SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Uji Toksisitas Ekstrak Metanol Kernel Biji Mangga (Mangifera indica L.) Varietas Gadung terhadap Artemia salina Serta Isolasi Komponen Penyusunnya
ABSTRAK Mangga (Mangifera indica L.) varietas gadung merupakan salah satu buah tropis yang produksinya cukup tinggi di Jawa Timur. Selain rasanya yang manis, mangga gadung memiliki berbagai khasiat sehingga banyak digemari oleh masyarakat. Bagian dari buah mangga yang belum dimanfaatkan adalah bijinya. Dalam biji mangga terdapat bagian kernel yang memiliki berbagai senyawa bermanfaat bagi kesehatan. Toksisitaskernel biji mangga gadung terhadap Artemia salina belum pernah diteliti sebelumnya. Tujuan penelitian ini yaitu: 1) mengetahui senyawa yang terkandung dalam ekstrak metanol kernel biji mangga gadung, 2) mengetahui toksisitas ekstrak metanol kernel biji mangga gadung, 3) mengidentifikasi komponen hasil isolasi ekstrak metanol kernel biji mangga gadung.Penelitian yang dilakukan terdiri dari beberapa tahap yaitu: 1) preparasi sampel, 2) ekstraksi kernelbiji mangga menggunakan pelarut metanol, 3) uji fitokimia, 4) uji toksisitas terhadap Artemia salina, 5) analisis dengan KLT, 6) isolasi komponen hasil ekstraksi mengunakan KLT preparatif, 7) identifikasi komponen hasil isolasi berupa analisis wujud & warna, uji fitokimia, dan analisis dengan spektrofotometri IR. Hasil penelitian yang diperoleh: 1) Hasil uji fitokimia pada ekstrak metanol kernel biji manga positif mengandung tanin, triterpenoid, flavonoid, saponin, dan karbohidrat. 2) Ekstrak metanol kernel biji mangga bersifat tidak toksik terhadap Artemia salina dengan nilai LC50 sebesar 1609,9 ppm. 3) Isolasi komponen dari ekstrak metanol kernel biji mangga menggunakan KLTP diperoleh 3 komponen yaitu komponen pertama (T1), komponen kedua (T2), dan komponen ketiga (T3). Berdasarkan uji fitokimia menunjukkan komponen T1 positif terhadap tanin, sedangkan T2 dan T3 positif terhadap flavonoid. Analisis dengan spektrofotometri IR pada komponen T1 menunjukkan pita serapan gugus O-H, ikatan -C-H alkana, gugus C=O, dan ikatan C=C yang umumnya terdapat pada struktur tanin. Komponen T2 dan T3 menunjukkan pita serapan gugus O-H, ikatan -C-H alkana, gugus C=O aromatik, ikatan C=C alkena, dan ikatan C-O yang umumnya terdapat pada struktur flavonoid
Kajian Pengaruh Kondisi Dekomposisi Pada Analisis Logam Tembaga dalam Sedimen di Pelabuhan Ikan Sendang Biru secara SSA
ABSTRAK Kata kunci: Sedimen, Tembaga (Cu), SSA, Dekomposisi. Sedimen dalam air laut dapat didefinisikan sebagai akumulasi dari mineral-mineral dan pecahan-pecahan dari batuan yang bercampur dengan hancuran cangkang dan tulang dari organisme laut serta partikel lain yang terbentuk melalui proses kimia yang terjadi di laut. Mineral-mineral yang terdapat dalam air laut dapat terserap oleh sedimen termasuk logam tembaga. Tembaga (Cu) yang terserap dalam sedimen perairan dapat berakumulasi dalam rantai makanan meskipun dalam konsentrasi kecil. Analisis Cu dalam sedimen dapat digunakan untuk menganalisis pencemaran perairan akibat aktivitas manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan kadar Cu dalam sedimen yang didekomposisi dengan variasi konsentrasi pelarut, variasi waktu dekomposisi, variasi volume pelarut dan membandingkan hasil analisis Cu yang didekomposisi dengan HNO3 pada kondisi efektif dengan analisis Cu dalam sedimen dengan akuaregia. Penelitian ini bersifat eksperimen laboratoris dan dilakukan di Laboratorium Kimia Universitas Negeri Malang. Metode analisis yang digunakan yaitu teknik dekomposisi Cu menggunakan refluks dan pengukurannya menggunakan instrumen SSA (Spektrofotometer Serapan Atom). Hasil penelitian yang diperoleh adalah kondisi dekomposisi dapat memberikan pengaruh terhadap jumlah konsentrasi Cu yang terlarut. Pada kajian variasi konsentrasi pelarut menunjukkan bahwa 0,5 M HNO3 dapat melarutkan Cu paling efektif sebesar 6,10 ppm. Waktu dekomposisi selama 140 menit merupakan waktu yang paling efektif sebesar 10,05 ppm. Volume pelarut yang efektif adalah 25 mL dengan konsentrasi Cu sebesar 10,74 ppm. Hasil Cu yang diperoleh dari dekomposisi dengan pelarut HNO3 pada kondisi (konsentrasi, waktu, dan volume) efektif adalah 10,74 ppm, dimana hasilnya lebih besar dibandingkan dengan dekomposisi menggunakan pelarut akuaregia (6,95 ppm)
Aplikasi Nanokomposit Silika Aerogel-Karbon Aktif sebagai Adsorben Rhodamin-B
ABSTRAK Rhodamin-B (RhB) merupakan salah satu kontaminan dalam limbah cair industri. Terutama industri tekstil, keramik, kertas, kulit, plastik, dan pestisida. Paparan RhB dapat menyebabkan iritasi kulit dan mata, apabila tertelan dapat mengalami gangguan ginjal serta dalam jangka yang lama akan menimbulkan kanker. Metode adsorpsi merupakan salah satu cara untuk mengurangi konsentrasi RhB dalam limbah cair. Adsorpsi menggunakan karbon aktif sering digunakan untuk mengurangi konsentrasi zat warna. Namun, situs aktif yang dimiliki karbon aktifkurangmaksimumuntuk menyerap zat warna dalam limbah cair. Oleh karena itu, perlu mengkompositkan karbon aktif dengan silika aerogel yang memliki cukup gugus fungsi seperti silanol dan siloksanuntuk memperbesar luas permukaan dan kapasitas adsorpsiterhadap RhB dalam larutan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh waktu kontak, konsentrasi adsorbat, dan suhu terhadap kapasitas adorpsi rhodamin-B oleh nanokomposit silika aerogel-karbon aktif dan (2) menentukan parameter-parameter kesetimbangan yang digunakan untuk studi model isoterm adsorpsi, besaran termodinamika, dan kinetika adsorpsi. Penelitian ini dilakukan secara eksperimen di laboratorium yang terdiri dari dua tahap. Tahap pertama sintesis nanokomposit silika aerogel-karbon aktif dengan metode sol-gel. Tahap kedua menguji keterserapan nanokomposit silika aerogel-karbonaktif terhadap RhB pada variasi waktu kontak, konsentrasi adsorbat, dan suhu. Hasil penentuan kapasitas adsorpsi nanokomposit silika aerogel-karbon aktif terhadap variasi waktu kontak menghasilkan waktu optimum adsorpsi selama 60 menit dengan kapasitas adsorpsi 12,986 mg/g. Pada hasil penentuan kapasitas adsorpsi nanokomposit silika aerogel-karbonaktif terhadap RhB dengan variasikonsentrasi adsorbat, semakin meningkat konsentrasi adsorbat maka semakin meningkat kapasitas adsorpsi dengan nilai maksimum sebesar 30,297 mg/g. Adsorpsi nanokomposit silika aerogel-karbon aktif dengan RhB terjadi secara fisik karena nilai kapasitas adsorpsi semakin menurun dengan meningkatnya suhu. Mekanisme adsorpsi cenderung mengikuti model isoterm adsorpsi Langmuir dan besaran kinetika adsorpsi terjadi secara orde dua semu. Proses adsorpsi RhB dengan nanokomposit silika aerogel-karbon aktifberlangsung spontan karena menunjukkan hasil negatif dengan nilai sebesar - 5,904kJ mol-1selain itu nilai dan secara berturut-turut adalah - 4,229 kJmol-1dan -38,310J mol-1K-1. Adsorpsi bersifat eksotermik karena nilai negatifsedangkan nilai negatifpada menunjukkan penurunan ketidakteraturan pada proses adsorpsi
Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari Ion Tembaga(II) dengan Ligan Ion Tiosianat dan Isokuinolina
RINGKASANKusumawati, L. 2017. Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari Ion Tembaga(II) dengan Ligan Ion Tiosianat dan Isokuinolina. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed., Ph.D. (2) Dr. Nazriati, M.Si.Kata Kunci: senyawa kompleks, ion tembaga(II), ion tiosianat, isokuinolina.Senyawa kompleks dari ion tembaga(II) dengan ligan ion tiosianat dan piridina maupun turunannya memiliki manfaat sebagai antimikroba. Misalnya adalah senyawa [Cu(py)2(NCS)2] (py: piridina) dan [Cu(NAL)2(NCS)2] (NAL: nikotinanilida). Isokuinolina memiliki ikatan rangkap terkonjugasi yang lebih banyak daripada turunan piridina yang lain. Senyawa kompleks dengan ligan yang memiliki ikatan rangkap terkonjugasi yang banyak diharapkan memiliki aktivitas antibakteri yang lebih baik, sehingga senyawa kompleks dengan ligan isokuinolina diharapkan memiliki aktivitas antibakteri yang lebih baik daripada senyawa kompleks dengan ligan piridina maupun turunan piridina yang lain. Tujuan penelitian yaitu sintesis dan karakterisasi senyawa kompleks dari ion tembaga(II), ion tiosianat, dan isokuinolina dengan perbandingan 1:2:2. Penelitian ini hanya dibatasi sampai sintesis, karakterisasi, dan prediksi struktur saja.Senyawa kompleks disintesis dengan mereaksikan CuCl2.2H2O, KSCN, dan isokuinolina dengan perbandingan 1:2:2 dalam pelarut metanol. Endapan hasil reaksi dilarutkan dalam campuran aseton:metanol = 3:4 dan dievaporasi lambat. Kristal senyawa kompleks hasil sintesis dikarakterisasi melalui uji titik lebur, analisis SEM-EDX, analisis FT-IR, uji daya hantar listrik (DHL), dan uji kualitatif anion klorida. Berdasarkan hasil karakterisasi, rumus kimia senyawa kompleks dapat ditentukan dan diprediksikan struktur yang paling stabil menggunakan software Gaussian 09W.Reaksi antara tembaga(II) klorida, ion tiosianat, dan isokuinolina dengan stoikiometri 1:2:2 menghasilkan kristal hijau gelap, berbentuk balok, dan terdekomposisi pada suhu 155-157°C, yang menunjukkan senyawa tersebut baru dan murni. Analisis EDX menghasilkan rumus empiris C20H14N4S2Cu. Analisis FT-IR menunjukkan bahwa senyawa kompleks yang polimerik yang mengandung isokuinolina dan ion tiosianat. Analisis DHL dan analisis kualitatif anion klorida mengindikasikan bahwa senyawa kompleks merupakan senyawa molekuler. Hasil karakterisasi uji titik lebur, analisis EDX, analisis FT-IR, uji DHL, dan uji kualitatif anion klorida menunjukkan bahwa senyawa kompleks yang dihasilkan memiliki rumus kimia [Cu(IQ)2(SCN)2]. Rumus kimia tersebut sesuai dengan prediksi pertama dan kedua. Berdasarkan perhitungan energi bebas menggunakan software Gaussian 09W, struktur yang lebih stabil adalah senyawa kompleks polimerik [Cu(IQ)2(NCS)2]n dengan geometri oktahedral terdistorsi. Struktur ini isostruktur dengan [Cu(py)2(SCN)2]n
Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari Co(SCN)2 dan Isoquinolina
ABSTRAK Aini, Siti Nuril. 2017. Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari Co(SCN)2 dan Isoquinolina. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed., Ph.D., (2) Dr. Fariati, M.Sc. Kata Kunci : sintesis, senyawa kompleks, Co(SCN)2, isoquinolina Reaksi antara Mn(SCN)2 dan isoquinolina dengan stokiometri 1 : 4 dalam pelarut metanol menghasilkan senyawa kompleks molekuler trans-[Mn(C9H7N)4(NCS)2] dengan geometri oktahedral terdistorsi. Kobalt(II) dan mangan(II) merupakan ion-ion logam dari atom-atom yang berada dalam satu periode. Ion Co2+ dan Mn2+ memiliki jari-jari ion yang perbedaannya kecil (79 pm dan 81 pm). Tujuan penelitian adalah mensintesis senyawa kompleks dari Co(SCN)2 dan ligan isoquinolina serta mengkarakterisasi senyawa yang diperoleh. Struktur yang diperoleh dapat digunakan untuk membuktikan persamaan struktur dari senyawa kompleks [Mn(C9H7N)4(NCS)2] dengan senyawa yang dihasilkan. Senyawa kompleks disintesis dengan mereaksikan CoCl2 dalam metanol dan isoquinolina dalam metanol dengan stokiometri 1 : 4. Senyawa hasil sintesis diduga adalah [Co(C9H7N)3Cl2]. Senyawa tersebut kemudian direaksikan dengan KSCN pada perbandingan mol 1 : 2 dalam pelarut metanol. Kristal hasil sintesis diuji titik leburnya untuk mengetahui kemurnian dan kebaruannya. Analisis EDX bertujuan untuk memperoleh rumus empiris dari senyawa kompleks. Uji DHL dan analisis kualitatif ion tiosianat untuk menentukan senyawa kompleks tergolong molekuler atau ionik. Data spektroskopi IR digunakan untuk mengidentifikasi pola koordinasi ion tiosianat. Berdasarkan hasil analisis, rumus kimia yang mungkin dari senyawa kompleks dapat ditentukan dan diprediksi strukturnya. Energi bebas dari kemungkinan struktur yang diperoleh dihitung dengan program Gaussian 09W. Struktur senyawa kompleks yang diterima adalah yang memiliki energi bebas terendah. ABSTRAK Senyawa kompleks yang diperoleh berupa kristal-kristal berwarna jingga, berbentuk prisma, dan terdekomposisi pada suhu 106-108 °C. Fakta ini menunjukkan bahwa senyawa hasil sintesis merupakan senyawa murni dan baru. Analisis EDX memberikan rumus empiris C30H25CoN5OS2. Hasil pengukuran DHL dan uji kualitatif menunjukkan bahwa senyawa hasil sintesis merupakan senyawa kompleks molekuler yang terdiri dari atom pusat kobalt(II) dengan ligan isoquinolina dan ion tiosianat serta pelarut metanol. Data spektrum IR menunjukkan terdapat serapan pada 1631,78 cm-1 yang mengindikasikan vibrasi ulur C=N dari ligan isoquinolina, pada 2069,62 cm-1 dan 839,03cm-1 khas dengan vibrasi ulur C≡N dan C-S dari ligan ion tiosianat yang berikatan dengan melalui atom donor N, serta 3057,17 cm-1 dan 1274,95 cm-1 yang merupakan vibrasi ulur C-O dan O-H. Berdasarkan analisis di atas, maka kemungkinan rumus kimia senyawa kompleks tersebut adalah [Co(C9H7N)3(CH3OH)(NCS)2]. Senyawa kompleks tersebut memiliki dua kemungkinan struktur yaitu cis-[Co(C9H7N)3(CH3OH)(NCS)2] dan trans-[Co(C9H7N)3(CH3OH)(NCS)2] dengan geometri oktahedral terdistorsi di sekitar atom pusatnya. Energi bebas senyawa kompleks berturut-turut sebesar -3655 kJ/mol dan -3654 kJ/mol. Trans-[Co(C9H7N)3(CH3OH)(NCS)2] merupakan struktur yang isostruktur dengan senyawa trans-[Mn(C9H7N)4(NCS)2]. Oleh sebab itu, struktur yang diterima yaitu trans-[Co(C9H7N)3(CH3OH)(NCS)2]
Isolasi, Identifikasi, dan Uji Aktifitas Senyawa Flavonoid dalam Mesokarp Semangka (Citrullus lannatus Thunb.) Sebagai Inhibitor Lipase Pankreas
Isolasi, Identifikasi, dan Uji Aktifitas Senyawa Flavonoid dalam Mesokarp Semangka (Citrullus lannatus Thunb.) Sebagai Inhibitor Lipase Pankreas Rike Elvira, Subandi, dan Tatas H.P. Brotosudarmo Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang Email: [email protected] ABSTRACT Obesity is a condition which the quantity of body fat tissue weight compared with the total is greater than normal. Mesocarp watermelon contains several secondary metabolites that function as pancreatic lipase inhibitor, one of which is a flavonoid compound. In search of flavonoid compound active as a pancreatic lipase inhibitor, mesocarp watermelon is macerated using methanol, continued isolation with Thin Layer Chromatography (TLC) Prep, phytochemical test flavonoids compounds, and the activity test pancreatic lipase. The results showed that there are four flavonoid isolates active as pancreatic lipase inhibitor is the first isolate, fifth isolate, sixth isolates and seventh isolates. At the same mass as Orlistat, the first isolates has the power of inhibition of 17.25 times; 56.57 times (fifth isolate); 75.84 times (sixth isolate); and 227.60 times (seventh isolate) more powerful than Orlistat. Based on the spectrum of UV-Vis and FT-IR, the four isolates the active flavonoids as a natural inhibitor of pancreatic, especially the first isolate, indicate has structure similar with flavanol compounds, namely catechin. Keyword: flavonoid compound, inhibitor lipase, mesocarp watermelon, Orlistat ABSTRAK Obesitas adalah suatu keadaan di mana kuantitas jaringan lemak tubuh dibanding dengan berat badan total lebih besar dari keadaan normalnya. Pada mesokarp semangka mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder yang berfungsi sebagai inhibitor lipase pankreas, salah satunya adalah senyawa flavonoid. Dalam mendapatkan senyawa golongan flavonoid yang aktif sebagai inhibitor lipase pankreas, mesokarp semangka dimaserasi menggunakan metanol, dilanjutkan mengisolasi dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Preparatif, uji fitokimia senyawa flavonoid, dan uji aktivitas lipase pankreas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat isolat flavonoid yang aktif sebagai inhibitor lipase pankreas yaitu isolat pertama, kelima, keenam, dan ketujuh. Pada massa yang sama dengan Orlistat, maka isolat pertama mempunyai daya inhibisi sebesar 17,25 kali; 56,57 kali (isolat kelima), 75,84 kali (isolat keenam) dan 227,60 (isolat ketujuh) kali lebih kuat dibandingkan Orlistat. Berdasarkan spektrum UV-Vis dan FT-IR, keempat isolat flavonoid yang aktif sebagai inhibitor alami pankreas, terutama isolat pertama, diduga mempunyai struktur yang mirip dengan senyawa flavanol yaitu katekin. Kata Kunci: inhibitor lipase, mesokarp semangka, Orlistat, senyawa flavonoi
Pengembangan Bahan Ajar Reaksi Redoks dan Elektrokimia Berbasis Representasi Makroskopik, Submikroskopik, dan Simbolik untuk Peserta Didik SMA/MA
Wulandari, Putri Desita. 2016. Pengembangan Bahan Ajar Reaksi Redoks dan Elektrokimia Berbasis Representasi Makroskopik, Submikroskopik, dan Simbolik untuk Peserta Didik SMA/MA. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Oktavia Sulistina, S.Pd., M.Pd, (II) Dr. H. Yahmin, S.Pd., M.Si.
Pengembangan Bahan Ajar Termokimia Berdasarkan Process Oriented Guided Inquiry Learning (POGIL) untuk Siswa SMA/MA Kelas XI Program IPA
ABSTRAK Ikhtiarini, Nur. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Termokimia Berdasarkan Process Oriented Guided Inquiry Learning (POGIL) untuk Siswa SMA/MA Kelas XI Program IPA. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Effendy, Ph.D; (2) Dr. Fauziatul Fajaroh, M.S Kata-kata kunci: pengembangan, bahan ajar, termokimia, POGIL. Termokimia merupakan salah satu materi kimia di SMA/MA kelas XI program IPA. Materi termokimia terdiri dari konsep-konsep terdefinisi. Konsep terdefinisi merupakan gagasan yang diturunkan dari konsep abstrak. Agar materi Termokimia dapat dipahami dengan baik, maka siswa SMA harus memiliki kemampuan berfikir formal atau berfikir abstrak yang cukup. Namun, fakta menunjukkan bahwa tidak semua siswa SMA telah mencapai tingkat kemampuan tersebut sehingga berpotensi menimbulkan kesulitan belajar. Pembelajaran Termokimia juga mencakup tiga level representasi yaitu makroskopis, submikroskopis, dan simbolik, dimana ketiganya saling terkait satu sama lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih kurang mampu menerjemahkan istilah-istilah kimia ke dalam bahasa simbolik atau sebaliknya, sehingga berpotensi menimbulkan kesulitan belajar.Selain itu, Termokimia juga banyak melibatkan operasi matematika khususnya kesebandingan. Penerapan operasi matematika juga berpotensi menimbulkan kesulitan belajar siswa. Kesulitan-kesulitan tersebut berdampak padarendahnya hasil belajar siswa.Agarkonsep-konsep dalamTermokimia dapat dipahami dengan baik oleh siswa, maka diperlukan pendekatan pembelajaran yang dapat mengatasi kesulitan belajar siswa. Kesulitan terhadap konsep-konsep abstrak tampaknya dapat diatasi dengan menghadirkan fakta konkret ke dalam pembelajaran. Kesulitan terhadap menghubungkan tiga level representasi dapat diatasi dengan memunculkan tiga level representasi tersebut ke dalam proses pembelajaran. Kesulitan terhadap operasi matematika dapat diatasi dengan latihan soal yang cukup yang melibatkan operasi matematika. Dengan adanya solusi-solusi tersebut diharapkan pembelajaran menjadi efektif dalam meningkatkan kemampuan berfikir siswa. POGIL merupakan pendekatan pembelajaran yang diharapkan dapatmemenuhi tuntutan tersebut karena pendekatan ini mengharuskan siswa untuk terlibat langsung dalam membangun konsep dengan bantuan minimaldari guru. Tahap-tahap pembelajaran POGIL berisi aktifitas yang sarat denganstimulasi intelektual yang diperlukan dalam perkembangan berfikir formal siswa. Pembelajaran dengan pendekatan POGIL memerlukan bahan ajar yang disusun secara sistematis dan spesifik. Sampai saat ini dapat dianggapbelum ada bahan ajar materi Termokimia yang memenuhi persyaratan tersebut. Penelitian ini bertujuan menghasilkan bahan ajar Termokimia berdasarkan pendekatan POGIL untuk siswa SMA/MA kelas XI program IPA serta mengidentifikasi kelayakan dan efektifitasnya. Bahan ajar Termokimiadikembangkan menggunakan metode 4-D yang dikembangkan oleh Thiagarajan, Semmel, dan Semmel. Model ini terdiri dari 4 tahap yaituDefine,Design, Develop, dan Desseminate.Tahap Desseminate tidak dilakukan karena produk pengembangan masih digunakan secara terbatas. Bahan ajar yang dikembangkan terdiri dari “Buku Kerja Siswa” dan “Buku Panduan Guru”. Buku Kerja Siswa berisi serangkaian aktifitas yang harus dilalui oleh siswa dalam mengkonstruk suatu konsep, sedangkan Buku Panduan Guru berisi jawaban dari setiap aktifitas yang terdapat pada Buku Kerja Siswa. Buku Kerja Siswa dinilai kelayakan isi, bahasa, dan penyajiannyaoleh satu dosen kimia dan dua guru kimia SMA menggunakan instrumen yang dikembangkan berdasarkan standar penilaian bahan ajar yang ditetapkan oleh BSNP. Datahasil penelitian berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa tanggapan dan saran perbaikan dari validator. Data kuantitatif berupa skor validasi dan hasil belajar siswa. Data hasil belajar siswa dikumpulkan menggunakan tes pilihan ganda yang terdiri dari 19 butir soal dengan validitas isi sebesar 100% dan koefisien reliabilitas, dihitung denganSPSS17, sebesar 0,81. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Buku Kerja Siswa memiliki kelayakan isi 81,3%, kelayakan bahasa 88,0%, dan kelayakan penyajian 84,0%. Kriteria ketuntasan minimal dicapai oleh 81,2% siswa. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dianggap bahwa Buku Kerja Siswa yang dikembangkan adalah layak dan efektif untuk digunakan dalam pembelajaran materi Termokimia. Evaluasi lebih lanjut mengenai kelayakan dan keefektifan bahan ajar perlu dilakukan untuk pemakaian bahan ajar dalam lingkup yang lebih luas.
pengaruh luas permukaaan katalis zeolit alam aktif dan waktu ultrasonikasi terhadap rendemen hidrolisis selulosa menjadi glukosa
ABSTRAK Ramadhani, A. M. 2016.Pengaruh Luas Permukaan Katalis Zeolit Alam Aktif danWaktu Ultrasonikasi Terhadap Rendemen Hidrolisis Selulosa Menjadi Glukosa Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Sumari, M.Si, (II) Dr.Aman Santoso, M.Si.Kata kunci: selulosa, hidrolisis, sonikasi, zeolit alam Cadangan energi yang berasal dari bahan baku fosil semakin menipis, oleh karena itu perlu segeramencari solusinya. Selulosa merupakan sumber daya alamterbarukan yang jumlahnya sangat melimpah dan berpotensi sebagai sumber energi alternatif terbarukan.Beberapa penelitian mengkonversi selulosa menjadi glukosa telah dilakukan namun belum diperoleh proses produksi yang efektif. Tujuanpenelitian ini adalah untuk mengetahui jenisdanpengaruh luas permukaan zeolit alam sebagai katalis serta pengaruh waktupada hidrolisis selulosa dengan bantuan ultrasonik.Penelitian initerdiri dari lima tahap yaitu(1) preparasi katalis zeolit yakni penggerusan dan pengayakan zeolit alam dengan ukuran 50, 100, dan 200 mesh(2)aktivasi zeolite dengan cara pemanasan pada suhu selama 5 jam, (3)karakterisasi zeolit alam menggunakan uji XRD dan uji BET, (4) proses hidrolisisselulosa menggunakan katalis zeolit alam dengan bantuan ultrasonik, (5) karakterisasihasil hidrolisis menggunakan uji Nelson-Somogyi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa(1)Zeolit alam aktif kabupatenMalangyang digunakan sebagai katalis adalah jenis zeolit modernit,(2)Luas permukaan katalis zeolit alam aktif berpengaruh terhadap rendemen glukosa (% w/w) yangdihasilkan pada proses hidrolisis selulosa menjadi glukosa,(3)Waktu sonikasi padahidrolisis selulosa menjadi glukosa menggunakan katalis zeolit alam aktifberpengaruh terhadap rendemen glukosa yang dihasilkan. Rendemen glukosatertinggi diperoleh pada waktu sonikasi paling lama yakni 240 menit sebesar 12,69(%w/w).ii ABSTRACT Ramadhani, A. M. 2016.The Effect Of Surface Area Active Natural Zeolite Catalystand Time Of Ultrasonictionon Yield Cellulose Hydrol
Pengembangan Bahan Ajar Reaksi Redoks dan Elektrokimia Berbasis Representasi Makroskopik, Submikroskopik, dan Simbolik untuk Peserta Didik SMA/MA
Wulandari, Putri Desita. 2016. Pengembangan Bahan Ajar Reaksi Redoks dan Elektrokimia Berbasis Representasi Makroskopik, Submikroskopik, dan Simbolik untuk Peserta Didik SMA/MA. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Oktavia Sulistina, S.Pd., M.Pd, (II) Dr. H. Yahmin, S.Pd., M.Si.