SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
    1785 research outputs found

    Pengembangan Bahan Ajar Berbasis REACT (Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transferring) dengan Melibatkan Representasi Makroskopik, Submikroskopik, dan Simbolik pada Materi Sifat Koligatif Larutan

    No full text
    ABSTRAK Khasanah, Siti Nur. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis REACT (Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transferring) dengan Melibatkan Representasi Makroskopik, Submikroskopik, dan Simbolik pada Materi Sifat Koligatif Larutan. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Herunata, S.Pd., M.Pd., (II) Drs. H. Ridwan Joharmawan, M.Si. Kata Kunci: bahan ajar, REACT, representasi, sifat koligatif larutanMateri sifat koligatif larutan bersifat abstrak dan berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari. Konsep-konsep sifat koligatif larutan yang bersifat abstrak seringkali sulit dipahami oleh peserta didik. Dalam memahami konsep kimia yang abstrak, diperlukan kemampuan memahami konsep dalam tiga tingkat representasi, yaitu makroskopik, submikroskopik, dan simbolik. Pemahaman tentang fenomena sifat koligatif larutan akan lebih mudah jika menyajikan fakta-fakta yang ada di sekitar peserta didik. REACT merupakan suatu model pembelajaran yang memiliki 5 tahap pembelajaran, yaitu relating (mengaitkan), experiencing (mengalami), applying (mengaplikasikan), cooperating (bekerja sama), dan transferring (mentransfer). Pemahaman dalam tiga representasi kimia tersebut dapat diaplikasikan dalam pembelajaran berbasis REACT sehingga tercipta pembelajaran sifat koligatif larutan yang bermakna. Hal tersebut dapat dicapai dengan cara menyediakan bahan ajar yang sesuai. Tujuan dari penelitin ini adalah untuk menghasilkan bahan ajar sifat koligatif larutan berbasis REACT dengan melibatkan representasi makroskopik, submikroskopik, dan simbolik yang layak digunakan.Pengembangan bahan ajar ini mengadopsi model pengembangan 4D dari Thiagarajan, dkk. (1974) yang meliputi tahap penentuan, perancangan, pengembangan, dan penyebaran. Namun, tahap penyebaran tidak dilakukan karena keterbatasan waktu dan biaya. Validasi dilakukan oleh satu dosen kimia dan satu guru kimia SMA. Uji keterbacaan dilakukan kepada sepuluh peserta didik kelas XII IPA 2 SMA Negeri Tempeh Lumajang. Instrumen validasi dan uji keterbacaan menggunakan angket penilaian. Klasifikasi pada angket validasi dan angket uji keterbacaan menggunakan kriteria tertentu. Hasil pengembangan berupa bahan ajar sifat koligatif larutan terdiri dari buku peserta didik dan buku guru. Karakteristik bahan ajar tersebut antara lain: (1) penyajian materi menggunakan alur pembelajaran REACT, (2) dilengkapi dengan representasi makroskopik, submikroskopik, dan simbolik, (3) disajikan fakta-fakta yang dapat dijumpai dalam kehidupan nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil validasi buku peserta didik dan buku guru secara berurutan adalah  94% dan 97% dengan kriteria sangat layak. Hasil uji keterbacaan yang diperoleh sebesar 88% dengan kriteria sangat layak

    FRAKSINASI DAN DISTRIBUSI KETERIKATAN MANGAN DALAM SEDIMEN SENDANG BIRU MENGGUNAKAN METODE TESSIER

    No full text
    ABSTRAK Rahmawati, Anisa Mai. 2017. Fraksinasi dan Distribusi Keterikatan Mangandalam Sedimen Sendang Biru Menggunakan Metode Tessier. Skripsi.Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I)Dr.Sc. Anugrah Ricky Wijaya, M.Sc. (II) Eli Hendrik Sanjaya, S.Si., M.Si. Kata Kunci: sedimen, mangan(Mn), metode TessierAktivitas manusia yang sering dilakukan di kawasan pesisir pantai Sendang Biru dapat berdampak negatif terhadap lingkungan laut diantaranya percemaran oleh logam berat. Logam berat di perairan dapat mengendap dalam sedimen melalui proses kimia dan fisika, sehingga analisis logam berat dalam sedimen dapat digunakan sebagai indikator pencemaran. Penelitian tentang logam mangan dalam sedimen Sendang Biru masih terbatas menggunakan metode parsial leaching. Analisis dengan metode ini memiliki kelemahan karena logam Mn dalam sedimen tidak semua ter-leaching dengan sempurna. Selain itu, metode tersebut tidak dapat menjelaskan kadar Mn pada masing-masing fraksi dan keterikatannya dalam sedimen serta sifat bioavaibilitas Mn dalam sedimen. Penelitian ini menggunakan metode Tessier untuk mengetahui seluruh fraksi keterikatan mangan dalam sedimen Sendang Biru. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui keefektifan metode Tessier untuk me-leaching mangan dalam sedimen Sendang Biru, (2) Mengetahui fraksinasi logam mangan dalam sedimen Sendang Biru, dan (3) Mengetahui distribusi keterikatan mangan dalam sedimen Sendang Biru.Penelitian ini merupakan eksperimental laboratoris. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahap: (1) Pengambilan dan preparasi sampel sedimen, (2) Uji akurasi dan presisi metode Tessier menggunakan data %recovery dan %RSD untuk analisis logam mangan menggunakan sedimen Sendang Biru dan sedimen referen JSD-1 (Geochemical Survey of Japan), serta (3) Fraksinasi dan distribusi keterikatan logam melalui data konsentrasi mangan dalam sedimen Sendang Biru. Hasil penelitian analisis Mn menggunakan metode Tessier menghasilkan nilai %RSD sebesar 0,15 dan %recovery sebesar 88,14%. Fraksinasi logam mangan dalam sedimen menunjukkan pada fraksi non resisten yang terdiri dari fraksi pertukaran ion, fraksi terikat kabonat, fraksi reduksi dan fraksi oksidasi mempunyai nilai berkisar antara 38,94 mg/kg – 102,96 mg/kg, sedangkan pada fraksi resisten atau fraksi residu konsentrasi Mn dalam sedimen berkisar antara 41,63 mg/kg – 201,20 mg/kg. Distribusi keterikatan mangan dalam sedimen pada 9 lokasi di Sendang Biru berkisar antara 81,81 mg/kg – 276,30 mg/kg dan rata-rata konsentrasi mangan dalam sedimen Sendang Biru sebesar 138,90 mg/kg. Berdasarkan National Sediment Quality Survey US EPA (2004) nilai tersebut masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan yaitu sebesar 284,77 mg/kg. Hal ini menunjukkan bahwa logam Mn dalam sedimen Sendang Biru secara umum tidak berbahaya bagi organisme perairan, kemungkinan disebabkan pengaruh aktivitas alam

    Pembuatan Dan Karakterisasi Adsorben Dari Batang Pisang Serta Uji Kemampuan Penyerapanny Terhadap Ni

    No full text
    ABSTRAK Logam berat terdapat pada limbah yang dihasilkan industri berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan khususnya daerah perairan seperti sungai. Salah satu logam berat yang terdapat dalam limbah–limbah tersebut adalah logam Ni yang dihasilkan dari limbah industri maupun limbah rumah tangga yang pada umumnya dibuang ke sungai. Salah satu cara untuk mengurangi kadar logam Ni adalah dengan adsorpsi. Adsorpsi dapat dilakukan dengan biomassa yang berasal dari limbah pertanian seperti batang pisang yang telah dipetik buahnya. Penggunaan batang pisang dipilih karena limbahnya melimpah, murah, dan memiliki kandungan selulosa yang cukup tinggi. Gugus –OH pada selulosa memiliki kemampuan berikatan dengan logam berat, dengan demikian dalam penelitian ini digunakan limbah batang pisang sebagai sumber adsorben logam Ni dalam proses adsorpsi.Penelitian ini dimulai dengan preparasi biomassa yang akan digunakan sebagai adsorben hingga diperoleh serbuk batang pisang. Serbuk batang pisang yang diperoleh diberi perlakuan perlakuan menggunakan H2O2 dan NaOH, kemudian dilakukan uji karakterisasi pada adsorben sebelum dan sesudah perlakuan. Konsentrasi ion logam Ni yang terserap pada adsorben ditentukan secara Spektrofotometri Serapan Atom (SSA), selanjutnya dilakukan pengujian keadaan optimum adsorpsi sebelum dan sesudah perlakuan dengan variasi waktu kontak, serta penentuan kapasitas adsorpsinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adsorben batang pisang tanpa perlakuan memiliki kadar air 5,75% dan kadar abu 71,65%, adapun adsorben sesudah perlakuan adalah kadar air 3,98% dan kadar abu 76,00%. Uji FT-IR adsroben sebelum dan sesudah perlakuan diperoleh pita serapan gugus –OH yang mengindikasikan adanya selulosa. Selanjutnya, hasil penelitian menunjukkan waktu kontak optimum pada adsorben tanpa perlakuan pada menit ke 90, dengan kapasitas adsorpsi sebesar 0,46mg/g, sedangkan setelah perlakuan diperoleh waktu kontak optimum pada menit ke 30, dengan kapasitas adsorpsi sebesar 0,90mg/g. Berdasarkan kapasitas adsorpsinya, adsorben dengan perlakuan mempunyai kemampuan menyerap logam Ni yang lebih besar

    Produksi Keratinase oleh Bacillus sp. MD24 Menggunakan Metode Solid-State Fermentation (SSF)

    No full text
    ABSTRAK   Keratinase adalah protease spesifik yang menunjukkan kemampuan untuk mendegradasi keratin. Ekstrak kasar keratinase dari Bacillus sp. MD24 yang diproduksi dengan metode Submerged Fermentation (SmF) telah terbukti dapat diaplikasikan untuk dehairing kulit kambing. Namun, proses dehairingtersebut masih membutuhkan waktu 72 jam untuk menghilangkan bulu sepenuhnya. Hal tersebut disebabkan rendahnya aktivitas ekstrak kasar keratinase. Solid-State Fermentation (SSF) merupakan metode fermentasi alternatif yang dilakukan pada medium padat dengan kadar air rendah. SSF memiliki beberapa keuntungan misalnya, produktivitas fermentasi yang tinggi, stabilitas produk yang tinggi, represi katabolik yang lebih rendah, budidaya mikroorganisme khusus untuk substrat yang tidak larut dalam air, dan memerlukan sterilisasi yang rendah. Limbah industri pertanian sering digunakan sebagai media SSF karena mengandung makonutrien dan mikronutrien yang penting untuk pertumbuhan bakteri dan proliferasi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menentukan tingkat kelembaban dan waktu produksi untuk menghasilkan aktivitas keratinase yang tinggi oleh Bacillus sp. MD24 menggunakan metode Solid-State Fermentation (SSF) dengan menggunakan substrat bulu ayam dan (2) mengetahui jenis dan jumlah sumber makronutrien tambahan yang dapat menghasilkan aktivitas keratinase tertinggi. Penelitian terdiri dari 7 tahapan yaitu (1) preparasi substrat bulu ayam, jerami padi, ampas tebu dan limbah tahu; (2) regenerasi kultur murni Bacillus sp. MD24; (3) persiapan inokulum; (4) penentuan kelembaban maksimum untuk menghasilkan produksi keratinase tertinggi menggunakan Solid-State Fermentation (SSF); (5) pengaruh penambahan limbah agroindustri (jerami padi, ampas tebu, dan limbah tahu) pada media produksi keratinase; (6) pembuatan ekstrak kasarkeratinase; (7) penentuan aktivitas enzim; dan (8) analisis data. Penentuan aktivitas enzim menggunakan kasein sebagai substrat. Kadar tirosin yang dihasilkan dari hidrolisis kasein dengan ekstrak kasar keratinase ditentukan secara spektroskopi pada panjang gelombang 280 nm. Produksi keratinase tertinggi menggunakan metode SSF diperoleh pada tingkat kelembaban 250 % dengan fermentasi selama 3 hari menghasilkan aktivitas 73,35 U/mL dan aktivitas total 11002,5 U. Limbah agroindustri terbaik yang ditambahkan pada bulu ayam adalah ampas tebu dengan perbandingan bulu ayam:ampas tebu (5: 1) menghasilkan aktivitas ekstrak kasar 258,24 U/mL dan aktivitas total 25824 U

    . Identifikasi Pemahaman Konsep dan Miskonsepsi Siswa SMA serta Mahasiswa Pendidikan Biologi pada Topik Sel Menggunakan Instrumen Three Tier Multiple Choice Test

    No full text
    ABSTRAK Mahendra, Ananda Iza. 2016. Identifikasi Pemahaman Konsep dan Miskonsepsi Siswa SMA serta Mahasiswa Pendidikan  Biologi pada Topik Sel Menggunakan Instrumen Three Tier Multiple Choice Test. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hadi Suwono, M.Si., (II) Drs. Masjhudi, M.Pd Kata kunci: pemahaman, konsep, miskonsepsi, sel, three tier multiple choice test Pembelajaran biologi, terutama pada topik sel merupakan pembelajaran yang abstrak. Adanya pembelajaran yang abstrak membuat siswa mendapatkan hasil belajar yang rendah.  Adanya hasil belajar siswa yang rendah, dapat diketahui bahwa siswa belum memahami konsep-konsep sel secara benar. Sehingga akan berdampak pada hasil prestasi siswa. Berdasarkan program TIMSS (Trends In International Mathematic  and Science Study) hasil belajar sains menunjukkan pada tahun 2011 peringkat Indonesia berada di 41 dari 43 negara. Salah satu penyebab rendahnya skor pencapaian ilmu tersebut adalah kualitas pendidikan di Indonesia. Kualitas pendidikan yang tidak baik akan berdampak pada  pemahaman konsep yang lebih lanjut sehingga akan mengalami kesulitan dalam memahami konsep biologi selanjutnya dan akan menimbulkan miskonsepsi. Miskonsepsi dapat disebabkan oleh berbagai sumber, di antaranya guru. Mahasiswa pendidikan biologi sebagai salah satu calon guru juga bisa mengalami miskonsepsi. Miskonsepsi perlu diidentifikasi dan salah satu instrumen diagnostik yang efektif dan efisien yaitu three tier multiple choice test. Instrumen ini terdiri dari tiga tingkat (tier), tingkat (tier) pertama terdiri dari pilihan ganda, tingkat (tier) kedua terdiri atas pilihan alasan yang mengacu pada pilihan ganda, dan tingkat (tier) ketiga terdiri dari tingkat keyakinan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan sampel 153 siswa dari lima sekolah menengah atas di Kota Malang tahun ajaran 2015/2016 dan 51 mahasiswa pendidikan biologi Universitas Negeri Malang tahun akademik 2015/2016. Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyusun alat diagnostik three tier multiple choice test yaitu (1) melakukan wawancara (2) melakukan tes (3) menyusun instrumen three tier multiple choice test dan validasi isi. Instrumen ini berjumlah 31 pertanyaan dengan 4 alasan alternatif pilihan ganda dan 4 alternatif pilihan alasan jawaban disertai dengan pilihan tingkat keyakinan. Hasil analisis itu dipersentasekan dan korelasi uji Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata persentase pemahaman konsep siswa yaitu 21,2%, rerata persentase tidak memahami yaitu 33,6% dan rerata persentase miskonsepsi yaitu 45,2%. Sedangkan rerata persentase pemahaman mahasiswa yaitu 57,6%, rerata persentase tidak memahami yaitu 20,6%, dan rerata persentase miskonsepsi yaitu 21,9%. Uji korelasi Pearson antara pemahaman mahasiswa dengan pemahaman siswa menunjukkan nilai sig (0,00) dan koefisien korelasi sebesar (0,679), artinya ada hubungan yang signifikan dan cukup berkorelasi antara pemahaman mahasiswa dengan siswa SMA. Kemudian uji korelasi pada miskonsepsi mahasiswa dengan miskonsepsi siswa menunjukkan nilai sig (0,001) dan koefisien korelasi sebesar (0,559), artinya ada hubungan yang signifikan dan cukup berkorelasi antara miskonsepsi mahasiswa dengan siswa SMA.    ABSTRACT Mahendra, Ananda Iza. 2016. Identification of Understanding Concepts and Misconceptions High School Students and College Students on topics Cell Biology Instruments Three Tier Using Multiple Choice Test. Thesis, Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, State University of Malang. Supervisor: (I) Dr. Hadi Suwono, M.Sc., (II) Drs. Masjhudi, M.Pd Keyword: understanding, concept, misconceptions, cell, three tier multiple choice test   Learning biology, especially on the topic of cell is an abstract learning. The existence of abstract learning makes students get low learning outcomes. The existence of student which has low learning outcome, can be seen that the students do not understand the concepts of cell correctly. So it will have an impact on student achievement results. Based on the program TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) study science results showed in 2011 Indonesia was ranked in 41 of 43 countries. One of cause of low scores science achievement is the quality of education in Indonesia. The quality of education is not good will have an impact on understanding the concept further. So it will have difficulty in understanding the biological concept further and will lead to misconceptions. Misconceptions can be caused by a variety of sources, including teachers. Students of biology education as one of the prospective teachers may also have misconceptions. Misconceptions need to be identified and one diagnostic instrument effective and efficient is a three tier multiple choice test. The instrument consists of three levels (tier), level (tier) The first consists of multiple choice, the level (tier) both consist of a choice of reasons which refers to the multiple-choice, and the level (tier) consists of three levels of confidence This research is a descriptive study with a sample of 153 students from five secondary schools in Malang academic year 2015/2016 and 51 students of biology education, State University of Malang academic year 2015/2016. The steps undertaken in developing diagnostic tools tier three multiple choice test: (1) conducting interviews (2) test (3) develop instruments three tier multiple choice test and validate the content. These instruments are 31 questions with four alternative reasons and four multiple-choice answers alternative grounds accompanied with a choice of confidence level. The results of that analysis is presented and Pearson correlation tested The results showed that the average percentage of students' whom understanding the concepts is 21.2%, the average percentage who does not understand is 33.6% and the average percentage of misconceptions is 45.2%. While the average percentage of student college understanding is 57.6%, the average percentage who does not understand is 20.6%, and the mean percentage of misconceptions is 21.9%. Pearson correlation test between the understanding of students with an understanding of the students showed sig (0.00) and the correlation coefficient of (0.679), it is mean that there is a significant relationship between the understanding and reasonably correlated students with high school students. Then the correlation test on college student misconceptions with misconceptions students showed sig (0.001) and the correlation coefficient of (0,559), meaning that there is a significant relationship and quite correlated between misconceptions between college students with high school students.  

    Pemahaman Sub Mikroskopik dan Korelasinya dengan Hasil BelajarpadaMateri Stoikiometri Siswa Kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Batu.

    No full text
    ABSTRAK   Cahaya, Renny Avika Dwi. 2017. Pemahaman Sub Mikroskopik dan Korelasinya dengan Hasil BelajarpadaMateri Stoikiometri Siswa Kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Batu. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. H. Subandi, M.Si., (2) Muntholib, S.Pd., M.Si.   Kata Kunci: pemahaman sub mikroskopik, stoikiometri, hasil belajar Representasi sub mikroskopik, makroskopik, dan simbolik merupakan 3 representasi yang sangat penting dalam memahami ilmu kimia. Materi pelajaran stoikiometri diajarkan di kelas X dan menjadi dasar dalam mempelajari materi lain yang melibatkan perhitungan kimia. Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) tingkat pemahaman representasi sub mikroskopik stoikiometri siswa kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Batu, (2) keterkaitan antara tingkat pemahaman sub mikroskopik siswa dengan hasil belajar pada materi stoikiometri. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Subjek penelitian adalah kelas XI MIPA 1 SMA Negeri 1 Batu yang dipilih dengan teknik sampling purposive. Instrumen pengukuran pemahaman sub mikroskopik berupa tes tertulis dalam bentuk pilhan ganda 18 nomoryang disertai dengan kolom perhitungan ataupun alasan pemilihan jawaban siswa, dengan lima alternatif jawaban. Validitas isi dan reliabilitas soal berturut-turut adalah 89,4% (valid) dan 0,847 (reliabel). Data dianalisis berdasarkan persentase jawaban siswa yang benar dan sebaran jawaban salah pada tiap-tiap butir soal. Sementara itu, hasil belajar diperoleh dari nilai tes stoikiometri menggunakan tes formatif dari guru yang bersangkutan. Analisis hubungan antarapemahaman representasi sub mikroskopik dengan hasil belajardiukur dengan uji korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat pemahaman sub mikroskopik stoikiometri siswa kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Batu tergolong cukup (63,78%), dengan rincian pemahamanpada sub materi hukum-hukum dasar kimia sebesar 76,3%; sub materi massa molekul relatif sebesar 99,3%; sub materi persamaan kimia sebesar 44%; konsep mol sebesar 58,3%; dan sub materi kadar zat sebesar 41%, (2) ada hubungan antara pemahaman sub mikroskopik dengan hasil belajar siswa pada materi stoikiometri dengan r sebesar 0,432 (sedang)

    Pengaruh Kecerdasan Logis-Matematis Siswa, dan Persepsi Siswa tentang Kepribadian Guru terhadap Keaktifan Belajar Siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Kediri

    No full text
    ABSTRAK   Tingkat kecerdasan logis-matematis siswa, dan persepsi siswa tentang kepribadian guru terhadap keaktifan belajar siswa sangat beragam dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Selain itu, kemampuan berfikir siswa tergolong baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kecerdasan logis-matematis siswa, dan persepsi siswa tentang kepribadian guru terhadap keaktifan belajar siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Kediri. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain Eksplanatory Research. Populasi penelitian ini adalah sebanyak 2026 siswa. Sedangkan sampel penelitian ini seluruh siswa di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Kediri dari tujuh jurusan kompetensi keahlian yaitu: Teknik Komputer dan Jaringan, Usaha Perjalanan Wisata, Akuntansi, Multimedia, Perbankan, Administrasi Perkantoran, Pemasaran. Di kelas X, XI, XII yang berjumlah lima puluh tujuh kelas sebanyak 334 siswa. Instrumen penelitian ini adalah closed questionare dengan skala likert. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1) kecerdasan logis-matematis siswa berpengaruh positif signifikan terhadap keaktifan belajar siswa (sig = 0,000 dan thitung = 11,217 lebih besar dari ttabel = 1,96; (2) persepsi siswa tentang kepribadian guru berpengaruh positif signifikan terhadap keaktifan belajar siswa (sig = 0,000 dan thitung = 10,659 lebih besar dari ttabel = 1,96). Saran yang disampaikan penulis bagi peneliti lain yang melakukan penelitian yang serupa hendaknya peneliti selanjutnya menambahkan jumlah tempat penelitian sehingga nantinya terdapat perbandingan antara tempat yang satu dengan tempat yang lain. Untuk pengambilan data, peneliti dapat memperbaiki metode yang digunakan antara lain dengan menambahkan metode wawancara untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat

    Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari Nikel(II) Klorida dengan Ion Tiosianat dan Ligan8-Hidroksikuinolina

    No full text
    ABSTRAK   Susanti, T. 2014. Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari Nikel(II) Klorida dengan Ion Tiosianat dan Ligan 8-Hidroksikuinolina. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed, Ph.D, (II) Neena Zakia S.Si, M.Si.   Kata-kata kunci:sintesis, karakterisasi, senyawa kompleks, Nikel(II) klorida, ion tiosianat, 8-hidroksikuinolina. Ion tiosianat dapat bertindak sebagai ligan monodentat dengan mendonorkan pasangan elektron bebas pada atom N atau S. Ion tiosianat dapat juga berlaku sebagai ligan jembatan dengan atom donor N dan S. Pada senyawa kompleks [Ni(L)(SCN) 2]{L = 1,3-bis(2pyridylmethylthio)propane}, ion tiosianat berlaku sebagai ligan monodentat dengan atom donor N. Pada senyawa kompleks [Cu(NCS)(µ-NCS)(Hmtpo)(H2O)]2{Hmtpo = 4H,7H-5-metil-7-okso[1,2,4]triazolo[1,5-a]pirimidina}, ion tiosianat berlaku sebagai ligan jembatan. Senyawa kompleks dari nikel(II) klorida dengan ion tiosianat dan 8-hidroksikuinolina (oksina) belum pernah dilaporkan. Sintesis dan karakterisasi senyawa kompleks dari nikel(II) klorida dengan ion tiosianat dan oksina dapat digunakan untuk mengetahui pola koordinasi dari ligan tiosianat pada senyawa kompleks yang diperoleh. Sintesis senyawa kompleks dilakukan dengan mereaksikan Nikel(II) klorida dengan ligan 8-hidroksikuinolina dan KSCN pada perbandingan mol 1 : 2 : 2 dalam pelarut metanol. Senyawa kompleks yang diperoleh diuji titik leburnya untuk mengetahui kemurnian, kebaruan, dan kestabilan termalnya. Uji Daya Hantar Listrik (DHL) dan uji kualitatif ion tiosianat digunakan untuk mengetahui jenis senyawa kompleks ionik, atau molekuler. Analisis FT-IR digunakan untuk mengetahui gugus fungsi dalam senyawa kompleks. Analisis EDX (Energy Dispersive X-Ray) digunakan untuk mengetahui persentase atom dari senyawa kompleks sehingga dapat diketahui rumus empiriknya. Hasil pengujian digunakan untuk meramalkan rumus molekul senyawa komplek beserta kemungkinan strukturnya. Beberapa kemungkinan struktur tersebut dihitung energi bebasnya dengan program Spartan’10.V1.1.0. Struktur senyawa kompleks yang memenuhi adalah dengan energi bebas yang paling rendah. Senyawa kompleks yang dihasilkan berupa kristal-kristal berbentuk kubus dengan warna hijau tua dan terdekomposisi pada temperatur lebih dari 300oC yang menunjukkan bahwa senyawa tersebut murni, dan stabil. Data hasil uji DHL dan uji kualitatif ion tiosianat menunjukkan bahwa senyawa tersebut merupakan senyawa molekuler. Hasil analisis IR menunjukkan adanya ikatan O-H, C=N dan C≡N. Ion tiosianat yang terikat pada atom pusat melalui atom donor N dapat diidentifikasi dari vibrasi 2108,20 cm-1.  Hilangnya pelebaran pita absorbsi dari ikatan hidrogen intermolekuler antara molekul-molekul oksina menunjukkan terbentuknya ikatan antara Ni dan O dari ligan oksina. Ikatan Ni-O hanya terjadi apabila atom nitrogen dari ligan 8-hidroksikuinolina juga berikatan dengan Ni sehingga senyawa yang terjadi merupakan senyawa kompleks sepit dengan anggota lima atom. Hasil analisis EDX memberikan rumus empiris C20H12N4NiO2S2. Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa senyawa kompleks tersebut merupakan senyawa kompleks sepit molekuler dengan rumus kimia [Ni(C9H7NO)2(NCS)2]. Senyawa tersebut memiliki struktur oktahedral dengan kemungkinan isomer cis- atau trans-. Energi bebas dari isomer cis- sebesar -146,6175 kJ/mol dan isomer trans- sebesar -970,8086 kJ/mol. Isomer trans- lebih stabil dibandingkan isomer cis-. Berdasarkan data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa senyawa kompleks yang diperoleh adalah trans-[Ni(C9H7NO-N,O)2(NCS)2]

    Analisis Daya Tarik Pelajaran Kimia dan Pembelajaran kimia Berbasis Inkuiri terhadap Peseta Didik di Kota Malang

    No full text
    ABSTRAK Kimia memiliki karakteristik salah satunya adalah sebagian kimia bersifat abstrak. Keabstrakan ini menjadikan kimia sebagai pelajaran yang sulit. Kesulitan tersebut yang menyebabkan minat peserta didik dalam belajar kimia terus menurun. Untuk mengatasi masalah tersebut harus diterapkan metode pembelajaran yang tepat. Metode yang dapat digunakan dalam pelajaran kimia salah satunya adalah metode pembelajaran inkuiri. Metode pembelajaran inkuiri memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempelajari cara menemukan fakta, konsep dan prinsip melalui pengalamannya secara langsung. Peserta didik yang diajarkan dengan metode pembelajaran inkuiri lebih tertarik terhadap pelajaran kimia daripada mereka yang diajarkan dengan metode konvensional. SMA/MA di Kota Malang telah menerapkan pembelajaran inkuiri, yang seharusnya membuat peserta didik lebih tertarik dan termotivasi terhadap pembelajaran kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan daya tarik pelajaran kimia dan pembelajaran inkuiri terhadap peserta didik di Kota Malang.Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif. Subjek penelitian yaitu peserta didik kelas IPA SMA/MA di Kota Malang yang terdiri dari 43 sekolah SMA/MA swasta maupun negeri. Subjek penelitian ditentukan dengan teknik purpose sampling yaitu sampel yang bertujuan. Subjek dipilih sebanyak 6 sekolah dari SMA/MA yang telah menerapkan metode pembelajaran inkuiri. Sampel pada masing-masing sekolah tersebut diwakili oleh 30 peserta didik dengan masing-masing tingkat sebanyak 10 orang sehingga diperoleh sampel sebanyak 180 peserta didik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuisioner dan pertanyaan terbuka. Analisis data melaui tiga tahapan yaitu: 1) menentukan skor dari jawaban peserta didik; 2) mencari persentase jawaban responden terhadap skor ideal; dan 3) menentukan kategori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata persentase daya tarik pelajaran kimia terhadap peserta didik di Kota Malang yaitu 68% dengan kategori kurang dan rata-rata persentase daya tarik pembelajaran kimia berbasis inkuiri terhadap peserta didik di Kota Malang yaitu 71% dengan kategori cukup

    Keterserapan Ion Nikel (II) dan Kadmium (II) dalam Adsorben Kompos TPA Tlekung serta Keterikatannya pada Humat dan Fulvat

    No full text
    ABSTRAK Kompos dapat digunakan sebagai adsorben ion logam. Penelitian sebelumnya membuktikan bahwa kompos dapat mengikat nikel, kadmium, tembaga dan meminimalisir kadar timbal sebesar 87%. Keterserapan ion logam oleh kompos disebabkan oleh kemampuan substansi dalam kompos yang dapat berikatan dengan ion logam. Substansi tersebut dapat berupa lignin, selulosa dan humus. Salah satu kandungan kompos yang dapat berikatan dengan ion logam adalah humus yang terdiri dari humat dan fulvat. Keterlarutan humat dan fulvat dipengaruhi oleh pH sistem. Humat dapat larut dalam suasana basa, fulvat dapat larut dalam semua derajat keasaman. Oleh karena itu diperlukan kajian untuk mengetahui keterserapan ion logam dalam kompos serta pengaruh keterdapatan humat dan fulvat dalam adsorpsi ion logam.Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimen laboratoris dengan tahapan sebagai berikut, (1) Preparasi dan karakterisasi kompos TPA Tlekung sebagai adsorben, (2) Penentuan keterserapan ion nikel (II) dan kadmium (II) oleh kompos serta penentuan keterdapatan keduanya pada berbagai variasi pH, (3) Ekstraksi humat dan fulvat serta penentuan kadarnya, (4) Penentuan kadar nikel dan kadmium pada kompos setelah adsorpsi dan (5) Distribusi ion nikel (II) dan kadmium (II) pada fraksi humat dan fulvat serta (6) Desorpsi ion nikel (II) dan kadmium (II) dari kompos setelah adsorpsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompos TPA Tlekung memiliki pH 7,5 dengan kadar air sebesar 36,26%, berwarna coklat tua dan berbau seperti tanah. Kompos TPA Tlekung optimal menyerap ion nikel (II) sebanyak 82,21% dan kadmium (II) sebanyak 82,60% pada sistem adsorpsi di pH 4. Humat dan fulvat terlarut paling rendah berturut-turut sebesar 3,2 mg/g dan 2,56 mg/g dalam sistem adsorpsi dengan adsorbat Ni(NO3)2.6H2O, sedangkan humat dan fulvat memiliki kadar yang sama yaitu 2,24 mg/g dalam sistem adsorpsi dengan adsorbat Cd(NO3)2.4H2O. Distribusi ion nikel (II)  pada humat dan fulvat yaitu 0,286 mg/L dan 0,339 mg/L di pH 4 sedangkan di pH 9 berturut-turut adalah 0,298 mg/L dan 0,333 mg/L, sedangkan ion kadmium (II) pada humat dan fulvat di pH 4 yaitu 0,033 mg/L dan 0,038 mg/L dan di pH 9 0,034 mg/L dan 0,034 mg/L. Kadar logam dalam kompos setelah adsorpsi yaitu 0,04424 mg/g untuk nikel dan 0,00432 mg/g untuk kadmium di pH 4. Desorpsi paling rendah diketahui pada  pH 9 dengan presentase desorpsi sebesar 48,91% untuk nikel dan 26,85% untuk kadmium

    0

    full texts

    1,785

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇