP. MD24 SERTA KEMAMPUANNYA SEBAGAI AGEN DEHAIRING KULIT KAMBING
ABSTRAK Lisdiyarini, N. 2017. Produksi dan Pemekatan Keratinase Bacillus sp. MD24 serta Kemampuannya sebagai Agen Dehairing Kulit Kambing. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suharti, S.Pd., M.Si., (II) Muntholib, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: Bacillus, keratinase, dehairing Pemanfaatan kulit kambing dalam industri penyamakan kulit terus meningkat. Namun dalam salah satu tahapannya, terdapat proses dehairing(buang rambut) yang berkontribusi menghasilkan limbah berbahaya, berupa gas H2S dan lumpur kapur. Berbagai upaya dikembangkan oleh para peneliti untuk meminimalisasi bahaya dari limbah proses pengolahan kulit tersebut, salah satunya dengan pemanfaatan enzim keratinase. Enzim keratinase merupakan enzim protease spesifik yang mampu mendegradasi keratin. Keratinase yang dihasilkan oleh bakteri Bacillus sp. MD24 mampu mendegradasi bulu ayam, dan merontokkan rambut pada kulit kambing dalam waktu yang lama (72 jam). Lamanya waktu dehairing dapat disebabkan oleh rendahnya aktivitas ekstrak kasar keratinase. Peningkatan aktivitas enzim dapat dilakukan dengan mengoptimalkan produksi enzim dan melakukan pemekatan ekstrak kasar keratinase. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan enzim keratinase sebagai agen dehairing kulit kambing dengan: (1) mengetahui pengaruh penambahan0,5% dan 1% sumber karbon tambahan (sukrosa, glukosa, dan fruktosa) terhadapproduksi ekstrak kasar keratinase; (2) mengetahui pengaruh waktu penyimpanan terhadap aktivitas keratinase; (3) mengetahui kemampuan enzim keratinase hasil pemekatan menggunakan amonium sulfat 80% jenuh dalam proses dehairing kulit kambing. Tahap-tahap penelitian ini terdiri dari: (1) peremajaan biakan murni bakteri Bacillus sp. MD24; (2) produksi ekstrak kasar keratinase Bacillus sp. MD24; (3) uji aktivitas keratinase Bacillus sp. MD24; (4) pengaruh konsentrasi sumber karbon tambahan (sukrosa, glukosa, dan fruktosa) dan waktu inkubasi terhadap produksi keratinase, (5)pengaruh waktu penyimpanan terhadap aktivitas ekstrak kasar keratinase; (6) pemekatan ekstrak kasar keratinase dengan amonium sulfat 80%; dan (7) uji kemampuan keratinase Bacillus sp. MD24 sebelum dan sesudah pemekatan sebagai agen dehairing kulit kambing. Kondisi terbaik atau optimum diketahui berdasarkan nilai aktivitas keratinase dan didukung oleh nilai Weight Loss. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa:(1) penambahan 0,5% dan 1% sumber karbon tambahan (sukrosa, glukosa, dan fruktosa) menurunkan produksi ekstrak kasar keratinase;(2) Semakin lama waktu penyimpanan ekstrak kasar keratinase, maka aktivitas keratinase mengalami penurunan secara bertahap; dan (3) Enzim keratinase hasil pemekatan menggunakan amonium sulfat 80% jenuh memiliki aktivitas keratinase yang sebelumnya yaitu 8,793 U/mL menjadi 20,288 U/mL dan mampu sebagai agen dehairing kulit kambing pada perendaman selama 48 jam
Sandi, Agesta Dwi Lutfi. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis POGIL (Process Oriented Guided Inquiry Learning) pada Pokok Bahasan Laju Reaksi. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Dedek Sukarian
RINGKASAN Sandi, Agesta Dwi Lutfi. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis POGIL (Process Oriented Guided Inquiry Learning) pada Pokok Bahasan Laju Reaksi. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si., (2) Dr. Yudhi Utomo, M.Si. Kata kunci: bahan ajar, laju reaksi, POGIL. Salah satu materi kimia yang diajarkan pada siswa SMA kelas XI semester 1 adalah laju reaksi. Materi tersebut melibatkan 3 representasi, yaitu makroskopik, submikrospkopis dan simbolik, untuk membelajarkan ketiga representasi tersebut dibutuhkan pendekatan yang sesuai. Hasil observasi menunjukkan beberapa bahan ajar yang beredar sudah mencakup 3 representasi, namun materi disajikan secara naratif dan belum menuntun siswa untuk mengkonstruksi konsep secara mandiri. Cara penyajian materi yang bersifat naratif akan berpengaruh terhadap keaktifan, cara berpikir dan cara siswa menemukan suatu konsep, siswa akan pasif di kelas dan cenderung menghafal suatu konsep, sehingga perlu dikembangkan bahan ajar yang dapat membantu siswa dalam memahami konsep secara utuh. Salah satu pendekatan yang dapat meningkatkan kualitas bahan ajar adalah POGIL (Process Oriented Guided Inquiry Learning). Banyak penelitian yang menunjukkan keefektifan pendekatan POGIL dalam membantu siswa berfikir kritis, dan meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari. Pembelajaran berbasis POGIL sudah banyak diteliti namun bahan ajar berbasis POGIL masih jarang ditemui, khususnya pada materi laju reaksi, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar berbasis POGIL pada pokok bahasan laju reaksi dan menganalisis tingkat kelayakan bahan ajar hasil pengembangan. Model pengembangan bahan ajar diadaptasi dari model pengembangan Plomp (1977). Model pengembangan Plomp terdiri atas 5 tahapan pengembangan yaitu (1) fase investigasi awal, (2) fase perancangan, (3) fase realisasi, (4) fase tes, evaluasi dan revisi, dan (5) fase implementasi. Pada pengembangan ini hanya dilakukan sampai tahap keempat karena adanya keterbatasan waktu dan biaya. Penilaian bahan ajar dilakukan melalui uji validasi oleh satu dosen kimia dan dua guru kimia SMA. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif berdasarkan angket penilaian dan data kualitatif melalui komentar atau saran dari validator. Penilaian meliputi tiga aspek yaitu kelayakan isi, tata letak dan bahasa yang digunakan. Hasil pengembangan berupa buku siswa dan buku guru. Buku ajar hasil pengembangan terdiri dari 5 subbab, yaitu pengertian dan ungkapan laju reaksi, teori tumbukan, faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi, orde reaksi dan persamaan laju reaksi dan penyimpanan bahan kimia reaktif. Penyajian materi menggunakan pendekatan POGIL yang meliputi tahapan orientasi, eksplorasi, konstruksi konsep aplikasi konsep dan penutup. Hasil validasi isi, bahasa, dan tata letak diperoleh rata-rata persentase sebesar 82,07% termasuk kriteria “sangat layak” sedangkan dari uji keterbacaan oleh siswa diperoleh persentase 88,22% termasuk kriteria “sangat layak”. Dengan demikian, buku guru dan buku siswa memenuhi kriteria sangat layak, sehingga dapat digunakan sebagai bahan ajar