SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Pengaruh Strategi Pembelajaran Inkuiri Terbimbing terhadap Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skills, HOTS) Siswa Kelas X MIPA SMA Negeri 02 Batu pada Materi Reaksi Redoks
ABSTRAK Salah satu strategi pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah inkuiri terbimbing (Madhuri dkk, 2012). Hasil penelitian Nafis (2015) menyatakan bahwa pembelajaran larutan penyangga dengan model inkuiri terbimbing memberikan hasil belajar dan hasil kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang lebih baik dibandingkan model ekspositori. Sebagaimana larutan penyangga, reaksi redoks merupakan materi pelajaran di kelas X yang bersifat konseptual, kontekstual, dan algoritmik. Oleh karena itu untuk tujuan meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, dalam proses pembelajaran reaksi redoks dapat digunakan strategi inkuiri terbimbing. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengkaji keterlaksanaan strategi pembelajaran inkuiri terbimbing dan strategi pembelajaran konvensional pada materi reaksi redoks di kelas X MIPA SMA Negeri 02 Batu, 2) mengkaji pengaruh strategi pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas X MIPA SMA Negeri 02 Batu pada materi reaksi redoks. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu (Quasi Experimental Designs) dengan posttest-only control group design. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas X SMA Negeri 02 Batu. Pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling dan diperoleh dua kelas, yaitu kelas X MIPA 2 sebagai kelas eksperimen, dan kelas X MIPA 1 sebagai kelas kontrol. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari: (1) variabel bebas, yaitu strategi pembelajaran inkuiri terbimbing pada kelas eksperimen dan strategi pembelajaran konvensional pada kelas kontrol, (2) variabel terikat, yaitu kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa, (3) variabel kontrol, yaitu materi reaksi redoks, guru, soal tes kemampuan berpikir tingkat tinggi, serta alokasi waktu yang sama. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: (1) Silabus (2) RPP (3) LKS (4) Lembar Penilaian Afektif dan (5) Soal Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi. Teknik analisis data yang digunakan meliputi analisis deskriptif dan analisis statistik. Analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan keterlaksanaan pembelajaran dan nilai afektif siswa. Analisis statistik dengan uji-t satu pihak pada dua sampel tidak berhubungan (Independent Samples) menggunakan bantuan SPSS Statistics 17.0. Uji-t satu pihak digunakan untuk menguji pengaruh strategi pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas X MIPA SMA Negeri 02 Batu pada materi reaksi redoks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Keterlaksanaan pembelajaran inkuiri terbimbing memiliki rata-rata sebesar 95,47%, dan pembelajaran konvensional memiliki rata-rata sebesar 95,76%, keduanya masuk dalam kategori sangat baik. (2) Strategi pembelajaran inkuiri terbimbing memberikan hasil yang lebih baik terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas X MIPA SMA Negeri 02 Batu pada materi reaksi redoks dibandingkan strategi pembelajaran konvensional. Nilai rata-rata kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang dibelajarkan dengan strategi inkuiri terbimbing adalah 79,13, lebih baik dibandingkan nilai rata-rata kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang dibelajarkan dengan strategi konvensional yaitu 73,03. Rata-rata nilai afektif siswa yang dibelajarkan dengan strategi inkuiri terbimbing adalah 3,5, rata-rata tersebut juga lebih baik dibandingkan rata-rata nilai afektif siswa yang dibelajarkan dengan strategi konvensional yaitu 2,9. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran inkuiri terbimbing memberikan hasil yang lebih baik terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas X MIPA SMA Negeri 02 Batu pada materi reaksi redoks dibandingkan strategi pembelajaran konvensional
Fraksinasi dan Distribusi Keterikatan Besi dalam Sedimen Sendang Biru Menggunakan Metode BCR (The Bereau Community of Reference).
ABSTRAK Sedimen memiliki kemampuan mengadsorpsi logam- logam berat, salah satunya adalah besi. Besi dalam sedimen dapat berasal dari aktifitas manusia, seperti pembuangan limbah domestik, limbah industri, reservoir air, korosi pada pipa-pipa air, dan aktifitas alam. Hal ini menyebabkan besi dipermukaan laut dapat terserap ke dalam sedimen. Metode destruksi merupakan metode yang penting untuk melarutkan semua besi dalam sedimen secara presisi dan akurasi. Penelitian kadar besi dalam sedimen telah banyak dilakukan, tetapi fraksinasi dan distribusi keterikatan besi dalam sedimen Sendang Biru menggunakan metode BCR belum pernah dilakukan. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk: (1) mengetahui efektifitas metode BCR secara presisi dan akurasi untuk menganalisis besi dalam sedimen Sendang Biru, (2) mengetahui fraksinasi keterikatan besi dalam sedimen Sendang Biru, dan (3) mengetahui distribusi keterikatan besi dalam sedimen Sendang Biru. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: (1) penentuan lokasi titik pengambilan sampel sedimen, (2) penyiapan sampel sedimen Sendang Biru, (3) prosedur metode BCR, (4) uji efektifitas metode BCR secara presisi dan akurasi untuk menganalisis besi dalam sedimen Sendang Biru, dan (5) penentuan fraksinasi dan distribusi keterikatan besi dalam sedimen Sendang Biru di 9 titik pengambilan sampel. Hasil dari penelitian ini adalah: (1) efektifitas metode BCR (The Bereau Community of Reference) mempunyai presisi dengan nilai %RSD sebesar 4,50%, sedangkan akurasinya dengan nilai %Recovery sebesar 64,78%, (2) fraksinasi keterikatan besi dalam sedimen Sendang Biru di 9 lokasi titik pengambilan sampel diperoleh rata-rata persentase konsentrasi pada setiap fraksi secara berturut-turut, yaitu fraksi pertukaran ion dan mudah larut, fraksi tereduksi, fraksi teroksidasi, dan fraksi residual adalah 9,64%; 10,92%; 18,39%; dan 61,04%, dan (3) distribusi kandungan besi dalam sedimen Sendang Biru di 9 lokasi titik pengambilan sampel bervariasi, diperoleh rata-rata konsentrasi besi pada lokasi 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9 secara berturut-turut adalah 29.999,67; 7.390,5; 11.371,5; 17.329; 19.919,5; 23.224,75; 24137; 34.940,25; dan 37.925,25 mg/kg
Kajian Aspek-Aspek Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada Pembelajaran Kimia di SMA Negeri 2 Lamongan Semester Gasal Tahun Ajaran 2016/2017
ABSTRAK Dyahfita, Tisna. 2017. Kajian Aspek-Aspek Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada Pembelajaran Kimia di SMA Negeri 2 Lamongan.Semester Gasal Tahun Ajaran 2016/2017. Pembimbing: (1) Herunata, S.Pd., M.Pd, (II) Dr. H. Yudhi Utomo, M.Si. Kata kunci: keterlaksanaan pembelajaran, HOTSPada abad ke-21 ini perkembangan teknologi menjadi sangat pesat dan cepat serta perkembangan masyarakat yang semakin kritis dengan tuntutan terhadap layanan, kualitas, dan produk terutama dalam dunia pendidikan menjadi semakin tinggi. Pendidikan berkontribusi terhadap sumber daya manusia yang berkualitas yaitu memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi. Upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dilakukan melalui proses pembelajaran salah satunya pembelajaran kimia. Pembelajaran kimia di SMA/MA bukan hanya transfer pengetahuan dan keterampilan tapi juga membangun kemampuan berpikir tingkat tinggi untuk memenuhi kemampuan abad ke-21 dan memenuhi kompetensi inti dalam kurikulum 2013. Substansi penelitian ini untuk mengetahui aspek-aspek HOTS pada pembelajaran kimia karena untuk dapat memenuhi kompetensi inti dalam kurikulum 2013, guru membantu peserta didik dengan pembelajaran berbasis HOTS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek-aspek HOTS pada pembelajaran kimia yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, dan keterlaksanaan pembelajaran kimia serta hasil belajar kognitif (KI-3) peserta didik SMA Negeri 2 Lamongan semester gasal tahun ajaran 2016/2017.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian terdiri dari 5 guru kimia dan 565 peserta didik kelas X, XI, XII. Sampel penelitian terdiri dari 3 guru kimia dan 90 peserta didik dari kelas X, XI, dan XII SMA Negeri 2 Lamongan. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi dan angket menggunakan instrumen checklist lembar penilaian dokumen RPP dan silabus, angket pelaksanaan pembelajaran peserta didik dan guru serta lembar tabulasi hasil belajar kognitif (KI-3). Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif menggunakan persentase dan kriteria penilaian dan analisis deskriptif menggunakan nilai rerata. Hasil penelitian pada SMA Negeri 2 Lamongan menunjukkan bahwa aspek-aspek HOTS pada pembelajaran kimia yang ditinjau dari: (1) perencanaan pembelajaran kimia mencapai 57% termasuk dalam kriteria cukup baik; (2) pelaksanaan pembelajaran kimia mencapai 67% termasuk dalam kriteria baik; (3) keterlaksanaan pembelajaran kimia mencapai 59% termasuk dalam kriteria cukup baik; dan (4) hasil belajar kognitif (KI-3) mencapai 84.ateri lain. an
Perbandingan Metode Destruksi Refluks dan Hotplate Untuk Analisis Fe dalam Sedimen Sendang Biru
ABSTRAK Monica, Radella Cahya. 2017. Perbandingan Metode Destruksi Refluks dan Hotplate Untuk Analisis Fe dalam Sedimen Sendang Biru. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Sc. Anugrah Ricky Wijaya, S.Si, M.Sc. (II) Dra. SurjaniWonorahardjo, Ph.D. Kata Kunci: Sedimen, Analisis Fe, Metode refluks, Metode hotplate Kadar Fe dalam sedimen dapat ditentukan dengan metode destruksi basah menggunakan refluks dan hotplate. Kondisi destruksi optimum analisis Fe dalam 0,5 g sedimen menggunakan refluks telah ditentukan, dengan kondisi volume 50 mL HNO3 8 M dengan pemanasan 150 menit. Untuk menentukan kadar Fe dalam sedimen Sendang Biru dengan tepat, diperlukan metode tersebut dengan cara menguji tingkat presisi dan akurasinya. Sedangkan untuk menguji tingkat keefektifan metode tersebut dalam melarutkan Fe dalam sedimen, dibandingkan dengan menggunakan hotplate. Kondisi destruksi analisis Fe dalam sedimen dengan hotplate belum ditentukan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menentukan kondisi destruksi analisis Fe dalam sedimen dengan hotplate, (2) Mengetahui tingkat presisi dan akurasi kondisi destruksi analisis Fe dalam sedimen dengan refluks dan hotplate. Penelitian dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) Penyiapan dan perlakuan sampel sedimen, (2) Penentuan kondisi destruksi analisis Fe dalam sedimen dengan hotplate, (a) Uji variasi konsentrasi larutan HNO3 (4 M, 6 M, 8 M, 10 M), (b) Uji variasi waktu destruksi (15 menit, 30 menit, 60 menit, 120 menit, 150 menit, 180 menit, 300 menit, 360 menit, 600 menit, 900 menit), (c) Uji variasi volume larutan HNO3 (10 mL, 25 mL, 50 mL,75 mL, 100 mL), (3) Pengujian tingkat presisi dan akurasi kondisi destruksi analisis Fe dalam sedimen dengan refluks dan hotplate. Kondisi destruksi analisis Fe dalam 0,5 g sedimen dengan hotplate yaitu 10 mL HNO3 6 M dengan pemanasan selama 15 menit. Kondisi destruksi optimum analisis Fe dalam 0,5 g sedimen dengan refluks memiliki tingkat akurasi dan presisi sebesar 98,80% dan 51,2%. Kondisi destruksi analisis Fe dalam sedimen dengan hotplate memiliki tingkat akurasi dan presisi sebesar 98,01% dan 16,25%. Metode destruksi dengan hotplate mampu melarutkan Fe lebih banyak dari sedimen dibandingkan dengan metode refluks
Analisis Tingkat Pemahaman Makroskopik, Submikroskopik, dan Simbolik Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 2 Pamekasan pada Materi Laju Reaksi
ABSTRAK Nurhidayati, Riska. 2017. Analisis Tingkat Pemahaman Makroskopik, Submikroskopik, dan Simbolik Siswa Kelas XI SMA Negeri 2 Pamekasan pada Materi Laju Reaksi. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing: (I) Prof. Drs. Suhadi Ibnu, M.A., Ph.D., (II) Dr. Sc. Anugrah Ricky Wijaya, S.Si., M.Sc. Kata Kunci: tingkat pemahaman, representasi makroskopik, representasi submikroskopik, representasi simbolik, laju reaksi Topik-topik pembelajaran kimia berisi tentang pembahasan suatu materi yang kebanyakan konsepnya bersifat abstrak dan kompleks. Konsep-konsep tersebut dapat dipahami dengan baik jika pembelajaran mampu menghubungkan antar konsep satu dengan yang lainnya yang dijelaskan dengan representasi makroskopik, submikroskopik, dan simbolik. Oleh karena itu, selama proses pembelajaran kimia diperlukan ketekaitan antar representasi tersebut. Salah satu materi dalam ilmu kimia yang perlu dijelaskan dengan tiga representasi adalah laju reaksi. Ini dapat ditinjau dari salah satu sub babnya yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman konsep laju reaksi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 2 Pamekasan pada representasi makroskopik, submikroskopik, dan simbolik serta hubungannya antar ketiga representasi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 1 dan XI IPA 5 SMA Negeri 2 Pamekasan tahun pelajaran 2017/2018 yang telah menerima materi laju reaksi dengan menggunakan teknik pengambilan sampel convenience sampling. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah 17 soal objektif dengan 5 pilihan jawaban yang dikembangkan oleh peneliti dan pemberian alasan terbuka yang terdiri atas 5 soal representasi makroskopik, 5 soal representasi submikroskopik, dan 7 soal representasi simbolik. Penelitian diawali dengan pembuatan instrumen tes, kemudian dilanjutkan dengan tahap validasi isi dan uji coba tes yang menghasilkan validitas butir soal sebesar 17 soal valid dengan nilai reliabilitas sebesar 0,959. Setelah diperoleh kelayakan soal tes, dilakukan pengumpulan data. Data yang diperoleh dianalisis dengan cara menghitung persentase rata-rata yang menjawab benar soal pada masing-masing representasi dan tiap butir soal. Selanjutnya, analisis hubungan antar representasi dilakukan dengan uji korelasi product moment menggunakan bantuan aplikasi SPSS 21 for Windows. Alasan terbuka digunakan untuk menganalisis lebih dalam mengenai tingkat pemahaman konsep siswa. Hasil penelitian menunjukan tingkat pemahaman konsep laju reaksi siswa pada representasi makroskopik tergolong kategori cukup yaitu sebesar 54,02%, tingkat pemahaman konsep laju reaksi siswa pada representasi submikroskopik tergolong kategori rendah yaitu sebesar 44,83%, dan tingkat pemahaman konsep laju reaksi siswa pada representasi simbolik tergolong kategori tinggi yaitu sebesar 60,99%. Ada hubungan yang kuat antara representasi makroskopik-submikroskopik dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,717 dan nilai persentase sumbangan pemahaman siswa pada representasi makroskopik sebesar 51,41% terhadap pemahaman siswa pada representasi submikroskopik. Ada hubungan yang lemah antara representasi makroskopik-simbolik dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,423 dan nilai persentase sumbangan pemahaman siswa pada representasi makroskopik sebesar 17,89% terhadap pemahaman siswa pada representasi simbolik. Ada hubungan yang lemah antara representasi submikroskopik-simbolik dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,482 dan nilai persentase sumbangan pemahaman siswa pada representasi submikroskopik sebesar 23,23% terhadap pemahaman siswa pada representasi simbolik
Studi Adsorpsi pada Adsorben Silika-Selulosa-Surfaktan terhadap Bromtimol Biru dan Fluorosein
ABSTRAK Mukhlisah, Lutfiyatul. 2017. Studi Adsorpsi pada Adsorben Silika-SelulosaSurfaktan terhadap Bromtimol Biru dan Fluorosein. Skripsi, JurusanKimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D.,(II) Dr. H. Yudhi Utomo, M.Si. Kata Kunci: bromtimol biru, fluorosein, silika-selulosa-surfaktan Fluorosein dan bromtimol biru merupakan suatu zat pewarna organik yang biasanya dimanfaatkan sebagai indikator asam dan basa. Penggunaan senyawa tersebut dibatasi karena termasuk senyawa yang berbahaya, sehingga perlu metode monitoring yang tepat. Salah satu tahap dalam penentuan kadar zat melibatkan tahap pemisahan.Adsorpsi merupakan salah satu metode pemisahan yang sering digunakan. Pada penelitian ini, adsorben yang digunakan adalah adsorben silika-selulosa yang dimodifikasi dengan adanya penambahan surfaktan (n-CTMABr). Penambahan surfaktan pada adsorben bertujuan untuk meningkatkan kepolaran, menurunkan tegangan permukaan, serta menyeragamkan pori-pori pada adsorben. Tujuan penelitian iniadalah untuk (1) menghasilkan silika-selulosa-surfaktan, (2) mengkarakterisasi adsorben meliputi kadar air, kadar abu, massa jenis, daya serap iod, dan FT-IR, (3) mengetahui keterpisahan bromtimol biru dan fluorosein dengan menggunakan KLT preparatif, (4) mengetahui daya adsorpsi adsorben silika-selulosa-surfaktan terhadap bromtimol biru dan fluorosein dengan metode batchdan (5) mengetahui interaksi di permukaan adsorben dengan menggunakan UV-Vis dan FT-IR. Penelitian ini terdiri dari 5 tahap antara lain: (1) pembuatan adsorben, (2) karakterisasi adsorben, (3) penerapan adsorben untuk pemisahan bromtimol biru dan fluorosein dengan KLT preparatif, (4) uji kemampuan adsorpsi adsorben silika-selulosa-surfaktan terhadap bromtimol biru dan fluorosein dengan metode batch, dan (5) analisis interaksi dipermukaan adsorben dengan UV-Vis dan FT-IR. Hasil yang diperoleh adalah (1) adsorben silika-selulosa-surfaktan berupa serbuk berwarna putih, (2) karakteristik fisik menunjukkan kualitas yang baik ditunjukkan kadar air dan daya serap terhadap iod, (3) adsorben silika-selulosa-surfaktan mampu memisahkan campuran bromtimol biru dan fluorosein, (4) fluorosein lebih terserap oleh adsorben silika-selulosa-surfaktan dibandingkan dengan bromtimol biru, dan (5) terjadi pelebaran pita pada spektrum FT-IR,yang dapat membuka kemungkinan adanya interaksi namun tidak dapat dijelaskan interaksinya secara jelas. Sedangkan pada UV-Vis panjang gelombang maksimum setalah dan sebelum adsorpsi tidak bergeser serta absorbansinya mengalami perubahan yang berarti terjadi interaksi fisika
SINTESIS, KARAKTERISASI NANOKOMPOSIT Ag-Fe3O4 DAN UJI AWAL POTENSINYA SEBAGAI ANTIBAKTERI
ABSTRAK Aisyah, SefinNur. 2017.Sintesis, Karakterisasi Ag-Fe3O4 dan Uji Awal Potensinya sebagai Antibakteri. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Fauziatul Fajaroh, M.S.(2) Dr. Nazriati, M.Si. Kata Kunci: nanokomposit, Ag-Fe3O4,template, PEG 6000, antibakteri Salah satu nanopartikel yang dikembangkan saat ini adalah magnetit. Nanopartikel magnetit memiliki kemagnetan yang kuat dan luas permukaan yang cukup besar. Berdasarkan sifat tersebut, nanopartikel magnetit dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang, diantaranya sebagai adsorben dan dalam bidang biomedis sebagai agen magnetis pada biomolecule separation, drug delivery system, hyperthermia theraphy. Aplikasi nanopartikel magnetit dapat dikembangkan sebagai antibakteri apabila dikompositkan dengan logam, salah satunya dengan perak. Nanokomposit perak magnetit (Ag-Fe3O4) dapat disintesis denganmenggunakan metode reduksi. Salah satu faktor yang mempengaruhi pengkompositan magnetit dengan perak secara reduksi adalah luas permukaan magnetit, karena proses sintesis nanokomposit diawali dengan adsorpsi Ag+ pada permukaan magnetit. Dengan meningkatnya luas permukaan magnetit, maka kapasitas adsorpsi terhadap Ag+ semakin meningkat. Luas permukaan magnetit dapat ditingkatkan dengan penambahan PEG 6000 pada proses sintesis yang berfungsi sebagai template yang dapat membuka pori-pori magnetit yang mengakibatkan luas permukaannya semakin besar. Penggunaan PEG sebagai template magnetit juga dapat mencegah aglomerasi magnetit serta meningkatkan monodispersitas partikel sehingga meningkatkan luas permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mensintesis dan mengkarakterisasi nanokomposit Ag-Fe3O4, (2) melakukan uji awal potensi nanokomposit hasil sintesis sebagai antibakteri. Penelitian ini secara garis besar dilakukan melalui 2 tahap, yaitu: (1) Sintesis Fe3O4 tanpa template PEG 6000 disimbolkan Fe3O4 (A) dan Fe3O4 dengan template PEG 6000 disimbolkan Fe3O4 (B), diikuti dengan karakterisasi XRD, FT-IR, dan BET, (2) Sintesis nanokomposit Ag-Fe3O4 dari Fe3O4 hasil sintesis dan reduksi AgNO3, diikuti karakterisasi XRD, XRF, SEM, dan uji potensinya sebagai antibakteri. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini yaitu adalah: (1) Fe3O4(A) dan Fe3O4(B) telah berhasil disintesis yang dibuktikan dengan munculnya puncak khas magnetit pada difraktogram XRD dan spektrum FT-IR. Berdasarkan hasil analisis BET, luas permukaan Fe3O4 dengan template PEG lebih besar daripada tanpa template PEG, (2) nanokomposit Ag-Fe3O4 berhasil disintesis yang dibuktikan dengan munculnya puncak-puncak khas magnetit dan perak pada difraktogram XRD. Berdasarkan gambar SEM, nanokomposit Ag-Fe3O4 (B) lebih seragam ukuran partikelnya daripada nanokomposit Ag-Fe3O4 (A). Berdasarkan data XRF, persentase Ag dalam nanokomposit Ag-Fe3O4 (B) lebih besar daripada dalam nanokomposit Ag-Fe3O4 (A), sehingga daya hambatnya terhadap pertumbuhan bakteri juga lebih besar
Kapasitas Adsorpsi Silika Aerogel berbasis Abu Bagasse terhadap Zat Warna Metilen Biru
ABSTRAK Maknun, Lukluil. 2017. Kapasitas Adsorpsi Silika Aerogel berbasis Abu Bagasse terhadap Zat Warna Metilen Biru. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nazriati, M.Si., (II) Dr. Fauziatul Fajaroh, M.S. Kata-kata kunci: Metilen biru, Adsorpsi, Silika aerogel, Abu bagasse Zat warna merupakan komponen penting yang digunakan pihak industri untuk mewarnai produk yang dihasilkan. Salah satu zat warna yang banyak digunakan di bidang industri adalah metilen biru. Metilen biru yang digunakan secara terus menerus mengakibatkan jumlah metilen biru di lingkungan menjadi semakin meningkat sehingga dihasilkan limbah. Oleh karena itu, pengurangan konsentrasi metilen biru di perairan yang tercemar menjadi salah satu hal penting dalam penanganan masalah lingkungan. Berdasarkan uraian tersebut, maka dilakukan sintesis silika aerogel berbahan dasar abu bagasse sebagai adsorben zat warna metilen biru dan menguji kapasitas adsorpsinya. Sintesis silika aerogel dari bahan dasar abu bagasse dimulai dengan ekstraksi silika yang dilanjutkan dengan metode sol-gel. Metode sol-gel dikenal sebagai salah satu metode yang cukup sederhana dan mudah. Proses sol-gel dapat digambarkan sebagai transisi sistem dari fasa larutan sol menjadi fasa padat gel yang berlangsung pada temperatur rendah. Metode sol gel dalam sintesis silika aerogel dari abu bagasse melalui beberapa tahapan, yaitu pembuatan asam silikat sebagai monomer, kondensasi, pematangan (aging), dan pengeringan. Abu bagasse diekstrak dengan NaOH pada suhu didihnya sambil diaduk selama satu jam, lalu filtrat yang dihasilkan dicampur dengan resin penukar kation pH 2, dan menghasilkan asam silikat. Larutan asam silikat kemudian ditambahkan trimethylchlorosilane (TMCS) dan hexamethyldisilazane (HMDS) sebagai agen pemodifikasi permukaan. Gel yang dihasilkan kemudian diaging pada suhu kamar selama 18 jam dan dikeringkan lebih lanjut pada suhu 80°C selama 24 jam. Silika aerogel selanjutnya digunakan sebagai adsorben metilen biru dengan variasi waktu kontak (15, 30, 45, 60, 75, 90, & 120 menit), konsentrasi adsorbat (6, 7, 8, 9, & 10 mg/L), dan suhu (40, 50, & 60 °C). Hasil penentuan kapasitas adsorpsi silika aerogel terhadap metilen biru dengan variasi waktu kontak menghasilkan waktu optimum adsorpsi selama 90 menit dengan kapasitas adsorpsi 15,658 mg/g. Sedangkan penentuan kapasitas adsorpsi silika aerogel terhadap metilen biru dengan variasi konsentrasi adsorbat menghasilkan kapasitas adsorpsi yang semakin tinggi seiring dengan semakin tinggi konsentrasi adsorbat yang digunakan, dengan nilai kapasitas adsorpsi maksimum 21,268 mg/g. Mekanisme adsorpsi cenderung mengikuti model isoterm adsorpsi Langmuir dengan R2 sebesar 0,9998 dan kinetika adsorpsi orde dua semu dengan kapasitas perhitungan 15,8983 mg/g. Proses adsorpsi berlangsung secara spontan, acak, dan eksotermik. ABSTRACT Maknun, Lukluil. 2017. Adsorption Capacity of Silica Aerogel based Bagasse Ash to Methylene Blue Dye. Undergraduate Thesis. Department of Chemistry, Faculty Mathematics and Natural Sciences, State University of Malang, Advisors: (I) Dr. Nazriati, M.Si., (II) Dr. Fauziatul Fajaroh, M.S. Key Words: Methylene blue, Adsorption, Silica aerogel, Bagasse Ash Dye is an important component used by the industry to color the resulting product. One of the most widely used dyestuffs in the industry is methylene blue. The continuous use of methylene blue causes the amount of methylene blue in the environment to become increasingly wasted. Therefore, reducing the concentration of methylene blue in polluted waters becomes one of the important things in handling environmental problems. Based on this description, the synthesis of silica aerogel based bagasse ash as a methylene blue adsorbent and to test its adsorption capacity. The synthesis of silica aerogel from the bagasse begins with the extraction of silica followed by the sol-gel method. The sol-gel method is known as one of the simple and easy methods. The sol-gel process can be described as a system transition from the solvent phase to the gel solid phase which takes place at low temperatures. The sol gel method in the synthesis of silica aerogel from bagasse ash through several stages, namely the manufacture of silicic acid as monomer, condensation, aging, and drying. The bagasse ash was extracted with NaOH at boiling temperature while stirring for one hour, then the resulting filtrate was mixed with a exchange resin pH 2, and produces silicic acid. The silicic acid solution was added trimethylchlorosilane (TMCS) and hexamethyldisilazane (HMDS) as surface modifying agent. The resulting gel was aging at room temperature for 18 hours and dried further at 80 °C for 24 hours. Silica aerogel was further used as a methylene blue adsorbent with variations of contact time (15, 30, 45, 60, 75, 90, & 120 minute), adsorbate concentration (6, 7, 8, 9, & 10 mg/L), and temperature (40, 50, & 60 °C). The result of determination of adsorption capacity of silica aerogel to methylene blue with variation of contact time give optimum time of adsorption for 90 minutes with adsorption capacity 15,658 mg/g. While determining the adsorption capacity of silica aerogel to methylene blue with variation of adsorbate concentration resulted in higher adsorption capacity along with the higher concentration of adsorbate used, with a value of maximum adsorption capacity 21,268 mg/g. The adsorption mechanism tends to follow the Langmuir adsorption isotherm model with R2 of 0,9998 and the pseudo second order adsorption kinetics with a calculated capacity of 15,8983 mg/g. The adsorption process takes place spontaneously, randomly, and exothermically
Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari Perak Asetat dan 1,4-Bis(difenilfosfino)butana dengan Stoikiometri 2:1
ABSTRAK Supriyanto, M.U. 2017. Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari Perak Asetat dan1,4-Bis(difenilfosfino)butana dengan Stoikiometri 2 : 1. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Effendy, Ph.D.(2) Dr. Fariati, M.Sc. Kata-kata kunci: senyawa koordinasi, perak asetat, 1,4-bis(difenilfosfino)butanaReaksi antara perak pentafluoropropionat (AgC2F5COO) dan1,4-bis(di-fenilfosfino)butana (dppb) menghasilkan senyawa kompleks dimer molekuler [Ag2(O2CC2F5)2(dppb)]2 dengan geometri trigonal planar terdistorsi di sekitar atom pusatnya. Perak pentafluoropropionat dan perak asetat memiliki perbedaan sifat basa pada anionnya. Ion asetat merupakan basa yang lebih kuat daripadaion pentafluoropropionat. Oleh karena itu, senyawa kompleks dari perak asetat dengan ligan yang sama kemungkinan menghasilkan senyawa kompleks yang berbeda strukturnya. Senyawa kompleks dari AgCH3COO dan dppb dengan stoikiometri 2 : 1 belum pernah disintesis. Tujuan penelitian ini adalah men-sintesis dan mengkarakterisasi senyawa kompleks dari perak asetat dan dppb dengan stoikiometri 2 : 1. Struktur yang diperoleh dapat digunakan untuk mengetahui pola koordinasi ion asetat terhadap atom pusat.Senyawa kompleks disintesis dengan mereaksikan AgCH3COO dan dppb dengan perbandingan mol 2 : 1 dalam pelarut metanol. Senyawa kompleks hasil sintesis dikarakterisasi dengan uji titik lebur, analisis SEM-EDX, uji daya hantar listrik (DHL), dan uji kualitatif ion asetat. Uji titik lebur untuk mengetahui ke-murnian dan kebaruannya. Hasil analisis EDX untuk memperoleh rumus empiris senyawa. Uji DHL dan analisis kualitatif ion asetat untuk menentukan senyawa kompleks bersifat ionik atau molekuler. Berdasarkan hasil karakterisasi, rumus kimia senyawa kompleks dapat ditentukan dan strukturnya dapat diprediksi. Energi bebas dari struktur yang mungkin terbentuk dihitung dengan program Gaussian 09W. Struktur yang diterima adalah struktur dengan energi bebas terendah.Reaksi antara AgCH3COO dan dppb dengan stoikiometri 2 : 1 meng-hasilkan kristal-kristal tidak berwarna, berbentuk prisma, dan melebur pada suhu 149-150 °C, yang menunjukkan bahwa senyawa tersebut baru dan murni. Hasil analisis EDX memberikan rumus empiris C16H17AgO2P. Hasil uji DHL dan uji kualitatif ion asetat mengindikasikan senyawa kompleks yang diperoleh adalah senyawa molekuler. Berdasarkan hasil karakterisasi, rumus kimia yang memenuhi adalah [Ag2(O2CCH3)2(dppb)]. Kompleks tersebut memiliki tiga kemungkinan struktur yaitu [Ag2(O2CCH3)2(dppb)] dengan geometri trigonal planar, [Ag2(O2C CH3)2(dppb)]2 dengan geometri trigonal planar terdistorsi, dan [Ag2(O2CCH3)2(dp pb)]2 dengan geometri tetrahedral terdistorsi. Struktur tersebut memiliki energi bebas per ikatan berturut-turut sebesar -417, -417, dan -439 kJ/mol. Struktur yang diterima adalah [Ag2(O2CCH3)2(dppb)]2 dengan geometri tetrahedral terdistorsi di sekitar atom pusatnya dan memiliki energi bebas per ikatan terendah. Struktur ini isostruktur dengan [Ag2(O2CCH3)2(dppf)]
Optimasi Jenis dan Kadar Sumber Nitrogen, serta pH Medium untuk Produksi Protease dari Isolat HTcUM6.2.2
ABSTRAK Enzim protease merupakan salah satu enzim yang banyak diproduksi secara komersial pada berbagai industri, antara lain industri makanan, farmasi, deterjen, dan diagnostik. Porcine pepsin atau pepsin dari lambung babi adalah protease yang digunakan untuk proses produksi kolagen, khususnya di negara-negara produsen kolagen seperti Amerika Utara, Eropa, dan Asia Pasifik. Padahal Indonesia masih mengimpor kolagen dalam jumlah yang besar pertahunnya dari negara-negara tersebut. Hal ini menyebabkan timbulnya keraguan akan kehalalan kolagen tersebut. Mengatasi hal ini penelitian terdahulu telah mengisolasi dan menyeleksi isolat bakteri potensial sebagai sumber protease dari pangan fermentasi tauco yang diharapkan dapat digunakan untuk isolasi kolagen dari sisik ikan bandeng. Akan tetapi, aktivitas protease yang dihasilkan sangat rendah dalam medium produksi yang mengandung pepton sebagai sumber nitrogen. Hal ini diduga karena sumber nitrogen yang digunakan tidak sesuai untuk memproduksi protease. Uji pendahuluan dari isolat potensial, isolat HTcUM6.2.2 memiliki indeks proteolitik terbesar yaitu 2,60. Isolat proteolitik HTcUM6.2.2 diduga dapat menghasilkan aktivitas yang tinggi pada media produksi dengan sumber nitrogen dan kondisi pertumbuhan yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui sumber nitrogen optimum untuk produksi protease dari isolat HTcUM6.2.2, (2) mengetahui kadar sumber nitrogen optimum produksi protease dari isolat HTcUM6.2.2, dan (3) mengetahui pH medium optimum produksi protease dari isolat HTcUM6.2.2.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktorial masing-masing yaitu jenis, kadar sumber nitrogen, serta pH medium dengan tahap penelitian: (1) peremajaan dan validasi kemurnian isolat HTcUM6.2.2; (2) produksi ekstrak kasar protease; (3) uji aktivitas protease dengan metode Anson; (4) pengukuran kadar protein ekstrak kasar protease dengan metode Lowry; dan (5) uji kemampuan ekstrak kasar protease pada sisik ikan bandeng. Hasil penelitian menunjukkan sumber nitrogen optimum untuk menghasilkan protease dari isolat HTcUM6.2.2 adalah susu skim dan limbah cair tahu. Kondisi optimum produksi protease dalam media dengan sumber nitrogen limbah cair tahu sebagai berikut: kadar limbah cair tahu sebesar 10 %, pada pH antara 6 sampai 8, selama waktu inkubasi 3 hari. Protease yang dihasilkan isolat HTcUM6.2.2 pada kondisi optimum tersebut dapat digunakan untuk isolasi kolagen dari sisik ikan bandeng