SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Pengembangan Bahan Ajar Hidrokarbon Berbasis Inkuiri Terbimbing untuk Siswa SMA/MA Kelas XI
ABSTRAK Kuswandani, Manda Dian. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Hidrokarbon Berbasis Inkuiri Terbimbing untuk Siswa SMA/MA Kelas XI. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Dermawan Afandy., M.Pd., (2) Dr. Siti Marfu’ah., M.S. Kata kunci: bahan ajar, inkuiri terbimbing, hidrokarbonIlmu kimia merupakan ilmu sains atau ilmu pengetahaun alam yang memiliki karakteristik yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui pengamatan dan pengumpulan data untuk menghasilkan atau membuktikan penjelasan suatu fenomena. Mata pelajaran kimia memiliki banyak konsep dari paling sederhana sampai paling abstrak dan kompleks, sehingga diperlukan pemahaman yang benar terhadap konsep dasar tersebut. Untuk memaksimalkan proses pembelajaran tersebut maka dibutuhkan bahan ajar kimia berbasis inkuiri terbimbing yang dapat meningkatkan ketrampilan proses siswa dalam mengkonstruks konsep. Berdasarkan sumber belajar materi hidrokarbon yang telah ada masih bersifat informatif dan tidak mengkonstruks konsep, sehingga tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalah dan siswa hanya terpacu pada sumber belajar tersebut. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar hidrokarbon berbasis inkuiri terbimbing untuk siswa SMA/MA kelas XI semester 1 dan untuk mengetahui tingkat kelayakan hasil pengembangan.Pengembangan bahan ajar pada penelitian ini menggunakan Model 4D (Four-D Model) dari Thiagarajan, dkk (1974) terdiri dari empat tahapan, yaitu (1) tahap membatasi (to define), (2) tahap merancang (to design), (3) tahap mengembangkan (to develop), (4) tahap menyebarluaskan (to disseminate). Namun, pengembangan bahan ajar ini hanya dilakukan sampai tahap ketiga. Validasi bahan ajar hasil pengembangan dilakukan oleh satu dosen kimia dan satu guru kimia. Instrumen pengumpulan data validasi berupa angket penilaian yang disertai lembar komentar dan saran. Aspek penilaian validasi meliputi kelayakan isi dan penyajian, bahasa, dan tata letak. Uji keterbacaan bahan ajar hasil pengembangan dilakukan kepada 10 siswa kelas XI SMAN 9 Malang. Produk hasil pengembangan berupa bahan ajar hidrokarbon berbasis inkuiri terbimbing untuk siswa SMA/MA kelas XI. Berdasarkan hasil validasi menunjukkan bahwa buku siswa sangat layak untuk digunakan dengan memenuhi persentase sebesar 93,95%. Begitu pula dengan buku guru yang sangat layak untuk digunakan dengan memenuhi kriteria persentase sebesar 96,87%. Hasil uji keterbacaan terhadap bahan ajar diperoleh persentase sebesar 83,12%, sehingga berdasarkan penilaian tersebut bahan ajar sangat layak digunakan siswa sebagai sumber belajar dan proses pembelajaran di kelas
Optimasi Sintesis Monogliserida dari Asam Lemak Santan Terhidrolisis dan Gliserol Menggunaan Lipase Kecambah Wijen
ABSTRAK Santan memiliki beberapa manfaat untuk kesehatan. Salah satunya yaitu mengandung asam laurat yang memiliki sifat anti bakteri, anti jamur dan anti virus. Santan dapat membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh dan mencegah flu, sakit tenggorokan dan berbagai penyakit. Asam laurat dalam santan masih terikat dalam bentuk trigliserida sehingga perlu dihidrolisis agar membentuk asam laurat bebas. Karena asam laurat yang masih terikat dalam bentuk trigliserida tidak memiliki kemampuan antibakteri. Namun, asam laurat bebas mempunyai aktivitas anti bakteri yang lebih rendah dari monogliserida khususnya monolaurin. Monoasilgliserol (MAG) terdiri dari beberapa jenis, salah satu diantaranya adalah gliserol monolaurat atau monolaurin. Monolaurin adalah senyawa multifungsi dengan sifat sebagai emulsifier dan antimikroba. Senyawa tersebut merupakan ester antara asam laurat dengan gliserol. Untuk memperoleh monogliserida dengan jumlah yang tinggi dibutuhkan aktivitas enzim yang tinggi pula. Lipase adalah enzim yang memiliki kemampuan mensintesis minyak atau lemak melalui reaksi esterifikasi. Lipase juga mengkatalisis hidrolisis triasilgliserol pada interfase minyak dalam air dan akan memutus ikatan ester pada lingkungan dengan kondisi sedikit air. Pada penelitian ini, lipase diperoleh dari kecambah wijen. Karena enzim dari kecambah wijen dapat membantu mempercepat reaksi esterifikasi, sehingga diharapkan dengan aktivitas lipase yang tinggi dapat diperoleh monogliserida yang tinggi pula.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan santan terhidrolisis dan gliserol dan lama inkubasi yang paling baik untuk menghasilkan monogliserida. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris. Objek dalam penelitian ini adalah monogliserida sedangkan variabel-variabel yang terlibat meliputi variabel bebas dan variabel kontrol. Variabel bebas berupa perbandingan mol substrat (santan terhidrolisis : gliserol) dengan 4 variasi yaitu (50:5 ; 50:10 ; 50:15 dan 50:20) sedangkan variabel kontrolnya adalah lama inkubasi (1,2,3,4,5 dan 6 jam). Penelitian yang dilakukan terdiri dari beberapa tahap, yaitu: (1) proses pembuatan santan terhidrolisis, (2) isolasi dan uji aktivitas lipase kecambah wijen, dan (3) sintesis monogliserida. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah stirring hot plate dan kolom kromatografi. Variabel yang diamati adalah aktivitas lipase pada santan dan kecambah wijen, kadar FFA santan, kadar FFA hasil esterifikasi, volume fraksi minyak, serta volume dari monogliserida. Kondisi optimum pada sintesis monogliserida diperoleh pada perbandingan santan terhidrolisis dan gliserol (50:5) setara dengan perbandingan minyak dan gliserol (1:1). Karena didalam santan mengandung minyak sebesar 10%. Sedangkan lama inkubasi optimum diperoleh selama 4 jam dengan monogliserida sebesar 17 % dari 10 mL total minyak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbandingan santan terhidrolisis dengan gliserol dan lama inkubasi berpengaruh nyata terhadap aktivitas lipase pada santan dan kecambah wijen, kadar FFA santan, kadar FFA hasil esterifikasi, volume fraksi minyak, serta volume dari monogliserida
Pengembangan Bahan Ajar Kimia Berbasis Triple Representation pada Pokok Bahasan Unsur, Senyawa, dan Campuran
ABSTRAK Sugiarti, Desy Ratna. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Kimia Berbasis Triple Representation pada Pokok Bahasan Unsur, Senyawa, dan Campuran. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Oktavia Sulistina, S.Pd., M.Pd, (II) Dr. H. Yudhi Utomo, M.Si. Kata kunci: Pengembangan, bahan Ajar, materi, triple representation.Unsur, senyawa, dan campuran merupakan salah satu pokok bahasan dalam kimia. Pokok bahasan ini terdapat pada kompetensi dasar jenjang SMP dan secara tidak langsung dibutuhkan untuk mempelajari pokok bahasan kimia lainnya pada jenjang SMA dan perguruan tinggi. Oleh karena itu, peserta didik seharusnya telah mempunyai pemahaman yang baik pada jenjang SMP. Akan tetapi, menurut hasil penelitian, peserta didik masih banyak mengalami kesulitan dan miskonsepsi pada pokok bahasan unsur, senyawa, dan campuran. Penyebab paling dominan terjadinya kesulitan dan miskonsepsi adalah bahan ajar. Bahan ajar yang ada tidak menerapkan tiga tingkatan representasi dalam ilmu kimia, yaitu makroskopis, submikroskopis, dan simbolik sehingga peserta didik tidak dapat menghubungkan ketiga tingkatan representasi dalam kimia. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan bahan ajar kimia berbasis triple representation pada pokok bahasan unsur, senyawa, dan campuran dan mengetahui kevalidan bahan ajar berdasarkan proses validasi.Pengembangan bahan ajar ini dilakukan dengan menerapkan model pengembangan four-D model (Thiagarajan, 1974). Menurut model ini, pengembangan bahan ajar dilakukan melalui 4 tahapan, yaitu tahap define, design, develop, dan disseminate. Namun pada pengembangannya baru dilakukan tahap define, design, dan develop. Validasi pengembangan bahan ajar ini diperoleh data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh berdasarkan skor angket yang disusun dalam skala Likert. Data kualitatif diperoleh berdasarkan komentar dan saran perbaikan yang diisi oleh validator ahli yakni dosen Jurusan Kimia, guru kimia SMA, dan guru IPA SMP, serta uji keterbacaan yang dilakukanoleh masing-masing 10 peserta didik semester 2 jurusan pendidikan kimia Universitas Negeri Malang, kelas 10 SMAN 2 Malang, dan kelas 7 SMPN 5 Malang. Perolehan data kuantitatif kemudian dianalisis mengguanakan teknik persentase penilaian. Hasil perhitungan persentase penilaian yang diperoleh digunakan sebagai landasan pengambilan keputusan lebih lanjut terhadap revisi produk yang disesuaikan dengan jenjang kriteria interpretasi skor penilaian bahan ajar untuk mengetahui tingkat kelayakan bahan ajar. Hasil penelitian pengembangan bahan ajar berupa buku suplemen pokok bahasan unsur, senyawa, dan campuran. Hasil persentase rata-rata validasi isi buku suplemen sebesar 83% termasuk kriteria valid dan hasil persentase rata-rata uji keterbacaan buku suplemen sebesar 83% termasuk kriteria valid. Berdasarkan hasil validasi isi dan uji keterbacaan menunjukan bahwa secara umum bahan suplemen telah valid, sehingga layak digunakan
Identifikasi Pemahaman Submikroskopik Kesetimbangan Kimia pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Malang
ABSTRAK Materi kesetimbangan kimia berkaitan dengan konsep-konsep yang bersifat abstrak. Hal ini menyebabkan sebagian besar penjelasan pada materi kesetimbangan kimia berada pada tingkat submikroskopik. Dengan demikian, untuk memahami materi kesetimbangan kimia, pemahaman siswa harus bersandar pada pemahaman submikroskopik. Materi kesetimbangan kimia merupakan prasyarat untuk mempelajari materi-materi lain, seperti larutan asam dan basa, reaksi reduksi-oksidasi, hidrolisis garam, larutan penyangga, dan kesetimbangan kelarutan. Oleh karena itu, siswa harus memiliki pemahaman yang utuh pada materi kesetimbangan kimia agar tidak mengalami kesulitan saat mempelajari konsep-konsep tersebut. Namun, hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa, siswa yang telah dinyatakan lulus KKM masih mengalami kesulitan dalam menjelaskan alasan terjadinya pergeseran kesetimbangan. Hal ini diduga karena siswa belum memahami materi kesetimbangan kimia pada tingkat subsubmikroskopik, sehingga perlu dilakukan tes. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman submikroskopik siswa pada materi kesetimbangan kimia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dan bersifat studi kasus, yaitu penelitian bertujuan untuk menggambarkan data kuantitatif yang terkumpul tanpa bermaksud untuk menarik kesimpulan yang berlaku secara umum. Penelitian dilakukan terhadap 30 siswa kelas XI MIPA 6G4 di SMA Negeri 10 Malang. Instrumen penelitian yang digunakan merupakan tes pemahaman submikroskopik kesetimbangan kimia yang terdiri dari soal-soal pilihan ganda dengan 5 pilihan jawaban dan dilengkapi alasan terbuka. Tes ini telah diuji validasi isi oleh 2 ahli materi dan diujicobakan pada 64 siswa, dan telah dinyatakan valid dan reliabel (r11=0,873). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa yang telah memahami konsep submikroskopik dari reaksi kesetimbangan kimia termasuk relatif banyak (59,1%), dengan rincian siswa yang memahami konsep submikroskopik kesetimbangan dinamis termasuk banyak (75,0%), siswa yang memahami konsep submikroskopik tetapan kesetimbangan termasuk banyak (75,8%), siswa yang memahami konsep submikroskopik derajat disosiasi termasuk cukup banyak (40,0%), dan siswa yang memahami konsep submikroskopik pergeseran kesetimbangan termasuk cukup banyak (44,5%
Produksi Keratinase oleh Bacillus sp. MD24 Menggunakan Metode Solid-State Fermentation (SSF)
ABSTRAK Nurkhasanah, U. 2017. Produksi Keratinase oleh Bacillus sp. MD24 menggunakan Metode Solid-State Fermentation(SSF). Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suharti, S.Pd., M.Si., (II) Eli Hendrik Sanjaya, S.Si., M.Si. Kata kunci: keratin, keratinase, Bacillus sp. MD24, Solid-State Fermentation, limbah industri pertanian. Keratinase adalah protease spesifik yang menunjukkan kemampuan untuk mendegradasi keratin. Ekstrak kasar keratinase dari Bacillus sp. MD24 yang diproduksi dengan metode Submerged Fermentation (SmF) telah terbukti dapat diaplikasikan untuk dehairing kulit kambing. Namun, proses dehairingtersebut masih membutuhkan waktu 72 jam untuk menghilangkan bulu sepenuhnya. Hal tersebut disebabkan rendahnya aktivitas ekstrak kasar keratinase. Solid-State Fermentation (SSF) merupakan metode fermentasi alternatif yang dilakukan pada medium padat dengan kadar air rendah. SSF memiliki beberapa keuntungan misalnya, produktivitas fermentasi yang tinggi, stabilitas produk yang tinggi, represi katabolik yang lebih rendah, budidaya mikroorganisme khusus untuk substrat yang tidak larut dalam air, dan memerlukan sterilisasi yang rendah. Limbah industri pertanian sering digunakan sebagai media SSF karena mengandung makonutrien dan mikronutrien yang penting untuk pertumbuhan bakteri dan proliferasi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menentukan tingkat kelembaban dan waktu produksi untuk menghasilkan aktivitas keratinase yang tinggi oleh Bacillus sp. MD24 menggunakan metode Solid-State Fermentation (SSF) dengan menggunakan substrat bulu ayam dan (2) mengetahui jenis dan jumlah sumber makronutrien tambahan yang dapat menghasilkan aktivitas keratinase tertinggi. Penelitian terdiri dari 7 tahapan yaitu (1) preparasi substrat bulu ayam, jerami padi, ampas tebu dan limbah tahu; (2) regenerasi kultur murni Bacillus sp. MD24; (3) persiapan inokulum; (4) penentuan kelembaban maksimum untuk menghasilkan produksi keratinase tertinggi menggunakan Solid-State Fermentation (SSF); (5) pengaruh penambahan limbah agroindustri (jerami padi, ampas tebu, dan limbah tahu) pada media produksi keratinase; (6) pembuatan ekstrak kasarkeratinase; (7) penentuan aktivitas enzim; dan (8) analisis data. Penentuan aktivitas enzim menggunakan kasein sebagai substrat. Kadar tirosin yang dihasilkan dari hidrolisis kasein dengan ekstrak kasar keratinase ditentukan secara spektroskopi pada panjang gelombang 280 nm. Produksi keratinase tertinggi menggunakan metode SSF diperoleh pada tingkat kelembaban 250 % dengan fermentasi selama 3 hari menghasilkan aktivitas 73,35 U/mL dan aktivitas total 11002,5 U. Limbah agroindustri terbaik yang ditambahkan pada bulu ayam adalah ampas tebu dengan perbandingan bulu ayam:ampas tebu (5: 1) menghasilkan aktivitas ekstrak kasar 258,24 U/mL dan aktivitas total 25824 U
Perbedaan Hasil Belajar Kognitif Materi Sistem Koloid yang Dibelajarkan dengan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing-Peta Konsep dan Inkuiri Terbimbing pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Kepanjen
ABSTRAK Ratnasari, Desy.E. 2016. Perbedaan Hasil Belajar Kognitif Materi Sistem Koloidyang Dibelajarkan dengan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing – Peta Konsep dan Inkuiri Terbimbing pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Kepanjen.Skripsi,Jurusan Kimia, FakultasMIPA, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd, M.Si. (II) Dr. Siti Marfu’ah, M.S. Kata kunci:Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing, PetaKonsep, HasilBelajar Kognitif, Sistem Koloid Kimia merupakan salah satu cabang dari ilmu pengetahuan alam di jenjang Sekolah Menengah Atas, materi yang yang dipelajari cukup banyak. Hal ini menyebabkan sebagian siswa menganggap mata pelajaran kimia merupakan mata pelajaran yang sulit. Pembelajaran kimia sebaiknya diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat menerima pelajaran kimia dengan baik. Salah satu modelpembelajaran yang sesuaiuntukditerapkanadalah model pembelajaranInkuiri Terbimbing.Model pembelajaran yang berpusat pada siswa dapat membantu siswa mengkonstruk pengetahuan yang diperolehnya, sehingga pengetahuan atau konsep yang diperoleh akan lebih bermakna dan lebih melekat dalam pemahaman siswa. Kesalahan-kesalahan konsep yang sering dihadapi siswa terjadi karena siswa harus belajar dengan membangun pengetahuannya sendiri. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kesalahan konsep tersebut dengan memberikan tugas berupa pembuatan peta konsep. Pembuatan peta konsep ini dapat diterapkaan pada model pembelajaran inkuiri terbimbing karena keduanya sama-sama bertujuan untuk membantu siswa lebih mengkonstruk pemahamannya sendiri. Model pembelajaran Inkuiri Terbimbing–PetaKonsepdanInkuiri TerbimbingditerapkanpadamateriSistem Koloid. Tujuandaripenelitianiniadalah (1) untuk mengetahui keterlaksanaan proses pembelajaran Sistem Koloiddengan model pembelajaranInkuiri Terbimbing–PetaKonsepdanInkuiri Terbimbing padasiswakelasXI SMA Negeri 1 Kepanjen,(2) untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil belajar materiSistem Koloidantarasiswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaranInkuiri Terbimbing–Peta Konsep pada siswa kelas XI SMA Negeri1 Kepanjen. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian eksperimental semu(quasy experimentaldesign) dengan model posttest only control group design. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik random samplingmelaluidua kali undian.Undian pertama digunakan untuk menentukan kelas sampel penelitian.Undian kedua, terpilih kelas XI MIA 5 sebagai kelas eksperimen dan XI MIA 6 sebagai kelas kontrol.Kelas eksperimen dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing – Peta Konsep dan kelas control dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing.Instrumen yang digunakan berupa instrument perlakuan (silabus, RPP, LKS) dan instrument pengukuran (teshasilbelajar dan lembar observasi).Data keterlaksanaan proses pembelajaran dan nilai kuis dianalisis dengan analisis deskriptif, sedangkan data nilai ulangan harian dianalisis dengan analisis statistika dengan menggunakan bantuan program SPSS 20.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) keterlaksanaan proses pembelajaran pada siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol termasuk dalam kategori terlaksana dengan sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari persentase rata-rata keterlaksanaan proses pembelajaran pada siswa kelas eksperimen sebesar 94,85% dan siswa kelas kontrol sebesar93,28%, (2) Ada perbedaan hasil belajar materiSistem Koloidantarasiswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing – Peta Konsep dan Inkuiri Terbimbing pada siswa kelas XI SMA Negeri1 Kepanjen. Rata-rata nilai hasil belajar kognitif materi Sistem Koloid siswa kelas eksperimen lebih tinggi ( 92,51) daripada siswa kelas kontrol( = 88,00).
Analisis Kemampuan Desorpsi Senyawa Volatil Heksatriakontan, Oktanol,dan Butil asetat oleh Adsorben Silika-Selulosa
ABSTRAK Handayani, M. 2017. Analisis Kemampuan Desorpsi Senyawa Volatil Heksatriakontan, Oktanol,dan Butil asetat oleh Adsorben Silika-Selulosa. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D., (II) Prof. Ir. Nurindah Ph.D. Kata Kunci: silika-selulosa, atraktan, adsorbat, bioassay Sumber silika dari abu sekam padi dan selulosa dari nata de coco digunakan sebagai adsorben silika-selulosa. Permukaan adsorben silika-selulosa yang mampu menjerap dan melepaskan senyawa volatil ekstrak batang padi terinfeksi telur wereng batang coklat (WBC) dengan metode bioassay, sehingga senyawa volatil berpotensi sebagai atraktan parasitoid. Adsorben ini dapat digunakan sebagai media penjerap dalam pelepasan senyawa heksatriakontan, oktanol dan butil asetat. Penelitian ini bertujuan untuk, (1) menguji kemampuan adsorben dalam mendesorpsi adsorbat menggunakan olfaktometri, (2) mendiskripsi desorpsi adsorbat dengan analisis GC-MS, (3) mengetahui interaksi permukaan adsorben dalam menjerap dan melepas adsorbat dengan analisis FT-IR. Penelitian ini terdiri atas 8 tahap, yaitu (1) pembuatan silika-selulosa sebagai adsorben, (2) karakterisasi adsorben silika-selulosa, (3) pencampuran senyawa-senyawa heksatriakontan, oktanol, dan butil asetat untuk pembuatan adsorbat, (4) penjerapan senyawa adsorbat, (5) uji bioassay, (6) analisis desorpsi adsorbat berdasarkan massa adsorben, (7) analisis desorpsi adsorbat dengan GC-MS dan (8) analisis dinamika permukaan adsorben, adsorbat dengan FT-IR. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa, (1) hasil uji bioassay, adsorben silika-selulosa memiliki kemampuan yang baik dalam pelepasan senyawa volatil heksatriakontan, oktanol, dan butil asetat, sehingga dapat menarik respon parasotoid, (2) pada campuran heksatriakontan, oktanol dan butil asetat (1 g : 0,12 mL : 0,06 mL), senyawa oktanol, dan butil asetat dapat terdesorpsi dilihat dari kromatografi gas spektroskopi massa (GC-MS), sedangkan senyawa heksatriakontan sampai hari kesembilanbelas belum terdesorpsi, dan (3) terjadi interaksi pada permukaan adsorben silika-selulosa dengan senyawa heksatriakontan, oktanol dan butil asetat ditunjukkan dengan adanya dinamika adsorpsi dan desorpsi adsorbat pada permukaan adsorben
Kajian Adsorpsi, Pengaruh Humat dan Fulvat, serta Desorpsi Ion Ni2+ dan Cd2+ Menggunakan Kompos TPA Tlekung.
ABSTRAK Fajriyah, Maulida. 2017. Kajian Adsorpsi, Pengaruh Humat dan Fulvat, serta Desorpsi Ion Ni2+ dan Cd2+ Menggunakan Kompos TPA Tlekung. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Irma Kartika K., M.Si., (II) Dr. Sc. Anugrah Ricky Wijaya, M.Sc. Kata Kunci : humat, fulvat, nikel, kadmium Kompos TPA Tlekung dapat dimanfaatkan sebagai adsorben logam berat dalam air lindi untuk mencegah pencemaran lingkungan. Pemahaman tentang pengikatan ion logam oleh komponen-komponen kompos dan faktor-faktor yang mempengaruhinya sangat penting untuk mengembangkan kompos sebagai adsorben yang efektif dan ramah lingkungan, pengaturan kondisi adsorpsi, dan pengelolaan kompos sisa proses adsorpsi. Pelaksanaan ini dilakukan dengan tujuan untuk 1) mengetahui karateristik kompos TPA Tlekung, 2) menentukan kadar ion nikel(II) dan kadmium(II) dalam adsorbat setelah proses adsorpsi pada berbagai variasi pH, 3) menentukan kadar ion nikel(II) dan kadmium(II) pada fraksi humat dan fulvat yang terdapat dalam adsorbat, dan 4) menentukan kadar ion nikel(II) dan kadmium(II) yang terlepas kembali dari kompos sisa hasil adsorpsi. Penelitian eksperimental laboratorium dilakukan dalam beberapa tahap 1) preparasi dan karakterisasi kompos, 2) proses adsorpsi campuran ion nikel(II) dan kadmium(II) oleh kompos pada variasi pH dan penentuan kadar ion nikel(II) dan kadmium(II) dalam adsorbat setelah proses adsorpsi, 3) ekstraksi humat dan fulvat dalam adsorbat, 4) penentuan kadar ion nikel(II) dan kadmium(II) yang terikat oleh humat dan fulvat terlarut dalam adsorbat, 5) penentuan kadar ion nikel(II) dan kadmium(II) yang terdapat pada kompos setelah proses adsorpsi, dan 6) penentuan kadar ion nikel(II) dan kadmium(II) saat proses desorpsi pada kompos hasil adsorpsi dengan variasi derajat keasaman 6 dan 9. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah : (1) sifat fisikokimia kompos TPA Tlekung adalah sebagai berikut; pH, kadar air, ion nikel(II) dan kadmium(II) terlarut masing-masing sebesar 7.5, 36.26 %, 0,0753 mg/kg, 0.0074 mg/kg, (2) kompos TPA Tlekung mampu mengadsorp ion nikel(II) dan kadmium(II) secara kompetitif pada adsorbat dengan persen adsorpsi masing-masing 14.039 % dan 37.441 % yang terjadi pada pH 6, (3) kadar ion nikel(II) yang terikat oleh humat dan fulvat dan ikut terlarut dalam adsorbat masing-masing sebesar 0,0028 mg/g dan 0,0297 mg/g, sedangkan kadmium(II) yang terikat oleh humat dan fulvat masing-masing sebesar 0,0003 mg/g dan 0,0043 mg/g, (4) proses desorpsi ion nikel((II) dan kadmium(II) terjadi pada pH 6 dengan masing-masing kadar sebesar 48.90 % dan 16.02 %
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DAN ADI (ARGUMENT DRIVEN INQUIRY) TERHADAP KETERAMPILAN ARGUMENTASI ILMIAH DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATERI HIDROLISIS
ABSTRAK Mumpuni, Inmas Putri. 2017. Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing dan ADI (Argument Driven Inquiry) terhadap Keterampilan Argumentasi Ilmiah dan Hasil Belajar Peserta Didik pada Materi Hidrolisis. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Oktavia Sulistina, S,Pd., M.Pd, (II) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D. Kata Kunci: Inkuiri Terbimbing, ADI (Argument Driven Inquiry), Keterampilan Argumentasi, Hasil Belajar Kualitas pendidikan di Indonesia perlu ditingkatkan untuk menghadapi era globalisasi. Proses pembelajaran adalah salah satu aspek penting yang harus diperbaiki karena kegiatan pembelajaran masih didominasi oleh guru. Kondisi ini yang menyebabkan kurang optimalnya peserta didik dalam meningkatkan wacana argumentatif dan hasil belajar sehingga diperlukan proses pembelajaran melalui model pembelajaran inkuiri terbimbing dan ADI (Argument Driven Inquiry). Model pembelajaran ADI merupakan penyempurnaan dari model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan adanya bimbingan argumentasi berjenjang. Dengan demikian peserta didik dapat dengan mudah memahami materi dan dapat berargumentasi secara aktif. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui keterlaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan ADI pada materi hidrolisis, (2) mengetahaui model pembelajaran ADI (Argument Driven Inquiry) memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap keterampilan argumentasi ilmiah peserta didik (3) mengetahui perbedaan pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing dan ADI (Argument Driven Inquiry) terhadap hasil belajar peserta didik pada materi hidrolisis, (4) mengetahui hubungan keterampilan argumentasi ilmiah dengan hasil belajar peserta didik yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan ADI (Argument Driven Inquiry). Rancangan penelitian menggunakan desain penelitian semu (Quasi Experimental) dengan model posttest only control group design. Populasi pada penelitian ini adalah kelas XI SMA. Teknik pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik cluster random sampling. Sampel penelitian meliputi kelas XI IPA-3 sebagai kelas yang dibelajarkan menggunakan model inkuiri terbimbing dan kelas XI IPA-5 sebagai kelas yang dibelajarkan menggunakan model ADI (Argument Driven Inquiry). Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes uraian keterampilan argumentasi dan hasil belajar. Data keterlaksanaan pembelajaran dianalisis dengan analisis deskriptif sedangkan data nilai keterampilan argumentasi ilmiah dan hasil belajar peserta didik dianalisis dengan analisis statistik menggunakan bantuan program SPSS 16.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) keterlaksanaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan ADI terlaksana sangat baik dengan presentase sebesar 91,66% dan 92,00%, (2) model pembelajaran ADI memberikan hasil yang lebih baik terhadap keterampilan argumentasi ilmiah peserta didik dibandingkan model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan nilai rata-rata keterampilan argumentasi ilmiah peserta didik kelas ADI lebih tinggi (70,51) daripada nilai rata-rata keterampilan argumentasi ilmiah peserta didik kelas inkuri terbimbing (63,23), (3) ada perbedaan pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing dan model pembelajaran ADI terhadap hasil belajar peserta didik dengan nilai rata-rata hasil belajar peserta didik kelas ADI lebih tinggi (71,82) dibandingkan dengan hasil belajar peserta didik kelas inkuri terbimbing (64,88), (4) ada hubungan antara keterampilan argumentasi ilmiah dengan hasil belajar peserta didik pada kelas yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan kelas yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran ADI
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Inkuiri Terbimbing Pada Materi Asam Basa Untuk SMA/MA Kelas XI
ABSTRAK Sulistiawati, 2017. Pengembangan Bahan Ajar Digital Berbasis Inkuiri Terbimbing Pada Materi Asam Basa Untuk SMA/MA Kelas XI. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Munzil, M.Si (II) Dr. Siti Marfuah, M.S. Kata Kunci : Bahan Ajar Digital, Asam Basa, Inkuiri Terbimbing Kimia sebagai salah satu cabang sains mengandung banyak konsep abstrak dan teoritis yang berhubungan dengan fenomena dalam kehidupan sehari-hari. Banyak konsep yang bersifat abstrak sehingga menyebabkan peserta didik sering mengalami kesulitan dan kegagalan dalam belajar kimia. Konsep kimia mencakup tiga representasi yaitu makroskopis, submikroskopis, dan simbolik. Salah satu materi kimia yang mencakup ketiga representasi tersebut yaitu materi asam basa.Penyajian materi dengan ketiga representasi tersebut dapat membuat pembelajaran kimia menjadi lebih bermakna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan bahan ajar digital berbasis inkuiri terbimbing pada materi asam basa yang layak dan valid. Metode penelitian dan pengembangan yang digunakan yaitu model 4-D yang terdiri dari define (pendefinisian), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebarluasan). Pada penelitian pengembangan ini, tahap disseminate (penyebarluasan) tidak dilakukan karena keterbatasan waktu dan biaya. Validasi isi bahan ajar digital dilakukan oleh validator dan uji keterbacaan oleh peserta didik. Validasi ahli dilakukan oleh satu orang dosen dan satu orang guru kimia SMA, sedangkan uji keterbacaan dilakukan oleh sepuluh peserta didik SMA. Instrumen validasi berupa angket penilaian menggunakan skala Likert empat tingkat disertai dengan kolom komentar dan saran dari validator. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari nilai rata-rata hasil validasi dengan menggunakan teknik analisis rata-rata. Data kualitatif diperoleh dari komentar dan saran dengan menggunakan teknik analisis deskriptif. Kedua data tersebut merupakan dasar yang digunakan untuk melakukan revisi terhadap bahan ajar digital yang dikembangkan. Hasil pengembangan adalah bahan ajar digital pokok bahasan asam basa berbasis inkuiri terbimbing yang dapat dijadikan sebagai penunjang dalam pembelajaran kimia. Berdasarkan validasi yang telah dilakukan, diperoleh persentase rata-rata untuk kriteria penilaian isi materi sebesar 77,7%, dan kriteria penilaian media sebesar 79,6%, sehingga diperoleh penilaian rata-rata sebesar 78,7%. Sedangkan untuk hasil uji keterbacaan pada 10 orang peserta didik diperoleh penilaian rata-rata sebesar 79,2%. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, maka bahan ajar digital layak untuk dijadikan sebagai penunjang dalam pembelajaran pokok bahasan asam basa dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing untuk Kelas XI SMA/MA