SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Pengembangan Bahan Ajar Kimia Berbasis Learning Cycle 5E-Think Pair Share pada Materi Termokimia untuk Peserta Didik SMA/MA Kelas XI
ABSTRAK Wahyuningsih, E.D. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Kimia Berbasis Learning Cycle 5E-Think Pair Share pada Materi Termokimia untuk Peserta Didik SMA/MA Kelas XI. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Fauziatul Fajaroh, M.Si, (II) Dr. Sumari, M.Si. Kata Kunci: bahan ajar, learning cycle 5E-think pair share, termokimia. Kimia adalah salah satu mata pelajaran di SMA yang saat ini pembelajarannya harus mengikuti Kurikulum 2013. Kurikulum tersebut menuntut pembelajaran yang lebih inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik. Namun hingga saat ini belum tercukupi bahan ajar yang sesuai. Bahan ajar yang berupa buku paket, lembar kerja peserta didik serta handout yang dibuat guru masih belum cukup untuk membantu peserta didik dalam memahami konsep-konsep. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menyediakan bahan ajar dengan pendekatan yang sesuai Kurikulum 2013. Model pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan tersebut dapat diperoleh dengan penerapan learning cycle 5E dan think pair share. Termokimia memiliki karakteristik yang kompleks karena terdiri dari konsep abstrak, hitungan, dan simbol, sehingga sebagian besar peserta didik mengalami kesulitan dalam mempelajarinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar materi termokimia berbasis learning cycle 5E-think pair share. Pengembangan bahan ajar ini menggunakan model pengembangan 4D menurut Thiagarajan, Semmel & Semmel (1974) yang terdiri dari 1) tahap define, 2) tahap design, 3) tahap develop, 4) tahap disseminate. Penelitian dan pengembangan ini hanya dilakukan sampai dengan tahap ketiga (develop). Hasil pengembangan divalidasi oleh satu dosen kimia dan dua guru kimia, setelah itu dilakukan uji keterbacaan kepada 10 peserta didik yang sudah mempelajari materi termokimia. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah angket berisi lembar skor penilaian dan komentar-saran. Jenis data yang diperoleh adalah data kuantitatif dari skor penilaian dan kualitatif dari komentar serta saran. Produk hasil pengembangan bahan ajar ini berupa bahan ajar untuk guru dan bahan ajar untuk peserta didik dalam bentuk cetak. Hasil persentase rata-rata validasi isi sebagai berikut: bahan ajar guru (88,4%) dengan kriteria sangat layak dan bahan ajar peserta didik (85,6%) dengan kriteria sangat layak. Hasil persentase rata-rata uji keterbacaan untuk bahan ajar peserta didik adalah (88,0%) dengan kriteria sangat layak. Berdasarkan hasil validasi isi dan uji keterbacaan menunjukkan bahwa secara umum bahan ajar telah valid dan layak digunakan
Analisis Miskonsepsi Siswa Kelas X MIPA SMA Negeri 1 Singosari pada Materi Laju Reaksi dengan Menggunakan Instrumen Diagnostik Two-Tier Multiple Choice
ABSTRAK Lestari, Linda Ayu. 2017. Analisis Miskonsepsi Siswa Kelas X MIPA SMA Negeri 1 Singosari pada Materi Laju Reaksi dengan Menggunakan Instrumen Diagnostik Two-Tier Multiple Choice. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Ida Bagus Suryadharma, M. S., (II) Dr. Suharti, S. Pd., M. Si. Kata kunci: miskonsepsi, instrumen diagnostik two-tiermultiple choice, laju reaksiPembelajaran kimia menuntut siswa untuk dapat memahami konsep-konsep kimia. Pada kenyataannya tidak semua siswa yang mengikuti proses pembelajaran dapat memahami konsep kimia yang dipelajarinya dengan baik, hal ini dapat mengakibatkan miskonsepsi siswa. Salah satu materi kimia yang dianggap sulit oleh siswa yaitu materi laju reaksi.Pemahaman yang salah (miskonsepsi) terhadap suatu konsep menyebabkan kesulitan dalam mempelajari konsep-konsep selanjutnya.Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi miskonsepsi, menentukan persentase miskonsepsi pada materi laju reaksi, dan menentukan penyebab terjadinya miskonsepsi.Penelitian yang dilakukan menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Subjek penelitian yaitu kelas X MIPAA SMA Negeri 1 Singosari yang terdiri dari 35 siswa.Data dikumpulkan melalui tes diagnostiktwo-tier multiple choice dan hasil wawancara. Instrumen tes yang digunakan berjumlah 30butir soal, yang terdiri dari 29 butir soal valid. Data yang diperoleh dianalisis dengan cara mengelompokkan setiap siswa yang menjawab konsisten salah pada pilihan jawaban dan alasan lalu dipersentasikanpada setiap konsep dalam materi laju reaksi. Hasil analisis miskonsepsi siswa yang diperoleh didukung dengan hasil wawancara. Hasil analisis menunjukkan bahwa siswa kelas X MIPA A SMA Negeri 1 Singosari mengalami miskonsepsi pada konsep (1) ungkapan laju reaksi sebesar 22,9%, (2) orde reaksi sebesar 34,3%, (3) faktor konsentrasi terhadap laju reaksi sebesar 25,7%, (4) faktor luas permukaan bidang sentuh terhadap laju reaksi sebesar 51,4%, (5) faktor suhu terhadap laju reaksi sebesar 28,6%, (6) faktor penambahan katalis terhadap laju reaksi sebesar 28,6% dan 25,7%, dan (7) persamaan laju reaksi sebesar 20%. Penyebab terjadinya miskonsepsi yaitu penalaran siswa, teman sejawat, buku, dan metode pembelajaran yang digunakan
Efektivitas Pembelajaran Inkuiri Terbimbing untuk Mengatasi Kesulitan Pemahaman Konsep Materi Asam Basa Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Paciran Lamongan
ABSTRAK Indiarini, Mila. 2017. “Efektivitas Pembelajaran Inkuiri Terbimbing untuk Mengatasi Kesulitan Pemahaman Konsep Materi Asam Basa Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Paciran Lamongan”. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Endang Budiasih, M.S. (II) Dra. Dedek Sukarianingsih., M.Pd., M.Si Kata kunci : inkuiri terbimbing, konvensional, hasil belajar kognitif, asam, basa Salah satu materi kimia yang dipelajari siswa kelas XI SMA adalah materi asam basa. Materi asam basa merupakan materi dasar yang digunakan untuk mempelajari materi selanjutnya yaitu titrasi asam basa, larutan penyangga, dan hidrolisis garam. Materi ini cukup penting untuk dikuasai baik dari aspek makroskopis, submikroskopis, maupun simbolik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil belajar kognitif antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan konvensional untuk mengatasi kesulitan pemahaman konsep asam basa pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Paciran. Rancangan penelitian yang dilakukan pada penelitian ini adalah rancangan eksperimen semu (quasy experimental) dengan post-test only control group design. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Paciran. Teknik penentuan sampel dilakukan dengan claster random sampling. Kelas eksperimen yaitu kelas XI IPA 3 yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan kelas kontrol yaitu kelas XI IPA 2 yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional. Instrumen yang digunakan berupa instrumen perlakuan (silabus, RPP, Lembar Kerja Siswa) dan instrumen pengukuran. Data keterlaksanaan proses pembelajaran dianalisis secara deskriptif, sedangkan data hasil belajar kognitif dianalisis statistik dengan menggunakan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Keterlaksanaan proses pembelajaran dari kelima pertemuan untuk siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional termasuk dalam kategori sangat baik. Rata-rata keterlaksanaan proses pembelajaran dari kelima RPP pada siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing sebesar 95,54% dan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional sebesar 94,53%. (2) Ada perbedaan hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional. Rata-rata nilai hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing lebih tinggi (̅ = 84,11) daripada siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional (̅ = 75,36). Dengan demikian, model pembelajaran inkuiri terbimbing dinyatakan efektif untuk mengatasi kesulitan pemahaman konsep, sehingga berpengaruh meningkatkan capaian hasil belajar kognitif siswa
Pemurnian Enzim Keratinase dari Bacillus sp MD24 dengan Metode Fraksinasi Etanol
ABSTRAK Keratinase merupakan enzim yang dapat mendegradasi keratin dan dapat dihasilkan oleh bakteri atau mikroba lain. Bacillus sp MD24 merupakan salah satu mikroba yang terbukti menghasilkan keratinase. Ekstrak kasar keratinase yang dihasilkan dari Bacillus sp MD24 telah diaplikasikan dalam proses dehairing kulit kambing. Namun proses dehairing tersebut membutuhkan waktu selama 72 jam. Untuk memperpendek waktu dehairing tersebut maka diperlukan upaya untuk meningkatkan konsentrasi enzim keratinase tersebut. Beberapa cara yang dapat dilakukan yaitu memvariasi media produksi, menggunakan metode fermentasi lain atau pemurnian enzim. Variasi media produksi Bacillus sp MD24 sebelumnya telah dilakukan dengan menggunakan metode SmF tetapi aktivitas enzimnya masih rendah. Metode alternatif yang dapat digunakan adalah metode SSF. Selain menggunakan metode lain, untuk meningkatkan konsentrasi enzim dapat dilakukan proses pemurnian enzim. Keratinase dari Bacillus sp MD24 belum pernah dimurnikan. Penelitian ini bertujuan: (1) memproduksi enzim keratinase dengan metode menggunakan substrat bulu ayam, (2) mengetahui aktivitas spesifik, tingkat kemurnian, dan yield hasil pemurnian dengan fraksinasi etanol, dan (3) mengetahui efektifitas pelarut etanol dalam memurnikan enzim keratinase.Penelitian ini dilakukan dalam lima tahap, yaitu (1) regenerasi kultur murni Bacillus sp MD 24, (2) produksi ekstrak kasar keratinase, (3) pemurnian enzim keratinase dengan fraksinasi etanol, (4) penentuan aktivitas keratinase, dan (5) penentuan kadar protein. Produksi enzim keratinase dilakukan dengan metode SSF. Pemurnian enzim keratinase dilakukan secara bertahap dengan etanol pada fraksi 0-20%, 20-40%, 40-60%, dan 60-80%. Ekstrak kasar dan setiap fraksi hasil pemurnian enzim diukur masing-masing aktivitas enzim dan kadar proteinnya. Pengukuran aktivitas enzim dengan cara mengukur absorbansi dari tirosin yang dihasilkan pada panjang gelombang 280 nm. Penentuan kadar protein dilakukan dengan menggunakan metode Lowry dengan Bovine Serum Albumin (BSA) sebagai protein standar. Bacillus sp MD24 telah berhasil diregenerasi dalam media susu skim. Produksi enzim keratinase dengan media bulu ayam menggunakan metode SSF berhasil dilakukan. Aktivitas enzim keratinase yang dihasilkan tersebut sebesar 8,19 U/mL. Pemurnian enzim yang dilakukan menunjukkan hasil pemurnian cukup baik pada fraksi 60-80% dengan aktivitas spesifik, tingkat kemurnian, dan yield berturut-turut sebesar 256,658 U/mg; 2,257 kali ekstrak kasar; dan 16,269 %. Pemurnian keratinase dengan pelarut etanol dapat meningkatkan kemurnian ekstrak kasar keratinase tetapi kurang efektif karena yield yang diperoleh sangat rendah
Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks Zink(II) sulfat dan 1,4-bis(difenilfosfino)butana dengan Stoikiometri 1 : 1
ABSTRAK Reaksi antara zink(II) etilditiokarbonat dan 1,4-bis(difenilfosfino)butana(dppb) menghasilkan kompleks molekuler [Zn2(µ-dppb)(S2COCH2CH3)4] dengan geometri trigonal bipiramidal terdistorsi di sekitar atom pusatnya. Pada senyawa kompleks ini, ligan dppb mengkoordinasi atom zink melalui dua atom fosfor membentuk ligan jembatan sedangkan ion etilditiokarbonat (CH3CH2OC) berlaku sebagai ligan sepit. Senyawa kompleks dari zink(II) sulfat dan dppb belum pernah dilaporkan. Ion sulfat sebagai ligan polidentat berpeluang untuk mengikat atom zink melalui dua atom oksigennya membentuk ligan sepit. Dibandingkan ion etilditiokarbonat, ion sulfat memiliki pola koordinasi yang lebih beragam karena memiliki empat atom donor O yang dapat terkoordinasi pada atom pusat. Tujuan penelitian ini adalah mensintesis senyawa kompleks dari zink(II) sulfat dan dppb dengan stoikiometri 1 : 1 serta menentukan strukturnya sesuai hasil karakterisasi. Senyawa kompleks disintesis dengan mereaksikan ZnSO4 dan dppb pada perbandingan mol 1 : 1 dalam campuran pelarut metanol dan diklorometana 1 : 1. Kristal senyawa kompleks diukur titik leburnya untuk mengetahui kebaruan, kemurnian, dan kestabilan. Jenis senyawa kompleks ditentukan dari hasil uji daya hantar listrik (DHL) dan uji kualitatif ion sulfat. Analisis EDX bertujuan untuk memperoleh rumus empiris dari senyawa kompleks. Berdasarkan rumus empiris, hasil uji DHL, dan uji kualitatif ion sulfat kemungkinan rumus dan struktur senyawa kompleks dapat diramalkan. Energi bebas dari struktur yang mungkin dihitung dengan program Gaussian vol.5.0. Kemungkinan struktur yang diterima memiliki energi bebas terendah. Senyawa kompleks hasil sintesis berupa kristal tidak berwarna, berbentuk balok, dan melebur pada suhu 152-154oC. Hasil uji titik lebur membuktikan bahwa kompleks hasil sintesis merupakan senyawa baru. Hasil pengukuran DHL dan uji kualitatif ion sulfat menunjukkan bahwa kompleks yang terbentuk adalah senyawa molekuler. Analisis EDX memberikan rumus empiris yaitu C28H28O4P2SZn. Kemungkinan struktur yang memenuhi yaitu kompleks dimer [Zn2(O2SO2)2(µ2-dppb)2], [Zn2(µ2- O2SO2)2(µ2-dppb)2], dan [(Zn2(O-µ2-O2SO)2(µ2-dppb)2]. Energi bebas per ikatan senyawa kompleks berturut-turut sebesar -174 kJ/mol, -180 kJ/mol, dan -160 kJ/mol. Dimer [Zn2(µ2-O2SO2)2(µ2-dppb)2] merupakan struktur senyawa kompleks yang diterima dan paling stabil karena memiliki energi bebas per ikatan terendah. Di dalam struktur tersebut dua atom donor oksigen pada ion sulfat terkoordinasi pada atom zink sebagai ligan jembatan. Struktur yang lebih akurat harus ditentukan dengan metode difraksi sinar X kristal tunggal
Pengembangan Bahan Ajar Flipbook 3D Materi Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit Berbasis Inkuiri Terbimbing
ABSTRAK Nurdiana, Riska Erva. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Flipbook 3D Materi Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit Berbasis Inkuiri Terbimbing. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Munzil, S.Pd., M.Si., (II) Dr. H. Yahmin, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: Bahan ajar flipbook 3D, strategi inkuiri terbimbing, Four-D model, larutan elektrolit dan nonelektrolit.Ada berbagai macam bahan ajar yang dapat digunakan untuk pembelajaran kimia di SMA. Macam-macam bahan ajar tersebut antara lain bahan ajar cetak (LKS, Handout, Buku teks), bahan ajar audio visual (video), dan bahan ajar multimedia interaktif (gabungan video,audio, gambar, teks, dan animasi). Diantara bahan ajar tersebut hanya buku teks dan LKS yang umumnya digunakan di SMA. Penggunaan LKS dan buku teks ini kurang bisa menggambarkan materi secara submikroskopis sehingga penulis ingin mengembangkan bahan ajar berbasis multimedia interaktif. Bahan ajar multimedia interaktif ini merupakan gabungan animasi, video, audio, teks, dan gambar yang dapat menggambarkan materi sampai tingkat submikroskopis. Penggunakan multimedia interaktif ini dapat membantu siswa memahami materi larutan elektrolit dan nonelektrolit. Multimedia interaktif yang dikembangkan penulis akan dikemas dalam bentuk flipbook 3D. Aplikasi flipbook 3D ini masih jarang digunakan dalam bahan ajar. Penggunaan bahan ajar tidak lepas dari strategi pembelajaran, strategi yang cocok digunakan agar siswa dapat berfikir kritis salah satunya menggunakan strategi inkuiri terbimbing. Strategi inkuiri terbimbing merupakan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa sehingga siswa lebih aktif dan berfikir kritis. Karna itu penulis ingin mengembangkan bahan ajar flipbook 3D materi larutan elektrolit dan nonelektrolit berbasis inkuiri terbimbing. Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah untuk menghasilkan bahan ajar flipbook 3D pada elektrolit dan nonelektrolit dengan menggunakan strategi inkuiri terbimbing untuk kelas X SMA/MA yang layak (valid).Bahan ajar multimedia interaktif larutan elektrolit dan nonelektrolit dikembangkan dengan menggunakan model four-D (define, design, develop, dan disseminate), sampai tahap 3. Kelayakan bahan ajar diketahui berdasarkan dari validasi oleh ahli media, oleh ahli materi, dan uji coba kelompok kecil. Uji validitas yang dilakukan menggunakan skala liket yang disertai dengan komentar, saran dari validator dan audien. Data penelitian yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik rata-rata. Produk akhir dari penelitian ini adalah bahan ajar flipbook 3D berbasis inkuiri terbimbing yang dikemas dalam bentuk CD (compact disk). Pada penelitian ini dikembangkan bahan ajar flipbook 3D berbasis inkuiri terbimbing. Bahan ajar bersifat fleksibel dan interaktif, yaitu bisa digunakan berurutan maupun tidak, sehingga siswa dapat belajar secara mandiri. Bahan ajar ini terdiri dari teks, gambar, video, audio, dan animasi serta latihan soal larutan elektrolit dan nonelektrolit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar multimedia interaktif larutan elektrolit dan nonelektrolit telah memenuhi kriteria kelayakan. Presentase kelayakan bahan ajar ini sebesar 93,7% menurut ahli media, sebesar 91.2% menurut ahli materi , dan 94.68% berdasarkan uji coba kelompok kecil. Produk akhir Bahan ajar ini telah direvisi berdasarkan komentar dan saran dari validator dan audien
Identifikasi Konsepsi Alternatif Materi Asam Basa Mahasiswa Kimia Semester II FMIPA Universitas Negeri Malang
ABSTRAK Mayangsari, Jian. 2017. Identifikasi Konsepsi Alternatif Materi Asam Basa Mahasiswa Kimia Semester II FMIPA Universitas Negeri Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Muntholib S.Pd., M.Si., (II) Drs. Ridwan Joharmawan, M.Si. Kata kunci: tes identifikasi, konsepsi alternatif, materi asam basa, mahasiswa kimia dasar II Materi asam basa merupakan salah satu materi kimia yang sangat penting bagi mahasiswa untuk memahami materi kimia lain yang lebih kompleks. Adapun materi yang lebih kompleks tersebut contohnya adalah memahami pelepasan ion hidrogen saat reaksi esterifikasi pada mata kuliah kimia organik dan masih banyak aplikasi materi asam basa pada mata kuliah lain selain kimia organik seperti mata kuliah kimia anorganik, kimia analitik hingga biokimia. Beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya secara konsisten menunjukkan bahwa masih terdapat konsepsi alternatif pada materi asam basa. Pada tingkat universitas, identifikasi konsepsi alternatif yang pernah dilakukan cenderung merupakan identifikasi yang bersifat parsial atau hanya terbatas pada sub materi tertentu saja. Untuk itulah perlu diadakan identifikasi konsepsi alternatif pada materi asam basa secara keseluruhan. Pada penelitian sebelumnya metode penyusunan instrumen yang sering digunakan adalah metode two tier. Metode two tier menghasilkan bentuk instrumen tes yang tidak umum digunakan sebagai tes formatif pada umumnya. Dalam penelitian ini metode yang digunakan dalam penyususunan instrumen adalah metode tes pilihan ganda yang dikembangkan berdasarkan konsepsi alternatif yang telah ditemukan pada penelitian sebelumnya. Bentuk instrumen tes yang disusun dalam penelitian ini sama dengan bentuk tes formatif pada umumya. Secara keseluruhan tujuan dari penelitian ini ada dua. Yang pertama adalah mengembangkan instrumen tes identifikasi konsepsi alternatif asam basa. Yang kedua adalah melakukan identifikasi konsepsi alternatif mahasiswa pada materi asam basa dengan instrumen yang telah dibuat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskribtif kuantitatif. Subjek penelitian merupakan mahasiswa jurusan kimia offering G, H,dan B. Intrumen penelitian berupa 20 soal pilihan ganda. Pengumpulan data dilakukukan melalui pengerjaan tes tulis menggunakan instrumen tes yang telah dibuat. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik deskribtif intrepretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua submateri asam basa teridentifikasi terdapat konsepsi alternatif. Submateri tersebut adalah teori asam basa, hubungan antara ionisasi air dengan pH, pH, kekuatan asam basa, buffer, hidrolisis, titrasi, dan indikator. Konsepsi alternatif yang ditemukan berupa konsepsi alternatif yang sama dengan yang ditemukan dalam penelitian sebelumnya dan konsepsi alternatif baru yang belum ditemukan pada konsepsi alternatif sebelumnya. ABSTRACT Mayangsari, Jian. 2017. Identification of Alternative Conceptions on Acid Base for First Year Chemistry College Students of State University of Malang. Thesis, Chemistry Education Study Program, FMIPA, State University of Malang. Counselor: (I) Muntholib S.Pd., M.Si., (II) Drs. Ridwan Joharmawan, M.Si. Keywords: identification test, alternative conception, acid-base material, chemistry semester II student The acid-base material is one of the most important chemistry materials for students to understand other more complex chemistry materials. For example of understanding the release of hydrogen ions during the esterification reaction in the organic chemistry and there are many applications of acidic bases in other subjects such as inorganic chemistry, analytical chemistry to biochemistry. Some previous studies have consistently shown that there is still an alternative conception of acidic bases. At the university level, the identification of alternative conceptions that have been made tends to be partial identification or limited to only certain submaterials. For this reason, it is necessary to identify alternative conceptions on acid-base material as a whole. In the previous study the method of preparation of instruments that are often used is the two tier method. The two tier method produces a form of test instrument that is not commonly used as a formative test in general. In this study the method used in the preparation of instruments is a multiple choice test method developed based on alternative conceptions that have been found in previous research. The form of the test instrument prepared in this study is the same as the formative test in general. Overall the purpose of this research is twofold. The first is developing an identification test instrument of alternative conceptions of acid bases. The second is to identify students' alternative conceptions on acid-base material with the instruments that have been made. This research using quantitative deskribtif research methods. The subject is a student of chemistry department offering G, H, and B. the instruments of research consist 20 multiple choice question. Data collection is done through writing test work using test instruments that have been created. The data obtained are then analyzed using intrepretative descriptive techniques. The results showed that almost all submaterial of acid base are identified alternative conceptions. The submaterial is acid-base theory, the relationship between water ionization with pH, pH, acid-base strength, buffer, hydrolysis, titration, and indicator. Alternative conceptions that have found ed are clasify in two kind. The first kind of alternative conceptions are similar to that found in previous studies. The second kind are new alternative conceptions that have not been found in previous alternative conceptions, they are obtained from distraction
Isolasi, Karakterisasi, dan Uji Aktivitas Antibakteri Trigliserida Biji Mangga Golek (Mangifera indica Linn)
ABSTRAK Fatmawati, Dian. 2017. Isolasi, Karakterisasi, dan Uji Aktivitas Antibakteri Trigliserida Biji Mangga Golek (Mangifera indica Linn). Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Sutrisno, M.Si., (II) Drs. H. Parlan, M.Si. Kata kunci: antibakteri, trigliserida, biji mangga golek, ekstrak asetonSalah satu tanaman yang cukup melimpah di Indonesia adalah mangga (Mangifera indica Linn), khususnya jenis golek. Bagian tanaman mangga yang sering dimanfaatkan adalah daging buahnya, sedangkan bijinya kurang dimanfaatkan dan hanya sebagai bahan buangan. Penelitian sebelumnya oleh Agoramoorthy et al (2007) menyebutkan asam-asam lemak penyusun trigliserida biji mangga berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengisolasi komponen ekstrak aseton biji mangga golek (Mangifera indica Linn), (2) mengkarakterisasi trigliserida dari biji mangga golek, (3) mengidentifikasi asam lemak penyusun trigliserida biji mangga golek, dan (4) menentukan aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.Penelitian ini terdiri dari enam tahap. Tahap 1 preparasi sampel meliputi pengumpulan, pengeringan, dan pembuatan serbuk biji mangga golek. Tahap 2 isolasi komponen meliputi ekstraksi secara maserasi dan soxhlet. Tahap 3 karakterisasi trigliserida hasil isolasi meliputi wujud, warna, uji titik lebur, uji penyabunan, uji ketidakjenuhan, bilangan asam, bilangan iod, bilangan penyabunan, dan interpretasi spektrum IR. Tahap 4 transformasi trigliserida menjadi metil esternya. Tahap 5 karakterisasi dan identifikasi metil ester hasil transformasi meliputi wujud, warna, massa jenis, indeks bias, viskositas, penentuan bilangan asam, bilangan iod, bilangan penyabunan, interpretasi spektra IR dan GC-MS. Tahap 6 uji aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Isolasi yang dilakukan dengan metode maserasi dan soxhletasi dengan pelarut aseton diperoleh komponen padatan lunak sebagai trigliserida berwarna putih kekuningan. Trigliserida biji mangga golek ini mempunyai titik lebur 34-36 °C, larut dalam heksana, kloroform, aseton, dan etil asetat, sedikit larut dalam metanol, tidak larut dalam air, memiliki ikatan rangkap C=C, mempunyai bilangan asam 2,8, bilangan penyabunan 336,6, dan bilangan iod 25,4. Analisis secara GC-MS terhadap metil ester trigliserida biji mangga golek dihasilkan informasi asam lemak penyusunnya. Asam-asam lemak tersebut adalah asam heksadekanoat (26,31%), heptadekanoat (0,60%), 9-oktadekenoat (28,70%), oktadekanoat (25,86%), 11-eikosenoat (1,74%), eikosenoat (11,20%), dokosanoat (2,47%), dan tetrakosanoat (2,39%). Trigliserida biji mangga golek tidak memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus
Sintesis Silika Aerogel Doping Ion Cu2+ Berbasis Abu Bagasse Menggunakan Metode Sol-gel. Skripsi. J
ABSTRAK Andifa, A.D. 2017. Sintesis Silika Aerogel Doping Ion Cu2+ Berbasis Abu Bagasse Menggunakan Metode Sol-gel. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nazriati, M.Si., (II) Dr. Hj. Fauziatul Fajaroh, M.Si. Kata Kunci: Abu bagasse, silika aerogel, tekanan ambien, agen pemodifikasi, doping ion Cu2+Adanya kandungan silika yang cukup tinggi, abu bagasse yang semula menjadi limbah dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan silika gel. Silika gel diklasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu silika hidrogel, silika xerogel dan silika aerogel. Dari ketiga jenis silika gel tersebut, silika aerogel memiliki luas permukaan yang lebih besar dikarenakan adanya pemodifikasian pada permukaan untuk dapat dikeringkan melalui pengeringan tekanan ambien. Luas permukaan yang tinggi tersebut dapat digunakan salah satunya sebagai penyangga katalis. Silika aerogel sebagai penyangga katalis disintesis menggunakan metode sol-gel. Metode yang digunakan pada penelitian ini memiliki keunggulan antara lain dibutuhkan biaya relatif terjangkau dan perlakuan relatif sederhana. Tujuan dari penelitian ini untuk mensintesis silika aerogel sebagai penyangga katalis untuk logam aktif berupa Cu menggunakan metode sol-gel.Sintesis silika aerogel doping ion Cu2+ dilakukan dengan tiga tahap antara lain (1) ekstraksi silika dari abu bagasse berupa natrium silikat kemudian dicampurkan dengan resin penukar kation menghasilkan larutan asam silikat, (2) penambahan larutan Cu(NO3)2 10 ppm dengan variasi volume sebanyak 4 mL, 6 mL, 8 mL, dan 10 mL ke dalam larutan asam silikat selanjutnya ditambahkan agen pemodifikasi berupa TMCS dan HMDS dengan perbandingan 0,03:0,06 membentuk gel yang bersifat hidrofobik, (3) gel yang dihasilkan kemudian di-aging pada suhu kamar selama 18 jam dan dikeringkan dalam oven pada suhu 80°C selama 24 jam, kemudian dilakukan kalsinasi pada suhu 450°C selama 2 jam. Karakterisasi XRF menunjukkan kadar Cu yang terkandung pada silika aerogel semakin tinggi seiring meningkatnya ion Cu2+ yang ditambahkan. Karakteristik silika aerogel hasil sintesis menggunakan FTIR dihasilkan pita serapan pada angka gelombang 1267,23 cm-1 dan 2912,51-2972,31 cm-1, menunjukkan bahwa telah terjadi substitusi atom H pada gugus Si-OH oleh Si-CH3 menjadi Si-O-Si-CH3. Analisis SEM menunjukkan bahwa silika aerogel doping ion Cu2+ memiliki keseragaman bentuk partikel. Luas permukaan yang ditentukan dengan metode adsorpsi metilen biru menunjukkan bahwa luas permukaan meningkat dengan meningkatnya penambahan ion Cu2+
Studi Pemahaman Konsep dan Miskonsepsi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia Tahun ketiga 2016/2017 pada Pokok Bahasan Unsur, Senyawa dan Campuran Menggunakan Tes Diagnostik Two-tier
ABSTRAK Ramadhan, Dony Aprilyanto. 2017. Studi Pemahaman Konsep dan Miskonsepsi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia Tahun ketiga 2016/2017 pada Pokok Bahasan Unsur, Senyawa dan Campuran Menggunakan Tes Diagnostik Two-tier. Skripsi.Program Studi Pendidikan Kimia,Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Oktavia Sulistina, S.Pd., M.Pd., (II) Dr. Aman Santoso, S.Pd., M.Si. Kata kunci : pemahaman konsep, miskonsepsi, unsur, senyawa, campuran, tes diagnostik two-tierIlmu kimia memiliki peranan penting dalam peningkatan kualitas hidup manusia, sehingga pemahaman terhadap kimia merupakan kebutuhan penting. Mahasiswa mempelajari kimia pada pendidikan menengah, namun sebagian besar dari mereka masih mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan oleh karakteristik konsep yang terdapat dalam ilmu kimia merupakan konsep yang abstrak dan berjenjang. Karakteristik demikian memicu pemahaman yang tidak tepat dan terjadinya miskonsepsi hingga jenjang perguruan tinggi. Hal ini seharusnya tidak terjadi pada Mahasiswa program pendidikan, karena pada tahun ke-4 mereka akan melaksanakan praktek mengajar pada tingkat sekolah menengah. Tes diagnostik Two-tier adalah salah satu instrumen yang efektif dan efisien untuk mengetahui pemahaman konsep siswa dan mendiagnosa miskonsepsi. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah (a) Mengetahui tingkat pemahaman konsep mahasiswa dan (b) Mendeskripsikan miskonsepsi yang dialami mahasiswa pada pokok bahasan mahasiswa angkatan ke-3 tahun ajaran 2016/2017 pada pokok bahasan unsur, senyawa dan campuran menggunakan instrumen tes diagnostik two-tier.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan subjek penelitian 52 Mahasiswa program studi Pendidikan Kimia Universitas Negeri Malang Angkatan ke-3 tahun ajaran 2016/2017. Instrumen yang digunakan adalah instrumen yng telah dikembangkan oleh Husna (2014). Instrumen tes yang digunakan mencakup 36 butir soal dengan 2-4 alternatif jawaban disertai 3-5 alternatif alasan pilihan jawaban. Instrumen ini memiliki nilai validitas isi 91,87% dan realibilitas 0,753. Hasil tes diagnostik two-tier kemudian dianalisis dengan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (a) Tingkat pemahaman konsep Mahasiswa angkatan ke-3 tahun ajaran 2016/2017 Universitas Negeri Malang pada pokok bahasan unsur, senyawa dan campuran yang tergolong sangat rendah sebanyak 1,9%, rendah sebanyak 3,8%, cukup sebanyak 21,1% baik sebanyak 44,2% dan sangat baik sebanyak 28,8%. (b) Temuan miskonsepsi yang diperoleh sebanyak 14 hal, yakni (1) Mahasiswa menganggap bahwa semua zat murni merupakan zat yang partikel penyusunnya belum bergabung dengan partikel zat lain, sehingga campuran unsur dianggap zat murni sebesar 46,1%; (2) Mahasiswa salah merepresentasikan gambaran yang merupakan tampilan miksroskopis dari unsur sebesar 36%; (3) Mahasiswa menganggap unsur merupakan zat yang terdiri atas atom-atom tunggal (monoatomik) sebesar 52%; (4) Mahasiswa menganggap senyawa merupakan hasil penggabungan dari senyawa-senyawa penyusunnya sebesar 15%; (5) Mahasiswa salah merepresentasikan partikel materi dari senyawa yang ditunjukkan oleh gambar sebesar 27%; (6) Mahasiswa menganggap campuran merupakan zat yang komponen penyusunnya terbentuk dari gabungan atom-atom dari dua unsur atau lebih yang terikat secara kimia sebesar 42,3%; (7) Mahasiswa salah merepresentasikan partikel materi dari campuran yang ditunjukkan oleh gambaran partikel sebesar 30,7%; (8) Mahasiswa menganggap pada saat air berubah menjadi uap, maka akan dihasilkan gas oksigen (O2) dan gas hidrogen (H2) sebesar 21,1%; (9) Mahasiswa yang menganggap es balok yang terdapat dalam gelas akan menyublim menjadi gas (uap air) kemudian gas tersebut keluar dari gelas dan mengembun di permukaan luar gelas sehingga permukaan luar gelas menjadi basah sebesar 40,3%; (10) Mahasiswa salah merepresentasikan gambaran partikel pada peristiwa penyubliman sebesar 32,69%; (11) Massa karat akan kurang dari massa paku besi sebelum berkarat dan massa hasil pembakaran pita magnesium akan kurang dari massa pita magnesium (ketika bereaksi terdapat massa reaktan (logam) yang hilang) sebesar 26,9%