SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
    1785 research outputs found

    Pengembangan Bahan Ajar Hidrolisis Garam untuk Siswa SMA/MA Program IPA dengan Menggunakan Pendekatan Saintifik

    No full text
    ABSTRAK Andriani, Ninda Astri. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Hidrolisis Garam untuk Siswa SMA/MA Program IPA dengan Menggunakan Pendekatan Saintifik. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suharti, S.Pd., M.Si, (II) Dr. Siti Marfu’ah, M.S. Kata-kata kunci: bahan ajar, Hidrolisis Garam, pendekatan saintifik, kurikulum 2013Pendekatan saintifik merupakan pendekatan pembelajaran yang disarankan oleh Kurikulum 2013. Proses pembelajaran dalam pendekatan saintifik melibatkan keterampilan proses sains yang bertujuan agar siswa dapat menemukan sendiri konsep-konsep dengan bantuan yang seminimal mungkin dari guru. Faktanya menunjukkan bahwa proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik cenderungbelum terlaksana dengan baik. Salah satu penyebabnya adalah belum tersedianya bahan ajar yang memenuhi. Hal ini dibuktikan dengan analisis beberapa bahan ajar di SMA yang menunjukkan bahwa bahan ajar yang beredar belum sesuai dengan langkah-langkah pada pembelajaran saintifik dan keterampilan proses sains. Salah satu materi kimia SMA yang tercantum dalam Kurikulum 2013 adalah Hidrolisis Garam. Materi Hidrolisis Garam mencakup representasi makroskopik, mikroskopik, dan simbolik. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan bahan ajar dengan menggunakan pendekatan saintifik yang mengintegrasikan 3 representasi kimia pada materi Hidrolisis Garam dan mengetahui tingkat kelayakan bahan ajar yang dikembangkan.Pengembangan bahan ajar Hidrolisis Garam dilakukan dengan menggunakan model 4D (four D model) yang dikembangkan oleh Thiagarajan, dkk. (1974) dengan langkah-langkah sesuai sintaks pada pendekatan saintifik. Bahan ajar yang dikembangkan berupa Buku Kerja Siswa dan Buku Pedoman Guru.Uji kelayakan bahan ajar mencakup aspek kelayakan penyajian, isi, kebahasaan, dan kegrafisan. Uji kelayakan dilakukan berdasarkan instrumen yang dikembangkan oleh BSNP yang telah dimodifikasi menyesuaikan bahan ajar yang dikembangkan. Uji kelayakan dilakukan melalui validasi oleh validator ahli yaitu dosen Jurusan Kimia dan guru kimia SMA dan uji keterbacaan oleh sekelompok kecil siswa. Hasil validasi menunjukkan bahwa Buku Kerja Siswa memiliki kelayakan penyajian sebesar 95,0%, kelayakan isi 86,7%, kebahasaan 90,8%, dan kegrafisan 86,7%. Secara umum, didapatkan persentase rata-rata kelayakan Buku Kerja Siswa sebesar 89,8%. Buku Pedoman Guru memiliki kelayakan petunjuk umum sebesar 96,7%, kelayakan untuk RPP dan pedoman penilaian 92,4%, dan kelayakan urutan dalam membimbing siswa untuk mengkonstruk konsep 89,5%. Secara umum, didapatkan  persentase rata-rata kelayakan Buku Pedoman Guru sebesar 92,9%.  Pada uji keterbacaan didapatkan hasil sebesar 77,1%. Dengan demikian bahan ajar Hidrolisis Garam dengan menggunakan pendekatan saintifik hasil pengembangan dapat dianggap layak digunakan dalamproses pembelajaran di kelas

    Transformasi Minyak Biji Asam Jawa (Tamarindus indica Linn) Menjadi Etil Ester Asam Lemaknya dan Uji Aktivitasnya Sebagai Antibakteri

    No full text
    ABSTRAK Maryana, Lili. 2017. Transformasi Minyak Biji Asam Jawa (Tamarindus indica Linn) Menjadi Etil Ester Asam Lemaknya dan Uji Aktivitasnya Sebagai Antibakteri. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Sutrisno, M.Si., (II) Dr. Siti Marfu’ah, M.S. Kata kunci: antibakteri, biji asam jawa, etil ester asam lemak, transesterifikasiBiji asam jawa merupakan bagian tanaman asam jawa (Tamarindus indica Linn) yang belum banyak dimanfaatkan sehingga menjadi limbah. Telah dilaporkan biji asam jawa mengandung minyak. Minyak tersebut tidak aktif sebagai antibakteri. Tidak aktifnya sebagai antibakteri diduga karena ukuran trigliserida relatif meruah, sehingga tidak dapat menembus dinding sel bakteri. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan dengan mentransformasi minyak biji asam jawa menjadi etil ester asam lemaknya agar diperoleh molekul yang lebih sederhana dan berbasis pada struktur induknya.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) mentransformasi minyak biji asam jawa menjadi etil ester asam lemaknya, (2) mengetahui  karakteristik etil ester asam lemak hasil transformasi, (3) menentukan aktivitas antibakteri etil ester asam lemak hasil transformasi.Penelitian ini merupakan penelitian secara eksperimen laboratorium. Penelitian ini dilakukan dengan enam tahap. Tahap 1 adalah preparasi sampel yang meliputi pengumpulan, pengeringan, dan pembuatan serbuk. Tahap 2 adalah ekstraksi minyak biji asam jawa dengan pelarut heksana. Tahap 3 adalah karakterisasi dan identifikasi minyak biji asam jawa yang meliputi wujud dan warna, kelarutan, indeks bias, massa jenis, viskositas, uji penyabunan, uji ketidakjenuhan, bilangan asam, bilangan penyabunan, dan bilangan iod. Tahap 4 adalah transformasi minyak biji asam jawa menjadi etil ester asam lemaknya. Tahap 5 adalah karakterisasi dan identifikasi etil ester meliputi wujud dan warna, kelarutan, indeks bias, massa jenis, viskositas, uji penyabunan, uji ketidakjenuhan, bilangan asam, bilangan penyabunan, dan bilangan iod. Tahap 6 adalah uji aktivitas antibakteri etil ester asam lemak hasil transformasi terhadap bakteri uji Escheria coli dan Staphylococcus aureus.Minyak biji asam jawa dapat ditransformasi menjadi etil ester asam lemaknya dengan cara mereaksikan minyak biji asam jawa dengan etanol berkatalis kalium hidroksida menggunakan metode transesterifikasi. Etil ester asam lemak hasil transformasi mempunyai karakteristik sebagai berikut: berwarna kuning, berwujud cair, dapat larut dalam heksana dan kloroform, tidak larut dalam air, memiliki indeks bias 1,460 (25 ᵒC), berat jenis 0,797 g.mL-1, viskositas 8,324 cSt, memiliki bilangan asam 1,65, bilangan penyabunan 201,38 dan bilangan iod 118,09. Etil ester yang diperoleh adalah etil heksadekanoat (7,75%), etil 9-oktadekenoat (61,66%), etil oktadekanoat (5,71%), etil 9-heksadekenoat (2,07%), etil eikosanoat (2,51%), etil oktadekanoat (3,00%), etil heptadekanoat (8,15%), etil dokosanoat (0,44%). Etil ester asam lemak hasil transformasi tidak memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

    Pengaruh Penggunaan Lembar Study History Sheet (SHS) pada Pembelajaran Kolaboratif Materi Reaksi Oksidasi Reduksi (Redoks) terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X MIA SMA Negeri 1 Pacitan

    No full text
    ABSTRAK Mentari, Intan S. 2017. Pengaruh Penggunaan Lembar Study History Sheet (SHS) pada Pembelajaran Kolaboratif Materi Reaksi Oksidasi Reduksi (Redoks) terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X MIA SMA Negeri 1 Pacitan. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Ridwan Joharmawan, M.Si., (2) Dr. Aman Santoso, M.Si. Kata Kunci: study history sheet, kolaboratif, reaksi redoks, hasil belajar.Salah satu materi yang dibelajarkan dalam mata pelajaran kimia di SMA adalah reaksi oksidasi reduksi (redoks).Kesulitan yang dialami siswa pada matei redoks adalah menentukan jenis reaksi redoks suatu persamaan reaksi, menghitung bilangan oksidasi, menganalisis oksidator karena bilangan oksidasi naik dan reduktor karena bilangan oksidasi turun. Kesulitan tersebut mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa. Hal ini terjadi karena reaksi redoks dibelajarkan menggunakan pembelajaran ekspositori atau diskusi kelompok biasa yang pembagian kelompoknyadiambil secara acak.Siswa dengan kemampuan kognitif rendah cenderung tergantung pada siswa yang memiliki kemampuan kognitif tinggi tanpa menyumbangkan idenya dan siswa sering mengalami kesulitan untuk mengingat konsep-konsep pada materi yang dibelajarkan. Alternatif pembelajaran yang bisa digunakan adalah pembelajaran kolaboratif ditambah dengan merangkum materi setelah mengerjakan LKS pada Lembar Study History Sheet (SHS) yang akan dikoreksi dan dinilai oleh guru. Pembelajaran tersebut menjadikan siswa menguasai materi dan bertanggung jawab atas pengetahuan yang dimiliki.Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental semu (quasy eksperimental design) dengan desain penelitian posttest only control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X MIA SMA Negeri 1 Pacitan tahun ajaran 2016/2017. Pengambilan sampel dengan teknik penarikan sampel acak berkelompok (cluster random sampling) dengan cara diundi, sehingga diperoleh kelas X MIA 6sebagai kelas eksperimen dan kelas X MIA 4 sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa instrumen perlakuan (silabus, RPP, LKS, handout, materi padapower point, lembar SHSdan soal kuis)dan instrumen pengukuran (tes ulangan harian dan lembar observasi). Soal yang digunakan sebagai intrumen penelitian berjumlah 25 soal. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif dan analisis statistik kuantitatif berupa uji hipotesis (uji tdua pihak) dengan taraf signifikansi =0,05. Analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS 16.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh penggunaan lembar SHS pada model pembelajaran kolaboratif terhadap hasil belajar siswa kelas X MIA 6 SMAN 1 Pacitan. Hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran kolaboratif menggunakan rangkuman pada lembar SHS lebih baik daripada siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran kolaboratif tanpa menggunakan lembar SHS. Rata-rata hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran kolaboratif menggunakan rangkuman pada lembar SHS adalah 82,50 sedangkan siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran kolaboratif tanpa menggunakan lembar SHSadalah 75,75

    Pembuatan Dan Karakterisasi Adsorben Batang Pisang (Musa Paradisiaca) Serta Uji Kemampuan Adsorpsi Terhadap Logam Besi (Fe)

    No full text
    ABSTRAK Batang pisang dapat digunakan sebagai adsorben ion logam. Kandungan utama senyawakimia dalam batang pisang, adalah selulosa, lignin, dan hemiselulosa. Keterserapan ion logam oleh batang pisang disebabkan oleh kemampuan substansi dalam batang pisang yang dapat berikatan dengan ion logam. Salah satu substansi batang pisang yang dapat berikatan dengan ion logam adalah selulosa. Berdasarkan penelitian sebelumnya limbah pertanian yang mengandung selulosa mempunyai potensi sebagai adsorben karena terdapat gugus fungsional seperti –OH yang dapat berinteraksi dengan ion logam. Keberadaan lignin dalam adsorben dapat menghalangi proses transfer ion logam ke sisi aktif adsorben. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan adsorben sebelum dan setelah delignifikasi. Tujuan penelitian ini: 1) membuat adsorben sebelum dan setelah delignifikasi,2) mengetahui karakter fisik adsorben sebelum dan setelah delignifikasi ditinjau dari hasil FT-IR, uji kadar air, dan uji kadar abu, 3) mengetahui konsentrasi maksimum besi yang dapat terserap oleh adsorben sebelum dan setelah delignifikasi, 4) mengetahui waktu kontak optimum oleh adsorben sebelum dan setelah delignifikasi, dan 5) mengetahui kapasitas adsorpsi optimum oleh adsorben sebelum dan setelah delignifikasi.Penelitian eksperimental ini dilaksanakan di laboratorium penelitian Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Tahapan dari penelitian iniadalah, (1) preparasi batang pisang sebagai adsorben dan proses delignifikasi adsorben dengan H2O2 dalam suasana basa dan H2O2 dilanjutkan dengan NaOH, (2) karakterisasi adsorben yang meliputi uji kadar air, kadar abu, dan FT-IR, (3) proses adsorpsi dengan variasi waktu kontak, dan (4) penentuan kapasitas adsorpsi optimum adsorben terhadap logam Fe. Hasil penelitian: 1) adsorben batang pisang sebelum delignifikasi memiliki kadar air sebesar 5,75 % dan kadar abu 71,65 %, dan analisis FT-IR terdapat serapan pada bilangan gelombang 3213,41; 3230,77; 3253,91; 3273,2; dan 3446,79 cm-1 yang menunjukkan vibrasi ulur O-H pada selulosa, lignin dan hemiselulosa. Adsorben setelah delignifikasi H2O2 dalam suasana basa memiliki kadar air 7,58 % dan kadar abu 80,74%, dan analisis FT-IR terdapat serapan pada bilangan gelombang 3417,737cm-1 yang menunjukkan vibrasi ulur O-H pada selulosa. Adsorben setelah delignifikasi dengan H2O2 dilanjutkan dengan NaOH memiliki kadar air 3,9760 % dan kadar abu 76,0039 %, dan analisis FT-IR terdapat serapan pada bilangan gelombang 3417,737cm-1 yang menunjukkan vibrasi ulur O-H pada selulosa. 2) waktu kontak optimum oleh adsorben sebelum delignifikasi pada menit ke 90 dengan kapasitas adsorpsi sebesar 0,43 mg/g, dan setelah proses delignifikasi dengan H2O2 dalam suasana basa waktu kontak optimum pada menit ke 30 dengan kapasitas adsorpsi sebesar 0,38mg/g, Adsorben setelah proses delignifikasi H2O2 dilanjut dengan  NaOH waktu kontak optimum pada menit ke 60 dengan kapasitas adsorpsi sebesar 0,83 mg/g. Berdasarkan hasil kapasitas adsorpsinya, adsorben melalui proses delignifikasi H2O2 dilanjutkan dengan NaOH mempunyai kemampuan menyerap logam besi paling besar yaitu sebesar 0,83 mg/g

    Keterampilan Berargumentasi Ilmiah dan Korelasinya dengan Hasil Belajar Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Pagak pada Materi Asam Basa

    No full text
    ABSTRAK Rohmah, Lailatul. 2017. Keterampilan Berargumentasi Ilmiah dan Korelasinya dengan Hasil Belajar Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Pagak pada Materi Asam Basa. Skripsi. Program Studi Pendidikan Kimia, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Subandi, M.Si., (II) Muntholib, S.Pd.,M.Si. Kata kunci: keterampilan berargumentasi ilmiah, hasil belajar, materi asam basaMateri asam basa merupakan materi kimia yang sebagian besar merupakan pengetahuan konseptual dan terintegrasi dengan banyak konsep kimia lainnya seperti karakteristik partikel dalam materi, sifat dan komposisi larutan, struktur atom, ikatan ionik dan kovalen, simbol, formula dan persamaan reaksi, ionisasi serta kesetimbangan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman siswa terhadap materi asam basa masih rendah padahal materi asam basa menjadi materi dasar untuk memahami materi kimia lain yang lebih kompleks. Di samping itu, tingkat literasi sains siswa Indonesia tergolong sangat rendah yakni urutan 62 dari 70 negara partisipan dengan kategori kualitas dan kuantitas aktivitas sains di sekolah berada pada  peringkat  ke 66 dari 68 negara partisipan tes PISA. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat keterampilan berpikir kritis siswa salah satunya keterampilan berargumentasi ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterampilan berargumentasi ilmiah siswa pada materi asam basa dan mengkorelasikannya dengan hasil belajar siswa pada materi terkait.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan ex post facto, yakni penelitian yang dilakukan setelah suatu kejadian itu terjadi; dengan jenis causal research (penelitian korelasi) yang mana melibatkan tindakan pengumpulan data guna menentukan apakah ada hubungan dan bagaimana tingkat hubungan antara dua variabel yang ada. Variabel dalam penelitian ini yakni keterampilan berargumentasi ilmiah dan hasil belajar siswa, sementara subjek penelitian adalah siswa SMA Negeri 1 Pagak kelas XI MIPA 1. Keterampilan berargumentasi ilmiah dalam penelitian ini meliputi keterampilan membuat klaim, menguraikan bukti dan memberikan penjelasan sementara hasil belajar siswa merupakan hasil ulangan harian siswa kelas XI MIPA 1 pada materi asam basa yang dilaksanakan pada 24 Februari 2017. Instrumen penelitian yang digunakan berupa tes keterampilan berargumentasi ilmiah yang dikembangkan dengan mengacu pada kerangka analitik argumentasi ilmiah Sampson & Schleigh (2016) sedangkan soal tes hasil belajar merupakan soal tes ulangan harian materi asam basa yang dibuat oleh guru mata pelajaran kimia SMA Negeri 1 Pagak. Instrumen tes keterampilan berargumentasi ilmiah yang digunakan telah divalidasi isi dan diujicobakan pada 42 partisipan sebelumnya dan telah dinyatakan reliabel (r11=0,703). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan berargumentasi ilmiah siswa SMA Negeri 1 Pagak kelas XI pada materi asam basa termasuk dalam kategori cukup (51,47%), dengan rincian keterampilan membuat klaim termasuk dalam kategori cukup (56,7%), keterampilan memaparkan bukti termasuk dalam kategori cukup (58,4%), dan keterampilan memberikan penjelasan termasuk dalam kategori kurang (39,1%). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa keterampilan berargumentasi ilmiah siswa berkorelasi rendah (α=0,357) dengan hasil belajar siswa pada materi asam basa

    Pengembagan Instrumen Asesmen Berpikir Kritis Sifat Koligatif Larutan untuk Siswa SMA

    No full text
    ABSTRAK Amalia, Dita. 2017. Pengembangan Instrumen Asesmen Berpikir Kritis Sifat Koligatif Larutan untuk Siswa SMA. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dra. Sri Rahayu, M.Ed., Ph.D., (II) Dr. Suharti, M.Si. Kata Kunci: instrumen asesmen, kemampuan berpikir kritis, sifat larutanLiterasi sains adalah kemampuan menggunakan pengetahuan sains, mengidentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti, dalam rangka memahami serta membuat keputusan berkenaan dengan alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia. Literasi sains dianggap sebagai kunci keberhasilan bagi siswa dimana siswa diharapkan mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh di sekolah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan siswa memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap sekitarnya. Berdasarkan hasil Program for International Student Assessment (PISA) dan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), literasi sains siswa di Indonesia masih tergolong rendah. Pada dasarnya PISA menilai kompetensi menalar siswa, termasuk didalamnya kemampuan berpikir kritis. Berpikir kritis penting untuk dikembangkan dalam setiap pembelajaran termasuk pembelajaran kimia. Berbagai model dan media pembelajaran yang beragam telah dilakukan untuk melatih dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Namun, alat ukur yang digunakan masih belum diketahui efektif atau tidak dalam mengukur kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, peneliti bermaksud menghasilkan instrumen asesmen berpikir kritis pada materi sifat koligatif larutan.Instrumen asesmen berpikir kritis yang dikembangkan sesuai dengan 12 indikator berpikir kritis menurut Ennis dan berdasarkan kompetensi dasar materi sifat koligatif larutan pada Kurikulum 2013. Pengembangan instrumen asesmen berpikir kritis ini mengikuti model Research & Development (R&D) menurut Borg dan Gall dan hanya dilakukan sampai tahap kelima. Desain uji cobanya meliputi validasi isi dan konstruk dengan menggunakan angket validasi kelayakan tampilan dan isi produk yang divalidasi oleh validator dosen dan guru. Selanjutnya, butir soal pilihan ganda dan esai diujicobakan kepada 53 mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) program studi S1 Pendidikan Kimia yang menempuh mata kuliah kimia dasar. Data-data tersebut kemudian diolah dengan teknik perhitungan persentase dan teknik analisis butir soal. Teknik analisis butir soal meliputi uji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya beda.  Berdasarkan hasil penilaian para validator, instrumen asesmen berpikir kritis yang dikembangkan  termasuk dalam kategori layak digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa SMA. Jumlah butir soal valid pada bagian I sebanyak 21 soal pilihan ganda dan 10 butir soal esai. Reliabilitas yang diperoleh untuk soal pilihan ganda adalah 0,609, sedangkan reliabilitas untuk soal esai adalah 0,622

    Identifikasi Kesulitan Siswa MAN Kembangsawit Kabupaten Madiun dalam Memahami Materi Ikatan Kimia Menggunakan Tes Diagnostik Two-Tier

    No full text
    ABSTRAK Ridhwan, Baiatur. 2017. Identifikasi Kesulitan Siswa MAN Kembangsawit Kabupaten Madiun Dalam Memahami Materi Ikatan Kimia Menggunakan Tes Diagnostik  Two-Tier. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd.,M.Si., (2) M. Muchson, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci :Identifikasi, kesulitan belajar, ikatan kimia, tes diagnostik two-tierIlmu kimia memiliki beberapa karakteristik antara lain: sebagian besar konsep kimia bersifat abstrak dan  merupakan penyederhanaan dari  yang sebenarnya, sifat ilmu kimia berurutan dan berkembang sangat cepat, serta materi kimia yang harus dipelajari sangat banyak. Konsep-konsepdalam ilmu kimia saling berkaitan antara satu dengan yang lain dan memiliki karakter yang berjenjang mulai dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks. Salah satu materi pelajaran  yang diajarkan pada siswa kelas X adalah ikatan kimia. Siswa harus memiliki pemahaman yang utuh tentang materi ikatan kimia, karena materi ikatan kimia merupakan pondasi untuk materi selanjutnya seperti termokimia dan asam-basa. Hasil dari penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi ikatan kimia. Oleh karena itu dibutuhkan penelusuran lebih lanjut untuk mengetahui kesulitan  yang dialami oleh siswa. Tes diagnostic Two-tier adalah salah satu instrumen yang efektif dan efisien untuk mengetahui pemahaman konsep siswa dalam mendiagnosa minskonsepsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi letak kesulitan belajar siswa dalam memahami materi ikatan kimia.Penelitianiniadalahpenelitiandeskriftifdenganpendekatankualitatif. Subjekpenelitianadalahsiswakelas X MAN Kembangsawit, KabupatenMadiun yang terdiridari 60 siswakelas X MIA 1 dan MIA 2. Instrumenpenelitianberupa 30 butirsoaltesdiagnostiktwo-tier yang telahdipilihberdasarkanhasilujicobaulangdarisoal yang dikembangkanolehFauziyah (2016) danPuspaningtari (2015)diperolehreliabilitassebesar 0,618danvaliditasbaik. Hasiltesdiagnostik two-tier kemudiandianalisisdenganteknikanalisisdeskriptif. Hasil penelitian menunjukkan pemahaman siswa pada masing-masing konsep pada materi ikatan kimia yang sangat rendah adalah konsep struktur Lewis (27,5%), ikatan kovalen(25,6%) dan ikatan kovalen koordinasi (28.3%). Sedangkan konsep kestabilan unsur (31,6%), ikatan ionik (35,1%), ikatan kovalen polar-nonpolar (35%) dan ikatan logam (34,1%) memiliki tingkat pemahaman yang  rendah. Kesulitan-kesulitan yang dialami siswa pada, (a) konse pkestabilan unsure adalah membedakan kecenderungan suatu unsure untuk membentuk  anion (mengikat elektron) atau kation (melepas elektron) dalam memperoleh suatu kestabilan; (b) konsep struktur Lewis adalah menentukan jumlah electron valensi dari unsur  yang  membentuk ion atau berikatan dengan unsur yang lain; (c) konsep ikatan ionik, ikatan kovalen, ikatan  kovalen koordinasi, ikatan  polar dan nonpolar serta ikatan logam adalah memaham ipengertian masing-masing ikatan tersebut, ciri-ciri dari ikatan tersebut, dan perbedaan setiap ikatan tersebut. 

    Analisis Hubungan Kemampuan Visual Spatial terhadap Kinerja Problem Solving Peserta Didik pada Materi Stoikiometri Sekolah Menengah Atas

    No full text
    ABSTRAK   Stoikiometri merupakan materi yang cukup sulit bagi peserta didik. Menyelesaikan masalah stoikiometri sekilas mirip dengan menyelesaikan persamaan matematika. Akan tetapi  berbeda dengan persamaan matematika, dalam menyelesaikan permasalahan stoikiometri selain dibutuhkan kemampuan algoritma, peserta didik juga perlu memahami konsep dasar dari suatu masalah. Penguasaan pemahaman konseptual dapat diperoleh dengan memahami multirepresentasi kimia. Kemampuan yang berperan penting dalam memahami multirepresentasi kimia adalah kemampuan visual spatial. Sampai saat ini sebagian besar penelitian mengenai kemampuan visual spatial pada ilmu kimia hanya dilakukan pada mahasiswa perguruan tinggi di luar negeri, hanya sedikit penelitian yang mendemonstrasikan hubungan dan peran kemampuan visual spatial di SMA (Wu & Shah, 2003). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kemampuan visual spatial peserta didik dengan kinerjanya dalam problem solving pada materi stoikiometri di SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantatif. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas XI MIA SMA Ar Rohmah dan MA Plus Raden Paku yang berjumlah 70 peserta didik. Pengukuran kemampuan visual spatial dilakukan dengan tes The Purdue Visualization of Rotations Test (PVST) dan kinerja problem solving materi stoikiometri diukur dengan menggunakan tes diadopsi dari Knowledge Space Theory (KST) yang dikembangkan oleh Arasasingham (2004). Pengklarifikasian hasil problem solving peserta didik dilakukan dengan wawancara. Analisis hubungan tes PVST dan tes KST dilakukan dengan teknik analisis kuantitatif korelasi product moment Pearson. Hasil analisis menujukkan 20% peserta didik memiliki kemampuan visual spatial rendah, 63% peserta didik memiliki kemampuan visual spatial cukup/rata-rata, dan 17% peserta didik yang memiliki kemampuan visual spatial tinggi. Jalur belajar kritis materi stoikiometri dari peserta didik kelas XI MIA SMA Ar Rohmah Putri dan MA Plus Raden Paku untuk representasi submikroskopik (1A – 1B – 4A – 4B), simbolik (2 – 3 – 6B – 6A), dan numerik (5 – 7) diperoleh urutan sebagai berikut: 2 – 6B – 6A – 1A – 4A – 1B – 4B – 3 – 5 – 7. Hasil uji korelasi product moment Pearson menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kemampuan visual spatial terhadap kinerja problem solving stoikiometri tingkat sekolah menengah atas, dengan signifikansi sebesar 0,33. Variabel kemampuan visual spatial menyumbangakn 10,9% kinerja problem solving stoikiometri, sehingga kemampuan visual spatial dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah stoikiometri oleh peserta didik di tingkat SMA

    Pemanfaatan Kompos Organik TPA Tlekung sebagai Adsorben Tembaga

    No full text
    ABSTRAK   TPA Tlekung, Batu menghasilkan lindi dalam jumlah besar yang berpotensi menimbulkan masalah lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Kompos merupakan salah satu alternatif adsorben yang dapat menyerap kandungan logam berat pada lindi. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) mengetahui karakteristik fisika-kimia lindi TPA Tlekung, Batu, 2) mengetahui karakteristik fisika-kimia kompos TPA Tlekung, Batu, 3) menentukan perbandingan massa adsorben terhadap volume adsorbat dan waktu kontak efektif pada proses adsorpsi tembaga olehkompos TPA Tlekung, Batu. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap, yaitu1) karakterisasi fisika-kimialindi TPA Tlekung, Batu, 2) karakterisasi fisika-kimia kompos TPA Tlekung, Batu, 3) penentuan perbandingan massa adsorben : volume sampel dan waktu kontak optimal pada proses adsorpsi tembaga menggunakan kompos TPA Tlekung, Batu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik lindi TPA Tlekung, Batu sebagai berikut temperatur= 24,60C; TSS= 1.667,67 mg/L; TDS= 11480 mg/L; turbiditas= 132 mg/L; pH= 8; DO= 0,16 mg/L; BOD5= 41,69 mg/L; COD= 1973,33 mg/L; TOC = 1.570 mg/L; tembaga= 0,124 mg/L; rasio BOD5/COD= 0.02. Karakteristik kompos TPA Tlekung, Batu sebagai berikut pH = 7; kadar air = 20.74%; berwarna coklat; tembaga = 17.20 mg/kg sehingga kompos dapat digunakan sebagai adsorben tembaga. Dari hasil penelitian diperoleh perbandingan massa kompos : volume sampel yang optimal untuk mengadsorpsi tembaga adalah 2.5 g kompos : 100 mL larutan Cu(NO3)2 0,2 ppm dengan waktu kontak efektif selama 16 jam, persentase reduksi konsentrasi tembaga yang tercapai adalah 36.18%.   Kata kunci : Tembaga, lindi, kompos, adsorpsi

    ISOLASI, IDENTIFIKASI, DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI ISOLAT MURNI DARI FRAKSI METANOL EKSTRAK BATANG TAPAK DARA (Catharanthus roseus (L.) G. Don) TERHADAP BAKTERI Escherichia coli

    No full text
    ABSTRAK Istikomah, Siti Nur. 2016. Isolasi, Identifikasi, dan Uji Aktivitas Antibakteri Isolat Murni dari Fraksi Metanol Ekstrak Batang Tapak Dara (Catharanthus roseus (L.) G. Don) terhadap Bakteri Escherichia coli. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Laurent Octaviana, S.Pd., M.Si., (II) Drs. Dermawan Afandy, M.Pd Kata kunci: antibakteri, batang tapak dara, Escherichia coli, fraksi metanol. Penyakit infeksi merupakan penyakit yang disebabkan oleh serangan mikroorganisme, misalnya bakteri, yang dapat menyebabkan kerusakan fungsional dan struktural, contohnya ialah infeksi saluran pencernaan yang dapat disebabkan oleh Escherichia coli (E. coli). Penyakit infeksi akibat bakteri dapat diobati dengan obat antibakteri, akan tetapi obat antibakteri dapat menimbulkan efek samping dan menyebabkan resistensi bakteri terhadap obat tersebut. Oleh karena itu, diperlukan penggunaan obat antibakteri yang sesuai dan tidak menimbulkan efek samping, yang salah satunya merupakan senyawa antibakteri yang berasal dari tumbuhan. Salah satu tumbuhan yang dipercaya memiliki khasiat dalam pengobatan tradisional sebagai obat antibakteri ialah tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G. Don). Telah banyak dilaporkan penelitian tentang kandungan senyawa antibakteri dalam tapak dara, namun belum diketahui isolat murni dari fraksi metanol ekstrak batang tapak dara yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap E. coli. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengisolasi senyawa murni dari fraksi metanol ekstrak batang tapak dara, (2) mengetahui aktivitas antibakteri senyawa murni terhadap E. coli, dan (3) mengetahui golongan senyawa dari senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini dilakukan melalui 5 tahap, yaitu: (1) preparasi sampel batang tapak dara, (2) ekstraksi dan fraksinasi, (3) pemurnian komponen, (4) uji aktivitas antibakteri terhadap E. coli, dan (5) identifikasi golongan senyawa murni dengan analisis spektrofotometri FT-IR. Sampel batang tapak dara diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan pelarut metanol selama 3x24 jam. Maserat selanjutnya dipekatkan dan difraksinasi cair-cair berturut-turut menggunakan pelarut n-heksana, etilasetat, dan metanol. Fraksinasi lebih lanjut terhadap fraksi metanol dan pemurnian komponen dilakukan dengan metode kromatografi kolom gravitasi. Isolat murni yang diperoleh selanjutnya diuji aktivitas antibakteri terhadap E. coli menggunakan metode difusi cakram. Isolat murni yang memiliki aktivitas antibakteri diidentifikasi golongan senyawanya menggunakan spektrofotometer FT-IR. Kesimpulan dari penelitian yang dilakukan yaitu: (1) sebanyak 0,0057 g isolat murni (N1) dan 0,0025 g isolat murni (N2) dapat diisolasi dengan kromatografi kolom gravitasi menggunakan variasi eluen campuran kloroform-metanol dari 1,49 g fraksi metanol ekstrak batang tapak dara, (2) isolat murni N1 dan N2 memiliki aktivitas antibakteri yang tergolong sedang, dan (3) hasil identifikasi menggunakan spektrofotometer FT-IR mengindikasikan bahwa isolat murni N1 dan N2 diduga merupakan senyawa fenolik yang ditandai dengan adanya gugus fungsi –OH dan adanya ikatan rangkap –C=C– aromatik. ABSTRACT Istikomah, Siti Nur. 2016. Isolation, Identification, and Antibacterial Activity Test of Pure Isolate from Methanol Fraction of Vinca (Catharanthus roseus (L.) G. Don) Stems Extract against Escherichia coli. Thesis, Chemistry Department, Mathematic and Sciences Faculty, Universitas Negeri Malang. Advisors: (I) Laurent Octaviana, S.Pd., M.Si., (II) Drs. Dermawan Afandy, M.Pd. Keywords: antibacterial, Escherichia coli, methanol fraction, Vinca stem. Infectious diseases are caused by microorganisms, like bacteria, that cause functional and structural damage, like digestion infection because of Escherichia coli (E. coli). Infectious diseases caused by bacteria can be treated with antibacterial drugs, but it can give side effects and cause bacterial resistant. So, it is needed to use antibacterial drugs wisely and have no side effects, which is one of the antibacterial compounds from plants. One of the medicinal plants that is believed in the traditional treatment as antibacterial drug is Vinca (Catharanthus roseus (L.) G. Don). Some studies suggested about antibacterial compounds in Vinca, but it had not been known the pure isolate from methanol fraction of Vinca stems extract which has antibacterial activity to E. coli. The aims of the research are: (1) to isolate pure compound from methanol fraction of Vinca stems extract, (2) to evaluate the antibacterial activity of  pure isolate to E. coli, and (3) to identify the compounds group of  pure compound which has antibacterial activity. This study was conducted through five stages, namely (1) preparation the vinca stems sample, (2) extraction and fractionation, (3) purification, (4) antibacterial activity against E. coli test, and (5) identification the compound group by FT-IR spectrophotometry analysis. Vinca stems samples were extracted by maceration using methanol during 3x24 hours. Macerate was concentrated and fractionated by liquid-liquid fractionation using n-heksana, ethylacetate, and methanol. The continuous fractionation of methanol fraction and components purification were done by gravitation column chromatography. After that, the pure isolates were tested its antibacterial activity by paper disk diffusion method. The pure isolates which have antibacterial activity were identified its components using FT-IR spectrophotometer. The conclusions of this study are: (1) 0,0057 g pure isolate (N1) dan 0,0025 g pure isolate (N2) can be isolated by gravitation column chromatography with mixture of methanol and chloroform as eluents from 1,49 g methanol fraction of vinca stems extract, (2) pure isolates N1 and N2 have a relatively moderate antibacterial activity, and (3) identification of the pure isolates using FT-IR spectrophotometer indicated that the pure isolates N1 and N2 were estimated as phenolic compounds that be signed by having –OH functional groups and –C=C– aromatics double bond

    0

    full texts

    1,785

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇